Kembali
16
1
2023 Pustakaloka : Jurnal Kajian Informasi dan Perpustakaan Vol 15 · 2 ISSN 2502-4108

Media Sosial Sebagai Wadah Berbagi Pengetahuan Literasi Fisik Anak Usia Dini di Halo Kids Indonesia

Universitas Padjadjaran; Universitas Padjadjaran; Universitas Padjadjaran

Abstrak

Kurangnya penyebaran pengetahuan mengenai literasi fisik pada anak usia dini,terkadang membuat orang tua tidak awareterhadap pengetahuan ini. Namun Halo Kids Indonesia hadir untuk membagikan pengetahuan mengenai literasi fisik yang begitu penting terhadap tumbuh dan berkembangnya anakdengan menjadikan media sosial sebagai wadah untuk tahap berbagi pengetahuan mengenai literasi fisik pada anak usia dini. Maka dari itu, penelitian ini memiliki tujuan agar dapat mengetahui dan memahami penggunaan media sosial Halo Kids Indonesia dalam membagikan pengetahuan tentang literasi fisik anak usia dini. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan mengumpulkan data melalui metode observasi, wawancara, dan studi literatur. Hasil dan pembahasan penelitian inimenunjukkan bahwaHalo Kids Indonesia memiliki 2 media sosial yaitu Instagramdan TikTok. Media sosial utama dari Halo Kids yaitu Instagram yang memuat konten yang dikemas dalam bentuk video dan gambar, berupa jadwal kegiatan, dokumentasi kegiatan, dan pengetahuan mengenai tumbuh kembang anak serta literasi fisik. Adapun konten pada mediaTikTokmemuat lebih banyak mengandung pengetahuan literasi fisik dengan video-video gerak fisik. Media sosial Halo Kids Indonesia sudah mampu menjadi wadah dalam proses berbagi pengetahuan terutama menjadi penyedia pengetahuan, walaupun dari masyarakat belum memanfaatkan wadah ini untuk menemukan pengetahuan antar sesama pengguna ataupun pengikut lainnya.Selain itu,sebaiknya Halo Kids Indonesia lebih menyebarluaskan pengetahuan dengan memanfaatkan media sosial yang lebih beragam</p>

Abstract

The lack of dissemination of knowledge about physical literacy in early childhood sometimes makes parents unaware of this knowledge. However, Halo Kids Indonesia is here to share knowledge about physical literacy, which is crucial for the growth and development of children. By using social media to share knowledge about physical literacy in early childhood, this research aims to understand and comprehend Halo Kids Indonesia’s social media utilisation in disseminating knowledge about physical literacy for young children. This research employs a qualitative method, collecting data through observation, interviews, and literature study methods. The and discussion of this study reveal that Halo Kids Indonesia utilises two social media platforms, Instagram and TikTok. The main social media platform, Instagram, contains content results in videos and images, presenting schedules, activity documentation, and knowledge about child development and physical literacy. On the other hand, TikTok contains more content focused on physical literacy, with videos demonstrating physical movements. Halo Kids Indonesia’s social media has become a platform for sharing knowledge, particularly as a provider of information. However, the engagement from the audience in utilising this platform to exchange knowledge with other users or followers is still limited. Apart from that, Halo Kids Indonesia should spread more knowledge by utilising more diverse social media.
Keywords: knowledge sharing · physical literacy · social media

