KONSEPSI LITERASI INFORMASI (INFORMATION LITERACY) DALAM PENDIDIKAN ISLAM
Institut Agama Islam Negeri Bengkulu
Abstrak
Era globalisasi menuntut dunia pendidikan untuk bisa berakselerasi mengikuti tuntutan jaman. Kurikulum, tenaga pengajar, proses pengajaran, media, sarana dan prasarana pendidikan harus disesuaikan dengan kebutuhannya. Salah satu yang memberikan indikasi ke arah ini adalah dengan banjirnya informasi dan pertumbuhan media yang terus menunjukan dinamisasi dan inovasi tanpa henti dan bervariasi, mulai dari kontennya, kemasannya, ruang lingkupnya serta pola dan cara aksesnya. Bagaimanapun juga efek dari information booming adalah manusia yang melek terhadapnya. Manusia yang melek informasi akan lebih cepat mengkuti perkembangan dan tuntutan yang ada. Inilah tuntutan sebenarnya bagi kalangan masyarakat akademisi.Literasi informasi bagi dalam dunia pendidikan sangat diperlukan, agar nantinya pendidikan nasional mampu bersaing pada level global. Untuk itu, sudah saatnya instansi pendidikan khususnya Islam, mulai dari tingkat dasar sampai perguruan tinggi memperhatikan kepentingan ini. Meski membutuhkan modal yang tidak sedikit, namun jika diawali dengan semangat untuk mau melakukan perubahan maka apapun akan bisa dilakukan. Meski perubahan itu sendiri pada sifatnya akan menciptakan resiko, ketidakpastian serta biaya baik biaya ekonomis maupun psikologis. Agar komitmen perubahan bisa ditumbuhkan, perlu dilahirkan visi bersama (shared vision) tentang bagaimana memperbaiki situasi dan tujuan bersama (shared aim) menuju masa depan. Ketersediaan sarana teknologi informasi (internet) serta perpustakaan yang tentunya sudah ada di tiap institusi pendidikan harus terus dikembangkan dan benar-benar dimanfaatkan secara optimal. Pemanfaatan sumber daya yang ada (teknologi dan sumber informasi) untuk pendidikan akan lebih efektif, efisien dan optimal apabila dibekali dengan penguasaan literasi informasi. Dengan menguasai literasi informasi maka akan menumbuhkan jiwa kritis, kreatif, inovatif, meningkatkan kinerja serta kesiapannya dalam bersaing di era globalisasi. Tidak ada kata terlambat atau tidak bisa bagi civitas akademik agar bisa melek informasi. Melek informasi menjadi salah satu modal kemajuan suatu negara melalui jalur pendidikan
Abstract
The era of globalization requires the world of education to accelerate following the demands of the times. The curriculum, teaching staff, teaching process, media, educational facilities and infrastructure must be adjusted to their needs. One of the indications in this direction is the flood of information and media growth that continue to show endless dynamism and innovation, ranging from its content, packaging, scope and patterns and ways of access. However, the effects of information booming are humans who are literate against it. Information literate humans will more quickly follow existing developments and demands. This is the true demand for the academic community. Information literacy for education is very much needed, so that national education will be able to compete at a global level. For that reason, it is time for educational institutions, especially Islam, starting from the basic level to the university to pay attention to this interest. Even though it requires a lot of capital, if it starts with a passion to make changes, anything can be done. Although the change itself in its nature will create risks, uncertainties and costs both economic and psychological costs. In order for change commitment to be grown, it is necessary to create a shared vision about how to improve the situation and the shared goal towards the future. The availability of information technology facilities (internet) as well as libraries which must already exist in each educational institution must continue to be developed and truly utilized optimally. The use of available resources (technology and information sources) for education will be more effective, efficient and optimal when equipped with mastery of information literacy. By mastering information literacy, it will foster a critical, creative, innovative spirit, improve performance and readiness to compete in the era of globalization. There is no word that it is too late or not possible for the academic community to be able to get information. Information literacy is one of the capital of a country’s progress through education.
