HUBUNGAN ANTARA PENGGUNAAN WEBPAC DENGAN PEMENUHAN KEBUTUHAN INFORMASI PEMUSTAKA DI UPT PERPUSTAKAAN INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG (ITB)
Universitas Pendidikan Indonesia; Universitas Pendidikan Indonesia; Universitas Pendidikan Indonesia
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara penggunaan Webpac dengan pemenuhan kebutuhan informasi pemustaka di UPT Perpustakaan ITB. Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif korelasional dengan pendekatan kuantitatif. Penelitian ini menunjukan bahwa terdapat hubungan antara penggunaan Webpac dengan pemenuhan kebutuhan informasi pemustaka di UPT Perpustakaan Institut Teknologi Bandung (ITB) dengan kategori hubungannya sedang, dengan tingkat hubungan antara keduanya signifikan.
Abstract
This research was conducted to figure out the relationships between Webpac usage and information fulfillment of users in the library of Bandung Institute of Technology. This research is using descriptive correlational research method with quantitative approach. From the findings, it can be concluded that there are relationships between Webpac usage and information fulfillment of the users, where the category of the relationships is average and the degree of relationships is significant.
Keywords:
Webpac Usage
· Information Fulfillment of Users
Introduction
Secara umum setiap individu memiliki kebutuhan informasi yang berbeda sesuai dengan keadaan psikologis, biologis, dan lingkungannya, n amu n p a d a d a s a r n y a me r e k a memb u t u h k a n i n f o rma si u n t u k pemenuhan kebutuhannya. Kebutuhan informasi seseorang menurut Guha (1978) diantaranya adalah: “…current ne ed approach…e v e r yday ne ed a p p r o a c h … e x h a u s t i n g n e e d a p p r o a c h … c a t c h i n g u p n e e d approach…” (Puspitadewi, dkk., 2012, hlm. 4). Jadi kebutuhan informasi seseorang diantaranya adalah informasi yang mutakhir, informasi yang dibutuhkan sehari-hari, informasi yang menyeluruh, serta informasi yang cepat dan singkat. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut maka sesorang harus mencari informasi melalui berbagai sumber, salah satunya adalah perpustakaan. Te r d a p a t b e b e r a p a j e n is perpustakaan yang ada di Indonesia, salah satunya adalah perpustakaan perguruan tinggi yang dalam penyelenggaraannya harus bisa mendukung Tridharma Perguruan Tinggi sesuai yang diterangkan oleh Yusup dan Subekti (2010, hlm. 20) bahwa “fungsi perpustakaan perguruan tinggi tetap pada hal-hal yang bersifat informatif-akademik (ilmiah), dan penelitian”. Perpustakaan perguruan tinggi perlu mengembangkan layanan perpustakaan berbasis teknologi i n f o r m a s i d a n k o m u n i k a s i . Pengaplikasian TI di perpustakaan bisa diterapkan di titik layanan pengguna, yaitu pada sarana untuk mempermudah Sistem Temu Balik Informasi di pepustakaan dengan cara komputerisasi dengan menggunakan OPAC (Online Public Access Catalog). Menurut Kao (1995) OPAC adalah: “this catalog is a listing of a library materials on a computer terminal”. Jadi OPAC merupakan sebuah terobosan yang sangat membantu dalam sistem temu balik informasi di Perpustakaan, yang semulanya buku didapatkan dengan menggunakan katalog kartu sebagai alat temu baliknya, kini menjadi dipermudah dengan katalog yang bersifat digital yang pastinya akan lebih cepat dan mudah digunakan. Salah satu perpustakaan perguruan tinggi yang sudah menerapkan OPAC sebagai sarana temu balik informasi di perpustakaan adalah UPT Perpustakaan Institut Teknologi Bandung (ITB). Koleksi-koleksi tercetak di UPT Perpustakaan ITB dapat ditelusur secara mudah dan cepat dengan menggunakan Webpac atau katalog online yang terbuka untuk umum. Webpac ini merupakan OPAC ITB yang digunakan sebagai alat telusur informasi oleh pemustaka. Selain dapat diakses di dalam perpustakaan, Webpac juga dapat diakses dimanapun dan kapanpun oleh pemustaka melalui website perpustakaan. Webpac merupakan alat telusur utama di Perpustakaan ITB. Walaupun terdapat dua fitur pencarian yang disediakan oleh Webpac namun kenyataannya masih jarang ditemukan pemustaka yang menggunakan fitur pencarian lanjut. Pemustaka lebih memilih menggunakan fitur pencarian biasa dalam menelusur Webpac. Selain itu berdasarkan data observasi muncul permasalahan bahwa terkadang walaupun telah menelusur menggunakan Webpac tetapi pemustaka tidak memperoleh informasi yang relevan dengan kebutuhannya bahkan Webpac tidak dapat menemukan informasi yang dibutuhkan sama sekali. Permasalahan-permasalahan mengenai penggunaan Webpac tersebut menimbulkan pertanyaan, apakah penggunaan Webpac sebagai alat temu balik informasi di Perpustakaan ITB sudah tepat dalam memenuhi kebutuhan informasi pemustaka ataukah belum. Karena secara teoritis penggunaan OPAC dari segi pemakai dapat berupaya dalam menemukan informasi di perpustakaan, terlebih lagi OPAC memiliki kelebihan yaitu informasi yang diberikan lebih mutakhir karena informasi yang dimiliki mudah diperbaharui dibandingkan katalog kartu. Berdasarkan pemaparan di atas maka penulis bermaksud memfokuskan pengkajian mengenai hubungan antara penggunaan Webpac dengan pemenuhan kebutuhan informasi pemustaka di UPT Perpustakaan ITB. Adapun indikatorindikator penggunaan Webpac yang akan dikaji merupakan pengembangan dari gabungan antara teori dari Ellis (1997) dengan penelitian dari Sankari, dkk. (2013). Menurut Ellis (1997) karakteristik perilaku pencarian informasi diantaranya ada l ah “ starting..., chaining…, b rowsi n g … , d i f f e r e n t i a t i n g … , monitoring…, extracting…, verifying…, ending…” (Yusup dan Subekti, 2010, hlm. 105). Aspek-aspek penggunaan OPAC berdasarkan penelitian dari Sankari, dkk. (2013, hlm. 21) diantaranya mencakup “…Frequency of OPAC Usage… Purpose of Using OPAC… Users information search on OPAC… Library staff skill and support on information seeking problems…”. Jadi dalam penelitian ini, indikator-indikator penggunaan Webpac yang akan dikaji diantaranya adalah frekuensi penggunaan Webpac, tujuan pengguna an Webpac , pe rsi apan pernggunaan Webpac, cara penggunaan Webpac, penggunaan fitur pencarian pada Webpac, penggunaan hasil penelusuran, permasalahan penggunaan Webpac lalu dihubungkan dengan teori kebutuhan informasi menurut Guha (1978).
