Peranan Perpustakaan dalam Mendukung Gerakan Literasi di Sekolah Dasar
Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa; Sekolah Tinggi Agama Hindu Negeri Mpu Kuturan; Universitas Pendidikan Ganesha
Abstrak
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui peran perpustakaan dalam mendukung Gerakan Literasi Sekolah (GLS). Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan wawancara yang dilakukan kepada 6 orang guru sekolah dasar di Kecamatan Buleleng. Analisis data dilakukan dengan tahap pengumpulan data, analisis data, penyajian data, verifikasi/kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perpustakaan memiliki peran yang sangat penting dalam mendukung keberhasilan Gerakan Literasi Sekolah (GLS). Hal ini karena perpustakaan dapat dijadikan sebagai ruang dalam menumbuhkan minat baca anak dengan pembiasaan membaca 15 menit setiap hari.
Abstract
The purpose of this study was to determine the role of libraries in supporting the School Literacy Movement (GLS). This type of research is qualitative research. Data collection techniques were carried out by interviewing 6 elementary school teachers in Buleleng District. Data analysis was carried out by data triangulation, namely the stages of data collection, data analysis, data presentation, verification/conclusion. The results showed that the library has a very important role in supporting the success of the School Literacy Movement (GLS). This is because the library can be used as a space in fostering children’s interest in reading. This can be realized with the habit of reading 15 minutes every day.
Keywords:
School Literacy Movement
· Library
Introduction
Membaca menjadi suatu pintu gerbang dalam menguasai ilmu pengetahuan. Gemar membaca (reading literacy) adalah suatu keterampilan seseorang untuk dapat memahami suatu teks yang bentuknya tulis dan juga keterampilan dalam menerapkan makna teks tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Literasi dalam hal ini terdiri dari tiga yaitu kemampuan seseorang dalam membaca serta memahami bacaan, kemampuan menulis, serta kemampuan dalam menghitung.1 Perpustakaan dan literasi dapat dikatakan sebagai jantungnya pendidikan. Perpustakaan sebagai penyedia sumber literasi dan literasi ,merupakan proses pencarian sumber pengetahuan. Tanpa literasi seseorang tidak mampu mencapai tujuan dari pendidikan tersebut. Karena hampir seluruh kegiatan pendidikan memerlukan kemampuan literasi. Literasi tersebut dapat ditanamkan sejak anak usia dini dan dilanjutkan pada tingkat sekolah dasar. Literasi yang ditanamkan di sekolah dapat diwujudkan dengan berbagai strategi belajar inovatif sehingga literasi juga dapat dengan mudah dikuasai anak. Harapan akan ditumbuhkannya literasi sejak usia sekolah dasar, nyatanya tidak sesuai dengan hasil data minat baca masyarakat Indonesia. Berdasarkan data yang diperoleh dari UNESCO, masyarakat Indonesia memiliki minat baca yang rendah dan bahkan dapat dikatakan memperihatinkan, yaitu sebesar 0,001%. Makna presentase tersebut yaitu hanya 1 orang dari 1000 orang di Indonesia yang memiliki minat membaca dan memiliki frekuensi membaca yang sering. Sementara, anak yang berada di negara Eropa ataupun Amerika Sebagian besar mampu membaca 25-27 %. Kemudian Jepang mampu membaca 15-18%.2 Selain itu, ada pula hasil riset yang dilakukan oleh Central Connecticut State University pada Maret 2016 dengan tema World’s Most Literate Nations Ranked yang hasilnya menunjukkan bahwa minat baca masyarakat Indonesia berada pada peringkat ke 60 dari 61 negara. Posisi tersebut di bawah negara Thailand yang menududuki posisi ke 59 dan di atas negara Bostwana yang menduduki posisi ke 61. Hasil tersebut sebenarnya sangat tidak sejalan dengan infrastruktur Indonesia yang justru