Perilaku Masyarakat Terhadap Penyebaran Hoax Selama Pandemi Covid-19 Melalui Media di Indonesia: Tinjauan Literatur
Universitas Indonesia; Universitas Indonesia
Abstrak
Penyebaran hoax yang kian marak diberbagai media menjadikan adanya pengaruh terhadap perubahan perilaku masyarakat terlebih disaat masa pandemi covid-19. Penelitian ini dilakukan untuk melihat perkembangan publikasi terkait perilaku masyarakat terhadap hoax, adanya analisis terkait media penyebaran hoax, dan dampak dari penyebaran hoax terhadap perilaku masyarakat selama pandemi covid-19. Penelitian ini menggunakan metode Systematic Literature Review (SLR) dengan cara mengumpulkan literatur yang berkaitan dengan topik yang dibahas kemudian melakukan analisis terhadap penelitian tentang peilaku masyarakat terhadap penyebaran hoax selama pandemi covid-19 melalui media di Indonesia dari tahun 2020 sampai 2021. Hasil penelitian menunjukan banyaknya media yang digunakan sebagai sarana penyebaran hoax menjadikan hoax semakin marak, kurangnya pemahaman seleksi informasi menyebabkan penyebaran hoax berpengaruh terdapat perilaku masyarakat dimana masyarakat menjadi cemas untuk melakukan suatu tindakan dikala pandemi covid-19. Hal tersebut harus menjadi perhatian bagi pemerintah dan masyarakat, perlu tindakan dilakukan untuk meminimalisir penyebaran hoax seperti literasi informasi kepada masyarakat terkait bagaimana menyaring informasi dari sumber terpercaya.
Abstract
The spread of hoaxes is increasingly widespread in various media, causing changes in public behavior, especially during the COVID-19 pandemic. This research was conducted to see the development of publications related to public behavior towards hoaxes, the analysis related to the media for spreading hoaxes, and the impact of the spread of hoaxes on public behavior during the covid-19 pandemic This study uses the Systematic Literature Review (SLR) method by collecting literature related to the topics discussed then conducting an analysis of research on community behavior towards the spread of hoaxes during the COVID-19 pandemic through the media in Indonesia from 2020 to 2021. The results show that there are many the media used as a means of spreading hoaxes makes hoaxes more widespread, lack of understanding of information selection causes the spread of hoaxes to affect public behavior where people are anxious to take action during the covid-19 pandemic. This must be a concern for the government and the community, actions need to be taken to minimize the spread of hoaxes such as information literacy to the public regarding how to filter information from trusted sources.
Keywords:
Public behavior
· hoaxes
· Covid-19 pandemic
· Media
· Systematic Literature Review
Introduction
Penyebaran informasi yang semakin tidak terbendung menjadi sarana akan penyebaran informasi yang belum tentu kebenarannya atau sering disebut sebagai hoax. Mastel mejelaskan bahwa dari jumalh 1.146 responden sebanyak 44,3% diantara mereka menerima berita palsu atau hoax setiap harinya dan dengan presentase 17,2% menerima lebih dari satu kali berita palsu atau hoax dalam sehari (Mastel, 2017). Hoax merupakan usaha untuk menipu, mengakali, memperdaya pembaca maupun pendengar untuk mempercayai sesuatu, padahal pembuat atau pencipta berita palsu tersebut tahu bahwa berita tersebut adalah hanya berita palsu. Menurut (Respati, n.d.) saat ini kebanyakan orang lebih cenderung percaya pada berita hoax jika informasinya sesuai dengan opini, pandangan atau sikap yang Secara alami manusia terkadang memiliki perasaan positif yang akan timbul jika keyakinannya mendapat pengakuan sehingga pandangan dan cara pikir tidak akan mempedulikan