Analisis Kompetensi Pustakawan dalam Mendukung Layanan Perpustakaan (Studi Kasus di Perpustakaan UIN Sunan Gunung Djati Bandung)
Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung
Abstrak
Keberadaan perpustakaan perguruan tinggi sangat penting dan tidak dapat dipisahkan dari sivitas akademik yaitu menjadi pusat dokumentasi dan informasi ilmiah dalam mendukung pembelajaran dan penelitian di lembaga akademik. Salah satu faktor yang mempengaruhi upaya meningkatkan kualitas layanan di perpustakaan perguruan tinggi adalah dengan meningkatkan kompetensi pustakawan. Era digital telah merubah peran perpustakaan yang berdampak pada perubahan layanan. Sejalan dengan itu, penelitian ini menganalisis kompetensi pustakawan dalam mendukung layanan perpustakaan di Perpustakaan Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung menggunakan standar American Library Association (ALA). Pendekatan penelitian menggunakan deskriptif kualitatif dengan model studi kasus dimana peneliti mengamati dan menelaah dokumen serta menggali informasi dengan mewawancarai pustakawan, kepala perpustakaan, kepala biro administrasi dan kepegawaian dan pengguna yang terdiri dari dosen dan mahasiswa. Hasil analisis diketahui bahwa kompetensi pustakawan masih terbatas pada pengelolaan koleksi tercetak. Adapun layanan digital, baru 0,26% dari keseluruhan jumlah pustakawan yang mengelola sehingga kompetensi yang berkaitan dengan layanan perpustakaan digital perlu ditingkatkan dan dikembangkan.
Abstract
The existence of a university library is very important and cannot be separated from the academic community as a center for scientific documentation and information in supporting learning and research in academic institutions. One of the determining factors in efforts to improve the quality of service in university libraries is to increase the competence of librarians. The digital era has changed the role of the library which has an impact on service changes. Accordingly, this study analyzes the competency of librarians in supporting library services at the Library of Islamic State of Sunan Gunung Djati Bandung using American Library Association (ALA) standards. The research approach uses descriptive qualitative with a case study model where researchers observe and examine documents and gather information by interviewing librarians, heads of libraries, heads of administration and staffing bureaus, and users consisting of lecturers and student. The results of the analysis show that the competence of librarians is still limited to managing printed collections. As for digital services, only 0.26% of the total number of librarians manage it so competencies related to digital library services need to be improved and developed.
Keywords:
Library
· Librarian Competency
· Digital Services
Introduction
Perkembangan pengetahuan dan teknologi informasi telah menjadikan peran perpustakaan perguruan tinggi berubah menjadi lebih dinamis. Kumar (Kumar, 2009) menyatakan bahwa saat ini peran baru bagi perpustakaan perguruan tinggi adalah sebagai gateways to information untuk mengakses, menemukan, serta memanfaatkan sumber informasi dalam bentuk cetak maupun elektronik melalui aplikasi, basis data, jaringan, platform, dan system, learning centre dalam menyediakan sarana prasarana, fasilitas, sumber daya, dan layanan yang senantiasa berkembang dalam rangka mendukung kegiatan belajar bagi pengguna, serta training centre yang berfungsi menyediakan fasilitas pendukung dan pelatihan terbaik serta publication centre, yang menyediakan perangkat keras dan perangkat lunak komputer, sebagai sarana diseminasi karya ilmiah sivitas akademik. Perubahan tersebut berdampak pada perpustakaan universitas dan profesi informasi. Perpustakaan dan pustakawan harus menyesuaikan diri dengan lingkungan baru, dan menyelarakan diri dengan kemajuan teknologi, untuk kemudian mengadopsinya kedalam pekerjaan perpustakaan. Dengan demikian profesional Informasi harus terus belajar mengembangkan peran, pengetahuan, kompetensi, dan keterampilan; terutama dalam manajemen, pelayanan, dan