Introduction

Media sosial telah menjadi bagian penting dalam kehidupan kita saat ini. Hal ini tidak hanya berdampak pada cara kita berinteraksi dan berkomunikasi, tetapi juga memiliki peran yang signifikan dalam mendukung berbagi pengetahuan literasi fisik anak usia dini, contohnya Halo Kids Indonesia. Halo Kids Indonesia adalah prasekolah yang menjadi wadah untuk bermain dan belajar anak usia dini untuk meningkatkan literasi fisik anak dengan melatih kemampuan motorik kasar, motorik halus, sosialisasi, dan kemandirian. Seiring media sosial dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi, telah menjadi platform yang populer untuk berbagi informasi, pengalaman, dan pengetahuan dengan cara yang mudah, cepat, dan luas. Dalam konteks ini, media sosial dapat berfungsi sebagai wadah yang efektif untuk mempromosikan dan memfasilitasi pengetahuan literasi fisik anak usia dini. Pengetahuan merupakan hasil dari informasi yang didapatkan manusia yang ditindaklanjuti dengan adanya pemahaman, pengimplementasian, pengaplikasian, dan pengetahuan tersebut disampaikan kepada orang lain. Informasi adalah data yang memiliki maksud dan dipertunjukan dengan bentuk konteks tertentu. Informasi dapat berupa serangkaian simbol yang diberi arti sebagai pesan, direkam sebagai tanda, atau dikirim sebagai sinyal'. Informasi harus melewati kemungkinan suatu ataupun tindakan yaitu dengan adanya penambahan dan pemahaman untuk menjadi sebuah pengetahuan. Bellinger menyebut proses ini sebagai proses analitis dan kognitif>. Sumber dari penambahan tersebut yaitu berasal dari suatu penelitian dan informasi yang didapatkan. Widyawan menyatakan pengetahuan dapat diibaratkan sebagai peta dunia yang terbentang dalam pikiran kita, seperti peta fisik yang menolong sesorang untuk dapat mengetahui lokasi tertentu. Namun, pengetahuan juga mencakup keyakinan dan harapan. Pengetahuan mencakup semua aktivitas dengan cara dan sarana digunakan dan semua hasil yang diperoleh 3. Pengetahuan merupakan bagian yang hakiki dari keberadaan manusia, karena pengetahuan merupakan buah dan aktivitas pemikiran yang dilakukan oleh manusia. Pengetahuan menjadi sangat penting dan menjadi prioritas utama dalam kehidupan. Tidak hanya memerlukan pemahaman dasar, setiap individu juga perlu mengembangkan pengetahuannya seiring berjalannya waktu. Widyawan menyatakan pengetahuan dapat diperoleh melalui dua sumber utama, yaitu data dan informasi. Informasi ini diperuntukan untuk menggambarkan pencapaian akhir dari pengetahuan yang diperoleh seseorang, dan pengetahuan tersebut digabungkan untuk membentuk informasi yang berguna. Informasi juga sangat dibutuhkan dalam mendukung kegiatan sehari-hari, seperti pengembangan keterampilan, pemecahan masalah, memperluas wawasan pengetahuan, dan lain sebagainya. Agar pengetahuan yang diperoleh tidak hilang dan terus berkembang, diperlukan langkah-langkah untuk mengolah dan berbagi informasi tersebut. Ini sangat penting dalam konteks pembedahan yang memerlukan informasi rinci dan mendalam, seperti dalam menangani masalah perkembangan anak usia dini. Sayangnya, tidak semua orang tua dapat sepenuhnya memahami proses ini, baik bagi pasangan yang baru memiliki anak atau orang tua yang sibuk dengan rutinitas sehari-hari mereka. Oleh karena itu, diperlukan informasi yang relevan yang dapat meningkatkan perkembangan anak, seperti konsep physical literacy atau literasi fisik pada anak usia dini. Asosiasi Literasi Fisik Internasional menyatakan “Melek fisik atau literasi fisik (physical literacy) adalah motivasi, kepercayaan diri, kompetensi fisik, pengetahuan, dan pemahaman untuk menghargai dan bertanggung jawab atas keterlibatan dalam aktivitas fisik seumur hidup”. Physical literacy pada anak usia dini berkembang melalui pengaruh lingkungan dan pengalaman yang dialami, dan salah satu aktivitas yang dapat meningkatkan literasi jasmani adalah pelatihan perkembangan motorik pada anak usia dini, seperti yang ditawarkan oleh Preschool Halo Kids Indonesia. Konsep literasi fisik atau physical literacy diperkenalkan pertama kali dalam "International Association of Physical Education and Sport for Girls and Women Congress" di Melbourne, Australia, pada tahun 1993 oleh Whitehead. Whitehead memberikan beberapa penjelasan mengenai literasi jasmani® yang mana dapat diartikan sebagai kemampuan untuk mengarahkan gerakan dengan motivasi yang mendorong pengembangan potensi dan memberikan kontribusi positif terhadap kualitas hidup®. Literasi fisik dideskripsikan