apakah kabar dan berita yang didapatkannya itu asli atau tidaknya dan bahkan mudah saja bagi mereka untuk menyebarkan kembali berita tersebut meskipun sumber kurang jelas atau masih diragukan validitasnya. Kini penyebaran informasi dapat dilakukan dengan berbagai media. Seiring dengan perkembangan teknologi informasi, informasi dapat ditemukan kapan dan dimana saja namun informasi tersebut belum tentu kebenarannya. Dari sekian banyak media informasi yang ada dijelaskan bahwa presentase penyebaran informasi/berita hoax yakni sebesar 1,20% radio, 5% media cetak dan 8,70% televisi tidak saja oleh media arus utama, kini hoax sangat banyak beredar di masyarakat melalui media online, hasil penelitian yang dilakukan oleh (Mastel, 2017) menyebutkan bahwa saluran yang banyak digunakan dalam penyebaran hoax adalah situs web, sebesar 34,90%, aplikasi chatting Whatsapp, Line, Telegram sebesar 62,80%, dan melalui media sosial Facebook, Twitter, Instagram, dan Path yang merupakan media terbanyak digunakan yaitu mencapai 92,40%. Pada awal tahun 2020 ini, dunia dijatuhi dengan wabah virus covid-19. Hal tersebut dimulai tanggal 19 Maret 2020 dengan jumlah 214.894 kasus orang terinfeksi, 8.732 orang meninggal dunia, dan pasien dinyatakan sembuh sebanyak 83.313 orang. Sampai tanggal 28 April 2020 WHO mencatat sebanyak lebih dari 2 juta kasus terkonfirmasi secara global dan sebanyak lebih dari seratus ribu kasus meninggal dunia yang setara dengan 6,9% angka kematian. Di Indonesia sendiri tercatat kasus terkonfirmasi positif berjumlah 9 ribu dengan angka kematian lebih dari tujuh ratus kasus atau 8,4% menurut Kementrian Kesehatan. Adanya ha; tersebut justru disalahgunakan oleh sebagian oknum dengan menyebarkan berita hoax terkait pandemi covid-19 melalui media tentunya yang semakin marak khususnya media seperti aplikasi instan whatsapp dan media sosial seperti facebook. Penyebaran hoax yang kian tidak terkendali dapat mempengaruhi perilaku masyarakat yang dapat mengubah sikap masyarakat dalam menghadapi penyebaran hoax ini. Sikap terhadap hoax adalah kecenderungan untuk bereaksi terhadap apa pun berita palsu, baik itu positif atau negatif. Menurut Mann dalam (Bimo Walgito, 2005) ada tiga komponen atau struktur sikap, yaitu: 1. Aspek kognitif yaitu melalui pengetahuan seseorang menentukan sikap untuk menerima atau menolak berita hoax. 2. Aspek afektif dimana seseorang puas dengan berita palsu, dia lebih mungkin untuk menerima berita palsu, sebaliknya jika seseorang tidak puas dengan berita hoax, dia akan menolaknya. 3. Aspek konatif yaitu perilaku seseorang sangat ditentukan oleh asumsi dasar bahwa berita menyesatkan itu. Di sisi lain, orang yang memiliki asumsi bahwa berita menyesatkan itu tidak wajar, tidak akan memiliki perilaku berita yang menyesatkan. Aktivitas tersebut dapat merespon bagaimana perilaku dapat dipengaruhi dan mempengaruhi, Respon ini dapat bersifat pasif tanpa tindakan maupun aktif melakukan tindakan. Sesuai dengan batasan tersebut, perilaku masyarakat terhadap penyebaran hoax dapat di rumuskan sebagai bentuk pengalaman dan interaksi individu dengan lingkungannya, khususnya yang menyangkut pengetahuan dan sikap tentang informasi yang tersebar. Dalam penelitian terdahulu yang ditulis oleh Judhita menyatakan bahwa hoax yang banyak disebar berulang-ulang melalui media sosial dapat membentuk opini publik bahwa berita tersebut terlihat benar adanya (Juditha, 2018). Selain itu, Paparan tentang rendahnya daya literasi masyarakat Indonesia ditambah dengan isu sensitif seperti pandemic Covid 19 perasaan terafirmasi tersebut juga menjadi pemicu seseorang dengan mudahnya menerima dan meneruskan informasi hoax (Chumairoh, 