Kembali
16
1
2022 Tik Ilmeu: Jurnal Ilmu Perpustakaan dan Informasi Vol 6 · 2 ISSN 2580-3662

Analisis Karakteristik Literasi Generasi Alpha dan Implikasinya Terhadap Layanan Perpustakaan

Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang; Institut Agama Islam Negeri Curup

Abstrak

Generasi alpha mempunyai karakter kreatif, bersemangat, dinamis, leadership, dan percaya diri dalam menentukan pilihan keputusan karir di masa depan. Perkembangan teknologi dan kondisi pandemic mengubah secara drastis nilai dan konsep lini pendidikan dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar serta dalam transfer informasi. Dalam layanan perpustakaan misalnya, diperlukan perubahan besar dalam mengelola dan menyebarluaskan informasi untuk merespon kondisi tersebut. Hal ini untuk memberikan keseimbangan dalam penyesuaian gaya dan karakter generasi alpha dalam mendapatkan informasi. Tujuan dari penelitian ini untuk menganalisis karakter generasi alpha sehingga menemukan pola kebutuhan informasinya dan untuk mengetahui implikasinya terhadap layanan perpustakaan. Dalam penelitian ini studi yang digunakan adalah studi pustaka. Dari uraian analisis yang telah dilakukan disimpulkan bahwa generasi alpha merupakan generasi yang multitasking, digital native, tidak suka aturan, kreatif, dan fleksibel, connecting, dan kolaborasi serta praktikum. Konteks kebutuhan informasi generasi alpha cenderung kearah informasi dengan format digital dan informasi langsung, aplikatif dan mudah untuk langsung disharingkan melalui multimedia sosial. Implikasi Layanan perpustakaan diharapkan menyesuaikan pola kinerja pelayanan untuk memenuhi kebutuhan informasi generasi alpha.

Abstract

The alpha generation has creative, passionate, dynamic, leadership, and confident characters in making future career decisions. Technological developments and pandemic conditions have drastically changed the values and concepts of education in the learning process and transferring information. In library services, for example, major changes are needed in managing and disseminating information. This is to provide a balance in adjusting the style and character of the alpha generation in obtaining information. The purpose of this study is to analyze the character of the alpha generation so as to find patterns of information needs and to find out the implications for library services. In this study, the study used was a literature study. From the description of the analysis that has been carried out, it can be concluded that the alpha generation is a multitasking generation, digital native, does not like rules, is creative, and flexible, connects, and collaborates as well as practicum. The context of the information needs of the alpha generation tends towards information in digital format and direct, applicable and easy information to be directly shared through social media. Implications Library services are expected to adjust the pattern of service performance to meet the information needs of the alpha generation.
Keywords: Alpha Generation · Library Services · Information Needs

Introduction

Teknologi berubah dengan sangat cepat dan berdampak pada cara menganggap pengetahuan dan informasi sebagai komoditas gratis, bersama dengan kemampuan untuk menerapkan keterampilan, konsep, dan pemahaman. Teknologi membantu dengan cepat perkembangan aktivitas di semua lini dunia sehingga sampai pada kontribusinya terhadap lini pendidikan. Sementara kemajuan teknologi akan memainkan peran penting dalam pendekatan belajar-mengajar di masa depan, para pendidik dari tingkat pendidikan dasar sampai juga pendidikan tinggi juga akan ditantang oleh generasi pendidikan tinggi berikutnya, Generasi Alpha. Generasi Alpha adalah sebutan lain dari generasi baru. Generasi Alpha merupakan kelahiran setelah tahun 2010 sampai dengan 2025 yang disebut pula sebagai generasi digital. Artinya sejak lahir generasi ini hidup sudah bersama teknologi serba digital. Hal ini