Method
Penelitian ini terdiri dari dua variabel, diantaranya adalah variable penggunaan Online Public Access Catalog (Webpac) dan variabel pemenuhan kebutuhan informasi pemustaka. Responden dalam penelitian ini terdiri dari Pustakawan Perpustakaan ITB dan seluruh mahasiswa ITB yang masih aktif menggunakan Perpustakaan ITB. Jumlah populasi dilihat dari rata-rata jumlah statistik kunjungan perpustakaan selama enam bulan terakhir yaitu mulai bulan Agustus 2014 sampai dengan bulan J anua ri 2015, dan be rda s a rkan perhitungan maka diambil sampel sebanyak 98 pemustaka. Instrumen penelitian yang digunakan dalam penelitian ini yaitu berupa angket dan pedomana wawancara. Data-data yang telah diperoleh dari hasil penyebaran angket selanjutnya di olah dalam beberapa tahapan pada prosedur pengolahan data. “Secara garis besar, pekerjaan analisis data meliputi 3 langkah yaitu: persiapan, tabulasi, penerapan data sesuai dengan pendekatan penelitian” (Arikunto, 2006, hlm. 235). Kegiatan teknik analisis data dalam penelitian ini dengan cara melakukan uji hipotesis/korelasi menggunakan rumus Rank Spearman dan uji signifikasi menggunakan rumus uji t student.
Result & Discussion
1. Hubungan antara Penggunaan Webpac dengan Pemenuhan Kebutuhan Informasi Pemustaka di UPT Perpustakaan ITB Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara penggunaan Webpac dengan pemenuhan kebutuhan i n f o r m a si p e m u st a k a d i U P T Perpustakaan ITB. Berdasarkan hasil pengujian hipotesis melalui uji korelasi menggunakan IBM SPSS Statistics 20 maka jawaban yang dihasilkan adalah dari hubungan antara kedua variabel tersebut H0 ditolak dan H1 diterima, artinya terdapat hubungan yang signifikan antara penggunaan Webpac dengan pemenuhan k e b u t u h a n i n f o r m a si d i U P T Perpustakaan ITB dengan nilai korelasi sebesar 0,429 yang termasuk pada kategori sedang karena berada pada interval 0,40 – 0,599. Serta dari hasil perhitungan menunjukkan bahwa nilai t hitung (4,652) > t tabel (1,980), seperti yang terlihat pada table brikut ini. Tabel 1 - Kesimpulan Uji Korelasi Webpac menjadi alat telusur utama bagi pemustaka di Perpustakaan ITB, hal ini dapat dilihat dari hasil wawancara bahwa sebagian besar pemustaka menggunakan Webpac sebelum menelusur koleksi di rak, sehingga keberadaan Webpac sangat dibutuhkan. Penggunaan Webpac dengan pemenuhan kebutuhan informasi pemustaka memiliki tingkat korelasi yang sedang dan signifikan jadi dapat dikategorikan bahwa hubungan antara Variabel X dan Variabel Y tersebut sedang dan signifikan. Dengan demikian maka pemustaka telah cukup memahami penggunaan Webpac dalam rangka memenuhi kebutuhan informasinya. Penggunaan Webpac sudah cukup membantu pemustaka memenuhi kebutuhan informasi mutakhir, rutin, mendalam, serta cepat dan ringkas. Hal ini dilihat dari pengukuran terhadap masingmasing indikator variabel penggunaan Webpac, yaitu: frekuensi penggunaan Webpac, tujuan penggunaan Webpac, persiapan penggunaan Webpac, cara penggunaan Webpac, penggunaan fitur pencarian pada Webpac, penggunaan hasil penelusuran, permasalahan penggunaan Webpac. Serta variabel pemenuhan kebutuhan informasi pemustaka, yaitu: kebutuhan informasi mutakhir, kebutuhan informasi rutin, kebutuhan informasi mendalam, dan kebutuhan informasi ringkas dan cepat. Menurut Guha (1978) yang dikutip dalam Puspitadewi, dkk. (2012, hlm. 4) kebutuhan informasi pemustaka diantaranya adalah “…current need a p p r o a c h … e v e r y d a y n e e d a p p r o a c h … e x h a u s t i n g n e e d a p p r o a c h … c a t c h i n g u p n e e d approach…”. Jadi ada empat jenis kebutuhan informasi pemustaka yang perlu diperhatikan oleh pustakawan di Perpustakaan ITB dalam rangka mengembangkan perpustakaan. Apabila dilihat dari segi jenis, P e r p u st a k a a n I TB m e r u p a k a n perpustakaan perguruan tinggi. Menurut Sulistyo-Basuki (1994, hlm. 52) perpustakaan perguruan tinggi secara umum memiliki tujuan yaitu “Memenuhi keperluan informasi masyarakat perguruan tinggi, lazimnya staf pengajar dan mahasiswa. Sering pula mencakup pula tenaga administrasi perguruan tinggi…”. Oleh karena itu Perpustakaan ITB menyelenggarakan Webpac sebagai salah satu cara untuk memenuhi kebutuhan pemustaka. Pengujian hipotesis yang telah dilakukan menunjukan bahwa H ditolak 0 dan H diterima, yang berarti terdapat 1 hubungan yang signifikan antara penggunaan Webpac dengan pemenuhan kebutuhan informasi pemustaka. Hal ini didukung oleh pendapat dari Salton (1983) bahwa “Sistem Temu Balik Informasi bertujuan untuk menjembatani kebutuhan informasi pengguna dengan sumber informasi yang tersedia…” (Purwono, 2010, hlm. 155). Karena Webpac merupakan alat temu balik informasi di perpustakaan jadi Webpac dapat membantu pemustaka menemukan informasi atau dokumen yang dibutuhkan yang dinya t akan da l am istil ah pene lusur an aga r sist em dapa t membacanya. Jadi Webpac dibuat untuk kepentingan pemustaka agar segala kebutuhannya terpenuhi. Selain itu Webpac sebagai alat penelusuran informasi di Perpustakaan ITB memiliki tujuan yang diantaranya adalah: (1) pengguna dapat mengakses