2020). Penyebaran hoax tersebut tentunya berdampak pada perilaku masyarakat, dimana mayoritas masyarakat tidak melakukan survey akan sumber dari informasi tersebut dan cenderung menelan mentah-mentah hingga informasi tersebut disebarkan kembali, tak heran jika banyak masyarakat yang menjadi korban akan informasi palsu atau hoax tersebut. Maka perlu upaya yang dilakukan kepada masyarakat akan pentingnya menghadapi penyebaran hoax melalui media di Indonesia. Dengan penelitian ini diharapkan masyarakat dapat lebih memahami bagaimana dampak dari penyebaran hoax melalui media sosial sesuai dengan hasil analisis dalam penelitian-penelitian sebelumnya yang dibahas dalam tulisan ini, sehingga dapat lebih berhati-hati dalam menerima dan menyebarluaskan informasi yang belum jelas sumbernya. Penelitian ini menggunakan pendekatan tinjauan literatur sistematik (systematic literature review) dengan pendekatan kualitatif, khususnya mengikuti langkah-langkah yang dijelaskan dalam (Albanna & Heeks, 2019). Pertama, peneliti membuat sejumlah koleksi yang di indeks di bawah “Perilaku masyarakat terhadap hoax selama pandemic covid-19” dan dimasukkan ke dalam halaman hasil mesin pencari Google Scholar. Tahapan dalam penyusunan penelitian menggunakan metode ini adalah planning (identifikasi pertanyaan dan Batasan penelitian), conducting (menelusur dan mengidentifikasi rujukan yang sesuai dengan penelitian, ekstraksi serta sintesis data), dan reporting (menerjemahkan ke dalam bentuk artikel (Torres Carrion, 2018). Menyusun Pertanyaan Penelitian Penelitian ini disusun mulai 28 April sampai dengan Juni 2021. Dalam mengidentifikasi pertanyaan dan batasan penelitian, peneliti menggunakan pendekatan PICOC yaitu Population, Intervention, Comparison, Outcomes dan Context dari (Petticrew et al., 2006). Adapun cakupan yang digunakan penelitian ini terlihat pada tabel di bawah ini. Tabel 1. Cakupan Pertanyaan Penelitian Kriteria Cakupan Population Penelitian mengenai perilaku masyarakat terhadap penyebaran hoax melalui media di Indonesia Intervention Batasan pada metode, dampak , serta media penyebaran hoax Comparison Tidak ditemukan Outcomes Dampak penyebaran hoax terhadap perilaku masyarakat, upaya dalam menghadapi hoax, dan media yang digunakan untuk penyebaran hoax di Indonesia Context Review dari hasil melakukan identifikasi pada penelitian mengenai perilaku masyarakat terhadap penyebaran hoax melalui media di Indonesia Mengacu pada tabel di atas, maka terdapat pertanyaan penelitian sebagai berikut. RQ 1: Berapa banyak jumlah penelitian mengenai perilaku masyarakat terhadap penyebaran hoax selama pandemi covid-19 melalui media di Indonesia? RQ 2: Media apa yang digunakan pada setiap publikasi mengenai perilaku masyarakat terhadap penyebaran hoax selama pandemic covid-19 melalui media di Indonesia? RQ 3: Bagaimana dampak penyebaran hoax selama pandemi melalui media terhadap perilaku masyarakat di Indonesia ? Strategi Penelusuran Untuk mempertajam penelitian, peneliti menyusun beberapa padanan istilah sebelum melakukan penelusuran. Istilah dalam penelitian ini diformulasikan pada 29 April s.d. 10 Mei 2021. Istilah penelusuran yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan metode pencarian operator Boolean “AND” pada Google Scholar. Metode pencarian Boolean yang digunakan yaitu “AND”. “AND” diterapkan agar dokumen yang ditemukan mengandung gabungan dari istilah-istilah yang bersangkutan yaitu hoax, hoaks, penyebaran hoax, perilaku masyarakat, media, pandemic covid-19 dan Indonesia. Lebih jelasnya peneliti membuat kara kunci “Perilaku Masyarakat” AND “hoax” AND “pandemi” AND “Indonesia” dengan rentang waktu yang diatur dalam penelusuran