Kembali
16
1
2022 Jurnal Forum Perpustakaan Perguruan Tinggi Indonesia Vol 1 · 1 ISSN 2962-5599

Persepsi Kemampuan Literasi Informasi di dalam Penulisan Karya Tulis Ilmiah

Universitas Pelita Harapan

Abstrak

Perpustakaan sebagai sebuah pusat belajar memiliki salah satu tugas untuk mendukung Tri Darma Perguruan Tinggi, yang salah satunya adalah aktifitas pembelajaran dan penelitian. Oleh sebab itu sudah sebuah keharusan bagi perpustakaan untuk mengembangkan keterampilan literasi informasi mahasiswa dan dosen pengajar agar proses pembelajaran dan penelitian dapat berjalan dengan efektif. Siklus literasi informasi mencakup enam keterampilan dasar literasi informasi yaitu: identifikasi kebutuhan informasi, identifikasi sumber, menelusur informasi yang akurat, valid, dan relevan, melakukan evaluasi sumber, menggunakan informasi, dan melakukan sintesis. Untuk mengetahui bagaimana persepsi mahasiswa terhadap enam keterampilan dasar literasi informasi tersebut, maka perpustakaan mengadakan survei untuk melihat peta keterampilan literasi informasi mahasiswa, sehingga bisa dilakukan pengembangan program literasi informasi yang sesuai dengan kebutuhan. Hasilnya diperoleh gambaran bahwa dari enam keterampilan dasar literasi informasi, ada dua keterampilan yang membutuhkan pengembangan mahasiswa, yaitu strategi mengakses dan menelusur informasi, dan keterampilan sintesis informasi.

Abstract

The library as a learning center has one task to support the Tri Dharma Perguruan Tinggi, which is learning and research activities. Therefore, it is imperative for libraries to develop information literacy skills for students and lecturers so that the learning and research process can run effectively. The information literacy cycle includes six basic information literacy skills: identification of information needs, identification of sources, searching for accurate, valid, and relevant information, evaluating sources, using information, and synthesizing. To find out how students perceive the six basic information literacy skills, the library conducts a survey to observe perception of students' information literacy skills on writing. This survey will support how information literacy programs can be developed according to needs. The result shows that from the six basic information literacy skills, there are two areas that are need to be enhanced by students: the strategy to access and search for information and information synthesis skills.
Keywords: Information literacy · academic writing · information need’s identification · Information search · evaluation · use of information · synthesis

Introduction

Literasi informasi memiliki cakupan beberapa keterampilan di dalamnya. Jika kita menggunakan definisi literasi informasi dari ACRL (Association of College and Research Libraries), yang merupakan asosiasi di bawah payung ALA (American Library Association), menjelaskan literasi informasi sebagai “Seperangkat kemampuan yang dibutuhkan seseorang untuk mengenali kapan informasi dibutuhkan, dan memiliki kemampuan untuk menemukan, mengevaluasi, dan menggunakan informasi yang dibutuhkan secara efektif”.(ACRL, 2000). Sedangkan definisi terbaru dari ACRL yang dirilis tahun 2016 mengatakan bahwa literasi informasi adalah “Seperangkat kemampuan yang terintegrasi yang meliputi penemuan (discovery) reflektif dari informasi, pemahaman bagaimana informasi diproduksi dan diberi nilai, penggunaan informasi dalam penciptaan pengetahuan baru, dan berpartisipasi di dalam komunitas pembelajar secara etis.”(ACRL, 2016). Definisi lainnya yang diambil dari CILIP (Chartered Institute of Library and Information Professionals) menjelaskan bahwa literasi informasi adalah sebuah keterampilan untuk “Memahami kapan dan mengapa kita membutuhkan informasi, dimana menemukannya, dan bagaimana mengevaluasinya, menggunakan, serta mengkomunikasikannya di dalam tingkah laku yang beretika”(CILIP, 2016). Tiga definisi diatas semuanya memiliki kesamaan untuk membatasi literasi informasi sebagai sebuah perangkat keterampilan yang terdiri atas pengenalan akan kebutuhan informasi, keterampilan untuk mencari, menelusur, mengakses, mengevaluasi, menggunakan sesuai kebutuhan, dan menggabungkan informasi yang didapatkan dari berbagai sumber tersebut untuk kebutuhan yang spesifik. Ada banyak kajian yang menunjukkan bahwa literasi informasi merupakan keterampilan yang sangat berpengaruh pada kemampuan menulis dan belajar (Gross, 2005; Herro, 2000; Jiyane & Onyancha, 2010; Shantaram, 2012). Dari kajian kuantitatifnya di Universitas Airlangga terhadap 100 mahasiswa, Kusunarningsih menyatakan bahwa ada hubungan antara keterampilan literasi informasi dengan kemampuan menulis dan prestasi belajar (2018). Hal yang sama juga ditemukan oleh Sianipar bahwa literasi informasi sangat berkaitan dengan kemampuan menulis karya ilmiah mahasiswa (Sianipar, 2018b) dan juga penulisan Karya tulis ilmiah dan karya tulis argumentasi (Sianipar, 2018a). Selain itu beberapa kajian lain juga mendukung pendapat tersebut (Cahyadi, 2018; Hasugian, 2009; Muhajang & Pangestika, 2018). Rumusan permasalahan kajian ini adalah: 1) seberapa banyak mahasiswa menerapkan keterampilan literasi informasi pada KTI; 2) seberapa banyak jumlah keterampilan LI (berdasarkan ACRL) yang mahasiswa kuasai; 3) sejauh mana kendala kemampuan keterampilan LI dalam KTI. Sedangkan tujuan kajian ini adalah untuk: (1) memberikan gambaran deskriptif bagaimana mahasiswa menerapkan literasi informasi di dalam penulisan Karya tulis ilmiah mereka. (2) kajian ini juga bertujuan untuk melihat berbagai aspek literasi informasi yang dirasakan oleh mahasiswa belum dikuasai dengan baik dan yang sudah dikuasai dengan baik. (3) tujuan terakhir adalah untuk memberikan deskripsi kondisi gap yang terjadi, sehingga pemetaan lebih lanjut untuk menentukan prioritas pelatihan literasi informasi sesuai dengan kebutuhan dan kondisi mahasiswa dapat dianalisis lebih lanjut.