Keywords:
Konsepsi Literasi Informasi
· Pendidikan Islam
Introduction
Isu tentang literasi informasi ini menjadi sangat penting seiring dengan perkembangan teknologi informasi (TI), teknologi komunikasi (TK), dan perpaduan dua teknologi tersebut atau teknologi informasi dan komunikasi (TIK). Bagi masyarakat modern, perkembangan dan kemajuan TIK menjadi daya tarik sendiri terutama dalam akses terhadap informasi. Beragam perangkat TIK yang canggih dan modern seperti laptops, tablet, telefon genggam dengan sistem operasi seperti android menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat dan mereka dituntut untuk beradaptasi dengan beragam fitur aplikasi teknologi yang telah disediakan oleh perangkat TIK tersebut. Kellner menyebutkan bahwa kemajuan TIK dengan fitur-fitur teknologi yang canggihnya memiliki dua sisi, yaitu manipulatif dan informatif sehingga perlu kemampuan untuk mengevaluasi dan menggunakannya. Menurut Mulyono, peningkatan kemampuan TIK masyarakat, khususnya di lingkungan pendidikan, sebagai bentuk respon terhadap kemajuan perangkat TIK yang canggih tidak diimbangi oleh kemampuan untuk memilih, memilah, menggunakan serta mengkomunikasikan informasi yang dibawa melalui perantara perangkat TIK tersebut. Lebih lanjut, Johnson and Webber menyebutkan bahwa seringkali respon yang dibuat oleh institusi pendidikan terlalu berlebihan dengan mengarahkan fokus mereka kepada pentingnya penggunaan (cara menggunakan) TIK dan mempermudah akses dalam pemanfaatannya. Sedangkan perhatian yang serius terhadap usahausaha untuk menghambat implikasi negatif dari pengabaian isu literasi informasi dan kritis ini masih belum mendapatkan porsi yang cukup, khususnya dalam pengembangan kurikulum pembelajaran dan pelaksanaannya di ruang kelas. Padahal, menurut Irving. pesatnya perkembangan informasi harus di respon sejalan dengan kemajuan TIK. Johnston dan Anderson berpendapat bahwa kemajuan perangkat TIK mempermudah akses terhadap informasi dan oleh karenanya dibutuhkan kemampuan berinformasi untuk merespon informasi yang terlalu berlebihan (overload), penggunaan informasi yang salah guna, ketidak mampuan untuk mengevaluasi informasi, dan pengabaian sumber-sumber informasi non-digital. Kemampuan untuk mengatur informasi (information management) kemudian menjadi sebuah kebutuhan bagi individu (siswa) untuk merespon dua kondisi ini. 1 Artikel ini bertujuan untuk mendiskusikan konsepsi literasi informasi dalam merespon kebutuhan pendidikan Islam dalam mencari, mengakses, memilah, dan mengevaluasi informasi yang diterimanya. Perspektif pendidikan Islam dalam artikel ini disajikan sebagai sebuah argumentasi penting bahwa literasi informasi sebenarnya juga bagian dari literasi beragama (Islam) yang harus dimiliki.
