Perilaku Penyuluh Pertanian Dalam Pemenuhan Kebutuhan Informasi Agriculture Extension Workers Behavior In Fulfillment of Information Needs
Kementerian Pertanian; Kementerian Pertanian; Kementerian Pertanian
Abstrak
Pemenuhan kebutuhan informasi sangat penting bagi para penyuluh pertanian dalam mendukung tugas dan fungsinya. Namun, sampai saat ini pemenuhan kebutuhan informasi pertanian dan perilaku pencarian informasi penyuluh pertanian belum optimal dilaksanakan. Pengkajian ini bertujuan untuk mengetahui perilaku penyuluh pertanian dalam pemenuhan kebutuhan informasi melalui pemanfaatan berbagai media informasi, yaitu media online, media sosial, media cetak dan media elektronik. Pengkajian ini merupakan penelitian deskriptif yang dilaksanakan pada bulan Mei - Juni 2020. Pengumpulan data dilakukan dengan cara survei menggunakan kuesioner terhadap 2.306 penyuluh. Parameter yang diukur adalah karakteristik penyuluh, pemanfaatan berbagai media online, pemanfaatan media sosial, pemanfaatan media cetak, dan pemanfaatan media elektronik. Hasil pengkajian menunjukkan bahwa media online yang paling banyak dimanfaatkan oleh penyuluh baik dari segi jenis media maupun frekuensi penggunaannya yaitu whatsapp dan facebook. Media cetak berupa brosur dan leaflet merupakan media yang paling banyak dimanfaatkan penyuluh dengan frekuensi penggunaan yang tinggi untuk mendukung tugasnya dalam penyuluhan pertanian. Pemanfaatan media elektronik terbanyak oleh penyuluh pertanian adalah televisi, kemudian VCD/CD/DVD dan radio. Berdasarkan hasil pengkajian ini disarankan agar pemenuhan kebutuhan informasi pertanian dilakukan dengan menyediakan informasi pertanian melalui media yang paling banyak diminati penyuluh pertanian.
Abstract
Fulfillment of information needs is very necessary for extension workers. However, fulfillment of the agricultural information needs and information seeking behavior of extension workers have not optimally conducted. This study aimed to find out the behavior of fulfilling the information needs of extension workers through the use of various information media, i.e. online media and social media as well as printed media anda electronic media. This study was a descriptive study that was conducted in May - June 2020. Data collection was carried out by means of a survey with a questionnaire on 2.306 extensions workers. The parameters measured were the characteristics of extension workers, the use of varian media (online media, social media, the use printed media, and electronic media). The results of the study showed that the most online media widely used by extension workers both in terms of type of media and frequency of use is whatsapp and facebook. Printed media in the form of brochures and leaflets were the media most used by extension workers with a high frequency of use in supporting agricultural extension. The highest utilization of electronic media by extension workers was television, then VCD/CD/DVD and radio. Based on the results of this study, it can be suggested that the fulfillment of agricultural information needs can be done by providing agricultural information through the media that is most in demand by agricultural extension workers.
Keywords:
Agricultural extension workers
· information needs
· information seeking behavior
· the use of media
Introduction
Informasi dapat diperoleh dari berbagai sumber untuk memenuhi kebutuhan seseorang. Menurut Shannon dan Weaver (1949) informasi merupakan sebuah stimulus yang dapat mengurangi ketidakpastian. Artinya seseorang akan berkurang keraguan dan timbul pemahaman baru terhadap sesuatu apabila telah mendapat informasi tentang hal tersebut (Eviliyana dan Arfa, 2015). Setiap individu mempunyai kebutuhan informasi yang berbeda-beda, dan pemenuhan kebutuhan informasinya juga bervariasi. Menurut Sulistyo Basuki (2004) kebutuhan informasi adalah informasi yang diinginkan seseorang untuk menunjang kebutuhan sehari-harinya atau dengan kata lain kebutuhan informasi merupakan keinginan seseorang untuk memperoleh pengetahuan yang bermanfaat bagi dirinya. Semakin tinggi kebutuhan informasi seseorang, semakin tinggi pula pencarian informasi yang dilakukan. Kesadaran terhadap kebutuhan informasi yang mendorong seseorang untuk berusaha menemukan informasi dengan