Strategi dan Pengembangan Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial dalam Program Pemberdayaan Masyarakat Desa Paya Tumpi Baru Kabupaten Aceh Tengah
Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta; Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis strategi dan pengembangan Perpustakaan Desa Paya Tumpi Baru dalam program pemberdayaan masyarakat, apa saja bentuk pengembangan, pemberdayaan, kendala yang dihadapi dan juga upaya yang dilakukan untuk mengatasi kendala tersebut. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif, dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara terstruktur dan dokumentasi. Sedangkan pengambilan data menggunakan teknik purposive sampling. Analisis data menggunakan reduksi data, penyajian serta penarikan kesimpulan. Kemudian untuk menguji keabsahan data, digunakan triangulasi serta melakukan member check. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Strategi pengembangan perpustakaan berbasis inklusi sosial yang dilakukan adalah dengan menyediakan koleksi yang relevan, menyediakan layanan internet dan komputer, melibatkan masyarakat, serta melakukan advokasi untuk memperoleh bantuan dana dan juga tenaga dalam menjalankan kegiatan pendidikan, meningkatan kapasitas pembelajaran serta mengembangan potensi dan juga keterampilan seperti kerajinan tangan, bercerita, les komputer, les bahasa, menari dan mewarnai (3) Bentuk kegiatan pemberdayaan yang dilakukan terbagi atas kegiatan-kegiatan yang berasal dari proses kerja sama dengan forum anak dan kegiatan-kegiatan yang berasal dari program perpustakaan secara mandiri. (4) Kendala-kendala yang dihadapi adalah kurangnya dana, terbatasnya waktu layanan perpustakaan, turunnya minat anak-anak serta remaja laki-laki. Sedangkan upaya yang dilakukan adalah melakukan kerja sama, mengandalkan uang kas, mengandalkan barang dan peralatan yang ada, melakukan musyawarah, melibatkan peran kepala desa, serta melakukan kegiatan sederhana.
Abstract
The purpose of this study is to determine the Paya Tumpi Baru Village Library’s social inclusion-based library development strategy in the community empowerment program, the types of library development, community empowerment activities, and obstacles encountered, as well as the efforts made to overcome obstacles. The data of the study was collected through observation, structured interviews, and documentation using a qualitative descriptive method. Purposive sampling is a data collection approach in which data is collected from those who know and have basic information about the research issue. Furthermore, the data analysis was through data reduction, data display, and conclusion drafting. The researcher then employed triangulation, as well as a member check, to test the data’s validity. The results of this study revealed that: (1) The strategy of developing libraries based on social inclusion is to provide relevant collections, provide internet and computer services, involve the community, and conduct advocacy. (2) The form of development includes the field of education, which includes activities such as increasing reading interest, improving learning capacity, and developing potential and skills. (3) The community empowerment activities carried out in its implementation are separated into those coming from the partnership process with the children’s forum and those coming from the library’s personal idea. (4) The Paya Tumpi Baru Village Library faces challenges such as a lack of funding, restricted time for library services, decreased interest of children and young boys in visits and participation in empowerment activities, and limited space and movement. Meanwhile, the efforts made to overcome these obstacles are cooperating, relying on cash, relying on existing goods and equipment, conducting deliberation, providing direction, involving the role of the village head, and carrying out simple activities.
Keywords:
development strategy
· village library
· community empowerment
· social inclusion
Introduction
Perpustakaan dikenal sebagai sebuah lembaga yang menyediakan layanan jasa informasi secara gratis kepada setiap penggunanya. Keberadaan perpustakaan dijadikan sebagai sarana dalam mencerdaskan kehidupan bangsa, hal ini searah dengan fungsi perpustakaan yaitu sebagai tempat pendidikan dan sumber informasi.1 Selain berfungsi sebagai tempat pendidikan dan sumber informasi, Penyelenggaraan perpustakaan kini juga sudah bergerak pada arah upaya pemberdayaan masyarakat. Pemberdayaan masyarakat merupakan sebuah program pemerintah untuk meningkatkan pembangunan sumber daya manusia serta pembangunan potensi suatu daerah. Berdasarkan ketentuan umum pada Undang-Undang No. 43 Tahun 2007 Pasal 2 Tentang Perpustakaan, disebutkan bahwa penyelenggaraan perpustakaan didasarkan pada asas pembelajaran sepanjang hayat. Hal ini sesuai dengan konsep pembelajaran sepanjang hayat yang menyatakan bahwa proses pendidikan dapat dilakukan kapan saja dan di mana saja, tak terkecuali perpustakaan. Perpustakaan sebagai sumber informasi dapat dimanfaatkan masyarakat untuk memperoleh pengetahuan. Di sisi lain, pembelajaran sepanjang hayat juga dapat mengoptimalkan potensi seseorang, meningkatkan kualiatas hidup serta kemampuan intelektual dengan menyelaraskan pendidikan wajib belajar melalui layanan atau kegiatan yang ada di perpustakaan. Sehingga, pembelajaran sepanjang hayat dapat menjadi kunci sukses dalam pengembangan suatu perpustakaan. Untuk melakukan pengembangan perpustakaan, maka diperlukan strategi-strategi khusus dalam pelaksanaanya. Strategi pengembangan merupakan langkah-langkah sistematis yang perlu dilakukan perpustakaan sebagai upaya dalam mengembangkan perpustakaan guna mencapai suatu tujuan.2 Untuk mencapai tujuan tersebut, maka perpustakaan perlu memperhatikan dan menyadari segala perubahan yang terjadi serta menghadirkan pendekatan secara praktis, sehingga dapat dioperasionalkan dengan mudah pada situasi atau kondisi yang berbeda-beda. Hal