secara langsung ke dalam pangkalan data yang dimiliki perpustakaan, (2) mengurangi beban biaya dan waktu yang diperlukan dan yang harus dikeluarkan oleh pengguna dalam mencari informasi, (3) mengurangi beban pekerjaan dalam pengelolaan pangkalan data sehingga dapat meningkatkan efisiensi tenaga kerja, (4) mempercepat pencarian informasi, dan (5) dapat melayani kebutuhan informa si ma sya r aka t da l am jangkauan yang luas (Kusmayadi dan Andriaty, 2006, hlm. 53). Jadi Webpac diciptakan merujuk pada kemudahan pemustaka mendapatkan i n f o rma si y a n g d i b u t u h k a n d i perpustakaan. Dengan adanya Webpac selain dapat melayani kebutuhan informasi pemustaka secara lebih praktis dan cepat, Webpac juga diterapkan agar penelusuran informasi oleh pemustaka lebih efektif dan efisien. Selain itu Webpac juga memberikan dampak yang positif terhadap perpustakaan karena dapat meningkatkan efisiensi tenaga kerja dengan mengurangi beban pekerjaan dalam mengelola pangkalan data. Jadi Webpac atau OPAC dapat memenuhi kebutuhan informa si pemustaka malalui kegiatan penelusuran informasi oleh pemustaka. 2. Deskripsi Penggunaan Webpac di UPT Perpustakaan ITB Da l am p e n e liti a n i n i u n t u k mendeskripsikan penggunaan Webpac maka ada beberapa indikator yang dibahas, diantaranya adalah: frekuensi penggunaan Webpac, tujuan penggunaan Webpac, persiapan penggunaan Webpac, cara penggunaan Webpac, penggunaan fitur pencarian pada Webpac, penggunaan hasil penelusuran, permasalahan penggunaan Webpac. Berdasarkan hasil penelitian maka diketahui bahwa skor tertinggi terdapat pada pernyataan mengenai tujuan penggunaan Webpac adalah untuk mengetahui status ketersediaan koleksi dan untuk mengetahui informasi bibliografi koleksi. Serta skor tertinggi juga t e rdapa t pada pe rnya t a an penggunaan Webpac dengan cara mandiri. Maka dapat disimpulkan bahwa pemustaka sangat memahami bahwa fungsi Webpac adalah dapat memberikan informasi ketersediaan koleksi dan menyediakan informasi bibliografi koleksi yang dibutuhkan pemustaka. Serta Webpac mudah digunakan oleh pemustaka, sehingga memungkinkan pemustaka menelusur secara mandiri tanpa bantuan orang lain termasuk pustakawan. a. Frekuensi Penggunaan Webpac Berdasarkan data angket dapat diketahui bahwa sebagian besar pemustaka di UPT Perpustakaan ITB menggunakan Webpac tidak lebih dari tiga kali dalam satu minggu. Itu artinya frekuensi penggunaan Webpac oleh pemustaka di Perpustakaan ITB cukup sering karena selalu dimanfaatkan oleh pemustaka yang berkunjung ke perpustakaan. Hal ini juga selaras dengan hasil wawancara dengan narasumber selaku pustakawan yang mengelola Webpac, bahwa frekuensi penggunaan Webpac dapat dikatakan cukup sering, hal terlihat dari komputer Webpac di lantai 1 yang tidak pernah sepi digunakan pemustaka. ' b. Tujuan Penggunaan Webpac Berdasarkan data angket dapat diketahui bahwa tujuan utama pemustaka menggunakan Webpac adalah untuk mengetahui status ketersediaan koleksi yang mereka butuhkan. Tujuan pengguna an Webpac be rikutnya diantaranya adalah untuk mengetahui letak koleksi yang dibutuhkan, untuk memperoleh informasi identitas koleksi, untuk mendapatkan buku di rak dengan mudah dan cepat. Sedangkan tujuan terakhirnya adalah untuk mengetahui koleksi-koleksi yang ada di perpustakaan. Artinya informasi status ketersediaan koleksi sangat diperlukan oleh pemustaka saat menggunakan Webpac, selain itu informasi letak koleksi, informasi identitas koleksi, untuk mendapatkan buku di rak dengan mudah dan cepat, serta untuk mengetahui koleksi-koleksi yang ada di perpustakaan juga cukup menjadi alasan penggunaan Webpac oleh pemustaka. Pemustaka dapat mengetahui status ketersediaan koleksi yang mereka b u tu h k an k a r en a p ad a Web p a c Perpustakaan ITB terdapat menu yang menampilkan jumlah ketersediaan koleksi yang tersedia di perpustakaan, dan berapa jumlah koleksi yang dipinjam sehingga pemustaka akan mengetahui apakah koleksi yang dibutuhkan ada di perpustakaan ataukah tidak ada karena dipinjam pemustaka lain. Artinya informasi status ketersediaan ini sangat membantu pemustaka menelusur koleksi di rak, hal ini terlihat dari data angket bahwa tujuan utama pemustaka menggunakan Webpac adalah untuk mengetahui status ketersediaan koleksi yang mereka butuhkan. Hal ini juga selaras dengan hasil wawancara dengan narasumber, bahwa salah satu tujuan pemustaka menggunakan Webpac pada umumnya adalah untuk mencari tahu apakah koleksi yang ia butuhkan ada di perpustakaan atau tidak. Penggunaan Webpac dapat membantu pemustaka mengetahui k o l e k si- k o l e k si y a n g d imi l i k i perpustakaan dan memperoleh informasi bibliografi koleksi. Hal ini dikarenakan pada Webpac memuat informasi dari koleksi-koleksi yang ada di perpustakaan dan menyimpan data bibliografi yang disimpan dalam suatu database atau basis data pada web server, jadi data tersebut dapat ditelusur oleh pengguna baik secara lokal maupun global.. Sesuai dengan pengertian katalog terpasang menurut Barbara (2001) yaitu: …katalog terpasang (katalog online) merupakan katalog perpustakaan yang memuat data