Galant Lucky Munggaran, Dinn Wahyudin, Euis Rosinar
Universitas Pendidikan Indonesia; Universitas Pendidikan Indonesia; Universitas Pendidikan Indonesia
Abstrak
Penelitian ini memiliki fokus masalah mengenai banyaknya perpustakaan sekolah yang belum terkelola dengan baik. Hal tersebut dapat dipengaruhi oleh kompetensi tenaga perpustakaan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi deskriptif analitik. Deskripsi hasil penelitian dari kompetensi pengelolaan informasi tenaga perpustakaan di SMA Negeri 6 Bandung menunjukkan bahwa, pengetahuan, keterampilan, dan sikap perilaku dalam hal pengembangan koleksi, pengorganisasian informasi, pemberian jasa dan sumber informasi, dan penerapan teknologi informasi dan komunikasi belum sepenuhnya dimiliki, dipahami dan dilaksanakan oleh tenaga perpustakaan.
Abstract
This research has focused on the issue about a great number of school libraries have not been managed in a proper. It can be influenced by the competency of the personnel library. This research used a qualitative method with descriptive analytic approach. Description of the result of the competency of library personnel information management in SMA N 6 Bandung shows that knowledge, skills, behaviors and attitudes in terms of collection development, organization of information, provision of services and resources, and the application of information and communication technology has not been properly mannered owned, understood and implemented by the library personnel.
Keywords:
Competency
· Information Management
· Library Personnel
· School Library
Introduction
Perpustakaan SMA Negeri 6 Bandung merupakan salah satu perpustakaan yang cukup lengkap akan sarana dan prasarana yang ada, terbukti dengan terdapatnya beberapa unit komputer yang disediakan untuk pemustaka agar dapat mengakses segala kebutuhan informasi yang ada pada internet. Sebagaimana terdapat dalam Standar Nasional Perpustakaan Sekolah tingkat Sekolah Menengah Atas (2011, hlm. 4) yang mengungkapkan bahwa “…perpustakaan menyediakan sarana perpustakaan sekurang-kurangnya mempunyai perangkat komputer, meja dan fasilitas akses internet untuk keperluan pemustaka yaitu sebanyak dua buah dan perangkat komputer, meja dan fasilitas katalog online untuk keperluan pemustaka sebanyak satu buah.” Dalam penelusuran informasi buku-buku yang adapun, perpustakaan SMA Negeri 6 Bandung telah menggunakan OPAC (Online Public Access Catalogues) sebagai alat yang digunakan untuk dapat menelusuri bahan-bahan perpustakaan apa saja yang terdapat pada perpustakaan tersebut. Namun, wa l aupun t enaga perpustakaan SMA Negeri 6 Bandung telah mempunyai pengetahuan tentang perpustakaan dari berbagai kegiatankegiatan, peneliti mengidentifikasi bahwa ma sih t e rdapa tnya kekur angankekurangan yang terjadi diantaranya pada pengelolaan informasi perpustakaan sekolah. Pada suatu perpustakaan sekolah dengan sangat beragamnya informasi yang ada, menuntut untuk menghadirkan seorang yang memiliki kompetensi untuk dapat mengelola informasi yang ada, agar informasi tersebut dapat sampai kepada seseorang dengan cepat dan tepat. Dan keberhasilan dari pengelolaan informasi pada perpustakaan tersebut tidak menutup kemungkinan dipenga ruhi ol eh keterampilan dan wawasan. K o m p e t e n si p e n g e l o l a a n informasi tenaga perpustakaan memang sangatlah berpengaruh pada suatu perpustakaan sekolah. Hal tersebut dikarenakan salah satu kriteria agar perpustakaan tersebut dapat dikatakan terkelola dengan baik dan berkualitas yaitu adanya sumber daya manusia yang berkualitas dan profesional. Pada kenyataan yang ada, berdasarkan pengamatan peneliti, masih banyaknya perpustakaan sekolah yang kurang terkelola dengan baik. Menurut Hasan (dalam Wulandari, 2012) mengemukakan bahwa (1) dari 200.000 Sekolah Dasar hanya sekitar 1 (satu) persen yang memiliki perpustakaan standar, (2) dari sekitar 70.000 Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP) baru 34% yang memiliki perpustakaan standar, (3) dari s e k i t a r 1 4 . 0 0 0 S e k o l a h Menengah Umum hanya sekitar 54% yang memiliki perpustakaan standar. ,,,,Berdasarkan pemaparan di atas maka penulis bermaksud memfokuskan pengkajian mengenai kompetensi p e n g e l o l a a n i n f o rma si t e n a g a perpustakaan sekolah di SMA Negeri 6 Bandung. Sehingga tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui bagaimana kompetensi tenaga perpustakaan dalam (1) pengembangan koleksi; (2) pengorganisasian informasi; (3) pemberian jasa dan sumber informasi; (4) penerapan teknologi informasi dan komunikasi di perpustakaan.
Method
Penelitian ini me rupakan penelitian dengan menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi de skriptif ana litik ya itu untuk menjelaskan bagaimana kondisi kompetensi pengelolaan informasi tenaga perpustakaan sekolah di SMA Negeri 6 Bandung dimana t eknik da l am mengumpulkan data yaitu dilakukan secara trianggulasi dengan analisis data yang bersifat induktif. Subjek dalam penelitian adalah tenaga perpustakaan sekolah, Wakil Kepala Sekolah, peserta didik SMA Negeri 6 Bandung, dan Kepala Asosiasi Tenaga Perpustakaan Sekolah Indonesia (ATPUSI). Teknik pengumpulan data pada penelitian ini dilakukan dengan tiga cara yaitu wawancara, observasi, dan studi dokumentasi. Dalam melakukan analisis data, peneliti mengadopsi model analisis data kualitatif yang dikemukakan oleh Miles dan Huberman (dalam Sugiyono, 2012, hlm. 246) dengan langkah-langkah yaitu reduksi data, penyajian data, dan kesimpulan/verifikasi data. Pada tahapan pemeriksaaan keabsahan data peneliti melakukan dengan cara triangulasi dan auditing.