kerjasama (Tanloet, & Tuamsuk, 2010). Perubahan peran perpustakaan dan pustakawan ini diharapkan dapat memunculkan kesadaran akan pentingnya pengembangan sumber daya manusia (SDM) di bidang informasi, sehingga mampu merespon setiap perubahan yang terjadi di masa depan. Selain itu, dengan adanya teknologi baru, perpustakaan perguruan tinggi perlu merancang layanan melalui berbagai inovasi teknologi serta menyediakan layanan yang efisien dalam memenuhi harapan pengguna. Wilson (Connor, 2018) mengemukakan bahwa masa depan perpustakaan perguruan tinggi ditentukan oleh bagaimana perpustakaan tersebut memenuhi harapan pengguna melalui pengembangan teknologi informasi, informasi digital, kapan saja, di mana saja. Salah satu sarana pengembangan SDM perpustakaan adalah melalui pengembangan kompetensi. Menurut Patra (Patra, 2017) adanya teknologi digital dalam mengelola sumber daya elektronik perpustakaan menyebabkan pergeseran (shifting) pada peran pustakawan. Pustakawan perlu meningkatkan keterampilan baru untuk mendukung pekerjaannya secara efektif dalam lingkungan digital dalam rangka memenuhi tantangan kepustakawanan digital (Arwendria, 2019). Beberapa pendapat para ahli yang mengemukakan teori kompetensi bagi pustakawan diantaranya yang dikemukakan Anwar bahwa di era digital, teknologi informasi dan komunikasi (TIK) berperan dalam membentuk kembali struktur perpustakaan dan layanannya secara keseluruhan, sehingga dibutuhkan pustakawan yang memiliki keahlian terkait bidang tersebut untuk menjalankan perpustakaan secara efektif (Anwar et al., 2019). Perpustakaan yang terus menyesuaikan tren perkembangan global, tuntutan teknologi, dan kebutuhan pengguna yang dilayani akan mengalami pergeseran (Fatmawati, 2018). Selanjutnya American Library Association (ALA) telah merumuskan kompetensi inti yang harus dimiliki lulusan magister ilmu perpustakaan dan informasi yang terdiri dari delapan bidang yaitu; dasar-dasar profesi, sumber informasi dan koleksi, organisasi pengetahuan dan informasi, pengetahuan dan keterampilan teknologi, referensi dan layanan pengguna, penelitian, pendidikan berkelanjutan dan belajar sepanjang hayat, serta administrasi dan manajemen (ALA, 2008) Berdasarkan uraian diatas, penelitian ini difokuskan untuk menganalisis kompetensi pustakawan dalam mendukung layanan di Perpustakaan Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung. Adapun kompetensi yang dijadikan acuan adalah kompetensi inti dari American Library Association (ALA). ALA merupakan organisasi perpustakaan yang didirikan pada tanggal 6 Oktober 1876 selama Pameran Centennial di Philadelphia, misi utama ALA adalah memberikan kepemimpinan bagi pengembangan, promosi dan peningkatan layanan perpustakaan dan informasi serta profesi pustakawan untuk meningkatkan pembelajaran dan menjamin akses terhadap informasi bagi semua. ALA juga merupakan organisasi tertua dan terbesar di dunia. Berdasarkan hal tersebut penulis menilai ALA merupakan organisasi yang memiliki reputasi yang baik dan layak menjadi rujukan bagi perpustakaan perguruan tinggi di dunia. Selanjutnya, indikator setiap kompetensi yang dianalisis merupakan indikator yang berkaitan dengan perkembangan layanan dan koleksi digital di perpustakaan perguruan tinggi.
Method
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan model studi kasus. Penelitian ini dilakukan terhadap seluruh pustakawan Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung yang seluruhnya berjumlah 15 orang. Penelitian dilakukan dengan teknik observasi di lapangan, telaah literatur yang berkaitan dan wawancara mendalam. Selain itu wawancara dilakukan kepada kepala perpustakaan, kepala biro administrasi, keuangan dan kepegawaian, dan pengguna perpustakaan yang terdiri dari mahasiswa dan dosen. Analisis dokumen dilakukan terhadap dokumen yang diperlukan dalam kegiatan penelitian tentang pengembangan kompetensi pustakawan disertai berbagai catatan di lapangan. Seluruh data kemudian dihimpun/digabung, dan diuji sehingga diharapkan dapat memberikan informasi dan menghasilkan kesimpulan yang bermakna.