via Google Scholar adalah tahun 2020 sampai dengan 2021. Sumber Literatur Penelitian ini menggunakan database yang dipilih yaitu Google Scholar untuk pencarian artikel. Portal ini dipilih karena pengaturan open access yang memudahkan penelusuran dan memiliki cakupan yang luas mengenai perilaku masyarakat terhadap penyebaran hoax melalui media di Indonesia. Adapun batasan sitasi yang digunakan dalam penelitian adalah publikasi dari 2020-2021 atau 1 tahun terakhir dari saat penelitian ini dilakukan. Kriteria Inklusi dan Ekslusi Kriteria inklusi dan eksklusi ini digunakan untuk memilah karya ilmiah yang layak untuk menjawab pertanyaan penelitian ini (Handayani dalam Safira, 2020). Adapun kriteria inklusi dan eksklusi dalam penelitian ini dapat dilihat pada tabel berikut ini: Tabel 2. Kriteria Inklusi dan Eksklusi Inklusi: Semua karya ilmiah yang dipubikasikan dengan menggunakan Bahasa Indonesia; Semua karya ilmiah yang dipubikasikan dengan rentang waktu 1 tahun terakhir terhitung mulai tahun 2020-2021; Karya ilmiah yang bertema atau berfokus pada perilaku masyarakat terhadap penyebaran hoax melalui media di Indonesia. Eksklusi: Karya ilmiah yang dipublikasikan dengan menggunakan bahasa selain Bahasa Indonesia; Karya ilmiah yang dipublikasikan dengan rentang waktu sebelum ataupun sesudah tahun 2020-2021; Karya ilmiah yang tentunya kurang atau tidak sesuai dengan cakupan bahasan maupun topik penelitian. Penilaian Kualitas Hasil Penelusuran Dalam penelitian Systematic Literature Review, data yang dugunakan akan dievaluasi berdasarkan pertanyaan kriteria pertanyaan sebagai berikut: QA1: Berapakah jumlah dan metode yang digunakan dalam artikel jurnal tentang perilaku masyarakat terhadap penyebaran hoax selama pandemi covid-19 melalu media yang terjadi di Indonesia pada rentang waktu 2020-2021. QA2: Menjelaskan media penyebaran hoax dengan analisis media yang paling tinggi penggunaannya untuk penyebaran hoax selama pandemi covid-19 yang terjadi di Indonesia. QA3: Menjelaskan dampak dari penyebaran hoax melalui media terhadap perilaku masyarakat selama pandemi covid-19.
Result & Discussion
Dalam penelusuran artikel, peneliti menggunakan database google schoolar agar artikel yang ditemukan open access sehingga diharapkan artikel yang didapat yaitu menyajikan full teks. Berdasarkan penelusuran artikel database dari google scholar terdapat 111 karya tulis ilmiah yang berhubungan dengan perilaku masyarakat terhadap hoax terkait pandemi covid-19 di Indonesia. Setelah dilakukan tahap seleksi berdasarkan kriteria yang diinginkan maka 18 karya tulis ilmiah terseleksi. Setelah itu peneliti melakukan seleksi kembali terhadap jenis karya tulis ilmiah, ditemukan 2 jenis skripsi. Karena peniliti ingin berfokus pada artikel jurnal, maka 16 artikel jurnal terpilih berdasarkan konten artikel jurnal yang dianggap relevan dengan fokus penelitian. Maka total artikel jurnal yang akan ditinjau dalam penelitian ini berjumlah 16 artikel jurnal. Adapun rincian artikel jurnal yang terseleksi ditunjukan pada tabel 3. [Tabel 3 omitted for brevity but contains 16 selected articles A-1 to A-16]. 1. Jumlah Publikasi RQ 1: Berapa banyak jumlah penelitian mengenai perilaku masyarakat terhadap penyebaran hoax selama pandemi covid-19 melalui media yang terjadi di Indonesia? Webster`s Dictionary mengartikan bahwa artikel adalah a literary compositon in a journal atau suatu komposisi atau susunan tulisan dalam sebuah jurnal atau penerbitan atau media massa dimana sejak tahun 1980 para jurnalis Amerika sepakat untuk memakai istilah artikel bagi tulisan yang berisi pendapat, sikap, atau pendirian subjektif mengenai masalah yang sedang dibahas disertai dengan