Discussion
Setiap orang membutuhkan informasi sebagai tuntutan hidupnya, mendukung aktivitas dan pemenuhan keperluannya. Keingintahuan seseorang muncul karena ia ingin selalu berusaha meningkatkan pengetahuannya. Keperluan akan informasi adalah situasi yang terjadi di mana seseorang merasa ada kekosongan informasi atau pengetahuan sebagai hasil dari tugas atau hanya rasa ingin tahu. Kekurangan ini perlu dipenuhi dengan informasi baru sesuai keperluan. Secara tradisional, literasi merupakan kemampuan seseorang untuk mengenal, mengerti (memahami) dan menggunakan aksara untuk berkomunikasi. Luke dan Freebody berpendapat bahwa literasi memiliki empat karakteristik kemampuan, yaitu memecahkan kode (decoding, menterjemahkan kode sehingga bisa bermakna), ikut serta dalam memahami dan membentuk (teks tulis, atau teks lisan), menggunakan teks sesuai dengan fungsinya, dan secara kritis menganalisa dan mentransformasikan teks sesuai dengan ilmu yang dimilikinya. Keller dan Share menyebutkan bahwa istilah literasi mencakup kemampuan serta pengetahuan tentang membaca (bacaan), memproduksi teks (dengan menulis), dan memperoleh alat-alat dan kapasitas intelektual agar dapat berpartisipasi dalam budaya dan lingkungannya. Kellner dan Share menekankan bahwa pada hakikatnya literasi dibentuk oleh lingkungan sosial dengan ciri-ciri tertentu yang dimilikinya. Oleh karenanya, sangat wajar bila literasi sangat bergantung pada konteks, perangkat peraturan, serta hasil konvensi dari lingkungan sosialnya.2 Literasi informasi diartikan sebagai keberaksaraan informasi. Dua kata yang merupakan terjemahan dari istilah asing information literacy ini kemudian juga diterjemahkan menjadi kemelekan informasi. Istilah literasi informasi atau kemelekan informasi sebenarnya sudah lama digunakan hanya saja lebih dekat dan dikenal terutama pada kelompok bidang informasi dan perpustakaan.3 Secara istilah, keberaksaraan informasi didefinisikan sebagai kemampuan untuk mengenal kebutuhan informasi untuk memecahkan masalah, mengembangkan gagasan, mengajukan pertanyaan penting, menggunakan berbagai strategi pengumpulan informasi, menetapkan informasi yang cocok, relevan dan otentik. Definisi lain menyebutkan “.. to be information literate, a person must be able to recognice when information is needed and have the ability to locate, evaluate and use effectively the needed information (American Library Association /ALA).” Ada pula yang mendefinisikan: “Information literacy is knowing when and why you need information, where to find it and how to evaluate, use and communicate it in an ethical manner”. Sederhananya, bahwa setiap orang diharapkan memiliki kemampuan menemukan informasi secara tepat guna. Dimulai dari kemampuan mengenali apa kebutuhan informasinya, mencari dimana informasi itu, mengevaluasi isi informasi yang benar-benar dibutuhkan, dan kemudian menggunakan dan mengkomunikasikan nya secara efektif. 4 Dalam lingkup bidang perpustakaan dan informasi khususnya, literasi informasi atau keberaksaraan informasi ini terkait dengan kemampuan mengakses dan memanfaatkan secara besar informasi yang tersedia di internet (Pendit : 2008). Meskipun tidak secara mutlak bahwa informasi itu pasti berada atau dapat ditemukan hanya di internet. Banyak sumber-sumber lain yang berisi informasi penting seperti perpustakaan, lembaga arsip, direktori, bibliografi, almanak, indeks, surat kabar majalah dan lainnya, yang dapat dimanfaatkan dalam rangka tujuan keberaksaraan informasi, namun internet memang telah benar-benar mewakili hampir keseluruhan informasi yang telah membooming. Oleh sebab itu, pengetahuan tentang literasi informasi sangat identik dengan penguasaan teknologi informasi dan komunikasi. Dalam Islam, literasi yang dimaksudkan disini adalah bentuk lain dari konsep