oleh Whitehead yaitu dengan memperluas visi UNESCO yaitu kemampuan untuk mengidentifikasi, memahami, menginterpretasikan, mencipta, merespon secara efektif dan mengkomunikasikan dengan menggunakan aspek kebutuhan manusia dalam berbagai situasi, situasi dan konteks”. Dapat dibayangkan bahwa pengetahuan fisik merupakan dasar bagi individu untuk digunakan dalam berbagai aktivitas kehidupan dan dalam mengejar kinerja yang unggul. PHE Canada menyatakan orang yang melek huruf atau fisik akan bergerak dengan percaya diri dan kompeten di antara berbagai kondisi dan peluang aktivitas fisik, termasuk aktivitas di berbagai bidang mobilitas, termasuk di darat, di air, di udara®. Konsep literasi fisik yang dikemukakan Whitehead yaitu “motivasi, kepercayaan menghargai diri, dan kapasitas bertanggung fisik, pengetahuan, jawab saat dan pemahaman berpartisipasi dalam untuk aktivitas kehidupan material”®. Dengan memberikan anak dorongan, kepastian, dan kegembiraan agar tetap aktif secara fisik merupakan salah satu manfaat dari literasi fisik. Anak-anak yang mengikuti aktivitas fisik akan mendapatkan manfaat dari peningkatan imunitas, yang manyebabkan tubuhnya akan selalu sehat dan bugar. Individu yang memiliki literasi jasmani akan mampu bergerak dengan tenang dan percaya diri dalam berbagai situasi, baik itu tantangan fisik maupun responsif terhadap lingkungan fisik, mengantisipasi kebutuhan dan kemungkinan gerakan, serta memberikan respon yang tepat dengan kecerdasan gerak dan imajinasi 1 .Oleh karena itu, penerapan physical literacy sangat dianjurkan, terutama pada anak-anak usia dini. Berbagai aktivitas yang dilakukan untuk meningkatkan pengetahuan terkait literasi fisik dominan dilaksanakan di luar ruangan. Munculnya media sosial lagi. menyebabkan pengetahuan mengenai literasi fisik bisa disebarluaskan Van Dijk menyampaikan bahwa media sosial adalah suatu platform media yang memberikan fokus pada keberadaan pengguna dan memfasilitasi mereka dalam beraktivitas serta berkolaborasi''. Oleh karena itu, media sosial dapat dianggap sebagai sarana online yang memperkuat hubungan antar pengguna dan juga sebagai ikatan sosial, yaitu dengan adanya keuntungan media sosial yang mampu memberikan fasilitas untuk berkomunikasi. Oleh karena itu, proses berbagi pengetahuan bisa dilakukan dengan berbagai cara salah satunya yaitu media sosial. Berbagi pengetahuan atau dikenal dengan knowledge sharing dapat didefinisikan sebagai proses saling bertukar pengetahuan (tacit dan explicit knowledge) antara individu, yang secara bersama-sama menciptakan pengetahuan baru®. Berbagi pengetahuan menerapkan pengumpulan pengetahuan dalam tim untuk menciptakan nilai tambah bagi perusahaan ** dan proses berbagi pengetahuan sebagai langkah sistematis yang melibatkan belajar, pertukaran gagasan, dan pengetahuan yang dapat mengubah individu untuk bertindak lebih efektif'. Dimensi transfer pengetahuan juga dinyatakan sebagai proses sistematis dalam mendistribusikan pengetahuan dan konteks multidimensi dari satu individu atau organisasi ke individu atau organisasi lain melalui metode dan media yang bervariasi®®. Sebagai kesimpulan, berbagi pengetahuan merupakan budaya interaksi sosial di dalam organisasi yang pengetahuan, pengalaman, dan keterampilan antar anggota. melibatkan transfer Penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Ramadhani dan Bianti (2017) menyatakan bahwa anak yang rutin menghabiskan waktu luangnya dengan duduk di satu tempat tanpa melakukan aktivitas fisik, akan berdampak pada obesitas pada anak!¢. Selain itu, penelitian yang dilakukan oleh Anshel (2014) mengungkapkan terdapat banyak bukti ilmiah yang menyatakan bahwa pertumbuhan dan perkembangan pada masa muda dapat ditingkatkan, jika aktivitas fisik dilakukan secara teratur dan gerak fisik dapat memberikan banyak manfaat terhadap kesehatan fisik, mental, dan kognitif'”. Berdasarkan penjelasan tersebut, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian terhadap proses berbagi pengetahuan yang dilakukan Halo Kids Indonesia yang menjadikan media sosial sebagai wadah berbagi pengetahuan literasi fisik anak usia dini. Berbeda dengan penelitian sebelumnya yang memiliki fokus terhadap literasi fisik, penelitian ini memiliki fokus pengetahuan yang dibagikan di media sosial Halo Kids Indonesia. Sehingga penelitian ini memiliki tujuan agar dapat mengetahui dan memahami penggunaan media sosial Halo Kids Indonesia dalam membagikan pengetahuan tentang literasi fisik anak usia dini.