mengakibatkan perubahan perilaku dan gaya hidup unik dan berbeda dibandingkan dengan generasi sebelumnya yakni generasi Y (millennial). Perubahan setiap generasi merupakan sesuatu yang harus disadari oleh setiap penyedia layanan. Karakteristik mereka dipengaruhi oleh perkembangan zaman, mulai dari teknologi, cara komunikasi, pencarian informasi, dan juga cara belajar. Setiap perilaku tersebut berimplikasi pada karakteristik mereka. Seperti diketahui, generasi alpha, generasi penerus, tidak asing lagi dan akan segera menjadi perbatasan dunia yang sangat digital ini. Teknologi membantu cara dunia berkembang, dan kontribusinya terhadap pendidikan tidak terkecuali. Wabah pandemi COVID-19 baru-baru ini mengakibatkan penyerapan global dalam pembelajaran jarak jauh, yang diterapkan secara paksa untuk melanjutkan pendidikan di tengah pembatasan penguncian dan perintah tinggal di rumah. Dalam upaya untuk mendorong jarak sosial dan memperlambat penyebaran virus (Viner et al., 2020). Siswa dan orang tua beralih ke perangkat seluler seperti smartphone, tablet, dan laptop untuk mengakses informasi kelas (Nadeak, 2020). Orang tua harus mengambil peran dalam membimbing anak-anak mereka, khususnya Generasi Alpha, melalui pendidikan mereka selama pengaturan pembelajaran jarak jauh, lebih dari yang biasanya mereka lakukan selama kelas tatap muka. Dalam satu studi tertentu, orang tua memiliki tanggapan yang beragam mengenai perjuangan yang dipaksakan oleh pembelajaran jarak jauh. Beberapa di antaranya termasuk keseimbangan tanggung jawab, kebutuhan pembelajar, keseimbangan pribadi, kurangnya motivasi baik yang terkait dan tidak terkait dengan pembelajaran jarak jauh, aksesibilitas, kebutuhan konten pembelajar, kurangnya pedagogi, kurangnya konektivitas dan sumber daya, dan kebutuhan akan komunikasi guru antara lain (Garbe et al., 2020). Pandemi COVID-19 mempercepat perdebatan tentang pengajaran online dan metodologi terkait, dan sementara institusi akademi dan universitas saat ini sedang menjajaki opsi penyampaian, keterlibatan siswa yang lebih baik, dan cara untuk meningkatkan pengalaman siswa, jelas bahwa teknologi sangat tertanam dalam budaya dan lingkungan Generasi Alpha, dan itu akan sama besarnya dengan pendidikan mereka di masa depan. Moment social ini juga mempercepat lahirnya generasi dengan karakter-karakter baru dibandingkan dengan sebelumnya, terutama dalam keinginan dan harapan dalam mengakses informasi. Dalam mengantisipasi tantangan pendidikan dan peluang lingkungan pendidikan tinggi masa depan, penelitian ini berusaha mencerminkan generasi alpha sebagai kelompok mahasiswa berikutnya, dengan mempertimbangkan gaya belajar, persepsi, dan harapan yang mereka sukai terkait dengan pendidikan serta cara mendapatkan informasi. Tentunya perpustakaan sebagai pusat layanan informasi seyogyanya bertransformasi menyesuaikan permintaan lingkungan. Untuk menjabarkan kan semuanya, maka tulisan ini mencoba mengidentifikasi pengaruh media sosial, koneksi sosial, persepsi dan kemampuan generasi alpha untuk menafsirkan informasi sebagai kekuatan untuk dipertimbangkan dalam pendekatan belajar-mengajar di masa depan pada lingkungan pendidikan tinggi. Penelitian ini diakhiri dengan rekomendasi tentang bagaimana perpustakaan perguruan tinggi menyediakan akses informasi bagi generasi tersebut selaras dengan persepsi, gaya, dan harapan generasi alpha. Adapun metode yang digunakan dalam artikel ini adalah studi literatur. Metode ini bekerja dengan cara mengumpulkan literatur terkait dengan judul kemudian dilakukan analisis serta pengambilan kesimpulan. Adapun pembahasan artikel ini dibatasi pada karakteristik pada Generasi Alpha, layanan perpustakaan serta bagaimana hubungan keduanya. Berdasarkan latar belakang tersebut maka dapat dirumuskan masalah sebagai berikut: Bagaimana karakteristik generasi alpha serta dalam hubunganya mengakses dan mendapatkan informasi? Bagaimana implikasinya terhadap pengelolaan perpustakaan?