iqra’,yaitu terpelajar dalam artian bisa membaca dan menulis. Sebuah gerakan untuk menciptakan masyarakat yang terpelajar, sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi Muhmmad pada masa awal, menempati tempat yang strategis dalam melahirkan peradaban ilmu pengetahuan di dunia islam pada masa setelahnya. Demikian pula dalam tradisi literasi, ia menjadi jembatan penghubung antara ajaran islam dengan peradaban sebelum islam. Tradisi literasi amat sangat berperan krusial, karena mampu mendokumentasikan wahyu dalam bentuk teks tertulis dan dimungkinkan untuk terus dikaji oleh generasi islam pada masa selanjutnya. Bermula dari berkembangnya tradisi literasi di tengah umat islam, lahir banyak jilid buku ilmu pengetahuan islam dan mewariskan beragam bangunan peradaban yang besar dan tidak ternilai harganya. Tradisi literasi pada masa Arab pada masa setelah lahirnya islam menggantikan tradisi lisan dan hafalan sangat populer dan dibanggakan oleh orang Arab kala itu. Al Qur’an melalui wahyunya memberikan tawaran tradisi selain oral dan hafalan, yaitu tulis menulis. Sebagaimana tersurat dalam Muqadimmah Ibnu Khaldun, dengan budaya literasi akan memungkinkan masyarakat untuk bisa mengakses informasi yang lebih luas dan mendalam, di lain pihak akan berperan dalam menyampaikan maksus sesuatu lebih detail. Akan tetapi, hal ini bukan berarti tradisi lisan dan hafalan tidak memiliki arti. Sistem lisan dan hafalan di suatu saat akan diperlukan dan memiliki nilai lebih dalam soal kepraktisan. Dalam proses perkembangan tradisi literasi khususnya Arab awal dipengaruhi oleh banyak hal. Diantaranya adalah turunnya al Qur’an, dan beragam kebutuhan umat islam untuk menggali kandungan pesan al Qur’an. Kebutuhan dalam hal mencatat wahyu sehingga menjadi wujud lembaran mushaf, niatan yang kuat dan kontribusi yang amat tinggi dari umat islam dalam mempelajari al Qur’an serta tindakan Nabi menjadi momentum yang tepat bagi tradisi literasi Arab. Dari tuntutan wahyu dan usaha Nabi sebagai bentuk pengjewantahan kalam illahi telah menjadi pendorong dalam mendalami tradisi literasi. Sebagaimana pendapat beberapa ahli sejarah mengatakan bahwa perkembangan tradisi literasi Arab berasal dari adanya pertemuan dua budaya atau lebih yang biasanya terjadi dalam ranah ekonomi menjadi hal yang perlu dipertimbangkan. Di sisi lain, ada ilmuwan islam yang menyatakan sebagian orang Hijaz melakukan perjalanan dagang ke Syam dan Irak untuk tujuan perdagangan. Sedikit demi sedikit mereka berkomunikasi dan terpengaruhi oleh budaya lain. Mereka akan belajar etika dan baca tulis kepada orang Syam, sejak itu berkembanglah tradisi lisan. Ada banyak pendapat mengenai dari mana asal tradisi literasi Arab, kapan ia berkembang dan siapa yang memulainya. Akan tetapi, sejarah berkata bahwa kemampuan baca tulis yang dimiliki oleh orang Arab awal Islam masih belum mengakomodir wahyu al Qur’an. Selain itu, generasi muslim pada masa setelah sahabat masih terus bekerja keras untuk melengkapi, menyempurnakan dan memberikan metode baru sistem membaca dan menulis al Qur’an. Hal ini jelas memberikan arti bahwa hubungan dagang antara bangsa Quraisy dan masyarakat sekitar jazirah Arab tidak memberikan sumbangsih yang signifikan bagi perkembangan tradisi literasi Arab. Faktor krusial yang berperan adalah ajaran islam itu sendiri dan kebutuhan umat islam dalam mengakses pesan pesan ilahi. Masyarakat islam Arab awal masih merupakan masyarakat yang jauh dari kata mapan. Hal ini ditunjukkan dari kesederhanaan alat yang digunakan semisal pelepah kurma, tulang, kayu dan benda lain yang memungkinkan untuk dijadikan media tulisan, atau mungkin hal ini identik dengan kemiskinan. Dari situ, kita bisa menyimpulkan bahwa masyarakat islam Arab belum mapan dalam tataran ekonomi, akan tetapi berhasil