Kembali
16
1
2024 Tik Ilmeu: Jurnal Ilmu Perpustakaan dan Informasi Vol 8 · 2 ISSN 2580-3662

Metode Analisis Wacana Teun Van Djik Dalam Penelitian Ilmu Perpustakaan Dan Informasi

Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung

Abstrak

Adopsi dari teknologi informasi pada Ilmu Perpustakaan dan Informasi telah banyak mengubah topik penelitiannya pada penelitian-penelitian kuantitatif maupun statistik dan juga yang berbasis teknologi informasi. Hal tersebut merupakan hal yang menggembirakan namun hal tersebut berpengaruh juga pada perpustakaan dalam konteks sosial dan kulturalnya khususnya dalam topik penelitiannya. Pendekatan penelitian berbasis humaniora kepada Ilmu Perpustakaan dan Informasi telah banyak berkurang secara kuantitas selama beberapa dekade, hal tersebut tidak terlalu menggembirakan dikarenakan perpustakaan awalnya merupakan sebuah bangunan kultural selain sebagai repository. Penelitian ini mencoba untuk menerapkan penelitian berbasis Analisis Wacana (DA) khususnya teori-teori dari Teun Van Djik pada ranah Ilmu Perpustakaan dan Informasi. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Penelitian ini menemukan beberapa area atau topik pada keilmuan IP&I yang bisa dianalisis oleh CDA antara lain: 1) Kebijakan perpustakaan (contohnya, kebijakan pengembangan koleksi) 2) kebijakan suatu perpustakaan terhadap pemustaka, dan terakhir 3) Analsisterhadap berita-berita di media massa terkait perpustakaan maupun ilmu perpustakaan dan informasi.

Abstract

The adoption of information technology into library and information studies has shifted the research of this area into more of quantitative and statistic-driven as well as IT based research. Not that those researches are unnecesarry, but the adoption of Information Technology has diminished the role of library in the cultural context, especially in its research topics. Humanities-based approach on Library and Information Science researches have reduced dramatically in its quantity for decades considering that earlier researches of Library and Information area its in humanities. This research focuses on applying Discourse Analysis especially that of Teun Van Djik's into Library and information science research. The paper uses qualitative method using descriptive approach. This paper finds that there are saveral topics that can be investigated and analysed by DA namely: 1) Analysing library-based policies (eg. Colection development policy). 2 Analysing certain library policies on library users, and lasty 3) analysing news on library or/and library information studies on mass media.
Keywords: Ilmu Perpustakaan dan Informasi · Metode Penelitian · Analisis Wacana Kritis

