Kembali
16
1
2022 Jurnal Perpustakaan Pertanian Vol 31 · 1 ISSN 2541-0814

Kredibilitas Sumber Informasi Dan Pemanfaatannya Oleh Penyuluh Pertanian Credibility of Information Sources and Its Utilization by Agricultural Extension Workers

Kementerian Pertanian; Kementerian Pertanian

Abstrak

Perpustakaan mempunyai tugas menyediakan informasi yang dibutuhkan oleh pemustaka, baik dari lingkungan institusinya maupun dari luar institusinya. Untuk memenuhi kebutuhan informasi khususnya penyuluh pertanian, pustakawan harus melakukan analisis kebutuhan informasi, agar informasi yang tersedia di perpustakaan dapat dimanfaatkan dengan baik dan tepat sasaran. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: 1) kredibilitas sumber informasi pertanian, dan 2) pemanfaatan informasi oleh penyuluh pertanian. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif yang dilaksanakan pada bulan Mei - Juni 2020. Pengumpulan data dilakukan dengan cara survei melalui kuesioner yang disebarkan ke 5000 penyuluh pertanian sebagai responden. Kuesioner yang kembali sebanyak 2.306. Parameter yang diukur yaitu: kredibilitas sumber informasi, pemanfaatan informasi, strategi pencarian informasi penyuluh pertanian, dan pertemuan ilmiah sebagai sumber informasi. Hasil kajian menunjukkan bahwa: (1) sebagian besar penyuluh pertanian menyatakan bahwa informasi yang diperoleh sangat dipercaya, terbaru, dan berasal dari sumber para ahli/expert, (2) sebagian besar penyuluh pertanian memanfaatkan informasi untuk disebarkan kepada petani (menyusun materi penyuluhan), (3) mengakses sumber informasi secara online merupakan cara yang paling banyak dilakukan oleh penyuluh pertanian, dan (4) Kegiatan temu teknis dan seminar merupakan pertemuan ilmiah yang paling banyak dimanfaatkan penyuluh pertanian sebagai sumber informasi.

Abstract

Libraries have task to provide information needed by users, both internal and external users. To meet the information needs, especially agricultural extension workers, librarians must conduct an information needs analysis, so that the information available in the library can be used properly and on target. This study aims to determine (1) the credibility of agricultural information sources, (2) use of information by agricultural extension workers. This research is a descriptive study that was conducted in May-June 2020. The data was collected by a survey through questionnaires distributed to 5000 agricultural extension workers as respondents. The returned questionnaires were 2,306. The parameters measured are: credibility of information sources, information seeking strategies for agricultural extension workers, information utilization, agricultural extension information search strategies, and scientific meetings as an information sources. The results of the study show that: (1) almost of agricultural extension workers stated that the information obtained was very reliable, up-to-date, and came from expert sources, (2) most of the agricultural extension workers used information to be disseminated to farmers (compiled extension materials), (3) accessing online information sources is the most widely method used by agricultural extension workers, and (4) technical meetings and seminars were scientific meeting that most widely used as information sources.
Keywords: Extension workers · information needs · perception · dissemination

