IMPLEMENTASI LITERASI INFORMASI DI SEKOLAH
N/A
Abstract
Lately the term information literacy is often discussed this be awareness needs to be appreciated. Even in Indonesia it can said to be late, but considering the importance of the benefits of information for the development of the awareness that literacy should be developed. Information literacy is defined as one’s knowledge of the needs information, the ability to identify, seek, evaluate, organize and effectively create, use and communicate information for solving problems. Those Knowledges are a prerequisite to live in an information society and part of one’s basic right to lifdlong learning. In a number of libraries that have implemented information literacy, some progress has been achieved. Indeed it is still limited in higher education, so that information literacy programs in schools should be encouraged and realized. This literacy can be done through various programs: through user education during new student orientation, incidental activity, or to integrate IL into the school curriculum. To realize this agenda all librarians should continue to learn and develop their competences. Without it, they are impossible to carry out information literacy at the school.
Keywords:
information literacy
· school librarian
Introduction
Hari-hari ini kita dikelilingi oleh ledakan informasi yang terus meluas dalam semua format. Tidak semua informasi yang hadir itu obyektif, sebagian bisa dipertanggungjawabkan, up to date, sebagian bias, kadaluarsa, menyesatkan dan salah. Jumlah itu setiap hari terus berkembang, Jenis dan tipe teknologi untuk mengakses, menyimpan, menciptakan informasi juga terus berkembang.? Jika demikian kondisinya maka cpa gunanya informasi itu melimpah sementara tidak membantu kehidupan kita menjadi lebih baik, tidak menjadikan pekerjaan semakin terbantu, tidak menjadikan proses belajar semakin berkualitas, dan tidak menjadikan setiap orang semakin “pintar”. Di sinilah pentingnya skill agar informasi yang melimpah menjadi berkah bagi kehidupan ini dan kehidupan di masa-masa mendatang. Skill itu dikenal dengan information literacy. Sekalipun literasi inforrasi bukan sesuatu yang baru, namun wacananya belum populer i Indonesia. * Kalau kita coba menggoogling istilah “literasi infcrmasi” ini di google Indonesia, maka cantuman yang ditemukan tidak sebanyak pendidikan karakter, RSBI dan lainnya. Padahal di negara lain literasi informasi bukan lagi sebagai ‘wacana akan tetapi sudah menjadi sebuah kebijakan. Di Indonesia literasi informasi semakin mencuat kepermukaan berbarengan dengan fenomena buta aksara dan rendahnya minat baca yang sudah menjadi masalah nasional, sehingga mendapat pemberitaan oleh media massa (media exposure) yang sangat kuat tahun ini. Literasi yang berarti nrelek, atau mampu membaca menjadi senjata yang dahsyat untuk mengubah kondisi, status social suatu bangsa. Membaca tidak hinya dipahami memaknai rangkaian huruf, kata, frasa, dan kalimat, namun juga “membaca” dalam arti Jika memaknai rangkaian peristiwa kehidupan multi-dimensi. mendidik berarti mengajarkan bagaimana memaknai seluruh pengalaman hidup. maka mendidik berarti mengajarkan bagaimana caranya memba: a. Bagaimana masyarak.t Indonesia tidak membaca (secara literer) bisa dilihat dari jum ah buku baru yang terbit di negeri ini : 8000 judul/tahun. Bandingk :n dengan Malaysia yang menerbitkan 15000 judul/tahun, Vietnam 45.000 judul/tahun, sementara Inggris menerbitkan 100.000 judul/tahun ! Jumlah judul buku baru yang ditulis, dan diterbitkan, kemudian dibaca oleh sebuah masyarakat menunjukkan kapasitasnya menggagas, dan melahirkan