Kembali
16
1
2021 Jurnal Ilmu Informasi, Perpustakaan, dan Kearsipan Vol 23 · 1 ISSN 2502-7409

WHATSAPP GROUP SEBAGAI DIGITAL HETEROTOPIA: DARI SUMBER INFORMASI DIGITAL HINGGA DIGITAL LEISURE

Universitas Airlangga; Universitas Airlangga; Universitas Airlangga

Abstrak

Penelitian ini membahas penyebaran konten-konten YouTube di kalangan anak-anak dan bagaimana WhatsApp Group (WAG) telah berkembang menjadi ruang digital heterotopia. Permasalahan yang dikaji adalah: (1) Bagaimana WhatsApp Group (WAG) dimanfaatkan sebagai media untuk membagi dan bertukar konten-konten YouTube di kalangan anak-anak SD? dan (2) Bagaimana representasi WAG sebagai ruang digital bagi anak-anak SD ketika mereka memanfaatkan konten video YouTube dalam WAG? Studi ini dilakukan di kota Surabaya, Malang, Kediri dan Jember. Dalam studi kualitatif ini 50 siswa SD diwawancarai secara mendalam. Kajian ini menemukan: Pertama, siswa SD tidak hanya memanfaatkan WAG untuk menyebarkan konten-konten YouTube yang berisi tugas-tugas akademik, tetapi juga menjadikan WAG sebagai ruang untuk digital leisure. Sebagai iGenera-tion, siswa SD menelusur dunia maya untuk menemukan konten YouTube yang unik dan spektakuler, serta cara memainkan game yang kemudian di-share dalam WAG. Kedua, bagi siswa SD, keberadaan WAG tidak hanya sebagai ruang untuk memberikan sumber informasi akademik dan bertukar pendapat tentang tugas sekolah, tetapi juga sebagai ruang interaksi sosial, ruang representasi diri dan ruang membangun identitas diri. WAG di kalangan anak-anak SD merupakan digital heterotopia karena mereka dapat memanfaatkannya untuk menyebarkan konten-konten YouTube, sehingga mereka mendapatkan tiket masuk dalam lingkungan pergaulan, dan pengakuan sosial dari lingkungan digital peergroup-nya.

Abstract

This article reports the study of the use of WhatsApp Group (WAG) among primary school students who utilize the platform as a digital heterotopia. The study investigated: How is WAG used as a platform for sharing and exchanging YouTube content among primary school students?; How WAG is represented as a digital space for during their practices of sharing and exchanging YouTube content? The purpose of this research is to explore information dissemination activities, especially YouTube content WAG as a digital space for information sharing has become a heterotopia digital space. This qualitative research was conducted in Surabaya, Malang, Kediri, and Jember. Data was collected from indepth interview of 50 primary school students. This study found that firstly, the students do not only use their WAG to disseminate YouTube content for academic purposes, but also to turn WAG as a space of digital leisure. Children as the iGeneration immerse themselves into the cyberspace to interesting videos on YouTube, as well as game-related content which they share to their friends through WAG. Secondly, the existence of WAG for these students does not only serve as a space for educational purposes – exchanging academic content, but also as a space for social interaction, self-representation and con-structing self-identity. WAG among primary school students is a digital heterotopia as they can use it as a space for sharing and exchanging various YouTube content for their social loop, and social validation from their digital peers.
Keywords: WhatsApp Group · siswa Sekolah Dasar · berbagi informasi · digital heterotopia · digital leisure

Introduction

Di era perkembangan masyarakat digital, penggunaan teknologi informasi di kalangan anakanak cenderung makin meluas, terutama di kalangan masyarakat urban. Hampir semua anak-anak di Sekolah Dasar kini telah familiar dengan perangkat teknologi informasi (Ariani et al., 2017; Chaudron, 2015; Hadlington et al., 2019). Sejak kanak-kanak, penggunaan gawai telah menjadi bagian dari aktivitas sehari-hari (Ahearne et al., 2015; Assathiany et al., 2018; Kirkorian, 2016; Levine et al., 2019; Neumann, 2018; Raman et al., 2017). Di kalangan kelompok berpenghasilan rendah sekali pun, ditemukan bahwa 95% anak-anak pertama kali menggunakan perangkat seluler ketika mereka berusia 4 tahun, dan 40% ketika sebelum ulang-tahun mereka pertama (1 tahun) (Kabali et al., 2015). Oleh karena itu ketika anakanak berusia 4-6 tahun atau Taman Kanak-kanak pun sudah dapat dikatakan mereka telah menjadi bagian dari digital citizens (Morgan, 2020; Thestrup, 2019). Di usia 8-11 tahun, ditemukan 86% anak-anak senang mengakses perangkat tablet dan 53% anak-anak selalu memanfaatkan tablet setiap hari (Ofcom, 2016). Sebagai bagian dari iGeneration, sejak balita anak-anak telah akrab dengan perangkat seluler, sehingga penggunaan aplikasi media sosial menjadi bagian integral dalam kehidupan anak-anak di dunia (Binti et al., 2016; Hadjipanayis et al., 2019). Pada tahun 2017, data dari UK Safer Internet Centre menunjukkan bahwa 23% anak-anak berusia 8–11 tahun dan 74% yang berusia 12–16 tahun memiliki sekurang-nya satu profil di media sosial (Childwise, 2017). Dengan media sosial, anak-anak dapat membangun interaksi virtual, memperluas komunikasi dan mempererat persahabatan dengan teman-teman sebaya tanpa di batasi ruang dan waktu. Bagi anak-anak, media sosial juga menjadi platform untuk mencari kesenangan dalam mengisi waktu luang dengan berinteraksi, bermain game dan berbagi konten (Ersoy, 2019). Di Indonesia, dari survey Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) dalam kurun waktu 2019 hingga kuartal II 2020 jumlah total pengguna/ pengakses internet diperkirakan telah mencapai 196,7 juta jiwa dari sekitar 270 juta penduduk yang ada. Angka pengguna internet tersebut