Result & Discussion

Karakteristik generasi Alpha Menurut Mannheim, definisi generasi adalah kelompok yang terdiri atas individu yang memiliki kesamaan dalam rentang usia, dan mengalami peristiwa sejarah penting dalam suatu periode waktu yang sama (Lubis et al., 2019). Menurut Howe dan Strauss, perubahan generasi terjadi kira-kira setiap 20 tahun, dengan tanda-tanda siklus tertentu. Biasanya terjadi siklus perbedaan cara beraktivitas keseharian pada suatu kelompok tertentu yang dipengaruhi oleh perkembangan sosial budaya serta teknologi. Adapun urutan perubahan generasi mutakhir tersebut antara lain dari mulai generasi baby boomers, generasi X, generasi Y, generasi Z, dan Generasi Alpha (Swandhina, 2022). Adapun identifikasi masing-masing generasi tersebut adalah sebagai berikut: Generasi babyboomers. Generasi babyboomers lahir tahun 1946-1964 yaitu pada saat setelah Perang Dunia II. Generasi ini adalah generasi yang memiliki banyak saudara dikarenakan banyak orang tua di generasi ini yang berani untuk mempunyai banyak keturunan. Karakteristik generasi ini lebih adaptif, mudah menerima dan menyesuaikan diri serta generasi ini adalah generasi generasi yang dianggap sebagai orang yang memiliki pengalaman hidup (Lubis et al., 2019). Generasi X Generasi X adalah generasi yang lahir pada awal penggunaan komputer, videogame, tv kabel dan intra internet. Generasi ini disebut sebagai generasi yang lahir sebagai awal perkembangan teknologi telekomunikasi. Menurut Jurkiewicz, generasi ini memiliki karakter yang mudah beradaptasi, mampu menerima perubahan dengan baik, berkarakter mandiri, setia, mengutamakan ketenaran, uang dan cita, tipe pekerja keras, namun selalu mempertimbangkan kontribusinya ketika bekerja (Generasi & Industri, n.d.). Generasi Y Generasi Y disebut sebagai generasi milenial yang lahir sekitar 1981-1994. Generasi ini telah memanfaatkan perkembangan teknologi telekomunikasi seperti email, MMS, media social facebook dan twitter. Artinya inilah awal mula masa internet dikenal. Adapun karakteristik generasi ini adalah perbedaan budaya tergantung lingkungan ia dibesarkan melalui strata ekonomi dan sosial, lebih terbuka pola komunikasinya dibandingkan generasi X, fanatic terhadap social media, terbuka terhadap isu politik, ekonomi serta fokus pada kekayaan. Generasi Y, terdiri dari orang orang yang lahir pada 1980-an dan 1990-an, dideskripsikan dengan label "Generasi MTV" terutama karena pengaruh dan relevansi saluran musik pada masa mereka. Sementara itu, ada Generasi Z, generasi pertama yang memiliki teknologi dan media sosial sebagai bagian besar dari kehidupan mereka sehari-hari (Ziatdinov & Cilliers, 2021). Generasi Z Generasi Z lahir antara 1995-2010 yang disebut sebagai igeneration. Generasi yang hampir sama dengan generasi Y, namun sudah memulai aktifitas multitasking yakni melakukan aktifitas dalam satu waktu. Kegiatan memposting, browsing, mendengarkan music, dilakukan dengan dunia maya dan sekali waktu. Generasi ini lahir dengan kondisi lingkungan yang sangat komplek sehingga berpengaruh dalam pandanganya mengenai pekerjaan, belajar dan dunia. Generasi ini memiliki kemampuan teknis yang tinggi, pandangan berbeda dalam tempat kerja, serta penguasaan bahasa yang tinggi. Selain itu, generasi ini memiliki toleran kultur yang tinggi, kurang berkomunikasi secara verbal. Generasi Alpha Generasi alpha adalah yang lahir dari orang tua milenial dan Z. Hal ini pertama kalinya dikemukakan oleh Mark Mccrindle yang menyatakan bahwa generasi alpha adalah lanjutan dari generasi Z. Generasi alpha lahir setelah tahun 2010 yakni yang lahir dari