alasan dan bukti yang mendukung pendapatnya (Silaswati, 2018). Seperti kita ketahui, dalam prakteknya suatu penulisan karya ilmiah atau melakukan suatu kegiatan penelitian adalah sebuah proses pemecahan berbagai permasalahan terkait dengan bidang keilmuan tertentu. Oleh karena itu, penulisan karya ilmiah atau hasil penelitian harus berupa pemaparan analisis proses pemecahan masalah yang berfungsi mengkomunikasikan gagasan atau hasil penelitian yang telah dilakukan, sehingga peneliti atau pembaca akan memperoleh jawaban dari masalah yang dikaji atau ditelitinya tersebut. Dalam penelitian ini, artikel jurnal yang terseleksi dan digunakan dalam penilaian mengenai perilaku masyarakat terhadap hoax selama pandemi covid-19 ini sebanyak 16 artikel jurnal, dengan penggunaan pendekatan kualitatif sebanyak 8 artikel jurnal, pendekatan kuantitatif sebanyak 7 artikel jurnal, dan pendekatan campuran kualitatif dan kuantitatif sebanyak 1 artikel jurnal. Kemudian, distribusi tahun yang digunakan artikel jurnal yang digunakan dalam penelitian, yaitu artikel jurnal yang dipublikasikan dari tahun 2020-2021. Ditemukan sebanyak 11 artikel jurnal yang dipublikasikan pada tahun 2020, sedangkan artikel jurnal yang dipublikasikan pada tahun 2021 sebanyak 5 artikel jurnal. Dalam hal pendekatan metode penelitian, tidak terdapat kecenderungan yang signifikan dimana penggunakan pendekatan metode penelitian cenderung seimbang antara pendekatan kualitatif dengan pendekatan kuantitatif. Meskipun tidak terdepat kecenderungan dalam pendekatan metode penelitian, namun kecenderungan publikasi artikel jurnal terdapat pada tahun 2020 yaitu sebanyak 11 artikel jurnal dipublikasi, sedangkan pada tahun 2021 hanya terdapat 5 artikel jurnal terseleksi. Hal tersebut dimungkinkan karena masyarakat masih baru memasuki pergantian tahun 2021 sehingga belum banyak penelitian dilakukan terkait perilaku masyarakat terhadap penyebaran hoax selama pandemi covid-19 melalui media di Indonesia. 2. Media yang digunakan RQ 2: Media apa saja yang digunakan dalam publikasi penyebaran hoax selama pandemi covid-19 melalui media di Indonesia? Penyebaran informasi saat ini mudah dilakukan, terdapat berbagai media yang dapat dijadikan sarana penyebaran informasi baik media seperti koran, televisi, radio maupun media online seperti aplikasi pesan instan dan media sosial. (Mastel, 2017) menyebutkan bahwa saluran yang banyak digunakan dalam penyebaran hoax adalah situs web, sebesar 34,90%, aplikasi chatting Whatsapp, Line, Telegram sebesar 62,80%, dan melalui media sosial Facebook, Twitter, Instagram, dan Path yang merupakan media terbanyak digunakan yaitu mencapai 92,40%. Di masa pandemi covid-19 saat ini penyebaran hoax kerap dikaitkan dengan berita kesehatan seperti obat untuk covid-19, konspirasi covid-19 sebagai isu politik, dan lain-lain. Masa pandemi covid-19 ini dimanfaatkan beberapa oknum untuk saling menyudutkan salah satu pihak yang dapat memunculkan kesalahpahaman antar masyatakat. Hal ini terlihat di mana hoax Covid-19 yang berbau politik juga muncul pada pandemi kali ini seperti data yang berhasil dihimpun di mana kategori disinformasi politik mengenai Covid-19 menempati jumlah berita tertinggi selain kesehatan yaitu berjumlah 68 berita selama 16 Maret – 22 April 2020 (Bafadhal & Santoso, 2020). Tingginya disinformasi selama pandemi ini juga dipengaruhi oleh kemudahan masyarakat dalam mengakses informasi melalui media, terlebih selama pandemi ini masyarakat lebih sering diam dirumah sehingga penggunaan mediapun meningkat. Dari hasil artikel jurnal yang terseleksi, penggunaan media ini menjadi faktor utama dalam penyebaran informasi yang belum tentu kebenarannya