Result & Discussion
1.Kompetensi Tenaga Perpustakaan Sekolah dalam Pengembangan Koleksi Perpustakaan Sekolah a. Memiliki pengetahuan mengenai penerbitan Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan pada perpustakaan SMA Negeri 6 Bandung, tenaga perpustakaan sekolah tersebut masih belum sepenuhnya menguasai dengan baik hal yang berkaitan dengan penerbitan. Hal tersebut terlihat dari tenaga perpustakaan yang belum terlalu memahami dengan benar apa itu penerbitan dan bagaimana proses dari p e n e r b i t a n i t u s e n d iri .Te n a g a perpustakaan SMA Negeri 6 Bandung mengemukakan bahwa, penerbitan merupakan seseorang atau pihak yang menerbitkan suatu buku. Hal tersebut berbeda dengan apa yang dipaparkan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia bahwa, suatu penerbitan merupakan “1) proses, cara, pembuatan menerbitkan; 2) pemunculan; 3) urusan (pekerjaan dan sebagainya) menerbitkan (buku dan sebagainya): dll.” Jadi dapat diketahui bahwa, suatu penerbitan merupakan proses ataupun cara dalam menerbitkan suatu buku, sedangkan pihak yang menerbitkan suatu buku disebut dengan penerbit. Selain itu, tenaga perpustakaan SMA Negeri 6 Bandung juga belum secara mendalam mengetahui proses dari penerbitan suatu buku. Hal tersebut salah satunya dikarenakan dalam pemesanan sebagian koleksi perpustakaan sekolah tersebut dikelola oleh pihak sekolah, tidak sepenuhnya dikelola oleh tenaga perpustakaan. Sehingga, hal tersebut mengakibatkan kurangnya pengetahuan, keterampilan, dan sikap perilaku yang mengarah pada pemahaman dunia penerbitan. Selain itu, mengakibatkan kurangnya komunikasi yang terjalin antara tenaga perpustakaan dengan p e n e r b i t d a ri k o l e k si- k o l e k si perpustakaan. P a d a d a s a r n y a , d a l a m p e n g e m b a n g a n k o l e k si s u a t u perpustakaan akan lebih baik apabila mempunyai banyak koneksi dengan berbagai penerbit, semakin banyaknya kerja sama dengan penerbit tenaga perpustakaan akan lebih paham bagaimana proses dari suatu penerbitan sampai kepada buku tersebut diterbitkan. Sejalan dengan apa yang dikemukakan oleh Ketua Asosiasi Tenaga Perpustakaan Sekolah Indonesia pada saat wawancara bahwa, penting bagi perpustakaan untuk dapat memberikan bahan perpustakaan yang bagus. Penerbit merupakan salah satu rekan kerja yang berperan sebagai pemasok koleksikoleksi perpustakaan. Oleh karena itu, penting bagi suatu perpustakaan untuk memiliki pengetahuan tentang penerbitan. b. Memiliki pengetahuan tentang karya sastra Indonesia dan dunia _x0001__x0001__x0001_ Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan pada perpustakaan SMA Negeri 6 Bandung, tenaga perpustakaan sekolah telah memiliki pengetahuan tentang karya sastra Indonesia dan dunia. Hal tersebut dilihat berdasarkan beragamnya koleksi-koleksi tentang karya sastra Indonesia dan dunia yang dimiliki oleh tenaga perpustakaan sekolah tersebut. Karya sastra yang dimiliki diantaranya yaitu seperti hikayat, novel, dan biografi. Sebagaimana yang diungkapkan oleh Muhammad Ihsanudin bahwa, tenaga perpustakaan sebaiknya memiliki pengetahuan tentang karya sastra Indonesia dan dunia. Karena salah satu kompetensi inti dari seorang tenaga perpustakaan yaitu dapat memahami dunia perbukuan, termasuk koleksi karya sastra. A d a n y a p e n g e t a h u a n , keterampilan, dan sikap perilaku berkaitan dengan karya sastra yang diaplikasikan oleh tenaga perpustakaan, tentunya dapat memberikan pendidikan moral kepada pemustaka. Hal tersebut dikarenakan dalam koleksi sastra terdapat unsur seni dan keindahan yang mudah me n y e n t u h d a n t e n t u n y a a k a n memb e ri k a n d amp a k t e r h a d a p pembentukan akhlak seseorang. c. Memiliki pengetahuan tentang sumber biografi tokoh nasional dan dunia Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan pada perpustakaan SMA Negeri 6 Bandung, tenaga perpustakaan sekolah tersebut telah memiliki pengetahuan tentang sumber biografi tokoh nasional dan dunia. Pengetahuan tenaga perpustakaan tentang sumber biografi tokoh nasional dan dunia tersebut dapat diketahui berdasarkan beragamnya koleksi biografi tokoh nasional dan dunia yang perpustakaan tersebut miliki. Sebagai seorang tenaga perpustakaan me r e k a d it u n t u t u n t u k mamp u memberikan kemudahan bagi setiap pemustaka dalam menemukan segala macam sumber informasi. Segala jenis pengetahuan tentunya harus dikuasai oleh t enaga pe rpust aka an, t e rma suk pengetahuan tentang sumber biografi tokoh nasional dan dunia. Seperti yang diungkapkan oleh key informan bahwa, sebaiknya seorang tenaga perpustakaan tersebut memiliki pengetahuan tentang sumber biografi tokoh nasional dan dunia. Hal tersebut dikarenakan pengetahuan tentang sumber biografi tokoh nasional dan dunia tersebut sudah melekat dalam kompetensi tenaga perpustakaan sekolah. Seorang tenaga perpustakaan sekolah harus mengetahui cara memperoleh informasi apapun yang dibutuhkan oleh pemustaka di sekolah tersebut. Tentunya dengan dikuasainya pengetahuan tentang sumber biografi tokoh nasional maupun dunia, diharapkan tenaga perpustakaan untuk dapat membe rikan bimbingan kepada pemustakanya terhadap koleksi-koleksi biografi yang perpustakaan miliki. Sebab masih ada pemustaka yang kurang tertarik untuk membaca koleksi tersebut, oleh karena itu tenaga perpustakaan