Kembali
16
1
2018 Jurnal Ilmu Informasi, Perpustakaan, dan Kearsipan Vol 20 · 1 ISSN 2502-7409

KETERTARIKAN SISWA TERHADAP BAHAN BACAAN

Universitas Indonesia; Universitas Indonesia; Universitas Indonesia

Abstrak

Penelitian ini mengidentifikasi ketertarikan siswa sekolah dasar siswa kelas dua di Sekolah Dasar Negeri Anyelir 1 Depok Baru, Kota Depok, Jawa Barat terhadap bahan bacaan. Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan metode deskriptif. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah survei. Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa kelas 2 SDN Anyelir 1 Depok Baru memiliki ketertarikan sendiri terhadap bahan bacaan. Genre bacaan yang mereka sukai meliputi kisah-kisah agama hingga cerita fiksi berbentuk komik dan novel pendek. Hasil temuan memberikan saran bahwa orang tua perlu mengenalkan variasi bacaan lain seperti koran dan memberikan pendampingan kepada anak dalam membaca komik.

Abstract

This study identifies the students’ reading interest of Sekolah Dasar Negeri 1 Depok Baru, West Java. This research uses a quantitative research approach with descriptive method. The data was collected by using survey. The results showed that students have their own reading interest. Their favorite genre of reading materials includes religious stories, comic, and short novels. The findings suggest that parents need to introduce another reading material variation such as newspapers. Parents are also encouraged to supervise their children while reading comic.
Keywords: bahan bacaan · minat baca · siswa sekolah dasar · fiksi · komik