mengalami pertumbuhan hampir 10 persen atau setara dengan 25,5 juta pengguna. Dari 132 juta lebih pengguna internet tersebut, dari segi usia dan jumlah anak yang bersentuhan dengan internet melalui penggunaan gawai cenderung semakin dini. Studi yang dilakukan Sugihartati & Yuwinanto (2019) menemukan bahwa di kalangan anak-anak berselancar di dunia maya adalah salah satu aktivitas pengisi waktu luang yang paling populer. Dibandingkan menonton televisi, misalnya, bermain gawai dan berselancar di dunia maya menjadi aktivitas yang dirasa lebih menggoda anak-anak. Di kalangan anak-anak SD, ditengarai salah satu aktivitas yang populer dikembangkan adalah menelusur, menonton dan membagi video YouTube ke media sosial, termasuk WhatsApp Group (WAG). Studi sebagaimana dilaporkan bermaksud mengkaji perilaku anak-anak menelusur dan menyebarluaskan video YouTube yang mereka akses melalui gawai miliknya, dan bagaimana hal itu menjadi modal sosial anak untuk mengembangkan relasi sosial dengan peer-Groupnya. Permasalahan yang dikaji adalah: (1) Bagaimana WAG dimanfaatkan sebagai media untuk membagi dan bertukar konten-konten YouTube di kalangan anakanak SD? dan (2) Bagaimana representasi WhatsApp Group (WAG) sebagai ruang digital bagi anak-anak SD ketika mereka memanfaatkan konten video YouTube dalam WAG? II. TINJAUAN LITERATUR Perkembangan gawai, baik itu smartphone, tablet maupun perangkat yang lain, dengan kemampuan komputasi, konektivitas internet nirkabel dan fungsifungsi digital di dalamnya, semakin mudah diadopsi dan digunakan oleh anak-anak (Mascheroni & Ólafsson, 2016; Tsai et al., 2015). Di kalangan iGeneration, smartphone dan tablet sebagai perangkat yang bersifat mobile merupakan teknologi yang meningkat pemanfaatannya karena di mana dan kapan saja anak-anak bisa menggunakannya dengan sangat mudah. Gawai atau mobile phones menempati posisi penting dalam pertumbuhan dan perkembangan anak-anak di jaman digital dan menjadi bagian dari budaya digital yang mereka bangun (Blair et al., 2015; Christensen et al., 2011; Haddon, 2013; Livingstone, 2002). Bagi anak-anak, aktivitas menelusur dan saling berbagi informasi tidak hanya merupakan implikasi dari perkembangan sharing culture, tetapi juga menjadi salah satu cara bagi mereka untuk membangun relasi sosial dan identitas digital. Digital Leisure Bagi iGeneration, era digital menawarkan berbagai kesempatan aksesibiltas informasi yang lebih masif dan variatif --yang dapat digunakan sesuai dengan preferensi serta memenuhi kebutuhan masyarakat di berbagai waktu, tempat serta kondisi. Dengan dukungan perangkat teknologi dan internet, masyarakat dapat menelusur berbagai informasi yang dibutuhkan, baik untuk kepentingan akademik, kerja maupun sekadar untuk aktivitas mengisi waktu luang (leisure). Leisure di sini adalah salah satu konsep waktu yang dapat digunakan untuk mengkategorikan kebutuhan informasi yang ingin digapai seseorang. Konsep leisure didefinisikan oleh sejumlah ahli sebagai sebuah maksimalisasi kualitas di waktu luang. Yang dimaksud waktu luang dalam hal ini adalah waktu di saat seseorang terbebas dari segala macam pekerjaan dan tuntutan sosial yang ada di sekitarnya (Carnicelli et al., 2016; Grimley, 2012; Spracklen & Fox, 2015). Variabilitas dan kebebasan mengakses informasi adalah kunci untuk memahami arti penting leisure, dan ini berlaku untuk menjelaskan kondisi masyarakat kita dewasa ini (Harris & Johns, 2020; Sánchez-Navarro & Aranda, 2013). Di kalangan iGeneration, berbagi konten dan informasi adalah aktivitas yang lazim dilakukan di waktu luang. Berbagi pengalaman melalui media sosial, berbagi pengetahuan serta penyebaran informasi-informasi tertentu, adalah beberapa kegiatan transformasi kolektif yang terjadi di masyarakat, yakni pada pemanfaatan waktu luang di era digital seperti sekarang (Carnicelli et al., 2016; Layland et al., 2020). Para pengguna teknologi informasi dan orang-orang yang terbiasa memanfaatkan digital leisure umumnya tertarik dengan mediasi dan seluruh tawaran fasilitas digital yang ada dikarenakan liberalitas sistem digital yang memungkinkan adanya kegiatan produksi, konsumsi dan distribusi informasi dengan lingkungan terdekat hingga dalam cakupan yang lebih luas ke seluruh dunia (Adam, 2019; Spracklen & Fox, 2015). Perkembangan baru pola konsumsi informasi yang makin mudah dan meluas ini terjadi karena adanya perkembangan perangkat teknologi yang mendukung, misalnya peningkatan pada performa visual dan kecepatan dari akses lewat gawai adalah sebuah contoh di mana kebutuhan masyarakat untuk mengakses informasi telah berkembang sedemikian rupa (Carnicelli et al., 2016; Rangaswamy & Arora, 2016). Media sosial yang makin populer, terutama di kalangan anak-anak adalah contoh di mana masyarakat secara teratur dan telah terbiasa menggunakannya sebagai pengisi waktu luang mereka. Berbagai informasi yang mengandung unsur hiburan ditambah fasilitas kemudahan untuk berkomunikasi dengan lingkungan yang dikenalnya menciptakan adiksi tersendiri di kalangan pengguna media sosial, terutama ketika mereka makin terbiasa dan telah mengadopsi nilai nilai pop-culture yang ada di dalamnya (Matassi et al., 2019; Spracklen & Fox, 2015; Zhao et al., 2008). Kontribusi dan partisipasi sosial para pengguna teknologi informasi dan media sosial, baik dalam bentuk teks ataupun gambar adalah sebuah trend baru di era digital ini, terutama ketika penggunaan media sosial dan platform chatting seperti WhatsApp makin populer (Aharony & Zion, 2019; Carnicelli et al., 2016; Katrini, 2018; Spracklen, 2015). Ketika batasan ruang dan waktu tidak lagi efektif, maka interaksi individu