ini, tidak terkecuali juga berlaku pada proses pengembangan perpustakaan jenis desa. Merujuk pada Keputusan Menteri Dalam Negeri dan Otonomi Daerah No. 3 Tahun 2001, disebutkan bahwa keberadaan perpustakaan desa manjadi penunjang dalam upaya pemberdayaan masyarakat serta menunjang pelaksanaan pendidikan nasional. Perpustakaan desa memiliki dasar hukum formal yang mengatur segala kegiatan yang berorientasi pada layanan publik di tingkat desa atau kelurahan. Pengembangan perpustakaan desa menjadi sangat penting untuk dilakukan. Mengingat hadirnya perpustakaan dapat menjadi media belajar mandiri untuk memperoleh pengetahuan serta informasi secara efektif, sehingga masyarakat desa dapat berubah menjadi masyakarat yang lebih gemar membaca dan melek akan informasi. Maka segala rangkaian kegiatan perlu dilakukan dengan perancanaan yang strategis. Selain itu, faktor pendukung dan penghambat dari setiap komponen-komponen penting yang terlibat, seperti sarana dan prasarana, koleksi, pustakawan, sumber dana serta media promosi perpustakan yang digunakan juga perlu diperhatikan. Perpustakaam desa adalah sebuah perpustakaan yang memberikan layanan informasi untuk memenuhi setiap kebutuhan informasi masyarakat desa tanpa membedakan jenis kelamin, usia, ras, agama, kelas ataupun status sosialnya. Sedangkan inklusi sosial ialah istilah yang merujuk pada layanan pemberian daya kepada individu maupun kelompok masyarakat untuk terlibat dalam kegiatan sosial yang bersifat sebagian atau menyeluruh. 3 Menurut Undang-Undang No. 6 Tahun 2014, disebutkan bahwa inklusi sosial dalam desa meliputi cakupan pemberian kesempatan kepada masyarakat yang putus sekolah dan perempuan untuk berpartisipasi dalam pelaksanaan kegiatan pemerintahan desa, begitu juga dengan masyarakat umum, pemerintah desa juga memberikan kesempatan yang sama untuk turut serta dalam pelaksaanan kegiatan pembangunan desa. Dengan demikian, perpustakaan desa berbasis inklusi sosial dapat dipahami sebagai sebuah layanan perpustakaan yang membantu seseorang maupun kelompok masyarakat dalam meningkatkan keterampilan dan kualitas hidupya.4 Perpustakaan desa berbasis inklusi sosial turut mendorong masyarakat yang tergabung dalam komunitas, anak, pelajar, orang dewasa hingga keluarga untuk memanfaatkan perpustakaan sebagai pusat pembelajaran. Perpustakaan desa di Kabupaten Aceh Tengah saat ini telah tersebar di beberapa wilayah di lingkungan Kabupaten Aceh Tengah. Hasil survey ditemukan bahwa perpustakaan yang sudah mulai bertransformasi pada layanan perpustakaan berbasis inklusi sosial adalah Perpustakaan Desa Tebes Lues, Desa Kung Pegasing, Desa Kelitu, Desa Jagong Jeget, Desa Blang Mancung, Desa Arul Latong, Desa Mongal, Desa Kemili, Desa Kala Kemili dan Desa Paya Tumpi Baru.5 Perpustakaan Desa Paya Tumpi Baru merupakan salah satu perpustakaan desa yang telah bertransformasi pada layanan berbasis inklusi sosial pada tahun 2018 lalu. Perpustakaan ini berdiri dibawah naungan Dinas Perpusatakaan dan Kearsipan Kabupataen Aceh Tengah.6 Bertransformasinya Perpustakaan Desa Paya Tumpi Baru menjadi layanan berbasis inklusi sosial, sejalan dengan gerakan pemerintah untuk menjadikan perpustakaan desa tidak hanya sebagai tempat memperoleh informasi saja, tetapi juga turut andil dalam pembangunan masyarakat desa menjadi lebih sejahtera melalui layanan perpustakaan berbasis inklusi sosial. Perpustakaan Desa Paya Tumpi Baru saat ini menjadi satu-satunya perpustakaan desa yang berhasil mewakili Kabupaten Aceh Tengah di tingkat nasional. Pada tahun 2017 lalu, Perpustakaan Desa Paya Tumpi Baru meraih penghargaan juara pertama pada tingkat nasional dan provinsi sebagai perpustakaan desa/kelurahan terbaik. Dari segi fungsi dan layanan, Perpustakaan Desa Paya Tumpi Baru juga lebih unggul dibandingkan perpustakaan desa berbasis inklusi lainnya. Selain fasilitas perpustakaan yang cukup mendukung, kegiatankegiatan yang melibatkan masyarakat desa di dalamnya juga lebih sering dilakukan. Lain halnya dengan perpustakaan desa berbasis inklusi sosial di wilayah Kabupaten Aceh Tengah lainnya, yang memang masih dalam proses berkembang, sehingga diperlukan pembaharuan, perbaikan serta pembinaan lebih lanjut. Berdirinya Perpustakaan Desa Paya Tumpi Baru dilatarbelakangi oleh keinginan masyarakat setempat untuk menambah wawasan serta mengisi waktu luang dengan melakukan sesuatu hal yang bermanfaat. 7 Keberadaan Perpustakan Desa Paya Tumpi Baru berperan aktif dalam membentuk karakter masyarakat, terutama pada anak-anak serta remaja Desa Paya Tumpi Baru menjadi lebih kritis, edukatif serta mampu besinergi dengan program-program pemerintahan Desa Paya Tumpi Baru, sehingga dapat mewujudkan desa yang maju, kuat serta mandiri. Berdasarkan observasi awal dan hasil wawancara dengan kepala perpustakaan, diperoleh bahwa adanya kendala dalam proses pengembangan perpustakaan berbasis inklusi sosial, yaitu terbatasnya ruang dan gerak perpustakaan pada saat melakukan kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan kegiatan pemberdayaan masyarakat. Namun kendala tersebut mungkin hanya bersifat umum saja, sehingga diperlukan penelitian lebih lanjut lagi. Lebih lanjut survei juga menemukan bahwa kehadiran Perpustakaan Desa Paya Tumpi Baru memiliki peran penting dalam meningkatkan pembangunan sumber daya masyarakatnya, yakni melalui kegiatan-kegiatan yang mengarah pada upaya pemberdayaan yang dilakukan. Selain itu, Perpustakaan Desa Paya Tumpi Baru juga tercatat sebagai perpustakaan desa terbaik tingkat nasional dan provinsi, yang menjadikan Perpustakaan Desa Paya Tumpi Baru lebih berpengalaman dalam bidang pemberdayaan. Sehingga hal ini menjadi alasan untuk melakukan penelitian lebih dalam lagi mengenai strategi dan pengembangan yang dilakukan oleh Perpustakaan Desa Paya Tumpi Baru. Untuk mengetahui strategi dan pengembangan yang dilakukan oleh Perpustakaan Desa Paya Tumpi Baru dalam program pemberdayaan masyarakat lebih lanjut, digunakan metode deskriptif