rentang 2010 sampai dengan 2025 yang sangat akrab dengan teknologi digital. Artinya saat ini umur tertua generasi ini kisaran 12 tahun dan berada di golongan pendidikan menengah pertama. Mark juga menganggap generasi ini adalah generasi paling cerdas dibanding sebelumnya (Novianti et al., 2019). Generasi Alpha terdiri dari individu-individu yang lahir pada persilangan Generasi Z dan zaman baru (Tootell et al., 2014). Generasi inilah yang akan segera mengisi ruang kelas dan universitas serta menuntut pendekatan unik untuk belajar-mengajar, berdasarkan tipe, keahlian dan persyaratan unik (Ziatdinov & Cilliers, 2021). Adapun karakteristik generasi alpha dapat disimpulkan sebagai berikut: 1. Generasi terdidik Menurut MC.Crindler terdapat 2,5 juta gen alpha lahir/ minggu di dunia. Generasi alpha akan menjadi generasi yang paling terdidik karena kesempatan sekolah yang lebih banyak di era sekarang ; akrab dengan teknologi ; paling sejahtera ; punya jarak umur paling jauh dengan generasi sebelumnya (mengalahkan jarak anatara baby boomer – generasi X) (Fadlurrohim et al., 2020). Oleh karena itulah generasi ini dianggap generasi paling cerdas dari pada generasi sebelumnya, karena sudah terbiasa menggunakan teknologi sedari lahir sehingga untuk akses semakin mudah dan cepat makan generasi ini paling kaya informasi. 2. Generasi internet Menurut MC Crindler adalah generasi yang paling dekat dengan internet sepanjang masa. Jika generasi Y mengenal internet sejak remaja, generasi Z, mengenal internet sejak anak-anak, sedangkan generasi alpha mengenal internet dari lahir artinya sejak hadir di dunia sudah berdampingan dengan internet (Fadlurrohim et al., 2020). Mc Crindler juga memperkirakan bahwa generasi Alpha tidak lepas dari gadget sehingga menyebabkan kurang bersosialisasi, kurang daya kreativitas dan bersikap individualis. Generasi alpha menginginkan hal-hal yang instan dan kurang menghargai proses. Keasyikan mereka dengan gadget membuat mereka teralienasi secara sosial. 3. Mencari informasi dan Eksis bersosialisasi di media social Generasi ini erat kaitannya dengan dunia virtual baik itu media sosial maupun cara pencarian informasi, tidak heran jika satu anak muda generasi alpha bisa mempunyai berbagai akun media sosial. Hal ini dikarenakan lingkungan dan ingin mengikuti perkembangan dunia. 4. IIndividualis. Dikarenakan sejak lahir sudah terbiasa bersama akses internet, sehingga generasi alpha secara mandiri mampu mencari informasi untuk memecahkan masalahnya sendiri. Yosep Tandian juga menyatakan bahwa sikap individualis ini juga didukung oleh sikap kritis dan multitasking (Lubis et al., 2019). Namun, generasi alpha dianggap sulit bahagia dikarenakan kehidupan individualis yang anti social sedari dini, sehingga yang dibutuhkan adalah natural relationship seperti nilai respect antar sesama dan ini bisa diperankan dari generasi Y dan Z sebagai generasi contoh bagi generasi alpha. 5. Karakter nasionalisme yang menurun. Menghadapi dunia digital dengan budaya dan karakteristik anatar generasi ke Menghadapi dunia digital dengan budaya dan karakteristik antar generasi ke generasi saat ini, nasionalisme terhadap bangsa menemui tantangan yang paling berat. Memasuki kemajuan teknologi yang begitu kuat terutama pada generasi alpha, akhirnya nasionalisme harus menghadapi tantangan zaman. Menurut Zulkifli, tantangan yang bersumber dari kemajuan teknologi, komunikasi, dan informasi yang mengakibatkan, kebudayaan mulai bergeser dan nasionalisme generasi bangsa semakin menurun di era digital. Generasi bangsa saat ini rentan akan hilangnya perasaan dan perilaku