NAMA DIRI PERPUSTAKAAN NASIONAL RI PADA MASA JEPANG
Perpustakaan Nasional RI
Abstrak
Terlewatkannya masa Jepang dalam berbagai versi sejarah Perpustakaan Nasional RI (Perpusnas) telah meninggalkan ruang untuk dieksplorasi. Tujuan dari penelitian ini adalah mencari kembali nama diri Perpusnas pada masa Jepang. Dengan menggunakan metode studi literatur, penelitian ini dimulai dengan meninjau perubahan cap, label, dan autograf pada Koleksi Buku Langka Perpusnas, lalu menelusuri terbitan pada masa Jepang, termasuk tetapi tidak terbatas pada majalah pemerintah Kan Pō dan surat kabar Asia-Raya. Penelitian ini menghimpun seluruh nama yang ditemukan dalam setiap sumber, menguraikannya menjadi tiga unsur kata, yaitu nomina inti, nomina pewatas genitif, dan nomina pewatas lokatif, serta merekonstruksi nama diri Perpustakaan Nasional RI pada masa Jepang sebagai / Batavia Hakubutu-Kan Tosyobu / Perpoestakaan Moesioem Batavia, yang kemudian berubah menjadi / Djakarta Hakubutu-Kan Tosyobu / Perpoestakaan Moesioem Djakarta.
Abstract
The omission of the Japanese period in various versions of the history of the National Library of Indonesia (NLI) has left a space to be explored. The purpose of this research is to rediscover the proper name of the NLI during the Japanese period. The method is based on library research, start by reviewing the changes of stamps, labels, and autographs of the Rare Book Collection in NLI, then tracing the publications during the Japanese period, including but not limited to the government magazine “Kan Pō” and the daily newspaper “Asia-Raya”. This research collects every single name that was mentioned in each source, splits it into three parts, namely head noun, genitive modifier noun, and locative modifier noun, then reconstructs the proper name of NLI during the Japanese period as / Batavia Hakubutu-Kan Tosyobu / Perpoestakaan Moesioem Batavia, which then turned into / Djakarta Hakubutu-Kan Tosyobu / Perpoestakaan Moesioem Djakarta.
Keywords:
Sejarah Perpustakaan
· Perpustakaan Nasional RI
· Masa Jepang
· Nama Diri
Introduction
Perpustakaan Nasional RI (Perpusnas) memiliki sejarah koleksi yang panjang. Khususnya koleksi langka, 245 tahun sudah dilalui sejak diteruskan dari Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen (Bat. Gen.) yang berdiri tanggal 24 April 1778. Peristiwa penting yang terjadi selama itu sebaiknya tercatat dalam riwayat Perpusnas, tetapi ada salah satu momen yang terus terlewatkan hingga saat ini, yaitu rentang tahun 1942–1945 atau masa Jepang. Tidak banyak yang bisa dibaca mengenai Perpusnas pada masa Jepang. Kertosedono et al. (2005) menuliskan bahwa perpustakaan hampir dapat dikatakan tidak berkembang pada masa Jepang. Basuki (2008, 2016) menyatakan bahwa Perpustakaan Bat. Gen. ditutup, nonaktif, dan tidak ada kegiatan kepustakawanan pada masa Jepang. Dalam buku Basuki (2016) tersebut, Ibu Sri Sularsih selaku Kepala Perpusnas waktu itu memberikan kata pengantar yang menyebutkan bahwa hampir tidak ada perkembangan perpustakaan yang berarti pada masa Jepang. Perpusnas bahkan