kualitatif, dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara terstruktur dan dokumentasi. Sedangkan untuk pengambilan data, digunakan teknik purposive sampling. Purposive sampling sendiri merupakan teknik pengambilan sampel sumber data dari orang yang dianggap paling tahu tentang topik penelitian yang diteliti.8 Sedangkan kriteria informan yang digunakan dalam penelitian ini adalah informan-informan yang turut terlibat, mengetahui, serta memiliki informasi pokok mengenai strategi pengembangan perpustakaan berbasis inklusi sosial yang dilakukan oleh Perpustakaan Desa Paya Tumpi Baru dalam program pemberdayaan masyarakat desa setempat, yakni Kepala Desa Paya Tumpi Baru, Kepala Perpustakaan Desa Paya Tumpi Baru, Pengelola Perpustakaan Desa Paya Tumpi Baru serta Pemustaka Perpustakaan Desa Paya Tumpi Baru yang terlibat dalam kegiatan pemberdayaan masyakarat yang dilakukan. Untuk menganalisis data, penelitian menggunakan reduksi data, penyajian serta penarikan kesimpulan. Kemudian untuk menguji keabsahan data, menggunakan triangulasi serta melakukan member check. Berangkat dari penjelasan tersebut, maka penelitian mengangkat judul “Strategi dan Pengembangan Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial Dalam Program Pemberdayaan Masyarakat Desa Paya Tumpi Baru Kabupaten Aceh Tengah”
Discussion
1. Strategi Pengembangan Perpustakaan Desa Paya Tumpi Baru dalam Program Pemberdayaan Masyarakat Setiap perpustakaan, umumnya memiliki perencanaan khusus untuk mengembangkan perpustakaan yang ia kelola. Perbedaan cara atau langkah yang ditempuh, biasanya disusun berdasarkan tujuan yang ingin di capai, atau adanya permasalahan yang ingin diselesaikan, sehingga perpustakaan memerlukan strategi-strategi khusus untuk mencapai hal tersebut. Perpustakaan Desa Paya Tumpi Baru merupakan salah satu perpustakaan desa yang bertugas untuk melayani setiap kebutuhan informasi masyarakatnya. Perpustakaan desa adalah sebuah perpustakaan yang diadakan oleh pemerintah desa yang bertugas untuk melakukan pengembangan perpustakaan di tingakat desa, serta memberikan pelayanan perpustakaan kepada masyarakat tanpa membedakan status apapun.9 Mengingat tugas perpustakaan salah satunya adalah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, sebagaimana yang diamanatkan dalam UUD 1945, maka hal yang sama juga berlaku pada Perpustakaan Desa Paya Tumpi Baru yang memiliki tugas untuk mencerdaskan kehidupan masyarakat yang ada disekitarnya. Dalam upaya mewujudkan hal tersebut, Perpustakaan Desa Paya Tumpi Baru melalui pengelolanya, kemudian menyusun strategi pengembangan yang merujuk pada tujuan sebagai berikut. a. Menyediakan Koleksi yang Relevan Menyediakan koleksi yang sesuai adalah cara terbaik pustakawan dalam memahami pemustakanya. Kegiatan ini merupakan kegiatan utama yang dilakukan oleh Perpustakaan Desa Paya Tumpi Baru dalam memenuhi kebutuhan setiap informasi masyarakatnya. Hal ini selaras dengan tujuan penyelenggaraan desa yaitu sebagai penunjang dalam proses pembelajaran atau pendidikan seumur hidup, dengan mengadakan koleksi tepat guna yaitu koleksi yang mendukung keterampilan masyarakat serta mensosialisasikan minat baca.10 Pengadaan koleksi yang dilakukan Perpustakaan Desa Paya Tumpi Baru selalu dilatar belakangi oleh kepentingan pemustaka. Karena setiap koleksi yang disediakan memiliki masingmasing penggunanya. “Salah satu strategi yang kami lakukan itu menyediakan koleksi yang relevan atau sesuai dengan kebutuhan pemustaka dik. Di sini kami berusaha menyediakan koleksi yang emang berdasarkan kondisi lingkungan atau profesi masyarakatnya, apa yang mereka mau, apa yang mereka butuhin untuk ngedukung kegiatannya itu ada di perpustakaan dan paling banyak koleksi kita itu tentang agama sama koleksi terapan kaya bertani, selebihnya buku sastra kaya buku cerita yang bergambar, itu anak-anak paling suka tu, kalau remajanya ada novel”.11 Berdasarkan pengamatan, jumlah koleksi agama yang dimiliki saat ini adalah sebanyak 320 judul dengan 680 eksemplar, sedangkan ilmu terapan memiliki 481 judul dengan 898 eksemplar. Dari segi jumlah, kedua koleksi tersebut terlihat lebih unggul dibandingkan jumlah koleksi lainnya, hal ini terbukti pada daftar inventaris koleksi yang dimiliki oleh Perpustakaan Desa Paya Tumpi Baru.12 Menurut Standar Nasional Indonesia, koleksi yang dimiliki perpustakaan desa adalah koleksi yang memiliki komposisi 60 persen untuk non fiksi dan 40 persen untuk fiksi.13 Jika ditinjau dari segi kebermanfaatan serta dari segi kesesuaian koleksi yang dimiliki dengan keadaan demografis masyarakat desa tersebut, maka dapat disimpulkan, bahwa langkah perpustakaan untuk menyediakan koleksi yang sesuai dengan kebutuhan pemustakanya adalah langkah yang tepat untuk mendukung keadaan dan juga kegiatan masyarakat setempat. b. Melibatkan Masyarakat Perpustakaan Desa Paya Tumpi Baru selalu mengadakan kegiatan yang melibatkan peran masyarakat di dalamnya. Kegiatan-kegiatan yang dilakukan, didukung oleh koleksi dan juga fasilitas perpustakaan seperti komputer, internet, ruang baca dan sebagainya. Bentuk kegiatan pelibatan masyarakat yang diadakan adalah kegiatan-kegiatan yang mengarah pada program pemberdayaan seperti pelatihan, bimbingan belajar, serta kegiatankegiatan lainnya yang dapat meningkatkan kemampuan serta keterampilan hidup masyarakatnya. Berdasarkan pengamatan, pelibatan masyarakat yang dilakukan saat ini hanya melibatkan anak-anak serta remaja Desa Paya Tumpi Baru saja. Pandemi menjadi salah satu faktor mengapa hal tersebut terjadi. Pandemi menyebabkan segala kegiatan pendidikan formal harus terhenti secara tiba-tiba, sehingga proses pendidikan juga menjadi tidak maksimal. Oleh sebab itu, sasaran kegiatan yang dilakukan perpustakaan saat ini hanya berfokus pada kegiatan yang melibatkan anak-anak serta remaja Desa Paya Tumpi Baru saja. “Kenapa kegiatannya melibatkan anak-anak dan remaja, karena memang anak-anak sama remaja lebih intens menggunakan perpustakaan dari pada kelompok lain. Selain itu