Kembali
16
1
2024 Anuva: Jurnal Kajian Budaya, Perpustakaan, dan Informasi Vol 8 · 2 ISSN 2598-3040

Menjelajahi Literasi Sosial di Komunitas Difabel Slawi Mandiri

Universitas Jenderal Soedirman; Universitas Diponegoro

Abstrak

Fenomena komunikasi dan literasi di komunitas dengan individu keterbatasan fisik dan komunikasi menarik untuk dikaji. Penelitian ini mengadopsi pendekatan kualitatif untuk menggali dinamika literasi sosial dalam Komunitas Difabel Slawi Mandiri (DSM). Melalui wawancara mendalam dengan informan kunci dan observasi partisipatif dalam aktivitas komunitas, penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan memahami praktik dan peristiwa literasi yang digunakan oleh anggota komunitas. Analisis tematik data dari wawancara dan catatan observasi memungkinkan identifikasi pola dan tema yang muncul, menawarkan insight tentang bagaimana literasi dimanifestasikan dalam kehidupan sehari-hari anggota komunitas. Penelitian ini membawa perspektif baru dalam interpretasi literasi sosial di kalangan komunitas tuli, dengan menyoroti bagaimana praktik literasi beradaptasi dan berkembang untuk memenuhi kebutuhan komunikasi yang unik. Melalui lensa teori literasi sosial Brian Street, penelitian ini mengeksplorasi bagaimana literasi lebih dari sekedar kemampuan membaca dan menulis—melainkan sebagai praktik sosial yang terintegrasi dalam kehidupan sehari-hari, mencakup penggunaan bahasa isyarat, komunikasi nonverbal, dan teknologi digital. Penelitian ini mengungkapkan bahwa praktik literasi dalam komunitas DSM sangat dinamis, mencerminkan adaptasi kreatif terhadap kebutuhan komunikasi anggotanya. Bahasa isyarat, komunikasi nonverbal, dan penggunaan teknologi komunikasi seperti video call dan media sosial menjadi alat utama dalam memfasilitasi interaksi sosial. Selain itu, penelitian ini menyoroti peristiwa literasi, seperti pertemuan mingguan dan workshop, sebagai momen penting yang memperkuat ikatan komunal dan membangun identitas kelompok. Temuan ini memberikan kontribusi penting terhadap pemahaman literasi sosial dalam konteks komunitas disabilitas, menunjukkan pentingnya pendekatan yang lebih inklusif dan responsif terhadap keberagaman cara berkomunikasi dan berinteraksi dalam masyarakat.

Abstract

The phenomenon of communication and literacy within communities comprising individuals with physical and communication limitations presents an intriguing area of study. This research adopts a qualitative approach to delve into the dynamics of social literacy within the Slawi Mandiri Disabled Community (DSM). Through in-depth interviews with key informants and participatory observations in community activities, this study aims to identify and understand the literacy practices and events utilized by community members. Thematic analysis of data from interviews and observation notes allows for the identification of emerging patterns and themes, offering insights into how literacy is manifested in the daily lives of community members. This research introduces a new perspective on the interpretation of social literacy among the deaf community, highlighting how literacy practices adapt and evolve to meet unique communication needs. Through the lens of Brian Street's social literacy theory, this study explores how literacy extends beyond mere reading and writing abilities—being a social practice integrated into daily life, encompassing the use of sign language, nonverbal communication, and digital technology. The study reveals that literacy practices within the DSM community are highly dynamic, reflecting creative adaptations to the communication needs of its members. Sign language, nonverbal communication, and the utilization of communication technologies such as video calls and social media become essential tools in facilitating social interaction. Additionally, the research highlights literacy events, like weekly meetings and workshops, as significant moments that strengthen communal bonds and build group identity. These findings make an important contribution to our understanding of social literacy within the context of the disabled community, underscoring the importance of a more inclusive and responsive approach to the diversity of communication and interaction methods in society.
