MEMBANGUN LITERASI INFORMASI PERPUSTAKAAN MELALUI PENDIDIKAN PEMAKAI
N/A
Abstract
Nowadays, the society still takes advantage of library rarely. It is shown by a small number of visitors who take advantage of references collection. One of the factors that cause this fact is the literacy of society which means an ability to know, to evaluate and to use the needed information effectively. The literacy can be formed by user education program that firstly acquaints the users about the vast of library collection, services, and informational materials available for them, and secondly teaches how they attain those library benefits so that they are able to search information and use it correctly. The user education is achieved by library orientation which means the short course designed to give the users knowledge in taking advantage of library. By this program, the user literacy will be improved well.
Keywords:
pendidikan pengguna
· orientasi perpustakaan
Introduction
Keberadaan perpustakaan baik perpustakan umum, perpustakaan perguruan tinggi dan perpustakaan sekolah, merupakan sarana untuk mendukung proses terbentuknya masyarakat yang cerdas. Perpustakaan mempunyai posisi yang strategis dalam masyarakat pembelajar karena perpustakaan bertugas mengumpulkan mengelola dan menyediakan rekaman pengetahuan untuk dibaca dan dipelajari. Dengan perpustakaan akan tertolonglah masyarakat ekonomi lemah dalam mengakses informasi yang mereka perlukan. Dalam kasus ini perpustakaan dapat dikatakan menjadi sarana mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, sehingga dapat dikatakan bahwa keberadaan perpustakaan juga merupakan penghayatan falsafah negara kita yaitu Pancasila.! Guna menggambarkan p: rpustakaan sebagai sesuatu yang mempunyai peran penting d) masyarakat atau bangsa, maka perpustakaan mendapatkan se hutan yang baik dan dapat dikatakan mempunyai makna yang tinggi, antara lain; perpustakaan gudangnya ilmu dan informasi, perpustakaan sebagai jantung perguruan tinggi, perpustakaan membangun kecerdasan bangsa, perpustakaan sebagai terminal informasi, perpustakaan membuka cakrawala pengetahuan dunia dan lain sebagainya. Namun secara realita, masyarakat dalam memanfaatkan perpustakaan masih sangat rondah, baik itu di perpustakaan perguruan tinggi, perpustakain umum, perpustakaan sekolah atau perpustakaan khusus lainnya. Hal ini dapat dilihat dari rendahnya apresiasi, kunjungar: dan pemanfaatan fasilitas koleksi yang ada di perpustakaan. Kondisi ini diperkuat da-i hasil penelitian yang dilakukan Perpustakaan Nasional pada tahun 2001 tentang minat baca di kalangan siswa Sekolah Dasar di DKI, NTB dan Sulawesi Tengah dan daerah lainnya. Hasil penelitian tersebut menunjukkan, bahwa; (1) tidak pernah membaca, DKI4%, NTB 4,6 % dan Sulteng 2,7%, (2) membaca 1 jam, DKI 68,2%, NTB 66,5% dan Sulteng 71,2%, (3) membaca 2 jam, DKI 21,7%, NTB 18,3% dan Sulteng 20,1%, (4) membaca 3 jam, DKI 4,3%, NTB 4,9% dan Sulteng 3,4% dan (5) membaca lebih dari 5 jam, DKI 1,8%, NTB 5,7% dan Sulteng 1,8%.2 Berdasar data di atas yang menjadi pertanyaan adalah apakah kecilnya pemanfaat perpustakaan terjadi karena kurangya promosi atau sosialisasi kepaia masyarakat tentang perpustakaan, ataukah karena faktor rendahnya literasi informasi masyarakat. Mencermati hal ‘ersebut, maka dalam tulisan ini akan mengulas pada aspek literasi sebagai faktor dalam pemanfaatan perpustakaan. B. Literasi Informasi Beberapa istilah yang berkaitan dengan jenis literasi, yaitu literacy yang berkaitan dengan melek huruf, oral literacy ketidakpahaman isi yang disampaikan, technology literacy teknologi yang digunakan untuk mendukung literasi, kemudian aliteracy yang menggambarkan ketidak membacaan masyarakat. Menurut hemat penulis munculnya beberapa istilah yang berhubungan dengan literasi karena beberapa faktor : Pertama, dilihat dari aspek