berada di atas negara Thailand dan juga negara Bostwana yang ada di Eropa. Dari hasil penelitian di atas menjadi salah satu faktor yang dapat mengakibatkan mutu pendidikan di Indonesia kurang dan cenderung tertinggal dari negara-negara lain. Rendahnya minat baca masyarakat Indonesia disebabkan oleh masyarakat Indonesia yang cenderung menyukai sosial media yang bahkan terkadang kurang mendidik. Anak Indonesia lebih suka menonton TV, mendengar radio, serta bermain sosial media seperti instagram, facebook, twitter, tiktok, dan lain sebagainya, dibandingkan membaca sebuah bacaan pada buku. Penyebab rendahnya minat baca anak di Indonesia juga diketahui dari indeks Alibaca (Aktivitas Literasi Membaca) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yaitu akses membaca yang kurang, fasilitas berupa sarana dan prasarana juga menjadi faktor yang sangat berperan dalam menentukan minat baca anak. Sulitnya anak sekolah dasar mengakses buku bacaan, maka anak pun jarang membaca buku. Karena frekuensi jarang inilah kebiasaan membaca menjadi tidak terbentuk, sehingga menimbulkan minat baca yang rendah. Hal ini juga dapat kita temui pada daerahdaerah terpencil. Tidak adanya perpustakaan di daerah terpencil menyebabkan masyarakatnya merasa perpustakaan menjadi tidak terlalu dipentingkan3 . Adanya permasalahan tersebut, memberikan tamparan keras bagi wajah Indonesia. Pemerintah perlu memperhatikan dan mencari solusi agar bisa menumbuhkan budaya dan minat baca masyarakat Indonesia. Hal yang dapat dilakukan yaitu dengan mengadakan kompetisi membaca, melengkapi sarana dan prasarana penunjang bacaan, bahkan menyediakan perpustakaan sekolah ataupun daerah, hingga melatih kebiasaan membaca baik di sekolah, rumah, maupun masyarakat. Kegiatan tersebut dapat diwujudkan melalui pendidikan yang diberikan di sekolah dengan menyediakan perpustakaan sekolah. Perpustakaan menjadi salah satu sarana dan prasarana yang sangat penting dalam menunjang minat baca anak. Perpustakaan merupakan sebuah tempat yang dapat memberikan kesempatan anak untuk mencari informasi seluas-luasnya secara gratis baik dari surat kabar, majalah pendidikan, buku-buku pendidikan ataupun non-pendidikan, maupun sumber lainnya.4 Sedangkan Lasa menyatakan bahwa perpustakaan merupakan suatu kumpulan berbagai informasi baik berupa buku maupun non-buku yang telah disusun sedemikian rupa kemudian digunakan untuk referensi, meskipun sumber tersebut nantinya tidak dapat dimiliki, hanya bisa dipinjam sementara.5 Di masyarakat, bisa kita lihat berbagai jenis perpustakaan mulai dari perpustakaan sekolah, perpustakaan daerah, taman baca, dan lain sebagainya. Untuk di sekolah, digunakan perpustakaan sekolah. Perpustakaan sekolah merupakan suatu kumpulan dari bahan pustaka yang berupa buku atau non buku, yang disusun dalam satu ruangan sehingga dapat dijadikan referensi untuk membantu para siswa maupun guru dalam kegiatan pembelajaran.6 Ketika perpustakaan sudah diupayakan ada di semua tingkatan sekolah, diperlukan program yang membuat anak-anak sekolah dasar gemar membaca, maka dirintislah atau dimunculkan satu program menarik yang bernama Gerakan Literasi Sekolah (GLS) yang telah tertuang dalam Permendikbud No.23 Tahun 2015. Permendikbud tersebut berisi mengeni aturan yang mewajibkan siswa untuk membaca buku apapun saat 15 menit sebelum kegiatan pembelajaran dimulai. Dengan kebiasaan ini diharapkan budaya baca pun tumbuh, sehingga juga dapat meningkatkan minat dan keterampilan membaca anak. Hal ini juga nantinya dapat mempengaruhi perilaku anak sehingga menekan perbuatan asosial yang dilakukan oleh generasi penerus bangsa. Namun keberhasilan program ini tidak hanya dilakukan oleh pemerintah saja, namun juga berbagai kalangan baik guru, orang tua, masyarakat. Perlunya