gagasangagasan baru. Kesimpulannya jelas: bangsa miskin adalah bangsa yang miskin gagasan. Pendidikan yang memperkaya gagasan dengan demikian merupakan strategi terpenting memerangi kemiskinan. Sekalipun demikian akibat intervensi teknologi televisi, bangsa ini melompat dari budaya tutur, ke budaya menonton. Kita tidak sempat membangun budaya membaca. Banyak orang membeli produk-produk teknologi terbaru, namun tidak pernah membaca manual produk-produk tersebut. Banyak instruksi tertulis disebarkan (seperti “dilarang merokok”, atau “dilarang membuang sampah disembarang tempat”) tidak “terbaca” sama sekali. Banyak Juklak, dan Juknis yang tidak dibaca, tidak dipahami, lalu tidak terimplementasikan dengan baik. Bahkan akibat literasi informasi tidak berjalan baik, banyak masyarakat yang semakin tidak bisa membaca. Coba kita lihat di lampu-lampu lalu lintas, “belok kiri mengikuti” isyarat lampu lalu lintas” banyak yang jalan terus. Dalam konteks pembelajaran di sekolah, literasi informasi menjadikan para siswa memiliki bekal belajar mandiri, menjadikan pekerja semakin terbantu memecahkan pekerjaan-pekerjaan mereka. Keahlian seperti ini bisa mulai ditanamkan kepada para siswa sejak usia dini, bahkan di TK pun IL bisa mulai diperkenalkan, sesuai dengan usia dan psikis anak, sehingga saat anak-anak mulai masuk SMP ketrampilan-ketrampilan dasar IL sudah dikuasai.* Akan tetapi disitulah letak masalahnya, jangankan murid SMP, mahasiswa, guru dan dosen yang setiap hari bergelut dengan akademik banyak yang belum memiliki keahlian ini. Hal ini bisa diperhatikan dalam hal minimnya jumlah terbitan jurnal yang bisa bertahan lama, akibat miniranya penulis, dan bahkan sedikitnya kualitas tulisan. B.Definisi Literasi Informasi Information literacy adalah kemampuan seseorang dalam mencari, mengoleksi, men;evaluasi atau menginterpretasikan, menggunakan, dan mengkcmunikasikan informasi dari berbagai sumber secara efektif. Komisi Nasional Ilmu I’erpustakaan dan Informasi Amerika Serikat menyatakan literasi informasi adalah pengetahuan tentang kebutuhan infomasi seseorang, kemampuan mengidentifikasi, mencari, mengevaluasi, mengorganisir dan menciptakan secara efektif, menggunakan dan engkomunikasikan informasi untuk memecahkan masalah-masalah yang dihadapi; dan pengetahuanpengetahuan tersebut merjadi prasyarat untuk hidup dalam masyarakat informasi dan bagian dari hak dasar seseorang untuk belajar seumur hidup.” (U National Commission on Library and Information Science, 2003). Hampir sama dengan definisi di atas Asosiasi Perpustakaan Australiadan Amerikamenyatakanbahwamenjadi melek informasi berarti seseorang harus rmampu mengenali kapan informasi itu dibutuhkan, dan mem-miliki kemampuan untuk mencari, mengevaluasi, dan menggunakan informasi yang dibutuhkan secara efektif.” (American Lilrary Association, 1998) Dengan demikian definisi di atas mengimplikasikan sejumlah ketrampilan atau kompetensi yang mensyaratkan seseorang bisa dianggap sebagai melek informasi (information literate), yaitu: 1. Pengetahuan tentang sumber informasi yang tersedia Memahami kapan, berapa jumlah, jenis sumber informasi, kelemahan-kelemahan yang menyertainya (misalnya waktu, format, kemuaatakhiran akses); mengenali bahwa informasi tersedia dalam berbaga: format baik di dalam bentuk fisik maupun virtual, bahkan orang lain atau kawan adalah sumber informasi. Misalnya: Siswa SMP beljar saat belajar geografi, guru memberi beberapa soal, 1) Dimana letak atau arah menuju “Pantai Telengria Pacitan”? Siswa tersebut kemudian berkonsultasi kepada pustakawan, pustakawan menganalisis pertanyaan tersebut dan menyimpulkan bahwa pertanyaan