seolah-olah melupakan nama dirinya sendiri pada masa Jepang. Hal ini berbeda dengan Percetakan Negara, Balai Pustaka, dan Arsip Nasional yang sama-sama bergerak di bidang perbukuan dan dokumentasi sejak masa Belanda. Ketiga lembaga tersebut masih mengingat nama Jepang mereka, yaitu Gunseikanbu Inatsu Kojo, Gunseikanbu Kokumin Tosyokyoku, dan Kobunsjokan (ejaan disamakan dengan yang tertulis di situs resmi mereka). Meski Perpusnas belum melansir nama Jepangnya, tetapi beberapa sumber pernah menyebutkan nama Bat. Gen. (selanjutnya disebut Kon. Bat. Gen. karena menyandang gelar koninklijk) pada masa Jepang. Kon. Bat. Gen. (1950) sendiri dalam buku tahunannya menyebutkan adanya cap bertuliskan Hakabutukan Djakarta yang dibubuhkan pada koleksi buku di sana. Dalam riwayat hidup Poerbatjaraka (konservator koleksi naskah Kon. Bat. Gen.), tertulis bahwa ia pernah bekerja di Hakubutu-Kan (Gunseikanbu, 1944) atau Hakubutsu-kan (Riwajat hidup singkat Prof. Dr. R. M. Ng. Poerbatjaraka, 1964). Pegawai Oudheidkundige Dienst yang bernama Suhamir (1950) pada September 1949 mengemukakan bahwa Museum di Jakarta dinamai sebagai Hakubutukan dan dua Kantor Dinas Purbakala lainnya juga diberikan nama Jepang. Lalu pada November 1949, hal yang sama diutarakan oleh pustakawan Kon. Bat. Gen. yang menjadi kepala Oudheidkundige Dienst, yaitu Kempers (1949), tetapi tidak menuliskan nama Hakubutukan, melainkan hanya mencantumkan nama Jepang dari dua Kantor Dinas Purbakala lainnya, dan diulangi lagi oleh Kempers [1954] dengan menghilangkan ketiga nama Jepang yang pernah disebut oleh Suhamir. Tidak ada yang mengetahui secara pasti mengapa nama tersebut tidak disebutkan lagi. Bagaimanapun, setelah sempat hilang selama beberapa dekade, nama Kon. Bat. Gen. (sama dengan nama Museum Kon. Bat. Gen., sekarang menjadi Museum Nasional) pada masa Jepang dimunculkan kembali pada abad ke-21 oleh Bloembergen & Eickhoff (2011) yang menuliskan nama Hakubutukan, Zweers (2020) dengan nama Hakubutu-kan, dan Arainikasih (2021) dengan nama Gunsei Kanbu Hakubutsukan. Namun, mengenai siapa nama Perpustakaan Kon. Bat. Gen. pada masa Jepang belum banyak terungkap, bahkan dalam sejarah resmi Perpusnas sendiri. Oleh karena itu, penelitian ini dilaksanakan untuk menjawab pertanyaan “Siapakah nama Perpustakaan Kon. Bat. Gen. / Perpusnas pada masa Jepang?” Dengan hipotesis bahwa Perpustakaan Kon. Bat. Gen. / Perpusnas memiliki nama Jepangnya sendiri, kajian ini dilaksanakan untuk melengkapi sejarah Perpusnas, khususnya pada masa Jepang. KAJIAN PUSTAKA Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (2017, 2022) menjelaskan nama diri sebagai nomina (kata benda) yang mengacu pada orang, tempat, atau badan tertentu, ditulis dengan huruf awal kapital pada tiap katanya, dan tidak perlu ditulis miring meski merupakan bahasa asing atau bahasa daerah. Contohnya seperti white house dan blue house dapat merujuk pada semua rumah berwarna putih dan biru, tetapi White House dan Blue House masingmasing adalah nama diri dari istana kepresidenan Amerika Serikat dan Korea Selatan. Selain