Keywords: social literacy · disabled community · deaf group · literacy practices · literacy events

Introduction

Komunikasi adalah aspek fundamental dalam kehidupan setiap individu, dimulai sejak bayi yang menangis untuk menyampaikan kebutuhan dasarnya. Proses komunikasi, menurut Effendy (2003), adalah interaksi yang melibatkan pertukaran informasi, opini, atau perilaku, baik secara verbal maupun non-verbal. Dalam konteks sosial, manusia yang merupakan makhluk sosial berinteraksi satu sama lain dalam berbagai kelompok untuk mencapai tujuan tertentu, menurut Liliweri (2014), dimana kelompok tersebut terdiri dari individu yang saling mempengaruhi dan memiliki karakteristik yang membedakan mereka satu sama lain. Komunikasi kelompok berperan vital sebagai penghubung antar anggota, dengan fungsi sosial untuk mempererat ikatan dan fungsi pengambilan keputusan untuk memandu tindakan kelompok, seperti yang dijelaskan oleh Rudolph F. Vrdeber dalam Mulyana (2005). Kehilangan pendengaran atau tuli merupakan kondisi di mana seseorang tidak mampu menerima stimulus auditif, sehingga berdampak pada fungsi sensorik dan motoriknya, menurut Somantri (2006). Akibatnya, individu dengan gangguan pendengaran ini menghadapi berbagai hambatan dalam menjalankan aktivitas sehari-hari, yang sering kali memicu reaksi emosional karena perasaan ketidakmampuan mereka, seperti dijelaskan oleh Effendy (2009). Meskipun mengalami tuli, mereka memiliki kebutuhan dasar yang serupa dengan individu yang memiliki pendengaran normal, termasuk kebutuhan akan kasih sayang, keamanan, penghargaan diri, dan pendidikan. Namun, gangguan pendengaran membuat komunikasi menjadi tantangan besar, khususnya dalam beradaptasi dengan situasi baru yang belum pernah dihadapi sebelumnya, menurut Wasita (2012). Gunawan (2012) menambahkan bahwa gangguan pendengaran bisa mengurangi kepercayaan diri seseorang dan membuat mereka lebih curiga terhadap orang lain, sehingga sulit beradaptasi atau bahkan mengisolasi diri dari lingkungan sosial, yang pada akhirnya membuat mereka terasing dalam kehidupan sehari-hari. Secara fisik, individu dengan tuli tidak berbeda dengan orang yang memiliki pendengaran normal, namun perbedaan menjadi jelas saat berkomunikasi atau berinteraksi. Bahkan orang dengan pendengaran yang baik pun bisa mengalami kesalahpahaman dalam berkomunikasi jika pesan yang disampaikan tidak jelas. Dalam berinteraksi, baik dengan orang yang memiliki pendengaran normal maupun sesama individu tuli, komunikasi nonverbal—terutama melalui bahasa isyarat—menjadi sarana utama, sebagaimana diungkapkan oleh Kusuma (2019). Penggunaan bahasa isyarat dan komunikasi nonverbal lainnya bertujuan untuk meminimalkan kesalahpahaman atau miskomunikasi. Oleh karena itu, ketika berkomunikasi dengan seseorang yang tuli, penting untuk berhadapan langsung agar bahasa isyarat dapat digunakan secara efektif sebagai media ekspresi. Dari perspektif sosial dan linguistik, komunitas Tuli diakui sebagai minoritas linguistik-budaya, yang menekankan pentingnya bahasa isyarat sebagai sarana komunikasi utama (Marschark et al., 2017; Belényi & Gábor, 2020). Penggunaan bahasa isyarat dalam komunitas Tuli sangat penting untuk memperkuat identitas, interaksi sosial, dan koherensi budaya (Cooper & Nguyễn, 2015; Rowley et al., 2022). Bahasa isyarat memiliki kosa kata, tata bahasa, dan aturan sosialnya sendiri, berfungsi sebagai sistem linguistik unik yang digunakan oleh komunitas Tuli di seluruh dunia (Rowley et al., 2022). Komunitas Tuli tidak hanya didefinisikan oleh disabilitas tetapi juga dilihat sebagai komunitas linguistik-budaya, dengan bahasa isyarat memainkan peran sentral dalam komunikasi (Belényi & Gábor, 2020). Dalam komunitas tuli, dinamika sosial yang berlaku seringkali menciptakan lanskap interaksi yang unik dan multidimensional. Praktik literasi dalam komunitas ini tidak semata-mata berfokus pada pembacaan dan penulisan dalam bentuk konvensional, melainkan meluas pada cara komunitas tersebut memanfaatkan bahasa isyarat sebagai alat literasi visual-spasial yang kaya. Interaksi ini mencakup dimensi kultural yang luas, dimana setiap gerakan, ekspresi wajah, dan ruang yang dipakai mengandung arti yang mendalam dan terikat erat dengan identitas komunal. Dinamika tersebut termanifestasi dalam berbagai aspek kehidupan sehari-hari. Sebagai contoh, penyebaran informasi dan berita dalam komunitas tuli dapat terjadi