cara masing-masing atau perilaku penemuan atau pencarian informasi yang berbeda (Herlina, Suriana, & Misroni, 2016). Wilson (2000) menyatakan bahwa perilaku pengguna informasi merupakan suatu tindakan baik fisik maupun mental yang dilakukan seseorang dengan menggabungkan informasi baru dengan pengetahuan dasar yang telah dimiliki sebelumnya. Wilson mengistilahkan perilaku pencarian informasi (information seeking behavior) sebagai perilaku seseorang ketika berinteraksi dengan semua jenis informasi dan upaya menemukan informasi dengan tujuan tertentu sebagai akibat dari adanya kesenjangan informasi dalam diri seseorang dengan informasi yang tersedia di sekitarnya. Penyuluh pertanian sebagai garda terdepan dalam penyampaian program pembangunan pertanian kepada petani membutuhkan informasi sebagai bahan dasar melaksanakan tugas dan fungsinya. Penyuluh memerlukan akses terhadap informasi terkini dan pengetahuan terbaru di bidang keahliannya ataupun bidang lain yang berkaitan. Peranan penting penyuluh erat kaitannya dengan tugas pokoknya yaitu menyiapkan, melaksanakan, mengembangkan, mengevaluasi, dan melaporkan kegiatan penyuluhan (Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian, 2020). Perilaku pencarian informasi mengalami pergeseran di era internet of thing atau serba internet saat ini. Penyuluh pertanian mengalami transformasi perilaku pada proses mengakses berbagai sumber informasi pertanian. Penyuluh yang tadinya memanfaatkan media pembelajaran berbentuk tercetak (majalah/buku/leaflet) atau melalui radio dan televisi, bertransformasi dengan menggunakan media sosial sebagai sumber belajar mandiri. Media sosial seperti seperti facebook, whatsapp, instagram, dan youtube, dimanfaatkan penyuluh sebagai sumber informasi pertanian. Fenomena ini diperkuat oleh teori agenda-setting dari McCombs dan DL Shaw (Littlejohn and Foss, 2011) yang mengasumsikan bahwa media memiliki pengaruh dan penekanan informasi tertentu terhadap masyarakat. Di samping media sosial, media massa berkaitan erat dengan media pembelajaran yang berfungsi membantu menyebarkan dan mengomunikasikan informasi. Selain itu, mengarahkan untuk tujuan-tujuan penyuluhan dan pembangunan (Mardikanto, 2010). Namun demikian merujuk pada teori uses and gratifications dari Katz (Littlejohn and Foss, 2011), bahwa yang aktif dan selektif menggunakan media untuk memenuhi kebutuhan dan kepentingannya adalah pengguna media atau khalayak. Dalam hal ini penyuluh pertanian juga memiliki sifat selektif dalam menggunakan media sesuai dengan kebutuhannya. Perubahanperubahan tersebut berdampak pada pemenuhan kebutuhan informasi dan perilaku pencarian informasi penyuluh pertanian, karena terdapat berbagai macam faktor yang memengaruhi seseorang dalam memenuhi kebutuhan informasi. Berbagai sumber informasi telah tersedia bagi penyuluh pertanian baik dalam bentuk media cetak, media elektronik maupun internet dan media sosial. Berbagai media tersebut bertujuan untuk mendekatkan informasi pertanian, meningkatkan pengetahuan dan pemahaman pengguna, termasuk penyuluh pertanian. Namun demikian, sampai saat ini kebutuhan informasi pertanian, khususnya penyuluh, belum teridentifikasi secara paripurna, baik dari segi jenis, kemasan dan akses informasi yang dibutuhkan. Di sisi lain tidak semua penyuluh dapat memenuhi kebutuhan informasinya. Hal ini dikarenakan masih rendahnya kompetensi penyuluh (Bahua et al. 2013 dan Muliady, 2009). Rendahnya kemampuan penyuluh tersebut berkaitan dengan keahlian dalam menelusur informasi, terutama apabila informasi tersebut harus ditelusur secara online atau database (Muthi’ah, 2020). Kebutuhan informasi pertanian sangat diperlukan sebagai bahan masukan dalam menentukan strategi pemenuhan kebutuhan informasi. Berdasarkan hal tersebut, perlu dilakukan pengkajian untuk menjawab bagaimana perilaku penyuluh dalam memenuhi kebutuhan informasi pada era pesatnya perkembangan teknologi informasi dan komunikasi. Hasil pengkajian sebagai bahan masukan dalam penyediaan informasi yang sesuai dengan kebutuhan penyuluh pertanian. Pengkajian ini bertujuan untuk mengetahui perilaku penyuluh dalam pemenuhan kebutuhan informasi pertanian melalui pemanfaatan berbagai media informasi, yaitu media online dan media sosial, media cetak serta media elektronik.