dengan individu lain, atau komunikasi secara komunal berkembang jauh lebih intens karena kehadiran media sosial dan berbagai platform komunikasi lain di dunia maya. Anak-anak yang menjadi bagian terbesar dari iGeneration adalah kelompok masyarakat yang paling banyak memanfaatkan media sosial dan teknologi informasi untuk melakukan banyak hal –termasuk menelusur YouTube dan kemudian membagikannya melalui media sosial pada peer-Groupnya. Digital heterotopia Pengertian Heterotopia dipahami sebagai konsep yang berasal dari pemikiran Michel Foucault (1967/2008) yang dimaknai sebagai “other” spaces. Sebagai suatu ruang, heterotopia adalah tempat yang merepresentasikan, dan menunjukkan ruang-ruang atau lokasi-lokasi yang lain, yang nyata, yang dapat ditemukan dalam suatu budaya (Foucault, 1967: 17). Foucault menggunakan istilah heterotopia untuk menggambarkan ruang yang memiliki lebih banyak makna atau hubungan dengan tempat lain daripada ruang yang nyata atau yang dikenal dan dilihat. Heterotopia dengan demikian dipahami sebagai ruang yang bersifat mempunyai fungsi lain-lainnya, dan menggabungkan fungsi-fungsi lainnya tersebut – kadang tidak sesuai satu dengan lainnya (Komalova, 2018). Ketika interaksi tatap muka tidak lagi dominan, dan sebagai alternatif muncul ruang-ruang maya yang memfasilitasi kemunculan komunitas online, maka yang muncul kemudian adalah konsep digital heterotopia. Di era di mana jejaring sodial (social networking), maka konsep heterotopia dengan demikian didefinisikan sebagai suatu ruang budaya yang bersifat maya atau tidak memiliki bentuk fisik yang mencerminkan lingkungan sosial dan budaya di sekitarnya (Foucault, 2017, 2018; Ljungberg, 2019; McNamee, 2000). Di era masyarakat digital, konsep heterotopia dipakai untuk mendefinisikan jejaring sosial yang berkembang di internet dewasa ini, yakni yang merepresentasikan sifat-sifat interaksi sosial yang terjadi tanpa adanya kontak fisik di waktu yang sama. Penyebutan digital heterotopia muncul dari pendapat sejumlah ahli yang merujuk pada sebuah ruang virtual yang terjadi dalam dimensi keruangan tanpa bentuk fisik yang nyata dan tanpa adanya batasan waktu. Digital heterotopia ini terbentuk lewat komunikasi kolaboratif yang terjadi karena adanya jejaring digital yang dilakukan oleh masyarakat secara terus-menerus, yang muncul dari proses pemenuhan kebutuhan informasi tiap-tiap individu yang tergabung di dalamnya (Bahmanteymouri & Haghighi, 2020; Foucault, 2017; Miscione & Kavanagh, 2015; Witteborn, 2014). Digital heterotopia ini, dalam dunia nyata dapat ditemukan dalam bentuk komunitas kecil seperti WAG ataupun bentuk besar seperti forum, keduanya terbentuk dari interaksi dan dialog yang memungkinkan adanya pembentukan karateristik khas sebuah kelompok tersebut. Digital heterotopia dalam bentuk jejaring mikro ataupun makro, umumnya adalah sebuah proses yang masih terus membentuk dan mencerminkan karateristik asli dari kelompok ataupun seluruh individu yang ada di dalamnya. Sejumlah ahli menyatakan, interaksi dalam ruang digital pada aplikasi dengan fokus chatting interaktif seperti WhatsApp, merupakan sebuah medium yang memungkinkan penggunanya untuk saling terhubung tanpa adanya batasan ruang dan waktu. Di berbagai platform media sosial, budaya-budaya baru biasanya terbentuk oleh generasi pengguna di era sekarang ini yang didominasi oleh anak dan remaja atau yang biasa disebut sebagai New Age Practitioners, sebagai pelaku yang menempati ruang digital tersebut (CostaSánchez & Guerrero-Pico, 2020; Ljungberg, 2019). Ketidakterikatan dan kebebasan perspektif ruang ini terbentuk karena pada dasarnya digital heterotopia merupakan ‘space of mind’ di mana para peserta di dalamnya saling menyumbang pengalaman, pandangan, dan pengetahuan serta melakukan sebuah konsensus akan fungsi pada suatu fasilitas tertentu. Konsep pembentukan fungsi ruang di dunia maya ini dapat dianalogikan seperti ruang-ruang nyata, misalnya masjid dan gereja untuk beribadah, bioskop untuk menonton film ataupun mall untuk berbelanja. Konsepsi yang sama juga timbul pada ruang-ruang digital di mana setiap ruang atau platform yang ada, disetujui untuk sebuah fungsi khusus. YouTube dan Netflix digunakan untuk streaming video, WhatsApp dan Line digunakan untuk chatting, FacebookInstagram dan Twitter digunakan untuk sharing gambar dan pengalaman. Dengan kata lain, semua ruang digital tersebut di dalamnya tersegmentasi ke dalam fungsi-fungsi khusus yang mendefinisikan cara tersendiri dalam berinteraksi dan menggunakan ruang tersebut sesuai dengan fungsinya masingmasing. Ruang digital yang biasanya dimanfaatkan untuk chatting seperti WhatsApp, dianggap dapat membantu perkembangan komunikasi dan pendalaman interaksi dalam kelompok. Adanya aksesibilitas dan tingkat kemudahan penggunaan serta percepatan proses adaptasi oleh para pelaku atau pengguna dari ruang-ruang digital tersebut menyebabkan popularitas media sosial seperti WhatsApp terus meningkat (Aharony & Zion, 2019; Amado Puentes et al., 2020; Costa-Sánchez & Guerrero-Pico, 2020; Matassi et al., 2019). Anak dan remaja adalah fokus sekaligus menjadi subjek yang mendominasi di ruang digital chatting seperti WhatsApp. Proses belajar dan berkomunikasi serta pembagian informasi adalah beberapa hal yang menjadi nilai positif terbentuknya pola penggunaan pada ruang digital seperti WhatsApp. Faktor lain adalah kebebasan, di mana ruang heterotopia terbentuk karena anak bebas melakukan ekspresi tidak terbatas pada satu ruang digital, yang interaksinya banyak saling terhubung dan tetap mencerimkan perilaku, karateristik dan identitasnya di dunia nyata.

