Kembali
16
1
2009 Pustakaloka : Jurnal Kajian Informasi dan Perpustakaan Vol 1 · 1 ISSN 2502-4108

MEWUJUDKAN PEMBELAJARAN BERBASIS PERPUSTAKAAN DIPERGURUAN TINGGI

N/A

Abstract

Library is a source of knowledge or an information centre. Its function is to collect, manage and distribute information needed by all the academic community, especially university students who really require the library to obtain the sources of information and also to complete or increase their knowledge that has been acquired from their lecturers. Moreover, it can add the source books and give answers or data about various problems and matters. In addition, it also offers skills and provides enjoyment through entertaining books. Unfortunately, at present time we often see many libraries at several universities which are only functioned as a complement or embellishment, not as a vital instrument that is necessary for education and research activities at university. There is no effort which is made by the leaders or the lecturers to integrate or combine library and learning activities in classroom. Therefore, it is extremely important to conduct library based learning.
Keywords: Pembelajaran · Perpustakaan · Perguruan Tinggi

Introduction

Sejak satu dasa warsa yang lalu bangsa Indonesia telah meningkatkan upaya pengembangan perpustakaan yang antara lain ditandai dengan berdirinya perpustakaan nasional pada tahun 1980 dan makin berkembangnya perpustakaan di lingkungan perguruan tinggi, sekolah-sekolah, pondok pesantren, kantorkantor pemerintah, pusat-pusat studi penelitian, bahkan di masjidmasjid dan rumah-rumah ibadah lainnya, baik di pusat maupun di daerah di seluruh pelosok tan:h air, seiring dengan meningkatnya kesadaran berbagai pihak akan pentingnya perpustakaan. Bahkan di lingkup perguruan tinggi sering didengar ungkapan yang menyebut perpustakaan adalah jantungnya perguruan tinggi. Perpustakaan Perguruan Tinggi memiliki peranan yang sangat penting dalam kehidupan Perguruan Tinggi. Perpustakaan disebut dan dianggap sebagai jantung setiap Perguruan Tinggi, karena keberadaannya merupakan unit penentu keberhasilan pendidikan dan dapat dipakai sebagai ukuran untuk menilai mutu akademik suatu perguruan tin;gi. Perpustakaan juga sebagai sumber atau pusat informasi yang berfungsi mengumpulkan, mengolah dan mendistribusikan informasi yang dibutuhkan oleh seluruh civitas akademika kampus khususnya mahasiswa dimana sejak awal hingga akhir masa perkuliahan, ia sangat membutuhkan unit perpustakaan untuk mendapatkan sumber-sumber informasi sebagai penunjang, pelengkap atau penambah ilmu pengetahuan yang diterima dari dosen, bahkan bahan pustaka juga memberikan jawaban atau keterangan atas berbagai hal atau persoalan, menambah atau mengajarkan ketrampilan serta memberikan hiburan melalui bacaan-bacaan ringan. Pada masa krisis seperti sckarang ini dimana segala aspek kehidupan menuntut penghematan, sedangkan harga buku-buku referensi terus semakin tinggi, 1naka sudah pasti sebagian besar mahasiswa sangat mengandalkan potensi dan peranan perpustakaan. Sayangnya masih juga dijumpai kehidupan perpustakaaan perguruan tinggi yang terkesar: hidup seadanya, karena masih terbatasnya perhatian sivitas ak: demika terhadap perpustakaannya, termasuk di dalamnya pust:kawan perguruan tinggi sendiri. Keterbatasan perhatian ini mungkin salah satu penyebabnya adalah masih adanya perbedaan persepsi