Introduction

Perpustakaan mempunyai tugas menyediakan koleksi dalam berbagai jenis dan format (cetak maupun elektronik), dimana koleksi tersebut dapat diakses oleh pemustaka baik secara offline maupun online. Keberhasilan suatu perpustakaan dapat dilihat dari kepuasaan pemustaka terhadap layanan yang diberikan. Perpustakaan harus memberikan layanan prima kepada pemustaka, salah satunya adalah dengan menyediakan koleksi/informasi sesuai dengan kebutuhan pemustaka. Pernyataan tersebut diperkuat salah satu pasal pada Undang-undang nomor 43 tahun 2007 tentang perpustakaan yang menyatakan bahwa layanan perpustakaan dilakukan secara prima dan berorientasi bagi kepentingan pemustaka. Salah satu tindakan yang bisa dilakukan untuk mengoptimalkan layanan perpustakaan dalam memenuhi kebutuhan pemustaka adalah melalui tahapan identifikasi kebutuhan informasi. Grover dkk. (2010), menyatakan bahwa proses identifikasi kebutuhan informasi merupakan proses manajemen yang bertujuan agar lembaga informasi terkait dapat menjalankan perannya dalam melayani segala lapisan masyarakat tanpa terkecuali, serta dapat memenuhi konsep fundamental dalam hal pemasaran, yakni berfokus pada pelanggan. Melakukan analisis siapa pemustaka, informasi apa yang diperlukannya, mengusahakan tersedianya jasa pada saat diperlukan, dan mendorong pemustaka untuk menggunakan fasilitas yang disediakan perpustakaan, merupakan salah satu usaha perpustakaan untuk meningkatkan kebermanfaatan koleksi. Penyuluh pertanian merupakan salah satu pemustaka potensial di Kementerian Pertanian. Pemustaka merupakan salah satu komponen utama di perpustakaan selain informasi atau koleksi. Komponen ini memiliki kaitan yang sangat erat mengingat setiap pemustaka memiliki kebutuhan terhadap informasi. Secara umum kebutuhan informasi setiap orang berbedabeda. Secara detail disampaikan oleh Sulistyo-Basuki (1994), bahwa kebutuhan informasi adalah informasi yang diinginkan seseorang untuk pekerjaan, penelitian, kepuasan rohani, pendidikan dan lain-lain. Kebutuhan informasi akan muncul seiring dengan kegiatan yang dilakukan oleh seseorang sehingga memunculkan keinginan/ketertarikan terhadap suatu informasi dalam upaya untuk mencapai tujuannya/ mencapai kepuasan. Fatmawati (2016) mengungkapkan bahwa kebutuhan informasi seseorang akan muncul manakala ada kesenjangan antara pengetahuan yang dimiliki dengan pengetahuan yang diinginkan sehingga seiring dengan keinginan seseorang untuk mencari jawaban atas pertanyaannya, dia akan terus menggali informasi yang diinginkan untuk menjawab semua ketidaktahuannya. Informasi pertanian yang cepat, kredibel, dan mudah diakses sangat dibutuhkan dalam mendukung terwujudnya penyuluh pertanian yang kompeten. Menurut Sumardjo (2008) dalam Anwas (2009) penyuluh yang kompeten apabila seseorang mampu: (1) mengerjakan suatu tugas atau pekerjaan penyuluhan dengan terampil untuk memberdayaan orang-orang dalam upaya meraih kesejahteraan diri, keluarga dan masyarakatnya; (2) mengorganisasikan sistem penyuluhan sehingga efektif memfasilitasi masyarakat dengan cermat agar masyarakat dapat memenuhi kebutuhannya secara mandiri; (3) melakukan tindakan yang tepat bilamana terjadi sesuatu yang berbeda dengan rencana penyuluhan semula; (4) bagaimana menggunakan kemampuan yang dimilikinya untuk memecahkan masalah atau melaksanakan tugasnya sebagai penyuluh meski dengan kondisi yang berbeda (lokal spesifik); (5) mampu mensinergikan kepentingan lokal dengan kepentingan yang lebih luas. Penyuluh pertanian lapangan profesional yaitu penyuluh tingkat desa atau penyuluh lapangan dengan kompetensi mampu melihat suatu masalah yang dihadapi oleh petani/peternak melalui indera mata atau media indera yang lain, dan memiliki kredibilitas tinggi, maka penyuluh lapangan mempunyai pengetahuan, keterampilan, disiplin yang tinggi dan sikap rendah hati, Suhardiyono (1990). Kajian ini dilakukan untuk mengetahui: 1) kredibilitas sumber informasi pertanian, dan 2) pemanfaatan informasi oleh penyuluh pertanian.