melalui narasi-narasi visual yang dikomunikasikan secara langsung atau melalui media sosial, dimana literasi visual menjadi sentral. Proses ini tidak hanya mengalirkan informasi tetapi juga memperkuat koneksi sosial dan mempertegas batasan komunitas. Selain itu, peran sekolah-sekolah khusus tuli, pertemuan komunitas, dan acara-acara sosial menjadi ajang dimana literacy events terjadi. Dalam konteks ini, event-event tersebut menjadi katalis bagi pertukaran pengetahuan, pengembangan bahasa, dan perayaan budaya tuli yang khas. Praktik literasi di ruang-ruang ini juga berfungsi sebagai medium resistensi dan negosiasi terhadap dominasi naratif budaya mayoritas, yang seringkali tidak menggambarkan kekhasan pengalaman hidup tuli. Penelitian mengenai kajian literasi sosial dalam komunitas tuli menjadi menarik karena mencakup eksplorasi interseksi antara bahasa, identitas, kekuasaan, dan resistensi. Penggunaan bahasa isyarat sebagai sarana literasi menciptakan pola interaksi yang mencerminkan kompleksitas dan kedalaman budaya tuli. Riset ini juga membuka diskusi tentang bagaimana komunitas tuli menegosiasikan identitasnya dalam konteks sosial yang lebih luas, dan bagaimana praktik literasi mereka membentuk dan dibentuk oleh konteks tersebut. Bahasa isyarat, yang berperan sebagai sarana komunikasi utama bagi komunitas tuli, melebihi paradigma konvensional bahasa yang hanya dianggap sebagai alat untuk pertukaran informasi. Fungsi bahasa isyarat lebih mendasar sebagai medium dalam pembentukan dan pemeliharaan identitas sosial dan budaya komunitas tuli. Sistem linguistik ini tidak hanya berperan sebagai alat komunikasi antarpribadi tetapi juga sebagai inti dari kultur bersama, yang menumbuhkan kesadaran kolektif dan ciri khas sosial yang unik. Kekayaan semiotik bahasa isyarat memfasilitasi pembentukan ranah budaya yang kompleks, menginkorporasi dan menghidupkan nilai-nilai bersama, narasi, dan ekspresi artistik yang menjadi lambang warisan komunitas tuli. Sistem ini menjadi wadah memori kolektif, merangkum dan mempertahankan tradisi, sejarah, dan prinsip-prinsip komunitas melalui cerita visual dan praktek performatif yang menjadi ciri khas budaya tuli. Melalui lensa teori literasi sosial yang membedah praktik dan event literasi, penelitian ini berusaha memaparkan kompleksitas bagaimana bahasa isyarat terjalin dengan pengalaman literasi komunitas. Praktik dan event ini tidak hanya diamati sebagai fenomena linguistik tetapi dianalisis secara kritis untuk perannya dalam penguatan identitas budaya dan sebagai sarana afirmasi kedaulatan sosial komunitas. Penelitian ini mengkaji praktik literasi dalam komunitas tuli, dengan fokus pada bahasa isyarat sebagai medium komunikasi utama. Mengadopsi kerangka teori literasi sosial oleh Brian Street, penelitian ini membedah konsep literacy practices dan literacy events dalam konteks budaya tuli. Literacy practices dianggap sebagai aktivitas yang rutin dan berulang yang melibatkan bahasa isyarat, memaparkan bagaimana praktik-praktik ini mempengaruhi pembentukan identitas sosial dan akses terhadap sumber daya dalam komunitas. Di sisi lain, literacy events adalah insiden spesifik dimana praktik literasi terjadi, yang dalam konteks ini, melibatkan penggunaan bahasa isyarat dalam berbagai situasi komunikatif. Penelitian ini menggunakan pendekatan etnografi, mengamati partisipasi dan interaksi dalam kegiatan sehari-hari komunitas tuli, serta wawancara mendalam untuk mengeksplorasi bagaimana anggota komunitas mengartikulasikan makna dalam literacy practices dan mengalami literacy events. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan pemahaman yang lebih luas tentang literasi dalam konteks sosial dan budaya komunitas tuli, serta implikasinya terhadap pembangunan identitas dan pemberdayaan sosial. 