Method
Pengkajian dirancang melalui pendekatan deskriptif dengan menggunakan data kuantitatif yang didukung dengan analisis statistik deskriptif. Pengumpulan data dilaksanakan pada bulan Mei sampai dengan Juni 2020. Populasi sampel berasal dari database Sistem Penyuhan Pertanian (Simluhtan) tahun 2020 dengan total populasi sebanyak 73.566 orang penyuluh pertanian. Tabel Sampel Cohen Manion dan Morrison (2017) dipakai sebagai acuan dalam menentukan sampel minimal. Dari total sampel diperoleh sampel minimal sebanyak 1800 orang. Pengumpulan data dilakukan melalui kuesioner yang dilakukan dengan memanfaatkan google document dan disebarkan melalui grup-grup whatsapp penyuluh pertanian seluruh Indonesia dan kuesioner yang kembali sebanyak 2306. Parameter yang diukur yaitu: karakteristik penyuluh pertanian, pemanfaatan media online dan media sosial, pemanfaatan media cetak, satu Variabel Kategori Jumlah Persentase (%) Umur (tahun) <38 715 31.01 38-48 927 40.20 49-59 657 28.49 >59 7 0.30 Jumlah 2306 100,00 Jenis Kelamin Laki-laki 1.393 60.41 Perempuan 913 39.59 Jumlah 2.306 100,00 Pendidikan formal SLTP 9 0.39 (terakhir) SLTA 477 2069 D1-D3 169 7.33 D4-S1 1.527 66.22 S2 123 5.33 S3 1 0.04 Jumlah 2.306 100,00 Pengalaman bekerja <10 tahun 583 25.28 (tahun) 10-20 tahun 1.319 57.20 >20 tahun 404 17.52 Jumlah 2.306 100,00 Status penyuluh PNS 1.420 61.58 THL-TBPP 773 33.52 Swadaya 113 4.90 Jumlah 2.306 100,00 Tabel 1. karakteristik penyuluh pertanian. pemanfaatan media elektronik. Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif.
Result & Discussion
Karakteristik Penyuluh Pertanian Berdasarkan hasil analisis diketahui bahwa mayoritas umur penyuluh pertanian (40,20%), berkisar di kategori umur 38-48 tahun diikuti kategori umur kurang dari 38 tahun (31,01%) dan kategori umur antara 49-59 tahun (28,49%). Data tersebut menunjukkan bahwa responden sebagian besar berada dalam usia produktif. Pendidikan formal terakhir yang diikuti penyuluh pertanian sebagian besar adalah D4/S1 sebesar 66,22%, diikuti jenjang pendidikan terakhir SLTA sebanyak 20,69%, sedangkan yang paling sedikit adalah jenjang pendidikan S3 sebesar 0,04% (Tabel 1). Pendidikan penyuluh sangat memengaruhi kemampuan atau penguasaan materi yang diberikan, kemampuan mengembangkan ide, mengorganisasikan masyarakat serta kemampuan untuk menumbuhkan, menggerakkan dan memelihara partisipasi masyarakat (Mardikanto, 2010). Sebagian besar penyuluh pertanian (57,20%) telah memiliki pengalaman bekerja sebagai penyuluh selama 10-20 tahun, kemudian penyuluh yang memiliki pengalaman bekerja selama kurang dari 10 tahun sebanyak 25,28%. Hal ini memperlihatkan bahwa mayoritas penyuluh sudah cukup berpengalaman bekerja di bidang penyuluhan. Responden penyuluh sebagian besar berasal yaitu penyuluh Dinas Pertanian dengan status PNS sebanyak 61,58%, penyuluh THL-TBPP sebanyak 773 orang (33,53%), dan penyuluh swadaya sebanyak 113 orang atau hanya mencapai 4,9%. Pemanfaatan Media Online dan Media Sosial Pemanfaatan media online dan media sosial oleh penyuluh pertanian yang diukur adalah jenis media sosial dan media online serta intensitas penyuluh dalam mengakses kedua media tersebut. Hasil analisis data menunjukkan bahwa whatsapp merupakan jenis media sosial yang paling banyak digunakan oleh penyuluh pertanian. Sebanyak 2235 penyuluh (94,5%) memanfaatkan whatsapp, diikuti facebook yang dimanfaatkan oleh 1968 penyuluh (83,2%) (Gambar 1). Hal ini sesuai dengan penelitian Humaidi et al. (2020) yang menunjukkan bahwa penyuluh banyak memanfaatkan grup whatsapp untuk mendapatkan berbagai informasi terkini