Result & Discussion
Peran dan Layanan Perpustakaan Perguruan Tinggi Perpustakaan perguruan tinggi dapat dikatakan sebagai perpustakaan yang berkedudukan di universitas, politeknik, untuk mendukung fungsi pengajaran, pembelajaran, dan penelitian lembaga tersebut (Ilesanmi, 2013). Perpustakaan perguruan tinggi melayani kebutuhan pengajaran, pembelajaran, dan penelitian anggota lembaga serta menyediakan platform bagi pengguna (biasanya termasuk peneliti, mahasiswa dan dosen) untuk mengakses informasi yang berbeda dan sumber informasi dalam format yang berbeda untuk memenuhi kebutuhan informasi mereka (Umoh, 2017). Perpustakaan perguruan tinggi merupakan perpustakaan yang diperuntukkan bagi peneliti yang kegiatan utamanya adalah penelitian (Ilesanmi, 2013). Sejalan dengan perkembangan teknologi, perpustakaan senantiasa membutuhkan teknologi baru untuk diadopsi dan diimplementasikan agar perpustakaan dapat dijalankan dengan mudah (Anwar et al., 2019). Selain itu, perpustakaan harus menjadi sarana utama dalam mendukung visi dan misi lembaga induknya. Menurut Pinfield et al, ada tiga pendekatan utama perpustakaan dalam memposisikan diri di dalam lembaga: Penyedia layanan – yaitu memberikan layanan dan dukungan yang dibutuhkan oleh pengguna sejalan dengan persyaratan institusional. Mitra - yaitu bekerja bersama dengan pengguna dan organisasi layanan profesional lainnya Pemimpin - yaitu berinovasi di bidang yang baru, dan meyakinkan pemangku kepentingan utama tentang tujuan ke depan, berkontribusi pada keseluruhan strategi kelembagaan, dan menciptakan serta mengkomunikasikan visi perpustakaan (Pinfield et al., 2017). Kompetensi Pustakawan Menurut Kamil, telah terjadi pergeseran peran pustakawan perguruan tinggi yaitu: 1) Pustakawan sebagai mitra belajar yaitu memahami perannya atas dasar pola kemitraan, 2) Memberikan makna/ kontribusi bagi lembaganya tidak sekedar fokus pada disiplin ilmu perpustakaan, 3) Integrasi, 4) Mampu mentransfer kemampuannya melalui pelatihan dan pembinaan dan 5) senantiasa berinovasi. Oleh karenanya, saat ini pustakawan dituntut untuk: 1) Profesional, 2) memiliki keterampilan dalam komunikasi dan teknologi informasi, 3) Memberikan pelayanan prima kepada pemustaka, 4) Menciptakan inovasi dan kreatifitas, dan 5) Melakukan promosi dan sosialisasi perpustakaan (Kamil, 2005). Selain itu, perubahan peran pustakawan dan profesional informasi telah membawa serangkaian kompetensi baru dan karena itu pustakawan harus bekerja lebih keras untuk menjadikan diri mereka proaktif dan melakukan yang terbaik untuk menegaskan kembali kompetensi untuk pekerjaan yang ada (Kamil, 2005). Selanjutnya Sungadi mengatakan bahwa pustakawan perlu senantiasa menambah wawasan, pengetahuan dan kompetensinya, melalui pendidikan berkelanjutan baik secara formal maupun nonformal (Sungadi, 2017). Kompetensi Pustakawan di Era Digital Di abad ke-21, pustakawan dan profesional informasi diharapkan berkembang dalam lingkungan digital di mana mereka akan secara aktif terlibat dalam perolehan, penerapan, penggunaan, dan implementasi teknologi baru dalam organisasi mereka dengan keterampilan dan kompetensi baru agar sesuai dengan perubahan peran mereka (Yaya, Japheth, 2016). Pustakawan perlu menguasai Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) sehingga memiliki keahlian dalam manajemen informasi, memilih, memperoleh, mengatur, melestarikan, mengemas ulang, mencari, berbagi, dan menyebarluaskan di lingkungan digital (Singh, B.P, 2019). Selanjutnya, dalam layanan digital, pustakawan berperan dalam menciptakan, menerapkan, dan memelihara konten digital yang dibuat terutama di perpustakaan akademik, arsip, dan koleksi khusus. Pustakawan mampu mengembangkan dan mempertahankan