2. Landasan Teori Dalam kerangka teori literasi sosial yang dikembangkan oleh Brian Street, konsep "literacy practices" dan "literacy events" memegang peranan penting dalam memahami literasi tidak hanya sebagai kemampuan teknis membaca dan menulis, tetapi sebagai praktik yang tertanam dalam konteks sosial, budaya, dan politik. Teori ini menawarkan pandangan yang lebih luas dan mendalam tentang literasi, mengakui bahwa cara kita menggunakan bahasa tertulis sangat dipengaruhi oleh konteks sosial dan budaya kita. Literacy Practices mengacu pada perilaku dan konvensi yang berkaitan dengan penggunaan tulisan dalam kehidupan sehari-hari. Praktik ini tidak hanya melibatkan tindakan membaca atau menulis itu sendiri tetapi juga bagaimana kegiatan tersebut dilihat, dihargai, dan diinterpretasikan dalam masyarakat. Praktik literasi mencakup aspek yang lebih luas dari aktivitas literasi, termasuk sikap, nilai, perasaan, dan interaksi sosial yang mengelilingi dan mendukung kegiatan tersebut. Dalam konteks komunitas Tuli, praktik literasi dapat mencakup penggunaan bahasa isyarat dan teknologi komunikasi visual sebagai alat utama untuk memfasilitasi komunikasi dan pembelajaran. Literacy Events adalah situasi atau kejadian spesifik di mana aktivitas literasi terjadi. Ini bisa berupa kegiatan formal seperti kelas membaca di sekolah atau kejadian sehari-hari di mana membaca atau menulis memainkan peran, seperti menulis catatan, membaca jadwal, atau menginterpretasikan isyarat dalam komunikasi. Dalam komunitas Tuli, peristiwa literasi mungkin termasuk kelas bahasa isyarat, pertunjukan teater visual, atau forum diskusi di mana bahasa isyarat digunakan untuk berkomunikasi. Peristiwa literasi ini tidak hanya berfungsi sebagai medium untuk berkomunikasi tetapi juga sebagai cara untuk memperkuat identitas komunitas dan praktik budaya. Teori literasi sosial Brian Street menantang perspektif tradisional yang menganggap literasi semata-mata sebagai keterampilan individu, mengarahkan perhatian kita ke dinamika sosial dan budaya yang membentuk cara kita berkomunikasi dan memahami dunia. Dalam konteks komunitas Tuli, pendekatan ini membantu kita mengakui bahasa isyarat tidak hanya sebagai alat komunikasi tetapi juga sebagai bagian integral dari praktik literasi yang kaya dan beragam, yang mendukung interaksi sosial, pembelajaran, dan ekspresi budaya dalam komunitas tersebut. Penelitian lain dengan tema literasi di kalangan tradisional telah dibahas oleh beberapa peneliti lain. Pijakan awal adalah referensi dari Morgan et al., (2011), yang menemukan fenomena literasi melampaui definisi tradisional, mencakup hubungan sosial dan institusi. Mengikuti pijakan tersebut, penelitian lanjutan dalam lingkup komunitas disabilitas telah menggali lebih dalam tentang bagaimana literasi memainkan peran krusial dalam pemberdayaan dan inklusi. Dengan mengakui literasi sebagai praktek yang terintegrasi dalam kehidupan sehari-hari, Berglund (2023) mengembangkan konsep ini dengan menyoroti pentingnya pendekatan literasi yang inklusif. Pendekatan ini menarik dari praktik literasi yang beragam, mengakui berbagai sistem simbol dan peranannya dalam kegiatan sehari-hari, sehingga memberikan wawasan baru dalam pengembangan literasi di kalangan komunitas disabilitas. Ceruk penelitian lain adalah tema kesehatan di dalam literasi kalangan disabilitas; dengan penelitian oleh Geukes et al., (2018; 2019) dan Nam (2023) menekankan perlunya konsep literasi kesehatan yang disesuaikan untuk individu dengan disabilitas intelektual. Penelitian ini menyoroti pentingnya memperkuat literasi kesehatan untuk meningkatkan pengambilan keputusan yang berinformasi dan penyediaan layanan kesehatan yang lebih baik, serta mengurangi disparitas kesehatan di antara individu dengan disabilitas. Ceruk lainnya adalah tema literasi digitaldi kalangan disabilitas, antara lain oleh Jacob (2022), dan pengembangan alat dan intervensi secara partisipatif (Trazek, 2019; Lee et al., 2022), menawarkan perspektif baru dalam mendukung partisipasi dan pemberdayaan komunitas disabilitas melalui teknologi. Inisiatif ini menunjukkan pentingnya adaptasi dan inovasi dalam praktek literasi untuk memenuhi kebutuhan spesifik individu dengan disabilitas. Mengingat kompleksitas tantangan yang dihadapi oleh komunitas disabilitas dalam mengakses dan berpartisipasi penuh dalam kegiatan literasi, urgensi untuk menerapkan sudut pandang teori literasi sosial Brian Street menjadi semakin penting. Teori ini, dengan penekanannya pada literasi sebagai praktik sosial yang tertanam dalam konteks budaya dan politik yang lebih luas, menawarkan kerangka kerja yang kaya untuk memahami dan mengatasi hambatan tersebut. Dengan memperluas definisi literasi untuk meliputi praktik dan peristiwa literasi dalam konteks sosial dan institusional mereka, pendekatan ini memungkinkan peneliti dan praktisi untuk mengidentifikasi dan merancang strategi yang lebih inklusif dan efektif yang mengakui keberagaman pengalaman dan kebutuhan individu dalam komunitas disabilitas.