Nasionalisme sebagaimana yang dilakukan oleh generasi bangsa sebelumnya. Nasionalisme generasi muda Indonesia di era digital mencerminkan degradasi moral. Hal tersebut ditunjukkan dengan berita berita di media massa yang menunjukkan perilaku generasi muda saat ini semakin tidak menunjukkan lima prinsip nilai dasar pancasila. Pudarnya nasionalisme di Indonesia saat ini dapat dilihat dari adanya kasus kriminal yang tinggi (Apriani & Sari, 2020). Kondisi ini menjadi peluang penyedia informasi untuk memberikan keluesan akses dan informasi yang ideal untuk generasi alpha. 6. Kebutuhan dan cara akses informasi Beberapa karakter yang sudah dijelaskan di atas, seirama dengan karakteristik generasi 5.0 adalah masyarakat yang menghargai manusia secara utuh dengan dengan karakternya adalah sebagai berikut: (Industri & Masyarakat, 2021) a. Terjadinya penyatuan (konvergensi) yang tinggi antara dunia maya (virtual space) dan ruang fisik (real space). Di masyarakat informasi masa lalu (Masyarakat 4.0), orang akan mengakses layanan cloud (database) di dunia maya melalui Internet dan mencari, mengambil, dan menganalisis informasi atau data. b. Sejumlah besar informasi dari sensor di ruang fisik terakumulasi di dunia maya. Di dunia maya, data besar ini dianalisis dengan kecerdasan buatan (AI), dan hasil analisisnya diumpankan kembali ke manusia di ruang fisik dalam berbagai bentuk. Dalam masyarakat informasi masa lalu, praktik umum adalah mengumpulkan informasi melalui jaringan dan menganalisisnya oleh manusia. c. Manusia, benda, dan sistem semuanya terhubung di dunia maya dan hasil optimal yang diperoleh AI melebihi kemampuan manusia diumpankan kembali ke ruang fisik. Proses ini membawa nilai baru bagi industri dan masyarakat dengan cara yang sebelumnya tidak mungkin. Generasi alpha dengan karakter masyarakat 5.0 yang sudah dijelaskan di atas, sehingga membentuk kesimpulan akan kebutuhan informasi generasi alpha diantarnya: 1. Kebutuhan layanan informasi tanpa batasan waktu dan demografis 2. Durasi akses untuk secepat mungkin. 3. Tidak konsisten focus dengan satu jenis media informasi 4. Hak Keterlibatan (feedback) dalam merespon informasi misalnya, langsung memberi komentar. Implikasi Terhadap Layanan Perpustakaan Perpustakaan dengan semua fasilitas layanan yang diberikan kepada pemustaka selalu berkembang dan dinamis mengikuti perubahan sosial budaya dari masyarakat yang dilayaninya. Pergerakan pola hidup masyarakat yang melahirkan generasi-generasi yang memiliki culture aktivitas hidup yang berbeda dari generasi sebelumnya. Generasi terbaru yang saat ini disebut sebagai generasi alpha adalah sekelompok masyarakat dengan karakteristik serba digital dan online, menyebabkan timbulnya gaya dan kebutuhan akses informasi. Hal ini melatarbelakangi bahwa perpustakaan akan mengikuti pola kebutuhan informasi termasuk cara akses bagi generasi alpha. Berikut adalah beberapa layanan perpustakaan yang diprediksi akan menyesuaikan kebutuhan akses informasi generasi alpha. Selanjutnya, tantangan perubahan di berbagai layanan perpustakaan merujuk pada konsep society 5.0. pada perkembangan ini dikenal sebagai paradigma humanis dimana masyarakat sebagai pengendali teknologi. Masyarakat diharapkan dapat menyelesaikan berbagai tantangan dan permasalahan sosial dengan memanfaatkan berbagai inovasi yang lahir di era revolusi industri 4.0. Pandangan ini menekankan bahwa teknologi adalah sarana, sedangkan manusia tetap menjadi aktor utama. Konsep ini berupaya untuk menciptakan masyarakat masa depan yang bahagia dimana setiap individu aktif menjalani kehidupan yang berkualitas