Method

Kajian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif untuk menjelaskan sebuah kecenderungan sikap, atau opini dari sebuah populasi tertentu dengan meneliti satu sampel dari populasi tersebut(Creswell, 2019, hal. 17). Obyek penelitian ini adalah literasi informasi dan subyek penelitiannya adalah mahasiswa. Penelitian ini dilaksanakan menggunakan survei di perpustakaan The Johannes Oentoro ini adalah dengan memposting survei online di website perpustakaan selama periode Januari-Juli 2021. Penelitian ini tidak menggunakan surat ijin kepada responden, karena survei ini dibuka hanya untuk orang-orang yang sukarela untuk menjadi responden. Sosialisasi dilakukan dengan menggunakan himbauan di kelas-kelas literasi informasi, website, sosial media perpustakaan, dan juga di berbagai kelas mata kuliah yang bekerjasama dengan perpustakaan. Hasilnya diperoleh 440 responden dari berbagai macam fakultas dan program studi yang bersedia mengisi survei literasi informasi ini. Banyak dari mereka ingin mengetahui kondisi atau tingkat literasi informasi mereka sebagai mahasiswa. Survei dilaksanakan dalam bentuk kuesioner yang terdiri dari 35 pertanyaan yang dibagi ke dalam 6 kategori keterampilan literasi informasi. Masing-masing butir soal dapat dijawab dengan menggunakan pilihan 1-5, dengan pilihan sebagai berikut, 1=Sangat tidak setuju, 2=Tidak Setuju, 3=Kurang Setuju, 4=Setuju, 5=Sangat Setuju. Data survei yang masuk dibuatkan tabulasinya dan diolah menggunakan aplikasi Ms. Excel untuk mendapatkan nilai mean (rata-rata) dari setiap butir pertanyaan survei. Setelah semuanya diolah, maka data dijabarkan untuk mendapatkan gambaran hasil dari seluruh pertanyaan yang ada. Untuk dapat menempatkan hasil survei pada kategori kondisinya, maka ditetapkan skala kategori kondisi seperti terlihat pada Tabel 1.