terkait pertanian seperti perkembangan komoditas pertanian terbaru, teknik budidaya, pengolahan, pascapanen, teknologi pertanian, pemasaran, dan akses permodalan. Grup-grup whatsapp tersebut adalah Perhiptani, KTNA, dan kelembagaan penyuluh. Selain itu, Trisnani (2017) menemukan bahwa whatsapp tidak hanya dimanfaatkan oleh penyuluh, tetapi juga oleh tokoh masyarakat untuk berkomunikasi dan menyampaikan pesan pada sasarannya. Youtube dan internet (searching/browsing) termasuk platform media sosial yang juga cukup banyak dimanfaatkan oleh penyuluh yaitu masing-masing digunakan oleh 1502 dan 1512 penyuluh. Media sosial yang pemanfaatannya rendah adalah twitter (275 orang) dan blog (125 orang) (Gambar 1). Purwatiningsih, Fatchiya dan Mulyandari (2018) menemukan hal yang sama di Kabupaten Cianjur di mana dalam pemanfaatan internet oleh penyuluh tergolong sedang. Namun demikian terbukti berpengaruh positif terhadap kinerja penyuluh. Media sosial yang frekuensi pemanfaatannya paling tinggi adalah whatsapp. Penyuluh yang sangat sering menggunakan whatsapp sebanyak 91%, sedangkan pemanfaatan facebook, internet dan youtube berturutturut yaitu 57,9%; 56,7% dan 39,4%. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian Trisnani (2017) dalam penelitiannya terhadap tokoh masyarakat yang menunjukkan bahwa media sosial yang paling sering diakses setidaknya rata-rata 1-3 jam per hari adalah facebook, whatsapp, youtube dan internet. Pemanfaatan Media Cetak Penyuluh pertanian dalam melaksanakan berbagai kegiatan memerlukan dukungan informasi yang dapat Gambar 1. Pemanfaatan media sosial oleh penyuluh pertanian. Tabel 2. Frekuensi pemanfaatan media sosial oleh penyuluh pertanian. Jenis media sosial Frekuensi pemanfaatan (%) Tidak menggunakan Tidak sering Sering Sangat sering Whatsapp 1,1 1,4 6,5 91,0 Facebook 8,9 12,4 22,7 57,9 Internet 3,9 11,7 27,8 56,7 Youtube 7,2 21,4 32 39,4 Instagram 44,4 22,5 16,3 16,8 Telegram 73,5 12,7 7,6 6,2 Twitter 78,3 13,3 5,3 3,1 Blog 74,1 16,7 6,5 2,7 diperoleh dari berbagai sumber. Sumber informasi diantaranya berasal dari sumber informasi interpersonal dan intrapersonal. Media massa berupa sumber informasi dari media cetak, media elektronik, dan publikasi ilmiah. Keberadaan media massa bagi penyuluh pertanian berperan dalam membantu kegiatan penyuluhan pertanian, karena dapat mengefektifkan komunikasi antara sumber informasi dengan penerima informasi. Seiring perkembangan teknologi informasi dan komunikasi, konsep komunikasi massa mengalami pergeseran. Realitas menunjukkan bahwa industri media massa mengalami pergeseran. Sasaran media massa yang awalnya untuk disebarkan ke semua arah menjadi cenderung spesifik (segmented). Berdasarkan hasil analisis pemanfaatan media cetak oleh penyuluh pertanian diketahui bahwa media cetak yang paling banyak dimanfaatkan oleh penyuluh untuk mendukung kegiatan penyuluhan berturut-turut yaitu buku/literatur dimanfaatkan 1.541 orang, brosur 1.416 orang, leaflet 1.353 orang, tabloid 1.120 orang dan petunjuk teknis 1.035 orang (Gambar 2). Namun demikian pemanfaatan berbagai media cetak tersebut tidak bersifat tunggal. Penyuluh juga memanfaatkan berbagai kombinasi media cetak untuk menambah informasi pertanian. Gambar 2. Pemanfaatan media cetak oleh penyuluh pertanian. Pemanfaatan media cetak berupa brosur dan leaflet yang cukup tinggi oleh penyuluh pertanian disebabkan media cetak tersebut mempunyai kelebihan apabila dikaitkan dengan kegiatan diseminasi. Brosur dan leaflet dapat menjangkau sasaran yang lebih luas dan mudah penyebarannya jika dibandingkan dengan komunikasi tatap