Kembali
16
1
2021 Pustabiblia : Journal of Library and Information Science Vol 5 · 2 ISSN 2549-3868

Penggunaan Konsep User Experience Terhadap Layanan Situs Web Perpustakaan

Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Abstract

Building a website should be designed based on the experience of the user, as the user who uses the web service. The basics of user experience are needed in designing a library website. The better the user experience in using a library website, the better the quality of a library’s web service will be. Building a library web system requires knowledge of User Experience (UX), so that user satisfaction and convenience can be met. Web oriented user experience can provide an impressive experience for users with features and content that is not confusing and easy to understand. With the steps in arranging UX into elements, we can better understand the overall task of building a website. Ac cording to Jesse James Garett, these elements are divided into five, namely: the strategy plane, the scope plane, the structure plane, the skeleton plane, and the surface plane.
Keywords: web-based library · user experience · five elements

Introduction

Perpustakaan merupakan institusi yang menjadi wadah dalam kegiatan mengumpulkan, mengelola, melestarikan, dan menyajikan informasi kepada masyarakat pengguna. Orientasi utama perpustakaan ialah layanan yang berlandaskan pada kebutuhan pemustaka (pengguna) yang berusaha untuk mempertemukan sumber informasi dengan pemustaka secara luas. Sampai saat ini, perpustakaan telah beradaptasi, menambahkan, dan berkembang dari segi pengelolaan dan layanan perpustakaan. Perpustakaan tidak hanya melakukan kegiatan peminjaman dan pengembalian buku, namun telah memperluas jangkauan kegiatan salah satunya dengan mengakses informasi dalam bentuk cetak dan non-cetak. Dewasa ini, perkembangan perpustakaan semakin melaju seiring dengan revolusi teknologi informasi yang menuntut perpustakaan melakukan perubahan dari perpustakaan tradisional menjadi perpustakaan modern (Abbas and Faiz 2013, 151). Kondisi inilah yang mengharuskan berubahnya pola pikir dalam pengelolaan perpustakaan. Perubahan pola pikir tersebut dilihat dari aspek sumber daya koleksi perpustakaan yang dahulu hanya terdiri dari satu media yaitu bentuk tercetak dan berubah menjadi koleksi digital. Kemudian dari aspek jasa layanan perpustakaan yang semula berada pada ruangan, sekarang berkembang layanan perpustakaan modern yang berbasis virtual. Perubahan tersebut didukung dengan perkembangan teknologi informasi, sehingga munculah berbagai layanan-layanan perpustakaan secara virtual seperti perpustakaan berbasis web yang dapat menjangkau pemustaka dengan cakupan yang lebih luas tanpa dibatasi oleh ruang dan waktu. Terbentuknya perpustakaan berbasis web sebagai implementasi dari sistem informasi pada perpustakaan yang lebih memudahkan aktivitas penelusuran informasi bagi pemustaka dan kemudahan dalam aksesibilitas layanan perpustakaan. Perpustakaan berbasis web dapat menghubungkan perpustakaan pada pemustaka dalam jarak jauh. Pada situs web perpustakaan memuat banyak konten layanan yang dapat diakses oleh pemustaka seperti informasi tentang layanan, katalog online, bahan perpustakaan digital, e-learning, tanya pustakawan, dsb. namun adakalanya beberapa konten yang telah disediakan terkubur dalam situs itu sendiri karena sulit ditemukan oleh pemustaka karena desain web yang sulit dimengerti oleh pemustaka. Sudah selayaknya web perpustakaan di desain berdasarkan pada kebutuhan pemustaka, karena selain dari aspek informasi yang disajikan, baik buruknya perpustakaan dapat dilihat dari aspek layanan yang diberikan kepada pemustaka. Dalam membangun sistem web perpustakaan membutuhkan pengetahuan tentang pengalaman pengguna atau User Experience (UX), sehingga kepuasan dan kenyamanan pemustaka dapat terpenuhi. Web yang berorientasikan pada pengalaman pemustaka dapat memberikan pengalaman yang mengesankan bagi pemustaka dengan fitur dan konten yang tidak membingungkan serta mudah dimengerti. Pengalaman pengguna (UX) adalah bagaimana perasaan orang ketika mereka menggunakan produk atau layanan. Ini adalah situasi ideal di mana pengguna mendapatkan kepuasan maksimal dari menggunakan produk atau layanan. Pengalaman pengguna dapat mencakup semua jenis produk, dalam kebanyakan kasus, produk tersebut dapat berbentuk situs web atau aplikasi. Setiap interaksi manusia dengan objek memiliki pengalaman pengguna, tetapi praktisi UX lebih cenderung kepada hubungan antara pengguna manusia dengan komputer dan produk berbasis komputer, seperti situs web, aplikasi, dan sistem (Deacon 2020, 7). Untuk membangun suatu web yang berorientasi pada pengguna, menempuh tahap atau elemen yang perlu dipertimbangkan. Menurut Jesse James Garett, elemen-elemen tersebut terbagi menjadi lima, yaitu: bidang strategi (strategy plane), bidang lingkup (scope plane), bidang struktur (structure plane), bidang rangka (skeleton plane), dan bidang permukaan (surface plane) (Garett 2011). Pada tulisan ini, menjelaskan bagaimana konsep User Experience (UX) dalam membangun desain web perpustakaan melalui lima elemen yang diutarakan Jesse James Garett yang dikenal sebagai seorang konsultan user experience, sehingga dapat diterapkan pada perpustakaan agar mampu memberikan kepuasan pada pemustaka yang berselancar informasi di web perpustakaan.

