Kembali
16
1
2023 Berkala Ilmu Perpustakaan dan Informasi Vol 19 · 2 ISSN 2477-0361

Motif disabilitas netra berprofesi sebagai pustakawan

Universitas Bengkulu; Universitas Bengkulu; Universitas Bengkulu

Abstrak

Pendahuluan. Profesi pustakawan dalam melaksanakan kegiatan kepustakawanan membutuhkan penglihatan untuk melaksanakan tugas-tugasnya, namun terdapat disabilitas netra yang memilih menjadi pustakawan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui motif disabilitas netra menjadi pustakawan. Metode penelitian. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Teknik pengumpulan data menggunakan observasi dan wawancara. Penelitian ini menggunakan teknik penentuan informan secara purposive. Data analisis. Analisis penelitian dilakukan melalui tahapan data reduction, display data, dan conclusion drawing. Teknik validasi data dilakukan dengan uji credibility. Hasil dan Pembahasan. Motif disabilitas netra menjadi seorang pustakawan mengacu pada teori Fenomenologi Alfred Schutz yang dapat dibagi menjadi dua kategori, motif berdasarkan because-motive (Weil-Motiv) yaitu hobi membaca, minimnya bahan bacaan untuk disabilitas netra, dan fasilitas perpustakaan yang menunjang kinerja untuk pustakawan disabilitas netra. Motif berdasarkan in-order-to motive (Um-zu-Motiv) yaitu untuk mengubah stigma sosial masyarakat terhadap disabilitas netra, meningkatkan minat baca pemustaka, mensosialisasikan koleksi braille, peningkatan taraf ekonomi, dan menambah relasi. Kesimpulan. Temuan menunjukkan bahwa disabilitas netra menjadi seorang pustakawan berorientasi pada motif masa lalu dan masa depan.

Abstract

Introduction. The number of librarian with disability, particularly with limited ability to see or blind is not many. This research explores the motives of the blind on why becoming librarians. Research methods. This study used a qualitative research method with a phenomenological approach. Data collection techniques used observations and interviews. Sampling was decided purposively. Analysis data. Research analysis was conducted through the stages of data reduction, data display, and conclusion drawing. Data validation techniques were carried out using credibility tests. Results and Discussion. The motive to become a librarian refers to Alfred Schutz's phenomenological theory which can be divided into two categories: motives based on because-motive (Weil-Motiv), namely the hobby of reading, lack of reading material for blind people, and library facilities that support performance for librarians with visual disabilities. Motives based on the in-order-to motive (Um-zu-Motiv) are to change the social stigma of people with visual disabilities, increase readers' interest in reading, socialize braille collections, increase economic levels, and increase relationships. Conclusion. The findings show that being a librarian with visual disabilities is oriented towards past and future motives.
Keywords: librarian · blind disability · phenomenology · motives

Introduction

A. PENDAHULUAN Pustakawan dalam melaksanakan pekerjaan pada umumnya membutuhkan dukungan penglihatan, misalkan dalam pengelolaan bahan pustaka tentu membutuhkan visualisasi oleh pustakawan, seperti katalogisasi, melakukan kontrol terhadap bahan pustaka, pemeliharaan, dan pembuatan klasifikasi bahan pustaka. Namun terdapat beberapa penyandang disabilitas netra yang berprofesi sebagai pustakawan. Disabilitas netra merupakan suatu kendala fisik yang dialami oleh individu yang mana terdapatnya hambatan ketidakberfungsian indra penglihatan secara sempurna yang disebabkan oleh kerusakan pada organ mata (Sulthon, 2016). Meskipun penyandang disabilitas netra memiliki keterbatasan secara visual, namun bukan berarti penyandang disabilitas netra tidak memiliki kemampuan yang dapat digunakan untuk produktivitas dalam melaksanakan pekerjaan di perpustakaan. Koleksi pada Layanan Lansia dan Disabilitas Perpustakaan Nasional Republik Indonesia dan Perpustakaan Yayasan Mitra Netra mayoritas merupakan koleksi bahan bacaan dengan format huruf braille. Pustakawan penyandang disabilitas netra memiliki peran sebagai penerjemah koleksi braille, memberikan masukan kepada pihak pengembang tentang koleksi huruf braille mana saja yang harus ditambah, dan memilah koleksi buku braille mana saja yang masih dapat di baca oleh penyandang disabilitas netra. Selain Layanan Lansia dan Disabilitas Perpustakaan Nasional Republik Indonesia dan Perpustakaan Yayasan Mitra Netra, Sekolah Luar Biasa (SLB) A Tingkat Nasional, Difabel Corner Perpustakaan Universitas Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta, Sekolah Luar Biasa (SLB) ABCD Caringin Bandung, dan Sekolah Luar Biasa (SLB) A Bandung juga terdapat pustakawan penyandang disabilitas netra. Salah satu pustakawan penyandang disabilitas adalah informan 3, bekerja di Layanan Lansia dan Disabilitas Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. Informan 3 memiliki tugas sebagai penerjemah koleksi bahan pustaka format braille mengungkapkan, “Karena saya memiliki keahlian untuk bisa menterjemahkan huruf braille, jadi saya melihat peluang untuk bekerja disini”. (Informan 3) Selain menerjemahkaan koleksi huruf braille, informan 3 juga diberikan tanggung jawab membuat katalog untuk koleksi huruf braille serta melaksanakan pekerjaan pada bagian pelayanan perpustakaan yang merupakan bagian dari kegiatan pustakawan yang langsung bersinggungan dan berinteraksi dengan pemustaka, baik itu pemustaka penyandang disabilitas netra maupun pemustaka yang bukan peyandang disabilitas netra. Berangkat dari paradigma sosial, penyandang disabilitas netra memiliki beberapa permasalahan dalam kehidupannya. Rahmah (2020) mengungkapkan bahwa kondisi yang dihadapi oleh disabilitas netra seperti tidak dimilikinya intensi hidup, kegagalan dalam menjalin relasi sosial dengan lingkungan, ketidakberdayaan untuk hidup secara independen, kurangnya kesempatan dari lingkungan atau bahkan ditolak, keterhambatan dalam perkembangan, dan penolakan terhadap kondisi diri membuat kehidupan disabilitas netra tidak dapat berfungsi secara positif, selain itu disabilitas netra tidak stabil dalam permasalahan psikologis, seperti mudahnya mengalami gangguan kecemasan, tertekan, rendah diri, kesepian, stres, hingga depresi dalam menjalani kehidupannya. Konsekuensi logis dari keterbatasan penglihatan dari penyandang disabilitas netra ini sangatlah besar, terutama dalam upaya perolehan informasi yang mayoritas masih berbasis visual, sehingga disabilitas netra membutuhkan medium khusus untuk dapat menerjemahkan informasi visual ke dalam simbol-simbol yang dapat dipahami oleh penyandang disabilitas netra. Disfungsi penglihatan sering kali berujung pada masalah sosial, seperti penolakan oleh lingkungan sosial, kesulitan dalam menjalin hubungan sosial, kasih sayang dan terlalu melindungi diri dari orang lain, serta kesulitan dalam mencari pekerjaan (Idaini, 2021). Permasalahan