Kembali
16
1
2017 Edulibinfo Vol 4 · 1 ISSN 2541-3279

IMPLEMENTASI READING THEATER ACTION RESEARCH METODE MEMBACA BUKU PADA SISWA KELAS IV KOLABORASI GURU DAN PUSTAKAWAN DI SD LABORATORIUM UPI

Universitas Pendidikan Indonesia; Universitas Pendidikan Indonesia; Universitas Pendidikan Indonesia

Abstrak

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh adanya metode membaca unik yang memfasilitasi tiga kecenderungan sensoris dalam memahami informasi (visual, audiotori, dan kinestetik) yaitu reading theater (RT). Fokus dari penelitian ini adalah RT sebagai metode membaca yang menyenangkan dan merangsang ingatan siswa tentang isi cerita. Penelitian ini bertujuan untuk 1) merencanakan dan merancang metode RT pada siswa kelas IV SD Laboratorium Percontohan UPI; 2) melaksanakan metode RT pada siswa kelas IV SD Laboratorium Percontohan UPI; dan 3) mengevaluasi pelaksanaan metode RT pada siswa kelas IV SD Laboratorium Percontohan UPI. Penelitian ini menggunakan metode action research dengan pendekatan kualitatif. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah observasi, wawancara, dokumentasi, dan pertanyaan reflektif dengan subjek penelitian yaitu 25 orang siswa kelas IV-B, 1 orang guru, dan 1 orang pustakawan. Penelitian ini dilaksanakan hingga siklus ke 3 untuk memperoleh kejenuhan data. Hasil dari penelitian ini adalah dalam merencanakan dan merancang RT perlu memperhatikan bahan bacaan yang digunakan, jadwal kegiatan RT, dan birokrasi dengan sekolah. Dalam melaksanakan RT, langkahlangkah yang dilakukan adalah mempersiapkan RT, memperkenalkan strategi RT, memperagakan RT, membimbing RT, dan menampilkan RT. Dalam mengevaluasi RT, siswa diajak berdiskusi tentang isi bacaan yang mereka tampilkan.

Abstract

The background of this research is the existence of a unique reading method that facilitates three sensory tendencies in understanding information (visual, auditory, and kinesthetic) is reading theater (RT). The focus is RT as a fun reading method and stimulates students' memory of the story content. This research aims to 1) plan and design RT method on fourth grade students of SD Laboratorium Percontohan UPI; 2) implement RT method on fourth grade students of SD Laboratorium Percontohan UPI; and 3) evaluate the implementation of RTmethod in fourth grade students of SD Laboratorium Percontohan UPI. This research uses action research method with qualitative approach. The data collection techniques in the form of observation, interview, documentation, and reflective question with 25 students of IV-B class, 1 teacher, and 1 librarian as the research subjects. This research is carried out until the third cycle to obtain data saturation. The result of this research is in plan and design RT need to pay attention to reading material used, RT activity schedule, and bureaucracy with school. In implement the RT, the steps taken are prepare the RT, introduce the RT strategy, model the RT, guide the RT, and present the RT. In evaluate the RT, students are invited to discuss about the contents of their readings.
Keywords: reading method · fourth grade student · reading theater