Method

Pengkajian dilaksanakan pada bulan Mei-Juni 2020, dirancang sebagai suatu survei yamg bersifat deskriptif. Populasi pengkajian adalah penyuluh pertanian yang ada di seluruh Indonesia. Data penyuluh pertanian berasal dari database Sistem Penyuluhan Pertanian (Simluhtan) tahun 2020 dengan total populasi sebanyak 73.566 orang penyuluh pertanian. Tabel Sampel Cohen Manion dan Morrison (2017) dipakai sebagai acuan dalam menentukan sampel minimal. Dari total populasi diperoleh sampel minimal sebanyak 1.800 orang. Penyebaran kuesioner dilakukan dengan memanfaatkan google document kepada 5000 orang melalui berbagai grup whatsapp penyuluh pertanian seluruh Indonesia dan kuesioner yang kembali sebanyak 2.306 buah. Pengolahan data menggunakan analisis statistik deskriptif. Parameter yang diukur yaitu: kredibilitas sumber informasi pertanian, pemanfaatan informasi, strategi pencarian informasi penyuluh pertanian, dan pertemuan ilmiah sebagai sumber informasi bagi penyuluh pertanian.

Result & Discussion

Kredibilitas Sumber Informasi Pertanian Kriteria penilaian terhadap kredibilitas atau kepercayaan suatu informasi mencakup beberapa hal yaitu: obyektifitas Kredibilitas sumber informasi dan pemanfaatannya ..... informasi yang disampaikan, informasi berasal dari sumber yang expert, informasinya dapat dipercaya, dan terbaru atau mutakhir. Hasil kajian menunjukkan bahwa sebagian besar (97%) penyuluh pertanian menyatakan bahwa informasi yang diperoleh sangat dipercaya. Sebanyak 96,6% penyuluh pertanian menyatakan informasi yang disampaikan merupakan informasi yang terbaru. Sementara 96.6% penyuluh pertanian menyatakan bahwa informasi yang diperoleh berasal dari sumber para ahli (expert) (Tabel 1). Kredibilitas sumber informasi mengacu kepada kredibilitas yang dirasakan seseorang dari sumber informasi, tanpa memedulikan apa isi informasi tersebut. Meskipun kredibilitas sumber tidak terkait dengan informasi itu sendiri, namun dapat memengaruhi persepsi pemustaka atas kegunaan informasi (Di and Luwen, 2012). Persepsi pelanggan atas kegunaan informasi akan menurun, jika sumber kurang kredibel. Hal tersebut sesuai dengan hasil penelitian Rushendi dan Zachroni (2016) bahwa kredibilitas sumber informasi dalam mengadopsi inovasi pertanian yang kredibel dapat mengubah sikap sebagian petani dari menanam sayuran secara monokultur, beralih menanam sayuran yang ditumpangsarikan dengan serai wangi. Biswas et al. (2006) menyatakan bahwa pesan yang disampaikan oleh sumber yang memiliki kredibilitas tinggi akan lebih mudah diterima dan lebih mudah menyebabkan perubahan sikap. Pemanfaatan Informasi oleh Penyuluh Pertanian Penyuluh pertanian memerlukan informasi untuk membantu penyampaian materi penyuluhan yang akurat kepada para petani di wilayah binaannya. Informasi diperoleh penyuluh pertanian baik dari perpustakaan maupun media online. Secara umum informasi yang diperoleh penyuluh pertanian dimanfaatkan untuk Kredibilitas informasi Sangat dipercaya Kategori (%) Dipercaya Kurang dipercaya Tidak dipercaya Informasi yang disampaikan obyektif 48,4 48,0 3,3 0,3 Informasi berasal dari sumber yang ahli/expert 56,2 40,4 3,0 0,4 Informasi dapat dipercaya 60,7 36,3 2,6 