mengembangkan budaya literasi. Modal yang dimiliki masyarakat islam Arab awal ada lah semangat dedikasi, keislaman, keberagaman dan keimanan untuk menerima pesan illahi. Dan hal ini terbukti berhasil. Pada masa sebelum turunnya al Qur’an, tradisi literasi sudah ada dalam lingkungan masyarakat Arab walaupun masih dalam ranah yang sempit dan hanya sebagian kecil yang berbudaya membaca menulis. Tradisi literasi Arab stagnan hingga waktu yang relatif lama. Al Qur’an melalui ayatnya dan kerja Nabi berperan aktif dalam mempopulerkan literasi Arab. Karena al Qur’an juga sistem Aran menjadi lebih sistematis. Indikator yang kita bisa lihat dari terkondifikasinya jumlah dan bentuk huruf abjad Arab, penyempurnaan sistem huruf Arab dengan digunakannya syakl atau tanda baca, dan dibukukannya ilmu nahwu. Selain itu juga memunculkan kesadaran baru dan semangat mempelajari ilmu pengetahuan. Oleh karena itu, kita bisa saksikan bermunculan disiplin ilmu baru dalam dunia keislaman awal semisal kesadaran belajar dan membukukan ilmu ilmu al Qur’an, ilmu tafsir, penulisan kitab tafsir dan lain sebagainya. Perkembangan tradisi literasi Arab setelah al Qur’an juga bisa dilihat dari kebiasaan untuk menuliskan hadis hadis Nabi, sirah nabawiyyah,dan munculnya generasi pemikir dan penulis produktif dari kalangan muslim. Artikel ini dimaksudkan sebagai sebuah cara pandang alternatif bagi perkembangan pembahasan ilmu ilmu Qur’an, dengan memberikan banyak porsi dalam tradisi literasi Arab. Karena hal ini menjadikan titik awal munculnya peradaban ilmu pengetahuan dalam islam. Selain itu, juga menyangkut orientasi islam yang memiliki kecenderungan menghafal hendaknya disempurnakan dengan melihat sisi analisis secara komprehensif. Sebuah pembacaan teks agama yang harfiah atau sepotong tanpa memilki upaya pembacaan kritis menjadi hal yang harus dihindari sebagaimana wahyu pertama yang turun. Hal ini sudah terbukti ketika intelektual muslim melakukan kajian ulang dan analisis mendalam terhadap karya keilmuan. Kesuksesan dunia islam akan terulang kembali jika kita mebudayakan tradisi literasi. Dengan tradisi literasi, memungkinkan kita untuk menganalisis satu permaslahan satu tema tertentu secara mendalam. Al-Quran merupakan salah satu sumber utama ajaran Islam. Sumber di sini bisa dimaknai sebagai tempat yang darinya dapat diperoleh bahan yang diperlukan untuk membuat sesuatu. Ajaran Islam ibarat sebuah bangunan yang di dalamnya terdapat nilai-nilai, ajaran, petunjuk hidup, dan lain sebagainya. Untuk membangunnya, maka diperlukan sebuah sumber yang darinya dapat diambil bahan-bahan yang diperlukan untuk mengonstruksinya.5 Dalam konteks ini, al-Quran adalah sumber yang tak pernah kering yang didalamnya terdapat bahan-bahan yang bisa diambil untuk mengkonstruksi ajaran Islam. Ditinjau secara etimologi, al-Quran berasal dari kata qara ayang artinya bacaan atau yang dibaca. Pengertian secara bahasa ini telah menggambarkan bahwa al-Quran berkaitan dengan kegiatan pembelajaran, pendidikan, dan pengajaran yang antara satu ayat dan ayat lainnya merupakan satu kesatuan yang saling menjelaskan dan menafsirkan satu sama lain.2 Surat Al-Alaq ayat 1-5 yang merupakan wahyu pertama dengan perintah iqra yang bermakna membaca, merupakan embrio lahirnya tradisi literasi (membaca dan menulis) di kalangan umat Islam, khususnya masyarakat Arab. Tidak hanya membaca tulisan, tapi membaca diri sendiri sebagai manusia ciptaan Allah, membaca alam sebagai tanda-tanda kekuasaan-Nya, dan membaca bahwa Allah sebagai sumber ilmu pengetahuan.6 Di samping itu, membaca dan menulis adalah cara berkomunikasi secara tidak langsung, sedangkan berbicara dan mendengar merupakan komunikasi secara langsung. Menulis adalah cara berkomunikasi dengan mengungkapkan pikiran, gagasan, perasaan, dan kehendak