sebaiknya lebih sigap dalam memberikan sosialisasi kepada para pemustakanya agar bisa mendayagunakan koleksi-koleksi perpustakaan terutama koleksi biografi tokoh nasional maupun dunia. d. Menggunakan berbagai alat bantu seleksi untuk pemilihan materi perpustakaan Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan pada perpustakaan SMA Negeri 6 Bandung, tenaga perpustakaan sekolah tersebut telah mengetahui tentang penggunaan alat bantu seleksi dalam pemilihan materi perpustakaan, dan telah menggunakan beberapa alat bantu seleksi seperti katalog dari penerbit dan juga melakukan browsing di internet dalam pemilihan materi perpustakaan. Key informan mengemukakan bahwa, tenaga perpustakaan penting memiliki alat bantu seleksi dalam pemilihan materi perpustakaan. Penggunaan alat bantu tersebut oleh tenaga perpustakaan akan dapat memberikan informasi mengenai bukubuku terbitan terbaru, buku yang banyak diminati dan juga dapat mengetahui bagaimana kualitas dan mutu dari suatu buku. Salah satu alat bantu seleksi yang dapat digunakan dalam pemilihan materi perpustakaan yaitu katalog penerbit. Katalog penerbit tersebut dapat diberikan oleh tenaga perpustakaan kepada guruguru, agar guru-guru tersebut dapat memperoleh informasi buku-buku apa saja yang sesuai dengan kebutuhannya. Se s u a i d e n g a n a p a y a n g dikemukakan oleh Yulia dan Sujana (2009, hlm. 1.13) bahwa dalam melakukan pemilihan bahan pustaka “diperlukan alat bantu seperti: 1) katalog penerbit; 2) bibliografi; 3) tinjauan dan resensi; 4) pangkalan data perpustakaan lain; 5) sumber-sumber lain dari internet; 6) silabus mata kuliah.” e. Berkoordinasi dengan tenaga pendidik bidang studi terkait dalam pemilihan materi perpustakaan Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan pada perpustakaan SMA Negeri 6 Bandung, tenaga perpustakaan sekolah tersebut telah berkoordinasi dengan tenaga pendidik bidang studi terkait dalam pemilihan materi perpustakaan. Koordinasi yang dilakukan oleh tenaga perpustakaan SMA Negeri 6 Bandung tersebut yaitu berupa survei terhadap guru-guru bidang studi tekait tentang buku apa yang dibutuhkan oleh guru-guru bidang studi terkait dalam proses belajar mengajar di sekolah. Kegiatan tersebut dilakukan dengan cara membagikan sampel-sampel buku yang diperoleh dari penerbit yang dibagikan kepada guru-guru tersebut untuk kemudian di data buku-buku apa yang bagus untuk dij adikan kol eksi perpustakaan dalam membantu proses belajar mengajar di sekolah. Sebagaimana yang diungkapkan key informan bahwa, salah satu tujuan utama perpustakaan sekolah adalah mendukung proses pembelajaran di sekolah, tenaga perpustakaan harus mengetahui kebutuhan sumber belajar semua guru bidang studi. Oleh karena itu, penting sekali tenaga perpustakaan untuk mampu berkoordinasi dengan tenaga pendidik bidang studi terkait. Kebijakan pengembangan koleksi dalam pemilihan materi perpustakaan didasari pada asas berikut ini: 1) kerelevanan; 2) berorientasi kepada kebutuhan pengguna; 3) kelengkapan; 4) k emu t a k h ir a n ; 5 ) k e rj a s ama . Diadakannya kerja sama atau koordinasi dengan tenaga pendidik bidang studi terkait tentunya akan berorientasi kepada kebutuhan pemustaka. Kerja sama dengan tenaga pendidik terkait tentunya akan menghasilkan materi perpustakaan yang sesuai dengan apa yang dibutuhkan oleh pemustaka. (Yulia dan Sujana, 2009, hlm. 1.11) Lebih lanjut Yulia dan Sujana mengemukakan bahwa: Koleksi perpustakaan sebaiknya merupakan hasil kerja sama semua pihak yang berkepentingan dalam pengembangan koleksi, yaitu antara pustakawan, pembina perpustakaan, pimpinan bahan induk, tokoh masyarakat, guru/dosen/peneliti, dan berbagai pihak lain tergantung jenis perpustakaanya. Dengan kerja sama yang baik, diharapkan pengembangan koleksi dapat berdaya guna dan berhasil guna. (2009, hlm. 2.5) f.Melakukan pemesanan, penerimaan, dan pencatatan Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan pada perpustakaan SMA Negeri 6 Bandung, tenaga perpustakaan sekolah tersebut telah melakukan pemesanan, penerimaan, dan pencatatan terhadap koleksi yang akan diadakan pada perpustakaan sekolah SMA Negeri 6 Bandung. Walaupun dalam pemesanan sebagian koleksi perpustakaan kepada penerbit dilakukan oleh pihak sekolah yaitu Wakil Kepala Sekolah, bukan sepenuhnya dari pihak perpustakaan yaitu tenaga perpustakaan sekolah itu sendiri. Setelah melakukan pemesanan, barulah selanjutnya dilakukan kegiatan penerimaan dimana pada kegiatan penerimaan tersebut tenaga perpustakaan akan melakukan pengecekkan terhadap koleksi, apakah sesuai dengan jumlah buku yang di pesan dan melakukan pengecekkan terhadap kondisi buku apakah terjadi kerusakan atau tidak, yang disertakan dengan bukti pembayaran dan bukti penerimaan yang diberikan oleh penrbit kepada tenaga perpustakaan yang nantinya dijadikan sebagai dokumen laporan perpustakaan. Sebagaimana yang diungkapkan oleh key informan bahwa, untuk pemesanan, penerimaan dan pencatatan koleksi adalah tugas dari tenaga perpustakaan. Tenaga perpustakaan harus memiliki pengetahuan dan melaksanakan kegiatan-kegiatan tersebut, walaupun dalam melakukan pengadaan seharusnya merupakan tugas dari bagian pengadaan sekolah. Hal tersebut sesuai dengan apa yang dikemukakan oleh Yulia dan Sujana (2009, hlm 5.7) dalam prosedur pembelian atau