tanpa memandang usia, jenis kelamin, wilayah, bahasa, dan sebagainya termasuk pada mengakses informasi dan layanan perpustakaan. Antara lain adalah sebagai berikut: 1. Ekspektasi pengunjung pada layanan perpustakaan. Layanan perpustakaan tidak hanya berbicara tentang sirkulasi peminjaman dan pengembalian buku secara konvensional saja, namun ekspektasi pengalaman pemustaka menjadi pointer utama layanan perpustakaan harus berkiblat. Di masa generasi alpha harapan akses layanan informasi perpustakaan yang kenyamanan personal, kecanggihan fasilitas, kecepatan internet, kecepatan mencari buku dan data, user friendly tanpa klasifikasi RAS serta pemenuhan kebutuhan untuk segera sharing langsung atau berbagi data secara langsung (Prasetyo, 2019). Hal ini juga termasuk ekspektasi layanan berbasis elektronik yang terintegrasi yang sejalan dengan Peraturan Presiden No. 95/2018 tentang Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik dan dalam amanat Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) Tahun 2020-2024, Kementerian PANRB. Dalam tulisan Stefani Magdalena juga menjelaskan konsep layanan perpustakaan untuk melayani beragam generasi termasuk pada generasi alpha adalah hybrid library yang menerapkan karakter desain modern dengan kemudahan akses, kecepatan dan teknologi canggih. Hal ini bisa diterapkan oleh perpustakaan dengan memenuhi; konektivitas jalur internet yang stabil di semua penjuru ruang perpustakaan, stop kontak output listrik yang ada di semua posisi untuk menyediakan keutuhan charger gawai namun perlu didesain secara rapi, HVAC (heating, ventilation dan air conditioning) untuk menjaga suhu udara ruangan tetap normal dan stabil, pengendalian udara dan ventilasi ini sangat diperlukan karena penggunaan media teknologi yang semakin banyak di generasi alpha pada suatu ruangan akan meningkatkan kenaikan suhu 30% dari suhu normal, area membaca yang nyaman dan ergonomis dikarenakan aktivitas menerima informasi generasi alpha yang sudah berubah, area virtual dan audio visual serta sistem keamanan dari kebakaran dan pencurian dikarenakan banyaknya teknologi sumber magnet yang digunakan di perpustakaan (Umum et al., 2019). 2. Media promosi dan kompetisi kreatifitas eksis. Social media menjadi media promosi yang wajib. Informasi mengenai perpustakaan harus bersifat konektivitas dan melibatkan peran aktif pemustaka. Komunikasi di media social menjadi tren promosi yang baik di era generasi alpha. Promosi di media sosial sekaligus didukung oleh kompetensi kreativitas generasi alpha akan meningkatkan kepercayaan dan juga komunikasi antar pustakawan dan pemustaka era generasi alpha. 3. Layanan informasi dengan konsep makerspace. Generasi alpha menginginkan informasi sekaligus praktek. Sehingga konsep makerspace harus segera diaplikasikan oleh perpustakaan, dimana kebutuhan generasi alpha adalah generasi yang butuh akan praktikum langsung dibandingkan hanya informasi secara teoritik. Layanan ini tidak hanya sebagai fasilitas yang membanggakan bagi perpustakaan, namun juga sebagai sarana aplikatif dari fungsi perpustakaan informasi dan edukasi kepada pemustaka khususnya generasi alpha yang haus akan uji coba ilmu pengetahuan dan pemenuhan pengalaman pribadi. Generasi tersebut cenderung ingin mencoba sendiri segala sesuatu. Dari pengalaman yang didapatkan, mereka akan lebih pintar mengeksplorasi dan menilai segala sesuatu. Perpustakaan sebagai lembaga pencipta peradaban seharusnya bisa mengakomodir kebutuhan generasi alpha akan pengalaman tersebut, dan salah satunya melalui layanan makerspace. 