kepada orang lain secara tertulis.7 Sejarah awal lahirnya tradisi literasi dalam Islam dapat dilihat sejak zaman Nabi saw. dengan adanya proses pengumpulan dan penulisan al-Quran untuk dijadikan sebuah mushaf. Meskipun saat itu proses penulisannya belum bisa sempurna karena wahyu masih terus turun. Sejak masa Nabi saw. ayat-ayat al-Quran yang turun ditulis di berbagai medium seperti papirus, lontar, dan parkeman.8 Makna al-Quran sebagai bacaan dan wahyu pertama al-Quran yang berisi perintah membaca, menjadi bukti betapa pentingnya literasi bagi manusia dalam mengembangkan ilmu pengetahuan. Maka, kemampuan dan kemauan membaca dan menulis dalam arti seluas-luasnya yang kemudian terbingkai ke dalam istilah literasi merupakan suatu keniscayaan bagi umat Islam. Sebab membaca merupakan pintu masuk dalam memasuki khazanah ilmu pengetahuan yang sangat luas. Sedangkan tulisan yang dihasilkan dari aktifitas menulis merupakan sebuah bentuk penjagaan, pemeliharaan, dan pengembangan ilmu pengetahuan, di mana dengannya dinamika ilmu pengetahuan berjalan dari masa ke masa. Sementara itu, Pendidikan Islam pada dasarnya merupakan pendidikan yang berdasarkan ajaran-ajaran Islam yang tertuang dalam al-Quran serta dijelaskan oleh Rasulullah melalui Hadis. Hal ini tidak bisa serta merta dipertentangkan dengan akal, karena wahyu sendiri juga menghendaki penggunaan akal dalam proses perenungannya. Bahkan hampir seluruh filsuf muslim – kecuali Al-Razi dan Ibnu Rawandi – menyelaraskan hubungan akal dengan wahyu dalam hubungan yang harmonis. Oleh karena itu dari segi orientasinya, sesungguhnya ruh dari ilmu pendidikan Islam adalah untuk menumbuhkan integrasi iman, ilmu, amal dan akhlak. Semua dimensi ini bergerak saling melengkapi satu sama lain, sehingga mampu mewujudkan manusia muslim paripurna.9 Dari sini dapat diketahui bahwa pendidikan Islam memiliki ciri khas tersendiri dengan memegang prinsip bahwa kebenaran yang diperoleh melalui penggunaan akal dan pengalaman empiris harus didialogkan dan diharmonisasikan dengan wahyu Allah sebagai sumber otoritas tertinggi. Para ilmuan muslim, terutama yang menaruh minat dan perhatian terhadap ilmu pendidikan Islam telah banyak menganalisis dan menginterpretasikan sistem nilai yang terkandung dalam al-Quran dan hadits menjadi ajaran dan pedoman yang mendasari proses kependidikan Islam. Sebagai sumber inspirasi dan pandangan hidup yang universal, al-Quran memberikan dorongan kepada manusia untuk mengembangkan ilmu pengetahuan melalui kemampuan rasio (akal pikiran) yang dapat digunakan untuk memperdalam dan memperluas dimensi ilmu pengetahuannya dengan batas kemampuan yang dapat dicapainya serta tidak terlepas dari orientasi kepada Tuhan, sehingga menghindarkan manusia bersikap sombong dengan akal pikirannya.10 Pada era klasik, para filosof dan ilmuan muslim memiliki semangat keilmuan yang sangat tinggi dalam upaya merintis, membangun, dan mengembangkan ilmu pengetahuan, sehingga saat itu ilmu-ilmu keIslaman tumbuh subur. Mereka melakukan telaah, penelusuran, penggalian, penelitian, istinbath (penetapan), perumusan, penyusunan, dan pengembanganpengembangan. Mereka memiliki semangat, kemampuan, sekaligus keberanian, di mana ketiganya merupakan kekuatan yang produktif dan bekerja secara terpadu. Ketiga potensi itu muncul karena mereka berorientasi pada terwujudnya kontribusi keilmuan yang dapat disosialisasikan kepada umat Islam pada zamannya dan diwariskan kepada generasi-generasi berikutnya. Dewasa ini, pengembangan keilmuan khususnya melalui kegiatan membaca dan menulis sebagaimana yang dilakukan oleh para filosof dan ilmuan muslim banyak mengalami kemunduran. Para ulama, cendekiawan, ilmuan, dan intelektual muslim sekarang ini cenderung memahami karya-karya keilmuan zaman klasik sebagai suatu produk