Method

3.1 Lokasi Penelitian Dalam rangka memperdalam pemahaman tentang pola komunikasi di kalangan komunitas disabilitas, penelitian ini akan dilaksanakan di Komunitas Difabel Slawi Mandiri (DSM), sebuah entitas yang berada di Kabupaten Tegal, Jawa Tengah. Pemilihan lokasi didasarkan pada karakteristik DSM yang merepresentasikan keragaman interaksi sosial. Didirikan pada 30 Desember 2010, komunitas ini berkomitmen terhadap pemberdayaan anggotanya dan advokasi untuk inklusivitas, menjadikannya lokasi yang ideal untuk mengeksplorasi dinamika komunikasi unik yang berkembang di lingkungan yang berfokus pada penerimaan dan adaptasi. Sekretariat DSM terletak di Gedung Loka Bina Karya, yang juga berfungsi sebagai pusat administrasi, ruang pertemuan dan aktivitas komunitas. Lokasi ini dipilih karena kemudahannya dalam mengakses komunikasi dengan anggota komunitas, juga keterbukaan dari anggota komunitas untuk berkumpul, berinteraksi, dan berpartisipasi dalam berbagai program dan kegiatan yang diselenggarakan oleh DSM. Fokus penelitian pada DSM, terutama di sekretariatnya, memungkinkan observasi langsung dan interaksi dengan anggota komunitas, memberikan insight mendalam tentang praktik komunikasi yang digunakan, termasuk bahasa isyarat, komunikasi nonverbal lainnya, dan penggunaan teknologi komunikasi. 3.2 Pendekatan Penelitian dan Pengumpulan Data Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif untuk menangkap nuansa dan kedalaman pengalaman hidup anggota komunitas DSM. Metodologi ini dipilih karena kemampuannya dalam menggali makna dan pemahaman yang dibangun oleh individu dalam konteks sosial dan kultural mereka. Data utama dikumpulkan melalui serangkaian wawancara mendalam dengan informan kunci, yaitu Praningsih, ketua kelompok teman tuli, dan Khambali, ketua komunitas DSM. Wawancara ini dirancang untuk mendapatkan insight tentang cara anggota komunitas berkomunikasi, mengidentifikasi praktik literasi yang mereka gunakan, dan memahami jenis peristiwa literasi yang berlangsung dalam komunitas. Selain wawancara, observasi partisipatif dilakukan selama kegiatan komunitas untuk merekam interaksi alami antar anggota dan mengamati penerapan praktik literasi dalam konteks nyata. 3.3 Analisis Data Data dari wawancara dan observasi dianalisis menggunakan analisis tematik, yang memungkinkan identifikasi, analisis, dan pelaporan pola (tema) dalam data. Langkah pertama melibatkan transkripsi wawancara dan catatan lapangan dari observasi, diikuti oleh pembacaan menyeluruh untuk memahami keseluruhan data. Setelah itu, data dikodekan secara sistematis untuk mengidentifikasi tema dan subtema yang muncul, berkaitan dengan praktik dan peristiwa literasi dalam komunitas DSM. Proses ini memerlukan iterasi dan refleksi berkelanjutan untuk memastikan bahwa interpretasi data akurat dan mencerminkan pengalaman informan.