0,4 Informasi yang disampaikan merupakan informasi terbaru 58,6 38,0 2,9 0,5 Tabel 1. Kredibilitas Informasi. keperluan referensi pribadi (acuan untuk membuat program penyuluhan), dibagikan ke sesama penyuluh pertanian, disuluhkan kepada petani, dan didokumentasikan di perpustakaan instansinya. Hasil kajian menunjukkan bahwa 83% penyuluh pertanian menyimpan informasi sebagai referensi pribadi; 86,6% membagikan informasi ke sesama penyuluh pertanian; 94,9% menyebarkan kepada petani (sebagai bahan untuk melengkapi materi penyuluhan); dan sebanyak 49,5% mendokumentasikan hasil pencarian informasinya ke perpustakaan instansi masing-masing (Tabel 2). Hal ini sedikit berbeda dengan hasil penelitian Elian dkk. (2014) dimana 62% penyuluh membagikan hasil pencarian informasi yang diperolehnya kepada sesama penyuluh untuk bahan diskusi, 25% dibagikan atau disebarkan kepada petani sebagai materi penyuluh pertanian dan hanya 13% yang disimpan untuk konsumsi pribadi. Berdasarkan data di atas, penyuluh pertanian saat ini lebih memerhatikan kecepatan penyampaian pesan atau informasi langsung kepada petani daripada mendiskusikan terlebih dahulu dengan sesama penyuluh pertanian. Informasi mengenai inovasi pertanian perlu segera diketahui oleh petani agar mereka mengadopsi teknologi pertanian terbaru sehingga dapat meningkatkan produktivitas hasil pertaniannya. Namun pada kenyatannya, petani masih menggunakan cara bertani lama. Hal ini disinyalir karena petani kurang mengakses informasi dengan baik (Harahap 2016). Strategi Pencarian Informasi Pencarian informasi oleh penyuluh pertanian difokuskan pada upaya mendapatkan informasi untuk memenuhi kebutuhannya dalam mendukung pembuatan materi penyuluhan. Hasil kajian menunjukkan bahwa mengakses sumber informasi secara online merupakan cara yang paling banyak dilakukan oleh penyuluh pertanian (84,1%), diikuti dengan bertanya langsung kepada pelaku usaha Tabel 2. Pemanfaatan Informasi oleh Penyuluh Pertanian. Pemanfaatan informasi Kategori (%) Sangat Sering Sering Kadang-Kadang Tidak Pernah Disimpan sebagai referensi pribadi 33,1 49,9 14,0 3,1 Dibagikan ke sesama penyuluh 34,6 52,0 12,8 0,5 Disebarkan ke petani 52,6 42,3 4,8 0,3 Didokumentasi di perpustakaan instansi 15,1 34,4 36,6 13,9 tani (79,6%) dan bertanya kepada rekan sejawat (69,2%). Sedangkan pencarian informasi ke perpustakaan hanya dilakukan oleh 18,9% penyuluh pertanian (Gambar 1). Data pada Gambar 1 memperlihatkan bahwa penyuluh pertanian lebih sering melakukan pencarian informasi melalui sumber informasi online, erat kaitannya dengan perkembangan teknologi informasi yang pesat saat ini. Penyuluh pertanian dapat mengakses ke berbagai sumber informasi tanpa dibatasi ruang dan waktu. Temuan tersebut juga sejalan dengan pendapat Umbara et al. (2021) bahwa mayoritas penyuluh mengakses internet secara rutin dalam menyiapkan program penyuluhan. Pertemuan Ilmiah Sebagai Sumber Informasi Pelatihan dan pertemuan ilmiah merupakan salah satu cara dalam meningkatkan pengetahuan, keterampilan, perubahan sikap, serta hal-hal yang dapat menjadi perbaikan terhadap peningkatan kinerja dan produktivitas penyuluh pertanian. Informasi yang diperoleh dari pertemuan