muka. Pemanfaatan brosur dan leaflet oleh penyuluh dengan cara menyampaikan langsung (membagikan) kepada petani yang membutuhkan, dan petani bisa membaca brosur dan leaflet berulang kali, sehingga memudahkan petani memahami informasi di dalamnya (Ruyadi, 2015). Hasil analisis lebih lanjut terkait pemanfaatan setiap jenis media cetak secara tersendiri oleh penyuluh memperlihatkan nilai yang sangat rendah. Penyuluh yang memanfaatkan buku/literatur hanya 93 orang (3,92%) dan media cetak lainnya berkisar antara 0,04%1,01%, sedangkan yang memanfaatkan berbagai ragam media cetak adalah sebanyak 2.111 orang (88,92%.) Hal ini menunjukkan bahwa dalam memanfaatkan media cetak, penyuluh memerlukan beragam informasi dari bermacam-macam media cetak yang tersedia. Frekuensi pemanfaatan media cetak oleh penyuluh pertanian dalam pengkajian ini dibagi ke dalam empat kategori yaitu (1) tidak menggunakan, (2) tidak sering, (3) sering dan (4) sangat sering. Secara umum frekuensi pemanfaatan media cetak oleh penyuluh pertanian mayoritas dalam kategori “tidak sering”. Jenis media cetak yang memiliki frekuensi pemanfaatan cukup tinggi atau kategori “sering digunakan” adalah buku 42,7%, brosur 43,2% dan leaflet 39,8%. Frekuensi pemanfaatan ketiga jenis media itu bahkan tidak melebihi 50% (Tabel 3). Pemanfaatan Media Elektronik Penyuluh pertanian, memanfaatkan media elektronik dalam mendukung kegiatan penyuluhan. Gambar 4 memperlihatkan bahwa penyuluh banyak memanfaatkan televisi, radio, dan VCD/CD/DVD. Penyuluh yang memanfaatkan televisi adalah sebanyak 1240 orang; radio 418 orang; dan VCD/CD/DVD 1.115 orang. Hal ini sejalan dengan temuan Veronice (2013) yang menyimpulkan bahwa tingkat pemanfaatan televisi oleh penyuluh dalam kategori tinggi dan pemanfaatan radio dalam kategori sangat rendah. Acara televisi biasa dilihat oleh penyuluh ketika sore sampai malam hari setelah selesai pulang dari kantor atau dari lapangan. Penyuluh menonton televisi dengan tujuan untuk hiburan, menciptakan informasi, membuat materi penyuluhan, sebagai media penyuluhan dan meningkatkan profesionalisme. Pemanfaatan radio tergolong rendah karena aktivitas ini dilakukan penyuluh secara tidak sengaja seperti mendengarkan radio ketika di dalam mobil, mendengarkan radio melalui headset di handphone, dan mendengarkan radio di sawah petani. Tujuan penyuluh mendengarkan radio di antaranya adalah untuk memperoleh informasi, sebagai hiburan, sebagai media penyuluhan, membuat materi penyuluhan dan meningkatkan profesionalisme. Tabel 3. Frekuensi pemanfaatan media cetak oleh penyuluh pertanian. Jenis media tetak Frekuensi pemanfaatan (%) Tidak menggunakan Tidak sering Sering Sangat sering Buku/literatur 7,2 33,4 42,7 16,7 Prosiding 62,5 24,9 10 2,7 Juknis 16,3 38,3 34 11,5 Juklak 21,9 38,5 29,1 10,5 Pedoman umum 16,2 37,4 33,8 12,6 Majalah 19,1 41 31,2 8,7 Buletin 29 39,4 25,3 6,3 Jurnal 35,6 38,4 20,1 5,9 Brosur 10,1 31,7 43,2 15 Leaflet 14,7 28,4 39,8 17 Folder 25,9 31,3 30,3 12,5 Poster 22,4 41,8 27,9 7,9 Flyer 60,3% 27,9 8,4 3,4 Surat kabar Tabloid 18,4 39 31,1 11,4 Veronice (2013) juga menyampaikan bahwa penggunaan VCD/CD/DVD tergolong sangat rendah karena alat pemutarnya terbatasnya. Tujuan penyuluh menggunakan CD/DVD sangat beragam yaitu sebagai media penyuluhan, untuk hiburan, membuat materi penyuluhan, sebagai sumber informasi, meningkatkan profesionalisme dan administrasi kerja. Pemanfaatan VCD/CD/DVD pada pengkajian ini tergolong tinggi, dimungkinkan karena saat ini dengan perkembangan teknologi informasi, alat pemutar VCD/CD/DVD lebih banyak yaitu dapat menggunakan pemutar