Result & Discussion

Penelitian ini menggali dinamika komunikasi dalam Komunitas Difabel Slawi Mandiri (DSM), dengan fokus khusus pada kelompok teman tuli, dianalisis melalui lensa teori literasi sosial Brian Street. Informasi mendalam diperoleh dari Praningsih, ketua kelompok teman tuli, dan Khambali, ketua komunitas DSM, yang berbagi wawasan tentang cara-cara komunikasi yang predominan di antara mereka. Sebagian besar, komunikasi berlangsung melalui metode nonverbal, menggunakan bahasa isyarat sebagai saluran utama, sementara untuk interaksi jarak jauh, bahasa tulisan dan video call via WhatsApp menjadi sarana penting. Bahasa isyarat Indonesia, atau BISINDO, menonjol sebagai alat komunikasi pilihan, memungkinkan pertukaran informasi dan ekspresi yang efektif di antara anggota. Bahasa isyarat lebih dari sekedar medium komunikasi; ia mewakili elemen penting yang memperkuat identitas kelompok dan koherensi sosial. Praningsih menekankan, " "Jadi, gini, kita sehari-hari lebih banyak pakai bahasa isyarat sih. Itu cara paling nyaman dan mudah buat kita semua. Kita pakai BISINDO, bahasa isyarat Indonesia. Kalau misalnya perlu komunikasi tapi jaraknya jauh, ya kita manfaatin WhatsApp. Bisa tulis-tulis pesan atau video call." "Hmm, sebenarnya enggak terlalu (menggunakan media komunikasi ini). Paling ya itu, kalau lagi video call, kadang sinyalnya kurang bagus jadi gambar ngelag. Tapi kalau untuk bahasa isyarat sendiri, sudah jadi bagian dari kita, jadi ya lancar-lancar aja." Penggunaan WhatsApp untuk komunikasi jarak jauh menunjukkan adaptasi teknologi dalam mempertahankan konektivitas, meskipun terkadang terkendala oleh kualitas sinyalSelain bahasa isyarat, kelompok ini juga menggunakan alat tulis dan gerakan badan sebagai sarana komunikasi. Praningsih menjelaskan, "Oh, iya. Selain bahasa isyarat, kadang kita juga tulis-tulis pakai kertas. Nah, kalau ada yang perlu dijelaskan lebih detil atau kita mau pastikan pesannya sampai dengan jelas, kita juga pake gerakan badan. Itu membantu banget, sih, buat memperjelas maksud kita." Lanjutan dari penelitian ini mengungkapkan bahwa komunikasi tatap muka menjadi medium utama bagi teman tuli dalam berinteraksi, menekankan pentingnya penglihatan dalam proses penerimaan dan penyampaian informasi. Ibu Praningsih menjelaskan bahwa untuk komunikasi jarak jauh, penggunaan video call menjadi esensial, memungkinkan anggota untuk mengobservasi ekspresi wajah dan gerak tubuh, sehingga memfasilitasi pemahaman yang lebih baik. Selain itu, komunikasi digital melalui pesan teks, disertai emoji dan stiker, sering digunakan untuk mengekspresikan emosi dan perasaan, menunjukkan adaptasi mereka terhadap teknologi untuk memperkaya interaksi mereka. "Kalau kita mau ngobrol atau ada hal penting, langsung tatap muka. Kita perlu lihat muka, ekspresi, tangan, semua. Itu penting banget buat kita ngerti apa yang mau disampaikan. Dan kalau misalnya ada yang jauh, ya kita gunain video call. Dengan video call, walau jauh, bisa lihat muka, bisa pake bahasa isyarat. Kadang kalo ada yang kurang jelas, kita tambahin dengan chat, pakai emoji banyak, biar perasaan kita bisa lebih terwakili." Menariknya, beberapa anggota dengan gangguan pendengaran ringan memilih untuk menggunakan bahasa oral dalam berkomunikasi. Praningsih menambahkan bahwa penggunaan bahasa ini umumnya terbatas pada interaksi antara anggota dengan tingkat pendengaran yang serupa. Dalam konteks komunikasi oral, pentingnya membaca mimik wajah dan gerakan bibir menjadi sangat penting, menunjukkan adaptasi dalam strategi komunikasi untuk memastikan pemahaman. "Kita semua di sini, sih, aktif pakai WhatsApp. Kalo ada yang pengen dibagi atau cuma mau tanya kabar, bisa langsung video call atau chat. Kita suka pakai emoji dan stiker, biar lebih ekspresif. Itu membantu banget, loh, terutama kalo lagi ngomongin sesuatu yang berat atau pribadi." "Ada beberapa dari kita yang masih