repositori institusional; menerapkan strategi preservasi digital; mengembangkan koleksi perpustakaan digital, bekerjasama untuk mengintegrasikan koleksi perpustakaan ke dalam kurikulum; dan membantu mengembangkan teknologi untuk mendukung inisiatif digital di lembaga pendidikan (Oktavia, 2019). Disisi lain kecenderungan perpustakaan dalam beberapa tahun terakhir ditandai munculnya perkembangan tata kelola repositori institusi dalam mendukung pertumbuhan karya ilmiah, sehingga mendorong arah strategi perpustakaan perguruan tinggi saat ini untuk lebih fokus terhadap upaya mendukung tujuan institusi perguruan tinggi dalam meningkatkan aktivitas riset dan komunikasi ilmiah bagi sivitas akademika. Dan untuk mengatasi hal tersebut maka diperlukan peningkatan pengetahuan dan keterampilan baru bagi pustakawan yang mengarah pada kebutuhan tersebut (Crumpton, 2015). Keterampilan menurut Nickson.et.al. (2017) adalah faktor kunci untuk menjalankan organisasi apapun terutama di era digital dimana teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) memainkan peran penting dalam membentuk kembali struktur perpustakaan dan layanannya secara keseluruhan. Ini semua membutuhkan keahlian di bidang terkait di mana pustakawan menangani masalah tersebut untuk menjalankan perpustakaan secara efektif. Kompetensi Pustakawan Menurut American Library Association (ALA) American Library Association (ALA) telah merumuskan kompetensi bagi pustakawan yaitu: dasar-dasar profesi, sumber informasi dan koleksi, organisasi pengetahuan dan informasi, pengetahuan dan keterampilan teknologi, referensi dan layanan pengguna, penelitian, pendidikan berkelanjutan dan belajar sepanjang hayat, administrasi dan manajemen. Berikut adalah beberapa indikator yang relevan dengan penelitian: a. Dasar-Dasar Profesi Kompetensi ini meliputi pengetahuan tentang peran dan profesi pustakawan dengan senantiasa mengikuti perkembangan dan pengelolaan koleksi dan sumber informasi dan layanan perpustakaan. Selain itu mampu berkomunikasi dan berperan aktif dalam kegiatan literasi informasi serta menguatkan profesi nya dengan sertifikasi pustakawan. b. Sumber Informasi dan Koleksi Kompetensi ini meliputi pemahaman tentang siklus pengetahuan dan informasi sejak penciptaan hingga penyajian, memahami konsep dan metode yang berkaitan dengan manajemen dan pemeliharaan koleksi dalam beragam format, memiliki pemahaman dan dukungan terhadap komunikasi ilmiah (akses terbuka, repositori dan pelestarian informasi elektronik), menyediakan akses terhadap informasi yang dibutuhkan bagi pembelajaran dan penelitian, dan memfasilitasi penciptaan pengetahuan baru. c. Organisasi pengetahuan dan informasi Kompetensi ini meliputi pemahaman tentang prinsip pengorganisasian pengetahuan dan informasi, sistem katalogisasi, metadata, pengindeksan, standar klasifikasi serta metode yang digunakan untuk mengelola pengetahuan dan informasi. d. Pengetahuan dan Keterampilan Teknologi Kompetensi ini meliputi pengetahuan teknologi terkait sumber informasi, layanan, dan pemanfaatan perpustakaan diantaranya pemanfaatan berbagai perangkat komunikasi, perangkat lunak open source, dan aplikasi perpustakaan, mampu mengidentifikasi dan menganalisis teknologi dan inovasi baru yang memungkinkan bagi peningkatan dan penerapan teknologi yang relevan di perpustakaan. e. Penelitian Kompetensi ini meliputi prinsip dasar penelitian yang meliputi kualitatif dan kualitatif, serta penelitian literatur dan berbagai perangkat pendukung penelitian. f. Pendidikan lanjutan dan pembelajaran sepanjang hayat Kompetensi ini meliputi pendidikan dan pembelajaran berkelanjutan dalam bidang perpustakaan dan kepustakawanan. g. Administrasi dan manajemen Kompetensi ini meliputi