sosial ini dapat berpotensi menghambat interaksi dan sosialisasi penyandang disabilitas netra di lingkungan kerja. Sudut pandang negatif dari masyarakat atas ketidakmampuan dalam mengurus diri sendiri dan tidak produktif dalam bekerja merupakan tantangan besar yang dihadapi oleh disabilitas netra (Raiz & Sahrul, 2020). Pengalaman-pengalaman pekerjaan yang dialami oleh pustakawan penyandang disabilitas netra beserta perilakunya dalam konteks sosial keseharian merupakan realitas yang bermakna secara sosial. Pustakawan penyandang disabilitas netra merupakan aktor utama dalam realitasnya, yang berperilaku sebagai aktor (Anshori, 2018). Realitas yang dimiliki oleh pustakawan penyandang disabilitas netra memiliki sifat intersubjektif yang artinya bahwa mereka saling berbagi kesan terhadap dunia yang diinternalisasi melalui penyesuaian diri dengan lingkungan dan interaksi antar sesama penyandang disabilitas netra. Realitas pustakawan penyandang disabilitas netra tidak terbentuk dengan sendirinya, namun terbentuk berdasarkan pada tindakan-tindakan tertentu. Alfred Schutz (Manggola & Thadi, 2021) menggambarkan seluruh tindakan seseorang menjadi dua tipe motif, yaitu in-order-to motive (Um-zu-Motiv) dan because motive (Weil-Motiv). Melalui penggambaran dari teori motif ini, Alfred Schutz berupaya untuk menjabarkan apa saja motif yang melatarbelakangi tindakan seseorang dalam mengkonstruksi realitas mereka. Schutz (1967) menjelaskan bahwa tujuan dari tindakan yang dilakukan oleh individu tidak terlepas dari fase tertentu, yaitu in-order-tomotive (Um-zu-Motiv) dan because-motive (Weil-Motiv), lebih lanjut Schutz menjelaskan perbedaan dari dua jenis motif ini adalah inorder-to-motive (Um-zu-Motiv) menjelaskan tujuan dari suatu tindakan untuk masa depan, dan because-motive (Weil-Motiv) menjelaskan tujuan dari tindakan dalam hal pengalaman masa lalu. Artinya penyandang disabilitas netra yang bekerja sebagai pustakawan memiliki motif dalam memilih pekerjaannya sebagai pustakawan berdasarkan tindakan-tindakannya di masa lalu dan masa yang akan datang. Motif ini berdasarkan pada orientasi tindakan atau pengalaman yang dialami oleh penyandang disabilitas netra di masa lalu sehingga motif ini yang menentukan pilihan pustakawan penyandang disabilitas netra memilih bekerja sebagai pustakawan dan tindakan-tindakannya dalam pekerjaan. Motif yang berorientasi pada masa yang akan datang merupakan motif yang berorientasi pada tujuan pustakawan di masa yang akan datang sehingga tujuan tersebut menentukan tindakan-tindakan pada masa sekarang. Perspektif penyandang disabilitas netra yang bekerja sebagai pustakawan dengan pustakawan yang tidak mengalami gangguan penglihatan memiliki realitas yang berbeda. Perbedaan realitas ini lah yang menjadi landasan untuk meneliti realitas pustakawan disabilitas netra. Penelitian ini bertujuan menggali motif pustakawan disabilitas netra menjadi seorang pustakawan dengan dimensi pada in-order-to motive (Um-zu-Motiv) yang berorientasi pada masa yang akan datang, dan because motive (Weil-Motiv) yang berorientasi pada masa lalu. Penelitian ini berfokus kepada apa yang mendorong disabilitas netra bekerja sebagai pustakawan, yang notabene profesi pustakawan berkaitan dengan pengelolaan koleksi perpustakaan, baik koleksi cetak maupun koleksi digital, dan tentu hal ini membutuhkan suatu kemampuan penglihatan dalam proses pengelolaan perpustakaan. Diharapkan dengan adanya penelitian membuat stigma negatif di masyarakat dari disabilitas netra yang dianggap tidak mandiri dalam melakukan pekerjaannya dapat hilang, dan menunjukkan bahwa penyandang disabilitas netra juga masyarakat yang setara dengan masyarakat yang bukan penyandang disabilitas netra, khususnya berkaitan dengan pekerjaan di perpustakaan. B. TINJAUAN PUSTAKA Fenomenologi Fenomenolgi Schutz memiliki tugas untuk merekonstruksi dunia kehidupan manusia yang sebenarnya yang terbentuk secara alami dengan sendirinya. Pengalaman dan perilaku manusia dalam kesehariannya dalam konteks sosial merupakan suatu realitas yang bermakna secara sosial. Dalam suatu realitas manusia berperan sebagai aktor yang memahami makna dan tindakan-tindakannya dalam realitas. Konsep sosial diartikan sebagai relasi antara dua atau lebih individu, sedangkan tindakan diartikan sebagai perilaku yang mengkonstruksi makna subjektif (Kuswarno, 2015). Makna subjektif terbentuk karena adanya kesamaan dan keseragaman antara para aktor yang memiliki realitas yang sama. Schutz (1967) membagi motif berdasarkan pada dua fase, yaitu in-orderto-motive (Um-zu-Motiv) yaitu motif yang memiliki orientasi pada masa yang akan datang, dan because-motive (Weil-Motiv) yaitu motif tindakan individu yang memiliki orientasi pada masa lalu. Max Weber (Schutz, 1967) menjelaskan dunia sosial dijelaskan pada konsep “social action”, namun Schutz mendefinisikan “social action” sebagai tindakan yang memiliki motif yang merujuk pada kesadaran individu. Hubungan antara in-order-to-motive (Um-zuMotiv) dengan because-motive (Weil-Motiv) terdapat pada kompleksitas individu yang pada suatu permasalahan interpretasi individu. Pengalaman individu yang memiliki realitas yang sama mengarahkan kepada motif yang memiliki interpretasi yang sama. Individu memilih interpretasi berdasarkan pada pengalaman di masa lalunya yang relevan dengan pemecahan masalah. Pembentukan interpretasi digambarkan pada hasil dari inorder-to-motive (Um-zu-Motiv) dan becausemotive (Weil-Motiv). Konstruksi Realitas Sosial Paradigma konstruktivisme beranggapan bahwa realitas dibentuk karena adanya konstruksi realitas sosial, manusia dalam konteks individu merupakan entitas yang merdeka dalam menentukan realitas sosialnya. Berger (2014) menjelaskan bahwa konstruksi realitas sosial bertujuan untuk menemukan cara individu dan kelompok menciptakan realitas yang mereka rasakan. Realitas yang dirasakan dipandang sebagai proses dinamis yang sedang berlangsung. Realitas diproduksi ulang oleh orang-orang yang bertindak atas interpretasi mereka tentang apa yang mereka anggap sebagai dunia di luar mereka. Lebih lanjut Berger (2014) menjelaskan bahwa konstruksi realitas sosial menggambarkan realitas subjektif dan objektif, yang artinya bahwa realitas sosial direproduksi dalam interaksi sosial. Realitas sosial merupakan pengetahuan yang bersifat keseharian yang hidup dan berkembang di tengah-tengah masyarakat. Berger (2014) menambahkan bahwa realitas sosial terjadi dimulai dari proses eksternalisasi, proses objektivasi, dan kemudian proses internalisasi. Eksternalisasi merupakan tahap adaptasi seseorang dengan lingkungan sosial dan budaya yang merupakan produk dari manusia. Objektivasi adalah proses hubungan interaksi sosial dalam ruang lingkup intersubjektivitas yang terlembaga dan melalui proses institusional, dan internalisasi adalah tahapan individu mengenal diri dengan lingkungan sosial di mana individu tersebut merupakan bagian dari lingkungan tersebut.