karena memang pandemi jadi kita berinisiatif untuk buat kegiatan yang mengarah pada pendidikan anak-anak sama remaja saja dulu, supaya kegiatan belajar selama pandemi bisa tetap dilakukan, dengan dibantu dari kegiatan yang di buat oleh perpustakaan”.14 Perpustakaan Desa Paya Tumpi Baru menggandeng masyarakat yang memiliki potensi yang sebelumnya hanya dikuasai oleh sedikit orang (eksklusif), untuk kemudian disebarluaskan kepada lebih banyak orang (inklusif). Sehingga pelibatan masyarakat yang dilakukan tidak hanya bertujuan menjadikan mereka sebagai peserta atau sasaran dalam kegiatan pemberdayaan dalam layanan inklusi sosial, melainkan juga menjadikan mereka sebagai tenaga yang dapat memberikan layanan tersebut pada kegiatan pemberdayaan masayrakat yang dijalankan. c. Menyediakan Layanan Internet dan Komputer Penyediaan layanan internet dan komputer juga menjadi salah satu strategi yang digunakan oleh Perpustakaan Desa Paya Tumpi Baru dalam mengembangkan perpustakaan berbasis inklusi sosial dalam program pemberdayaan masyarakat yang dilakukan. Seperti yang kita ketahui, bahwa internet dapat membantu seseorang untuk memperoleh informasi secara cepat dan dan terkini. Begitu juga dengan layanan komputer yang disediakan. Komputer berasal dari bantuan yang diberikan oleh Perpustakaan Nasional pada tahun 2019 silam. “Fasilitas yang ada di sini, wifi, tv dan tiga komputer dari perpusnas akhir tahun 2019 lalu. Kalau wifi bagi-bagi dari kantor desa kak, kalau ditanya cepat atau engga tergantung kak kadang cepat kadang lelet, tergantung yang pakai kak. Untuk kata sandinya kita kasih kak tapi orang ni baca buku dulu, kayak gitu juga kalau mau pakai komputer, baca buku baru kita kasih”.15 Mengingat peran teknologi informasi juga sangat penting dalam memperoleh informasi, berdasarkan pengamatan, bahwa Perpustakaan Desa Paya Tumpi Baru saat ini memaksimalkan fungsi serta perannya sebagai penyedia informasi secara cepat dan terkini melalui fasilitas internet dan komputer yang disediakan. Namun, penyediaan layanan internet yang disediakan saat ini terlihat belum optimal, dikarenakan internet masih harus berbagi dengan kantor kepala desa. Walaupun demikian dalam mengakses informasi atau lainnya, pemustaka tetap dapat melakukannya, meskipun kecepatan internet yang terkadang tidak menentu. Berdasarkan penjelasan mengenai strategi pengembangan tersebut, jika dibandingkan dengan penelitian oleh Putra dan Rahmah (2015).16 Strategi yang diterapkan pada perpustakaan Nagari hanya melibatkan masyarakat saja dengan mengadakan beberapa kegiatan untuk meningkatkan minat baca masyarakat setempat. Sedangkan Perpustakaan Desa Paya Tumpi Baru memiliki empat strategi yang lebih kompleks yaitu seperti itu menyediakan koleksi yang relevan, melakukan advokasi, melibatkan masyarakat serta menyediakan layanan internet dan juga komputer, dengan tujuan pengembangan yang tidak meliputi bidang pendidikan untuk mengembangkan minat baca saja, namun juga turut meningkatkan kapasitas pembelajaran serta mengembangkan potensi dan juga keterampilan melalui program-program pemberdayaan masyarakat yang dilakukan. Keempat strategi yang diterapkan meski mememiliki kekurangan namun startegi tersebut dinilai cukup efektif dalam pengembangan perpustakaan berbasis inklusi sosial. 2. Bentuk Pengembangan Perpustakaan Desa Paya Tumpi Baru dalam Program Pemberdayaan Masyarakat Pemerintahan Indonesia melakukan terobosan baru pada dunia perpustakaan yakni dengan mengubah layanan perpustakaan perpustakaan desa untuk dapat besinergi dengan jalannya program pemerintahan desa yaitu dengan menerapkan perpustakaan menjadi perpustakaan yang berbasis inklusi sosial. Inklusi sosial adalah hak yang dimiliki semua orang untuk dapat berpartisipasi dan menikmati setiap layanan pendidikan, kesehatan, dan peningkatan ekonomi yang ada.17 Dalam proses perkembangannya, Perpustakaan Desa Paya Tumpi Baru menyusun berbagai strategi yang kemudian tertuang dalam beberapa kegiatan yang dilakukan. Berdasarkan pengamatan, bahwa bentuk pengembangan perpustakaan yang dilakukan oleh Perpustakaan Desa Paya Tumpi Baru, adalah bentuk pengembangan pada bidang pendidikan anak-anak serta remaja Desa Paya Tumpi Baru. Hal ini terlihat dari beberapa kegiatan yang telah dilakukan. Adapun bentuk pengembangan dalam bidang pendidikan yang dilakukan terwujud pada kegiatan program pemberdayaan masyarakat yang sudah dan sedang dilakukan. Dalam menjalankan layanan perpustakaan berbasis inklusi sosial, Perpustakaan Desa Paya Tumpi berperan sebagai mediator yang memfasilitasi masyarakat desa setempat untuk memperoleh pendidikan secara optimal. Sehingga dapat dikatakan bahwa pemberdayaan masyarakat dalam bidang pendidikan yang diadakan oleh Perpustakaan Desa Paya Tumpi bertujuan untuk mendapatkan dan meningkatkan kualitas pendidikan menjadi jauh lebih baik. “Kegiatan-kegiatan yang diadakan saat ini adalah kegiatankegiatan pada bidang pendidikan untuk anak-anak dan juga remaja, begitu juga dengan bentuk pengembangan perpustakaan, sudah pasti bentuk pengembangannya pada bidang pendidikan karena kegiatan pemberdayaan itu mengarah ke sana. Di mana pada bidang pendidikan ini terdapat beberapa kegiatan-kegiatan yang mengarah pada peningkatan kapasitas pembelajaran, mengembangkan minat baca, serta mengembangkan potensi dan keterampilan anak-anak dan juga remaja”.18 Sebagaimana seperti pernyataan kepala desa tersebut, bahwa bentuk pengembangan yang dilakukan perpustakaan dalam bidang pendidikan dapat mengembangkan minat baca, meningkatkan kapasitas pembelajaran serta mengembangkan potensi dan juga keterampilan anak-anak serta remaja Desa Paya Tumpi Baru. Berikut penjelasan mengenai ketiga bentuk pengembangan dalam bidang pendidikan tersebut, yaitu: a. Pengembangan Minat Baca Dalam menumbuhkan minat baca, maka diperlukan dorongan atau motivasi agar minat baca tersebut dapat tercipta. Perpustakaan Desa Paya Tumpi Baru melakukan sejumlah kegiatan yang bertujuan untuk menciptakan budaya