Introduction

A. Pendahuluan Penelitian mengenai Ilmu Perpustakaan dan Informasi telah berkembang pesat selama beberapa dekade kebelakang. Topik-topik penelitiannya pun bukan hanya terfokus pada institusi perpustakaan maupun lembaga informasi namun juga pada informasi digital baik itu terdapat di perpustakaan maupun di Internet. Ini tidak lepas dari perkembangan teknologi informasi dan komunikasi selama beberapa tahun kebelakang. Di samping kemajuan TIK yang begitu pesat dan adopsinya terhadap perpustakaan begitu masif, kajian Ilmu Perpustakaan dan Informasi adalah kajian multidisiplin. Penelitian-penelitian di ranah keilmuan IP&I bisa dianalisis dari berbagai disiplin ilmu mulai dari Psikologi, Sosiologi, Antropologi, Sibernatika, Ilmu Komputer, Ilmu Informasi bahkan juga ilmu Humaniora. Dalam beberapa tahun kebelakang, ada penurunan dalam pendekatan penelitian terhadap keilmuan IP&I dari ilmu-ilmu humaniora. Penelitian-penelitian yang menjadi tren dan sangat populer dalam dalam ranah Ilmu Perpustakaan dan Informasi terfokus pada beberapa topik penelitian seperti menganalisis komunikasi ilmiah seperti jurnal (SP&C), kemudian simpan dan temu balik informasi (IS&R), lalu jasa perpustakaan dan informasi (LI Service), dan juga pencarian informasi (ISB) (Järvelin & Vakkari, 2022). Penelitian yang membahas mengenai sejarah perpustakaan, peran perpustakaan dalam kebudayaan maupun peradaban, dan juga pendekatan linguisik terhadap perpustakaan sudah makin berkurang. Walaupun ada beberapa usaha untuk mengenalkan penelitian-penelitian berbasis humaniora ke dalam ranah Ilmu Perpustakaan dan Informasi seperti bagaimana teori-teori dalam Teori Kritis (Critical Theory) dan tokoh-tokoh di dalamnya dapat diaplikasikan untuk menganalisis topik-topik yang ada di ranah Ilmu Perpustakaan dan Informasi (Leckie, Gloria J., Given, Lisa M., Buschman, 2010). Seperti bagaimana teori bahasa dari Roland Barthes digunakan dalam penelitian IP&I. Kemudiannya juga bagaimana teori-teori dari Pierre Buordiue yang berkaitan dengan kekerasan simbolik maupun sosial kapital bisa diaplikasikan ke dalam penelitian Ilmu perpustakaan dan Informasi. Keterbatasan jumlah penelitian-penelitian berbasis sosial humaniora dalam menganalisis kajian Ilmu Perpustakaan dan Informasi juga ada stereotif mengenai penelitian kualitatif yang menganggap bahwa penelitian kualitatif berbasis subyektivitas berbanding terbalik dengan penelitian yang berbasis statistik dimana penelitian tersebut menegasikan subyektivitas sehingga hasil penelitiannya dianggap lebih valid. Oleh karena itu, penelitian ini ingin mencoba untuk memperkenalkan analisis wacana khususnya teori dari Teun Van Djik dalam bingkai Ilmu Perpustakaan dan Informasi sehingga ada diversitas dari penelitian di ranah IP&I. Lebih lanjut keberagaman pendekatan dalam penelitian Ilmu Perpustakaan dan Informasi akan semakin mengembangkan kajian keilmuan dan semakin menunjukkan bahwa kajian ilmu perpustakaan bukan merupakan monodisiplin tapi merupakan kaian multidisiplin yang bisa didekati dan dianalisis oleh berbagai disiplin ilmu. Tinjauan Literatur Terdahulu Penelitian mengenai analisis wacana dalam ranah Ilmu Perpustakaan dan Informasi tidak terlalu signifikan dalam kuantitasnya dibanding dengan penelitian menggunakan metode yang lain. Namun bukan berarti penelitian ini tidak ada dan tidak linear dalam menganalisis topik-topik dalam ranah IP&I. Frohmann (1994) mengawali pendekatan analisis wacana terhadap ranah kajian Ilmu Perpustakaan dan Informasi menggunakan teori Mitchel Faucoult dimana lebih lanjut menggambarkan aplikasi dari analisis wacana terhadap penelitian IP&I. Lebih lanjut, Budd dan Raber (1996) menekankan pentingnya analisis wacana dalam konteks keilmuan LIS dimana dalam kajian Ilmu informasi, analisis baik lisan maupun tulisan bisa dilakukan oleh Analisis Wacana maupun Analisis Wacana Kritis (CDA) dan juga bagaimana metode yang dilakukan dan aplikasinya dalam penelitian Ilmu perpustakaan dan Informasi. Penelitian-penelitian mengenai analisis wacana dalam ranah Ilmu Perpustakaan dan Informasi mulai bertambah dengan diberikannya fondasi penelitian baik oleh Frohmann maupun Budd dan Raber. Seperti bagaimana analisis wacana meneliti jasa-jasa yang