Method

Penelitian ini menggunakan paradigma constructivism yang mengasumsikan bahwa individu-individu selalu berusaha memahami dunia dimana mereka hidup dan bekerja (Creswell, 2016). Metode penelitian kualitatif merupakan metode yang digunakan dalam penelitian ini, metode ini adalah bagian dari tradisi ilmu pengetahuan sosial yang secara mendasar mengamati manusia dalam ruang lingkup kawasannya sendiri dan berhubungan dengan orang-orang dalam bahasa dan pengistilahannya (Priatna, 2015). Penelitian ini menggunakan pendekatan fenomenologi yang mengeksplorasi perilaku-perilaku dan memahami individu yang merupakan seorang disabilitas netra yang berprofesi sebagai pustakawan. Objek penelitian sosial secara fundamental memiliki relasi dengan interpretasi terhadap realitas, hal ini merupakan tujuan pendekatan penelitian fenomenologi (Tumangkeng & Maramis, 2022). Penelitian menggunakan teknik penentuan informan purposive. Informan penelitian ini berjumlah tujuh informan dengan inisial informan 1, informan 2, informan 3, informan 4, informan 5, informan 6, dan informan 7. Tujuh informan ini merupakan seorang disabilitas netra yang berprofesi sebagai pustakawan. Informan 1 bekerja di Difabel Corner Perpustakaan Universitas Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta, informan 2 dan informan 3 bekerja di Layanan Lansia dan Disabilitas Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, informan 4 bekerja di Perpustakaan Yayasan Mitra Netra, informan 5 bekerja di Sekolah Luar Biasa (SLB) A Tingkat Nasional, informan 6 bekerja di Sekolah Luar Biasa (SLB) ABCD Caringin Bandung, dan informan 7 bekerja di Sekolah Luar Biasa (SLB) A Bandung. Penelitian ini menggunakan teknik pengumpulan data dengan observasi dan wawancara. Data yang telah dikumpulkan melalui wawancara dan observasi dengan informan diolah untuk dijadikan sebagai bahan analisis penelitan dengan tahapan reduksi data (data reduction), penyajian data (display data), dan conclusion drawing. Penelitian ini menggunakan teknik validasi data dengan menggunakan uji credibility.

Result & Discussion

Konsep motif terbagi menjadi dua fase yang berdasarkan pada in-order-to motive (Um-zuMotiv) yang artinya motif ini memiliki orientasi pada tindakan seseorang di masa yang akan datang, dan because-motive (Weil-Motiv) yang artinya motif ini memiliki orientasi pada tindakan seseorang di masa lalu (Schutz, 1967). 1. Because-motive (Weil-Motiv) Hobi Membaca Berdasarkan hasil temuan, motif informan ingin menjadi seorang pustakawan adalah hobi membaca. Informan 1 menjelaskan bahwa telah memiliki hobi membaca buku-buku pelajaran semenjak kecil dan kegemarannya akan mencari ilmu pengetahuan melalui koleksi-koleksi buku yang ada di perpustakaan, “Motivasi mejadi pustakawan adalah karna saya dari kecil suka membaca buku dan suka belajar, karna emang pada dasarnya saya suka akan mencari tahu apapun yang terkait dengan ilmu pengetahuan dengan sering-sering bacabaca buku makanya saya ingin bergabung jadi pustakawan di perpustakaan UIN ini”. (Informan 1) Hobi membaca buku yang sama juga dialami oleh informan 5 yang telah menyukai membaca semanjak kecil. Walaupun menjadi seorang pustakawan bukan profesi yang dicitacitakan oleh informan 5, namun dikarenakan informan 5 memiliki hobi membaca, maka informan 5 memutuskan untuk menempuh jalan hidup sebagai seorang pustakawan, ”Karena ya saya gemar membaca sih, saya punya hobi membaca buku dari kecil”. (Informan 5) Menjadi seorang pustakawan merupakan peluang bagi seorang pustakawan disabilitas netra untuk dapat mengaktualisasikan hobinya membaca buku. Bagi informan 5 mejadi pustakawan di Sekolah Luar Biasa (SLB) A Tingkat Nasional menjadi peluang untuk menambah wawasan ilmu pengetahuannya, “Jadi kadang saya juga suka baca buku buat SD, jadinya karna tau di sini ada peluang untuk menambah wawasan ilmu pengetahuan”. (Informan 5) Membaca buku-buku untuk tingkat sekolah dasar (SD) dan Sekolah Menegah Pertama (SMP) merupakan suatu bentuk momen nostalgia bagi informan 5 untuk mengingatingat kembali pelajaran ketika informan 5 masih sekolah dulu, “Karena saya suka baca bacaan anak-anak SD, SMP juga, jadi nostalgia dengan pengetahuan saya yang dulu”. (Informan 5) Informan 6 telah menggemari membaca semenjak masih kecil ketika sebelum penglihatan Informan 6 mengalami masalah. Namun hal tersebut bukan kendala bagi Informan 6 untuk dapat mengaktualisasikan kegemarannya membaca di perpustakaan, dan terkadang Informan 6 masih tetap rutin menggunakan koleksi-koleksi yang ada di perpustakaan Sekolah Luar Biasa (SLB) ABCD Caringin Bandung. Kegemaran membaca Informan 6 juga terdorong karena rasa penasarannya yang besar terhadap suatu ilmu baru, “Saya mau jadi pustakawan karna saya suka baca buku karna atas dasar penasaran dengan apa isinya”. (Informan 6) Motif karena hobi membaca ini merupakan motif yang didasarkan pada motif di masa lalu, atau termasuk dalam tipikasi in-order-to motive (Um-zu-Motiv) (Schutz, 1967), motif hobi membaca ini timbul dikarenakan adanya tindakan pustakawan disabilitas netra pada masa lalu, yaitu kebiasaan membaca dari dulu yang masih menjadi kebiasaan hingga sekarang, dan kebiasaan ini relevan dengan profesi pustakawan disabilitas netra yang berkaitan dengan bahan bacaan. Hobi membaca merupakan realitas yang terbentuk di masa lalu dan hingga saat sekarang realitas tersebut masih berlangsung, hal ini sesuai dengan yang diungkapkan oleh Berger (2014) bahwa realitas yang dirasakan oleh individu merupakan proses yang dinamis dan sedang berlangsung. Minim Bahan Bacaan untuk Disabilitas Netra Motif lain dari