Method

Studi ini dilakukan di Provinsi Jawa Timur, yaitu di 4 (empat) kota: Surabaya, Malang, Madiun dan Kediri, dengan alasan kota-kota tersebut merupakan kota-kota terbesar di Jawa Timur. Di kota besar, seperti di Surabaya, Malang, Madiun dan Kediri penggunaan mobile phones di kalangan penduduk di kota tersebut semakin meningkat, terutama di kalangan anak-anak Sekolah Dasar. Studi sebagaimana dilaporkan merupakan bagian dari Penelitian Terapan Unggulan Perguruan Tinggi (PTUPT/Kemenristek-Dikti) tahun 2020. Studi ini telah mewawancarai 500 siswa Sekolah Dasar, yakni para siswa Sekolah Dasar kelas 1 sampai dengan kelas 6. Kriteria responden yang digunakan adalah: (1) merupakan siswa yang sedang sekolah di SD Negeri maupun SD Swasta di lokasi penelitian; (2) memiliki gawai sendiri; dan (3) berlangganan internet di gawai yang dimilikinya. Data dikumpulkan dari kuesioner semi terstruktur yang menghasilkan data kuantitatif dan data kualitatif. Artikel ini disusun dari hasil wawancara indepth terhadap 50 siswa SD yang terpilih sebagai informan penelitian ini. Dalam penelitin ini, 50 siswa yang diwawancarai secara mendalam diambil dari 500 siswa SD yang disurvei, yang dari proses probing diketahui memiliki cerita yang menarik dan layak untuk didalami lebih lanjut. TABEL 1. INFORMAN PENELITIAN Kota/Kabupaten Asal Sekolah Jumlah Surabaya SD Negeri, SD Swasta Umum, SD Swasta Keagamaan, MI 20 Malang SD Negeri, SD Swasta Umum, SD Swasta Keagamaan, MI 10 Madiun SD Negeri, SD Swasta Umum, MI 10 Kediri SD Negeri, SD Swasta Umum 10 Jumlah 50 Siswa yang diwawancarai secara mendalam memiliki rentang usia antara 7 hingga 12 tahun. Mereka adalah siswa di jenjang Sekolah Dasar dari kelas I hingga Kelas VI. Semua informan berasal dari SD Negeri, SD Swasta Keagamaan, SD Swasta Umum, dan Madrasah Ibtidaiyah (MI). Di berbagai kota/kabupaten yang menjadi lokasi penelitian, umumnya anak-anak memang banyak yang bersekolah di SD Negeri yang dari segi biasa lebih terjangkau. Di daerah yang bukan kota besar seperti Surabaya, sebagian anak-anak umumnya juga biasa bersekolah di MI. Berbeda dengan kota besar Surabaya di mana anak-anak yang berasal dari keluarga yang secara ekonomi mapan cenderung lebih memilih bersekolah di SD Swasta Keagamaan yang favorit, di daerah anak-anak yang berasal dari keluarga yang biasa atau bahkan pas-pasan, mereka umumnya lebih memilih di SD Negeri atau di MI. Semua siswa yang diwawancarai umumnya telah terbiasa mengakses YouTube dan memanfaatkan media sosial WhatsApp Group sebagai sarana berkomunikasi dengan teman-temannya. Wawancara yang dilakukan lebih banyak menggali kebiasaan anak-anak menyebarkan informasi dalam WAG, khususnya konten-konten YouTube di kalangan anakanak SD dan bagaimana media sosial seperti WAG berperan sebagai ruang digital heterotopia di kalangan anak-anak SD.