atau hoax seperti aplikasi pesan instan atau whatsaap, dan media sosial seperti facebook. Dalam artikel A-3, A-4, A-6 dan A-10 dijelaskan bahwa media dengan penggunaan tertinggi sebagai media penyebaran hoax selama pandemi covid-19 yaitu media sosial facebook sedangkan sisanya tersebar melalui instagram, twitter, berita televisi, radio, dan lainnya. Hal tersebut mejadi peluang sebagian oknum untuk menyebarkan informasi yang dapat menimbulkan kesalahpahaman serta menjadi informasi sesat yang berpengaruh terhadap msyarakat. Selain itu aplikasi pesan instan whatsapp juga menjadi salah satu media yang digunakan untuk penyebaran hoax, pesan yang dikirim berupa broadcast pada aplikasi tersebut sering dianggap benar oleh penggunannya, sehingga pengguna terus menyebarkan informasi yang belum tentu kebenrannya kepada pengguna lain. Seperti pada artikel A-14 dan A-16 dimana whatsapp menjadi aplikasi pesan instan dengan penggunaan tertinggi untuk penyebaran hoax selama pandemi covid-19 terlebih masyarakat dapat mudah mengakses dan menyebarkan pesan instan yang dapat disebarkan kembali, serta masyarakat lebih percaya jika pesan tersebut disertai dengan gambar, foto atau video sehingga masyarakat yang kurang memahi dengan tidak mencari sumber informasi tersebut akan terus menyebarkan informasi palsu yang dapat menimbulkan kesalahpahaman. 3. Dampak penyebaran hoax RQ 3: Bagaimana dampak penyebaran hoax selama pandemi melalui media terhadap perilaku masyarakat di Indonesia ? Penyebaran hoax yang kian marak berdampak pada perilaku masyarakat, terlebih saat masa pandemi covid-19. (Hadi, Martanto Dwi Saksomo, Pujo Widodo, 2020) penggunaan internet dalam menunjang aktivitas masyarakat sehari-hari, merupakan kontribusi utama terhadap peningkatan ancaman serangan Cyber hal itu terlihat dengan beberapa fakta yang yaitu masyarakat memiliki ketergantungan yang tinggi terhadap infrastruktur digital, belum semua organisasi terbiasa dengan pelaksanaan bekerja dari rumah., ketergantungan yang sangat besar terhadap konektivitas online dan infrastruktur jaringan yang ada, masyarakat menghabiskan sebagian besar waktunya untuk mengkonsumsi layanan online, serta masyarakat yang awalnya “gagap teknologi”, dipaksa untuk menggunakan teknologi dalam kehidupan sehari-hari. Berbagai informasi yang tersebar memiliki pengaruh bagi kehidupan masyarakat. Contohnya ketika informasi terkait obat-obatan yang dapat menyembuhkan covid-19 beredar, masyarakat dengan antusias membeli obat tersebut tanpa mencari tau sumber informasi obat tersebut benar atau hanya hoax. Adapun masyarakat yang menyebarkan kembali informasi tersebut agar dapat mempengaruhi masyarakat lain untuk percaya akan hal tersebut. Seperti yang dijelaskan oleh Benjamin Bloom bahwa perilaku yaitu pengetahuan, sikap, dan tindakan (Fitriany et al., 2016) maka perilaku seseorang dapat dipengaruhi oleh pengetahuan yang dia terima dalam hal ini literasi masyarakat yang rendah menjadi faktor kepercayaan mereka terhadap informasi hoax terkait pandemi covid-19 yang disebarkan, Dalam artikel yang terseleksi, beberapa perilaku yang muncul akibat penyebaran hoax selama pandemi covid-19 yakni seperti pada artikel A-3 dimana dalam artikel tersebut dijelaskan bahwa muncul perilaku takut akan kebijakam pemerintah, misalnya informasi hoax akan bahayanya vaksinasi berdampak pada perilaku takut sehingga masyarakat menjadi ragu untuk melakukan hal tersebut. Pada hasil penelitian artikel A-4 menyatakan bahwa disinformasi ini pada akhirnya mendorong perilaku apatis pada masyarakat karena menciptakan kebingungan dan ketidakpercayaan terhadap otoritas pemerintah dan ilmu pengetahuan. Selain itu penyebaran hoax selama