bibliografi berbasis komputer, dimana data disimpan pada suatu web server, sehingga data tersebut bisa diakses langsung secara terpasang dari komputer terminal (workstation) baik lokal maupun global (Purwono, 2010, hlm. 162). Tujuan penggunaan Webpac oleh pemustaka selanjutnya adalah untuk mengetahui letak koleksi yang pemustaka butuhkan. Karena pada Webpac terdapat informasi keterangan lokasi serta memuat informasi nomor panggil koleksi, sehingga dapat menunjukkan lokasi koleksi pada rak dengan adanya nomor panggil (call number). Sesuai dengan pendapat menurut Yusup dan Subekti (2010, hlm. 216) bahwa salah satu fungsi katalog secara umum adalah untuk “Menunjukkan tempat sebuah buku atau bahan lain dengan menggunakan simbolsimbol atau lambang-lambang angka klasifikasi dalam bentuk nomor panggil (call number)”. Selaras dengan hasil wawancara penulis dengan narasumber bahwa tujuan lain dari penggunaan Webpac adalah untuk mengetahui lokasi koleksi yang dibutuhkan, selanjutnya mereka akan menelusur koleksi di rak. Penggunaan Webpac dapat membantu pemustaka mendapatkan buku di rak dengan mudah dan cepat. Hal ini selaras dengan pendapat dari Yusup dan Subekti (2010, hlm. 216) bahwa salah satu fungsi katalog secara umum adalah untuk “Memberikan kemudahan untuk mencari sebuah buku atau bahan lain di perpustakaan dengan hanya mengetahui salah satu dari daftar kelengkapan buku yang bersangkutan”. Jadi Webpac dapat memudahkan pemustaka menelusur koleksi dengan hanya mengetahui salah satu informasi bibliografi koleksi yang dibutuhkan seperti judul, pengarang, atau keterangan koleksi lainnya. Namun dalam penelitian ini diperoleh keterangan bahwa sebagian besar pemustaka menggunakan Webpac bukan untuk membantu mereka mengetahui koleksi-koleksi yang ada di perpustakaan. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa pemustaka sudah mengetahui koleksi-koleksi apa saja yang ingin dicari sebelum menelusur menggunakan Webpac. Selaras dengan penelitian dari Sankari, dkk. (2013, hlm. 22) bahwa “… that majority of users consulted OPAC to know the availability and location of the required documents”. Jadi sebagian besar pemustaka penggunakan OPAC adalah untuk mengetahui ketersediaan dan lokasi koleksi yang dibutuhkan. c. Persiapan Penggunaan Webpac Berdasarkan data angket diketahui bahwa pemustaka menyiapkan beberapa informasi bibliografi dari koleksi yang dibutuhkan sebelum menelusur dengan Webpac, diantaranya adalah seperti: judul, pengarang, penerbit, subjek, tahun terbit, seri, dan volume. Hal ini sesuai dengan pendapat dari Yusup dan Subekti (2010, hlm. 224), bahwa “seperti fungsi katalog pada umumnya, OPAC dapat digunakan untuk mencari informasi dengan hanya menyebut atau menulis satu dari: subjek, pengarang, judul artikel, atau informasi bibliografis lainnya yang dirancang untuk bahan pencarian”. Urutan informasi bibliografi koleksi yang disiapkan oleh sebagian besar pemustaka mulai dari skor tertinggi sampai terendah diantaranya adalah: pengarang, subjek, judul, penerbit, seri, volume, dan terakhir yaitu tahun terbit. Jadi dapat dikatakan bahwa nama pengarang sangat membantu pemustaka d a l a m p e n e l u s u r a n i n f o r m a si menggunakan Webpac dibandingkan informasi bibliografi lain terutama bila dibandingkan dengan tahun terbit. Sesuai dengan hasil wawancara dengan narasumber, bahwa pada dasarnya pemustaka akan menyiapkan data mengenai bibliografi koleksi yang dibutuhkan terlebih dahulu sebelum menggunakan Webpac. Data koleksi yang pemustaka dapat siapkan diantaranya adalah judul, pengarang, penerbit, tahun terbit, volume, dan seri. Data koleksi tersebut merupakan kategori kata kunci penelusuran yang dapat digunakan untuk menelusur koleksi menggunakan Webpac. Berdasarkan data angket maka artinya informasi bibliografi yang paling banyak disiapkan oleh sebagian besar pemustaka adalah nama pengarang. Faktor yang mempengaruhi nama pengarang menjadi informasi terpenting untuk menelusur diantaranya adalah: pengarang dapat dijadikan kata kunci telusur utama karena dianggap dapat memberikanhasil penelusuran yang lebih spesifik, dan nama pengarang biasanya mudah diingat oleh pemustaka. Jadi dapat dikatakan bahwa nama pengarang sangat membantu pemustaka dalam penelusuran informasi menggunakan Webpac. Subjek menjadi keterangan koleksi terbanyak kedua yang disiapkan p e m u s t a k a . F a k t o r y a n g mempengaruhinya diantaranya adalah: pemustaka biasanya tidak mengetahui judul lengkap dari koleksi yang dicari, judul koleksi yang dicari mengandung lebih dari satu subjek, kata kunci subjek mudah digunakan, dan keterangan subjek koleksi dapat digunakan bagi pemustaka yang tidak tahu judul koleksi yang dibutuhkan sama sekali. Informasi bibliografi terbanyak ketiga yang disiapkan pemustaka adalah judul. Faktor yang mempengaruhinya diantaranya adalah: judul dapat dijadikan kata kunci telusur yang menghasilkan penelusuran yang spesifik, judul dapat menggambarkan isi dari suatu koleksi, dan mudah diingat oleh sebagian besar pemustaka yang mencari koleksi. Informasi bibliografi terbanyak keempat, kelima, dan keenam yang