Discussion

Bagi anak-anak urban yang merupakan bagian dari generasi milenial, salah satu kegiatan yang populer dilakukan anak-anak untuk mengisi waktu luang anak-anak adalah mengakses konten-konten YouTube (Rosen, 2010; Vernon, 2019). YouTube menjadi salah satu pilihan favorit anak-anak ketika mereka berselancar di dunia maya untuk menemukan berbagai konten yang menarik (Holland, 2016; TurViñes et al., 2018). Generasi yang familiar dengan perangkat teknologi portable (iPod, iTunes, iPhone dan jenis smartphone lainnya) ini memanfaatkan YouTube untuk mencari dan menikmati berbagai konten, mulai dari informasi entertainment hingga untuk memenuhi kebutuhan akademik pembelajaran (Moghavvemi et al., 2018). Bahkan saat ini, kontenkonten YouTube tersebut juga disebarkan dan dipertukarkan melalui WAG di kalangan anak-anak SD. A. WAG sebagai Media Penyebaran Konten YouTube Berbeda dengan televisi yang pilihannya terbatas, YouTube merupakan platform yang menyediakan dan menawarkan kesempatan bagi anak-anak untuk dapat menikmati konten yang dibagi oleh orang lain secara terbuka. YouTube dewasa ini adalah platform yang kaya konten dari proses berbagi informasi, kreativitas dan memberikan banyak ketersediaan informasi dan visualisasi apapun: enrich, diversity and unique (Zilka, 2018). Tidak mengherankan jika tidak hanya orang dewasa, bahkan anak-anak pun gemar mengakses YouTube untuk mengisi waktu luang mereka. Seperti yang dikemukakan Potter & Steemers (2017) bahwa internet dan YouTube telah menjadi bagian dari perkembangan teknologi informasi yang mengubah cara anak-anak mengkonsumsi televisi dengan menawarkan berbagai platform untuk mendapatkan beragam konten yang nyaris tidak terbatas. Selama ini, boleh dikata apa pun konten yang disukai dan dibutuhkan anak-anak, niscaya tersedia di YouTube. Konten YouTube tidak hanya yang bersifat menghibur dan menawarkan gosip seputar bintang idola, tetapi juga informasi lain yang berkaitan dengan kepentingan akademik, informasi berita aktual, dan lain sebagainya. Di YouTube, konten yang bisa diakses dan konten apa saja yang diisukai anak-anak boleh dikata nyaris tanpa batas. Apa pun video pendek yang mereka sukai dengan mudah bisa diakses dengan cara mengetik kata kunci di “search”, kemudian diklik melalui gadget, maka video pendek yang mereka inginkan pun segera bisa diperoleh. Melalui smartphone mereka, anak-anak dapat mencari konten YouTube yang sifatnya menghibur, dan dapat pula mencari konten informasi yang sifatnya akademis untuk kepentingan anak-anak mengerjakan tugas sekolah. Sejumlah informan menuturkan, dibandingkan perpustakaan sekolah yang koleksinya terbatas, mencari informasi apa pun di YouTube sangatlah mungkin dilakukan, dan dipastikan tersedia, termasuk yang berkaitan dengan tugas sekolah. Bagi anak-anak, YouTube adalah sumber informasi penting untuk mencari rujukan atau acuan ketika mengerjakan tugas sekolah. Sebagai mesin pencari informasi sejak 10 tahun lalu hingga saat ini Google menjadi sumber informasi yang populer dalam aktivitas akademik (He et al., 2011; Liyana & Noorhidawati, 2014; Rowlands et.al., 2008). Namun saat ini selain Google, YouTube juga merupakan sumber informasi akademik yang diandalkan di kalangan anak-anak yang bisa mereka dapatkan tautannya di WAG karena disebarkan oleh teman mereka. Karena merupakan sumber informasi yang diandalkan, maka ketika mereka menemukan konten akademik di YouTube yang berguna –anak-anak menyebarkannya kepada teman-teman mereka melalui WAG. Berbeda dengan generasi baby boomer yang lebih banyak menghabiskan waktu untuk menonton televisi, anak-anak urban biasanya lebih banyak menghabiskan waktu luang mereka untuk berselancar di dunia maya mencari informasi yang mereka butuhkan dan inginkan, terutama film-film pendek YouTube. Sejumlah informan yang diwawancarai menyatakan menonton film televisi umumnya membutuhkan waktu yang lumayan panjang, sekitar 2 jam –itu pun masih harus disisipi dengan tayangan iklan yang dinilai menganggu. Hal ini berbeda jika mereka menerima konten atau link YouTube dari teman mereka di WAG, maka Film-film YouTube yang durasinya lebih pendek yang langsung dapat mereka nikmati adalah daya tarik utama bagi anakanak. Tidak jarang sebagian anak mengaku kecanduan untuk terus mengakses YouTube melalui smartphone: mencari berbagai informasi yang mereka butuhkan dan sukai, terutama ketika mereka telah mengadopsi nilai nilai pop-culture yang ada di dalamnya (Matassi et al., 2019; Spracklen & Fox, 2015; Zhao et al., 2008). Konten pop-culture inipun setelah anak-anak dapatkan juga dibagikan dalam WAG sehingga dapat dinikmati oleh teman-teman anggota WAG. “Enaknya lihat YouTube itu, kita mau cari apapun ada. Mau lihat lagu baru, ada. Mau lihat game baru, ada. Pokoknya semua ada. Aku sendiri suka males lihat film di televisi. Soalnya ngantuk kalau kelamaan. Enakkan lihat YouTube. Yang seru-seru juga ada. Kadang aku lihat video tabrakan mobil atau tawuran. Semua ada…” tutur Rendhy (10 tahun), salah seorang siswa SD Swasta di Surabaya. Informasi apa pun, mulai dari thriller film baru, lagu-lagu terbaru, gosip bintang idolanya, berita yang sedang trending, informasi ilmiah dan lain sebagainya, semua dengan mudah dicari di YouTube. Di kalangan anak-anak yang diteliti, kalau dibandingkan video yang lain, video pendek yang seringkali dicari dan disebarkan anak-anak melalui