tentang perpustakaan di antara pustakawan, dosen, dan pimpinan pengelola perguruan tinggi Banyak kita jumpai perpustakaan di beberapa perguruan tinggi masih dianggap hanya sebagai pelengkap atau etalase, bukan merupakan bagian penting yang amat dibutuhkan oleh kegiatan pendidikan dan penelitian di perguruan tinggi yang bersangkutan. Bukti lainnya, kita lihat tidak ada usaha dari pimpinan dan dosen untuk mengintegrasikan atau mengaitkan kegiatan perpustakaan dengan kegiatan perkuliahan di kelas. Masing-masing berjalan sendiri-sendiri menurut garis edar masingmasing, Halini dimungkinkan karena belum ada atau tidak adanya komunikasi di antara mereka. Komunikasi yang dimaksud di sini lebih diartikan komunikasi kedinasan yang diharapkan dapat menghasilkan interaksi positif antara unit kerja di perguruan tinggi. Apabila masing-masing elemen perguruan tinggi satu sama lain terkait termasuk perpustakaan dengan kegiatan perkuliahan (dosen dan mahasiswa), maka fungsi perpustakaan sebagai salah satu penentu keberhasilan pendidikan dalam sebuah perguruan tinggi akan terwujud. Maka di sinilah pentingnya mewujudkan Pembelajaran Berbasis Perpustakaan. . Perpustakaan di lingkungan Perguruan Tinggi pada hakekatnya adalah suatu unitkerja yang merupakan bagianintegral di suatu lembaga perguruan tinggi induknya. Unit perpustakaan bersama-sama dengan unit kerja lainnya, namun dengan peranan yang berbeda-beda bertugas untuk membantu Perguruan Tinggi yang bersangkutan dalam melaksanakan Tri Dharma, yaitu kegiatan pendidikan, penelitian dan pengabdian pada masyarakat. Penyelenggaraan perpustakaan di lingkungan Perguruan Tinggi bertujuan untuk mendukung, memperlancar dan mempertinggi kualitas pelaksanaan program kegiatan Perguruan Tinggi melalui pelayanan informasi yang meliputi lima aspek, yaitu pengumpulan informasi, pelestarian informasi, pengolahan informasi, pemanfaatan informasi dan penyebaran informasi.? Penyelenggaraan perpustakaan di lingkungan perguruan tinggi bertujuan untuk mendukung, memperlancar dan mempertinggi kualitas pelaksanaan program kegiatan perguruan tinggi melalui pelayanan informasi yang meliputi lima aspek, yaitu pengumpulan informasi, pel starian informasi, pengolahan informasi, pemanfaatan informasi dan penyebaran informasi.? Peranan perpustakaan Pcrguruan Tinggi menurut Gelfand adalah: “ The Role of the library ccn be defined within the frame work of the university’s mission and a ibrary development programme can be undertaken accordingly * Peran perpustakaan perguruan tinggi dapat dibatasi oleh misi tersebut, program perpustakaan yang dimaksud adalah kegiatan perpustakaan universitas tersebut, kalau kita membicarakan masalah ini, kita harus melihat kepada tiga kelompok manusia yang berhubungan dengan keg atan perpustakaan, yaitu : 1. 2. 3. Pemakai perpustakaan; riahasiswa, dosen dan pegawai perguruantinggi Pengelola perpustakaan, pustakawan dan pegawai perpustakaan Mereka yang membiayai ztau menentukan hidup matinya perpustakaan, yaitu pimpir an perguruan tinggi Sejalan dengan tri dharma perguruan tinggi, maka peran dan fungsi perpustakaan perguruan tinggi, yaitu: Pertama, sebagai pendukung keberhasilan pendidikan. Perpustakaan mengusahakan te:sedianya fasilitas untuk keperluan belajar dan mengajar di perguruan tinggi, tersedianya bahan pustaka untuk keperluan penelitian para dosen, mahasiswa serta pimpinan perguruan tinggi. Hal ini menurut J. Thompson merupakan fungsi utama peroustakaan yaitu sebagai sumber informasi atau sumber ilmu pengetahuan yang dapat digunakan sebagai penunjang, pelengkap, - tau penambah ilmu pengetahuan yang diterima di ruang kuliah.