disiapkan pemustaka adalah penerbit, seri buku, dan volume. Faktor yang mempengaruhinya diantaranya adalah informasi bibliografi tersebut dapat menjadi informasi-informasi yang membantu pemustaka mencocokan hasil penelusuran dengan koleksi yang sedang dicari. Khusus untuk volume, pemustaka dapat menggunakan informasi ini untuk memperoleh jurnal yang relevan dengan kebutuhan. Sedangkan kata kunci berupa tahun terbit tidak banyak disiapkan oleh sebagian besar pemustaka, hal ini bisa disebabkan oleh sebagian besar pemustaka tidak mengingat tahun terbit dari koleksi yang dibutuhkan. Untuk menelusur menggunakan Webpac, pemustaka yang menyiapkan lebih dari satu informasi bibliografi dapat memilih menggunakan fitur pencarian lanjut. Jadi pemustaka perlu menyiapkan informasi bibliografis koleksi terlebih dahulu sebelum menelusur menggunakan Webpac untuk memudahkan penelusuran dan mendapatkan koleksi yang relevan dengan kebutuhan. d. Cara Penggunaan Webpac Pada dasarnya pemustaka dapat menggunakan Webpac tanpa bantuan pustakawan, hal ini berdasarkan data angket yang menginformasikan bahwa pemustaka menggunakan Webpac dengan cara mandiri. Hal ini sesuai dengan hasil wawancara bahwa pemustaka dapat melakukan penelusuran dengan Webpac sendiri karena Webpac dirancang secara user friendly sehingga mudah digunakan. N a m u n b a g i p e m u st a k a y a n g membutuhkan bantuan maka pustakawan di Perpustakaan ITB siap membantu. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa Webpac mudah digunakan oleh pemustaka, sehingga memungkinkan pemustaka menelusur secara mandiri tanpa bantuan orang lain termasuk pustakawan. e. Penggunaan fitur pencarian Pada Webpac Fitur pencarian pada Webpac yang dapat digunakan pemustaka ada dua, yaitu: fitur pencarian biasa dan fitur pencarian lanjut. Kata kunci yang dapat digunakan pemustaka untuk menelusur menggunakan fitur pencarian biasa diantaranya adalah judul, subjek, pengarang, dan penerbit. Berdasarkan data angket untuk penggunaan fitur pencarian biasa pemustaka lebih banyak menelusur menggunakan kata kunci b e r u p a s u b j e k . d i b a n d i n g k a n menggunakan kata kunci lain terutama kata kunci berupa penerbit untuk menelusur menggunakan Webpac. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa penggunaan fitur pencarian biasa dengan bantuan kata kunci berupa subjek sangat membantu pemustaka dalam penelusuran informasi di perpustakaan dibandingkan kata kunci lainnya terutama bila dibandingkan dengan kata kunci berupa penerbit. Berbeda dengan hasil penelitian dari Sankari, dkk. (2003, hlm. 23) bahwa “It is further observed that, when we compare all the approaches of the users, query approach through the author string is most popular followed by title, subject, series, classification number and call number”. Jadi dari penelitian Sankari, dkk. menyebutkan bahwa nama pengarang adalah yang sering dijadikan kata kunci telusur, sedangkan kata kunci berupa subjek menempati posisi ketiga. Pada tampilan fitur pencarian lanjut pemustaka dapat menelusur koleksi dengan hanya memasukan kata kunci berupa judul koleksi atau bisa juga menambahkan formula Boolean AND atau NOT disertai kata kunci kedua berdasarkan pengarang, penerbit, tahun, seri, volume, atau judul lain agar hasil penelusuran lebih spesifik. Berdasarkan hasil perhitungan data angket untuk penggunaan fitur pencarian lanjut sebagian besar pemustaka menilai penggunaan fitur pencarian lanjut dengan memasukkan kata kunci yang spesifik lebih membantu mereka menelusur dengan mudah.. Urutan penggunaan fitur pencarian lanjut yang cukup sering digunakan adalah dengan bantuan formula AND, hanya memasukan judul tanpa tambahan formula, dan terakhir adalah penggunaan fitur pencarian lanjut dengan bantuan formula OR. Dengan demikian penggunaan fitur pencarian lanjut dengan memasukan kata kunci yang spesifik sangat membantu pemustaka menemukan informasi yang dibutuhkan terutama dengan bantuan formula AND. Bila dilihat dari hasil perhitungan maka diperoleh keterangan bahwa pemustaka lebih banyak menggunakan fitur pencarian biasa dibanding menggunakan fitur pencarian lanjut. Hal ini terlihat dari skor total untuk penggunaan fitur pencarian biasa lebih tinggi dibanding penggunaan fitur pencarian lanjut. Dengan demikian penggunaan fitur pencarian biasa lebih membantu pemustaka dalam proses penelusuran informasi dibandingkan fitur pencarian lanjut. Hal ini juga selaras dengan hasil wawancara dengan narasumber, bahwa biasanya pemustaka lebih sering menggunakan pencarian biasa, karena hasil penelusuran yang mereka butuhkan sudah didapatkan melalui fitur pencarian ini. Namun apabila koleksi yang ia butuhkan tidak ada, pemustaka kemudian menggunakan fitur pencarian lanjut. Selain itu juga tampilan fitur pencarian yang dapat langsung gunakan adalah fitur pencarian biasa sedangkan untuk menggunakan fitur pencarian lanjut maka pemustaka harus mengklik menu pencarian lanjut dahulu, jadi pemustaka masih ada yang tidak tahu mengenai fitur pencarian lanjut ini. Hal ini bisa disebabkan oleh beberapa hal diantaranya adalah berdasarkan hasil observasi pada