literasi, yaitu kegiatan-kegiatan yang menuju pada arah gerakan literasi kepada anak-anak serta remaja Desa Paya Tumpi Baru yang dimulai sejak dini. Adapun kegiatan tersebut didukung dengan menyediakan koleksi atau buku yang menarik, yaitu koleksi-koleksi yang tidak hanya berfungsi sebagai penambah pengetahuan saja, tetapi juga berfungsi sebagai media hiburan. Perpustakaan Desa Paya Tumpi Baru meciptakan lingkungan yang nyaman yang bisa mendukung kegiatan-kegiatan yang ada dengan memberikan fasilitas ruang baca perpustakaan yang dapat menciftakan suasana membaca yang menyenangkan. b. Peningkatan Kapasitas Pembelajaran Peningkatan kapasitas pembelajaran yang dilakukan oleh Perpustakaan Desa Paya Tumpi Baru adalah rangkaian kegiatan pembelajaran yang diperuntukkan kepada anak-anak serta remaja Desa Paya Tumpi Baru. Kegiatan tersebut mencakup kegiatan bimbingan belajar yang dilakukan sebagai bentuk upaya dalam meningkatkan kemampuan belajar mereka mengenai sesuatu di luar pendidikan formal. Pada dasarnya Perpustakaan Desa Paya Tumpi Baru menciptakan kegiatan ini adalah untuk mendukung serta memaksimalkan proses pembelajaran formal yang kurang efektif akibat pandemi yang terjadi selama dua tahun terakhir. Selain itu peningkatan kapasitas pembelajaran juga dilakukan pada bidang teknologi informasi. Kegiatan yang mencakup pada bidang tersebut dilakukan untuk membantu serta mendukung anak-anak serta remaja Desa Paya Tumpi Baru dalam memperoleh ilmu pengetahuan lebih mengenai pembelajaran teknologi informasi (komputer) dan pembelajaran lainnya (les bahasa) yang didapatkan dari pendidikan non formal yang diadakan oleh Perpustakaan Desa Paya Tumpi Baru. c. Pengembangan Potensi dan Keterampilan Kegiatan-kegiatan yang mencakup pada pengembangan potensi serta keterampilan anak-anak dan juga remaja Desa Paya Tumpi Baru dilakukan untuk membantu dan membina mereka dalam mengembangkan bakat, minat serta potensi yang dimiliki. Kegiatan-kegiatan tersebut adalah kegiatan yang berupa pelatihan keterampilan, serta pengembangan bakat yang meliputi kegiatan latihan kerajinan tangan, penggunaan komputer, menari, mewarnai, bercerita dan pelatihan/les Bahasa Inggris. Selain itu, kegiatan yang dilakukan juga berupa pemberian penyuluhan yaitu saran atau tipstips terkait hal-hal yang dapat menggali potensi yang dimiliki oleh anak-anak serta remaja Desa Paya Tumpi Baru. Kegiatan-kegiatan yang dilakukan Perpustakaan Desa Paya Tumpi Baru tersebut, menjadi bentuk pengembangan yang direalisasikan dalam program pemberdayaan masyarakat yang dijalankannya. Bentuk pengembangan dalam bidang pendidikan dilaksanakan dengan berfokus pada kegiatan yang mengarah pada upaya pengembangan minat baca, peningkatan kapasitas pembelajaran serta pengembangan potensi dan juga keterampilan anak-anak serta remaja yang ada pada desa tersebut. Jika menelaah secara umum dari penelitian-penelitian yang sudah ada, layanan inklusi sosial pada pengembangan perpustakaan desa tidak hanya berfokus pada bentuk pengembangan pada bidang pendidikan saja. Namun juga merangkum pada bidang kesehatan serta peningkatan ekonomi masyarakat seperti pelatihan kewirausahaan. Tetapi Perpustakaan Desa Paya Tumpi Baru dalam hal ini hanya memfokuskan pada bidang pendidikan saja yang menjadikan anak-anak serta remaja Desa Paya Tumpi Baru sebagai sasaran pada program pemberdayaan masyarakat sebagai bentuk layanan dalam pengembangan perpustakaan berbasis inklusi sosial, hal ini dilakukan untuk memberikan pendidikan optimal kepada anak-anak dan remaja sebagai akibat pandemi yang sedang berlangsung. Sehingga penerapan layanan inklusi sosial pada bidang kesehatan maupun kesejateraan masyarakat tidak dapat dilakukan karena akan berdampak pada upaya pencegahan dalam mengurangi adanya kerumunan dalam situasi pandemi 3. Bentuk Program Pemberdayaan Masyarakat Desa Paya Tumpi Baru Dalam Mengembangkan Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial Program pemberdayaan masyarakat adalah sebuah program yang diadakan di lingkungan pemerintahan desa Paya Tumpi Baru, di mana program ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan serta pengetahuan masyarakat desa setempat, yaitu dengan memanfaatkan perpustakaan sebagai salah satu sumber dayanya. Program ini berisi beberapa kegiatan-kegiatan yang bermanfaat untuk perkembangan masyarakat, desa, maupun perpustakaan Desa Paya Tumpi Baru itu sendiri. Berdasarkan pengamatan, terdapat beberapa kegiatan yang sudah dilaksanakan perpustakaan sebagai upaya dalam pengembangan perpustakaan. Adapun kegiatan yang telah dilakukan di antaranya adalah kegiatan-kegiatan yang berasal dari proses kerja sama antara perpustakaan dengan Forum Anak Desa Paya Tumpi Baru dan kegiatan-kegiatan yang berasal dari gagasan perpustakaan secara mandiri. Berikut adalah kegiatan yang telah dilaksanakan dalam program pemberdayaan masyarakat sebagai wujud dalam pengembangan perpustakaan desa berbasis inklusi sosial: a. Program Perpustakaan Mandiri Di bawah ini merupakan kegiatan-kegiatan yang dilakukan secara mandiri oleh Perpustakaan Desa Paya Tumpi Baru. Kegiatankegiatan ini dilakukan sebagai bentuk usaha Perpustakaan Desa Paya Tumpi Baru dalam mewujudkan tujuan perpustakaan melalui kegiatan pengembangan perpustakaan dalam pemberdayaan yang dilakukan pada bidang pendidikan. 