Introduction

Membaca adalah salah satu jenis aktifitas yang menyenangkan dan dapat mendorong perkembangan anak. Sifat anak-anak yang aktif dan selalu ingin tahu dapat diimbangi dengan aktifitas membaca. Kegiatan membaca dapat mendorong anak untuk memperoleh pengetahuan yang lebih banyak, melatih cara berpikir, serta menanamkan nilai positif dalam diri anak. Untuk itu, penting bagi para orang tua untuk terus memupuk dan mengembangkan minat baca anak terhadap bahan bacaan sejak usia dini. Wolf (2008) dalam Rachman et.al. (2017) mengungkapkan bahwa terdapat lima tahap perkembangan membaca, yaitu the emerging prereader yang berlangsung antara umur 6 bulan hingga 6 tahun, the novice reader biasanya pada usia 6 sampai dengan 7 tahun, the decoding reader pada anak usia 7 sampai dengan 9 tahun, the fluent, comprehending reader pada anak usia 9 sampai dengan 15 tahun dan the expert reader pada anak usia 16 tahun sampai pada usia yang lebih tua. Pada tahap usia the decoding reader, anak juga perlu untuk mulai dibacakan dengan bacaan-bacaan untuk tingkatan tahap anak usia selanjutnya sehingga anak dapat mengembangkan kemampuan bahasa, kemampuan mengenal konsep-konsep maupun menambah kosakata (Rachman et al., 2017). Survei tiga tahunan Badan Pusat Statistik (BPS) yang dilakukan pada tahun 2012 menunjukkan bahwa hanya 17,66 persen anak Indonesia yang memiliki minat membaca. Sementara yang lain memiliki minat menonton mencapai 91,67 persen. Artinya hanya ada 1 dari 10 anak di Indonesia yang memiliki minat membaca dan 9 dari 10 anak Indonesia lebih menyukai menonton televisi (Widyastuti, 2017). Penelitian yang dilakukan oleh Rachman et.al. di tahun 2017 juga menunjukkan hasil serupa. Dari hasil penelitian diketahui bahwa minat baca siswa kelas 2 Sekolah Dasar Negeri Anyelir 1 Depok Baru tergolong masih rendah/kurang. Padahal, justru di usia delapan tahun inilah anak-anak perlu mulai dibacakan untuk menstimulasi perkembangan kemampuan bahasa maupun kemampuan mengenal konsep-konsep. Dari hasil penelitian juga diketahui bahwa tidak lebih dari 55% siswa yang melakukan kegiatan membaca di waktu luang. Namun sayangnya, penelitian tersebut belum menguraikan secara detail mengenai jenis bahan bacaan yang menjadi minat/ketertarikan siswa. Dengan demikian, pilihan jenis bahan bacaan anak menjadi sangat menarik diteliti Hasil penelitian ini akan bermanfaat bagi orang tua dan sekolah untuk dapat menyediakan bahan bacaan yang disukai oleh anak. Berdasarkan hal tersebut, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: Bagaimanakah ketertarikan siswa SD Anyelir 1 Depok terhadap bahan bacaan? II. TINJAUAN LITERATUR Di antara sekian banyak aktifitas yang dapat menstimulasi perkembangan anak, salah satunya adalah membaca. Kindergarten and Primary Section, Curriculum Development Institute, Education Bureau Hong Kong (2010) menyatakan bahwa kegiatan membaca memberikan banyak keuntungan. Salah satu keuntungan yang didapat dari kegiatan membaca secara berkesinambungan adalah dapat mendorong anak untuk mengembangkan kemampuan kognitifnya. Kemampuan kognitif ini meliputi kemampuan memahami, menganalisis dan juga mengembangkan imajinasi anak. Selain itu, anakanak yang membaca secara berkesinambungan juga memiliki perkembangan otak yang lebih cepat dan pemikiran yang lebih dewasa. Keuntungan lain yang didapatkan dengan membaca adalah dapat memperkaya kompetensi bahasa, mengembangkan kemampuan berpikir dan memecahkan masalah, serta mengembangkan nilai-nilai positif dalam kehidupan. Selain itu, membaca juga dapat mengaktifkan neuron atau sel saraf yang merupakan unsur dasar dari sistem susunan saraf yang jumlahnya sekitar 10 triliun, dan dengan neuron yang istimewa ini, kita dapat berpikir, mengingat dan merasakan (Widyastuti, 2017). Dalam rangka untuk terus menstimulus perkembangan anak, maka peranan orang-orang terdekat seperti orang tua, keluarga, teman sebaya, dan guru menjadi penting untuk senantiasa mendekatkan anak kepada bahan bacaan. Sebab, salah satu faktor pendukung dalam meningkatkan minat baca anak adalah dengan menciptakan suasana yang dekat dengan bahan bacaan. Orang tua harus meluangkan waktu bersama dengan anak-anak untuk melakukan kegiatan membaca bersama-sama. Hal ini selaras dengan apa yang dikemukakan oleh Elliot (2015) bahwa faktor dominan yang mempengaruhi pilihan bahan bacaan siswa adalah faktor sosial dan lingkungan. Saat mereka berada di sekolah adalah waktu di mana sebagian besar siswa ingin berinteraksi dan bersosialisasi dengan satu sama lain. Beberapa siswa secara alami akan mencari pendapat dan saran dari teman-teman mereka ketika memilih buku untuk bahan bacaan. Kindergarten and Primary Section, Curriculum Development Institute, Education Bureau Hong Kong (2010) juga menyebutkan ragam buku yang sesuai untuk dapat dibaca oleh anak dapat berupa cerita binatang, cerita fiksi, biografi, buku perjalanan, puisi, cerita tradisional, buku ilmu pengetahuan, dan koran. Dengan demikian, penelitian tentang pilihan jenis bahan bacaan menarik untuk dilakukan untuk mengidentifikasi jenis bahan bacaan apa saja yang disukai anak. Hasil penelitian ini akan bermanfaat bagi orang tua dan sekolah untuk dapat menyediakan bahan bacaan yang disukai oleh anak.