itu, dengan pertimbangan khusus terkait kesejarahan, nama diri bisa dikecualikan dari penyesuaian kaidah ejaan yang diperbarui, maka ada kebebasan bagi yang tidak mau mengubah ejaan namanya karena terbiasa dengan ejaan lama (Hakim et al., 1978). Di perpustakaan, nama diri bisa diperlihatkan dengan berbagai cara pada koleksi bukunya. Ono (1943) menyampaikan bahwa buku harus dihargai dan dijaga sebagai perwujudan kehidupan leluhur dan budaya, maka cap kepemilikan dibubuhkan supaya buku dapat kembali kepada pemiliknya meski dipinjamkan atau hilang. Kemudian, label buku juga bisa menampilkan nama diri perpustakaan. Hal ini sesuai dengan salah satu pengertian label pada Kamus Besar Bahasa Indonesia, yaitu sepotong kertas yang ditempelkan pada barang untuk menjelaskan nama barang, nama pemilik, dan sebagainya. Ada juga autograf, yaitu pesan singkat yang ditulis tangan oleh pengarang atau pemberi buku, yang bisa saja mencantumkan nama perpustakaan yang dituju sebagai penerima buku tersebut. Sehubungan dengan Perpusnas pada masa Jepang, Wada (2016) menjelaskan bahwa adanya usaha dari pihak Jepang untuk merombak Museum Kon. Bat. Gen. menjadi lembaga pembinaan budaya Asia Timur Raya. Koleksi buku berbahasa Jepang dari berbagai bidang ilmu berangsur-angsur diadakan untuk membangun perpustakaan di dalamnya. Beberapa bukti upaya penataan ulang itu masih dapat dilihat pada Koleksi Buku Langka Perpusnas, dari cap bertuliskan “DJAKARTA HAKUBUTSUKAN ” yang dibubuhkan di atas cap Kon. Bat. Gen. yang lama, sampai label berbahasa Jepang yang bertuliskan “ ” disertai nomor panggil yang masih bertahan dan dipakai hingga kini. Lalu, Wada (2017) membuatkan katalog buku-buku berbahasa Jepang yang diakuisisi pada masa Jepang dan dilampirkan dalam artikelnya. Kemudian, Himemoto (2018) juga menuliskan “ ” (arti: perpustakaan milik museum di Jakarta) dan merujuknya sebagai Perpusnas. Walaupun secara tidak langsung menyebutkan nama Perpusnas pada masa Jepang, tetapi baik Wada maupun Himemoto pada dasarnya tidak bermaksud mengkaji nama diri Perpusnas, sehingga informasi nama tersebut pun belum menyeluruh. Maka, pertanyaan dalam penelitian ini masih belum terjawab dan bisa diteliti lebih lanjut.
Method
Ruang lingkup penelitian ini dibatasi pada pencarian nama diri Perpusnas pada masa Jepang. Istilah Perpusnas dalam penelitian ini dapat dipertukarkan dengan Perpustakaan Kon. Bat. Gen. sebagai nama pendahulunya. Sedangkan masa Jepang yang dimaksud dalam penelitian ini berada pada rentang tanggal 8 Maret 1942 – 16 Agustus 1945. Penelitian dilaksanakan dengan menggunakan metode studi literatur, yang sebagian besar sumber referensinya berasal dari Koleksi Langka Perpusnas dan beberapa sumber lainnya yang diperoleh melalui situs web. Ide penelitian ini muncul pada Maret 2019, lalu sumber informasi mulai dikumpulkan perlahan-lahan sejak saat itu hingga Mei 2023. Penelusuran mengambil tempat di Perpusnas, tepatnya di Layanan Buku Langka, Layanan Majalah dan Jurnal Langka, Layanan Surat Kabar Langka, Layanan Audio Visual, dan Layanan Monograf Tertutup.