pandemi covid-19 juga berdampak pada perilaku masyarakat yang cemas berlebihan seperti pada artikel A-5, A-8, A-9, A-12, dan A-15, sedangkan sisanya berdampak pada keraguan masyarakat akan informasi terkait pandemi covid-19. Seperti hasil penelitian artikel A-5 menunjukan bahwa tingkat kecemasan responden paling banyak dalam kategori kecemasan sedang sebanyak 77 orang (48,1%) , hasil ini menunjukkan keluarga yang memiliki anggota keluarga dengan usia lanjut memiliki kecemasan akan berbagai penyebaran berita hoax, penyebaran yang tidak sesuai dan semakin merajalela menimbulkan kecemasan pada keluarga. Jadi dapat dipahami bahwa, banyak keluarga yang merasa cemas dan merasa semakin tertekan di masa seperti ini. Pada artikel A-15 juga dijelaskan bahwa informasi hoax ini dapat mempengaruhi tingkat kecemasan masyarakat. Semakin banyak informasi hoax tentang Covid-19, maka semakin tinggi pula tingkat kecemasan masyarakat. Selain itu terdapat juga perilaku cemas dengan istilah panic buying dimana Terdapat dua bentuk kekhawatiran yang mendorong praktik panic buying. Pertama, khawatir jika tidak berbelanja sekarang, esoknya harga barang belajaan sudah naik. Kedua, khawatir jika tidak berbelanja sekarang, maka esok hari nya barang belajaan menjadi langka / hilang dari peredaranm (Chadiza Syafina, 2020). Informasi terkait dilakukannya lockdown menjadi kekhawatiran bagi masyarakat, sehingga mendorong masyarakat untuk menimbun bahan pokok sebagai persediaan selama masa pandemi covid-19. Penyebaran informasi hoax selama pandemi covid-19 ini memang berpengaruh terdapat perilaku masyarakat, diharapkan saat ini masyarakar harus lebih memahami bagaimana menyaring informasi yang valid atau tidak. Serta diharapkan Pemerintah juga dapat mendukung kegiatan literasi masyarakat terkait bagaimana menyaring informasi dari sumber terpercaya serta sosialisasi terkait bahaya penyebaran hoax.
Conclusion
Pandemi covid-19 yang masih berlangsung hingga saat ini dapat dimanfaatkan sebagian oknum untuk menyebarluaskan informasi hoax kepada masyarakat untuk menimbukjan kesalahpahaman ataupun ajang adu domba terkait isu tertentu. Perkembangan teknologi informasi saat ini menjadi kemudahan bagi masyarakat untuk mengakses informasi dengan banyaknya media yang dapat dijadikan sarana dalam produksi dan distribusi informasi. Kemudahan tersebut juga menjadikan adanya dampak negatif dimana penyebaran berita palsu atau hoax menjadi kian marak ditengah masyarakat. Hasil penelitian diatas menjawab pertanyaan terkait dampak yang dialami masyarakat bahwa penyebaran hoax ini merdampak pada perilaku masyarakat dikala pandemi covid-19 dimana banyak masyarakat menjadi cemas, khawatir, ragu, bingung akan kebenaran informasi yang disebarkan sehingga menimbulkan ketakutan dan berakhir dengan mempercayai informasi yang tersebar tanpa menidentifikasi terlebih dahulu kebenarannya. Hal tersebut harus menjadi perhatian baik bagi pemerintah atau masyarakatnya sendiri, dimana harus ada tindakan yang dilakukan untuk meminimalisir penyebaran hoax ini. Dari penelitian yang dilakukan menurut sistematika literatur reviu, peneliti merekomendasikan untuk kedepannya literasi masyarakat juga harus ditingkatkan agar masyarakat dapat menyaring informasi dengan baik, dicari sumber informasinya, serta diseleksi mana informasi yang dapat disebarkan kembali mana yang tidak seperti dilakukan sosialisi, komunitas, ataupun kerjasama antara masyarakat dan pemerintah terlebih dalam hal bijak menyaring informasi melalui media seperti tv, radio, media sosial, dan lain-lain agar tidak terjadi kekacauan akibat maraknya penyebaran hoax selama pandemi covid-19 yang berakibat pada perilaku masyarakat.