Method

Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan metode deskriptif. Objek yang diteliti adalah siswa kelas 2 Sekolah Dasar Negeri (SDN) 1 Anyelir Depok Baru. Sekolah ini merupakan sekolah dasar unggulan di Kota Depok. SDN 1 Anyelir Depok Baru juga mendapatkan bantuan dari Perpustakaan Umum Kota Depok untuk pengelolaan perpustakaan sekolah pada tahun 2017. Adapun teknik pengumpulan data yang digunakan adalah survei. Populasi pada penelitian ini adalah seluruh siswa-siswi kelas 2 di SDN Anyelir 1 Depok Baru yang berusia antara 7-8 tahun. Rachman et al. (2017) mengungkapkan bahwa pada tahap usia anak 4-8 tahun berada pada fase imajinasi. Pada fase ini dinilai sangat tepat untuk memperkenalkan anak terhadap bahan bacaan. Jika pada fase ini anak tidak dekat dengan bahan bacaan maka pada tahap selanjutnya akan akan sulit untuk memiliki minat untuk membaca. Dengan demikian, maka jumlah total populasi adalah 152 orang siswa SDN Anyelir 1 yang berusia 7-8 tahun. Keseluruhan siswa tersebar di empat kelas (2A, 2B, 2C, dan 2D). Rekognisi ketertarikan siswa SDN Anyelir terhadap bahan bacaan pada penelitian ini juga dibatasi pada kegiatan membaca di waktu luang, sehingga jenis bahan bacaan yang diidentifikasi adalah bahan bacaan non-pelajaran. Pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan metode penarikan sampel dari Tabel Krejcie, Robert V dan Daryle W. Morgan (1970) dalam Powell dan Connaway (2004) dengan tingkat keandalam sebesar 95%. Adapun jumlah sampel berdasarkan Tabel Krejcie adalah sebanyak 108 responden, tetapi pada penelitian ini dibulatkan menjadi 112 responden. Jumlah responden masingmasing kelas adalah 28 orang yang dipilih secara acak. Lembar survei diisi oleh responden penelitian dengan didampingi oleh fasilitator. Fasilitator akan memberikan penjelasan terkait butir-butir pertanyaan yang harus diisi oleh responden. Pendampingan diberikan oleh fasilitator, sebab ada kalanya responden menemui kesulitan dalam mengisi lembaran survei. Hasil survei kemudian dihitung dengan menggunakan teknik persentase. Adapun rumus yang digunakan adalah sebagai berikut: P = F/N x 100 % Di mana : P = Persentase F = Jumlah skor item yang dilaksanakan N = Jumlah Responden Hasil perhitungan kemudian dimasukkan ke dalam kriteria berikut: 1 – 19% : Sangat sedikit responden. 20 – 39% : Sebagian kecil responden 40 – 59% : Sebagian responden 60 – 79% : Sebagian besar responden 80 – 99% : Hampir seluruhnya responden 100% : Seluruh responden (Arikunto, 1998)