diberikan perpustakaan dari perspektif pemustaka (Forrester et al., 1997), maupun menganalisis konsep tentang "miskin informasi" atau information poverty, (Haider & Bawden, 2007), maupun meneliti mengenai keadilan sosial pada ranah Ilmu Perpustakaan dan Informasi (Oliphant, 2015). Di Indonesia sendiri, tidak terlalu banyak artikel maupun penelitian yang mencoba untuk mendekati topik-topik dalam ranah Ilmu Perpustakaan dan Informasi. Beberapa penelitian tersebut antara lain mengenai konsep miskin informasi dengan pendekatan Analsis Wacana dari Michel Foucault (Afida, 2022) maupun secara umum membahas mengenai aplikasi pendekatan Analisis Wacana dalam Penelitian Ilmu Perpustakaan (Fatmawati, 2021). Selain itu tidak ditemukan penelitian lainnya yang menggunakan analisis wacana terhadap topik kajian Ilmu Perpustakaan dan Informasi. Analisis wacana maupun analisis wacana kritis memang secara keilmuan adalah ranah lingusitik dan juga komunikasi dimana pendekatan tersebut sering digunakan untuk menganalisis bahasa baik tertulis maupun verbal baik test tertulis seperti novel dan media masa namun juga percakapan sehari-hari. Awalnya analisis wacana ini dicetuskan oleh kaum postrukturalisme dimana mereka berpendapat bahwa makna di luar teks menjadi tidak penting karena teks-teks itu independen dari subjek atau penulis teks. Analisis terhadap teks oleh aliran strukturalisme hanya terfokus pada bagaimana setiap kata terhubung dengan kata yang lain atau bagaimana kaidah sintaksis dan semantik. Struktur teks sendiri justru lebih penting dari latar belakang penulisan teks tersebut atau makna ideologis dibalik teks tersebut. Seiring waktu berjalan, aliran strukturalisme semakin dikritik dalam analisis mereka yang terlalu terfokus pada makna local teks. Aliran strukturalisme yang terlalu terfokus pada teks dipopulerkan oleh roland barthes yang berargumentasi bahwa ketika teks sudah dikeluarkan ke public, maka teks memiliki independensi sendiri untuk menentukan makna mereka karena intervensi dari author sudah berakhir. The Death of the Author, adalah salah satu tulisan Roland Barthes yang menyerang intervensi dari penulis. Namun, terlepasnya teks dari dunia luar justru tidak membuat penilaian terhadap teks menjadi objektif. Mitchel Foucoult, seorang poststructuralis berargumentasi bahwa bahasa memiliki ideologi atau maksud tertentu yang pada setiap teks baik lisan atau tulisan terdapat relasi kuasa atau hegemoni satu individu, kelompok, ras, Negara satu terhadap lainnya. Hal tersebut menyiratkan bahwa teks tidak bisa terlepas dari konteksnya atau makna globanya. Kajian analisis wacana muncul untuk menjawab kritisi tersebut yang memang bersumber pada pemikiran Focoult tentang relasi kuasa dan juga dari Antonio Gramsci tentang Hegemoni. Analisis wacana merupakan kajian terhadap bahasa yang melebihi batasan-batasan bentuk sintaksis dan semantis dari suatu ujaran. Walaupun analisis terhadap satuan bahasa yang paling kecil juga sangat penting, analisis wacana lebih berfokus pada komunikasi bahasa ole para pengguna dalam konteks social dan cultural mereka. Ideologi dalam konteks analisis wacana adalah suatu kerangka dasar yang mengatur kognisi social dari para anggota masyarakat, organisasi atau kelompok social. Dalam teori analisis wacana Van Dijk, selain Struktur tema (Macrostructure) dan Struktur Skematik (Superstruktur), ada juga struktur mikro (microstruktur) dimana analisis terhadap teks disini lebih menditail karena melibatkan analisis seperti semantik, sintaksis, stalisitik dan retoris. Analisis micro terhadap struktur teks melibatkan makna local (local meaning) yang terkandung dalam teks tersebut, jalinan antar kata, istilah yang dipakai, dan penekanan atau ekspresi (Eriyanto, 2011). Pada ranah analisis wacana kritis, khususnya teori Norman Fairclough, analisis terhadap teks merupakan tahap awal dari analisis terhadap praktik social budaya. Tahapan selanjutnya adalah tahapan praktik wacana (Analisis Meso) dan yang terakhir adalah tahapan praktik dari social budaya (Analisis Makro). Tahapan tersebut merupakan satu kesatuan dalam ranah analisis wacana kritis yang bertujuan untuk mengungkap ideologi-ideologi dari ketiga tahapan tersebut yang tersembunyi dari praktik bahasa.