Introduction

Membaca merupakan salah satu kemampuan dasar dalam berliterasi yang sangat berpengaruh pada kehidupan seseorang, baik di lingkungan formal maupun nonformal. Meskipun terlihat sederhana, namun kegiatan membaca tidaklah semudah yang dipikirkan. Sebab, membaca merupakan proses mereaksi yang dilanjutkan dengan kegiatan rekognisi (Abidin, 2010, hlm. 6). Membaca tidak hanya mengenali simbol yang ada di media saja. Namun dalam proses membaca, individu dituntut untuk dapat memahami isi bacaan. Salah satu cara untuk mengukur pemahaman individu terhadap isi bacaan adalah dengan mengkomunikasikannya, baik dengan penyampaian melalui ucapan maupun tulisan. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa membaca berkaitan dengan kemampuan berbicara dan menulis. Kemampuan membaca merupakan salah satu ukuran keberhasilan individu di pendidikan dasar. Membaca juga merupakan salah satu keterampilan berbahasa yang penting selain menyimak, berbicara, dan menulis (Somadayo, 2011). Di Indonesia, siswa kelas I-III biasanya sudah mulai diajarkan membaca. Sementara itu, siswa kelas IV-VI diharapkan sudah lancar membaca dan memahami isi bacaan. Namun, pada kenyataannya saat ini masih banyak ditemukan siswa kelas IV yang belum lancar membaca (Halidjah, 2011, hlm. 2). Kesuksesan dalam belajar membaca ini salah satunya dapat dipengaruhi oleh program yang menarik dan menantang (DeMao dalam Wulan, 2010, hlm. 169). Oleh karena itu, untuk menghadapi permasalahan ini guru dan pustakawan perlu bekerjasama membuat sebuah program yang menarik dan menantang untuk siswa. Perpustakaan sekolah sangat berperan penting dalam pengembangan p r o g r am memb a c a . S e b a b , d i p e r p u st a k a a n s e k o l a h t e r d a p a t pustakawan sekolah yang berperan sebagai information gatekeeper yang menyaring informasi-informasi penting untuk para siswa. Dari perpustakaan sekolah inilah dapat dikembangkan program-program membaca untuk meningkatkan budaya baca sehingga para siswa menjadi individu yang literat. Demi mewujudkan individu yang literat ini, pustakawan dan guru dapat berkolaborasi untuk membuat program membaca di sekolah. Dalam hal ini, pustakawan berperan sebagai orang yang mampu menyeleksi bahan bacaan dan guru sebagai orang yang tahu kebutuhan dan perkembangan siswanya. Seperti yang dikemukakan oleh Natadjumena, dalam (Suherman 2013, hlm. 24) mengenai Tiga Pilar Utama Pendidikan, bahwa salah satu bentuk kolaborasi antara guru dan pustakawan terletak pada literatur atau bahan ajar. Usia sekolah dasar adalah usia bermain dan berkelompok. Sudah seharusnya pustakawan dan guru memahami kondisi ini dan membantu siswa mendapatkan informasi yang dia b u t u h k a n d e n g a n c a r a y a n g menyenangkan sesuai dengan usia perkembangannya. Pada usia ini pula, seseorang sudah siap untuk diajarkan keterampilan membaca. Reading Theater (selanjutnya disebut RT) merupakan salah satu metode membaca yang sesuai dengan usia siswa sekolah dasar. Cornwell (2016) menjelaskan bahwa RT adalah “... integrated approach for involving students in reading, writing, listening, and speaking activities. It involves children in sharing literature, reading aloud, writing scripts, performing with a purpose, and working collaboratively”. RT adalah pendekatan yang diintegrasikan untuk melibatkan siswa dalam kegiatan membaca, menulis, mendengarkan, dan berbicara. Hal ini melibatkan anak-anak dalam berbagi literatur, membaca nyaring, menulis naskah, tampil dengan tujuan, dan bekerja dengan kolaboratif”. Para siswa akan dibimbing untuk membentuk kelompok dan bekerjasama dalam menampilkan seni bermain peran. Namun, pada dasarnya yang mereka lakukan adalah kegiatan membaca. Pelaksanaan RT di sekolah dasar tidaklah sulit. Namun, memang membutuhkan pe r enc ana an dan kerjasama dengan pihak sekolah untuk mendukung kegiatan ini. Metode RT dapat diintegrasikan sebagai program perpustakaan sekolah yang bekerjasama dengan guru mata pelajaran. Dengan demikian, metode RT dapat mendukung pembelajaran sekolah dan mendukung keterampilan para siswa di luar pembelajaran sekolah.

Method

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah action research (penelitian tindakan) dengan pendekatan kualitatif. Menurut Burns, “penelitian tindakan me rupakan pene r apan penemuan fakta pada pemecahan masalah dalam situasi sosial dengan pandangan untuk meningkatkan kualitas tindakan yang dilakukan di dalamnya, yang melibatkan kolaborasi dan kerjasama para peneliti, praktisi, dan orang awam (Komara, 2012, hlm. 22). Partisipan dalam penelitian ini adalah siswa kelas IVB yang berjumlah 25 orang, 1 orang guru kelas, dan 1 orang pustakawan.