keilmuan yang telah final, sempurna, dan sakral. Anggapan seperti ini menyebabkan kebuntuan dalam berkarya. Maka tidak heran jika para intelektual di kalangan umat Islam saat ini bersikap pasif dan konsumtif, yang menerima dan mengoleksi warisan intelektual masa lampau tetapi tidak mewarisi semangat keilmuannya. Hal ini sebenarnya ironis, mengingat dalam konteks saat ini akses ke berbagai literatur atau sumber bacaan serta alat tulis menulis semakin mudah, murah dan beragam. Munculnya berbagai gerakan pembaharuan dalam Islam merupakan wujud kesadaran historis umat Islam atas kelemahan dirinya bila dibandingkan apa yang dapat dicapai umat Islam di zaman keemasannya. Dengan memperhatikan urgensi literasi bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan pendidikan di kalangan umat Islam, maka penulis tergerak untuk melakukan telaah terhadap al-Quran sebagai sumber ajaran Islam sekaligus dasar ilmu pendidikan Islam. Selama ini telah banyak penelitian terhadap ayatayat al-Quran serta relevansinya dengan pendidikan Islam, akan tetapi nilai-nilai literasi terutama dalam ayat-ayat yang mengandung motivasi dan perintah baca-tulis di dalamnya belum cukup disentuh secara lebih luas dan mendalam. Padahal, literasi dalam alQuran menempati posisi yang fundamental sebagai dasar dalam proses membangun dan mengembangkan ilmu pendidikan Islam. Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat menguatkan posisi al-Quran sebagai dasar, inspirasi, dan motivasi dalam mengkonstruksi serta mengembangkan ilmu pendidikan Islam melalui ayat-ayat yang berisi perintah membaca dan menulis dalam arti seluas-luasnya.
Conclusion
Era globalisasi menuntut dunia pendidikan untuk bisa berakselerasi mengikuti tuntutan jaman. Kurikulum, tenaga pengajar, proses pengajaran, media, sarana dan prasarana pendidikan harus disesuaikan dengan kebutuhannya. Salah satu yang memberikan indikasi ke arah ini adalah dengan banjirnya informasi dan pertumbuhan media yang terus menunjukan dinamisasi dan inovasi tanpa henti dan bervariasi, mulai dari kontennya, kemasannya, ruang lingkupnya serta pola dan cara aksesnya. Bagaimanapun juga efek dari information booming adalah manusia yang melek terhadapnya. Manusia yang melek informasi akan lebih cepat mengkuti perkembangan dan tuntutan yang ada. Inilah tuntutan sebenarnya bagi kalangan masyarakat akademisi. Literasi informasi bagi dalam dunia pendidikan sangat diperlukan, agar nantinya pendidikan nasional mampu bersaing pada level global. Untuk itu, sudah saatnya instansi pendidikan khususnya Islam, mulai dari tingkat dasar sampai perguruan tinggi memperhatikan kepentingan ini. Meski membutuhkan modal yang tidak sedikit, namun jika diawali dengan semangat untuk mau melakukan perubahan maka apapun akan bisa dilakukan. Meski perubahan itu sendiri pada sifatnya akan menciptakan resiko, ketidakpastian serta biaya baik biaya ekonomis maupun psikologis. Agar komitmen perubahan bisa ditumbuhkan, perlu dilahirkan visi bersama (shared vision) tentang bagaimana memperbaiki situasi dan tujuan bersama (shared aim) menuju masa depan Ketersediaan sarana teknologi informasi (internet) serta perpustakaan yang tentunya sudah ada di tiap institusi pendidikan harus terus dikembangkan dan benar-benar dimanfaatkan secara optimal. Pemanfaatan sumber daya yang ada (teknologi dan sumber informasi) untuk pendidikan akan lebih efektif, efisien dan optimal apabila dibekali dengan penguasaan literasi informasi. Dengan menguasai literasi informasi maka akan menumbuhkan jiwa kritis, kreatif, inovatif, meningkatkan kinerja serta kesiapannya dalam bersaing di era globalisasi. Tidak ada kata terlambat atau tidak bisa bagi civitas akademik agar bisa melek informasi. Melek informasi menjadi salah satu modal kemajuan suatu negara melalui jalur pendidikan.