fitur pencarian Webpac dan hasil wawancara dengan narasumber, perbedaan hasil penelusuran yang ditampilkan fitur pencarian biasa dengan fitur pencarian lanjut adalah pada fitur p e n c a ri a n l a n j u t j uml a h h a sil penelusurannya ditampilkan semua dalam satu halaman. Sehingga hasil yang ditemukan akan sangat banyak, berbeda dengan tampilan hasil penelusuran dengan fasilitas pencaraian biasa yang menampilkan 10 koleksi per halaman. Sehingga pemustaka akan kebingungan apabila hasil penelusuran yang pemustaka dapatkan setelah menelusur dengan fitur pencarian puluhan atau bahkan ratusan. Dit ambah l agi pada fitur pencarian lanjut hasil penelusuran tidak menampilkan cover koleksi sehingga untuk mengetahui cover koleksi pemustaka harus melihat informasi koleksi dengan mengklik judulnya terlebih dahulu. Sedangkan dengan fitur pencarian biasa pemustaka akan langsung mengetahui cover koleksi tanpa harus mengklik detail koleksi. f. Penggunaan Hasil Penelusuran Berdasarkan data angket maka diperoleh keterangan bahwa sebagian besar pemustaka menggunakan informasi nomor panggil koleksi untuk menelusur koleksi di rak. Dengan demikian informasi nomor panggil koleksi sangat membantu pemustaka menelusur koleksi di rak dibandingkan informasi koleksi pada Webpac lainnya, terutama bila dibandingkan dengan informasi identitas koleksi seperti judul, pengarang, dsb. Dengan demikia maka pemustaka sangat memahami bahwa informasi nomor panggil dapat digunakan dalam penelusuran koleksi di rak, artinya kegiatan User Education yang sudah dilakukan telah berjalan dengan baik. Pada nomor panggil ini terdapat informasi inisial jenis koleksi, nomor klasifikasi, dan tiga huruf depan nama pengarang. Dengan inisial jenis koleksi contohnya 'R' untuk koleksi referensi maka pemustaka akan mengetahui bahwa koleksi tersebut ada di ruang referensi. Sedangkan dengan nomor klasifikasi ini pemustaka akan mudah menemukan koleksi pad arak. Sesuai dengan tujuan dari klasifikasi menurut Yusup dan Subekti (2010, hlm. 209), yaitu “Klasifikasi berarti p e n g g o l o n g a n a t a u pengelompokan…Tujuannya yaitu untuk m e m u d a h k a n p e n c a r i a n d a n penyimpanan kembali benda-benda atau objek yang dikelompokkannya itu”. Oleh karena itu pemustaka lebih seling menggunakan informasi nomor panggil koleksi untuk menelusur koleksi di rak, karena mampu membantu menemukan koleksi di rak dengan mudah dan cepat. Hasil penelusuran yang digunakan pemustaka di urutan kedua yaitu informasi status ketersediaan koleksi. Sebelum menelusur koleksi ke rak pemustaka harus tahu terlebih dahulu apakah koleksi yang dibutuhkan tersedia atau sedang dipinjam. Oleh karena itu banyak pemustaka menggunakan informasi status ketersediaan koleksi untuk menelusur koleksi di rak, karena dianggap dapat membantu pemustaka memperoleh koleksi yang dibutuhkan. Sebab jika diketahui status ketersediaan koleksi yang dibutuhkan semuanya dipinjam, pemustaka dapat mencari koleksi lain. Hasil penelusuran yang digunakan pemustaka di urutan ketiga yaitu informasi lokasi koleksi. Artinya tidak terlalu banyak pemustaka yang menggunakan informasi ini sebelum menelusur ke rak, hal ini bisa disebabkan oleh kurangnya pengetahuan pemustaka tentang adanya informasi lokasi ini. Karena informasi lokasi koleksi terdapat pada menu data satuan koleksi yang tersedia, jadi pemustaka harus mengkik menu tersedia untuk mengetahui informasi koleksi ini. Pemustaka yang b e l u m m e m i l i k i p e n g a l a m a n menggunakan Webpac, kemungkinan tidak tahu akan adanya menu ini. Sedangkan hasil penelusuran yang digunakan pemustaka di urutan terakhir yaitu informasi bibliografi koleksi. Sebagian besar pemustaka tidak menggunakan informasi ini untuk menelusur koleksi di rak hal ini kemungkinan disebabkan oleh informasi bibliografi dianggap tidak terlalu diperlukan pemustaka untuk menelusur koleksi di rak. Karena pemusta sudah mengetahui atau mengingat informasi bibliografi koleksi seperti judul, pengarang, dsb. sebelum melakukan penelusuran koleksi di rak. g. Permasalahan Penggunaan Webpac Dalam penggunaan Webpac berdasarkan data angket diperoleh keterangan bahwa permasalahan utama penggunaan Webpac yaitu masih kurangnya bantuan fitur pencarian pada Webpac dalam penelusuran informasi. Berikutnya yaitu masih kurangnya bantuan pustakawan dalam membantu pemustaka menelusur informasi dengan Webpac, pemustaka merasa kesulitan d a l a m m e n g g u n a k a n We b p a c , permasalahan terakhir yaitu kesulitan dalam memilih kata kunci telusur. Dari data angket diperoleh keterangan bahwa pemustaka tidak mengalami kesulitan dalam memilih kata kunci telusur, dan fitur pencarian pada Webpac dirasa cukup membantu dalam penelusuran informasi. Dengan demikian pemustaka sudah dapat menggunakan Webpac dengan cukup baik, dan tidak terlalu mengalami banyak permasalahan. S e b a g a i n b e s a r r e s p o n d e n menganggap bantuan fitur pencarian pada Webpac masih kurang dalam penelusuran informasi. Permasalahan ini merupakan permasalahan penggunaan Webpac utama, hal ini dapat disebabkan oleh pemustaka yang sering tidak