bisa denger sedikit, jadi kadang kita pake bahasa oral. Tapi, kita lebih banyak baca bibirnya sih. Itu juga kalau yang ngomongnya teman tuli yang pendengarannya masih ada. Kalau sama teman yang pendengarannya lebih berat, ya balik lagi ke bahasa isyarat." Teknik komunikasi menarik lainnya yang dibagikan oleh Praningsih adalah penggunaan sentuhan fisik, seperti menepuk bahu atau melambaikan tangan, bahkan melempar objek kecil untuk menarik perhatian lawan bicara. Ini mengindikasikan adaptasi kreatif dalam praktik komunikasi, yang memfasilitasi interaksi yang efektif dalam komunitas. "Nah, ini lucu sih, tapi efektif. Misalnya kita lagi di tempat rame, dan mau panggil teman yang lagi jauh, kita bisa tepuk bahu, atau lambai-lambai tangan keras-keras. Kadang-kadang kita sampai lempar-lempar benda kecil, hati-hati ya, bukan yang bahaya, cuma buat tarik perhatian aja." Khambali, ketua komunitas DSM, menambahkan bahwa praktik komunikasi nonverbal juga diadopsi oleh anggota komunitas yang tidak mengalami gangguan pendengaran, menunjukkan komitmen komunitas terhadap inklusivitas dan adaptasi lintas anggota. Komunikasi nonverbal, terutama bahasa isyarat, menjadi dasar interaksi yang inklusif, memungkinkan semua anggota komunitas, terlepas dari kemampuan pendengaran mereka, untuk berpartisipasi secara penuh dalam dialog dan kegiatan komunal. “Di komunitas kita, semua anggota, tuli atau tidak, kita belajar bahasa isyarat. Itu jadi bahasa kita semua. Kita ingin semua orang di sini bisa terlibat, nggak ada yang merasa terisolasi karena nggak bisa komunikasi. Bahasa isyarat itu bukan Cuma buat yang tuli, tapi buat kita semua, buat membangun komunitas yang lebih kuat dan terbuka.” Selanjutnya, Praningsih menekankan pentingnya bahasa isyarat dan komunikasi nonverbal sebagai alat utama dalam kehidupan sehari-hari anggota DSM, yang menunjukkan bahwa literasi dalam komunitas DSM bukan hanya terbatas pada kemampuan untuk berkomunikasi secara tradisional (melalui tulisan atau ucapan) tetapi juga melalui sistem simbolik dan gestural yang kaya, yang merupakan bagian integral dari praktik literasi sosial mereka. "Kita menggunakan BISINDO bukan hanya sebagai alat komunikasi tapi sebagai jembatan penghubung emosi dan pemahaman kita. Ini lebih dari sekedar bahasa; ini adalah ekspresi dari jiwa kita." Peristiwa literasi dalam konteks DSM mencakup momen-momen di mana komunikasi dan interaksi sosial terjadi, yang berfungsi sebagai medium untuk pertukaran pengetahuan dan nilai sosial. Praningsih berbagi tentang pertemuan rutin kelompok teman tuli, "Setiap minggu, kita kumpul, kadang untuk belajar hal baru, kadang cuma ngobrol dan berbagi cerita. Ini momen kita untuk terhubung dan memperkuat ikatan komunitas." Pertemuan-pertemuan ini merupakan contoh peristiwa literasi, di mana anggota menggunakan praktik literasi sosial mereka untuk berkomunikasi, berinteraksi, dan memperkuat jaringan sosial mereka. Selain itu, penggunaan teknologi oleh komunitas DSM menunjukkan adaptasi literasi digital dalam praktik sosial mereka. Praningsih menjelaskan, "Kita sering pakai video call untuk kumpul virtual atau bahkan belajar bersama. Teknologi membantu kita tetap terhubung, meski jarak memisahkan." Penggunaan video call dan media sosial tidak hanya menunjukkan adaptasi teknologi dalam komunikasi tetapi juga peristiwa literasi yang memungkinkan partisipasi dan inklusi lebih lanjut. Interpretasi tentang praktik literasi (literacy practices) dan peristiwa literasi (literacy events) yang teridentifikasi dari wawancara di atas, dapat dinyatakan dalam tabel berikut. Tabel 1. Daftar jurnal-jurnal bereputasi internasional (Suharso, 2015) No Kategori Deskripsi 1 Praktik Literasi a. Penggunaan BISINDO dan komunikasi nonverbal b. Komunikasi digital (video call, chat, emoji) c. Penggunaan bahasa oral oleh anggota dengan gangguan pendengaran ringan d. Penggunaan sentuhan fisik dan isyarat untuk