prinsip pengembangan sumber daya manusia. Konsep dan metode dalam penilaian dan evaluasi layanan perpustakaan. Mengembangkan kemitraan, kolaborasi, jaringan, dan struktur lain dengan semua pemangku kepentingan dan dalam komunitas yang dilayani serta pemahaman konsep dan isu-isu yang berkaitan dengan kepemimpinan transformasional. Analisis Kompetensi Pustakawan Berdasarkan American Library Association (ALA) Dasar-Dasar Profesi Berdasarkan hasil observasi dan wawancara mendalam berkaitan dengan dasar- dasar profesi pustakawan, dari aspek pengetahuan, pustakawan Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung seluruhnya telah memiliki pengetahuan dan pemahaman tentang perkembangan koleksi perpustakaan. Selanjutnya dalam pengelolaan, pelayanan koleksi dan sumber informasi, terdapat 5 dari jumlah kesuluruhan pustakawan yang dapat melaksanakan pengelolaan koleksi dan layanan digital. Sebagaimana yang disajikan pada tabel berikut. Pustakawan yang memiliki kemampuan mengelola dan melayani koleksi umumnya dapat memberikan literasi yang menyeluruh kepada pengguna. Selanjutnya pustakawan yang telah tersertifikasi nasional dan internasional saat ini baru diikuti oleh 3 orang pustakawan. Table 1: Table Headings Jenis Sertifikasi Kompetensi Pustakawan Jumlah Pustakawan yang Telah Tersertifikasi Literasi Informasi dan Promosi Perpustakaan 1 orang Promosi Perpustakaan 1 orang Sertifikasi Scopus 1 orang Pustakawan seluruhnya telah mampu melaksanakan siklus koleksi tercetak yang ada di perpustakaan mulai dari pengadaan koleksi, meliputi pengolahan hingga penjajaran untuk dilayankan kepada pemustaka. Sedangkan pegelolaan koleksi digital meliputi proses seleksi pengolahan dan pelayanan kepada pemustaka saat ini dilaksanakan oleh 1 orang pustakawan. Sementara itu pustakawan yang bertugas dalam pelayanan koleksi digital meliputi penelusuran dan penyediaan akses ke sumber informasi digital dilaksanakan oleh 4 orang pustakawan. Proses alih bentuk dokumen tercetak masih dilakukan oleh lembaga diluar perpustakaan. Hal ini disebabkan karena kurangnya sarana pendukung kegiatan dan terbatas nya kemampuan pustakawan dalam bidang tersebut. Selanjutnya, pustakawan yang memiliki pemahaman dan dukungan terhadap komunikasi ilmiah (akses terbuka, dan pelestarian informasi elektronik), serta dapat menyediakan akses informasi yang dibutuhkan bagi pembelajaran dan penelitian, dan memfasilitasi penciptaan pengetahuan baru berjumlah 4 orang atau 26% dari keseluruhan pustakawan yang ada. Organisasi Pengetahuan dan Informasi Prinsip pengorganisasian dan representasi pengetahuan dan informasi diaplikasikan dalam keterampilan pengorganisasian koleksi perpustakaan. Pustakawan seluruhnya telah mengetahui prinsip pengorganisasian koleksi tercetak dari mulai katalogisasi, klasifikasi, deskripsi bibliografi, penentuan tajuk entri menggunakan standar katalogisasi dan klasifikasi yang berlaku. Sementara pengorganisasian koleksi digital dilakukan dengan menggunakan berbagai platform dan aplikasi open source yang masing- masing telah memiliki sistem tersendiri dalam pengelolaan, penelusuran dan pemanfaatannya. Berdasarkan hasil observasi dan wawancara, pustakawan yang memiliki keterampilan dalam pengorganisasian koleksi tercetak berjumlah 6 pustakawan atau 40% dari keseluruhan pustakawan. Mereka terdiri dari pustakawan yang bertugas di bidang pengembangan koleksi teretak dan digital. Sedangkan pustakawan yang memahami pengorganisasian koleksi digital dan aplikasi yang berkaitan dengan perpustakaan dan koleksi digital berjumlah 4 orang atau 26% dari keseluruhan pustakawan yang ada. Pengetahuan dan Keterampilan Teknologi Perpustakaan belum memiliki pustakawan khusus yang mengelola teknologi informasi. ataupun