* Kedua, perpustakaan menjadi penghubung antara bahan pustaka yang berupa informasi dengan para pemakai jasa perpustakaan, memberitahu para pemakai jasa perpustakaan akan tersedianya informasi kegiatan “bagaimana menggunakan perpustakaan. Banyak di antara anggota civitas akademika yang tidak mengetahui bahwa bahan pustaka yang mereka perlukan sebenarnya terdapat di perpustakaan. Maka jangan segan-segan untuk memberitahukan hal ini secara terprogram maupun insidentil. Jangan menganggap bahwa mereka sudah dewasa dan terpelajar, mereka seharusnya sudah dengan sendirinya mengetahui bahwa perpustakaan sudah memiliki sesuatu. Orientasi perpustakaan atau cara menggunakan perpustakaan di berbagai perguruan tinggi, misalnya di Amerika Serikat diselenggarakan setiap minggu, terutama pada saat mahasiswa baru masuk kampus. Bagi siapa saja yang belum sempat mengikuti orientasi tersebut selalu ada kesempatan untuk mengikutinya. Bagi perpustakaan sendiri hal ini penting, sebab dapat dipergunakan untuk melihat keadaan perpustakaan sendiri, malakukan pengawasan kalau ada kekurangan atau kritikan dapat diperbaiki. Fungsi ketiga sebagai tempat riset / penelitian. Hal ini dimungkinkan karena dalam perpustakaan terdapat berbagai tulisan, data hasil penemuan, pemikiran para ahli. Berbagai informasi ini dapat dipakai para mahasiswa dan dosen untuk dasar dalam mencari fakta-fakta menuju penemuan-penemuan baru. Fungsi keempat yaitu, perpustakaan menyediakan bahan rekreasi bagi pembaca. Misal novel majalah hiburan yang kita sediakan di perpustakaan, agar dapat memberikan sedikit hiburan kepada para mahasiswa dan dosen yang mungkin jenuh mencari informasi dalam sepanjang hari, jenuh dengan beratnya pelajaran atau tugas-tugas baik yang rutin maupun temporer. Nikmatnya membaca novel kadang-kadang kita abaikan, seolah-olah membuang waktu saja, padahal dari sanalah kita memperoleh pengalaman yang direka dan ditata oleh penulis dengan cermat dan hati-hati. Fungsi kelima adalah menyediakan fasilitas ruang baca yang enak dan perabot perpustakaan yang nyaman. Sehingga bagi siapa saja yang berada di perpustakaan merasakan enak dan terdorong untuk melakukan pekerjaan membaca atau ingin mengetahui bahan apa saja yang diminati terdapat di perpustakaan. Fasilitas yang dimiliki perpustakaan seharusnya merupakan fasilitas yang paling baik, agar para dosen dan mahasiswa betah tinggal, belajar dan mencari informasi di perpustakaan. Ruangan yang sejuk dengan penerangan, baik alam rnaupun listrik yang diatur nyaman, ruangan yang luas dengan perabotan yang baik hendaknya membuat para pembaca berfikir “ lebih baik tinggal di perpustakaan daripada di rumah atau di kantor”. C. Apa Pembelajaran Berbasis P rpustakaan ? Pembelajaran berbasis perpustakaan adalah pembelajaran yang menjadikan dan menempatkan perpustakaan sebagai inti (pusat) kegiatan. Pembelajaran berbasis perpustakaan merupakan peningkatan kualitas pembelajeran dengan mensinergikan antara kegiatan pembelajaran dan perpustakaan sebagai sumber dan media pembelajaran. Apabila pembelajaran berbasis perpustakaan ini terwujud, maka kegiatan perkuliahan d: dalam kelas sangat tergantung kepada perpustakaan untuk mencapai