disabilitas netra menjadi seorang pustakawan adalah karena minimnya bahan bacaan untuk disabilitas netra, terutama untuk disabilitas netra dengan kategori totally blind yang bahan bacaannya sangat bergantung pada koleksi yang bertulisan simbol braille dan audio book. Namun koleksi braille dan audio book tidak dapat diperoleh di toko komersil yang hanya menyediakan buku-buku biasa. Kesulitan bahan bacaan dirasakan langsung oleh informan 4 sendiri ketika masa kuliah. Informan 4 mengalami kesulitan dalam pengerjaan skripsi karena bahan bacaan yang mendukung penglihatannya sangat minim, “Kalau saya ngalamin dulu pas saya skripsi bahan baca untuk tunanetra sangat terbatas, saya merasakan sulit untuk sekolah tanpa bahan baca , konsekuensinya otomatis pengetahuan menjadi terbatas”. (Informan 4) Konsekuensi dari minimnya bahan bacaan untuk disabilitas netra yang hanya bergantung pada bahan bacaan bertulisan braille yang membutuhkan alur produksi yang panjang membuat minat baca disabilitas netra menjadi rendah. Kondisi ini menjadi motivasi bagi informan 4 untuk menjadi pustakawan yaitu menjadi fasilitator untuk bahan bacaan yang dapat mendukung dan menumbuhkembangkan minat baca disabilitas netra. Cara yang digunakan informan 4 adalah dengan berkomunikasi dengan pemustaka untuk menggali apa saja buku yang dibutuhkan oleh pemustaka. Informasi buku yang dibutuhkan oleh pemustaka yang telah dikumpulkan oleh informan 4 kemudian diinformasikan ke bagian produksi Yayasan Mitra Netra untuk dicetak buku tersebut menjadi format braille, “Penyandang tunanetra juga kurang bahan bacaan, jadi mereka hanya baca buku-buku yang braille saja. Saya mencari tahu buku-buku apa saja yang mereka butuhkan, nanti saya ajukan ke bagian produksi untuk dicetak, dan saya juga yang nantinya yang akan memberikan buku tersebut kepada mereka”. (Informan 4) Upaya yang serupa juga dilakukan oleh informan 6 yang sudah menjadi seorang fasilitator bagi disabilitas netra di Sekolah Luar Biasa (SLB) ABCD Caringin Bandung, informan 6 lebih memfokuskan diri untuk menjadi fasilitator bagi disabilitas netra yang bermukim di desa-desa dan lanjut usia yang tidak pernah mengenyam pendidikan formal di sekolah. Upaya yang dilakukan oleh informan 6 adalah dengan mengunjungi langsung rumah disabilitas netra di desa Caringin Bandung untuk mengajarkan baca tulis secara sukarela, total terdapat 15 orang disabilitas netra yang dikunjungi oleh informan 6, “Saya lakukan langsung door to door ke rumah mereka pakai biaya saya sendiri datang ke mereka, ada 15 orang tunanetra yang tidak mengenyam pendidikan yang saya ajarkan, saya ajarkan baca tulis”. (Informan 6) Tujuan dari upaya yang dilakukan informan 6 adalah untuk meningkatkan taraf pendidikan masyarakat disabilitas netra yang mengalami ketertinggalan, terutama penyandang disabilitas netra yang tidak terjangkau ke pelosok-pelosok desa, “Saya juga jadi pustakawan karena Ingin menolong teman-teman senasib yang tunanetra yang tidak pernah mengikuti pendidikan, terutama yang di desa-desa, terutama juga tunanetra yang sudah tua tapi ngga punya bantuan untuk bahan bacaannya dan mengenal dunia pendidikan”. (Informan 6) Minimya bahan bacaan yang aksesibel bagi disabilitas netra menjadi motif yang timbul berdasarkan pada motif di masa lalu atau inorder-to motive (Um-zu-Motiv) (Schutz, 1967). Motif ini timbul karena adanya keresahan dari pustakawan disabilitas netra dalam memandang realitas, yaitu realitas terkait tentang bahan bacaan untuk disabilitas netra. Scott dan Lyman (Firdiyah & Primasari, 2019) menyebutkan dalam pandangan sosiologi bahwa motif dapat timbul karena adanya excuse atau permasalahan, permasalahan dalam hal ini adalah minimnya bahan bacaan yang aksesibel bagi disabilitas netra, dan permasalahan ini juga dirasakan oleh pustakawan disabilitas netra yang pada masa lalunya juga merakan realitas yang sama. Ketersediaan Fasilitas Perpustakaan untuk Disabilitas Netra Kondisi penglihatan pustakawan disabilitas netra yang terbatas, tentu dalam melaksanakan pekerjaanya membutuhkan fasilitas khusus untuk efisiensi dan efektifitas dalam bekerja. Informan 1 memilih untuk bekerja di layanan Difabel Corner Perpustakaan Universitas Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta dikarenakan fasilitas perpustakaan yang telah mendukung pekerjaan pustakawan disabilitas netra, “Motivasinya karna di sini fasilitasnya bagus, apa lagi untuk saya seorang tunanetra low vision”. (Informan 1) Beberapa fasilitas dari layanan Difabel Corner Perpustakaan Universitas Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta yang telah mendukung kinerja Informan 1 dalam menjalankan keprofesiannya sebagai seorang pustakawan, “Komputernya sudah ada aplikasi yang memudahkan pekerjaan saya, seperti JAWS aplikasi screen reader”. (Informan 1) Sudah tersedianya fasilitas perpustakaan yang membantu pekerjaan pustakawan penyandang disabilitas netra merupakan bagian dari realitas pustakawan disabilitas netra yang terpengaruh oleh realitas di luar diri. Berger (2014) mengungkapkan bahwa realitas diproduksi ulang oleh orang-orang yang bertindak atas interpretasi mereka tentang apa yang mereka anggap sebagai dunia di luar mereka. Realitas yang berada di luar diri pustakawan disabilitas netra adalah sudah tersedianya berbagai fasilitas perpustakaan yang dapat membantu dan mempermudah pekerjaan yang dilaksanakan oleh pustakawan disabilitas netra, hal ini yang mendorong disabilitas netra berprofesi sebagai seorang pustakawan. 