itu bisa dijawab dengan “Bahan Rujukan Sumber Geografi”, atau karena pustakawannya mengikuti perkembangan teknologi sekarang ada sumber informasi yang lebih cepat, misalnya http://maps. google.co.id . Bagaimana mendapatkannya Mengetahui dimana sumber-sumber yang akan diakses, bagaimanamengaksesnya, kapanbisadigunakan, apaperbedaan antar satu media dengan media lainnya. Kemampuan untuk mencari sumber yang relevan secara efektif dan mamahami informasi yang diperoleh secara relevan. Strategi penelusuran perlu disesuaikan dengan sumber yang digunakan, sehingga hasil yang diperoleh sesuai dengan yang diinginkan. Pengguna informasi perlu memahami hasil pencarian —karena bisa jadi sangat banyak dan bisa jadi sangat sedikit—dan paham kapan menghentikan pencarian. Mencari beberapa sumber * ¢ * * ¢ Menggunakan indeks dan abstrak jurnal Berkomunikasi dengan email, facebook, mailing list, bulletin, dil Menggunakan web, menggunakan pencarian advanced search Memahami dan menggunakan operator “Boolean” Memahami ranking pencarian Dalam kasus Telengria, pertanyaan Pacitan”. tentang arah menuju “Pantai Kemampuan memanfaatkan sumbersumber informasi seorang pustakwan sedang diuji, jika ia jeli di samping melihat Peta Propinsi Jawa Timur, dan juga bisa langsung membuka http://maps.google.co.id. Dalam kasus lain untuk mendapatkan artikel tentang Penelitian Tindakan Kelas, ada sarana yang khusus menunjukkan di mana lokasi artikel tentang “PTK”, yaitu indeks jurnal ilmiah. Indeks tersebut ada dalam bentuk tercetak ada yang dalam on-line. Misalnya www.e-journal org. Sesekali kita perlu menccba bagaimana menggunakan advanced search (penelusuran lanitan), sarana tersebut mengarahkan kita untuk mampu menc ri lebih tepat. Sekalipun demikian seccorang harus hati-hati tidak semua sarana penelusuran di internet menawarkan fasilitas yang sama. Web site perusa.aan, laporan penelitian pasar atau website Badan Pusat Sratistik setiap Negara menawarkan pandangan-pandangan yang berbeda. Akses terhadap sumbersumber tersebut bervaricsi, tergantung pada siapa dan dimana anda berada. Oleh sebab itu anak usia 3 tahun harus didampingi oleh orang tuanya untuk memilih tuku, mengakses internet, ada aturan bersama untuk menga<ses warnet, faceebook, mengakses komputer di rumah sendiri atau di rumah temannya. Di sisi lain saluran yang sama bisa diakses oleh anak yang usianya sudah dewasa. Sumber informasi apa saja memiliki bias, baik budaya politik, industri, nasional atau lainnya. Kita harus jeli melihat organisasi apa di balik sumber informasi tersebut 3. Keharusan untuk mengevaluasi hasil yang telah diperoleh Kemampun ini adalah kemampuan untuk melihat otensitas, akurasi, kemutaakhiran. dan bias informasi, juga mampu mengevaluasi sarana-sirana pencarian yang digunakan sehingga tidak mengha-ilkan pencarian yang menyesatkan. Sumber yang digunakan - dak hanyabisa menjawab pertanyaan, tetapi juga bisa dipercay 1. Beberapa hal yang bisa dilakukan: a. b. c. Perhatikan latar belakang keilmuan pengarang buku, editor, penerbit Bisa memanfaatkan hasil pencarian untuk kepentingan studi, penelitian, pek-rjaan Seorang mengelola pustakawan “bahan yang ‘ujukan” telah akan belajar bagaimana dengan mudah bisa melakukan pekerjaarn ini. Catatan: bahasa Misalkan informasi yang dibutuhkan telah ditemukan tetapi dalam Asing, bagaimana memanfaatkannya, bisa menggunakan transtool, googletraslate, atau kalau diperlukan software untuk membacanya pengguna harus tahu bagaimana menggunakan 4. software tersebut, dan memahami edisi terbarunya. Etika dan tanggungjawab pemanfaatan sumber informasi Mengetahui kenapa infomasi digunakan harus dimanfaatkan dengan cara-cara yang etis, bertanggungjawab, tidak subyektif, apriori, bahkan mencoba menguraikan secara seimbang. Termasuk dalam hal ini, hak kekayaan intelektual, plagiarism, kebebasaan informasi, etika dan tata krama lembaga. 