Method

Metode yang digunakan pada kajian ini adalah metode kualitatif, yaitu penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa ucapan, tulisan, dan perilaku orang-orang yang diamati. Penelitian kualitatif ditujukan untuk mendeskripsikan dan menganalisis fenomena, peristiwa, aktivitas sosial, sikap, kepercayaan, persepsi, dan pemikiran manusia secara individu maupun kelompok (Ghony and Almanshur 2012). Kajian ini menekankan pada analisis dari proses berpikir secara induktif yang berkaitan dengan dinamika hubungan antarfenomena yang diamati, dan senantiasa menggunakan logika ilmiah (Gunawan 2014). Teknik pengumpulan data pada kajian ini adalah studi kepustakaan menggunakan data-data sekunder yang diperoleh dari berbagai buku dan artikel-artikel ilmiah berupa berita, jurnal, serta laporan penelitian yang terkait untuk diolah dan dianalisis lebih lanjut dengan masalah yang dikaji. Jenis riset ini diambil dengan dasar data-data di lapangan (field research) yang sudah di muat dalam buku-buku ataupun terbitan-terbitan terdahulu yang dikumpulkan oleh peneliti-peneliti lain (Simanjuntak and Sosrodihardjo 2014)

Result & Discussion

User Experience pada Web Perpustakaan Perkembangan dunia perpustakaan semakin melaju seiring dengan perkembangan teknologi informasi menuntut perpustakaan harus bertransformasi dari perpustakaan tradisional menjadi perpustakaan modern. Dalam perpustakaan tradisional, permasalahan yang dihadapi adalah bagaimana menyediakan dana untuk mendapatkan koleksi bermutu sehingga dapat mencukupi kebutuhan pemustaka dan agar setiap saat dapat dilakukan penyiangan serta pembaharuan koleksi. Pada perpustakaan online, permasalahan yang dihadapi adalah penyediaan biaya lebih besar digunakan untuk pengadaan jaringan internet ICT (Information Communication Technology), bandwidth yang bagus, jumlah komputer yang mencukupi, dan cepat dalam akses database serta sumber daya manusia yang mampu memelihara kecanggihan peralatan tersebut (Hartinah 2014). Saat ini cukup banyak perpustakaan yang tidak hanya memiliki bentuk fisik (gedung), melainkan juga telah memiliki bentuk virtualnya berupa situs web yang memuat berbagai sumber informasi tentang perpustkaan dan bahan perpustakaan yang dimiliki oleh sebuah perpustakaan. Bahkan melalui situs web tersebut, pemustaka dapat memperoleh bahan perpustakaan dalam bentuk elektronik seperti buku elektronik (e-book), jurnal elektronik (e-journal), dan berbagai sumber elektronik lainnya. Layanan perpustakaan adalah komponen penting dari konten situs web perpustakaan. Menurut Clyde, beberapa situs perpustakaan memiliki tujuan yang bervariasi berfokus pada penyediaan informasi tentang perpustakaan dan layanannya sementara yang lain lebih berfungsi seperti portal, menyediakan tautan ke sumber daya Internet. Mereka mengatur konten ke dalam kategori: informasi perpustakaan, referensi, penelitian, instruksi, dan fungsi (Rennick 2019, 15). Karena layanan merupakan komponen penting, maka layanan yang disediakan pada konten situs web perpustakaan haruslah berorientasi pada kemudahan pemustaka dalam mengakses layanan-layanan tersebut. User experience atau pengalaman pengguna sangat penting dijadikan dalam dasar pembangunan sebuah situs web perpustakaan, karena pemustaka lah yang akan memanfaatkan situs web tersebut. Semakin bagus pengalaman pemustaka yang mengunjungi situs web perpustakaan, maka semakin sering pemustaka mengunjungi situs web perpustakaan tersebut. 