Result & Discussion

Pemaparan hasil penelitian dimaksudkan untuk menjawab rumusan masalah umum dan rumusan masalah khusus. Rumusan masalah umum pada penelitian ini adalah “Bagaimana mengimplementasikan RT sebagai metode membaca yang menyenangkan dan merangsang ingatan siswa tentang isi cerita pada siswa kelas IV dengan kolaborasi guru dan pustakawan di SD Laboratorium Percontohan UPI”. Pada survey pendahuluan, peneliti menemukan bahwa SD Laboratorium Percontohan UPI sudah menjalankan program membaca yang menginduk pada Gerakan Literasi Sekolah (GLS) yang dicanangkan oleh pemerintah. Program membaca ini dilaksanakan setiap Senin (07.00 WIB-07.20 WIB) dan Rabu (08.00 WIB-08.30 WIB). Lima orang siswa dari masingmasing kelas IV dan V dilibatkan dalam kegiatan West Java Leader Reading Challege (WJLRC). Dalam kegiatan ini, pustakawan yang berperan sebagai pengkoordinir GLS memberikan pelatihan membaca kepada siswa yang terlibat. Namun sangat disayangkan karena tidak semua siswa memperoleh pelatihan ini. Bahan bacaan yang telah dibaca akan diulas kembali dengan teknik fishbon, Y-Chart, AIH (Alasan, Isi buku, dan Hikmah/pesan moral), atau dengan infografik dan mendiskusikannya dalam kelompok. Berdasarkan hasil wawancara dengan pustakawan, perpustakaan SD Laboratorium Percontohan UPI pun| belum memiliki program khusus yang mampu memfasilitasi kemampuan membaca siswa. Oleh karena itu, peneliti mencoba mengimplementasikan RT sehingga kemudian hari dapat dijadikan program perpustakaan yang rutin di SD Laboratorium Percontohan UPI. 1. Merencanakan dan Merancang Reading Theater Pelaksanaan RT di sekolah dasar di Indonesia belum banyak peneliti temukan. Oleh karena itu, dalam proses implementasinya peneliti mengadaptasi dari teori John Hopkins University School of Education (2011). Secara umum, halhal yang dilakukan pada tahap perencanaan RT adalah 1) observasi awal; 2) membuat kesepakatan dengan pihak sekolah atau mengurus regulasi sekolah; 3) menyiapkan bahan bacaan dengan guru dan pustakawan; dan 4) menulis naskah. Observasi awal diperlukan untuk mengetahui kondisi dari lokasi penelitian. Hal ini akan berpengaruh pada pelaksanaan RT kedepannya. Mengurus regulasi dan membuat kesepakatan dengan pihak sekolah merupakan hal penting demi keberlangsungan RT di sekolah. Pada tahap ini, peneliti mendiskusikan jadwal RT dengan pihak sekolah agar tidak menganggu jam belajar, siapa saja yang akan dilibatkan dalam RT, kelas apa yang akan digunakan RT, dan berapa jumlah siswa yang akan terlibat. Selanjutnya yaitu berdiskusi dengan guru dan pustakawan. Pada tahap ini, peneliti mendiskusikan bahan bacaan yang akan digunakan untuk RT. Siswa kelas IV adalah siswa yang berada pada masa kanak-kanak akhir (Hurlock dalam Herlina, 2013, hlm. 17). Menurut Agustina (2016), buku yang sesuai untuk usia kanak-kanak akhir adalah ilustrated chapter book yaitu buku cerita yang sudah banyak teksnya dan isi ceritanya sudah dibagi dalam bab. Maka, peneliti telah menyiapkan buku dengan judul Keep Smile for The World, seri KKPK. Tahap terakhir dalam perencanaan adalah menulis naskah. Penulisan naskah ini dilakukan jika jumlah bahan bacaan terbatas. Seperti pada kasus ini, siswa berjumlah 25 orang, sedangkan jumlah bahan bacaan hanya ada satu. Dalam penulisan naskah peneliti menggunakan tabel untuk memisahkan nama-nama tokoh dengan dialognya. Dalam penulisan hurufnya, peneliti menggunakan huruf Georgia ukuran 11(Shepard, 2004). 2. Melaksanakan Reading Theater Penelitian ini melaksanakan RT dalam 3 siklus. Siklus 1 dilaksanakan selama 6 pertemuan, siklus 2 selama 5 pertemuan, dan siklus 3 selama 5 pertemuan. Siklus ini menggunakan model dari Paisey dan Paisey (McGrath dan Murph, 2012, hlm. 21) yang menunjukkan metode action research murni. Langkah-langkah dalam model ini yaitu 1) tahap 1: mendefinisikan masalah dan membingkai pertanyaan penelitian; 2) tahap 2: mengembangkan program dan mengumpulkan data; 3) tahap 3: mengimplementasikan program; 4) tahap 4:mengevaluasi; dan 5) tahap 5:mengulas dan merefleksi program. Mengulangi siklus jika dibutuhkan. Dalam pelaksanaan RT terdapat lima langkah yang harus dilaksanakan yaitu mempersiapkan RT, mengenalkan strategi RT, memperagakan RT, membimbing siswa selama RT, dan menampilkan RT. Ada enam aspek yang menjadi penilaian dalam RT yaitu 1) berbicara dengan jelas