kompetensi-kompetensi yang telah ditetapkan dalam sebuah mata kuliah, karena referensi yang digunakan semuanya tcrsedia di perpustakaan. Dalam pembelajaran berbasis perpustakaan ini, mahasiswa tidak akan bisa mengerjakan tugas-tugas yang diberikan oleh dosen diruang kuliah dengan baik, apabila mereka tidak menggunakan perpustakaan secara intensif dan ekstensif. Pembelajaran berbasis perpustakaan ini sebenarnya bu <an merupakan hal yang baru lagi, terutama di perguruan tinggi n-gara-negara maju. Pembelajaran berbasis Perpustakaan (PBP) sangat urgen untuk diterapkan di perguruan tinggi mengingat : 1. 2. Proses pembelajaran yang selama ini telah dipraktekkan belum dapat menghasilkan outcome (lulusan) yang sesuai dengan harapan masyarakat. Proses pembelajaran yang selama ini berlangsung di PT Al lebih banyak berpusat pada dosen (teacher based learning), bukan pada mahasiswa atau pemb-lajaran berbasis kelas (class based learning). Dosen dianggap ccbagai sumber ilmu yang sering memberikan ilmu siap saji kepada mahasiswa. Dosen juga yang menetapkan benar salahnya pengetahuan yang dimiliki oleh mahasiswa. Hal ini mengakibatkan mahasiswa tidak bisa “mengail ikan” sendiri. Mahasiswa secara mandiri tidak memiliki ketrampilan untuk mencari, mengolah dan 3. menyajikan informasi ilmu pengetahuan yang dibutuhkan. Kemajuan perkembangan ilmu pengetahuan dan tehnologi dewasa ini sudah sedemikian pesat, sementara dosen dengan waktu yang sangat terbatas tidak mungkin dapat memberikan semua perkembangan itu kepada mahasiswa dalam perkuliahan tatap muka. Dosen harus memanfaatkan ketersediaan informasi mengenai perkembangan ilmu pengetahuan yang cepatitu kepada mahasiswa, agar tidak ketinggalan informasi. Dengan terwujudnya pembelajaran berbasis perpustakaan ini, maka mahasiswa secara mandiri akan memiliki ketrampilanketrampilan untuk mencari atau menemukan informasi ilmu pengetahuan yang dibutuhkannya, sekaligus mampu mengolah dan menyajikan informasi tersebut. Dengan adanya PBP ini mahasiswa juga akan mudah menyelesaikan tugas-tugas perkuliahan yang diberikan oleh dosen, sehingga studi mereka bisa berjalan secara efektif. D. Bagaimana Mewujudkan Pembelajaran Berbasis Perpustakaan? Untuk mewujudkan pembelajaran berbasis perpustakaan di sebuah perguruan tinggi sangat ditentukan oleh seberapa besar pimpinan dan seluruh seluruh civitas akademika yang terdapat di perguruan tinggi tersebut menjadikan perpustakaan bagian integral dalam proses belajar dan mengajar. Semua civitas akademika di dalam perguruan tinggi tersebut harus ikut terlibat, baik itu unsur pimpinan, perpustakaan (pustakawan), dosen dan mahasiswa. Pimpinan perguruan tinggi, sesuai dengan kewenanganyang dimilikinya, ber-peran penting dalam mengkoordinasikan, menggerakkan, dan menyelaraskan semua sumber daya pendidikan untuk mencapai tujuan pendidikan di perguruan tinggi tersebut. Pimpinan lembaga perguruan tinggi juga harus memberikan dukungan baik berupa kebijakan maupun perangkat fasilitas akses informasi. Melalui kepemimpinannya, pimpinan perguruan tinggi dapat mendorong serta mewajibkan para dosen maupun mahasiswa untuk menjadikan perpustakaan sebagai tempat belajar, selain melaksanakan pembelajaran rutin di kelas. Perpustakaan yang merupakan unsur sentral dalam terwujudnya pembelajaran berbasis perpustakaan di sebuah perguruan tinggi harus bisa melakukan hal-hal sebagai berikut : Melakukan konsultasi dan kerjasama dengan dosen dalam pengadaan koleksi Melakukan bimbingan pemznfaatan sumber-sumber informasi yang tersedia melalui pendi dikan pengguna. Menyediakan koleksi dalim berbagai format yang telah diorganisasikan Menyediakan sarana akses informasi dari internet Menyediakan sarana temu embali yang berupa OPAC, lokal intranet dan internet. 