2. Implementasi Elemen User Experience pada Web Perpustakaan Tahap strategi pada elemen UX oleh Garett dapat diterapkan pada lembaga atau institusi non profit seperti perpustakaan. Pada dasarnya strategi perpustakaan sebagai pondasi utama yaitu perpustakaan perlu melihat kembali pemetaan atau rencana strategi dari berbagai sisi. Dari sisi membangun kualitas layanan berupa kebijakan, koleksi perpustakaan, layanan, sumber daya manusia (SDM), anggaran, dan infrastruktur. Salah satu cara untuk meningkatkan layanan perpustakaan antara lain dengan menyediakan sarana situs web perpustakaan. Perpustakaan merupakan sistem informasi yang memungkinkan kegiatan berdasarkan proses kerja yang mencakup beberapa kegiatan teknis perpustakaan diantaranya: pertama, pengadaan koleksi dan bahan perpustakaan (akuisisi). Kedua, inventarisasi berupa pencatatan koleksi, pemeriksaan, pengelompokkan, dan stampel pada bahan perpustakaan. Ketiga, pengkatalogan bahan perpustakaan. Keempat, sirkulasi, on serve dan interlibrary loan merupakan bagian dari perpustakaan yang langsung berhubungan dengan pemustaka (Hartono 2017, 31). Pada tahap bidang lingkup mengenai apa yang menjadi batasan dalam penciptaan pengalaman bagi pengguna dalam mengakses situs web. menurut Garett lingkup UX terbagi menjadi dua sisi yaitu: sisi software interface (konten) dan hypertext system (konteks). Di sisi konteks, sistematika fungsional harus dipertimbangkan artinya bahwa konten-konten yang ada di halaman situs web perpustakaan harus memiliki fungsi agar tidak ada konten yang tidak terpakai oleh pemustaka. Contohnya, adanya konten tanya pustakawan yang dapat difungsikan bagi pemustaka jika ada yang ingin ditanyakan kepada pustakawan terkait sumber informasi. Sedangkan di sisi konten, kebutuhan-kebutuhan informasi harus pula dipertimbangkan secara matang, artinya dalam mendesain konten-konten untuk web perpustakaan harus di evaluasi apakah konten tersebut layak di tampilkan dan dibutuhkan oleh pemustaka ataukah tidak. Kemudian pada tahap di bidang struktur terbagi menjadi dua struktur yang harus dibentuk, yaitu desain interaksi dan arsitektur informasi. Desain interaksi dapat menggambarkan struktur informasi secara konseptual tentang bagaimana alur kerja pemustaka dapat berupa flowchart dalam mengakses situs web perpustakaan sehingga tingkat kesalahan dapat diperkecil. Misalnya, alur kerja log in seorang pemustaka agar dapat mengakses situs web perpustakaan, proses temu kembali informasi di web perpustakaan, dan penelusuran katalog online di web perpustakaan Gambar 2. Alur kerja log in pemustaka Sumber: https://id.pinterest.com/pin/464011567853969405/ (2020) Kemudian struktur arsitektur informasi yang berkaitan dengan pemustaka memproses informasi secara kognitif sehingga informasi yang disajikan dapat dipahami oleh pemustaka. Arsitektur informasi dapat berupa susunan konten, fitur, bahasa, dan metadata yang dimuat dalam situs web perpustakaan. Misalnya, dalam konten pencarian terdapat keterkatian dengan konten yang memuat sumber database buku, artikel, jurnal, pangkalan data penelitian, film, dll. Contoh arsitektur informasi di web perpustakaan seperti pada gambar 3. Gambar3. Arsitektur Informasi di Situs Web Perpustakaan Sumber: https://id.pinterest.com/pin/668151294692312757/ (2020) Elemen ke empat adalah bidang rangka terdapat tiga aspek yaitu Interface design, navigation design, dan information design. Pada tahap UX ini merupakan proses awal bagaimana konten-konten akan di tampilakan ke halaman situs web atau biasa disebut dengan wireframe. Tahap ini merupakan pengaplikasian dari tahap sebelumnya yaitu arsitektur informasi. Bidang rangka ini berupa layout-layout atau tata letak konten yang akan di sajikan pada web perpustakaan Gambar 4. Desain Wireframe Web Perpustakaan Sumber: https://onextrapixel.com/the-design-pattern-wireframe-libraries-guide/ (2020) Terakhir adalah elemen bidang