memperoleh informasi koleksi yang dibutuhkannya dan kesulitan menelusur koleksi di rak. Namun berdasarkan hasil wawancara, permasalahan mengenai ditemukan atau tidaknya koleksi di rak biasanya disebabkan karena buku yang pemustaka cari sedang dibaca oleh pemustaka lain, atau belum dimasukan ke rak oleh petugas, dan bahkan mungkin saja ada pemustaka yang jahil meyembunyikan koleksi agar tidak dipinjam oleh orang lain. Pustakawan selalu berusaha memperbarui informasi koleksi sesuai dengan apa yang ada di rak agar memudahkan pemustaka memperoleh koleksi yang dibutuhkan. Pe rma s a l ahan pengguna an Webpac yang dialami pemustaka pada urutan kedua yaitu masih kurangnya bantuan pustakawan dalam membantu pemustaka menelusur informasi dengan Webpac. Artinya beberapa pemustaka membutuhkan pustakawan dalam membantu mereka menelusur informasi dengan Webpac . Padaha l ha sil wawancara, selama ini belum ada keluhan mengenai permasalahan penggunaan Webpac. Sebaiknya terdapat pustakawan yang berada di dekat meja Webpac yang siap membantu pemustaka menelusur menggunakan Webpac. Pe rma s a l ahan pengguna an Webpac yang dialami pemustaka pada urutan ketiga yaitu masih adanya pemustaka yang merasa kesulitan dalam menggunakan Webpac. Artinya Webpac cukup mudah digunakan oleh sebagian besar pemustaka. Sesuai dengan pendapat dari Yusup dan Subekti (2010, hlm. 221) bahwa “…dari aspek penggunaan, katalog komputer relatif lebih praktis”, jadi Webpac mudah digunakan karena lebih praktis. Sedangkan responden tidak mengalami kesulitan dalam memilih kata kunci telusur. Dengan demikian maka permasalahan yang dialamai pemustaka dalam menggunakan Webpac terfokus pada sistem kerja dan tampilan Webpac. Bukan diakibatkan internal pemustaka sebagai pengguna. 3. Deskripsi Pemenuhan Kebutuhan Informasi Pemustaka Tujuan khusus lain dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui deskripsi pemenuhan kebutuhan i n f o r m a si p e m u st a k a d i U P T Perpustakaan ITB. Indikator yang dibahas, diantaranya adalah: kebutuhan informasi mutakhir, kebutuhan informasi rutin, kebutuhan informasi mendalam, dan kebutuhan informasi ringkas dan cepat. Berdasarkan hasil penelitian maka diketahui bahwa skor tertinggi terdapat pada pernyataan Webpac membantu pemustaka dalam kegiatan pembelajaran, pernyataan Webpac menyediakan informasi yang lengkap untuk menambah pengetahuan pemustaka, dan pernyataan informasi lokasi dan status ketersediaan koleksi pada Webpac sesuai dengan yang ada pada rak. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa Webpac sangat memenuhi kebutuhan informasi rutin dan k e b u t u h a n i n f o rma si mu t a k h ir pemustaka. a. Kebutuhan Informasi Mutakhir Kebutuhan informasi mutakhir pada penelitian ini berfokus pada keterbaruan informasi. Dengan adanya Webpac maka kebutuhan informasi mutakhir pemustaka dapat terpenuhi. Berdasarkan data angket sebagian besar pemustaka menilai bahwa Webpac menyediakan informasi lokasi dan status ketersediaan koleksi yang sesuai dengan apa yang ada di rak. Responden menilai Webpac cukup memberikan informasi mengenai koleksi perpustakaan terbaru, dan fitur pencarian pada Webpac cukup membantu pemustaka memperoleh informasi koleksi secara detail. Dengan demikian maka Webpac telah memenuhi kebutuhan informasi mutakhir pemustaka dengan adanya informasi lokasi dan status ketersediaan koleksi yang sesuai dengan apa yang ada di rak, juga dengan memberikan informasi yang cukup terbaru dan detail. Sebagaian besar pemustaka menilai bahwa Webpac menyediakan informasi status ketersediaan koleksi yang sesuai dengan apa yang ada di rak. Artinya Webpac selalu memperbarui informasi ketersediaan yang ada pada Webpac dengan kenyataan ketersediaan koleksi di rak. Sesuai dengan hasil wawancara bahwa pustakawan selalu berusaha memperbarui informasi koleksi sesuai dengan apa yang ada di rak agar memudahkan pemustaka memperoleh koleksi yang dibutuhkan. Hal ini sangat membantu pemustaka dalam menelusur koleksi perpustakaan, karena apabila informasi ketersediaan koleksi tidak diperbarui maka pemustaka akan kesulitan menelusur koleksi di rak karena sebenarnya koleksi yang dicari sedang dipinjam. Atau bahkan sebaliknya, pemustaka mengira bahwa koleksi yang dibutuhkan tidak ada di rak, padahal koleksi yang ia cari sudah dikembalikan ke perpustakaan. Selain itu berdasarkan data angket Webpac dinilai cukup membantu pemustaka memperoleh informasi koleksi terbaru. Artinya Webpac menyediakan informasi koleksi-koleksi yang baru masuk ke perpustakaan. Sehingga pemustaka dapat memanfaatkan koleksikoleksi tersebut hingga akhirnya dapat membantu pemustaka memperoleh informasi terbaru yang diperoleh dari koleksi baru itu. Webpac juga dinilai cukup membantu pemustaka memperoleh informasi koleksi secara detail. Sesuai dengaan hasil observasi penulis terhadap tampilan hasil penelusuran, Webpac menyediakan informasi yang cukup detail. Untuk mendapatkan informasi detail maka pemustaka sebaiknya membuka detail koleksi, bukan hanya melihat tampilan awal hasil pencarian saja. b. Kebutuhan Informasi Rutin Kebutuhan informasi rutin