4. Kompetensi pustakawan dalam mengelola koleksi dan big data. Dari beberapa perkiraan mengenai pekerjaan yang akan dibutuhkan di era generasi alpha adalah kompetensi dalam mengelola big data. Menurut Gordon, pustakawan seyogyanya menjadi spesialis informasi profesional yang dapat mengelola perpustakaan digital, mengkombinasikan secara profesional untuk perencanaan, data mining, penggalian pengetahuan, layanan rujukan digital, layanan informasi digital, representasi informasi, ekstraksi dan kemas ulang digital, koordinasi dan distribusi informasi berbasis internet, akses dan penerusan digital. Irhamni juga menyimpulkan bahwa kompetensi pustakawan di era generasi alpha harus berupaya dinamis, cepat dan tepat mengelola informasi digital, kolaborasi riset, analis data dan ekstraksi data. Selain itu pula, hal penting lainnya sebagai kompetensi pustakawan di era masyarakat yang kompleks perlu mahir mengetahui sisi sosiologis dan psikologis untuk memahami kebutuhan lintas generasi (Ali, 2019). Untuk itu perlu upaya untuk meningkatkan profesionalistas pustakawan di era 5.0 yaitu meningkatkan softskill berupa keterampilan psikologis untuk mendengarkan, komunikasi, hubungan masyarakat untuk menjembatani berbagai kebutuhan lintas generasi (Wijonarko, 2020). 5. Keterhubungan dan kolaboratif untuk berinteraksi. Generasi digital yang terhubung dan terkoneksi oleh teknologi. Orang tua, pendidik, media social menjadi satu kesatuan sentral yang saling terkoneksi. Konsep keterhubungan atau “koneksi” menjadi elemen sentral dari generasi ini. Hal ini harus dimanfaatkan oleh perpustakaan untuk menjadi bagian dari elemen sentral ini yakni dari segi pendidikan sebagai penyedia informasi yang selayaknya beralih ke perangkat layar sentuh seperti gawai pribadi. Konektivitas menggunakan gawai untuk saling terhubung yang justru semakin meningkatkan focus akses teknologi namun hal ini menunjukkan bahwa keterhubungan ini menjadi hal penting. Perlunya keterhubungan antar muka dengan gawai pribadi semakin membuat aktivitas generasi alpha menjadi dinamis.Hal ini bisa diperankan oleh pustakawan agar layanannya bisa terkoneksi, termasuk dalam mengolah informasinya (Reis, 2018). Layanan informasi dengan konsep makerspace dan coworking untuk berkolaborasi. Generasi alpha menginginkan informasi sekaligus praktek. Sehingga konsep makerspace harus segera diaplikasikan oleh perpustakaan, dimana perpustakaan mempersiapkan pemustakanya yang full skill bukan hanya teoritik saja namun juga kegiatan praktikum yang mendukung kreatifitasnya. Selain itu perpustakaan serta pustakawan harus berperan aktif menyediakan media coworking untuk meningkatkan budaya kolaborasi dan kerjasama dalam meningkatkan pengetahuan umum (Ali, 2019).

Conclusion

Dengan adanya teori generasi yang menyatakan bahwa generasi akan selalu berkembang dan akan selalu melahirkan generasi-generasi mengikuti perkembangan budaya dan sosial masyarakat, sehingga menjadi pemahaman bahwa perubahan pola budaya dan beraktifitas lintas generasi ini tidak bisa dihindari. Semua lini perlu untuk mengakselerasi kondisi yang ada untuk tetap maju berjalan beriringan. Bagi lembaga pendidikan khususnya lini perpustakaan perlu untuk menyiapkan dan mulai untuk bergerak merubah pola layanan untuk mengikuti kebutuhan generasi alpha. Dimana generasi alpha dianggap sebagai generasi paling cerdas dibandingkan dengan generasi sebelumnya. Hal yang menjadi rekomendasi untuk berbagai macam jenis perpustakaan yang nantinya akan melayani generasi alpha. Disamping itu, pustakawan perlu untuk mempersiapkan diri menguasai kompetensi psikologi dan sosial agar bisa memahami kebutuhan lintas generasi.