bahasa. Penggunaan beberapa istilah literasi, merupakan cara yang digunakan untuk memudahkan dalam menggambarkan atau memaknai terhadap istilah tersebut mengenai makna yang terkandung di dalamnya. Kedua, dilihat dari aspek estimologi. Dimana perkembangan atau asal muasal istilah literasi merupakan suatu rangkian yang muncul dari istilah yang satu yang pada akhirnya digunakan untuk memaknai istilah yang lainnya. Ketiga, dilihat dari aspek budaya. Beberapa istilah literasi menunjukkan tingkat atau strata suatu masyarakat. Dimana tingkat literasi digunakan untuk menggambarkan tingkat peradaban masyarakat suatu bangsa. Sebagai gambaran menunjuk bahwa negara-negara yang tergolong maju menunjukkan tingkat literasi masyarakatnya tinggi, jika dibandingkan dengan negaranegara miskin atau berkembang. Contoh aktual misalnya, sebagaimana yang diungkapkan Taufik Ismail dalam rapat kerja IPI, dalam presentasinya tentang tragedi nol buku. Dimana beliau memamparkan untuk tingkat siswa SLTA di Indonesia aliteracy nol dibandingkan dengan strata yang sama di negara-negara maju. Sisi lain literasi dapat digunakan sebagai indikator-indikator kultur suatu masyarkat, dimana bagi negara yang kurang maju kebiasaan pada aspek oral dan mendengar lebih menonjol dibanding dengan kultur di negara-negara maju. Pemahaman literasi informasi sampai saat ini belum ada istilah baku yang menjadi kesepakatan para ahli informasi. Banyak istilah yang digunakan untuk memahami literasi informasi, misalnya dengan pengertian “melek huruf”. Putu Laxman Pendit mengartikan literasi informasi sebagai keberaksaraan. Doyle dalam Saad mendeskripsikan information literate “Person as one who; rcognizes that accurate and complete information is the basis for i:1telligent decision making, recognizes the need for information, fornulates questions based on information need, identifies potential sources of information, develops successful search strategics, accesses sources of information including computer-based and other technologies, evaluates information, organizes inlormation for practical application, integrates new information into an existing body of knowledge, uses information in critical thinking and problem”. Hepworth dalam Irawati mendefinisikan information literacy sebagai proses memperoleh pengetahuan terhadap perilaku dan keahlian dalam bidang informasi, sebagai penentu utama dari cara manusia mengeksploitasi kenyataan, membangun hidup, bekerja, dan berkomunikasi dalam komunitas informasi. Sehingga dari beberapa definisi tersebut dapat dikatakan bahwa literasi informasi kemampuan seseorang untuk mengenali informasi yang dibutuhkan dan kemampuan vntuk menemukan letak informasi tersebut, kemudian mengevaluasi danjuga mampu menggunakan informasi tersebut secara efektif.* C. Pendidikan Pemakai Perpustakaan Sarana Membangun Masyarakat Literasi Masyarakat yang meniiliki literasi informasi adalah masyarakat yang telah mengerti, menyadari, memahami, dan menggunakan tulisan (bacaar dan sumber informasi). Dengan kata lain, selain mempunyai budaya lisan/ tutur yang telah dibawa sejak turun-temurun, ratusan bahkan ribuan tahun, mereka telah mengembangkan budaya baca dan tulis.* Masyarakat yang memiliki budaya baca tingg) harus terus diimbangi dengan penyediaan fasilitas seperti per pustakaan dan bahan bacaan yang memadai sesuai kebutuhan nasyarakat® Hingga tumbuhnya kesadaran masyarakat untuk menjadi pemburu informasi dan “melek informasi” dalam memenuhi kebutuhannya. Tantangan terbesar bagi perpustakaan adalah merubah paradigma perpustakaan menjadi tempat belajar yang menarik bagi masyarakat dalam memenuhi kebutuhan masa kini. Perpustakaan agar lebih maju, lebih menarik dan memenuhi kebutuhan masyarakat, yaitu; peningkatan fasilitas, materi pembelajaran, dan kapasitas layanan. Masyarakat literasi, merupakan pendukung efektif bagi berkembangnya