WAG adalah video tutorial game. Lazimnya anakanak, mereka kebanyakan memang menyukai bermain game di kala senggang atau sedang bersantai. Video tutorial tentang game-game terbaru atau game tertentu yang mereka sukai, biasanya mereka cari di YouTube untuk kemudian dapat dipraktikkan. Bagi anak-anak, salah satu aktivitas mereka mengisi waktu senggang adalah bermain game. Dengan mengakses tutorial game, mereka bukan saja dapat mengikuti perkembangan terbaru dari munculnya game-game yang populer, tetapi juga sekaligus menjadi sumber informasi yang dapat dijadikan rujukan mempelajari cara bermain yang memungkinkan anak-anak makin asyik dan menahlukkan sebuah game. Sejumlah informan menuturkan, ada kebanggaan tersendiri di benak mereka jika mereka bisa memenangkan sebuah game, terlebih game yang dimainkan secara berkelompok. Sepertinya tujuan mereka membagi konten tutorial adalah ingin menunjukkan bahwa kesuksesan mereka karena telah memenangkan game. Di kalangan siswa, selain video tutorial tentang game, salah satu tayangan di YouTube yang mereka sukai dan sebarkan di WAG adalah video musik yang menampilkan penyanyi idola mereka. Tidak sekadar aksi panggung idolanya, di YouTube sejumlah siswa menuturkan mereka juga bisa menelusur berbagai informasi kehidupan sehari-hari bintang idolanya, tempat tinggalnya, kegemarannya dan berbagai moment lain yang menarik. Salah seorang informan yang merupakan penggemar K-Pop menuturkan ia biasanya menghabiskan banyak waktu untuk mencari penampilan dan lagu baru BTS –boysband terkenal dari Korea Selatan yang sekarang sedang naik daun. Anak perempuan ini mengaku penggemar berat BTS. Semua lagu BTS di YouTube sudah ia tonton, dan ia mengaku menyukai menonton aksi BTS di YouTube. Sementara itu, informan lain mengaku ia adalah penggemar BlackPink. Group band yang menampilkan sekelompok penyanyi perempuan yang atraktif ini memang menjadi idola di kalangan sebagian anak-anak, karena penampilan mereka yang menarik dan lagu-lagu mereka yang populer di YouTube. Di YouTube, penampilan BlackPink dalam sebuah video rata-rata sudah ditonton puluhan bahkan ratusan juta penggemarnya. Aksi empat dara dari Korea Selatan yang atraktif dengan lagu-lagu yang rancak ini membuat BlackPink memiliki penggemar yang setia –termasuk anak-anak urban yang diteliti. Oleh karena itu ketika mendapatkan video-video ini dari WAG, maka anak-anak sangat menikmati sebagai tontonan menarik. Studi ini menemukan memang tidak semua anakanak urban menjadi follower dan menyukai YouTuber yang populer. Namun, studi ini menemukan sejumlah siswa SD yang menjadi informan penelitian ini ternyata adalah penggemar YouTuber, seperti Deddy Corbuzier, Atta Halilintar, Ria Ricis, Baim Wong, dan lain-lain. Sejumlah informan mengaku mereka sering mencari video-video pendek dari Channel YouTuber terkenal yang menjadi favoritnya dan membagikannya dalam WAG. Bagi sebagian anak, video YouTuber yang terkenal menarik untuk ditonton, karena biasanya seru, lucu dan menarik. Video YouTuber yang sedang menjadi trending topic biasanya akan dicari dan dilihat –sekadar untuk tahu dan mencari hiburan. Ketika di dunia hiburan sedang ramai membicarakan lagu Lathi, misalnya –yang menampilkan Weird Genius feat Sara Fajira, seorang penyanyi gadis muda asal Surabaya–, sejumlah informan mengaku mencari penampilan mereka di YouTube, termasuk menonton wawancara Sara Fajira dengan Deddy Corbuzier. Salah seorang informan menuturkan ia sering menonton Deddy Corbuzier karena acaranya yang sering mewawancarai artisartis yang sedang populer. Tidak sekadar hanya menjadi penikmat pasif konten-konten YouTube, studi ini menemukan di kalangan anak urban mereka juga terbiasa menbagi konten YouTube yang mereka akses ke temantemannya melalui WAG. Seperti juga konten YouTube yang ditelusuri, konten YouTube yang seringkali disebar anak-anak di WAG, sebagian besar adalah video tutorial game, video YouTuber terkenal, video K-Pop, video anime dan video yang tengah trending di kalangan anak-anak. Berbagai video dari YouTube ini disebar siswa ke berbagai WAG di mereka menjadi anggotanya. Tidak hanya video yang sifatnya hiburan, sejumlah informan menuturkan mereka juga kerap membagi video YouTube ke WAG yang berkaitan dengan tugas sekolah. Biasanya pada saat sedang mengerjakan tugas dari guru di sekolah, anak-anak tak jarang menelusur video tentang kerajinan tangan, kerja laboratorium dan lain sebagainya, untuk kemudian dibagikan kepada teman-temannya di sekolah. “Temen-temen aku sukanya bagi-bagi video musik. Kalau pas ada tugas sekolah, teman-teman kadang ya menshare video soal prakarya. Kapan itu aku ngeshare video kerajinan tangan. Soalnya ada tugas dari guru buat kerajinan tangan….”, tutur Sherin (11 tahun), siswa SD Negeri di Malang. Dibandingkan video yang sifatnya pleasure, video akademik dari YouTube memang diakui tidak banyak yang dibagikan anak-anak ke teman-temannya. Banyak anak-anak mengaku lebih menyukai tutorial game yang mereka akses dari YouTube dan kemudian mereka sebarkan di WAG, karena selain bisa dijadikan referensi untuk bermain game, juga anakanak merasa hal itu seru. Salah seorang informan menuturkan ia senang menonton YouTube Gatcha Life. Gatcha Life ialah kelompok dari beberapa jenis permainan yang lucu, dari mulai membuat sendiri ciri-ciri bergaya anime, membuat adegan bagus dalam studio, main mini game, sampai