perpustakaan sekolah dalam mendukung Gerakan Literasi Sekolah juga didukung hasil kegiatan pengabdian masyarakat yang dilakukan Mudana (2018) yang berjudul “Peranan Perpustakaan dalam Mengembangkan Literasi pada Pengelola Perpustakaan Sekolah di Kabupaten Buleleng”. Hasilnya menunjukkan bahwa seluruh peserta merasa tertarik dengan pengembangan literasi yang dilakukan melalui perpustakaan. Masing-masing peserta nantinya dapat menerapkan atau menguatkan peran dari perpustakaan sekolah tersebut untuk meningkatkan literasi membaca siswa.7 Seorang pustakawan juga memberikan peran yang penting dalam keberhasilan gerakan literasi sekolah. Oleh karena itu, penting untuk meningkatkan kompetensi seorang pustakawan. Hal ini dapat berdampak personal maupun sosial. Dampak personal artinya kompetensi atau profesionalisme pustakawan semakin meningkat. Sedangkan dampak sosialnya yaitu berupa pelayanan yang lebih baik kepada pengunjung perpustakaan. Sehingga kebermanfaatan perpustakaan dalam meningkatkan literasi membaca semakin meningkat. Berdasarkan latar belakang di atas, maka penting untuk menulis artikel berjudul “Peranan Perpustakaan Sekolah dalam Mendukung Gerakan Literasi di Sekolah Dasar”. Penelitian ini termasuk jenis penelitian kualitatif. Teknik yang dilakukan dalam mengumpulkan data dalam penelitian ini yaitu dengan wawancara kepada enam orang guru sekolah dasar yang ada di Kabupaten Buleleng. Wawancara dilakukan untuk mengetahui peran perpustakaan sekolah dalam mendukung Gerakan Literasi Sekolah (GLS). Analisis data dilakukan dengan triangulasi data yaitu tahap pengumpulan data, analisis data, penyajian data, kesimpulan/verifikasi.
Discussion
1. Gerakan Literasi Sekolah Pemahaman guru sekolah dasar terkait dengan gerakan literasi sekolah sangatlah penting, karena dimulai dari gurulah anakanak sekolah dasar dapat memahami juga apa yang menjadi tujuan pemerintah terkait dengan pembudayaan literasi atau gerakan literasi sekolah. Berikut hasil wawancara dengan guru sekolah dasar terkait dengan gerakan literasi sekolah di Kecamatan Buleleng. Informan pertama menyatakan bahwa “GLS adalah suatu gerakan sebagai gerakan yang meningkatkan budaya baca sehingga minat baca anak bisa terbentuk”. Informan ketiga menyatakan bahwa “Gerakan Literasi Sekolah sebagai gerakan secara bersama mendorong ekosistem sekolah untuk bersama-sama memajukan sekolah dengan memfokuskan siswa untuk mampu berkomunikasi”. Informan keenam menyatakan bahwa “Gerakan Literasi Sekolah merupakan suatu gerakan untuk menumbuhkan kemampuan paham terhadap suatu informasi penting dari suatu bacaan”. Berdasarkan hasil wawancara ketiga responden tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa guru di Kecamatan Buleleng sudah memahami apa yang dimaksud dengan GLS. Gerakan ini adalah bentuk usaha dalam menumbuhkan minat baca anak dengan melakukan penanaman pembiasaan membaca buku 15 menit setiap hari. Dengan adanya kebiasaan ini juga dapat mendorong ekosistem sekolah sehingga bisa meningkatkan kemampuan mengolah informasi pada siswa, serta meningkatkan kemampuan komunikasi siswa. Hal ini juga akan mewujudkan pada peningkatan mutu pendidikan. 2. Peran Perpustakaan dalam Mendukung Gerakan Literasi Sekolah Peran perpustakaan dalam mendukung gerakan literasi sekolah sangatlah penting, karena perpustakaan adalah sumber literasi. Perpustakaan yang ada di sekolah harus menjadi pusat utama gerakan literasi, dengan menyediakan beragam buku, tidak hanya fiksi tetapi juga non fiksi, serta sumber-sumber lain yang dapat dimanfaatkan pemustaka terkhusus untuk anak sekolah dasar yang rasa ingin tahunya sudah mulai terbangun. Berikut hasil wawancara kedua mengenai kontribusi atau peran perpustakaan dalam mendukung kegiatan literasi sekolah. Informan