khusus, komputer maupun laptop. Televisi1230 VCD/CD/DVD Radio Gambar 4. Pemanfaatan media elektronik oleh penyuluh pertanian. Gambar 5. Frekuensi pemanfaatan media elektronik oleh penyuluh pertanian. Frekuensi pemanfaatan media elektronik menggambarkan seberapa sering media elektronik tersebut dimanfaatkan. Gambar 5. memperlihat bahwa penyuluh pertanian memanfaatkan media elektonik dengan frekuensi satu kali sampai dengan tujuh kali seminggu, dan bahkan ada sebagian yang belum memanfaatkan media tersebut. Jumlah penyuluh yang memanfaatkan media elektronik setiap hari dalam seminggu berjumlah paling besar (29,6%), namun, jumlahnya tidak berbeda secara mencolok dengan penyuluh yang memanfaatkan televisi 1 kali (25,8%) dan 3 kali seminggu (25,8%). Anwas et al. (2010) menyampaikan bahwa meskipun frekuensi pemanfaatan televisi tinggi akan tetapi substansinya kurang sesuai dengan penyuluhan. Apabila media televisi dimanfaatkan secara kontinu dan subtansinya lebih relevan dengan penyuluhan, maka media televisi memiliki potensi dalam memengaruhi kompetensi penyuluh pertanian. Pemanfaatan media televisi berbeda dengan pemanfaatan radio dan VCD/CD/DVD. Penyuluh memanfaatkan televisi hampir setiap hari, namun hanya seminggu sekali memanfaatkan radio sebagai sumber informasi. Anwas et al. (2010) juga mengemukakan bahwa pemanfaatan media radio oleh penyuluh termasuk rendah karena daya tariknya masih kalah dibandingkan televisi yang mampu menyampaikan pesan secara audiovisual, selain sebagian besar substansi acara radio merupakan acara hiburan. Media VCD/CD/DVD dimanfaatkan oleh penyuluh seminggu sekali dengan presentase tertinggi (34,6%). Hal ini dikarenakan dalam memanfaatkan VCD/CD/DVD membutuhkan alat pemutar, sehingga dengan kondisi penyuluh pertanian yang banyak berada di lapangan tidak memungkinkan untuk sering memanfaatkan media tersebut. Apabila dilihat dari pemanfaatannya, penggunaan media elektronik terbesar adalah televisi diikuti oleh VCD/CD/DVD dan radio. Pemanfaatan media elektronik oleh penyuluh kemungkinan disebabkan karena sifat masing-masing media, akses oleh petani dan jangkauannya. Radio merupakan media yang paling sedikit digunakan karena media ini merupakan media yang kurang diminati oleh penyuluh pertanian. Teknologi radio telah tergeser oleh media televisi dan VCD/CD/DVD yang mempunyai jangkauan yang lebih besar dan lebih menarik karena selain dapat menghadirkan suara seperti radio tetapi juga menghadirkan gambar hidup yang menjadikannya lebih menarik. VCD/CD/DVD mempunyai keterbatasan pada sumber informasinya dibandingkan dengan televisi. Jumlah VCD/CD/DVD biasanya terbatas, sehingga jangkauan juga terbatas dibanding dengan televisi. Televisi secara nyata mempunyai kelebihan dibandingkan dengan media elektronik lainnya dalam hal kemenarikan dan jangkauan penyebarannya.
Conclusion
Media online yang paling banyak dimanfaatkan oleh penyuluh pertanian baik dari segi jenis media maupun frekuensi penggunaan adalah whatsapp dan facebook. Media cetak berupa brosur dan leaflet merupakan media yang paling banyak dimanfaatkan oleh penyuluh dengan frekuensi penggunaan yang tinggi untuk mendukung tugasnya dalam penyuluhan pertanian. Pemanfaatan media elektronik terbesar oleh penyuluh pertanian adalah televisi, kemudian VCD/CD/DVD dan radio. Tingginya pemanfaatan media online khususnya media sosial dan makin menurunnya pemanfaatan media elektronik seperti televisi dan radio dapat dijadikan masukan bagi penyedia informasi. Strategi pemenuhan informasi dapat dilakukan melalui media yang paling banyak diminati penyuluh pertanian.