ilmiah lebih banyak dimanfaatkan untuk menyusun materi penyuluhan, pedoman/petunjuk teknis, dan rencana kerja penyuluh pertanian Suryantini (2004). Sedangkan informasi dari publikasi ilmiah yang bersumber dari instansi penelitian dan perguruan tinggi dimanfaatkan terutama untuk menyusun materi penyuluhan dan melakukan pengkajian/ pengujian teknologi anjuran. Hasil kajian menunjukkan bahwa pertemuan ilmiah berupa temu teknis merupakan pertemuan yang paling sering diikuti oleh penyuluh pertanian yaitu sebanyak 1.472 orang atau 69,6%, diikuti oleh seminar (52,3%), temu tugas (40%) dan lokakarya (23%). Jenis pertemuan yang diikuti penyuluh pertanian dengan frekuensi rendah yaitu kongres (1,6%) dan konferensi (3,7%) (Gambar 2). Frekuensi atau intensitas pertemuan ilmiah yang diikuti penyuluh pertanian dalam kajian ini dibagi ke dalam empat kategori yaitu (1) tidak pernah mengikuti, (2) tidak sering (1 kali), (3) sering (2-4 kali), dan (4) sangat sering (> 5 kali). Hasil kajian menunjukkan bahwa intensitas pertemuan ilmiah yang paling sedikit diikuti oleh 30% penyuluh pertanian selama dua tahun terakhir adalah lokakarya, temu tugas, mimbar saresehan, dan seminar dengan intensitas 1 kali dan temu teknis dengan intensitas 1-2 kali. Sedangkan konferensi dan kongres merupakan pertemuan yang intensitas paling rendah diikuti oleh penyuluh pertanian (Tabel 3). Mengakses sumber informasi secara online Mengunjungi Perpustakaan Bertanya pada rekan sejawat Pengamatan langsung (observasi) Bertanya kepada pengambil kebijakan Bertanya langsung (inquiry) pada ahli Gambar 1. Perilaku pencarian informasi pernyuluh pertanian. Kredibilitas sumber informasi dan pemanfaatannya ..... Temu Tugas Temu Teknis1472 Seminar Lokakarya Mimbar saresehan Konferensi Kongres Gambar 2. Jenis pertemuan ilmiah yang diikuti selama dua tahun terakhir. Tabel 3. Frekuensi/intensitas pertemuan ilmiah oleh penyuluh pertanian. Jenis Pertemuan ilmiah Kategori (%) Tidak Pernah Tidak Sering Sering Sangat Sering Lokakarya 49,8 39,8 08,5 1,8 Temu Teknis 14,7 45,8 30,9 8,7 Temu Tugas 27,3 34,5 26,5 11,7 Mimbar Saresehan 51,8 36,8 10,0 1,3 Konferensi 72,9 21,9 4,1 1,1 Seminar 31,0 36,9 22,2 9,9 Kongres 82,8 14,7 2,2 0,3 Anwas et al. (2010) menyatakan bahwa intensitas pertemuan antar penyuluh ternyata memiliki peran yang penting yaitu terbukti berpengaruh nyata dan langsung dalam meningkatkan kompetensi penyuluh. Berbeda dengan hasil kajian Suryantini (2003) dimana pertemuan ilmiah yang sering digunakan penyuluh pertanian sebagai sumber informasi adalah temu tugas dan mimbar saresehan. Hal ini karena informasi yang diperoleh dari kedua pertemuan tersebut sesuai dengan kebutuhan penyuluh.

Conclusion

Sebagian besar penyuluh pertanian menyatakan bahwa informasi yang diperoleh sangat dipercaya, terbaru, dan berasal dari sumber para ahli/expert. Sebagian penyuluh pertanian memanfaatkan informasi untuk disebarkan kepada petani (menyusun materi penyuluhan). Mengakses sumber informasi secara online merupakan cara yang paling banyak dilakukan oleh penyuluh pertanian, Kegiatan temu teknis dan seminar merupakan pertemuan ilmiah yang paling banyak dimanfaatkan penyuluh pertanian sebagai sumber informasi.