5. 6. C. Bagaimana mengkomunikasikan atau berbagi tentang temuantemuan yang telah didapat Kemampuan untuk menyebarkan atau mengkomunikasikan informasi dalam berbagai saluran komunikasi, tulis, lisan, web, dll., Memahami pola-pola tulisan, mis laporan, esai, presentasi. Memahami model-model pengutipan (footnote, body note, end note), research telah termasuk software sitasi Mandeley*citation, Action Bagaimana mengatur temuan-temuan tersebut® Mengetahui bagaimana menyimpan dan mengelola infomasi yang ditemukan dengan cara yang paling efektif. Perhatikan cara penyimpanan dokumen yang mudah diakses, misalnya manajemen folder atau disimpan dengan menggunakan software khusus (data base). Perhatikan dengan on going management, bahwa posisi anda tidak selamanya di tempat yang, sama, sehingga harus bisa dilanjutkan oleh orang lain. Peran Perpustakaan dalam Literasi Informasi Perpustakaan—dalam arti sesungguhnya—memiliki sumber daya informasi yang luar biasa untuk mengembangkan literasi informasi. Kalau kita kembali pada definisi perpustakaan sebagai suatu sistem informasi vang terdiri dari kegiatan-kegiatan pengumpul, pengidentifika:ian, pengaturan/ penyimpanan dalam pelayanan informasi,’ mak.gperpustakaan sebenarnya telah memiliki modal yang sangat besar untuk mendorong terlaksananya literasi informasi, sehingge mestinya literasi informasi menjadi bagian yang tak terpisahkan dari sebuah perpustakaan. Coba kalau kita perhatikan apa yang harus dikoleksi oleh perpustakaan, terjadi trend yang menggembirakan. Misalnya format koleksi sudah tidak lagi dalam bentuk “tercetak” tetapi sudah dalam bentuk digital. Sistem informasi perpustakaan tidak lagi dalam bentuk manual (tradisional) tetapi tetapi ter ntegrasi.® Perhatikan pergeseran frend perpustakaan dari tradisior 2l menjadi perpustakaan digital.” Pergeseran tersebut mensyara kan pustakawan untuk terus belajar, sehingga ia mampu mengikuti trend dan perkembangan yang ada. D. Tujuan Literasi Informasi Dalam dunia pendidilan kemampuan literasi informasi merupakan kompetensi yang cangat perlu untuk dimiliki oleh setiap peserta didik. Sering kita mendengar pribahasa yang mengatakan “jangan beri ikan, berilah pancingnya”. Kemampuan literasi informasi adalah “pancing” bagi sang murid supaya ia dapat belajar mandiri (students’ freedom 1o learn). Peserta didik akan diajarkan pada sebuah metode untuk menelusuri informasi dari berbagai sumber informasi yang terus berkembang. Karena tidak akan ada seorang pun pada zaman sekarang ini yang mampu untuk mengikuti semua inform:si yang ada. Berdasarkan catatan menunjukkan bahwa sekarang ini perkantoran saja menghasilkan 2,7 miliar dokumen pertahun dan satu juta publikasi diterbitkan setiap tahun. Oleh karenanya, liter:si informasi merupakan bekal yang sangat berharga untuk tercapainya pembelajaran seumur hidup. Juga sekarang ini kita—men rut Alfin Toefler sedang memasuki era informasi atau “gelombang ketiga” dalam peradaban manusia. Di mana informasi menjadi komoditas yang setiap hari diperebutkan dalam pentas pertarungan global ini. Siapa yang dapat menguasai informasi dialah yang akan bertahan hidup, dan kuncinya adalah literasi informasi. Literasi informasi adalah sebuah keniscayaan Zaman. Implementasi IL di Perpustakaan Sekolah Program literasi informasi di sekolah bisa diwujudkan dalam beberapa kegiatan di antaranya: 1. 