budaya belajar. Perpustakaan yang baik seharusnya bisa berfungsi sebagai pusat pembelajaran, bahkan bisa juga berfungsi sebagai agen perubahan (agent of change) bagi masyarakatnya. Keberadaan perpustakaan sangat diharapkan untuk dapat berperan sebagai agen pengembangan modernisasi masyarakat. Kondisi semacam itu hanya bisa ditemui dalam masyarakat yang memiliki budaya baca tinggi. Keberadaan perpustakaan tidak akan berpengaruh dalam masyarakat yang memiliki budaya baca rendah. Perpustakaan sebagai sumber informasi peran yang dilakukan dalam membangun masyarakat literasi, menurut Ratna dalam Suciati ada beberapa cara yang dapat dilakukan, (1) pengguna hendaknya diberikan wawasan apa saja fasilitas dan koleksi serta informasi yang tersedia di perpustakaan, (2) untuk mengurangi tekanan pengguna dalam menemukan informasi hendaknya perpustakaan selalu menyelenggarakan user education secara berkala, terutama apabila selalu ada penambahan layanan dan fasilitas, (3) pengguna diberikan ketrampilan dalam mengoperasikan sarana-sarana penelusuran baik manual maupun elektronik agar dapat mengakses sendiri dengan efektif, (4) disediakan panduan-panduanyang mudah dipahami pada setiap titik layanan, (5) menyediakan fasilitas yang memadai dengan memanfaatkan teknologi informasi agar lebih efektif dan efesien dalam memanfaatkan informasi, (6) menyediakan koleksi dan informasi yang sesuai dengan kurikulum serta program-program yang ada di lembaga yang bersangkutan sesuai dengan jumlah danjudul serta senantiasa mengikuti perkembangan koleksi dan informasi terbaru, (7) ditopang dengan jumlah sumber daya manusia yang memadaai, berk ualitas, professional, dan santun, (8)suasana belajar yang menyenangkan, nyaman, dan aman.® D. Pendidikan Pemakai Melalui Oreintasi Perpustakaan Ada beberapa cara yang dapat digunakan untuk membangun literasi masyarakat pada perpustakaan. Satu diantara cara yang dapat dilakukan adala’» melalui pendidikan pemakai. Menurut Hak mengutip Maskuri pendidikan pemakai atau seringkali disebut user education adalah suatu proses di mana pemakai perpustakaan pertama-tama disadarkan oleh luasnya dan jumlah sumber-sumber perpustakaan, jasa layanan, dan sumber informasi yang tersedia bagi pemakai, dan kedua diajarkan bagaimana menggunakan sumber perpustakaan, jasa layanan, dan sumber informasi tersebut yang tujuannya untuk mengenalkan keberadaan perpustakaan, mernjelaskan mekanisme penelusuran informasi serta mengajarkan pe makai bagaimana mengeksploitasi sumber daya yang tersedia. Lebih lanjut Hak mengutip pendapat Rice menjelaskan bahwa pendi likan biasanya selalu mempunyai komitmen untuk memperkuat koleksi perpustakaan dan pengajaran mengenai penggunaannya. Untuk itu dari tahun ke tahun, para pendidik dan pustakawan di berbagai tingkat pendidikan telah memutuskar untuk memberikan keterampilan dasar penelitian perpustakaan bagi setiap siswanya. Salah satunya adalah bagaimana memenuhi kebutuhan cara mencari informasi yang terkini dengan cepat. I’ara siswa yang tidak memiliki keterampilan ini biasanya dipe:timbangkan hanya sebatas untuk mendapatkan pendidikan dalan jangka pendek saja. Maksudnya bahwa terampil menggunakan perpustakaan merupakan suatu hal yang perlu dipelajari” D:lam pedoman penyelenggaraan Perpustakaan Sekolah yang diterbitkan Perpusnas yang diadopsi dari IFLA/UNESCO menyebutkan, bahwa dalam pendidikan pemakai ada 3 ranah tenaga pe 1didikan yang perlu diperhatikan: . Pengetahuan mengenai perpustakaan; apa tujuannya, berbagai jasa yang tersedia, bagaimana diorganisasi serta sumberdaya apa saja yang tersedia; Keterampilan mencari dan menggunakan informasi; Motivasi untuk mendayagunakan perpustakaan untuk belajar pembelajaran secara formal maupun informal. Salah Satu cara yang digunakan untuk pendidikan pemakai perpustakaan adalah melalui orientasi perpustakaan. Hak menyebutkan bahwa dalam pendidikan pemakai melalui orientasi perpustakaan materi yang diajarkan berupa pengenalan terhadap perpustakaan secara umum, biasanya diberikan ketika siswa/ mahasiswa baru memasuki suatu lembaga pendidikan bersang115 2. 