pemesanan buku melalui penerbit diantaranya sebagai berikut: m e m b u a t d a f t a r b u k u y a n g dikelompokkan berdasarkan penerbit; mengirimkan daftar buku yang akan dibeli ke setiap penerbit; menerima provorma invoice dari penerbit; melakukan pembayaran sesuai dengan instruksi yang terdapat dalam provorma invoice; mengirimkan bukti pembayaran ke penerbit; membuat pertanggungjawaban sesuai dengan peraturan yang berlaku; dan m e n g a rsi p k a n f o t o k o p i b u k t i pembayaran. Keunikan yang peneliti temukan pada kompetensi pengembangan koleksi perpustakaan sekolah SMA Negeri 6 Ba n d u n g , y a it u b a hwa t e n a g a perpustakaan tersebut tidak dilibatkan dalam proses pemesanan koleksi. Sebagian besar koleksi terutama koleksi buku pelajaran dilakukan oleh pihak sekolah. Pihak sekolah seringkali melakukan pemesanan buku pelajaran secara tiba-tiba, tanpa melakukan koordinasi terlebih dahulu dengan tenaga perpustakaan. Koordinasi yang dimaksud antara lain dalam hal proses identifikasi kebutuhan pengguna, proses seleksi koleksi yang akan diadakan, proses pemesanan koleksi kepada penerbit, proses penerimaan koleksi dan proses perekapan bukti pemesanan koleksi. Berdasarkan kondisi yang terjadi di perpustakaan SMA Negeri 6 Bandung tersebut, key informan mengemukakan bahwa “...meskipun yang melakukan pengadaan adalah bagian pengadaan di sekolah. Tetapi pemesanan, penerimaan dan pencatatan koleksi adalah tugas tenaga perpustakaan.” Pendapat tersebut diperkuat oleh pendapat Yulia dan Sujana yang mengemukakan bahwa: Koleksi perpustakaan sebaiknya merupakan hasil kerja sama semua pihak y a n g b e r k e p e n t i n g a n d a l a m pengembangan koleksi, yaitu antara pustakawan, pembina perpustakaan, pimpinan badan induk, tokoh masyarakat, guru/dosen/peneliti, dan berbagai pihak lain tergantung jenis perpustakaannya. Dengan kerja sama yang baik, diharapkan pengembangan koleksi dapat berdaya guna dan berhasil guna. (2009, hlm. 2.5)2. Kompetensi Tenaga Perpustakaan Sekolah dalam Pengorganisasian Informasi di Perpustakaan a. Membuat deskripsi bibliografis (pengatalogan) sesuai dengan standar nasional Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan pada perpustakaan SMA Negeri 6 Bandung, terlihat bahwa tenaga perpustakaan dalam pembuatan deskripsi bibliografis tersebut masih belum dilakukan sesuai dengan standar nasional. Karena pada dasarnya setiap koleksi p e r p u st a k a a n d i b u a t k a n d a t a bibliografinya, dan seorang tenaga perpustakaan dalam pembuatan deskripsi bibliografis (pengatalogan) tersebut mengacu kepada standar nasional. Hal tersebut sesuai dengan peraturan yang ada pada Standar Nasional Perpustakaan Sekolah tingkat SMA yang mengemukakan bahwa suatu “bahan p e r p u st a k a a n d i d e s k r i p si k a n , diklasifikasi, diberi tajuk subjek dan disusun secara sistematis dengan mengacu pada: pedoman deskripsi bibliografis dan penentuan tajuk entri utama (Peraturan Pengatalogan Indonesia); bagan klasifikasi Dewey (Dewey Decimal Classification); pedoman tajuk subjek.” Sebagaimana yang diungkapkan oleh key infroman bahwa, tenaga perpustakaan harus membuat deskripsi bibliografis (pengatalogan) sesuai dengan standar nasional. Berdasarkan kondisi pada perpustakaan SMA Negeri 6 Bandung, tenaga perpustakaannya belum menggunakan standar nasional dalam pembuatan deskripsi bibliografis (pengatalogan), maka dari itu key informan menyarankan agar tenaga perpustakaan sekolah tersebut perlu mengikuti berbagai macam pelatihan. b. Menentukan deskripsi subjek dan m e n g g u n a k a n D ewe y D e c i m a l Classification edisi ringkas Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan pada perpustakaan SMA Negeri 6 Bandung, terlihat bahwa tenaga perpustakaan sekolah tersebut sudah melakukan deskripsi subjek dan me n g g u n a k a n D ewe y D e c i m a l Classification edisi ringkas dalam p e n g o r g a n i s a s i a n k o l e k s i perpustakaanya. Pada dasarnya suatu deskripsi subjek merupakan kegiatan yang dilakukan oleh tenaga perpustakaan dalam mengelompokkan koleksi-koleksi perpustakaan yang sama atau hampir sama dan memisahkan koleksi-koleksi perpustakaan yang tidak sama sekali ke dalam kelompoknya. Klasifikasi merupakan “penyusunan sistematik terhadap buku dan bahan pustaka lain atau katalog atau entri indeks berdasarkan subjek, dalam cara paling berguna bagi mereka yang membaca atau mencari informasi.” (Sulistyo-Basuki, 1991, hlm. 395) Sebagaimana yang diungkapkan oleh key informan bahwa, selain menggunakan Dewey Decimal Classification edisi ringkas, tenaga p e r p u s t a k a a n j u g a b i s a menggunakan Dewey Decimal Classification edisi lengkap. Be r d a s a r k a n d imi l i k i n y a kompetensi oleh tenaga perpustakaan dalam kegiatan deskripsi subjek tersebut, dapat memberikan berbagai kemudahan seperti membantu pemustaka dalam mencari sebuah koleksi berdasarkan nomor panggil dengan lebih mudah dan cepat, dan dapat memberikan kemudahan bagi tenaga perpustakaan dalam mengelompokkan semua koleksi perpustakaan sejenis menjadi satu. Oleh sebab itu, penting bagi tenaga p e r p u s t a k a a n u n t u k d a p a t mengaplikasikan pengetahuan serta keterampilannya dalam menentukan deskripsi subjek dengan penggunaan Dewey Decimal Classification edisi ringkas. c.Menggunakan daftar tajuk