Method

B. Metode Penelitian Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Penelitian ini mencoba mencari topik-topik apa saja di ranah keilmuan Ilmu Perpustakaan dan Informasi yang bisa dianalisi oleh metode analisis wacana dari Teun Van Djik.

Discussion

C. Pembahasan Analis Kebijakan Pengembangan Koleksi Perpustakaan Dalam setiap organisasi baik profit maupun tidak, diperlukan suatu grand design tentang tujuan dari organiasi yang dimaksud. Grand design itu bisa berbentuk kebijakan yang dihasilkan oleh para individu yang memiliki otoritas dalam hal itu. Kebijakan adalah hal esensial dalam setiap organisasi karena menunjukan apa-apa saja objektif dari organisasi tersebut dan bagaimana mencapai tujuan-tujuan tersebut. Bisa dibilang kebijakan adalah elemen terpenting dalam organisasi di samping SDM itu sendiri. Dalam konteks organisasi perpustakaan, kebijakan juga merupakan hal krusial sebagai pedoman penting untuk keberadaan dan keberlangsungan perpustakaan. dalam hal pengembangan koleksi, kebijakan menjadi guidelines tentang bagaimana perpustakaan tersebut mengorganisasi koleksinya. Kejelasan kebijakan tentang pengembangan koleksi perpustakaan menjadi sangat penting karena dengan tidak adanya kebijakan, maka bisa saja orang-orang yang bertanggungjawab untuk mengembangkan koleksi perpustakaan mereka akan dengan seenaknya membeli atau mengakuisisi pustaka atau koleksi tanpa ada sinkronisasi dan relevansi dengan tujuan dan visi misi dari perpustakaan tersebut Kebijakan pengembangan koleksi tertulis merupakan manifestasi dari kebijakan pengembangan koleksi. Seperti diungkapkan oleh (Evans, 2000) bahwa kebijakan pengembangan koleksi adalah pernyataan tertulis dari rencana yang memberikan pedoman bagi para staf perpustakaan. Selanjutnya pernyataan kebijakan adalah suatu dokumen yang yang mewakili rencana kerja dan juga informasi yang digunakan untuk mengarahkan perspektif dari para staf dan juga terhadap pembuatan keputusan. Perumusan kebijakan pengembangan koleksi tidak terlepas dari nilai-nilai atau wacana dari pembuat kebijakan tersebut. Hal tersebut merupakan perpaduan antara faktor-faktor mengenai praktik social perpustakaan tersebut mulai dari faktor visi dan misi perpustakaan sampai faktor komunitas yang dilayani. Kebijakan pengembangan koleksi yang termanifestasikan dalam dokumen tertulis merupakan suatu struktur teks dimana kata, frasa dan kalimat memiliki makna yang saling berhubungan tentang tema yang lebih besar yaitu tentang kebijakan pengembangan koleksi. Dalam tataran tematiknya, sebagai contoh, kebijakan tertulis dari pengembangan koleksi merupakan makna keseluruhan yang menunjukan konsep dominan, sentral dan paling penting dari keseluruhan teks tersebut. Tema atau topic dari kebijakan tertulis merupakan makna global yang merepresentasikan suatu teks. Dalam tataran skematik, bagaimana skema atau pola dari dari teks itu disusun. Seperti pendahuluan, isi dan penutup. Susunan kerangka teks tersebut memiliki makna tersendiri dalam analisis wacana terhadap teks. Susunan dari teks mungkin untuk sebagian besar tidak terlalu diperhatikan atau taken for granted, namun dalam analisis wacana, hal tersebut memiliki wacana relasi terhadap sosio-kultural dari teks atau para penulis teks tersebut yang mungkin memiliki relasi terhadap ideologi tertentu (Fairclough, 2013) Perpustakaan sebagai institusi sosial, dengan adanya struktur hirarki juga terlibatnya beberapa individu di dalamnya yang memiliki latar belakang, tanggung jawab dan jabatan yang berbeda menggunakan bahasa sebagai alat interkasi satu dengan yang lain. Individu di perpustakaan tersebut menggunakan bahasa tulisan maupun lisan dalam upaya menjalankan tujuan bersama dari institusi di mana mereka bekerja. Kebijakan pengembangan koleksi adalah salah satu