2. Orientasi Perpustakaan bagi siswa baru disetiap ajaran baru Di sekolah setiap awal ajaran baru selalu diselenggarakan “Masa Orientasi Siswa Baru”, selama ini perpustakaan tidap pernah diberi waktu untuk menyampaikan perihal fasilitas, layanan, sarara penelusuran koleksi (katalog, indeks, abstrak,) dan kegiatan apa saja yang bisa diikuti oleh para siswa baru di perpustakaan—bimbingan baca, bimbingan karya tulis ilmiah, dll. Jika demikian halnya, perlu dipikirkan bagaimana perpustakaan bisa ikut serta dalam kegiatan tersebut—dengan membuat proposal dan meyakinkan kepala sekolah bahwa kegiatan orientasi itu penting. Jika pengenalan perpustakaan disampaikan sejak dini, disertai dengan metode/cara-cara penelusuran, minat siswa untuk menjadikan perpustakaan sebagai mitra belajar semakin tinggi, pembelajaran di sekolah akan semakin hidup. Bahkan jika kemandirian dan kreatifitas siswa untuk belajar mandiri terus diperkenalkan, diasah dan didukung dengan sarana-sarana penunjang pembelajaran keingintahuan (curiosity), kreatifitas, dan minat mereka untuk belajar dan menuangkan apa yang telah mereka pelajari akan semakin meningkat. Inilah diantara pentingnya implementasi IL di awal tahun ajaran baru, kesan bahwa perpustakaan itu penting, menyenangkan telah dikenalkan sejak awal. Kegiatan Insidental Menyelenggarakan pendidikan/pelatihan mengenai peng- gunaan alat-alat temu kembali, seperti katalog dan bibiliografi, informasi atau ”“gelombang ketiga” dalam peradaban manusia. Di mana informasi menjadi komoditas yang setiap hari diperebutkan dalam pentas pertarungan global ini. Siapa yang dapat menguasai informasi dialah yang akan bertahan hidup, dan kuncinya adalah literasi Zaman. informasi. Literasi informasi adalah sebuah keniscayaan Implementasi IL di Perpustakaan Sekolah Program literasi informasi di sekolah bisa diwujudkan dalam beberapa kegiatan di antaranya: 1. 2. Orientasi Perpustakaan bagi siswa baru disetiap ajaran baru Di sekolah setiap awal ajaran baru selalu diselenggarakan “Masa Orientasi Siswa Baru”, selama ini perpustakaan tidap pernah diberi waktu untuk menyampaikan perihal fasilitas, layanan, sarara penelusuran koleksi (katalog, indeks, abstrak,) dan kegiatan apa saja yang bisa diikuti oleh para siswa baru di perpustakaan—bimbingan baca, bimbingan karya tulis ilmiah, dil. Jika demikian halnya, perlu dipikirkan bagaimana perpustakaan bisa ikut serta dalam kegiatan tersebut—dengan membuat proposal dan meyakinkan kepala sekolah bahwa kegiatan orientasi itu penting. Jika pengenalan perpustakaan disampaikan sejak dini, disertai dengan metode/cara-cara penelusuran, minat siswa untuk menjadikan perpustakaan sebagai mitra belajar semakin tinggi, pembelajaran di sekolah akan semakin hidup. Bahkan jika kemandirian dan kreatifitas siswa untuk belajar mandiri terus diperkenalkan, diasah dan didukung dengan sarana-sarana penunjang pembelajaran keingintahuan (curiosity), kreatifitas, dan minat mereka untuk belajar dan menuangkan apa yang telah mereka pelajari akan semakin meningkat. Inilah diantara pentingnyaimplementasiIL di awal tahun ajaran baru, kesan bahwa perpustakaan itu penting, menyenangkan telah dikenalkan sejak awal. Kegiatan Insidental Menyelenggarakan pendidikan/pelatihan mengenai peng- 1t tarm1t kombali conerti katalao dan bibilioorafi software pembelajaran, kel bihan dan kekurangannya. Kegiatan demikian bisa dilakukan - atu bulan sekali, tiga bulan sekalian atau sesuai kebutuhan.. Berikut adalah beberapa materi IL yang bisa diperkenalkan secara berkala: a. Pengenalan bahan-bahan rujukan, fungsinya, cara pemanfaatannya, formatnya. Misalnya kamus, ensiklopedi, direktori, dIL.? Ensiklopedi http://www