berhubungan dengan karakter-karakter lain. Alasan menyukai Gatcha Life adalah karena seru, bisa berimajinasi, dan musiknya enak didengar. Informan ini juga mengatakan sering terbawa suasana saat menonton Gatcha Life, bisa sampai menangis jika ceritanya sad ending. Di kalangan anak-anak urban, studi ini menemukan video YouTube yang mereka bagikan melalui WAG, secara garis besar bisa dikategorikan dalam dua kelompok. Pertama, adalah video YouTube yang berkaitan dengan aktivitas akademik. Video tentang kerajinan tangan dan berbagai ide menarik tentang bagaimana membuat kerajinan tangan dari berbagai bahan natural dan lain-lain adalah salah satu video akademik yang paling banyak diakses dan disebarkan anak-anak ke WAG. Kedua, konten YouTube yang merupakan digital leisure, seperti konten YouTube yang unik dan spektakuler, tutorial game dan lain sebagainya, yang biasanya dibagikan anak-anak ke WAG untuk meramaikan suasana dan membangun interaksi sosial dengan temantemannya. Bagi anak-anak berbagi konten yang menghibur dimaksudkan untuk sekadar meramaikan suasana WAG, dan mereka melakukan itu di saat terbebas dari segala macam pekerjaan dan tuntutan sosial yang ada di sekitarnya (Carnicelli et al., 2016; Grimley, 2012; Spracklen & Fox, 2015). Variabilitas dan kebebasan mengakses informasi berbagai video pendek dalam YouTube adalah kunci untuk memahami arti penting leisure, dan ini berlaku untuk menjelaskan kenapa anak-anak menyukai dan terbiasa menyebarkan video pendek dari YouTube kepada teman-temannya (Harris & Johns, 2020; Sánchez-Navarro & Aranda, 2013). B. WAG sebagai Digital heterotopia Gawai atau mobile phones dengan berbagai kelebihan yang dimiliki, terutama fungsi-fungsi digital di dalamnya, semakin mudah diadopsi dan digunakan oleh anak-anak (Mascheroni & Ólafsson, 2016; Tsai et al., 2015). Di kalangan anak-anak, smartphone dan tablet merupakan teknologi yang meningkat pemanfaatannya karena di mana dan kapan saja anak-anak bisa menggunakannya dengan sangat mudah. Gawai menempati posisi penting dalam pertumbuhan dan perkembangan anak-anak di jaman digital dan menjadi bagian dari budaya digital yang mereka bangun (Blair et al., 2015; Christensen et al., 2011; Haddon, 2013; Livingstone, 2002). Bagi anak-anak, aktivitas menelusur dan saling berbagi informasi melalui WAG tidak hanya merupakan implikasi dari perkembangan sharing culture, tetapi juga menjadi salah satu cara bagi mereka untuk membangun relasi sosial dan identitas digital. Merujuk pada Foucault, maka WAG merupakan ruang digital heterotopia (Foucault, 1967). Ketika anak-anak selama pandemi Covid-19 harus menjalani kebijakan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) dan harus belajar di rumah, pola interaksi yang berkembang dan dikembangkan anakanak pun mulai mengalami pergeseran. Interaksi tatap muka tidak lagi dominan, karena ruang gerak dan mobilitas anak-anak memang menjadi lebih terbatas akibat efek pandemi Covid-19. Selama 7-8 bulan terakhir, anak-anak tidak lagi bisa bertemu dengan teman-temannya di sekolah, karena proses pembelajaran jarak jauh yang diberlakukan untuk mengeliminasi cluster penularan Covid-19 di lingkungan sekolah. Meski sejumlah informan mengaku bahwa mereka masih relatif bebas untuk bertemu dengan teman-temannya secara offline, tetapi diakui intensitas dan durasi waktunya jauh berkurang bila dibandingkan tahun lalu sebelum ada pandemi Covid-19. Saat ini, ketika protokol kesehatan diberlakukan lebih ketat, maka salah satu alternatif ruang berkomunikasi yang banyak dimanfaatkan anak-anak adalah melalui WAG. Bagi anak-anak urban, WAG menjadi media sosial yang paling populer sebagai media untuk tetap dapat saling menyapa dan berkirim kabar dengan teman-teman mereka. Bagi anak-anak urban, WhatsApp/WAG adalah aplikasi atau platform sosial yang populer. Media sosial ini boleh dikata telah menjadi platform yang dipilih anak-anak untuk tetap dapat berkomunikasi dengan teman-temannya –walau pun mereka tidak bisa bertemu langsung di sekolah. Sejumlah informan menuturkan mereka selama ini biasanya menggunakan WAG untuk chatting dengan seluruh temannya. Di waktu senggang, ketika mereka tidak sedang belajar, anak-anak biasanya memang memanfaatkan waktu luang untuk bermain smartphone dan saling berkirim khabar dengan teman-temannya melalui WAG. Dengan didukung kemudahan mengakses dan kuota pulsa yang memungkinkan anak-anak berkomunikasi melalui WAG, maka yang terjadi bukan hanya pendalaman intensitas interaksi di antara sesama anak, tetapi juga muncul ekspresi-ekspresi sosial, identitas sosial yang dikembangkan melalui WAG. Seperti dikatakan Aharony & Zion (2019), kehadiran WhatsApp dalam kenyataan membantu perkembangan komunikasi dan pendalaman interaksi dalam kelompok. Adanya aksesibilitas dan tingkat kemudahan penggunaan serta percepatan proses adaptasi oleh para pelaku atau pengguna dari ruang-ruang digital tersebut menyebabkan popularitas media sosial seperti WhatsApp terus meningkat (Amado Puentes et al., 2020). Dibandingkan orang dewasa, anak-anak tampaknya merupakan fokus sekaligus menjadi subjek sentral yang mendominasi ruang-ruang digital seperti WhatsApp/WAG. Di ruang digital, anak-anak bukan hanya bebas berkomunikasi, berkirim informasi, bertukar konten YouTube dan lain-lain, tetapi di media sosial ini anak-anak juga bisa mengekspresikan identitas sosialnya secara