2. In-order-to motive (Um-zu-Motiv) Mengubah Stigma Sosial Stigma sosial masyarakat terhadap disabilitas netra juga merupakan motif bagi disabilitas netra menjadi pustakawan. Masyarakat sering kali menganggap bahwa disabilitas netra merupakan orang yang memiliki kekurangan yang konsekuensinya sering dianggap tidak mampu untuk melakukan beberapa hal. Melalui profesi sebagai pustakawan, pustakawan disabilitas netra ingin mengikis stigma yang ditempelkan oleh masyarakat kepada disabilitas netra. Hal ini disampaikan oleh informan 3, “Melalui profesi sebagai pustakawan, saya juga bisa menunjukkan kepada masyarakat luas bahwa difabel netra bisa bekerja jadi pustakawan”. (Informan 3) Informan 5 berpandangan bahwa masyarakat luas tidak begitu paham dengan bagaimana kehidupan disabilitas netra yang sebenarnya, yang terkadang masyarakat sering mempertanyakan disabilitas netra bisanya mengerjakan apa, pandangan ini mendiskreditkan disabilitas netra terkait pekerjaan. Informan 5 ingin menggugurkan pandangan masyarakat tentang stigma negatif yang menganggap disabilitas netra tidak mampu bekerja, terutama di perpustakaan, “Banyak stigma yang ngomong tunanetra ngapain kerjaannya, apalagi untuk pustakawan. Tidak banyak orang yg ngerti tugas pustakawan itu berat, apalagi bukan hanya butuh tenaga fisik juga tenaga pikiran, saya mau nunjukin bahwa stigma itu salah, biar anggapan negatif itu hilang di masyarakat”. (Informan 5) Hal yang sama juga di sampaikan oleh Infroman 2 yang berkeinginan untuk menginformasikan apa yang belum diketahui oleh masyarakat tentang disabilitas netra, yang mana Informan 2 beranggapan bahwa masyarakat hanya mengetahui disabilitas netra hanya mampu mencari informasi melalui tulisan-tulisan braille saja. Namun masyarakat tidak mengetahui bahwa disabilitas netra juga dapat menggunakan teknologi informasi seperti komputer dan smartphone. Karena stigma negatif tersebut, Informan 2 ingin membuktikan bahwa pandangan masyarakat terhadap disabilitas netra merupakan hal yang salah melalui profesi sebagai pustakawan, “Melalui profesi ini saya ingin lebih menginformasikan ke masyarakat tentang apa yang selama ini belum diketahui oleh publik tentang tunanetra, karna sebelumnya publik hanya mengetahui dan mengidentikkan tunanetra dengan huruf braille saja, tetapi sangat tidak tahu tentang tunanetra yang sudah akrab dengan teknologi. Saya ingin mengikis paradigma dan stigma yang selama ini tunanetra dipandang sebelah mata”. (Informan 2) Informan 2 juga ingin membuktikan bahwa kondisi disabilitas netra bukan jaminan tidak memiliki pengetahuan. Konsekuensi dari motivasi Informan 2 adalah hilangnya pandangan bahwa disabilitas netra adalah seseorang yang serba kekurangan akan pengetahuan, “Melalui profesi sebagai seorang pustakawan saya ingin membuktikan ke masyarakat bahwa ketunanetraan bukan jadi alasan untuk ketidaktahuan. Apalagi dengan kemajuan teknologi yang sudah bisa dinikmati oleh netra, tunanetra tidak ada batasan lagi unutk tahu segala hal”. (Informan 2) Informan 4 memilih menjadi seorang pustakawan disebabkan karena ingin membantu disabilitas netra memperoleh pekerjaan, karena disabilitas netra identik dengan tukang pijat. Informan 4 ingin mengedukasi dan memberikan bekal pengetahuan kepada disabilitas netra agar dapat diaktualisasikan untuk memperoleh lapangan pekerjaan, “Melalui profesi pustakawan ini saya mau membantu penyandang tunanetra punya profesi lain, karna sekarang imejnya tunanetra hanya berprofesi sebagai tukang pijat, mungkin dengan baca buku bisa membuka wawasan dan peluang pekerjaan baru bagi mereka”. (Informan 4) Stigma negatif yang melekat pada diri seorang disabilitas netra merupakan realitas yang telah terbentuk di tengah-tengah masyarakat, khususnya yang berkaitan dengan pekerjaan. Raiz dan Sahrul (2020) mengungkapkan bahwa penyandang disabilitas netra dianggap tidak memiliki kapasitas untuk mengurus diri mereka secara independen dan tidak produktif dalam bekerja. Berdasarkan pada realitas ini pustakawan penyandang disabilitas netra ingin mengubah stigma negatif masyarakat dengan bekerja sebagai seorang pustakawan yang pekerjaannya membutuhkan penglihatan, khususnya pada aktivitas pengolahan bahan pustaka dan pelayanan pemustaka. Keinginan untuk mengubah stigma sosial ini berkaitan dengan proses ekternalisasi pada realitas sosial yang diungkapkan oleh Berger (2014) bahwa pustakawan disabilitas netra melakukan penyesuaiaan diri mereka dengan kondisi sosial-kultural di masyarakat, dalam hal ini berkaitan pandangan masyarakat terhadap penyandang disabilitas netra yang berkonsekuensi terhadap keinginan untuk mengubah pandangan tersebut. Meningkatkan Minat Baca Kondisi bahan bacaan yang minim untuk disabilitas netra terutama disabilitas netra dengan kategori totally blind yang memiliki bahan bacaan khusus yaitu koleksi braille berpotensi mengakibatkan kurangnya minat baca disabilitas netra. Kondisi kurangnya minat baca disabilitas netra ini membuat pustakawan disabilitas netra ingin membantu pemustaka disabilitas netra untuk meningkatkan minat untuk membaca. Informan 1 beranggapan bahwa minat baca dari mahasiswa disabilitas netra masih kurang. Informan 1 memiliki tujuan untuk meningkatkan minat baca pemustaka penyandang disabilitas netra dengan cara memotivasi untuk membaca. Cara memotivivasi yang dilakukan oleh Informan 1 adalah dengan berkomunikasi secara personal, dan menunjukkan rasa simpati terkait permasalahan yang dihadapi oleh pemustaka disabilitas netra, impact yang dilakukan oleh Informan 1 membuat pemustaka disabilitas netra datang kembali ke Difabel Corner, “Minat baca dari teman-teman tunanetra masih kurang jadinya saya berupaya untuk memotivasi mereka untuk membaca buku. Saya