Method

Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif. Jenis penelitian kualitatif merupakan penelitian yang menghasilkan temuan-temuan yang tidak mampu diperoleh dengan tahapan statistik ataupun menggunakan tahapan kuantifikasi lainnya'®. Proses wawancara serta observasi akan lebih cenderung digunakan pada penelitian ini. Proses ini pun bertujuan untuk mengumpulkan informasi yang penelitian ini. akan diolah, sehingga mampu menjawab rumusan dari Penelitian ini memiliki fokus terhadap media sosial yang menjadi wadah bagi Halo Kids Indonesia untuk berbagi pengetahuan mengenai literasi fisik anak usia dini, sehingga dilakukan observasi secara langsung pada setiap media sosial dari Halo Kids Indonesia. Informan dari penelitian ini adalah pengelola dan anggota dari Halo Kids Indonesia yang mengikuti akun media sosial Halo Kids Indonesia. Selain itu, untuk mendukung data yang sudah didapatkan, penelitian ini juga memanfaatkan sumber-sumber sekunder lainnya berupa karya-karya ilmiah yang memiliki keterkaitan dengan penelitian ini.

Result & Discussion

Saat ini, media sosial menjadi saran interaksi ataupun komunikasi massa dengan fungsi sebagai sarana penunjang interaksi dalam masyarakat. Sebagai media interaksi, individu, komunitas, dan organisasi dapat menggunakan media sosial untuk berbagi pengalaman, berdiskusi, dan mempromosikan informasi baru. Media sosial adalah media interaktif baru yang menciptakan ruang bagi orang untuk berbagi, bercerita, dan menyampaikan ide-ide mereka®. Hal ini dapat digunakan dalam proses berbagi pengetahuan sebagai edukasi. Dengan media sosial, siswa dapat menyampaikan aspirasi, ide dan mengidentifikasi masalah pengetahuan. Lebih lanjut, agar dapat memahami penggunaan media sosial Halo Kids Indonesia sebagai wadah berbagi pengetahuan literasi fisik, maka perlu untuk diberikan gambaran terlebih dahulu mengenai media sosial yang digunakan oleh Halo Kids Indonesia untuk membantu mengetahui apa perbedaan dari setiap media sosialnya. Halo Kids Indonesia memiliki media sosial yang terdiri dari Instagram dan Tiktok. Instagram Halo Kids Indonesia memiliki username @halokidsindonesia dengan 5.567 pengikut dan 515 postingan. Instagram dari Halo Kids Indonesia memuat konten berupa video dan gambar yang disajikan dengan desain khas berwarna biru. Konten ini dikemas semenarik mungkin oleh Halo Kids Indonesia. Pengguna serta pengikut dari @halokidsindonesia dapat berinteraksi dengan menyukai serta berkomentar di postingan Halo Kids. Berikutnya TikTok, Halo Kids Indonesia juga memanfaatkan media sosial TikTok sebagai platform untuk berbagi pengetahuan. Tiktok Halo Kids Indonesia yaitu @halokids.motoricschool yang memiliki 2.052 pengikut dengan jumlah menyukai sebanyak 8.141. Di TikToknya, Halo Kids Indonesia mengemas konten dengan bentuk video dari gerak fisik yang dilakukan. Diantara kedua media sosial yang dimanfaatkan oleh Halo Kids Indonesia tersebut, Instagram menjadi media sosial utama dari Halo Kids Indonesia. Berdasarkan deskripsi tersebut, Halo Kids Indonesia tidak begitu banyak memiliki media sosial, media sosial hanya terdiri dari Instagram dan TikTok. Namun penggunaan media sosial di Halo Kids Indonesia tergolong aktif, terutama pada Instagram. Halo Kids Indonesia selalu memposting konten setiap harinya, baik Instagram story ataupun postingan feed Instagram. Hal ini dilakukan oleh Halo Kids Indonesia dengan tujuan untuk membuat pengguna Instagram terutama pengikutnya melihat dan mempercayai kegiatan yang dilakukan oleh Halo Kids Indonesia. Sesuai dengan hasil wawancara dari pendiri Halo Kids Indonesia sebagai berikut: “Kalau Instagram harus ya karena biar kita tahu orang-orang itu tahu kita berkegiatan hari itu tuh begini gitu. jadi real gitu pengen kan ada yang tidak aku up to update date. Maksudnya enggak terlalu update. Nah kalau kita itu diusahakan selalu memperlihatkan kegiatan kita hari ini hari Minggu ini apa gitu.”(Wawancara pada Senin, 19 Mei 2023) Media kegiatan dari sosial Halo yang Kids awalnya Indonesia dimanfaatkan pun, untuk saat ini memperlihatkan mampu membagikan pengetahuan mengenai gerak fisik pada anak. Hal ini dilakukan oleh Halo Kids Indonesia dengan menerapkan proses eksternalisasi pengetahuan. Menurut Karim, eksternalisasi berkaitan dengan cara mengubah informasi tacit menjadi eksplisit melalui pendekatan yang tepat, yang dapat mencakup penggunaan bantuan visual, konsep, analogi, representasi, dan lain-lain®. Eksternalisasi pengetahuan juga dapat dilakukan dengan proses pendokumentasian seperti halnya yang dilakukan Halo Kids Indonesia. Setiap kegiatan yang dilakukan secara langsung di Halo Kids Indonesia melewati proses pendokumentasian oleh tim. Tidak hanya