contoh di mana individu yang memiliki otoritas tertentu mencoba berinteraksi dengan yang lainnya melalui bahasa dimana dalam kebijakan pengembangan koleksi tersebut ada tema besar yaitu pedoman bagi individu yang terkait mengenai pengembangan koleksi. Dalam hal inilah analisis wacana bekerja. Menganalisis setiap struktur teks dari kebijakan tersebut dengan tujuan untuk mengungkap makna sesungguhnya di balik setiap kata, frasa, kalimat maupun skema dari teks tersebut dengan asumsi bahwa ada makna-makna ideologis di balik teks tersebut. Analisis wacana Teun Van Dijk berorientasi pada teks sebagai praktik wacana, tiga struktur utama pada analisis wacana Van Dijk yaitu Struktur Macro, Supra, dan mikro. Pada penerapannya struktur-struktur tersebut akan bekerja sebagai berikut: Pertama, struktur makro menganalisis secara tematik kebijakan pengembanga koleksi tertulis dari suatu perpsutakaan. Analisis struktur secara makro ini selain bisa mengungkapkan konsep yang dominan dan paling penting dalam teks juga bisa menemukan makna global dalam kebijakan pengembangan koleksi tertulis dan praktik wacananya. Kedua, Struktur Supra menganalisis bagaimana skema dalam kebijakan pengembangan tertulis di perpustakaan tersebut. Skema tersebut bisa membantu mengungkap makna karena skema teks membantu mendukung topik yang disampaikan dalam teks. Ketiga, Struktur mikro bekerja dalam tataran lokal dari teks kebijakan pengembangan koleksi tertulis di perpustakaan. Ada empat elemen dalam stuktur mikro tersebut yang bekerja dalam menganalisis teks yaitu: • Semantik, yaitu makna lokal dari teks kebijakan pengembangan koleksi tertulis perpustakaan. Berhubungan dengan latar belakang teks, relasi dengan informasi yang ada pada kebijakan tertulis tersebut, dan juga maksud dari kebijakan pengembangan koleksi tersebut. • Sintaksis, yaitu hubungan atau susunan antara kata dalam kalimat yang ada pada kebijakan pengembangan koleksi tertulis Perpustakaan. Hubungan antar kata dan frasa dalam kalimat bisa menentukan makna kalimat tersebut. Juga, dalam analisis sintaksis ini juga mengkaji tentang penggunaan kata ganti dalam teks kebijakan pengembangan koleksi tertulis. • Leksikal, yaitu analisis terhadap pemilihan kata dalam teks kebijakan pengembangan koleksi. Pemilihan kata juga merupakan elemen yang penting karena bisa mengetahui bagaimana kata-kata tersebut bisa mempengaruhi teks. • Retoris, yaitu menganalisis penekanan dalam teks dilakukan dan dengan cara apa penekanan tersebut dilakukan pada teks kebijakan pengembangan koleksi tertulis. Grafik 1: Pendekatan analisa wacana terhadap teks menurut Van Dijk. Contoh penelitian analisis wacana terhadap pengembangan koleksi perpustakaan adalah bagaimana akusisi suatu buku tertentu bisa merepresentasikan suatu ideologi di baliknya. Contoh yang paling ramai dibicarakan adalah kontroversi mengenai pengadaan buku di perpustakaan-perpustakaan sekolah di Amerika yang membahas mengenai orientasi seksual tertentu dan upaya dari berbagai macam lapisan masyarakat untuk melarang pengadaan buku tersebut di perpustakaan sekolah (Orsborn, 2022,) (Williams & Deyoe, 2015) (Franco-Carreño, n.d.) Analis Kebijakan Perpustakaan terhadap Pemustaka Dalam relasinya dengan kebijakan, secara definitif kebijakan merupakan pedoman untuk melakukan sebuah tindakan. Kebijakan mengarahkan kepada tindakan-tindakan untuk mencapai sasaran. Kebijakan dirancang dengan sedemikian rupa dengan memperimbangkan dari berbagai perspektif untuk menghindari friksi di kemudian hari (Steiner dalam Rahmat Iswanto, 2008) Kebijakan bisa dibilang sebagai hasil dari interaksi antara individu yang satu dengan yang lainnya dengan latar belakang dan otoritas yang berbeda dalam suatu organisasi sosial dalam upaya untuk memberikan pedoman terhadap objektif dari organisasi