subjek dalam bahasa Indonesia Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan pada perpustakaan SMA Negeri 6 Bandung, tenaga perpustakaan sekolah belum mengetahui penggunaan dari daftar tajuk subjek dalam pengorganisasian informasi perpustakaan. Daftar tajuk s u b j e k d i g u n a k a n o l e h t e n a g a perpustakaan sebagai pedoman untuk menetapkan tajuk subjek dari buku-buku yang akan dibuatkan entri subjek. SKKNI mengemukakan bahwa daftar tajuk subjek merupakan ... kumpulan istilah atau frase yang spesifik dan menggambarkan subyek atau bidang tertentu. Istilah atau frase dalam tajuk subyek dipilih dari daftar istilah terkendali dan digunakan sebagai pedoman untuk menetapkan tajuk subyek dari bahan perpustakaan. Tajuk subyek menjadi titik akses dalam katalog perpustakaan. (2012, hlm. 18) Sebagaimana yang diungkapkan oleh key informan bahwa, dalam menggunakan daftar tajuk subjek sekarang telah dibantu dengan adanya aplikasi seperti software Dewey Decimal Classification. Fungsi dari daftar tajuk subjek tersebut yaitu untuk memudahkan dalam pengorganisasian informasi. Namun dari pihak tenaga perpustakaan SMA Negeri 6 Bandung belum mengetahui penggunaan dari daftar tajuk subjek tersebut. Pada dasarnya daftar tajuk subjek merupakan kumpulan dari istilahistilah yang diuruntukan sesuai abjad. d.Menjajarkan kartu katalog Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan pada perpustakaan SMA Negeri 6 Bandung, terlihat bahwa tenaga perpustakaan sekolah tersebut sudah tidak menggunakan katalog manual sebagai alat telusur informasi perpustakaan, namun telah dialihkan ke dalam bentuk media lain yaitu dengan penggunaan OPAC (Online Public Access Catalogues). Berdasarkan hal tersebut dapat diketahui bahwa tenaga perpustakaan SMA Negeri 6 Bandung dalam menjajarkan kartu katalog sudah dapat dikatakan sangat baik. Penggunaan OPAC dapat mempermudah pemustaka dalam menelusuri koleksi perpustakaan yang mereka inginkan dengan cepat dibandingkan dengan penggunaan kartu katalog atau katalog manual. S e b a g a i m a n a a p a y a n g dikemukakan oleh key informan bahwa, apabila suatu perpustakaan telah menggunakan OPAC dan beroperasi dengan baik, maka tenaga perpustakaan tidak perlu lagi untuk menjajarkan kartu katalog. S e s u a i d e n g a n a p a y a n g dikemukakan oleh Atwell (dalam P r a s t o w o , 2 0 1 3 , h l m . 1 9 3 ) mengemukakan bahwa OPAC memberikan kemudahan bagi pengguna dalam dalam m e m a k a i n y a m a u p u n menyediakan keakuratan dalam menghadirkan data, dapat diakses oleh beberapa orang sekaligus pada saat yang sama, dan memberikan keleluasaan pada pengakses untuk memilih tajuk entri, pengarang, judul, subjek, atau penerbit menggunakan logika Boolean. e. Memanfaatkan teknologi untuk pengorganis a si an informa si dan penelusuran Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan pada perpustakaan SMA Negeri 6 Bandung, terlihat bahwa tenaga perpustakaan sekolah tersebut telah memanf a a tkan t eknologi untuk pengorganisasian informasi dan penelusuran, namun untuk pelaksanaanya teknologi yang telah diterapkan tersebut masih belum bekerja secara optimal. Hal tersebut dilihat dari terjadinya kerusakan pada alat penelusuran, dan berdasarkan hasil wawancara dengan pihak peserta didik diketahui bahwa mereka lebih memilih bertanya langsung kepada tenaga perpustakaan dalam mencari koleksi perpustakaan dibandingkan dengan langsung menggunakan teknologi tersebut. Penggunaan teknologi untuk penelusuran informasi pada perpustakaan SMANegeri 6 Bandung belum digunakan secara maksimal. Sebagaimana yang diungkapkan oleh key informan bahwa, memang s eba iknya t enaga pe rpust aka an memanf a a tkan t eknologi da l am pengorganisasian informasi dan penelusuran. Pada dasarnya, pemanfaatan teknologi dalam pengorganisasian informasi dan penelusuran memiliki beberapa tujuan sebagaimana yang dikemukakan oleh Lasa diantaranya yaitu “pertama, meringankan pekerjaan. Kedua, memudahkan dan memperlancar pelaksanaan tugas kepustakawanan. Ketiga, mempercepat proses temu kembali akan informasi. Keempat, memperlancar kerja sama informasi. Kelima, meningkatkan pelayanan informasi dan memanfaatkan teknologi informasi.” (Lasa, 2009, hlm. 215) Keunikan yang peneliti temukan pada kompetensi pengorganisasian informasi, yaitu terlihat bahwa tenaga perpustakaan SMA Negeri 6 Bandung pernah melakukan kesalahan pada pelabelan dan pengklasifikasian terhadap koleksi yang belum diperbaiki, dengan alasan bahwa tenaga perpustakaan merasa bahwa hal tersebut tidak terlalu penting dikarenakan tentunya tidak memberikan dampak yang begitu besar kepada pemustaka khususnya peserta didik. Dilihat berdasarkan kondisi tersebut, tentunya tenaga perpustakaan harusnya dengan bijak untuk dapat menerapkan aturan baku yang telah diketahui dan dipahami sebagaimana mestinya, sehingga nantinya perpustakaan dapat memberikan pelayanan yang prima t e r h a d a p p a r a p e m u st a k a n y a . Sebagaimana hal yang dikemukakan oleh Prastowo (2013, hlm. 182) bahwa “klasifikasi koleksi pustaka dilakukan untuk memberi kemudahan bagi pemakai maupun pustakawan dalam mengakses kolesi pustaka sekolah sehingga tercipta efisiensi.” 