1)Program latihan kerajinan tangan Kegiatan ini merupakan kegiatan rutin yang telah dilakukan perpustakaan. Beberapa kegiatan kerajinan tangan sudah dilakukan, yakni di antaranya kegiatan membuat hiasan dari kertas origami, membuat bros juntai, konektor masker, gantungan kunci, bouquet bunga dari tisue, serta membuat desain atau pola baju. Program pemberdayaan yang dilakukan terwujud pada pelaksanaan kerajinan tangan yang sudah terlaksana. Meskipun kegiatan ini terlihat belum bervariasi, namun kerajinan tangan masuk dalam list kegiatan rutin yang sering diadakan oleh Perpustakaan Desa Paya Tumpi Baru disetiap tahunnya. Gambar 1. Membuat Berbagai Jenis Kerajinan Tangan Perpustakaan Desa Paya Tumpi Baru pada kegiatan ini, tidak hanya bertindak sebagai fasilitator, yang hanya menyediakan tempat atau fasilitas saja. Namun juga turut berperan sebagai pembina yang bertugas serta bertanggung jawab untuk memberikan arahan dan juga bimbingan dalam melaksanakan kegiatan tersebut. Pustakawan terlihat cukup terampil serta berpengalaman. Katerlibatan pengelola perpustakaan sebagai tutor dan karya-karya yang sudah dihasilkan selama ini, menjadi bukti yang cukup memperlihatkan bahwa pengelola Perpustakaan Desa Paya Tumpi Baru tidak hanya berupaya untuk meningkatan kualitas layanan perpustakaan secara umum saja, namun juga berusaha untuk meningkatan kualitas kompetensi yang dimilikinya, sehingga pelayanan yang diberikan dapat dilakukan secara prima, yang mana hal ini dapat berdampak pada pengembangan perpustakaan yang ia kelola. 2)Program wisata literasi Kegiatan wisata literasi berisi kegiatan berwisata sambil membaca buku. Koleksi yang dibawa adalah koleksi yang bersifat ringan, seperti buku cerita, buku bergambar dan sebagainya. Selama kegiatan wisata literasi dilakukan, Perpustakaan Desa Paya Tumpi Baru, sejauh ini masih mengandalkan gunung di sekitar wilayah Desa Paya Tumpi Baru saja. Mengingat karena desa tersebut memang dikelilingi oleh banyak gunung, yang dapat dimanfaatkan perpustakaan untuk melakukan kegiatan ini. Selain hemat biaya, keamanan anak-anak serta remaja juga ternyata menjadi pertimbangan mengapa wisata literasi selama ini hanya dilakukan di gunung sekitar Desa Paya Tumpi Baru saja. Selain membaca, kegiatan ini juga diselingi dengan bermain dan membersihkan sampah di sekitar gunung. Kegiatan wisata literasi yang dilakukan oleh Perpustakaan Desa Paya Tumpi Baru bertujuan untuk menciptakan pengalaman yang seru melalui kegiatan berwisata sambil belajar. Membaca di alam terbuka, menjadi pilihan Perpustakaan Desa Paya Tumpi untuk menumbuhkan minat baca pemustakanya, karena tingginya budaya literasi yang tercipta dapat meningkatkan kualitas hidup seseorang menjadi lebih sejahtera. 3)Program latihan bercerita Kegiatan bercerita atau story telling merupakan sebuah kegiatan literasi yang dilakukan Perpustakaan Desa Paya Tumpi Baru ketika sehabis membaca buku secara bersama-sama di perpustakaan. Pengelola perpustakaan biasanya memberikan kesempatan kepada anak-anak atau remaja yang ingin menceritakan kembali buku yang ia baca. Kegiatan ini bertujuan untuk melatih anak-anak serta remaja memahami isi cerita, melatih kepercayaan diri serta mengasah kemampuan mereka dalam berbicara. Gambar 2. Program Latihan Bercerita di Perpustakaan Kegiatan ini dinilai cukup efektif dalam menumbuhkan sikap percaya diri dan melatih kelancaran berbicara pada anakanak serta remaja. Ada banyak manfaat yang dapat diambil dari pelaksanaan kegiatan ini. Selain manfaat tersebut, mereka juga dapat mengetahui kosakata baru yang belum pernah mereka ketahui. Penggunaan mikrofon pada saat bercerita juga menambah daya tarik anak-anak serta remaja yang terlibat, sehingga kegiatan tersebut terasa lebih mengasyikkan. 4)Program bimbingan pemustaka Bimbingan pemustaka dilakukan karena terdapat beberapa pemustaka yang belum mengerti atau memahami mengenai cara memanfaatkan fasilitas dan juga layanan pada perpustakaan. Kepahaman pemustaka terhadap layanan dan fasilitas perpustakaan menjadi kunci sukses dari pemanfaatkan koleksi dan juga saranaprasarana yang disediakan. Sehingga dengan kepemahaman yang didapatkan, mereka dapat memperoleh informasi atau pengetahuan secara efektif dan lebih efesien. Bimbingan pemustaka melibatkan pengelola perpustakaan, anak-anak serta remaja desa setempat. Seperti kepala perpustakaan yang bertindak sebagai tutor atau pemberi materi, sedangkan pengelola perpustakaan bidang pelayanan bertindak sebagai asisten tutor, yaitu bertugas untuk membantu pemustaka yang mengalami kesulitan selama kegiatan bimbingan pemustaka berlangsung. 5)Program promosi perpustakaan Perpustakaan Desa Paya Tumpi Baru, sejauh ini sudah tercatat beberapa kali melakukan promosi perpustakaan. Promosi menjadi satu bagian penting yang harus dilakukan jika ingin mengembangkan sebuah perpustakaan. Berikut ini, beberapa kegiatan promosi yang sudah dilakukan oleh Perpustakaan Desa Paya Tumpi Baru, di antaranya yaitu: a) Penggunaan media sosial, Perpustakaan Desa Paya Tumpi Baru kerap membagikan momen-momen penting pada media sosial mereka. Kegiatan promosi yang dilakukan tidak hanya bertujuan untuk memperkenal Desa Paya Tumpi Baru saja, tetapi juga turut memperkenalkan kegiatan-kegiatan yang di adakan oleh Desa Paya Tumpi Baru. Instagram mereka saat ini (Maret 2022), tercatat memiliki 131 pengikut dengan 152 kiriman. Postingan pertama dilakukan pertama kali pada bulan Juni 2020. Lebih lanjut meskipun kiriman terlihat sedikit jika dibandingkan dari tahun pembuatan akun tersebut, namun mereka dapat dikatakan cukup aktif, dikarenakan setiap kegiatan baru dilakukan, mereka selalu membagikan hal tersebut di laman instagram milik mereka. b)Joging pagi dan bermain badminton, kegiatan ini berisi kegiatan joging santai dan bermain badminton secara bersama-sama. Joging dilakukan setiap hari Minggu pagi. Sedangkan bermain badminton tidak menentu. Rute yang ditempuh ketika joging hanya dilakukan di sekitar Desa Paya Tumpi Baru saja. Gambar 3. Program Joging dan Bermain Badminton Bersama Begitu juga dengan bermain badminton, perpustakaan memanfaatkan lapangan yang berada di dekat mereka untuk melakukan kegiatan tersebut. Setelah rutinitas joging, atau bermain badminton, biasanya pihak perpustakaan dan anakanak serta remaja desa tersebut akan menyatap bekal secara bersama-sama. Meskipun Perpustakaan Desa Paya Tumpi Baru, tidak menghubungkan sesuatu dengan hal yang berbau buku pada kegiatan ini, namun setelah diamati ternyata kegiatan ini cukup efektif untuk menarik perhatian anak-anak dan remaja desa tersebut, hal ini terbukti dengan kontribusi mereka yang tetap berantusias setiap kali kegiatan tersebut