berhenti sampai pada tahapan pendokumentasian saja, Halo Kids Indonesia menjadikan media sosialnya sebagai wadah untuk membagikan dokumentasi kegiatan tersebut dalam bentuk video dan gambar. Sehingga, setiap kegiatan dapat dilihat kembali di media sosial Halo Kids Indonesia. Kegiatan yang dilakukan Halo Kids Indonesia, pada umumnya dilakukan secara langsung. Namun hal ini tidak menutup kemungkinan bagi Halo Kids Indonesia untuk berbagi pengetahuannya di media sosial baik Instagram maupun TikTok. Hasilnya, dapat dilihat dari postingan Halo Kids Indonesia yang membagikan pengetahuan melalui media sosial berupa video dan gambar. Instagram Halo Kids Indonesia lebih didominasi untuk membagikan dokumentasi kegiatan, jadwal kegiatan, dan informasi terkait tumbuh dan berkembang anak. Pendiri memiliki tujuan awal untuk memperlihatkan bahwa kegiatan yang dilakukan oleh Halo Kids Indonesia merupakan kegiatan nyata. Tujuan tersebut juga mendukung untuk sebuah proses promosi yang dilakukan oleh Halo Kids Indonesia. Namun, hal tersebut menyebabkan konten edukasi terkait tumbuh dan berkembang anak terutama gerak fisik anak tidak begitu menjadi poin utama yang dapat dirasakan dari Instagram Halo Kids Indonesia. Gambar I Konten Edukasi Instagram Halo Kids Indonesia Adapun pada TikTok dari Halo Kids Indonesia. Akun @halokids.motoricschool memiliki postingan berupa video yang berisi mengenai gerakan-gerakan yang dilakukan anak selama kegiatan yang dilakukan oleh Halo Kids Indonesia. Selain itu, video gerakan ini memiliki penjelasan mengenai manfaat, tips dan lain sebagainya. TikTok Halo Kids Indonesia lebih didominasi dengan video gerakan fisik serta pengetahuan dibandingkan Instagram yang lebih memuat informasi jadwal kegiatan yang akan berlangsung. Walaupun Instagram Halo Kids Indonesia lebih banyak memuat informasi terkait jadwal kegiatan, akan tetapi juga terdapat pengetahuan yang disebarkan. Gambar II Konten Edukasi TikTok Halo Kids Indonesia Pengetahuan-pengetahuan yang dibagikan oleh Halo Kids Indonesia merupakan pengetahuan yang sebelumnya telah disortir oleh tim Halo Kids Indonesia. Hal tersebut, sesuai dengan hasil wawancara dari pendiri Halo Kids Indonesia sebagai berikut: “Coba baca lagi deh takutnya ada ada yang kurang baik gitu maksudnya mendingan nggak usah pakai kata ini atau itu biasanya disortir.” (Wawancara pada Senin, 19 Mei 2023) Setelah tahapan penyortiran, pengetahuan tersebut kemudian didesain dan menjadi sebuah konten yang disebarluaskan melalui media sosial Halo Kids Indonesia. Pengetahuan yang dibagikan oleh Halo Kids Indonesia di media sosialnya cukup beragam. Hal ini karena Halo Kids Indonesia memiliki kegiatan yang beragam. Namun, seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, bahwa pengetahuan yang disebarkan melalui Instagram lebih didominasi dengan jadwal kegiatan dan dokumentasi kegiatan, akan tetapi masih terdapat pengetahuan-pengetahuan mengenai tumbuh dan kembang anak serta literasi fisik lainnya. Instagram Halo Kids Indonesia juga menjadi media sosial utama dari Halo Kids Indonesia, sedangkan untuk media sosial TikTok banyak terdapat pengetahuan yang dibagikan dalam bentuk video, dan informasi terkait jadwal kegiatan tidak begitu banyak disebarluaskan di TikTok. Sehingga, pengikut akan lebih cepat menemukan pengetahuan mengenai tumbuh dan kembang anak serta literasi fisik lainnya di TikTok Halo Kids Indonesia. Konten-konten mengandung yang pengetahuan disebarluaskan mengenai gerak oleh fisik Halo ataupun Kids Indonesia tumbuh dan berkembang anak. Dengan pengetahuan gerak fisik yang dikemas dengan bentuk video yang dapat dilihat di media sosial Halo Kids Indonesia, maka kegiatan tersebut dapat dipraktikkan secara langsung di rumah masing-masing. Sedangkan pengetahuan mengenai tumbuh dan berkembangnya anak dikemas dalam bentuk gambar yang mengandung tulisan mengenai informasi edukasi. Kedua media sosial yang dimanfaatkan oleh Halo Kids Indonesia sudah memiliki fitur untuk pengguna saling berinteraksi dengan berkomentar. Namun, dilihat dari kedua media sosial tersebut, pengguna ataupun pengikut dari Halo Kids Indonesia tidak begitu aktif dalam memberikan komentar mengenai pengetahuan yang diberikan. Akan tetapi, pengguna ataupun pengikut dari Halo Kids Indonesia lebih aktif untuk membagikan kegiatan atau aktivitas yang akan dilaksanakan. Sehingga berdasarkan pemaparan tersebut, media sosial sebagai wadah berbagi pengetahuan lebih didominasi Halo Kids yang membagikan pengetahuan, sedangkan pengguna dan pengikut dari Halo Kids Indonesia tidak begitu aktif dalam berbagi pengetahuan. Hanya saja pengikut Halo Kids Indonesia lebih menyukai membagikan jadwal kegiatan yang akan berlangsung.