Discussion

A. Distribusi Responden Penelitian Hasil pengumpulan data menunjukkan bahwa sejumlah 112 responden telah mengisi lembar survei dengan lengkap. Keseluruhan responden adalah siswa kelas 2 SDN Anyelir 1 Kota Depok. Adapun distribusi jumlah siswa yang berpartisipasi dalam penelitian terkait jenis kelamin adalah sebagai berikut: TABEL 1. DISTRIBUSI RESPONDEN Jenis Kelamin Jumlah Presentase Laki-laki 55 49% Perempuan 57 51% Total 112 100% Dari tabel 1 di atas diketahui bahwa jumlah responden penelitian sebanding dengan jumlah responden laki-laki. B. Pemanfaatan Waktu Luang untuk Membaca dan Genre Bacaan yang Disukai Berdasarkan hasil jawaban responden yang diberikan terkait pertanyaan apakah responden pernah menghabiskan waktu luang yang mereka miliki untuk membaca, maka diketahui bahwa sebagian besar siswa pernah menghabiskan waktu luang mereka untuk membaca buku cerita fiksi di akhir minggu. Seperti yang terlihat di tabel 2, sebanyak 90% responden menjawab pernah. Kegiatan membaca buku cerita fiksi dianggap sebagai kegiatan untuk bersenang-senang di luar kegiatan sekolah. Hanya sebagian kecil yang tidak pernah melakukannya, yaitu sebesar 10% atau 11 responden. Hal ini dinilai menjadi temuan yang baik, bahwa anak-anak memiliki potensi untuk lebih dikenalkan pada beragam bahan bacaan yang dapat menambah minat baca mereka. TABEL 2. RESPON SISWA TERHADAP FREKUENSI MEMBACA BUKU FIKSI Jenis Kelamin Jumlah Presentase Pernah 101 90% Tidak Pernah 11 10% Total 112 100% Responden juga ditanyakan mengenai genre bacaan yang paling mereka sukai. Hasil survei pada tabel 3 di bawah ini menunjukkan bahwa sebanyak 95% responden mampu mengidentifikasi bacaan yang mereka sukai. Hanya 5% atau 6 orang responden yang tidak menyebutkan genre bacaan yang mereka sukai. TABEL 3. RESPON SISWA TERHADAP GENRE BACAAN (BUKU) YANG PALING MEREKA SUKAI Genre Bacaan Jumlah Presentase Buku Agama 18 16% Komik 49 44% Petualangan 28 25% Cerita Keseharian 6 5% Fabel 2 2% Non-fiksi 3 3% Tidak Menyebutkan 6 5% Total 112 100% Hasil survei seperti yang terangkum dalam tabel 3 di atas juga menunjukkan bahwa buku yang paling mereka sukai dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu yang bersifat fiksi dan non-fiksi. Ditinjau dari segi fiksi, siswa sangat menikmati membaca buku bergenre komik, petualangan, cerita lucu, cerita keseharian, dan fabel (cerita binatang). Ditinjau dari buku non-fiksi, para siswa menyukai buku Agama yang berupa kisah dan riwayat Nabi, serta buku ilmu pengetahuan fisika dan bahasa. Hal ini selaras dengan kriteria seleksi bacaan anak yang dikemukakan oleh Ministry of Education and Save the Children International, Bhutan Country Office, Thimphu (2016) bahwa pemilihan tema bacaan yang sesuai untuk kelompok anak umur 7-9 tahun meliputi tema tentang petualangan, cerita ringan dan lucu, kisah tentang moral dan nilai kebaikan, serta cerita tradisional, biografi dan teks informasi/faktual dengan deskripsi yang sederhana. Namun demikian, apabila merujuk pada tabel 3, diketahui bahwa sebanyak 44% responden menyatakan bahwa mereka sangat menyukai komik. Akan tetapi, satu hal yang juga perlu digarisbawahi terkait komik, orang tua diharapkan dapat lebih sensitif terhadap bacaan berupa komik. Sebab, beberapa komik menyajikan jalan cerita dengan nilai-nilai yang tidak baik dan menggunakan bahasa yang tidak baik pula. Kindergarten and Primary Section, Curriculum Development Institute, Education Bureau Hong Kong (2010) menyampaikan dalam panduannya bahwa komik dan majalah memang dapat menstimulasi kebiasaan membaca anak, tetapi orang tua harus dapat memastikan bahwa komik yang dibaca oleh anakanak mereka adalah komik dengan bahasa dan konten yang sehat. Bila diperlukan, orang tua dapat mengajak anak mengobrol dan berdiskusi mengenai cerita yang tertuang dalam komik, agar anak-anak memahami pesan yang benar. C. Ketertarikan Siswa terhadap Koran dan Majalah TABEL 4. RESPON SISWA TERHADAP FREKUENSI MEMBACA KORAN Genre Bacaan Jumlah Presentase Pernah 25 22% Tidak Pernah 87 78% Total 112 100% Berdasarkan hasil penghitungan jawaban mengenai respon siswa terhadap frekuensi membaca