diadakan. Secara tidak langsung, kegiatan ini dibuat untuk memberitahukan bahwa Perpustakaan Desa Paya Tumpi Baru juga memiliki kegiatankegiatan seru yang perlu pemustaka ketahui dan ikuti. c) Pemberian reward, yakni merupakan kegiatan pemberian penghargaan kepada anak-anak dan remaja Desa Paya Tumpi Baru, sebagai bentuk apresiasi kepada pemustaka yang banyak meminjam buku atau sering mengunjungi perpustakaan. Tujuan kegiatan ini, tidak lain adalah untuk memotivasi anak-anak serta remaja Desa Paya Tumpi Baru lainnya agar sering berkunjung ke perpustakaan dan memanfaatkan perpustakaan. Gambar 4. Program Pembagian Cenderamata Tahun 2020-2021 Kegiatan ini dilakukan tidak hanya memberikan dampak pada perpustakaan saja, tetapi juga berdampak pada pemanfaatan koleksi yang terus meningkat serta peningkatan jumlah kunjungan perpustakaan. Sedangkan manfaat yang didapatkan oleh anak-anakserta remaja Desa Paya Tumpi Baru adalah dapat meningkatkan pengetahuan atau wawasan dari buku yang mereka baca. Sayangnya, dalam tahapan pemberdayaan yang dilakukan pada keseluruhan pelaksanaan kegiatan yang sudah dilaksanakan tersebut sebagian besarnya tidak memiliki perencanaan yang cukup matang. Sebagian besar kegiatan yang ada, tidak dilakukan secara konsisten. Kegiatan-kegiatan tersebut umumnya hanya terlihat dilakukan beberapa kali saja tanpa adanya jadwal yang tertulis. Begitu juga dengan pengelola perpustakaan yang hanya mengandalkan dua orang saja, yaitu kepala perpustakaan dan pengelola perpustakan pada bidang pelayanan. Sedangkan pustakawan pada bidang pengolahan, tidak terlibat aktif dalam kegiatan-kegiatan yang ada, melainkan hanya hanya berkontribusi pada hal-hal yang berkaitan dengan pengolahan pada perpustakaan saja, seperti menyampul buku dan sebagainya. Sehingga kegiatan-kegiatan dalam pemberdayaan masyarakat yang dilakukan tidak cukup maksimal dalam pelaksanaannya. b. Program Kerja Sama Perpustakaan Desa Paya Tumpi Baru dengan Forum Anak Desa Paya Tumpi Baru Bentuk kerja sama antara Perpustakaan dan Forum Anak Desa Paya Tumpi Baru adalah sebagai mitra dalam menjalankan segala rangkaian kegiatan yang ada. Perpustakaan dan forum anak memiliki arah pandang dan tujuan yang sama, yakni untuk meningkatkan kualitas hidup dari segi pendidikan khususnya pada anak-anak serta remaja Desa Paya Tumpi Baru. Untuk mewujudkan hal tersebut, maka Perpustakaan dan Forum Anak Desa Paya Tumpi Baru mengadakan kegiatan pemberdayaan yang kemudian tertuang dalam kegiatan-kegiatan sebagai berikut: 1)Program les komputer Pada kegiatan ini, perpustakaan dan forum anak =t menghadirkan tutor atau guru selama kegiatan les berlangsung. Tutor tersebut berasal dari tokoh masyarakat setempat. Perpustakaan dan forum anak melakukan kerja sama dengan pemuda-pemudi yang dianggap bisa untuk melatih anak-anak serta remaja Desa Paya Tumpi Baru untuk belajar komputer Gambar 5. Program Les Komputer Anak-Anak Dan Remaja Dalam pelaksanaannya, kegiatan les komputer memberikan dampak pada peningkatan kemampuan anak-anak serta remaja desa Paya Tumpi Baru dalam menggunakan komputer. Mengingat komputer saat ini juga menjadi satu bagian penting dalam dunia pendidikan. Melalui komputer ada banyak manfaat yang berguna untuk membantu anak-anak dan remaja untuk memperoleh informasi, menyelesaikan tugas sekolah dan sebagainya. 2)Program les Bahasa Inggris Les Bahasa Inggris melibatkan anak-anak serta remaja Desa Paya Tumpi Baru yang juga menjadi sasaran kegiatan ini. Selain anakanak dan remaja setempat, kegiatan ini juga mengambil peran REC (Regards English Center) yaitu sebuah lembaga yang menyediakan tenaga pengajar khusus Bahasa Inggris. Dari keseluruhan kegiatan yang diselenggarakan oleh Perpustakaan Desa Paya Tumpi Baru dan forum anak, les Bahasa Inggris menjadi satu-satunya kegiatan yang paling rutin dan berlanjut hingga sampai bulan Maret 2022. Namun pada bulan April tepatnya pada hari Senin, 4 April 2022 kegiatan ini harus terhenti, dikarenakan kontrak yang telah berakhir. Gambar 6. Program Les Bahasa Inggris Secara teori kegiatan ini sama dengan penyelenggaraan les pada umumnya. Anak-anak dan remaja Desa Paya Tumpi Baru diajar untuk bisa berbicara Bahasa Inggris, mengetahui konsep grammer serta bisa mengenal kosa kata Bahasa Inggris untuk benda-benda yang ada di sekitarnya. Selain ditujukan untuk bisa memahami hal tersebut, remaja-remaja Desa Paya Tumpi Baru juga dipersiapkan untuk dapat menerapkan kembali ilmu-ilmu yang didapatkan selama ini kepada generasi berikutnya. Berdasarkan pengamatan, dari kegiatan yang telah ada merupakan satu-satunya kegiatan yang paling rutin dilakukan serta terarah dalam pelaksanaannya. Namun tidak untuk peminatnya, kegiatan ini justru menjadi satu-satunya kegiatan yang memiliki peminat paling sedikit. 3)Program penyuluhan anak Penyuluhan anak merupakan kegiatan sosialisasi yang diselenggarakan oleh forum anak dan perpustakaan. Adapun penyuluhan yang pernah dilakukan yaitu penyuluhan mengenai pernikahan dini dan pengaruh gadget bagi kehidupan. Dalam penyelenggaraannya, kegiatan ini juga turut bekerja sama dengan forum anak tingkat kabupaten. 4)Program mengundang tokoh inspiratif Menghadirkan tokoh inspiratif, merupakan salah satu kegiatan menarik yang disuguhi oleh perpustakaan dan forum anak. Adapun tokoh yang pernah diundang oleh forum anak dan perpustakaan adalah youtuber lokal. Melihat sepak terjang youtube yang saat ini sedang menjadi tren dikalangan anak muda, menjadi sebab mengapa forum anak dan perpustakaan dibawah arahan kepala desa, berinisiatif untuk mengundang youtuber tersebut. Gambar 7. Mengundang Tokoh Inspiratif Kegiatan ini merupakan kegiatan yang sangat menarik dan cukup berpotensi pada pengembangan perpustakaan. Apabila kegiatan mengundang tokoh-tokoh insipiratif rutin dilakukan, maka tidak hanya perpustakaan saja yang mendapatkan imbasnya, tetapi anak-anak serta remaja yang terlibat juga dapat memperoleh pengetahuan secara langsung mengenai sesuatu dari orang yang memang ahli pada bidang yang digelutinya, sehingga menjadi efektif dalam proses perolehan pengetahuan atau informasi yang diberikan. 