3. Kompetensi Tenaga Perpustakaan dalam Pemberian Jasa dan Sumber Informasi di Perpustakaan a. Memberikan layanan baca di tempat Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan pada perpustakaan SMA Negeri 6 Bandung, terlihat bahwa tenaga perpustakaan sekolah tersebut telah memberikan layanan baca di tempat kepada pemustaka. Layanan baca di tempat digunakan oleh pemustaka SMA Negeri 6 Bandung diantaranya yaitu untuk menyelesaikan tugas yang diberikan guru, membaca buku-buku referensi, dan menikmati waktu kosong dengan membaca koleksi-koleksi yang ada di perpustakaan. Perpustakaan pada umumnya sudah seharusnya memenuhi kebutuhan penggunanya, sesuai dengan apa yang dikemukakan oleh Sutarno (2006, hlm. 193) bahwa kebutuhan pemakai merupakan “kabutuhan informasi yang dilengkapi dengan fasilitas membaca, belajar, meneliti, berekreasi, dan pengembangan ilmu pengetahuan.” Hal tersebut juga didukung dengan apa yang dikemukakan oleh key informan bahwa suatu perpustakaan tentu harus memiliki layanan baca di tempat, minimal dengan menyediakan ruangan kecil. O l e h k a r e n a i t u , s u a t u perpustakaan akan dapat memenuhi kebutuhan informasi pemustakanya, salah satunya dengan menyediakan layanan baca di tempat. Layanan baca di tempat diberikan kepada pemustaka agar, pemustaka dapat mendayagunakan koleksi-koleksi yang dimiliki oleh perpustakaan. Tidak semua koleksi yang ada di perpustakaan dapat dibawa pulang untuk dipinjamkan kepada pemustaka, yaitu seperti koleksi referensi. Maka dari itu, penting bagi tenaga perpustakaan untuk dapat menerapkan keterampilan s e rt a si k a p p e ril a k u n y a d a l am m e m b e r i k a n l a y a n a n b a c a d i perpustakaan. b. Memberikan jasa informasi dan referensi Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan pada perpustakaan SMA Negeri 6 Bandung, terlihat bahwa tenaga perpustakaan sekolah tersebut telah memberikan jasa informasi dan referensi untuk pemustaka. Pemberian bimbingan diberikan oleh tenaga perpustakaan SMA Negeri 6 Bandung yaitu diantaranya pada saat peserta didik tersebut akan melaksanakan olimpiade, dimana mereka membutuhkan koleksi-koleksi yang ada pada bagian referensi yang dipandu penggunaanya oleh tenaga perpustakaan. Namun pemberian jasa informasi dan referensi tersebut hanya diberikan kepada pengguna yang membutuhkan, karena ada sebagian dari pemustaka lainnya yang tidak mengetahui dan belum pernah menggunakan koleksi referensi tersebut. Key informan mengemukakan bahwa, memberikan layanan informasi juga merupakan bagian dari pemberian jasa informasi kepada pemustaka. Kegiatan tersebut seperti menjawab pertanyaan dari pemustaka tentang kebutuhan informasi mereka. S e s u a i d e n g a n a p a y a n g dikemukakan oleh Soejono Trimo (dalam Sinaga, 2009, hlm. 33) bahwa “pelayanan referens adalah semua kegiatan yang ditujukan mempersiapkan segala sarana (fisik dan non-fisik) bagi mempermudah proses penelusuran informasi serta membantu dan membimbing para pemakai perpustakaan dalam mencari informasi yang dibutuhkannya.” Ol e h k a r e n a i t u , d e n g a n d i m i l i k i n y a k o m p e t e n si s e rt a d i a p l i k a si k a n n y a p e n g e t a h u a n , keterampilan, dan sikap perilaku oleh tenaga perpustakaan dalam pemberian jasa dan sumber informasi dan referensi akan memberikan citra yang positif kepada perpustakaan tersebut. Hal tersebut dikarenakan pemustaka tentunya akan dapat merasakan pelayanan yang bagus dari tenaga perpustakaan apabila dapat membantu mereka menemukan informasi yang dibutuhkan dengan cepat dan tepat, yang nantinya tentunya akan memberikan kenyamanan kepada pemustaka untuk berkunjung lagi ke perpustakaan. c. Menyelenggarakan jasa sirkulasi (peminjaman buku) Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan pada perpustakaan SMA Negeri 6 Bandung, tenaga perpustakaan sekolah tersebut telah menyelenggarakan jasa sirkulasi (peminjaman buku) bagi pemustaka. Pemberian jasa sirkulasi m e r u p a k a n k e g i a t a n m e l a y a n i peminjaman dan pengembalian bukubuku ataupun koleksi lainnya milik perpustakaan sekolah. sebagaimana yang dikemukakan oleh Yusuf dan Suhendar (2010, hlm. 70) bahwa “sirkulasi berarti perputaran. Dalam dunia perpustakaan artinya adalah perputaran buku atau jenis koleksi lain milik perpustakaan yang dipinjamkan kepada anggota untuk beberapa waktu lamanya.” Penyelenggaraan jasa sirkulasi (peminjaman buku) pada perpustakaan SMA Negeri 6 Bandung telah dapat d i k a t a k a n b a i k , k a r e n a t e n a g a pe rpust aka an t e l ah mene r apkan pengetahuan, keterampilan, dan sikap perilakunya dengan pemberian layanan peminjaman buku berbasis teknologi. Sehingga, akan tercipta layanan yang efektif dan efisien bagi pemustaka yang ingin meminjam koleksi perpustakaan, dikarenakan tenaga perpustakaan hanya perlu melakukan scanning terhadap buku yang akan dipinjam sebab buku-buku yang ada di perpustakaan telah dilengkapi dengan penggunaan barcode. d. Memberikan bimbingan penggunaan perpustakaan bagi komunitas sekolah/madrasah Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan pada perpustakaan SMA Negeri 6 Bandung, terlihat bahwa tenaga perpustakaan sekolah telah memberikan bimbingan penggunaan perpustakaan bagi k omu n it a s s e k o l a h . Bimb i n g a n penggunaan perpustakaan merupakan kegiatan yang ditujukan dari tenaga perpustakaan kepada pemustaka agar dapat mengoptimalkan layanan yang dimiliki oleh