dan menggunakan volume yang tepat; 2) membaca teks dengan akurat; 3) membaca teks dengan ekspresi; 4) bekerja sama selama waktu latihan; 5) menggunakan waktu latihan dengan bijaksana; dan 6) gestur dan posisi naskah sesuai. Aspek yang ke enam ini merupakan adaptasi dari CurriculumBased Reading Theater (CBRT) (Flynn, 2004). Berikut ini adalah pembahasan dari langkah-langkah RT. a. Mempersiapkan Reading Theater Persiapan RT dapat dilakukan sebelum masuk kelas dan pada pertemuan pertama. Sebelum menjelaskan kepada para siswa mengenai RT, peneliti menyiapkan bahan bacaan atau naskah untuk dibaca para siswa ketika tampil di depan kelas. Peneliti membuat 28 salinan naskah untuk 25 orang siswa, peneliti, guru, dan pustakawan. Pada siklus 1, peneliti membuat 6 lembar naskah dengan 6 halaman kertas HVS yang terdiri atas 8 tokoh dalam cerita. Selebihnya siswa berperan sebagai narator. Setelah dilakukan evaluasi, pada siklus 2 peneliti mengurangi lembar naskah menjadi 2 lembar (dicetak bulakbalik) yang terdiri atas 4 halaman. Pada siklus 3, peneliti kembali mengurangi menjadi 2 lembar naskah yang terdiri atas 3 halaman. b. Me m p e r k e n a l k a n S t r a t e g i Reading Theater Langkah kedua ini juga dapat dilakukan pada pertemuan pertama. Hal pertama yang dilakukan adalah menerangkan teknis pelaksanaan RT. Peneliti mengenalkan para siswa dengan bacaan yang akan mereka gunakan dalam RT. Peneliti memberikan waktu untuk siswa membaca sekilas bacaan yang mereka pegang. Setelah itu, peneliti dibantu guru dan pustakawan membagi mereka ke dalam 2 kelompok. Masingmasing kelompok harus menentukan pemeran tokoh dari masing-masing anggotanya. Tahap kedua dalam RT ini hanya peneliti laksanakan pada siklus 1. Sebab, pada siklus 2 dan siklus 3 para siswa sudah tahu tentnag strategi RT. c. Memperagakan Reading Theater RT merupakan praktik, maka d i p e rl u k a n o r a n g - o r a n g u n t u k m e m p e r a g a k a n n y a . U n t u k memperagakannya, peneliti mengajak guru, pustakawan, dan siswa untuk memperagakan adegan tertentu di depan kelas. Peragaan ini disesuaikan dengan enam aspek yang telah dibahas sebelumnya. Pada siklus 1, pemeragaan ini dilakukan pada pertemuan kedua karena pertemuan pertama terlalu singkat. Sementara itu, pada siklus 2 dan 3 dilakukan pada pertemuan pertama. Pada siklus 1, yang pertama kali memperagakan adalah peneliti, guru, dan pustakawan. Malam sebelumnya, peneliti sudah berbagi peran dengan guru dan pustakawan untuk pemeragaan di depan kelas. Hanya 10 dialog yang diperagakan di depan para siswa. d. Membimbing Siswa Selama Mempraktikkan Reading Theater Dalam pelaksanaan RT, sebaiknya ada ruangan khusus untuk berlatih. Sebenarnya tidak masalah jika berlatih di luar ruangan. Hanya saja, berlatih di luar ruangan tidak menjamin para siswa akan fokus berlatih dan suara kita terdengar jelas selama mengarahkan para siswa. Pada penelitian ini, ada tiga tempat yang biasa dijadikan tempat berlatih, yaitu ruang kelas IV-B, perpustakaan sekolah, dan mushola sekolah. Waktu yang digunakan untuk berlatih RT biasanya 2-3 hari (Antonelli, 2012). Namun, setelah dicoba pada siklus 1 dilaksanakan 3 pertemuan untuk berlatih, ternyata kemampuan para siswa masih belum terlihat baik. Oleh karena itu, pada siklus 2 dan 3 pertemuan untuk berlatih RTmenjadi 4 pertemuan. Lama waktu yang digunakan untuk berlatih tidak lebih dari 30 menit. Sebab, menurut Sabariah (2016, hlm. 44), daya konsentrasi mendengar anak usia 9-12 adalah 30-50 menit. Pada siklus 2, peneliti menocba menggunakan jam pulang sekolah untuk berlatih RT. Ternyata hal tersebut tidak kondusif. Para siswa mengeluh ingin segera pulang dan latihan pun menjadi tidak fokus. e. Menampilkan Reading Theater Sebelum menampilkan RT, peneliti mengulas kembali kegiatan yang telah dilakukan pada hari sebelumnya dan mengingatkan kembali aspek-aspek yang dinilai dalam RT kepada pada siswa. Pada setiap tahapan RT, peneliti selalu mengingatkan tetang enam aspak RT. Setelah ditentukan nomor urut kelompok untuk tampil, maka para siswa dapat menampilkan RTdi depan kelas. Pengamat (peneliti, guru, dan pustakawan) memberikan penilaian kepada setiap siswa menggunakan pedoman penilaian yang mengacu pada enam aspek RT. Para siswa akan dinilai dengan kategori B (Baik), C (cukup), dan K (Kurang). Pada siklus 1, sebanyak 20% siswa belum