5)Program latihan menari tradisional Selain kegiatan yang bersifat untuk meningkatkan pengetahuan, forum anak dan perpustakaan juga bekerja sama membuat kegiatan yang bersifat mengasah keterampilan anakanak serta remaja Desa Paya Tumpi Baru dalam bidang seni tari tradisional. Penyelenggaraan kegiatan ini diharapkan dap at mengasah bakat menari yang mereka miliki. Gambar 8. Program Latihan Menari Tradisional Teknis pelaksanaan yang dilakukan pada kegiatan ini adalah mengandalkan kemampuan dari masing-masing anggota grup itu sendiri. Latihan diadakan secara otodidak dan mengajarkannya kembali kepada peserta lain, apabila yang bersangkutan sudah menguasainya. Namun hal tersebut berlaku untuk latihan rutin saja. Sedangkan latihan yang dipersiapkan untuk mengisi suatu acara, maka proses latihan akan menggunakan jasa ketiga, yaitu pelatih profesional dari luar desa. 6)Program latihan mewarnai Mewarnai adalah kegiatan yang di dalamnya berisi kegiatan latihan mewarnai. Kegiatan ini merupakan satu-satunya kegiatan yang berfokus pada anak-anak saja sebagai sasarannya. Hal tersebut dikarenakan jenis atau sifat kegiatan yang lebih dominan kepada anak-anak. Adapun tujuan diselenggarakannya kegiatan ini yaitu untuk menambah kegiatan anak-anak di waktu luang, selain itu juga untuk meningkatkan kesabaran, melatih kemampuan motorik dan sebagainya. Setiap ada latihan mewarnai, perpustakaan dan forum anak biasanya akan memberikan tema pada setiap kegiatan tersebut, sehingga anak-anak akan memahami mengenai jenis gambar dan jenis warna yang harus disesuaikan. Hingga sejauh ini, latihan mewarnai baru dilaksanakan empat kali. 7)Program lomba melukis dan mewarnai Program Lomba mewarnai dan melukis menjadi ajang pembuktian bagi anak-anak serta remaja Desa Paya Tumpi Baru dalam menunjukkan kemampuan mereka. Pada penyelenggaran lomba ini, mereka dapat membuktikan keterampilan mereka dalam bidang mewarnai dan melukis, sebagaimana yang telah mereka praktekkan pada kegiatan latihan mewarnai sebelumnya. Gambar 9. Program Lomba Melukis Kegiatan lomba mewarnai dan melukis dilakukan dengan melibatkan kepala desa sebagai penanggung jawab, sedangkan dewan juri yang diambil berasal dari aparatur desa dan juga forum anak. Sedangkan perpustakaan bertindak sebagai fasilitator dan juga pembimbing sekaligus pembina pada kegiatan tersebut. Berdasarkan pengamatan, kegiatan lomba mewarnai dan melukis dilakukan pertama dan terakhir kali pada tahun 2020 lalu. Keseluruhan kegiatan yang melibatkan kerja sama antara perpustakaan dan forum anak tersebut, terlihat memfokuskan anak-anak serta remaja Desa Paya Tumpi Baru sebagai sasaran utamanya. Lebih dalam bahwa peran Perpustakaan Desa Paya Tumpi Baru adalah sebagai fasilitator yang menyediakan segala kebutuhan untuk mendukung kegiatan-kegiatan tersebut seperti koleksi yang relevan, wadah kegiatan perlombaan atau tempat untuk latihan serta penyediaan fasilitas internet dan juga komputer. Tidak hanya itu perpustakaan melalui pengelolanya juga berperan sebagai pembina yang turut terjun langsung dalam melatih potensi yang dimiliki pemustakanya. Forum anak pada pelaksanaan kegiatan pemberdayaan juga terlihat berperan sebagai peserta. Namun pada kesempatan lain juga betindak sebagai panitia pada kegiatan-kegiatan yang dilakukan. Terkait dengan pernyataan tersebut bahwa dari kegiatan pemberdayaan yang dilakukan, perpustakaan juga memberdayakan masyarakat sekitar untuk dijadikan mitra dalam menjalankan beberapa kegiatan tersebut. Tentu selain didukung oleh koleksi perpustakaan yang tepat guna, perpustakaan juga memerlukan bantuan tenaga dari orang-orang yang dianggap mumpuni dalam bidang-bidang tertentu. Berbicara mengenai teknis pelaksanaan kegiatan pemberdayaan tersebut bahwa kegiatan-kegiatan tersebut juga tidak memiliki perencanaan yang cukup matang, sama halnya dengan kegiatan-kegaiatan yang ada pada program perpustakaan secara mandiri sebelumnya. Kegiataan pemberdayaan dari hasil kerja sama ini sebagian besar tidak memiliki jadwal yang tertulis, sehingga dalam pelaksanaanya kegiatan tersebut terkesan tidak konsisten.
Conclusion
Kesimpulan yang dapat ditarik pada penelitian ini bahwa, strategi pengembangan yang dilakukan Perpustakaan Desa Paya Tumpi Baru dalam Program Pemberdayaan Masyarakat, yaitu menyediakan koleksi yang relevan, menyediakan layanan internet dan komputer, melibatkan masyarakat, melakukan advokasi dengan menjalin kerja sama dengan beberapa pihak terkait, seperti Pemerintahan Desa Paya Tumpi Baru, Forum Anak Desa Paya Tumpi Baru serta Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Aceh Tengah. Sedangkan bentuk pengembangan perpustakaan berbasis inklusi sosial dalam program pemberdayaan masyaraka Desa Paya Tumpi Baru adalah bentuk pengembangan pada bidang pendidikan. Kegiatan pada bidang pendidikan sendiri meliputi kegiatankegiatan untuk pengembangan minat baca, peningkatan kapasitas pembelajaran serta pengembangan potensi dan juga keterampilan anak-anak serta remaja Desa Paya Tumpi Baru Kabupaten Aceh tengah. Bentuk program pemberdayaan masyarakat Perpustakaan Desa Paya Tumpi Baru dalam mengembangkan perpustakaan berbasis inklusi sosial pada pelaksanaanya terbagi atas dua bagian, yaitu kegiatan yang berasal dari proses kerja sama antara perpustakaan dengan Forum Anak Desa Paya Tumpi Baru, seperti kegiatan les Bahasa Inggris, les komputer, penyuluhan, mengundang tokoh inspiratif, latihan menari tradisional, latihan mewarnai, serta program untuk perlombaan melukis dan mewarnai. Selanjutnya adalah kegiatan yang berasal dari gagasan perpustakaan secara mandiri, yaitu meliputi program latihan kerajinan tangan, wisata literasi, bimbingan pemustaka, latihan bercerita dan program promosi perpustakaan dengan memanfaatkan media sosial instagram, pemberian reward, serta mengajak anak-anak serta remaja setempat joging dan bemain badminton bersama.