pada penelitian ini berfokus pada kebutuhan informasi pemustaka di Perpustakaan Perguruan Tinggi. Dimana pmustaka memerlukan informasi yang dapat mendukung Tridharma Perguruan Tinggi dan wawasan sehari-hari. Sesuai dengan pendapat dari Yusup dan Subekti (2010, hlm. 20) bahwa “fungsi perpustakaan perguruan tinggi tetap pada hal-hal yang bersifat informatif, edukatif-akademik (ilmiah), dan penelitian”. Perpustakaan perguruan tinggi menyediakan informasi yang mampu mendukung kurikulum perguruan tinggi yang terangkum dalam Tridarma Perguruan Tinggi, diantaranya adalah pendidikan, penelitian, dan p e n g a b d i a n p a d a ma s y a r a k a t . Perpustakaan perguruan tinggi turut berperan dalam kegiatan-kegiatan tersebut. Berdasarkan data angket Webpac sangat memenuhi kebutuhan informasi rutin pemustaka karena Webpac sangat membantu sebagian besar pemustaka dalam kegiatan pembelajaran, membantu dalam kegiatan penelitian dan cukup membantu pemustaka dalam memenuhi kebutuhan informasi yang dapat menambah wawasan sehari-hari. Webpac sangat membantu pemustaka dalam kegiatan pembelajaran. Artinya Webpac sangat membantu pemustaka dalam kegiatan pembelajaran di kelas, dalam mengerjakan tugas, dan kegiatan pembelajaran lainnya. Karena Webpac dapat membantu pemustaka mendapatkan koleksi perpustakaan untuk kebutuhan pembelajaran. Karena di perpustakaan tersedia banyak koleksi, dan apabila tidak ada alat telusur seperti Webpac maka pemustaka akan sulit menemukan koleksi yang dibuthkan. Terlebih lagi koleksi untuk kebutuhan pembelajaran yang pada dasarnya m e r u p a k a n k e g i a t a n u t a m a ma h a sis w a . S e l a i n i t u We b p a c menyediakan informasi bibliografi koleksi yang dimanfaatkan pemustaka menyusun daftar pustaka. Selain itu Webpac dinilai membantu pemustaka dalam kegiatan penelitian. Dengan adanya Webpac pemustaka akan mudah menelusur literatur yang dapat dijadikan referensi dalam kegiatan penelitiannya, seperti menulis tugas akhir, melakukan penelitian sesuai program studinya, dan penelitian dalam bentuk lain. Webpac juga dinilai cukup membantu pemustaka mendapatkan informasi yang dapat menambah wawasan sehari-sehari. Ada beberapa faktor yang mungkin terjadi, diantaranya adalah: Webpac cukup membantu pemustaka menemukan koleksi-koleksi pengetahuan umum, serta pemustaka cukup seirng memanfaatkan informasi bibliografi pada Webpac untuk menambah wawasannya. c. Kebutuhan Informasi Mendalam Kebutuhan informasi mendalam pada penelitian ini berfokus pada kelengkapan dan keakuratan inforamsi. Webpac telah memenuhi kebutuhan informasi mendalam pemustaka dengan menyediakan informasi yang lengkap u n t u k me n amb a h p e n g e t a h u a n pemustaka, dan dengan menyajikan informasi koleksi yang cukup akurat dalam membantu pemustaka menelusur koleksi. Berdasarkan data angket Bahwa Webpac menyediakan informasi yang lengkap untuk menambah pengetahuan pemustaka. Artinya informasi koleksi pada Webpac dianggap lengkap sehingga disamping dapat membantu sebagian besar pemustaka untuk menambah pengetahuan pemustaka. Karena pada Webpac tersedia informasi bibliografi secara detail, serta informasi satuan koleksi dari status ketersedian koleksi yang dipinjam dan yang tersedia. Sesuai dengan pendapat dari Pendit (2007, hlm. 215). “Sebagai alat bantu penelusuran informasi bibliografi, katalog secara lengkap memuat selusur keterangan tentang kondisi lain dan media lain sehingg
Conclusion
Terdapat hubungan antara penggunaan Webpac dengan pemenuhan kebutuhan informasi pemustaka di UPT Perpustakaan Institut Teknologi Bandung (ITB) dengan tingkat hubungan pada kategori sedang dan signifikan. Kategori sedang dapat diartikan cukup baik, sehingga hubungan antara kedua variabel juga bersifat positif. Dengan demikian maka pemustaka telah cukup memahami penggunaan Webpac dalam rangka memenuhi kebutuhan informasinya. Penggunaan Webpac juga artinya sudah cukup membantu pemustaka memenuhi kebutuhan informasi mutakhir, rutin, mendalam, serta cepat dan ringkas. Deskripsi penggunaan Webpac di UPT Perpustakaan ITB merupakan salah satu jawaban rumusan masalah khusus dalam penelitian ini. Berdasarkan tiga skor tertinggi maka dapat disimpulkan bahwa penggunaan Webpac di Perpustakaan ITB oleh pemustaka tujuan utamanya adalah u n t u k m e m p e r o l e h i n f o r m a si ketersediaan koleksi dan untuk memperoleh informasi bibliografi koleksi yang dibutuhkan pemustaka. Penggunaan Webpac di Perpustakaan ITB juga mudah digunakan oleh pemustaka, sehingga memungkinkan pemustaka menelusur secara mandiri tanpa bantuan orang lain termasuk pustakawan. Berdasarkan hasil penelitian maka diketahui bahwa skor tertinggi terdapat pada pernyataan Webpac membantu pemustaka dalam kegiatan pembelajaran, pernyataan Webpac menyediakan informasi yang lengkap untuk menambah pengetahuan pemustaka, dan pernyataan informasi lokasi dan status ketersediaan koleksi pada Webpac sesuai dengan yang ada pada rak. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa penggunaan Webpac sangat membantu memenuhi kebutuhan informasi rutin dan kebutuhan informasi mutakhir pemustaka