yang mengelola secara khusus teknologi terkait sumber daya, penyampaian layanan, dan penggunaan perpustakaan. Saat ini, pengelolaan di bidang pengelolaan sistem layanan teknologi informasi perpustakaan dilaksanakan oleh staf pengajar dosen di bidang informasi dan komunikasi dan dibantu oleh unit teknologi informasi dan pengelola data yang terpisah dari unit perpustakaan. Penelitian Sejak tahun 2015, pustakawan telah terlibat dalam penelitian lembaga yang salah satu keluaran nya adalah artikel ilmiah yang diterbitkan dalam berbagai jurnal ilmiah perpustakaan. Pustakawan yang terlibat dalam kegiatan penelitian dapat dilihat dari tabel berikut ini: Table 2: Table Headings Pelaksanaan Penelitian Jumlah Pustakawan yang Terlibat 2015 5 2016 4 2017 - 2018 - 2019 1 2020 2 Pelaksanaan Penelitian 2021 2022 Jumlah Pustakawan yang Terlibat 2 3 Pendidikan lanjutan dan pembelajaran sepanjang hayat Pengembangan kompetensi yang telah diikuti pustakawan umumnya berupa keikutsertaan dalam kegiatan seminar dan workshop perpustakaan dan kepustakawanan yang diselenggarakan oleh Perpustakaan Nasional, maupun oleh perpustakaan perguruan tinggi dan lembaga asosiasi perpustakaan dan pustakawan perguruan tinggi. Pustakawan yang berlatar belakang ilmu perpustakaan berjumlah 7 orang dan yang melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi berjumlah 3 orang dan salah satu nya mengambil program studi ilmu perpustakaan. Jenjang Pendidikan Table 3: Table Headings Ilmu Perpustakaan Non Ilmu Perpustakaan S2 1 2 S1 7 8 Diploma/SMA 0 0 Pengembangan kompetensi yang berkaitan dengan layanan digital yang adad di perpustakaan, dilaksanakan secara internal di perpustakaan Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung. Administrasi dan manajemen Sejak tahun 2018, perpustakaan telah terlibat dalam kegiatan penilaian berupa akreditasi perpustakaan perguruan tinggi yang melibatkan seluruh pustakawan. Sementara itu, dalam mendukung penyelenggaraan akreditasi program studi di lingkungan UIN Sunan Gunung Djati Bandung, pustakawan yang terlibat berjumlah 4 orang. Pustakawan Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung seluruhnya telah terdaftar sebagai anggota Ikatan Pustakawan Indonesia (IPI). Perpustakaan berperan dalam meningkatkan kerjasama dengan berbagai pihak, baik perpustakaan perguruan tinggi maupun lembaga perpustakaan yang berada di bawah pembinaan Perpustakaan Nasional.
Conclusion
Hasil penelitian mengenai analisis kompetensi pustakawan di Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung, menunjukkan adanya kebutuhan untuk mengembangkan kemampuan profesional informasi dalam bidang pengetahuan dan keterampilan berkaitan dangan ilmu perpustakaan dan informasi, pengelolaan dan pelayanan informasi serta teknologi yang digunakan dalam manajemen koleksi dan informasi. Selanjutnya, pustakawan yang memiliki pengetahuan dalam mengelola informasi berjumlah 4 orang atau 0,26% dari keseluruhan jumlah pustakawan. Sementara itu, pengelolaan teknologi informasi perpustakaan masih dikelola oleh tenaga dosen. Selain itu pustakawan yang berperan dalam pengelolaan repositori dan sumber informasi elektronik berjumlah 4 orang atau 0,26%. Dalam bidang penelitian, pustakawan yang telah melakukan penelitian dalam rangka pengembangan perpustakaan berjumlah 4 orang atau 0,26% dari keseluruhan jumlah pustakawan. Dalam bidang administrasi dan manajemen, seluruh pustakawan telah terlibat dalam kegiatan penilaian berupa akreditasi perpustakaan perguruan tinggi. Sementara itu pustakawan telah berperan dalam keanggotaan organisasi profesi dan terlibat dalam kerjasama dengan berbagai perpustakaan perguruan tinggi dan perpustakaan yang ada dibawah pembinaan Perpustakaan Nasional.