perpustakaan tersebut. Hal tersebut sesuai dengan apa yang dikemukakan oleh Yusuf dan Suhendar (2010, hlm. 81) bahwa, kegiatan bimbingan yang dilakukan kepada pemustaka antara lain yaitu: menerangkan kepada pengunjung atau pembaca b a g a i m a n a c a r a m e n g g u n a k a n perpustakaan dengan baik, seperti: memperkenalkan tata tertib dan peraturan perpustakaan; cara menggunakan katalog perpustakaan; cara membaca yang baik; cara menggunakan dan memperlakukan buku di dalam dan di luar perpustakaan dengan baik; cara mencari dan menelusuri buku pada rak; cara meminjam dan mengembalikan buku dengan tepat waktu. Tenaga perpustakaan SMA Negeri 6 Ba n d u n g t e l a h m e n e r a p k a n pengetahuan, keterampilan, dan sikap pe ril akunya da l am membe rikan bimbingan kepada pemustaka. Pemberian b i m b i n g a n d i l a k u k a n d e n g a n memperkenalkan perpustakaan dimulai dari fungsi dan tata tertib perpustakaan, memperkenalkan layanan, dan fasilitas yang ada di perpustakaan, pemberian bimbingan penggunaan kartu anggota perpustakaan, dan menginformasikan k o l e k si- k o l e k si y a n g d i m i l i k i perpustakaan kepada peserta didik dan guru di sekolah tersebut. Hal tersebut sesuai dengan apa yang dikemukakan oleh key informan bahwa, tenaga perpustakaan harus memberikan bimbingan penggunaan perpustakaan kepada komunitas sekolah. Pemberian bimbingan tersebut bisa dilakukan pada saat masa orientasi siswa yang dilakukan di sekolah. Pada kegiatan tersebut perpustakaan diberi kesempatan untuk mengisi acara seperti pengenalan perpustakaan kepada seluruh komunitas sekolah. Namun, sebaiknya pemberian bimbingan tidak hanya diberikan pada saat masa orientasi siswa saja, setelah kegiata masa orientasi siswa tetap ada pemberian bimbingan secara periodik kepada komunitas sekolah. e. Melakukan kerja sama dengan perpustakaan lain Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan pada perpustakaan SMA Negeri 6 Bandung, tenaga perpustakaan sekolah masih belum melaksanakan kerja sama dengan perpustakaan lain. Kerja sama yang dilakukan oleh perpustakaan SMA Negeri 6 Bandung baru dilakukan dengan pihak yang ada di dalam ruang lingkup SMA Negeri 6 Bandung, diantaranya seperti komite sekolah, tenaga pendidik bidang studi terkait, dan orang tua dari peserta didik SMANegeri 6 Bandung. Namun perpustakaan SMA Negeri 6 dulunya pernah mendapatkan sumbangan buku dari sekolah lain, dan juga pernah menyumbangkan buku ke perpustakaan sekolah lain, namun kegiatan tersebut sudah tidak berlangsung lagi sampai sekarang. Berdasarkan hal tersebut key informan mengemukakan bahwa, perpustakaan yang baik akan menjalin kerja sama dengan perpustakaan lain. Semakin kreatif tenaga perpustakaan sekolah, maka akan semakin terbuka pula peluang kerja sama dengan perpustakaan lain. Terkait dengan tenaga perpustakaan SMA Negeri 6 Bandung yang pernah mendapatkan sumbangan buku dari s ekol ah l a in, dan juga pe rnah me n y umb a n g k a n b u k u k e p a d a perpustakaan sekolah lain. Key informan mengemukakan bahwa, hal tersebut merupakan salah satu bentuk dari kegiatan kerja sama perpustakaan atau biasa disebut dengan resource sharing. Keunikan yang peneliti temukan pada kompetensi keterampilan dan sikap perilaku dalam pemberian jasa dan sumber informasi yaitu, terlihat dari kondisi di lapangan bahwa masih terdapatnya para pemustaka yang bingung terhadap koleksi-koleksi referensi. Pemustaka tidak bisa membedakan antara koleksi sirkulasi dengan koleksi referensi. Berdasarkan kondisi tersebut, sudah idealnya tenaga perpustakaan untuk memberikan informasi yang lebih m e n d a l a m l a g i k e p a d a p a r a pemustakanya, sehingga nantinya agar pemustaka dapat mendayagunakan semua koleksi-koleksi perpustakaan dengan baik. Hal tersebut sejalan dengan apa yang dikemukakan oleh Sulistyo-Basuki (1991, hlm. 448) bahwa, jasa dasar yang diberikan oleh setiap perpustakaan mencakup: 1) Penyediaan informasi umum 2)Penyediaan informasi khusus 3)Bantuan dalam menelusur dokumen 4)Bantuna dalam menggunakan katalog 5)Jasa bantuan menggunakan buku rujukan Salah satu jasa yang harus diberikan oleh tenaga perpustakaan terkait dengan pemberian jasa sumber informasi dan referensi yaitu, dengan memberikan jasa bantuan menggunakan buku rujukan. 4.Kompetensi Tenaga Perpustakaan dalam Penerapan Teknologi Informasi dan Komunikasi di Perpustakaan a . M e m b i m b i n g k o m u n i t a s sekolah/madrasah dalam penggunaan teknologi informasi dan komunikasi Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan pada perpustakaan SMA Negeri 6 Bandung, terlihat bahwa tenaga perpustakaan sekolah belum memberikan bimbingan komunitas sekolah dalam penggunaan teknologi informasi dan komunikasi secara optimal. Hal tersebut terlihat dari sebagian peserta didik yang telah diwawancara belum pernah mengikuti bimbingan komunitas yang dilakukan oleh tenaga perpustakaan sekolah dalam penggunan teknologi informasi dan komunikasi tersebut. Me r e k a me n g emu k a k a n b a hwa pemberian bimbingan baru akan dilakukan oleh tenaga perpustakaan apabil a me r eka be rkunjung ke perpustakaan dan mengalami kendala dalam penggunaan teknologi. B e r d a s a r k a n h a l y a n g dikemukakan oleh key informan bahwa, sebaiknya tenaga perpustakaan sekolah membe rikan bimbingan kepada komunitas sekolah