menguasai aspek 1, 12% belum menguasai aspek 2, 68% belum menguasai aspek 3, 16% belum menguasai aspek 4, 16% belum menguasai aspek 5, dan 44% belum menguasai aspek 6. Pada siklus 2, terlihat peningkatan kemampuan yang signifikan dari para siswa setelah dilakukan perbaikan pada panjang naskah, jadwal pelaksanaan, dan perlakuan terhadap para siswa selama membimbing. Persentase penguasaan siswa pada siklus ini adalah sebanyak 8% siswa belum menguasai aspek 1, 4% siswa belum menguasai aspek 2, 40% siswa belum menguasai aspek 3, 8% siswa belum menguasai aspek 4, 4% siswa belum menguasai aspek 5, dan 12% siswa belum menguasai aspek 6. Pada siklus 3, hampir semua siswa sudah menguasai enam aspek dalam RT. Namun, pada siklus 2, masih ada 40 % siswa yang belum menguasai aspek 3 (ekspresi) dan 12% siswa belum menguasai aspek 6 (disiplin) ada. Oleh karena itu, pelaksanaan RT pada siklus 3 lebih memfokuskan pada aspek 3 dan aspek 6. Pada siklus ini hanya 12% siswa belum menguasai aspek 1 dan 4% siswa belum menguasai aspek 3. Setelah melihat hasil dari siklus 3, maka peneliti memutuskan untuk mencukupkan penelitian sampai pada siklus 3. 3. Mengevaluasi Reading Theater Peneliti menggunakan teknik observasi, wawancara, pertanyaan reflektif, dan studi dokumentasi untuk mengevaluasi RT. Dari teknik-teknik tersebut, didapatkan evaluasi sebagai berikut. a. Jumlah naskah pada siklus 1 terlalu banyak, yaitu 6 lembar yang terdiri atas 6 halaman (1 halaman perlembar). Maka, pada siklus 2, lembar naskah dikurangi menjadi 2 lembar dengan 4 halaman (dicetak bulak-balik). Pada siklus 3 dikurangi lagi menjadi 2 lembar dengan 3 halaman. Dengan dikuranginya jumlah halaman, ditemukan bahwa penampilan RTlebih efektif. Para siswa dapat lebih fokus terhadap enam aspek RT dan tidak perlu terus membuka lembaran kertas. Waktu penampilan pun tidak terlalu panjang. b. RT sebaiknya dilaksanakan pagi hari atau bukan di jam pulang sekolah dan waktu yang digunakan tidak lebih dari 30 menit. c. Untuk mengevaluasi siswa, sebaiknya s e b e l u m m a s u k k e t a h a p m e m b i m b i n g , p a d a t a h a p mengenalkan strategi RT para siswa juga dikenalkan dengan teknik bermain vokal, optimasi suara, bermain olah tubuh, dan bermain ekspresi (Agustina, 2016, hlm. 120125). Peneliti mengevaluasi siswa satu p e r s a t u d e n g a n l a n g s u n g memperbaiki jika mereka melakukan kesalahan. Namun, hal ini akan memakan waktu dan tidak semua siswa dapat dievaluasi jika waktunya terbatas. Maka, lebih baik sebelum berlatih RT, para siswa dilatih dahulu kemampuan berteater. d. Ada kata yang kurang dipahami oleh siswa dalam naskah, yaitu kata “mendelik” juga dalam instrumen. Penemuan kata baru ini dapat menambah kosa kata para siswa. Namun, pada instrumen, itu evaluasi tersendiri bagi peneliti. Sebaiknya gunakan kata-kata yang memang mudah dipahami oleh anak usia kelas IV. e. Pada akhir siklus, peneliti juga memberikan pertanyaan reflektif kepada setiap siswa. Kesimpulan dari hasil reflektif tersebut menyatakan bahwa para siswa menyukai kegiatan RT. Para siswa juga sebagian besar mampu memahami isi cerita melalui RT dilihat dari kemampuan mereka menceritakan kembali isi dari cerita pada jawaban pertanyaan reflektif. Mereka mampu menceritakan kembali cerita bagian 1 yang ditampilkan pada siklus 1. f. Selain pertanyaan reflektif, peneliti juga melakukan wawancara kepada guru dan pustakawan. Menurut guru dan pustakawan, pelaksanaan RT di kelas IV sudah efektif. Hanya saja, diperlukan pelatihan khusus kepada guru atau pelatih RT di sekolah agar lebih menguasai RT jika ingin dijadikan program sekolah. Menurut pustakawan, RT sepertinya lebih cocok jika diterapkan pada siswa kelas III ke atas, sebab siswa kelas III ke bawah biasanya belum lancar membaca. Kecuali memang guru y a n g m e l a k u k a n n y a . G u r u b e r p e n d a p a t b a h w a u n t u k menerapkan RT sebagai program di sekolah, harus ditentukan dengan jelas tujuan dari RT itu sendiri sehingga mampu mendukung pembelajaran. K e m a m p u a n sis w a d a l a m memenuhi enam aspek RT tentunya berbeda. Hal ini dipengaruhi oleh kebiasaan membaca, kepercayaan diri, d a n k e s e ri u s a n me r e k a d a l am menampilkan RT. Bagi siswa yang masih belum lancar dalam membaca, maka diperlukan perlakuan khusus sehingga dapat meningkatkan kelancaran membacanya.