pertama menyatakan bahwa “Perpustakaan memiliki peran yang penting dalam gerakan literasi sekolah, karena di perpustakaanlah siswa dapat membaca berbagai jenis buku. Sehingga sekolah penting memiliki perpustakaan”. Berdasarkan hasil wawancara tersebut, perpustakaan memberikan pengaruh besar dalam mendukung gerakan literasi. Perpustakaan sebagai wadah atau menjadi salah satu fasilitas dalam pembiasaan literasi siswa. Informan kedua menyatakan bahwa “Bagi saya perpustakaan menjadi pusat literasi, bila perlu guru mewajibkan siswa untuk membaca 10-15 menit di perpustakaan sebelum masuk kelas. Berdasarkan hasil wawancara tersebut, perpustakaan bagi guru dapat dikatakan sebagai pusat literasi. Hal ini bisa dilihat dari berbagai koleksi buku yang bisa dijumpai di perpustakaan. Dengan banyaknya koleksi buku siswa dapat memilih bacaan yang disukainya sehingga membaca menjadi kegiatan yang menyenangkan. Untuk mendukungnya hasil wawancara tersebut juga mendukung program gerakan literasi sekolah yaitu dengan membiasakan membaca 10-15 menit. Informan ketiga menyatakan bahwa “Saya sangat mendukung program gerakan literasi sekolah. Hal ini menyebabkan wawasan anak-anak menjadi bertambah. Saya sudah menerapkan di sekolah dengan meminta siswa ke perpustakaan kemudian membaca buku yang mereka sukai”. Wawancara tersebut menunjukkan dengan adanya perpustakaan dapat menambah wawasan anak dalam berbagai disiplin ilmu. Kebebasan membaca apa yang anak sukai memberikan mereka kesempatan untuk dapat mengeksplorasi hobi dan bakatnya. Ketika informan mendapat pertanyaan mengenai setuju atau tidak apabila perpustakaan dapat mendukung gerakan literasi sekolah, 100% responden mengatakan setuju. Kemudian hasil wawancara juga menyatakan bahwa 83,3% responden menyatakan bahwa di sekolah tempat mereka mengajar sudah menerapkan gerakan literasi sekolah. Penerapan tersebut menunjukkan adanya dampak yang bermanfaat dirasa oleh siswa. 3. Seberapa Penting Perpustakaan dimiliki oleh Sekolah Perpustakaan di sekolah dasar mempunyai peran yang sangat penting terkait dengan pembudayaan literasi atau gerakan literasi. Oleh karena itu perpustakaan di sekolah harus ada dan harus dikembangkan. Berdasarkan hasil wawancara, kepada para responden mengenai seberapa penting perpustakaan dimiliki oleh sekolah, 100% responden setuju bahwa perpustakaan sangat penting dimiliki oleh sekolah. Berbagai pendapat dilontarkan oleh responden untuk menyatakan bahwa perpustakaan sangat penting dimiliki oleh sekolah. Informan keempat menyatakan bahwa “Tentunya perpustakaan menjadi sarana sangat krusial yang perlu ada di sekolah. Kualitas sekolah juga dapat dilihat dari seberapa baik pengelolaan perpustakaan sekolah, serta dukungan guru dalam memanfaatkan perpustakaan sekolah untuk pembelajaran”. Berdasarkan hasil wawancara tersebut, perpustakaan sangat penting untuk dimiliki sekolah. Ketika siswa rajin membaca ke perpustakaan, maka pengetahuan dan wawasannya akan bertambah. Informan kelima menyatakan bahwa “Perpustakaan mengambil peran besar untuk kesuksesan kegiatan pembelajaran. Anak-anak bisa diajarkan untuk mencari sumber terkait dengan materi yang dijelaskan guru. Di sekolah saya biasanya mengajak siswa untuk melihat ensiklopedi IPA kemudian mencatat apa hal penting yang mereka dapatkan, lalu saya kaitkan dengan mata pelajaran IPA yang saat ini masih menjadi satu rnagkaian dengan mata pelajaran lain dalam kurikulum 2013”. Berdasarkan hasil wawancara tersebut, perpustakaan memberikan pengaruh besar dalam pencaian tujuan belajar siswa. Siswa tidak hanya bisa mempelajari sumber yang ada di buku paket saja, namun juga bisa mencari berbagai sumber dari buku lain. Informasi keenam menyatakan bahwa “Perpustakaan penting untuk menumbuhkan minat baca