koran, diketahui bahwa minat anak-anak kelas 2 SDN 1 Anyelir terhadap koran terbilang rendah. Hanya sebagian kecil responden yang membaca koran di waktu luang mereka, yaitu sebanyak 22%. Hal ini bisa saja disebabkan anak-anak tidak terlalu diperkenalkan pada bahan bacaan koran oleh orang tua, guru atau lingkungan. Guru dapat mendorong anak-anak untuk membaca koran dengan memberikan pengalaman membaca koran melalui tugas tertentu. Kindergarten and Primary Section, Curriculum Development Institute, Education Bureau Hong Kong (2010) menyatakan bahwa koran merupakan salah satu jenis bacaan yang dapat dibaca oleh anak. Adapun kriteria koran yang dapat dibaca dengan anak meliputi koran dengan konten dan standar penulisan (bahasa) yang baik. Anak-anak dapat mulai diperkenalkan pada koran yang memuat informasi tentang berita sehari-hari, berita internasional, dan berbagai informasi terbaru lainnya. IFLA (2003) bahkan menganjurkan agar perpustakaan sekolah atau perpustakaan umum yang memberikan layanan bagi anak juga menyediakan koran sebagai bahan bacaan yang cocok untuk anak. Ketika anak-anak ditanyakan respon mereka terkait frekuensi membaca majalah, sebagian besar responden menyatakan bahwa mereka tidak pernah dan jarang membaca majalah di waktu luang mereka. Hanya sebagian kecil responden saja yang menyatakan bahwa mereka membaca majalah. TABEL 5. RESPON SISWA TERHADAP FREKUENSI MEMBACA MAJALAH Jawaban Jumlah Presentase Pernah 9 8% Tidak Pernah 103 92% Total 112 100% Adapun majalah yang dibaca seperti majalah Bobo dan majalah Aku Anak Saleh. Seperti yang diuraikan pada pembahasan mengenai respon siswa terhadap genre bacaan (buku) yang paling mereka sukai (tabel 3), Kindergarten and Primary Section, Curriculum Development Institute, Education Bureau Hong Kong (2010) menyampaikan dalam panduannya bahwa salah satu jenis bahan bacaan yang dapat menstimulasi kebiasaan membaca anak adalah majalah. Dengan catatan bahwa orang tua harus dapat memastikan bahwa majalah yang dibaca mengandung konten dan bahasa yang sehat. Pemilihan majalah anak seperti Bobo dan Aku Anak Saleh diasumsikan sebagai contoh majalah anak yang baik. Sebab, majalah tersebut memuat berbagai informasi faktual terbaru, soal-soal latihan, dan cerita-cerita ringan yang disampaikan dengan deskripsi tekstual yang sederhana dan ilustrasi yang baik, serta mengajarkan nilai-nilai agama dan kebaikan. Meski demikian, peran orang tua dalam mendampingi anak-anak ketika membaca majalah juga diperlukan agar anak-anak mendapatkan informasi yang disampaikan dengan benar. D. Frekuensi Kunjungan ke Toko Buku TABEL 6. RESPON SISWA TERHADAP FREKUENSI KUNJUNGAN KE TOKO BUKU Kunjungan Ke Toko Buku Jumlah Presentase Sering 30 27% Jarang 67 60% Tidak Pernah 15 13% Total 112 100% Hasil survei menunjukkan bahwa sebagian besar responden sering berkunjung ke toko buku. Frekuensi kunjungan ke toko buku yang cukup sering dapat dinilai sebagai salah satu cara untuk menstimulasi minat membaca anak. Anak-anak dapat memilih sendiri bacaan yang mereka sukai di toko buku. Hasil penelitian PIRLS (The Progress in International Reading Literacy Study) di tahun 2006 menunjukkan bahwa anak-anak lebih menikmati kegiatan membaca dan memiliki performa membaca yang sangat baik apabila mereka dapat memilih sendiri bahan bacaan yang mereka sukai (Kindergarten and Primary Section, Curriculum Development Institute, Education Bureau Hong Kong, 2010). Lebih lanjut, orang tua juga dapat memandu anak-anak untuk dapat memperkaya bahan bacaan apabila anak-anak hanya menyenangi satu jenis bahan bacaan saja. E. Penulis Favorit Siswa Ketika siswa ditanyakan mengenai penulis favorit, sebagian besar responden menyatakan bahwa mereka tidak mengetahui penulis favoritnya. Hanya dua responden yang mampu menyebutkan siapa penulis favoritnya tersebut, seperti yang dapat dilihat dari tabel 7 di bawah ini. Hal ini dapat dipahami bahwa siswa membaca buku tanpa benar-benar memperhatikan nama pengarangnya. Pengarang merupakan salah satu unsur yang harus dipertimbangkan dalam menentukan bahan bacaan untuk anak. Orang tua sebisa mungkin mendampingi anak untuk memilih bahan