permukaan pada tampilan situs web perpustakaan. Desain Wireframe yang telah dirancang diaplikasikan dalam bentuk visual halaman situs web perpustakaan dengan menambahkan efek kontras, kombinasi warna, gamabar, dan tipografi agar membuat web perpustakaan semakin menarik mata pemustaka. Pada tahap ini merupakan tahap, memperindah halaman web perpustakaan. Berikut ini salah satu contoh tampilan situs web perpustakaan, yaitu: perpustakaan Alexandria. Gambar 5. Tampilan Website Perpustakaan Alexandria Sumber: https://alexlibraryva.org/ (2020) • Memiliki dua kotak layanan pencarian, yang masing masing memiliki fungsi yang berbeda, yaitu: Kotak pencarian pertama berfungsi untuk penelusuran katalog koleksi perpustakaan Alexandria. Gambar 6. Tampilan Layanan Pencarian Website Perpustakaan Alexandria Sumber: https://alexlibraryva.org/ (2020) Selanjutnya, kotak pecarian kedua berfungsi sebagai penelususran informasi yang akan mengahsilkan informasi rujukan alamat web lengkap yang dibuat oleh perpustakaan Alexandria Gambar 7. Kotak Pencarian Website Perpustakaan Alexandria Sumber: https://alexlibraryva.org/ (2020) • Pada situs web perpustakaan Alexandria, disediakan berbagai konten seperti koleksi bahan perpustakaan, even (acara), layanan, area anak anak, area remaja, dan papan log in. Penempatan konten yang disajikan juga mudah dijangkau oleh mata pemustaka, sehingga pemustaka tidak perlu melakukan scroll yang berulang-ulang pada halaman web untuk mencari konten-konten yang tersedia. Gambar 8. Konten-Konten Website Perpustakaan Alexandria Sumber: https://alexlibraryva.org/ (2020) Dan keterkaitan konten-konten utama yang disediakan menghubungkan pada sub-sub konten lainnya, seperti pada konten Books, Movies & More yang menghubungkan pada konten yang memuat semua koleksi-koleksi perpustakaan. Gambar 9. Konten-Konten Website Perpustakaan Alexandria Sumber: https://alexlibraryva.org/ (2020) Kontras dan keseragaman warna pada situs web perpustakaan Alexandria di dominasi dengan warna putih sebagai backgroud, kolaborasi warna yang digunakan adalah hijau, toska, kuning, ungu, dan merah sesuai pada logo perpustakaan alexandria. • Dari segi tipografi, gaya tulisan dan ukuran font tulisan yang digunakan mudah di baca oleh pemustaka dengan beberapa konten utama yang menngunakan font huruf yang lebih besar dan tebal. • Pada web perpustakaan Alexandria, menyajikan tampilan web utama yang sederhana dengan jarak navigasi satu kali scroll yang artinya web tidak menampilkan informasi-informasi ganda yang semakin memperbanyak tampilan web. Mata pemustaka tidak akan dipusingkan dengan banyak nya tulisan dan konten-konten ganda. • Pada bagian akhir tampilan web, terdapat konten layanan informasi terkait institusi perpustakaan. Gambar 10. Konten Layanan Informasi Website Perpustakaan Alexandria Sumber: https://alexlibraryva.org/ (2020

Conclusion

Perpustakaan menawarkan begitu banyak layanan yang beragam, dengan adanya situs web dapat menjadi media mempromosikan perpustakaan secara efektif. Selain itu, dengan adanya web perpustakaan semakin memperluas jangkauan akses terhadap pemustaka. Web perpustakaan disajikan untuk mempermudah dalam memenuhi kebutuhan informasi pemustaka, maka sudah selayaknya bahwa pembangunan sebuah web perpustakaan harus didasarkan pada kebutuhan pemustakanya. Membangun sebuah situs web harus dirancang berdasarkan pengalaman pemustaka, sebagai pengguna yang menggunakan layanan web tersebut. Dasar-dasar user experience sangat dibutuhkan dalam merancang sebuah situs web perpustakaan. Semakin baik pengalaman pemustaka dalam menggunakan situs web perpustakaan, maka akan semakin baik pula kualitas layanan web suatu perpustakaan.