siswa. Siswa juga bisa diberikan tugas ke perpustakaan untuk membaca kemudian saat pembelajaran siswa ditanyakan kembali mengenai apa yang telah ia baca. Saya biasanya meminta siswa untuk membaca di pagi hari sebelum masuk kelas, kemudian saat sudah pembelajaran saya menanyakan apa yang telah siswa baca. Di awal memang ada yang bingung menjawab apa, namun lama kelamaan setelah pembiasaan siswa mulai bisa sedikit demi sedikit mengungkapkan apa yang telah mereka baca”. Berdasarkan hasil wawancara tersebut, perpustakaan memiliki peran penting dalam menumbuhkan minat baca anak. Dengan sering dan terbiasa membaca, lama kelamaan ini menjadi kebiasaan dan menjadi minat atau hobi bagi anak. Berbagai teknik guru dalam menerapkan pembiasaan membaca dilakukan. Berdasarkan hasil wawancara, yang telah dilakukan kepada informan keenam dengan meminta siswa membaca di pagi hari, kemudian saat pembelajaran menanyakannya kembali. Hal ini baik jika diteruskan dan menjadi pembiasaan. Meskipun di awal siswa ada yang belum mampu menyampaikan pendapat mereka mengenai buku yang dibaca, namun seiring dengan pembiasaan setiap hari yang dilakukan maka lama kelamaan siswa mampu menyampaikan gagasan dan pandangan mereka mengenai buku yang telah dibacanya. Selain itu, ketika informan diberikan pertanyaan mengenai manfaat perpustakaan bagi sekolah, berbagai macam jawaban pun muncul. Ada informan yang menjawab bahwa perpustakaan sebagai tempat untuk menambah pengetahuan. Informan lain menjelaskan bahwa perpustakaan dapat dijadikan tempat untuk menyimpan buku fiksi maupun non fiksi, perpustakaan sebagai tempat membaca rutin siswa selain pembelajaran rutin di kelas. Selain itu, perpustakaan juga bisa digunakan sebagai pendukung kegiatan praktik lainnya seperti laboratorium, kemudian perpustakaan juga bisa sebagai sarana membaca sumber yang tercetak ataupun yang tidak tercetak atau digital. 4. Kapan Anak mulai dibiasakan Membaca? Literasi sangat erat hubungannya dengan membaca, oleh karena itu penulis menanyakan juga kepada informan terkait dengan kapan anak mulai diajarkan membaca, Berdasarkan hasil wawancara dengan guru sekolah dasar diperoleh hasil sebagai berikut: Informan pertama menyatakan bahwa “Anak bisa dibiasakan membaca sejak umur 6 tahun” Informan kedua menyatakan bahwa “Anak bisa dibiasakan membaca sejak SD, namun tidak dipungkiri bahwa tidak semua anak SD terutama kelas 1, sudah bisa membaca.” Informan ketiga menyatakan bahwa “Anak dibiasakan membaca sejak dini, atau pra sekolah. Namun di awali yang ringan dulu seperti buku dongeng yang lebih banyak gambarnya. Walaupun anak pra sekolah belum bisa membaca sebaiknya diperkenalkan bukunya saja terlebih dahulu, agar nanti ketika besar dia memiliki kesenangan dalam membaca.” Informan keempat dan kelima menyatakan bahwa “Anak dibiasakan membaca sejak berada di bangku TK.” Informan keenam menyatakan bahwa “Anak bisa dibiasakan membaca sejak di sekolah dasar. Berdasarkan hasil wawancara di atas, dapat disimpulkan bahwa kebiasaan membaca perlu ditanamkan kepada anak sejak dini. Ada yang mengatakan sejak TK ada pula yang mengatakan sejak SD. Namun pada dasarnya, apabila anak TK belum bisa membaca, ia cukup diberikan buku dengan menonjolkan gambar saja. Namun saat usia SD dan sudah bisa membaca, anak bisa diminta untuk memilih buku yang mereka sukai untuk dibaca kemudian memahami makna cerita dengan menanyakan kembali isi bacaan yang mereka baca. 5. Analisis Hasil penelitian yang telah dilakukan menunjukkan bahwa perpustakaan menjadi salah satu sarana yang penting dimiliki oleh sekolah. Hal ini dikarenakan perpustakan dapat menjadi ruang bagi anak untuk menumbuhkan minat bacanya. Sesuai dengan yang dikemukakan Bafadal yang mengatakan terdapat 5 fungsi pokok dari perpustakaan