bacaan dengan memperimbangkan kualitas dan latar belakang pengarangnya. Untuk itu, peran orang tua dan orang terdekat sangat diperlukan untuk mendampingi anak dalam memilih bahan bacaan. TABEL 7. RESPON SISWA TERHADAP PENULIS FAVORIT Jawaban Jumlah Presentase Tahu 2 2% Tidak Tahu 110 98% Total 112 100% Adapun majalah yang dibaca seperti majalah Bobo dan majalah Aku Anak Saleh. Seperti yang diuraikan pada pembahasan mengenai respon siswa terhadap genre bacaan (buku) yang paling mereka sukai (tabel 3), Kindergarten and Primary Section, Curriculum Development Institute, Education Bureau Hong Kong (2010) menyampaikan dalam panduannya bahwa salah satu jenis bahan bacaan yang dapat menstimulasi kebiasaan membaca anak adalah majalah. Dengan catatan bahwa orang tua harus dapat memastikan bahwa majalah yang dibaca mengandung konten dan bahasa yang sehat. Pemilihan majalah anak seperti Bobo dan Aku Anak Saleh diasumsikan sebagai contoh majalah anak yang baik. Sebab, majalah tersebut memuat berbagai informasi faktual terbaru, soal-soal latihan, dan cerita-cerita ringan yang disampaikan dengan deskripsi tekstual yang sederhana dan ilustrasi yang baik, serta mengajarkan nilai-nilai agama dan kebaikan. Meski demikian, peran orang tua dalam mendampingi anak-anak ketika membaca majalah juga diperlukan agar anak-anak mendapatkan informasi yang disampaikan dengan benar. D. Frekuensi Kunjungan ke Toko Buku TABEL 6. RESPON SISWA TERHADAP FREKUENSI KUNJUNGAN KE TOKO BUKU Kunjungan Ke Toko Buku Jumlah Presentase Sering 30 27% Jarang 67 60% Tidak Pernah 15 13% Total 112 100% Hasil survei menunjukkan bahwa sebagian besar responden sering berkunjung ke toko buku. Frekuensi kunjungan ke toko buku yang cukup sering dapat dinilai sebagai salah satu cara untuk menstimulasi minat membaca anak. Anak-anak dapat memilih sendiri bacaan yang mereka sukai di toko buku. Hasil penelitian PIRLS (The Progress in International Reading Literacy Study) di tahun 2006 menunjukkan bahwa anak-anak lebih menikmati kegiatan membaca dan memiliki performa membaca yang sangat baik apabila mereka dapat memilih sendiri bahan bacaan yang mereka sukai (Kindergarten and Primary Section, Curriculum Development Institute, Education Bureau Hong Kong, 2010). Lebih lanjut, orang tua juga dapat memandu anak-anak untuk dapat memperkaya bahan bacaan apabila anak-anak hanya menyenangi satu jenis bahan bacaan saja. E. Penulis Favorit Siswa Ketika siswa ditanyakan mengenai penulis favorit, sebagian besar responden menyatakan bahwa mereka tidak mengetahui penulis favoritnya. Hanya dua responden yang mampu menyebutkan siapa penulis favoritnya tersebut, seperti yang dapat dilihat dari tabel 7 di bawah ini. Hal ini dapat dipahami bahwa siswa membaca buku tanpa benar-benar memperhatikan nama pengarangnya. Pengarang merupakan salah satu unsur yang harus dipertimbangkan dalam menentukan bahan bacaan untuk anak. Orang tua sebisa mungkin mendampingi anak untuk memilih bahan bacaan dengan memperimbangkan kualitas dan latar belakang pengarangnya. Untuk itu, peran orang tua dan orang terdekat sangat diperlukan untuk mendampingi anak dalam memilih bahan bacaan. TABEL 7. RESPON SISWA TERHADAP PENULIS FAVORIT Jawaban Jumlah Presentase Tahu 2 2% Tidak Tahu 110 98% Total 112 100%

Conclusion

Dari hasil penelitian maka dapat diambil kesimpulan bahwa siswa kelas 2 SDN Anyelir 1 Depok Baru memiliki ketertarikan sendiri terhadap bahan bacaan. Genre bacaan yang mereka sukai juga bervariasi, mulai dari kisah-kisah Agama hingga cerita fiksi berbentuk komik dan novel pendek yang memuat kisah sehari-hari dan kisah petualangan. Namun demikian, hasil temuan yang menunjukkan bahwa anak-anak sangat menyukai bacaan komik perlu mendapat perhatian yang lebih dari orang tua. Meskipun komik dapat menstimulasi kebiasaan membaca anak, orang tua perlu memberikan pendampingan bahwa komik yang dibaca bukanlah sekedar komik yang memuat cerita lucu, namun juga memuat konten yang sehat. Anak-anak juga perlu diperkenalkan dengan variasi bahan bacaan lain berupa koran, sebab koran dapat memberikan informasi terkini pada anak dengan sajian informasi yang ringkas dan padat.