motivasi secara personal dulu, saya kasih beberapa masukan dan bentuk rasa simpati. Efeknya ya dia mau ke difabel corner lagi untuk bertanya tentang bahanbahan kuliahnya kepada saya”. (Informan 1) Informan 4 berkeinginan seorang penyandang disabilitas netra memiliki minat baca yang sama dengan masyarakat yang dapat melihat, “Saya tertarik menjadi seorang pustakawan karena saya ingin tunanetra mempunyai minat baca seperti orang awam dan mempunyai pengetahuan yang luas dari baca buku”. (Informan 4) Hal yang sama juga dirasakan oleh informan 5 yang bekerja sebagai pustakawan di lingkungan Sekolah Luar Biasa (SLB) yang siswa siswinya cenderung memiliki minat baca yang rendah, hal ini berdasarkan kegiatan dari siswa siswi yang lebih memilih bermain dan bercengkrama di dalam perpustakaan. Dengan kondisi seperti ini informan 5 memilih dan melanjutkan karir keprofesiannya sebagai seorang pustakawan dengan tujuan untuk meningkatkan minat baca siswa siswi yang ada di Sekolah Luar Biasa (SLB) A Tingkat Nasional, “Saya ingin dan berupaya untuk menumbuhkan dan mengembangkan minat baca siswa siswa yang ada di SLB ini”. (Informan 5) Pustakawan disabilitas netra berupaya untuk meningkatkan minat baca dari masyarakat penyandang disabilitas netra, upaya ini timbul berdasarkan kondisi realitas sosial bahwa disabilitas netra memiliki minat baca yang rendah, dan hal ini juga merupakan konsekuensi dari minimnya kuantitas dari bahan bacaan yang aksesibel bagi disabilitas netra. Upaya pustakawan penyandang disabilitas netra dalam meningkatkan minat baca masyarakat disabilitas netra berangkat dari gambaran individu dalam memandang realitas secara objektif berdasarkan interaksinya dengan pemustaka disabilitas netra. Hal ini disampaikan oleh Berger (2014) bahwa konstruksi realitas sosial menggambarkan realitas subjektif dan objektif, yang artinya realitas sosial tersebut terbentuk dalam interaksi sosial. Mensosialisasikan dan mengelola koleksi braille Disabilitas netra mampu menginterpretasikan informasi yang terdapat dalam koleksi buku braille dengan menafsirkan simbol-simbol braille yang berbeda dengan cara membaca buku tulisan abjad. Teknik perabaan dan bentuk tulisan yang berbeda dengan huruf abjad tentu membuat koleksi braille tidak begitu familiar oleh masyarakat awam. Pustakawan disabilitas netra memiliki motif untuk menjadi seorang pustakawan adalah untuk memberikan edukasi ke masyarakat terkait dengan huruf braille. Informan 3 yang merupakan disabilitas netra low vision memiliki kemampuan membaca tulisan braille, kemampuan ini diperoleh berdasarkan latihan yang ditekuni Informan 3 ketika belajar di Yayasan Gereja Katedral Jakarta Pusat. Sebagai seorang pustakawan, Informan 3 termotivasi untuk menjadikan profesi ini sebagai wadah dan jalan bagi Informan 3 untuk mengenalkan koleksi braille ke masyarakat luas, “Ilmu saya tentang braille bisa saya aplikasikan di perpustakaan, dan pada akhirnya saya memiliki keinginan untuk mensosialisasikan dan mengajarkan ke masyarakat tentang huruf braille melalui profesi ini”. (Informan 3) Hal yang serupa juga diungkapkan oleh Informan 2, Perpustakaan Nasional Republik Indonesia yang memiliki layanan khusus untuk disabilitas dan di dalamnya terdapat koleksikoleksi bahan bacaan braille mendorong Informan 2 untuk menjadi seorang pustakawan. Informan 2 berpandangan bahwa jika di perpustakaan terdapat koleksi braille, tentunya di butuhkan seorang ahli braille untuk menafsirkan isi dari koleksi braille tersebut, “Logika berfikir saya adalah, kenapa sih koleksi braille ada di perpusnas, masa ngga ada orang yang paham betul dengan tulisan braille”. (Informan 2) Pustakawan disabilitas netra yang memiki kemampuan dalam menafsirkan huruf braille berkeinginan untuk memperkenalkan koleksi perpustakaan yang memiliki huruf braille kepada masyarakat luas. Upaya memperkenalkan koleksi braille ini berkaitan dengan motif masa depan atau in-order-to motive (Um-zu-Motiv). Menurut Schutz (1967) in-order-to motive (Um-zu-Motiv) berkaitan dengan tindakan seseorang yang berorientasi pada masa depan. Tindakan dari mensosialisasikan koleksi braille oleh pustakawan penyandang disabilitas netra berorientasi pada masa depan, tujuan dari orientasi tindakan ini adalah agar masyatakat luas kenal dengan koleksi braille dan memahami simbol-simbol braille. Ekonomi Perolehan lapangan pekerjaan dan perekonomian menjadi salah satu motif disabilitas netra menjadi seorang pustakawan. Informan 1 mengungkapkan bahwa alasannya bergabung menjadi pustakawan di Difabel Corner Perpustakaan Universitas Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta salah satunya adalah alasan ekonomi. Informan 1 yang berstatus sebagai mahasiswa membutuhkan dukungan materi untuk meringankan pengeluaran dari orang tua untuk perkuliahannya dan membantu perekonomian keluarga, “Ya motif saya ya cari kerja, ya buat ekonomi keluarga saya. Di samping itu saya juga ga minta uang ke orang tua, jadi dari perpustakaan saya dapat uang buat sehari-hari”. (Informan 1) Informan 2 juga menjadikan ekonomi menjadi salah satu alasan menjadi seorang pustakawan. Informan 2 yang sudah berkeluarga tentunya membutuhkan penghasilan untuk memenuhi kebutuhan keluarganya, “Ya jadi pustakawan untuk kerja, buat membantu ekonomi keluarga saya”. (Informan 2) Berlatar lulusan Sarjana Manajemen di Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Indonesia, informan 3 membutuhkan lapangan pekerjaan yang merupakan hal yang sudah lumrah dilakukan oleh setiap orang yang telah lulus kuliah. Selain itu faktor ekonomi juga alasan kenapa informan 3 menjadi seorang pustakawan, “Karna