Conclusion

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, peneliti menyimpulkan bahwa implementasi RT di sekolah dasar, khususnya kelas IV dikatakan efektif dalam pemahaman bacaan siswa. Di k a r e n a k a n RT ma si h j a r a n g dilaksanakan di sekolah dasar Indonesia, maka diperlukan serangkaian tahapan yang mengadaptasi dari pelaksanaan RT di luar Indonesia. Berikut ini adalah kesimpulan sesuai dengan fokus penelitian: 1. Pada tahap perencanaan dan perancangan, hal-hal yang harus dipersiapkan adalah 1) observasi awal; 2) membuat kesepakatan dengan pihak sekolah atau mengurus regulasi sekolah; 3) menyiapkan bahan bacaan dengan guru dan pustakawan; dan 4) menulis naskah. 2. Pada tahap pelaksanaan, hal-hal yang ha rus dil akukan ada l ah mempersiapkan RT, memperkenalkan strategi RT, memperagakan RT, membimbing siswa selama RT, dan menampilkan RT dengan penilaian berdasarkan enam aspek RT. 3. Pada tahap evaluasi, peneliti, guru, pustakawan, dan siswa berdiskusi tentang makna dari cerita. Berdasarkan j awaban pe rt anya an r e fl ektif, tergambarkan bahwa kegiatan RT berkesan bagi mereka dan membantu mereka memahami isi bacaan. Berdasarkan wawancara dengan guru dan pustakawan, dinyatakan bahwa implementasi RT pada siswa kelas IV di SD Laboratorium UPI efektif dan berhasil dilaksnaakan.