6. 7. 8. Menyediakan jasa konsultasi mata kuliah dan penelitian Menyediakan jasa layanan informasi terpilih Menyediakan inter library lo:n (ILL) Untuk mendukung pekerjaan-pekerjaan perpustakaan di atas, maka pustakawan sebagai pelaksananya haruslah memiliki beberapa kemampuan (skill), dantaranya : b 18 2. 3. 4. 8. 9 Memiliki kemampuan inforimation literacy. Memahami cara mencari suatu informasi dan ilmu pengetahuan baik yang berupa cetak maupun non cetak. Memahami cara penyeleksizn dan pengadaan sumber-sumber informasi Memahami cara menggunakan informasi dan ilmu pengetahuan Memahami cara mengo-ganisasi informasi dan ilmu pengetahuan secara mudal, cepat dan tepat Memahami cara memberikan pendidikan information literacy bagi para pengguna. Memiliki kemampuan dalam memberikan bantuan teknis maupun akademis. Memahami cara mengatur fata ruang perpustakaan berdasarkan pada prinsip kenyamanan dan keefektifan. Memahami cara melakukar pengamanan pada koleksi 10. Memahami manajemen perpustakaan yang baik dan benar. Dosen sebagai pelaksana pembelajaran tentunya juga harus berperan di dalam mewujudkan pembelajaran berbasis perpustakaan tersebut. Beberapa hal yang bisa dilakukan oleh dosen adalah sebagai berikut : 1. 2. 3. 4. 5. Menyiapkan kurikulum dan silabi jauh sebelum pelaksanaan perkuliahan berlangsung sehingga kebutuhan informasi ilmiah dapat dilengkapi. Mengkonsultasikan referensi mata kuliah ke perpustakaan guna identifikasi referensi dan kode-kodenya, kemudian dicantumkan dalam silabi guna memudahkan penelusuran. Memberikan tugas kepada mahasiswa untuk mencari dan menelusuri buku-buku yang menjadi referensi perkuliahan atau tugas di perpustakaan. Mempersiapkan pembelajaran yang berorientasi pada pemanfaatan secara maksimal perpustakaan sebagai sumber belajar. Memberikan penilaian pada tugas-tugas mahasiswa, khususnya memberikan penekanan pada sejauhmana luas, up to date dan akurat referensi yang dipakai oleh mahasiswa. Unsur lain yang harus berperan di dalam mewujudkan PBP ini adalah mahasiswa. Oleh karena itu mahasiswa harus memiliki kemampuan-kemam puan berikut ini : 1. 2. Memiliki ketrampilan dalam mencari, mengolah, dan menyajikan informasi untuk menjadi orang yang dapat belajar mandiri seumur hidup (life long learners). Memiliki kegemaran atau kebiasaan mencari dan menemukan literatur di perpustakaan yang menjadi bacaan wajib dan pendukung perkuliahan. Hal lain yang harus diperhatikan untuk mewujudkan pembelajaran berbasis perpustakaan adalah bahan pustaka yang harus dimiliki oleh sebuah perpustakaan perguruan tinggi harus mencakup bahan-bahan yang diperlukan dalam proses belajar mengajar di perguruan tinggi. Bahan untuk keperluan pendidikan, penelitian bagi para dosen dan mahasiswa serta bahan lain yang memperkaya dan melengkapi bahan utama tersebut. Koleksi yang disediakan harus sesuai dengan kebutuhan pengguna. Oleh karena itu kerjasama yang baik sangat diperlukan antara pustakawan, pengajar, peneliti dan mahasiswa. Perpustakaan perlu membuat kebijakan tertulis pengembangan koleksi sehingga menjadi pegangan bagi