menarik perhatian 2 Peristiwa Literasi e. Pertemuan mingguan kelompok teman tuli f. Workshop bahasa isyarat untuk seluruh anggota komunitas g. Kumpul virtual melalui video call h. Sesi belajar bersama menggunakan teknologi 4.1 Interpretasi Praktik Literasi Praktik literasi dalam Komunitas Difabel Slawi Mandiri (DSM) menunjukkan adaptasi dan inovasi yang signifikan terhadap kebutuhan komunikasi anggotanya. Penggunaan BISINDO tidak hanya sebagai alat komunikasi tetapi sebagai sarana pengungkapan identitas dan ekspresi diri menunjukkan bagaimana praktik literasi dapat menjadi inti dari konstruksi sosial dan budaya komunitas. Selain itu, adaptasi komunikasi digital melalui video call, chat, dan penggunaan emoji menggambarkan bagaimana literasi digital telah menjadi bagian tak terpisahkan dari praktik sosial mereka, memperluas ruang untuk interaksi dan ekspresi emosional. Kemampuan anggota dengan gangguan pendengaran ringan untuk menggunakan bahasa oral dalam situasi tertentu mengindikasikan spektrum literasi yang luas di dalam komunitas, di mana keberagaman metode komunikasi diterima dan dihargai. Penggunaan sentuhan fisik dan isyarat sebagai cara untuk memulai komunikasi mencerminkan dimensi fisik dari literasi sosial, di mana tubuh menjadi sarana penting dalam pertukaran informasi dan interaksi sosial. 4.2 Interpretasi Peristiwa Literasi Peristiwa literasi, seperti pertemuan mingguan dan workshop bahasa isyarat, menunjukkan bagaimana kegiatan tertentu berfungsi sebagai titik fokus bagi komunitas untuk berkumpul, belajar, dan berbagi pengalaman. Ini merupakan momen di mana literasi praktis diaktualisasikan dalam kehidupan komunal, memperkuat ikatan sosial dan membangun jaringan pengetahuan dan dukungan. Kumpul virtual dan sesi belajar bersama melalui teknologi menyoroti bagaimana peristiwa literasi dapat beradaptasi dengan keadaan dan tetap menjadi sarana penting untuk pertumbuhan dan inklusi komunitas, bahkan dalam kondisi terpisah oleh jarak. Kedua aspek ini—praktik dan peristiwa literasi— mencerminkan pemahaman yang kompleks dan dinamis tentang literasi di dalam Komunitas DSM. Lebih dari sekedar kemampuan membaca dan menulis dalam arti tradisional, literasi dalam konteks ini merangkul keberagaman cara berkomunikasi dan berinteraksi, menunjukkan bagaimana literasi sosial terjalin dalam struktur dan aktivitas kehidupan komunal. Komunitas ini, melalui adaptasinya, mengajarkan pentingnya melihat literasi sebagai praktek yang hidup dan bernapas, yang berakar pada kebutuhan, aspirasi, dan kondisi konkret anggotanya.

Conclusion

Penelitian ini berhasil menggali kedalaman dan kompleksitas praktik serta peristiwa literasi dalam Komunitas Difabel Slawi Mandiri (DSM), dengan menyoroti dinamika komunikasi khususnya di antara kelompok teman tuli. Melalui pendekatan kualitatif yang melibatkan wawancara mendalam dan observasi partisipatif, penelitian ini mengungkap bagaimana literasi sosial, sebagaimana dikonseptualisasikan oleh Brian Street, diterapkan dan dihidupi dalam konteks komunitas disabilitas. Literasi sebagai Praktik Sosial: Literasi dalam komunitas DSM bukan hanya sekedar kemampuan membaca dan menulis dalam bentuk tradisional, tetapi lebih luas mencakup penggunaan bahasa isyarat, komunikasi nonverbal, dan adaptasi teknologi digital. Praktik ini mencerminkan pemahaman literasi sebagai fenomena sosial yang terintegrasi dalam interaksi sehari-hari, memperkaya cara anggota komunitas berkomunikasi dan berhubungan satu sama lain. Peristiwa Literasi sebagai Titik Pertemuan Komunitas: Penelitian ini mengidentifikasi berbagai peristiwa literasi—seperti pertemuan mingguan, workshop bahasa isyarat, dan sesi belajar bersama— sebagai momen penting di mana anggota komunitas berbagi pengalaman dan memperkuat ikatan sosial. Peristiwa literasi ini bukan hanya tentang transfer pengetahuan, tetapi juga tentang membangun rasa memiliki dan identitas komunitas.