tersebut. Baik dalam perumusan kebijakan maupun ketika kebijakan sudah tertulis, pembuat kebijakan tersebut menggunakan bahasa sebagai medium untuk berkomunikasi. Maka bisa dibilang bahwa kebijakan merupakan suatu praktik berwacana karena menggunakan bahasa sebagai alat untuk menyampaikan pesan dari kebijakan yang sudah dirumuskan. Pembuat wacana pun tidak bisa dibilang objektif dalam merumuskan kebijakan karena dipengaruhi oleh faktor social di mana pembuat wacana atau kebijakan berada. Jadi bahasa sebagai perangkat komunikasi dalam kebijakan tersebut juga menjadi tidak objektif dan multitafsir. Oleh sebab itulah diperlukan analisis wacana untuk membongkar teks-teks yang mengindikasikan subjektivitas tersebut. Sebagai contoh jika suatu perpustakaan mengeluarkan kebijakan maupun keputusan berkenaan dengan pemustaka yang memiliki tendensi diskriminatif terhadap baik ras tertentu, gender tertentu maupun penyandang disablitias, maka analisis wacana diperlukan untuk membongkar abuse of power dalam tataran wacana tersebut. contohnya adalah jika kebijakan perpustakaan yang tidak memberikan kartu perpustakaan kepada imigran yang belum terdokumentasikan. Di satu sisi, kerapihan administrasi perpustakaan mengharuskan semua anggota untuk memiliki dokumen seperti kartu identitas untuk menjadi anggota, namun di sisi lain, ada perlakuan diskriminatif terhadap imigran atau orang yang tidak memiliki kartu identitas ketika ingin menjadi anggota perpustakaan. Analisis berita di Media Massa Media massa sudah sangat berkembang pesat dari mulai insepsi pertama kali ketika ditemukan mesin cetak. Media massa memiliki banyak sekali peran dalam kehidupan sosial dan politik masyarakat dimana media massa bisa menggiring opini publik terhadap suatu topik pembahasan dari mulai politik dan kebijakan (Mccombs, 2002), (Baum & Potter, 2008), kesehatan (Brännström & Lindblad, 1994) bahkan masalah lingkungan. Sebagian merupakan penggiringan opini publik ke arah yang positif seperti bagaimana media massa menggiring opini masyarakat dalam konteks kesadaran terhadap perubahan iklim (Sampei & Aoyagi-Usui, 2009). Namun seringkali media tidak terlepas dari bias idiologinya. Media massa di Amerika contohnya ada asumsi bahwa setiap media korporasi berafiliasi baik ke kanan maupun ke kiri dalam hal ideologi politiknya. Hal tersebut seringkali bagaimana media melakukan framing terhadap suatu opini untuk sesuai dengan naratif ideologi mereka. Sama halnya di Indonesia, media massa juga memiliki idologi politiknya, walaupun sebagian ada yang menggangap bahwa media mereka itu netral dan independen. Ini bisa dilihat dari kasus pemilihan presiden dimana media massa bisa menggiring opini terhadap calon pasangan tertentu (Barata & Simanjuntak, 2019), (Sulistiyo et al., 2016), (Mukhroman et al., 2024). Seperti halnya subjek mengenai politik, topik mengenai perpustakaan pun tidak luput dari kajian analisis wacana dalam konteks ideologinya. Karena penulis berita maupun narasumber memiliki ideologi tertentu, begitu pula korporasi dibalik media tersebut. pada kajian inilah analisis wacana Teun Van Djik mulai bekerja untuk menganalisis bias, framing dan ideologi dari penulis melalui tiga struktur yaitu makro, supra dan mikro.

Conclusion

D. Kesimpulan Pendekatan analisis wacana secara kuantitas masih jarang bila dibandingkan dengan metode atau teknik lain dalam penelitian Ilmu Perpustakaan dan Informasi namun bukan berarti pendekatan tersebut tidak linear dengan ranah IP&I. Sebaliknya pendekatan berbasis analisis wacana, khusunya dari Teun Van Djik, akan memberikan keberagaman dalam ranah Ilmu Perpustakaan dan Informasi dan juga akan memberikan analisis mendalam mengenai ideologi dibalik teks maupun secara verbal yang berkaitan dengan keilmuan Perpustakaan dan Informasi.