Result & Discussion

Dari survei yang diisi oleh responden sebanyak 440 orang, maka di dapatkan data demografi seperti yang ada pada data di Tabel 2-4. Dari hasil survei, kami kategorikan sesuai dengan kluster tahapan literasi informasinya. Sesuai dengan kelompok bidang keterampilannya, hasil survei dikelompokkan menjadi enam kategori literasi informasi seperti yang akan dijelaskan berikut ini. Identifikasi Masalah Di dalam kategori identifikasi masalah, terdapat empat pertanyaan yang mengarahkan responden untuk menjawab berbagai pertanyaan untuk mengawali sebuah tulisan, yang berkaitan dengan perbedaan antara essai yang mengandalkan pengetahuan penulis, dengan paper atau karya ilmiah. Ketiga pertanyaan lainnya ialah mengenai bagaimana pemilihan topik, rumusan masalah dan pemilihan kata kunci. Hasilnya dapat dilihat pada Tabel 5. Dari hasil, terlihat total nilai rata-rata untuk kategori identifikasi kebutuhan informasi masuk dalam tingkatan baik dengan nilai 3,43. Hal ini terlihat dari semua nilai rata rata yang ada di dalam kategori ini. Nilai tertinggi adalah menyiapkan kata kunci dengan nilai 3,73 dan nilai paling rendah di dalam kategori ini adalah pemahaman perbedaan antara esai dan karya tulis, yaitu 3,02. Identifikasi sumber informasi Pada kategori kedua ini terdapat lima pertanyaan berkaitan dengan identifikasi sumber informasi. Dalam kategori ini responden difokuskan untuk menjawab konsep dan pemahaman mereka akan sumber-sumber informasi yang bisa digunakan di dalam penelusuran, termasuk semua sumber-sumber tercetak maupun sumber online. Dari tabel 6, terlihat hasil nilai rata-rata 3,18 yang masih diatas angka 3 yang berarti masih masuk di dalam kategori baik. Ada satu pertanyaan negatif yang digunakan di pertanyaan nomor 2 mengenai penggunaan Wikipedia dan blog, sehingga walaupun hasilnya dibawah angka 3 yaitu nilai 2,94, namun seharusnya dibaca sebaliknya, yaitu menjadi 3,94 yang artinya paling tinggi dari semua nilai lainnya di kategori ini. Sedangkan nilai paling rendah adalah pada pertanyaan mengenai perbedaan sumber informasi primer, sekunder dan tertier, yaitu 2,83. Mencari dan mengakses informasi Kategori ini terdiri dari tujuh butir pertanyaan, yang mengarahkan responden terhadap ketermapilan untuk mencari sumber informasi, serta mengakses informasi di dalamnya. Dimulai dari pertanyaan apakah selalu menggunakan Google sebagai alat pencarian, kemudian berkembang ke alat pencarian yang lain seperti direktori, meta search engine, semantic search engine dan deep web search engine, serta penggunaan boolean dan sintaks pada Google search engine. Seperti terlihat pada Tabel 7, kategori ini adalah kategori yang mendapatkan nilai rata-rata total paling rendah dibandingkan dengan kategori yang lain. Dengan nilai 2,63 maka kategori ini digolongkan dalam nilai Kurang Baik. Hampir semua butir pertanyaan memiliki hasil yang kurang baik. Nilai yang paling tinggi adalah pada pertanyaan pertama yaitu menggunakan Google. Pertanyaan ini dijawab dengan nilai yang sangat tinggi yaitu 3,98 dengan nilai Baik. Sedangkan nilai terendah adalah pada penggunaan mesin pencarian semantik, yaitu 2,30. Evaluasi sumber informasi Kategori ini berisi tujuh pertanyaan tentang bagaimana responden menilai sebuah sumber dengan rubrik evaluasi sumber yang baik dan benar. Tabel 8 menunjukkan bahwa total rata-rata masih masuk kategori nilai baik, yaitu 3,37. Sedangkan nilai tertinggi adalah pada butir pertanyaan ke lima dan ke enam, yaitu mengenai pentingnya mengetahui pengarang artikel dan pentingnya memilih website yang update, dengan nilai 3,75. Sedangkan nilai paling rendah adalah butir tiga yaitu menggunakan Blog sebagai pendukung tulisan. Namun karena pertanyaan ini adalah pertanyaan terbalik, maka nilai rendah berarti tinggi, dimana nilai 2,93 berarti 3,93. Menggunakan informasi Kategori ini hanya terdiri dari tiga pertanyaan yang mengarahkan responden pada cara menggunakan informasi untuk kebutuhan yang relevan dan spesifik. Dari tabel 9 bisa dilihat bahwa untuk kategori menggunakan informasi, semua butir mendapatkan angka dengan nilai baik sehingga total rata-rata kategori ini (3,49) juga mendapatkan nilai baik. Nilai tertinggi adalah pada pertanyaan ke tiga mengenai mampu mengutip 3,64 dan nilai paling rendah adalah untuk pertanyaan mampu membaca dengan efektif 3,31. Sintesis informasi Kategori ini adalah kategori untuk mengarahkan responden pada proses pembuatan sebuah karya tulis dengan menggabungkan berbagai informasi yang diperoleh dari berbagai sumber informasi menjadi sebuah karya tulis ilmiah