Conclusion

Media sosial Halo Kids Indonesia terutama Instagram lebih didominasi untuk menyebarkan informasi terkait kegiatan. Hal ini dilihat dari postingan Instagram Halo Kids, yang lebih banyak mengenai jadwal kegiatan, dokumentasi kegiatan, akan tetapi masih terdapat pengetahuan mengenai tumbuh dan berkembangnya anak ataupun literasi fisik. Sedangkan media sosial TikTok dari Halo Kids Indonesia didominasi dengan video gerak-gerak fisik pada anak usia dini, sehingga pengetahuan mengenai gerak fisik anak dapat ditemukan dengan mudah di TikTok Halo Kids Indonesia. Media sosial Instagram dan TikTok juga memiliki fitur yang mewadahi para pengikut untuk berinteraksi yaitu pada kolom komentar. Namun dilihat dari media sosial Halo Kids Indonesia, pemanfaatan fitur komentar belum begitu maksimal. Hal ini dilihat dengan sedikitnya interaksi di kolom komentar baik Instagram maupun TikTok. Agar terciptanya proses berbagi pengetahuan dari berbagai arah, sebaiknya dari pihak Halo Kids Indonesia lebih memfasilitasi pengguna media dengan membagikan ulang postingan edukasi-edukasi tidak hanya sebatas membagikan jadwal kegiatan.