faktor ekonomi sih, karna saya setelah lulus saya membutuhkan pekerjaan, itu hal yang biasa ketika seorang mahasiswa baru lulus dari perkuliahan ya”. (Informan 3) Memperoleh pendapatan menjadi motif ekonomi bagi penyandang disabilitas netra bekerja sebagai pustakawan. Melalui lembaga tempat bekerja, pustakawan penyandang disabilitas netra memperoleh pendapatan berupa gaji yang dapat membantu perekonomian keluarga. Kondisi ekonomi dan membutuhkan pendapatan menjadi realitas bagi pustakawan penyandang disabilitas netra, pendapatan yang diperoleh dari lembaga yang membawahi pustakawan penyandang disabilitas netra merupakan motif untuk masa depan atau yaitu in-order-to motive (Um-zuMotiv). Schutz (1967) mengungkapkan bahwa in-order-to motive (Um-zu-Motiv) adalah motif yang memiliki orientasi pada tindakan individu di masa depan. Relasi Menambah relasi pertemanan juga merupakan salah satu motif bagi disabilitas netra menjadi seorang pustakawan. Intensitas bertemunya dengan pemustaka dan stakeholder perpustakaan merupakan sebuah peluang untuk memperluas jaringan pertemanan dan kenalan. Bagi Informan 1, dengan menjadi seorang pustakawan dapat menambah jaringan pertemanannya, sebab dengan menjadi seorang pustakawan Informan 1 dapat bertemu dengan pemustaka baru di lingkungan kampus, “Saya ingin menambah jaringan pertemanan saya, karna dengan menjadi seorang pustakawan saya bisa bertemu dengan pemustaka yang merupakan orangorang baru, dan memperbanyak jumlah teman-teman saya di kampus”. (Informan 1) Menjadi seorang pustakawan untuk menambah relasi juga dialami oleh informan 5. Menambah relasi bukan hanya ingin dicapai oleh informan 5 dari bersosialisasi dengan pemustaka dari Sekolah Luar Biasa (SLB) A Pembina Tingkat Nasional saja, namun juga diperoleh informan 5 dari orang luar, informan 5 memiliki kenalan dari mahasiswa yang melakukan penelitian dan jaringan ke Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. “Saya juga mau menambah relasi sih, banyak ketemu teman-teman baru kaya mahasiswa yang datang ke sini, kadang mereka ingin meneliti tentang tunanetra, mereka juga cari referensi disini, dan dengan profesi ini saya bisa ke perpusnas”. (Informan 5) Hubungan yang dapat terjalin melalui profesi sebagai pustakawan merupakan realitas sosial yang dikonstruksi oleh pustakawan penyandang disabilitas netra. Melalui profesi sebagai pustakawan ini membuat disabilitas netra dapat memperluas jaringan dan interaksi sosialnya dengan masyarakat, baik itu dengan pemustaka, pustakawan, atau pihak lainnya. Realitas sosial ini bagi Berger (2014) memasukin proses ekternalisasi, yang artinya individu akan menyesuaikan diri dengan dunia sosial-kultural. Melalui proses interaksi ini pustakawan penyandang disabilitas netra membentuk realitasnya. Diskusi Berlandaskan pada amanat Undang Undang Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas Pasal 11 (2016) menjelaskan bahwa hak dari penyandang disabilitas adalah memperoleh pekerjaan yang diselenggarakan oleh Pemerintah, Pemerintah Daerah, atau swasta tanpa diskriminasi. Amanat ini memberikan peluang bagi penyandang disabilitas netra untuk dapat bekerja di perpustakaan sebagai pustakawan. Keinginan seorang disabilitas netra menjadi seorang pustakawan tidak hanya datang dari amanat Undang-Undang maupun dari suatu lembaga, namun juga dari diri sendiri. Hal ini menjadi tantang bagi pemerintah, yang mana penyandang disabilitas dianggap sebagai kelompok yang terpinggirkan dalam masyarakat karena memiliki beberapa ciri-ciri yang berbeda, dan memilliki hak eksklusif. Mahesh dan Gurulingaiah (2021) menyatakan bahwa negara maupun pemerintah di berbagai negara telah meluncurkan berbagai kebijakan tentang disabilitas, dan hal ini dapat memberikan beberapa pedoman untuk menilai kecatatan, hak-hak mereka, ketentuan, dan perlindungan yang jelas terhadap eksploitasi. Disabilitas netra yang berprofesi sebagai seorang pustakawan merupakan aktor utama dalam realitasnya, motif menjadi seorang pustakawan terbentuk karena adanya pengalaman historis dan orientasi pada masa yang akan datang yang memiliki tujuan. Motif adalah kekuatan penggerak yang dapat membangkitkan aktivitas pada pada makhluk hidup (Syahputra & Ismail, 2021). Artinya terdapat suatu hal yang melatarbelakangi seorang disabilitas netra menjadi seorang pustakawan. Fenomenologi membagi kategori motif seseorang menjadi dua bagian yaitu inorder-to motive (Um-zu-Motiv) yang memiliki orientasi pada masa depan, dan because motive (Weil-Motiv) yang memiliki orientasi pada masa lalu (Schutz, 1967). Berdasarkan pada because motive (WeilMotiv), ditemukan tiga motif disabilitas netra menjadi seorang pustakawan yaitu karena hobi membaca, minimnya bahan bacaan khususnya untuk pemustaka disabilitas netra, dan fasilitas perpustakaan yang dapat mendukung kinerja pustakawan disabilitas netra. Profesi pustakawan yang aktivitasnya selalu dikelilingi oleh buku-buku menjadi peluang bagi pustakawan disabilitas netra untuk menambah wawasan ilmu pengetahuannya dengan membaca buku-buku yang ada di perpustakaan. Seorang pustakawan tentunya mengetahui koleksi-koleksi apa saja yang ada di pepustakaan sehingga hal tersebut membuat mudah untuk mengakses informasi koleksi yang dibutuhkan. Selain itu motif masa lalu yang mendorong seorang disabilitas netra menjadi seorang pustakawan adalah karena minimnya bahan bacaan untuk disabilitas netra. Kondisi minimnya bahan bacaan yang aksesibel bagi penyandang disabilitas netra membuat pustakawan penyandang disabilitas netra terdorong untuk menjadi seorang pustakawan untuk dapat menyediakan bahan bacaan