3. kutan, dengan materinya antara lain: Pengenalan Gedung Perpustakaan. Pengenalan Katalog dan Alat Penelusuran lainnya. Pengenalan beberapa sumber bacaan termasuk bahan-bahan rujukan dasar. Tujuan yang ingin dicapai: . Mengenal fasilitas-fasilitas fisik gedung perpustakaan itu sendiri. Mengenal bagian-bagian layanan dan staf dari tiap bagian secara tepat. Mengenal layanan-layanan khusus seperti penelusuran melalui komputer, layanan peminjaman, dan lain-lain. Mengenal kebijakan-kebijakan perpustakaan seperti prosedur menjadi anggota, jam-jam layanan perpustakaan, dan lainlain. Mengenal pengorganisasian koleksi dengan tujuan untuk mengurangi kebingungan pemakai dalam mencari bahanbahan yang dibutuhkan. Termotivasi untuk datang kembali dan menggunakan sumbersumber yang ada di perpustakaan. Terjalinnya komukasi yang akrab antara pemakai dengan pustakawan. Sedangkan Gaunt menyebutkan pendidikan pemakai melalui orientasi perpustakaan idealnya terlebih dahulu mengetahui kebutuhan siswa/mahasiswa/ penggunanya. Setelah kebutuhan pengguna diketahui kemudian diperkenalkan bagaimana cara menggunakan sumber-sumber informasi yang ada di perpustakaan. Lebih lanjut Gaunt menyebutkan bahwa dalam muatan atau materi dalam orientasi perpust:kaan, meliputi:® 1. 2. Mengetahui bangunan perpustakaan dan pelayanannya; Pengorganisasian berbagai format koleksi yang tersedia (buku, jurnal, photocopy, tipe materi khusus lainya); 3. Letak koleksi di perpustaka:n; 4. Menggunakan alat bantu penelusuran untuk menemukan daftar bacaan; 5. 6. 7. Proses peminjaman, perpanjangan dan pengembalian koleksi dan system manajemen ala’ bantu penelusuran; Menggunakan fasilitas buk« dan jurnal elektronik; Menggunakan photocopy/ scanning/ printing dan peraturannya bagi pengguna. Melalui orientasi perpustakaan tersebut, maka pengguna perpustakaan akan menjadi lebih familiar dengan perpustakaan, sehingga dalam mencari informasi di perpustakaan tidak akan mengalami kesulitan.
Conclusion
Pemanfaatan perpustakaan oleh masyarakat saat ini masih rendah, yaitu ditandai dengan sedikitnya jumlah pengunjung perpustakaan untuk memanfiatkan koleksi. Salah satu faktor sedikitnya jumlah pengunjung dalam memanfaatkan informasi adalah rendahnya literasi inforr asi masyarakat dalam menggunakan perpustakaan. Literasi informasi merupakan kemampuan seseorang untuk mengenali informasi yang dibutuhkan dan kemampuan untuk menemukar letak informasi tersebut, kemudian mengevaluasi danjuga mampu menggunakan informasi tersebut secara efektif. Oleh karena itv salah satu cara yang digunakan untuk membangun literasi ir‘ormasi di perpustakaan adalah dengan pendidikan pemakai. “endidikan pemakai merupakan suatu proses dimana pemakai perpustakaan pertama-tama disadarkan oleh luasnya dan jumlah sumber-sumber perpustakaan, jasa layanan, dan sumber informasi yang tersedia bagi pemakai, dan kedua diajarkan bagaimana menggunakan sumber perpustakaan, jasa layanan, dan sumber informasi tersebut yang tujuannya untuk mengenalkan keberadaan perpustakaan, menjelaskan mekanisme penelusuran informasi serta mengajarkan pemakai bagaimana mengeksploitasi sumber daya yang tersedia. Dalam hal ini bentuk pendidikan pemakai yang digunakan melalui orientasi perpustakaan, yaitu pendidikan jangka pendek dalam upaya membangun pengetahuan pengguna dalam menggunakan perpustakaan. Dengan muatan materinya antara lain pengetahuan tentang perpustakaan dan sistem pelayanan perpustakaan, dan cara penggunaan fasilitas di perpustakaan. Sehingga dengan pendidikan pemakai ini literasi masyarakat pengguna akan lebih baik dan familier dalam memanfaatkan informasi di perpustakaan.