dalam penggunaan teknologi informasi dan komunikasi terutama pemberian bimbingan kepada peserta didik. Kegiatan tersebut dapat dilakukan melalui program literasi informasi, seperti strategi penelusuran informasi yaitu mengajarkan kepada pemustaka bagaimana cara menelusuri koleksi perpustakaan, pengenalan terhadap mesin pencari, dan penggunaan sumber-sumber informasi di internet. Perpustakaan merupakan suatu lembaga yang memberikan fasilitas dan pelayanan yang dibutuhkan oleh penggunanya. Pada zaman sekarang penggunaan teknologi sudah lebih mudah diakses, namun tidak semua individu dapat mengoptimalisasikan teknologi tersebut dengan baik, maka dari itulah perlunya peran dari tenaga perpustakaan d a l am memb e ri k a n b imb i n g a n pengguna an t eknologi t e rhadap pemustaka. Sesuai dengan apa yang dikemukakan oleh Supriyanto dan Muhsin (2008, hlm. 33) bahwa kebutuhan akan TI sangat berhubungan dengan peran dari perpustakaan sebagai kekuatan dalam pelestarian dan penyebaran informasi ilmu pengetahuan dan kebudayaan yang berkembang, s e iri n g d e n g a n me n u l is, menc e t ak, mendidik, dan k e b u t u h a n ma n u si a a k a n informasi. Perpustakaan membagi rata i
Conclusion
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan dapat diperoleh kesimpulan bahwa, tenaga perpustakaan SMA Negeri 6 Bandung belum sepenuhnya memiliki k o m p e t e n si d a n m e n e r a p k a n pengetahuan, keterampilan dan sikap perilakunya dalam pengelolaan informasi perpustakaan sekolah. Hal tersebut terlihat berdasarkan beberapa subkompetensi yang belum dikuasai dan belum terlaksana secara optimal oleh tenaga perpustakaan SMA Negeri 6 Bandung. Secara khusus dapat dilihat berdasarkan beberapa simpulan sebagai berikut: 1.Kompetensi tenaga perpustakaan dalam pengembangan koleksi Pada kompetensi pengembangan koleksi, tenaga perpustakaan SMANegeri 6 Bandung sebagian besar telah menguasai beberapa sub-kompetensinya namun masih terdapat beberapa subkompetensi yang belum dimiliki dan dikuasai sepenuhnya oleh tenaga perpustakaan sekolah tersebut. Beberapa sub-kompetensi yang telah dikuasai oleh tenaga perpustakaan SMA Negeri 6 Bandung diantaranya yaitu memiliki pengetahuan tentang karya sastra Indone si a dan duni a , memiliki pengetahuan tentang sumber biografi tokoh nasional dan dunia, menggunakan alat bantu seleksi untuk pemilihan materi perpustakaan, berkoordinasi dengan tenaga pendidik bidang studi terkait dalam pemilihan materi perpustakaan, dan melakukan pemesanan, penerimaan dan pencatatan. Sedangkan sub-kompetensi yang belum dikuasai sepenuhnya oleh tenaga perpustakaan SMA Negeri 6 Bandung, yaitu berkaitan dengan pengetahuan tentang penerbitan. 2. Kompetensi tenaga perpustakaan dalam pengorganisasian informasi Tenaga perpustakaan SMANegeri 6 Bandung belum sepenuhnya menguasai k o m p e t e n si d a n m e n e r a p k a n pengetahuan, keterampilannya dalam p e n g o r g a n i s a s i a n i n f o r m a s i perpustakaannya. Hal tersebut terlihat dari beberapa sub-kompetensi yang belum sepenuhnya diketahui dan terlaksana dengan baik yaitu diantaranya seperti dalam pembuatan deskripsi bibliografis tenaga perpustakaan masih belum dibuat sesuai dengan standar nasional, tenaga perpustakaan sekolah tersebut belum mengetahui penggunaan dari daftar tajuk subjek dalam p e n g o r g a n i s a s i a n i n f o r m a s i perpustakaan, dan tenaga perpustakaan belum sepenuhnya memanfaatkan teknologi untuk pengorganisasian informasi dan penelusuran. Namun, terdapat beberapa sub-kompetensi yang telah dikuasai oleh tenaga perpustakaan SMA Negeri 6 Bandung diantaranya seperti telah menjajarkan kartu katalog dalam bentuk OPAC dalam pelayanan yang diberikan, dan tenaga perpustakaan tersebut telah menentukan deskripsi subjek dan menggunakan Dewey Decimal Classification edisi ringkas. 3. Kompetensi tenaga perpustakaan dalam pemberian jasa dan sumber informasi Tenaga perpustakaan SMANegeri 6 Bandung telah menguasai beberapa subk o m p e t e n si d a n m e n e r a p k a n pengetahuan, keterampilan, dan sikap perilaku dalam pemberian jasa dan sumber informasi, namun masih terdapat beberapa sub-kompetensi yang belum sepenuhnya dikuasai dengan baik oleh tenaga perpustakaan sekolah tersebut. Sub-kompetensi yang telah dikuasai oleh tenaga perpustakaan SMA Negeri 6 Bandung diantaranya yaitu telah memberikan layanan baca di tempat, telah memberikan jasa dan sumber informasi, telah menyelenggarakan jasa sirkulasi (peminjaman buku), dan memberikan bimbingan penggunaan perpustakaan bagi komunitas sekolah. Pada subkompetensi terakhir terlihat bahwa tenaga perpustakaan SMA Negeri 6 Bandung sudah tidak melakukan kerja sama lagi dengan perpustakaan lain. 4. Kompetensi tenaga perpustakaan dalam penerapan teknologi informasi dan komunikasi Pada kompetensi penerapan teknologi informasi dan komunikasi, tenaga perpustakaan SMA Negeri 6 Bandung belum sepenuhnya menguasai d a n me n e r a p k a n p e n g e t a h u a n , keterampilan, dan sikap perilaku dengan baik berkaitan dengan sub-kompetensi yang terkandung didalamnya. Hal tersebut terlihat dari tenaga perpustakaan belum memberikan bimbingan komunitas sekolah dalam penggunaan teknologi informasi dan komunikasi secara optimal, dan belum menggunakan teknologi informasi dan komunikasi sesuai dengan kebutuhan.