yang ramah untuk disabilitas netra, dan berupaya menumbuhkembangkan minat baca pemustaka disabilitas netra untuk menambah wawasan ilmu pengetahuan. Motif masa lalu lainnya adalah karena fasilitas perpustakaan yang sudah mendukung pekerjaan sebagai pustakawan. Perpustakaan terus berinovasi dalam melakukan pengembangan dan pelayanan perpustakaan yang berbasis teknologi, terutama teknologi yang dapat membantu kinerja seorang pustakawan disabilitas netra. Rosner dan Perlman (2018) menyatakan bahwa disabilitas netra yang menggunakan perangkat komputer dalam kesehariannya berpengaruh positif terhadap kualitas hidup dan aktivitas. Motif selanjutnya adalah motif in-order-to motive (Um-zu-Motiv). Kategori dari motif yang akan datang meliputi untuk menghilangkan stigma disabilitas netra di masyarakat, meningkatkan minat baca disabilitas netra, untuk mensosialisasikan koleksi braille ke masyarakat dan mengelolanya, untuk peningkatan taraf ekonomi, serta menambah relasi. Motif menghilangkan stigma disabilitas netra artinya pustakawan disabilitas netra ingin mengubah pandangan negatif yang selama ini disematkan oleh masyarakat terhadap disabilitas netra dalam pekerjaan dan penggunaan teknologi. Motif selanjutnya adalah meningkatkan minat baca disabilitas netra, seorang pustakawan disabilitas netra ingin membantu pemustaka disabilitas netra dalam meningkatkan minat bacanya, sehingga dengan tumbuhnya minat baca pemustaka disabilitas netra akan berkonsekuensi pada bertambahnya pengetahuan. Bodaghi, Cheong, Zainab, dan Riahikia (2016) menyebutkan bahwa berkonsultasi dengan pemustaka disabilitas netra sangat penting bagi pustakawan untuk memastikan kebutuhan informasi mereka dan juga untuk mendukung kebutuhan psikologis pemustaka. Motif selanjutnya adalah untuk memberikan kontribusi kepada perpustakaan dalam mengelola koleksi braille sebagai upaya edukasi ke masyarakat. Koleksi braille tidak begitu familiar di mata masyarakat awam, maka seorang pustakawan disabilitas netra ingin menginformasikan dan mengedukasi ke masyarakat tentang koleksi braille dan bagaimana cara menginterpretasikan simbolsimbol di dalamnya. Hal tersebut ditunjang dengan kemampuan pustakawan disabilitas netra yang mampu membaca tulisan braille. Bola et al. (2016) menyatakan bahwa secara fisik disabilitas netra memiliki kemampuan perseptual yang unggul pada indera lain selain penglihatan. Motif selanjutnya adalah untuk memperoleh lapangan pekerjaan dan peningkatan taraf ekonomi. Disabilitas netra membutuhkan penghasilan untuk mememenuhi kebutuhan, dan meningkatkan taraf ekenomi keluarga melalui pekerjaan sebagai seorang pustakawan. Motif yang terakhir adalah untuk menambah relasi, pustakawan akan selalu berhubungan dengan pemustaka, hubungan tersebut akan menimbulkan aktivitas komunikasi, dari aktivitas komunikasi tersebut akan berkonsekuensi pada bertambahnya relasi. Berdasarkan hasil temuan, maka penggambaran model motif disabilitas netra menjadi seorang pustakawan dapat dilihat pada Bagan 1. Hasil analisis data yang telah dilakukan kemudian memasuki proses validasi dengan teknik uji credibility. Uji credibility dilakukan dengan melakukan perpanjangan pengamatan kepada informan yaitu kepada informan 3, Informan 4, Informan 2, dan informan 6 secara langsung, sedangkan dengan Informan 1, informan 7, dan informan 5 dilakukan secara daring. Hasil analisis data yang telah dirumuskan diuji kredibilitasnya dengan menggunakan teknik triangulasi, yang mana dikonfirmasi dari hasil konstruksi derajad kedua penelitian kepada setiap informan secara luring dan daring untuk memastikan kesamaan hasil analisis dengan realitas informan yang terkonfirmasi. Realitas sosial dari pustakawan penyandang disabilitas netra ini juga ditemukan pada penelitian yang hampir serupa, yaitu tentang pustakawan disabilitas secara umum. Penelitian yang dibuat oleh Hollich (2020) menunjukkan bahwa pekerja di bidang perpustakaan yang merupakan penyandang disabilitas mendapatkan stigma negatif berupa kurang mampu, kurang terampil, atau kurang produktif. Temuan penelitian ini juga mengungkapkan solusi untuk menghilangkan stigma negatif tersebut adalah melalui jalur legislasi, American with Disabillities Act (ADA) merekomendasikan untuk disabilitas mengungkapkan kondisi disabilitasnya kepada publik, namum hal ini justru membebani individu disabilitas tersebut untuk mengidentifikasi bahwa apakah mereka benarbenar membutuhkan bantuan atau tidak, dan terkait rasa nyaman untuk mengungkapkan kondisi disabilitasnya ke orang lain. Stigma ini juga diperoleh pustakawan penyandang disabilitas netra pada penelitian ini, namum melalui profesi ini pustakawan penyandang disabiltas netra ingin menghilangkan stigma negatif tersebut dengan menunjukkan kapasitas diri mereka tanpa harus mengungkapkan kondisi disabilitas mereka kepada masyarakat.

Conclusion

Seluruh motif yang melandasi seorang disabilitas netra berprofesi sebagai seorang pustakawan dari perspektif fenomenologi menjelaskan bahwa motif yang timbul dari diri seseorang tidak akan terlepas dari hubungan atau interaksi sosial yang terjadi di antara para aktor fenomena tersebut. Motif yang dimiliki oleh pustakawan disabilitas netra dengan pustakawan disabilitas netra lainnya memiliki sifat intersubjektif yang mana pustakawan disabilitas netra yang berada dalam satu wilayah fenomena yang sama akan saling membagikan persepsi mereka terhadap dunia yang diinternalisasi melalui kegiatan sosialisasi dan interaksi antar sesama pustakawan disabilitas netra. Pustakawan disabilitas netra akan berbagi dan melakukan pertukaran motif melalui proses.