yang utuh. Dalam ketegori ini termasuk juga bagaimana menghindari plagiarisme dan menggunakan sitasi dan daftar pustaka yang benar. Dari tabel 10 bisa dilihat bahwa nilai total rata-rata 2,98 tidak masuk ke dalam kategori baik, malainkan ke kategori kurang baik. Ada beberapa butir pertanyaan yang nilainya kurang baik. Nilai tertinggi diperoleh oleh butir pertama yaitu tentang kerangka karangan, yaitu 3,70. Sedangkan nilai paling rendah diperoleh butir pertanyaan 2,36, yaitu tentang plagiarisme yang dilakukan karena tidak memahami batasannya. Secara keseluruhan bisa ditampilkan perbedaan nilai total rata-rata ke-enam kategori literasi informasi yang diperoleh dari seluruh responden adalah seperti dalam Tabel 11. Dari seluruh kategori, dapat dilihat beberapa hal penting yang digambarkan oleh hasil survei persepsi mahasiswa tentang keterampilan literasi di dalam penulisan Karya tulis ilmiah mahasiswa. Dari keseluruhan kategori langsung dapat terlihat bahwa area literasi informasi yang masih butuh untuk dikembangkan adalah pada kategori 3 yaitu mencari dan mengakses informasi, sertakategori 6 yaitu sintesis informasi, karena memiliki nilai kurang baik. Hal ini menunjukkan 2 hal, yang pertama, ini membuktikan bahwa bukan semua natif dijital memiliki keterampilan di dalam menelusur sumber informasi yang akurat, valid, dan relevan. Hal ini sejalan dengan apa yang ditemukan oleh kajian di Universitas Kashmir (Hajam, 2017). Kedua, memang sintesis bukan sebuah proses kognitif yang mudah untuk dilakukan, bahkan di dalam penelitian(Foo et al., 2013). Pada kategori ke dua terlihat juga bahwa responden masih tidak paham perbedaan antara sumber primer, sekunder dan tertier. Hal ini juga terkait dengan pertanyaan sebelumnya yaitu semua sumber di perpustakaan adalah sama. Ini berarti perlu dibahas jenis-jenis sumber informasi dengan lebih baik lagi. Perpustakaan perlu menjelaskan perbedaan bobot dan derajat dari jenis bahan pustaka yang berbeda beda, sesuai dengan kebutuhan informasinya masing-masing. Data penelitian terbaru misalnya, akan membutuhkan artikel jurnal. Teori, akan membutuhkan buku dan tentunya sedapat mungkin mengambil teori dari orang yang menulis buku tersebut, bukan dari buku lain yang mengutipnya. Data statistik akan membutuhkan data dari situs penyedia data statistik, dan seterusnya. Pada kategori ke tiga, yaitu penelusuran dan akses informasi, nampaknya hampir disemua aspek butir pertanyaan masih perlu diajarkan ulang. Perlunya mahasiswa mengenali mesin pencari selain Google dan pentingnya diajarkan tehnik menggunakan Boolean dan sintaks pada Google. Dalam kurikulum perguruan tinggi berbasis KKNI atau KBK (Kurikulum Berbasis Kompetensi), proses belajar jelas menjadi sebuah proses mandiri untuk menemukan informasi AVR menggunakan berbagai perangkat Teknologi Informasi, dan hal ini butuh untuk diajarkan, agar mahasiswa dapat sukses belajar menggunakan kurikulum KBK tersebut (Hasugian, 2009, hal. 39; Murti & Winoto, 2018, hal. 3–4). Terakhir, pada kategori sintesis informasi terlihat yang masih menjadi masalah bagi mahasiswa umumnya adalah masalah menghindari plagiarisme dengan menggunakan sitasi dan penulisan daftar pustaka yang baik dan benar sesuai etika. Hal ini sejalan dengan beberapa kajian yang menjelaskan bahwa plagiarisme juga masih menjadi masalah di dalam proses belajar di beberapa peguruan tinggi (Furi & Balog, 2016; Ganley, 2013; Riedling, 2007).

Conclusion

Dari hasil survei, didapatkan kesimpulan bahwa literasi informasi merupakan keterampilan yang sangat diperlukan disemua lini pendidikan, namun juga masih belum dikuasai secara utuh oleh mahasiswa. Hasi survei ini menunjukkan bahwa dari enam kategori keterampilan literasi informasi yang sudah bernilai baik, masih ada dua kategori yang membutuhkan peningkatan berupa pelatihan-pelatihan atau panduan dan media instruksional lainnya. Survei yang dilakukan ini bersifat sangat sederhana, yaitu hanya melakukan survei dalam lingkup pemahaman dan persepsi yang tidak dalam. Jika ingin diteliti lebih lanjut, survei ini disarankan dilelengkapi dengan soal-soal atau survei yang mendalam untuk mengukur juga apakah hubungan serta pengaruh persepsi keterampilan literasi mahasiswa terhadap variabel lainnya, seperti hasil belajar, integritas akademik, efikasi belajar dan seterusnya. Kajian sederhana ini menjelaskan bahwa keterampilan literasi informasi masih harus terus diajarkan melalui program perpustakaan, maupun berkolaborasi dengan para pengajar sehingga menghasilkan sebuah kebiasaan (sikap) pembelajar mandiri sepanjang hayat.