bebas. Justru ketika anak-anak berkomunikasi melalui WAG maka tidak ada lagi batasan soal ruang dan waktu. Anak-anak dapat dengan bebas berbagi informasi apa pun melalui WAG, sekaligus memanfaatkan platform media sosial ini untuk memperlihatkan keberadaan mereka di hadapan teman-temannya. Lebih dari sekadar ruang akademik untuk bertukar informasi tentang pelajaran atau tugas sekolah, bagi anak-anak WAG tampaknya merupakan ruang membangun interaksi sosial dan ruang representasi diri. Sejumlah informan menuturkan, bahwa di WAG mereka bisa dengan bebas berekspresi memanfaatkan platform media sosial ini tidak hanya untuk berkomunikasi, tetapi juga untuk menunjukkan siapa diri mereka di hadapan teman di WAG. Di hari-hari tertentu, mereka mungkin saja memanfaatkan WAG untuk media berdiskusi tugas-tugas dari guru yang harus mereka kerjakan. Berbagi konten YouTube tentang kerajinan tangan yang menarik adalah salah satu hal yang lazim dilakukan anak-anak. Namun, di lain hari anak-anak dengan bebas dapat memanfaatkan WAG untuk sepenuhnya memenuhi hasrat dan kebutuhan mereka berekreasi. Mengembangkan aktivitas pleasure, saling berbagi konten YouTube yang menghibur sesuai selera anakanak adalah aktivitas lain yang biasa dilakukan anakanak tatkala mereka sedang santai. Salah seorang informan menuturkan, ia biasanya membagi lagulagu dari penyanyi idolanya kepada teman untuk mengisi kekosongan. Konten-konten YouTube yang dinilai spektakuler –seperti kasus tabrakan atau kecelakaan yang mengerikan-- juga sering dibagi ke WAG. Alasan anak-anak membagi konten yang mereka nilai menarik bukan sekadar agar teman mereka tahu kontan itu, tetapi di balik itu ternyata ada juga motif untuk menunjukkan bahwa mereka memiliki konten yang termasuk spektakuler –yang di balik itu diharapkan akan menimbulkan apresiasi dari teman-temannya. “Aku kadang membagi video lagu-lagu baru. Kadang juga membagikan video penemuan mobil terbang. Pernah juga video kecelakaan. Pokoknya kalau ada yang bagus, aku share ke teman-teman. Teman-teman aku sering belum tahu. Ya seneng aja kalau teman juga seneng…….”, tutur Soni (9 tahun), siswa SD dari Kediri. Bagi para informan, WAG tidak ubahnya seperti digital heterotopia di mana anak-anak dapat mengkreasi ruang baru (crate new spaces) untuk memperlihat keberadaan dan identitas sosialnya, dan sekaligus tidak jarang menjadi representasi dari pertarungan (the battle of representation) identitas sosial anak untuk meraih simpati sekaligus pengakuan sosial dari teman-temannya di dunia maya. Anak-anak yang sehari-hari harus belajar dan berkutat dengan tugas sekolah, ketika mereka memiliki waktu luang, maka WAG lantas menjadi ruang-ruang leisure yang dibangun anak-anak itu sendiri untuk sejenak keluar dari kejenuhan dan menyiasati keterbatasan waktu dan tempat untuk bermain selama pada pandemi Covid-19.

Conclusion

Artikel ini memperlihatkan bahwa WAG di kalangan anak-anak ternyata tidak hanya dipergunakan sebagai sarana menelusur kontenkonten YouTube yang menarik, yang dapat dinikmati untuk mengisi waktu luang mereka, tetapi juga menjadi media untuk penyebarkan konten-konten tersebut kepada teman-teman peer grupnya yang menjadi anggota WAG. Praktik penyebaran kontenkonten YouTube bertujuan untuk menjalin relasi sosial dengan teman-teman dalam WAG. Kehadiran internet dan media sosial WAG menjadi ruang bermain bagi anak di dunia maya. Video pendek yang nyaris tidak terbatas jumlahnya dan dapat diakses anak-anak di platform digital seperti YouTube adalah salah satu daya tarik yang kuat bagi anak-anak –yang membuat mereka betah memainkan smartphone hingga berjam-jam setiap harinya dan sekaligus membagikan video-video tersebut dalam WAG. Di kalangan anak-anak, mengakses YouTube dan kemudian membagikannya melalui media sosial seperti WhatsApp adalah salah satu aktivitas yang kerapkali dilakukan anak-anak ketika mengisi waktu luang. Dari hasil kajian yang dilakukan ditemukan: Pertama, siswa SD umumnya tidak hanya memanfaatkan WAG sebagai sumber informasi untuk menyebarkan dan menemukan konten-konten YouTube yang berkaitan dengan tugas-tugas akademik, tetapi juga menjadikan WAG sebagai ruang untuk digital leisure. Sebagai iGeneration, siswa SD menelusur dunia maya untuk menemukan konten YouTube yang unik dan spektakuler, serta cara memainkan game yang kemudian disebarkan dalam WAG ke teman-teman mereka. Kedua, bagi siswa SD, representasi WAG tidak hanya sebagai ruang untuk memberikan sumber informasi akademik dan bertukar pendapat tentang tugas sekolah, tetapi juga sebagai ruang interaksi sosial, ruang representasi diri dan ruang membangun identitas diri. WAG di kalangan anak-anak SD merupakan ruang digital heterotopia karena pertama, dalam WAG mereka bisa memanfaatkannya dengan leluasa sebagai ruang digital bagi penyebaran berbagai macam kontenkonten YouTube. Kedua, WAG bagi anak-anak SD sebagai sumber informasi karena memungkinkan mereka mendapatkan informasi akademik dari konten YouTube yang disebarkan di WAG. Ketiga, selain itu WAG juga menjadi ruang digital di mana mereka dapat menengisi waktu luang untuk menikmati videovideo YouTube yang dibagikan teman-temannya dalam WAG. Keempat, dengan menyebarkan, memanfaatkan dan menikmati konten YouTube dalam WAG, mereka mendapatkan tiket masuk dalam lingkungan pergaulan, kebanggaan sekaligus pengakuan sosial dari lingkungan digital peergroupnya.