pustakawan yang bertugas. Pengembangan kolcksi harus berorientasi kepada pengguna dan harus relevan dengan program pendidikan, pengajaran, penelitian dan pergabdian pada masyarakat yang diselenggarakan oleh lembaga in<iuknya. Untuk keperluan tersebut di atas, pustakawan wajib mengetahui semua program studi yang dilaksanakan baik oleh masing-masing jurusan. Jenjang program studi seperti Diploma, S1 dan S2 harus diperhatikan karena kebutuhan informasi yang merek:: perlukan berbeda. Kemutakhiran koleksi perlu dijaga karena ilmu pengetahuan berkembang sangat pesatyang juga perlu diikuti baik oleh pengajar maupun peneliti. Koleksi bahan pustaka, jika dilihat dari jenisnya, menurut P Sumard]x" yaitu sebagai beriku: : Buku, seperti buku teks, fiksi maupun non fiksi dan buku referensi seperti ensikloprdia, almanac, buku pegangan, bibliografi, indeks dan lain sebagainya. 2. o 6. Penerbitan pemerintah, seperti lembaran negara, himpunan peraturan-peraturan pemerintah dan lain sebagainya Laporan penelitian, paper, skripsi, tesis dan disertasi Majalah atau surat kabar, baik umum maupun khusus. Karya alihan tulisan ataupun cetakan-cetakan yang telah dibuat menjadi film, slide, piringan hitam, tape dan lain sebagainya. Manuskrif dan lain sebagainya. Sedangkan Wilson dan Tauber” menyatakan bahwa buku rujukan standar mengenai biding-bidang yang tercakup dalam syilabus perguruan tinggi harus ada, begitu pula buku-buku yang penting dan tinggi esensinya un tuk menambah pengetahuan perlu ditambahkan, juga buku untuk bacaan rekreasi atau untuk leisure reading perlu ada. Selanjutnya ia menambahkan bahwa koleksi perpustakaan harus kualitatif rnaupun kuantitatif. Peter Platt® mengemukakan bahwa koleksi perpustakaan hendaknya bervariasi luas, untuk memenuhi keperluan khusus, latar belakang bacaan menyediakan bahan pengajaran dan penelitian. Untuk perguruan tinggi yang menyediakan calon guru, koleksi perpustakaan hendaknya juga menyediakan buku-buku anak. Begitu banyak bahan pustaka yang harus dimiliki oleh sebuah perpustakaan, tentu saja memerlukan biaya yang banyak dan anggaran yang besar. Sementara biaya atau anggaran perpustakaan perguruan tinggi di Indonesia kecil sekali. Menurut Norman Highman® anggaran bahan pustaka perpustakaan adalah antara 1,7 sampai dengan 8,9 persen dari seluruh anggaran perguruan tinggi. Di samping bahan pustaka dari hasil pembelian, bahan pustaka dapat juga diperoleh dari hadiah atau tukar menukar koleksi. Selain itu juga dapat diperoleh dari sumbangan para mahasiswa yang telah lulus atau dari koleksi pribadi para dosen yang sudah tidak dipakai.

Conclusion

Mewujudkan pembelajaran berbasis perpustakaan pada sebuah perguruan tinggi adalah sesuatu yang sangat urgen, sebab yang terjadi selama ini adalah pemanfaatan perpustakaan sebagai salah satu bagian yang tidak terpisahkan dari pembelajaran belum begitu tampak dari sebagian besar komponen pendidik, khususnya dosen, tenaga laboran, dan juga mahasiswa. Dengan terwujudnya pembelajaran berbasis perpustakaan ini, maka tugas dosen sebagai pengajar dan pentransfer ilmu akan menjadi ringan, karena mahasiswa secara mandiri dapat mencari informasi ilmu pengetahuan yang dibutuhkannya, sekaligus mampu mengolah dan menyajikan informasi tersebut. Dengan adanya PBP ini mahasiswajuga akan mudah menyelesaikan tugas- tugas perkuliahan yang diberikan oleh dosen, sehingga study mereka bisa berjalan secara efcl tif.