britannica.com/bps/, www.answers. com Kamus, http://www.ask.com Direktori, www.yellowpages.co.id/ . Pengenalan Katalog Perpustakaan sendiri, katalog perpustakaan lain, tren perpustakaan 2.0: Jaringan Yogyakarta ww w.jogjalib.com Katalog perpusnas: http://www.opac.pnri.go.id Katalog SMA 1 Pare: hitp://elibrary.smanlpare.sch.id/ Katalog STAIN Kediri: hitp://stainkediri.ac.id/ UIN Malang http://www uin-malang.ac.id/ http://library.um.ac.id/ . Cara membaca cepat, pengenalan beberapa membaca cepat, misalnya skimming, scanning, dil. . metode Pengenalan teknik penelusuran di internet: Artikel Ilmiah - Scholar Google - http ://scholar.google.com Kalender gratis http://calendar.google.com labs http://labs.google.com reader http://reader.google.com finance http://finance.google.com docs & spreadsheet http:// docs & spreadsheet.google.com Gambar - hitp://www.ditto.com File PDF - http://www.adobe.com Musik - http://www.mp3search.com Video - http ://www.searchvideo.com, http://video.aol.com Ensiklopedi - http://www.answers.com Menyimpan dan mengarsip hasil download www.cogitum. com Gambar - hitp://www.ditto.com File PDF - http://www.adobe.com Musik - http://www.mp3search.com Video - http ://www.searchvideo.com, http://video.aol.com Menyimpan dan mengarsip hasil download www.cogitum. com Bahasa Inggris hitp://www.englishclub.com/downloads/ vocabulary-awareness.htm e. f. 3. e-book Fiksi Indonesia- hitp://www.rajaebookgratis.com/ Menuangkan informasi yang diperoleh dalam tulisan atau memproduksi informasi Cara pengutipan (footnote, bodynote, dan endnote), untuk menghindari plagiasi Mengintegrasikan dengan kurikulum sekolah Kurikulum sekolahsebaiknya disusun dengan melibatkan pihak perpustakaan, sehingga informasi perihal temuan baru yang dituangkan dalam bentuk buku, hasil penelitian, atau jurnal (baik dalam bentuk tercetak maupun lainnya) bisa menjadi pertimbangan untuk menyusun kurikulum, termasuk temuantemuan baru dalam bidang teknologi, misalnya e-journal.org. Dengan cara seperti ini mengharuskan pustawan untuk terus belajar sehingga mampu mengikuti perkembangan, bahkan bisa menjadi mitra guru, mitra siswa. guru Dengan demikian apabila semua sekolah mencoba untuk mengimplementasikan kegiatan IL secara bertahap, siswa-siswa dan akan memiliki ketrampilan-ketrampilan mengakses sumber-sumber informasi yang sangat berharga untuk mendukung proses belajar mengajar, bahkan mereka mampu menuangkannya dalam bentuk tulisan atau mampu memproduksi karya tulis yang berkualitas. Bukankah ini hakikat pendidikan, mewujudkan kemandirian siswa dan mendorong guru untuk tetap produktif. Tintuk mencapai hasil tersebut harus didukung oleh pengelola
Conclusion
IL adalah program b: rkelanjutan yang bisa diaplikasikan untuk setiap jenjang pendidi .an, IL sangat bermanfaat untuk mendorong longlife education dan membantu setiap orang mengurai masalah-masalahnya. Melek informasi/literasi informasi sungguh merupakan ketrampilan penting di era global. Membludaknya informasi harus menjadi tantangan untuk kehidupan yang lebih baik. Ketrampilan untuk mencari, ketrampilan untuk menemukan kembali, ketrampilan untul menganalisa dan memanfaatkan informasi perlu ditanamkan sejak dini. Perpustakaan sekolah memegang peranan penting {alam upaya membekali siswa agar memiliki pengetahuan seputur literasi informasi. Bahkan sudah waktunya untuk mengintegrasikan kedalam kegiatan belajarmengajar di sekolah. Dengan demikian siswa akan lebih siap untuk terus belajar dalam kchidupannya. Di sisi lain IL juga mengharuskan pengelola perpustakaan untuk terus belajar dan mencoba, jika hal itu tidak dilakukan maka ia akan ditinggalkan oleh pemustakanya.