yang ada di sekolah. Fungsi pertama yaitu edukatif, perpustakaan mampu memunculkan sikap gemar membaca anak serta memperoleh ilmu yang baru. Fungsi kedua yaitu informatif, siswa dapat mencari informasi atau literatur mengenai berbagai bidang ilmu sesuai dengan kebutuhannya. Fungsi ketiga yaitu administratif, yang artinya perpustakaan menjadi sarana mengembangkan kedisiplinan anak dengan terbiasa menaruh dan mengembalikan buku di tempatnya. Keempat, fungsi riset, digunakan sebagai acuan dalam membangun suatu konsep penelitian maupun pengembangan serta menjadi ruang untuk menambah sumber rujukan. Kelima, fungsi rekreatif, artinya selain mencari informasi untuk memenuhi kebutuhan, di perpustakaan siswa juga dapat memanfaatkan perpustakaan untuk mencari hal-hal yang berhubungan dengan hobi, sastra, seni, dan lain sebagainya.8 Dengan mengetahui fungsi perpustakaan maka juga mendukung Gerakan Literasi Sekolah (GLS) yang telah digaungkan oleh pemerintah. GLS merupakan salah satu kebijakan pemerintah sebagai upaya menanamkan kebiasaan membaca kepada anak. Kebiasaan membaca yang telah diterapkan oleh siswa akan berdampak baik bagi tumbuh kembang anak selanjutnya. Sesuai dengan pernyataan Sugiarti yang menyatakan bahwa membaca tidak hanya melafalkan kalimat, namun terdapat pelibatan psikolinguistik, visual, metakognitif, serta kemampuan bernalarnya.9 Ketika membaca anak memperoleh suatu informasi baru yang dapat menambah wawasannya. Patiung menyatakan bahwa membaca memiliki beberapa manfaat yaitu dapat mengurangi stress, dapat menstimulasi mental, dapat meningkatkan kualitas memori, menambah wawasan dan pengetahuan, dapat meningkatkan fokus dan konsentrasi, memperbanyak kosakata, melatih untuk dapat menulis dengan baik, melatih keterampilan berpikir dan analisis, meningkatkan hubungan sosial, memperluas pemikiran seseorang, membantu terhubung dengan dunia luar.10 Dengan berbagai manfaat yang diperoleh anak melalui kegiatan membaca, maka hal inilah yang menjadikan gerakan literasi ini sangat penting diterapkan pada siswa sejak usia sekolah dasar. Pada era globalisasi ini juga terdapat berbagai perkembangan teknologi yang amat pesat. Tanpa memiliki kegemaran dalam membaca atau mencari informasi dalam suatu tulisan, maka seseorang akan menjadi ketinggalan zaman. Berbagai penelitian memperlihatkan kebiasaan membaca bacaan bermutu berkontribusi terhadap tingkat kecerdasan seseorang. Dengan membaca, seseorang terbantu untuk melihat permasalahan dari berbagai sudut pandang dan menganggapnya sebagai tantangan yang harus diselesaikan. Hanika dan Hidayah mengemukakan bahwa pengelolaan perpustakaan sekolah menjadi salah satu faktor penting yang dapat mempengaruhi keberhasilan Gerakan Literasi Sekolah.11 Hal ini sejalan dengan pernyataan Teguh yang menyatakan bahwa gerakan literasi sekolah mempunyai tujuan agar dapat menjadikan sekolah suatu komunikas yang memiliki kebiasaan dan budaya baca yang tinggi.12 Pembiasaan membaca ini perlu ditanamkan sejak anak usia dini. Kharizmi menyebutkan bahwa ada 7 tanda untuk mengetahui munculnya minat literasi pada anak yaitu 1) anak menyukai buku meskipun belum bisa membaca, misalnya terwujud pada anak yang seorang bisa menceritakan isi buku dengan hanya melihat gambar meskipun ia belum bisa membaca, 2) anak menulis di sebuah kertas tentang hal acak yang seolah ia pahami, meskipun sebenarnya ia belum memiliki kemampuan mengenal tulisan, 3) dapat menunjukkan apa yang sedang dibacanya meski melalui gambar, 4) mengenal beberapa kata dan huruf, 5) mengenal kata konkret seperti nama teman atau kata yang disukai, 6) mengenal intonasi ketika membaca, 7) anak mampu menyebutkan kata yang dimulai dengan huruf atau kata kunci sesuai dengan huruf yang diketahuinya.13 Adanya pembinaan terhadap buku-buku yang dikoleksi di perpustakaan menjadi salah satu faktor penunjang fungsi perpustakaan. Selain buku koleksi, pelayanan perpustakaan menjadi poin lain yang sangat penting. Dengan memberikan pelayanan yang baik terhadap pengunjung perpustakaan, maka memberikan kenyamanan pada para pengunjung. Fasilitas di perpustakaan juga perlu mendapatkan perhatian. Fasilitas yang nyaman untuk membaca sangat diperlukan. Berbagai fasilitas tambahan dapat dilengkapi di perpustakaan misalnya adanya wifi, alas membaca atau karpet untuk yang senang membaca lesehan, meja baca, tempat pengecasan, AC atau kipas angin, serta fasilitas lain yang mendukung kenyamanan pembaca. Perlunya fasilitas yang memadai pada perpustakaan, menjadikan gerakan literasi sekolah perlu mendapatkan dukungan dari berbagai pihak, mulai dari seluruh warga sekolah, para orang tua, ataupun masyarakat di lingkungan sekitar sekolah. Dengan adanya dukungan orang tua siswa atau masyarakat bisa memberikan perhatian dalam bentuk sumbangan sukarela untuk perbaikan perpustakaan ataupun pemenuhan fasilitas perpustakaan, disamping dana BOS yang juga perlu dianggarkan untuk kemajuan perpustakaan sekolah. Berdasarkan hasil penelitian Kumar memperoleh hasil yaitu orang tua berperan mendukung gerakan literasi sekolah dengan cara memberikan pengawasan pada siswa ketika berada di rumah. Selain orang tua, pentingnya pelibatan komunitas yang ada di luar sekolah dapat memberikan suatu dukungan belajar pada siswa.14 Pada pelaksanaan gerakan literasi sekolah, guru tidak hanya meminta siswa membaca saja, namun sebaiknya juga mencatat hasil bacaan tersebut untuk nantinya disampaikan. Hal ini dapat memberikan arahan yang tepat pada siswa. Apalagi jika laporan atau catatan yang dibuat siswa diberikan penguatan positif berupa hadiah bagi pelaporan paling menarik. Hal lain dapat pula diusahakan untuk memberikan dorongan secara eksternal kepada siswa. Dengan terbentuknya pola kebiasaan membaca ini, diharapkan kedepannya dapat tumbuh motivasi secara internal pada siswa untuk membaca suatu tulisan. Selain kegiatan pembiasaan membaca 10-15 menit sebelum pembelajaran di mulai, gerakan literasi sekolah ini dapat diwujudkan dalam kegiatan lain, misalnya mengadakan lomba literasi. Lomba literasi tersebut bisa berupa lomba membuat puisi, lomba membuat cerpen, lomba mading, atau lomba pojok kelas. Hal ini selain meningkatkan literasi siswa, juga menggali potensi siswa tersebut agar dapat berkembang. Pemanfaatan pojok baca kelas juga bisa menjadi salah satu terobosan yang menarik. Setiap kelas diwajibkan memiliki perpustakaan mini dengan buku-buku yang diperoleh dari sumbangan alumni, orang tua, maupun masyarakat. Selain pojok baca bisa pula membuat teras baca di sekolah. Pada teras baca, siswa dapat merasakan suasana membaca yang berbeda, yaitu berada di diteras sekolah, di samping atau didekat tangga. Siswa dapat membaca sambil menunggu jam pulang, atau saat jam istirahat.
Conclusion
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan di atas, dapat disimpulkan bahwa perpustakaan memiliki peran yang sangat penting dalam mendukung keberhasilan Gerakan Literasi Sekolah (GLS). Dengan adanya perpustakaan, dapat menjadi ruang bagi siswa untuk bebas memilih bahan bacaan sesuai dengan minat mereka. Pembiasaan membaca ini perlu ditanamkan sejak jenjang sekolah dasar agar membaca menjadi sebuah kesenangan dan kegemaran pada siswa. Berdasarkan kesimpulan tersebut, disarankan bagi guru untuk mulai menanamkan pembiasaan membaca 15 menit setiap harinya agar siswa nantinya mempunyai kegemaran membaca. Selain guru, mereka dalam menyediakan bahan bacaan yang menarik, sehingga tidak hanya di sekolah siswa terbiasa membaca, namun juga di rumah ia dapat melanjutkan kebiasaannya.