Result & Discussion
Sebelum melakukan pencarian nama, akan lebih baik untuk memastikan dahulu eksistensi Kon. Bat. Gen. pada masa Jepang. Singkat cerita dari Kon. Bat. Gen. (1950), Minggu pagi 8 Maret 1942, seorang petinggi Jepang mendatangi Museum Kon. Bat. Gen. dan melakukan dialog dengan Dr. A. N. J. Th. à Th. van der Hoop (Sekretaris). Lalu pihak Jepang itu bertanya, “Can you keep this place in good order?”, bahkan menawarkan penjaga untuk melindungi Museum. Meski menolak tawaran penjaga tersebut, Sekretaris memberikan jawaban yang meyakinkan agar pegawai Museum tetap dapat melanjutkan pekerjaan mereka. Di lain waktu, Prof. Abe memberitahukan bahwa Pemerintah Tokyo mengimbau untuk melindungi Museum. Tidak pernah ada pembahasan untuk membubarkannya, juga tidak pernah ada yang memanfaatkannya demi propaganda Jepang. Hanya pernah satu kali Tuan Kinoshita (pemimpin Museum) berkata kepada Sekretaris, “Museum ini moesti madjoe sedikit.” Dari informasi di atas, dapat diketahui bahwa Kon. Bat. Gen. tidak ditutup pada masa Jepang. Sejak kedatangan Jepang, berbagai upaya digencarkan demi menyingkirkan bekas peninggalan Belanda. Bukan hanya patung tokoh Belanda dan tugu peringatan yang dianggap merendahkan martabat Indonesia sebagai tanah jajahan Belanda (“Semua barang peringatan Belanda dikikis!”, 1944, Maret 1), melainkan juga bahasa Belanda yang disebut sebagai bahasa musuh. Serangkaian instruksi dikeluarkan untuk menghapus atau mengganti nama dan tulisan pada toko, perusahaan, rumah, dan lainnya yang berbahasa Belanda menjadi bahasa Jepang atau bahasa Indonesia, tak terkecuali pada cap kantor (“Makloemat penggantian nama bahasa Belanda”, 1942, November 10; “Tjara mengoeroes perkara menoeroet oendangoendang no. 14”, 1943, Maret 9; “Menghapoeskan bahasa moesoeh”, 1943, Desember 1). Oleh karena itu, Perpustakaan Kon. Bat. Gen. pada masa Jepang juga akan mengubah namanya ke dalam bahasa Jepang atau bahasa Indonesia, menjadikannya memiliki nama baru dalam bahasa Jepang tulisan Jepang, bahasa Jepang tulisan Latin, dan bahasa Indonesia tulisan Latin. Perubahan nama itu setidaknya akan terjadi dua kali, yaitu sebelum dan sesudah nama kota Batavia berubah menjadi Djakarta. Informasi perubahan nama kota ini dapat dilihat sejak tanggal 13 Maret 1942 (“Mendengar Batavia mengubah nama: Jakarta”, 1942, Maret 13), tetapi baru dinyatakan resmi berlaku oleh Gunseikanbu (Pemerintah Balatentara Dai Nippon) sejak 8 Desember 1942 (“Nama Batavia” diganti dengan Djakarta”, 1942, Desember 25, Hlm. 5) atau sejak 9 Desember 1942 berdasarkan Osamu Seirei No. 16 (“Tentang mengoebah nama syuu, tokubetusi dan ken”, 1942, Desember 25, Hlm. 1). Penelitian ini dimulai dengan meninjau perubahan yang terjadi pada cap, label, dan autograf yang terdapat pada Koleksi Buku Langka Perpusnas, sebagai warisan langsung dari Perpustakaan Kon. Bat. Gen. pada masa Jepang. Sampel terpusat pada koleksi buku langka dengan nomor klasifikasi XXXVIII dan 38, yaitu subjek lingkungan kebudayaan Asia Timur, berjumlah mencapai 2.000 buku, yang mampu menunjukkan secara berurutan perubahan cap, label, dan autograf dari masa Belanda, Jepang, dan Republik Indonesia. Cap-cap yang terdapat pada koleksi buku langka memiliki beberapa variasi tulisan, tetapi pada umumnya dapat dirangkum menjadi: (1) BAT. GENOOTSCHAP VAN K. EN. W., (2) KON. BAT. GENOOTSCHAP VAN K. en. W., (3) BATAVIA HAKUBUTU-KAN TOSYOBU, (4) DJAKARTA HAKUBUTU-KAN , (5) Lembaga Kebudajaan Indonesia „Kon. Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen”, dan (6) PERPUSTAKAAN MUSEUM PUSAT DEPT. P. D. &. K. (lihat gambar 1). Gambar 1. Cap-Cap Buku Langka Perpusnas Demikian pula dengan label buku langka, tertulis nama secara berurutan sebagai berikut: (1) Bat. Gen., (2) Kon. Bat. Gen., (3) , (4) Lemb. Kebudajaan Ind. Kon. Bat. Gen., dan (5) PERPUSTAKAAN MUSEUM PUSAT (lihat gambar 2). Gambar 2. Label-Label Buku Langka Perpusnas Sementara terkait autograf, buku yang diperoleh pada masa Belanda terdapat pesan berbahasa Inggris: “Presented to the Batavian Society of Arts & Sciences by the Author” dan bahasa Prancis: “Offers à la société des sciences de Batavia par le pere du traducteur J. B. Biot”, yang sama-sama merujuk pada Perhimpunan Bat. Gen. Kemudian, pada buku yang diadakan pada masa Jepang, terdapat pesan yang tertulis dalam bahasa Indonesia: “Hadiah dari pengarang Ishiyama (Tokura) Hiroshi” dan dalam bahasa Jepang: “ 户 ” yang artinya menghadiahi Perpustakaan milik Museum Jakarta – Ishiyama (marga lama: Tokura) Hiroshi (lihat gambar 3). Gambar 3. Autograf Buku Langka Perpusnas Dari sumber di atas, terlihat bahwa pada koleksi buku langka yang diperoleh pada masa Jepang terbubuhkan cap yang mencantumkan nama “BATAVIA HAKUBUTU-KAN TOSYOBU” (arti: Perpustakaan Museum Batavia) dan “DJAKARTA HAKUBUTU-KAN ” (arti: Perpustakaan Museum Jakarta); tertempel label yang menampilkan nama “ ” (arti: Perpustakaan Museum); dan tertulis autograf yang ditujukan kepada “ ” (arti: Perpustakaan milik Museum Jakarta). Berdasarkan keresmiannya, cap dan label buku langka dapat dijadikan prioritas dalam penentuan nama diri, karena dibubuhkan dan ditempelkan langsung oleh pihak Perpustakaan pada masa Jepang. Sementara itu, autograf merupakan tulisan tangan dari pihak luar Perpustakaan. Maka kata “ ” (baca: fuzoku; arti: milik) pada autograf dapat diabaikan. Sehingga alih-alih menyebutnya Perpustakaan milik Museum, penelitian ini akan mengikuti cap dan label yang menyebutnya Perpustakaan Museum. Kemudian, adanya perbedaan antara cap buku langka yang menyertakan nama kota dengan label yang tidak menyertakannya, akan diprioritaskan yang lebih lengkap, yaitu yang menyertakan nama kota. Walaupun penyebutan dan penulisan nama di atas berbeda-beda, tetapi sama-sama memiliki tiga unsur kata utama, yaitu (1) kata yang berhubungan dengan makna perpustakaan (TOSYOBU / ) sebagai nomina inti yang diterangkan, (2) kata yang berhubungan dengan makna museum (HAKUBUTU-KAN / / ) sebagai nomina pewatas genitif yang menerangkan pemilik nomina inti, dan (3) kata yang berhubungan dengan nama kota (Batavia / Djakarta / ) sebagai nomina pewatas lokatif yang menerangkan letak nomina pewatas genitif sekaligus nomina inti. Perlu diperhatikan, mengapa Perpustakaan disebut sebagai milik Museum? Padahal pada masa Belanda, biasanya disebut sebagai milik Perhimpunan Kon. Bat. Gen. Hal ini dapat terjawab dengan melihat berita “Pengembalian boekoe2 kepoenjaan Gedoeng Moesioem Djakarta” (1943, April 26) dan “Pengoemoeman Hakubutukan Tosyobu” (1943, Mei 10) yang menuliskan bahwa “perpoestakaan moesioem, dahoeloe Kon. Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen”, serta berita “Kazoeo Aoki, Menteri Asia Timoer Raja di Djawa” (1943, Mei 7) dan “Kazuo Aoki Menteri Asia Timoer Raya di Djawa” (1943, Mei 15) yang menuliskan “gedung Artja (Kon. Bat Genootschap doeloe)”. Hal ini menunjukkan bahwa nama Kon. Bat. Gen. sudah tidak digunakan lagi pada masa Jepang, dan kata yang bermakna Museum dipakai untuk merujuk kepada Perhimpunan Kon. Bat. Gen. dan Museum Kon. Bat. Gen. itu sendiri. Maka pada masa Jepang, Perpustakaan Kon. Bat. Gen. dikenal sebagai Perpustakaan Museum. Kemudian, pencarian nama dilakukan dengan menelusuri sumber terbitan pada masa Jepang dan beberapa terbitan sesudahnya, yang menyebutkan nama Museum dan Perpustakaan Kon. Bat. Gen. pada masa Jepang, lihat tabel 1. Tabel 1. Senarai Nama Dalam Kepelbagaian No. Sumber Nama 1 18 Jun 1942 2 Asia-Raya 23 Jul 1942 Gedoeng Museum; Gedoeng Gadjah; taman pembatjaan dan perpoestakaan (bibliotheek) 3 Asia-Raya 30 Jul 1942 Perpoestakaan Moesioem; Perpoestakaan (Bibliotheek) kepoenjaan Museum 4 Asia-Raya 17 Agu 1942 Gedoeng Moesioem di Gambir Barat; Perpoestakaan dan Taman Poestaka (leeszaal) 5 Asia-Raya 25 Sep 1942 Moesioem 6 Asia-Raya 26 Sep 1942 Moesioem dan Perpoestakaan Moesioem 7 Asia-Raya 10 Okt 1942 Moesioem 8 Kan Pō 10 Okt 1942 Perpoestakaan Moesioem; Moesioem dan Perpoestakaan 9 Asia-Raya 24 Okt 1942 moesioem dan perpoestakaan 10 Tjahaja 26 Okt 1942 gedoeng artja; Gunseikanbu Haku Butsukan; Gedoeng Artja Pemerintah; Tosyo-Bu (bagian perpoestakaan) 11 Asia-Raya 16 Nov 1942 Moesioem; Hakoeboetsoe Kan (Moesioem); gedong gadjah 12 Asia-Raya 19 Nov 1942 Moesioem 13 Asia-Raya 11 Des 1942 Moesioem 14 Asia-Raya 31 Des 1942 Gedong Gadjah 15 Asia-Raya 27 Jan 1943 gedoeng Artja (Moeseoem) di Djakarta 16 Asia-Raya 18 Mar 1943 Perpoestakaan di Gedoeng Artja Djakarta 17 Asia-Raya 10 Apr 1943 Balai Perpoestakaan Moesioem 18 Asia-Raya 23 Apr 1943 gedoeng perpoestakaan dan moeseoem Gedoeng Artja 19* Asia-Raya 26 Apr 1943 gedoeng moesioem Djakarta; perpoestakaan moesioem; HAKOEBOETSOEKAN TOSJOBOE 20 Asia-Raya 28 Apr 1943 roeangan perpoestakaan; roeangan moesioem 21 Asia-Raya 7 Mei 1943 gedoeng Artja 22 Kan Pō 10 Mei 1943 Hakubutukan Tosyobu; Gedoeng Moesioem Djakarta; perpoestakaan moesioem 23 Soeara M. I. A. I. 15 Mei 1943 gedoeng moesioem Djakarta; gedong Artja 24* Asia-Raya 20 Mei 1943 Perpoestakaan Gedoeng Artja; Hakoeboetoekan Tosjoboe 25 [1943] 26 Asia-Raya 18 Jun 1943 Taman batjaan Moeseoem Djakarta; gedoeng Hakoeboetsoekan (moeseoem) Djakarta 27 Asia-Raya 29 Jul 1943 PERPOESTAKAAN „HAKOEBOETSOEKAN" DJAKARTA; perpoestakaan digedoeng „Hakoeboetsoekan" Djakarta (Perpoestakaan Moesioem); Moeseoem dan Gedoeng Kitabnja 28 Asia-Raya 11 Sep 1943 Perpoestakaan Moesioem di Gambir 29 Asia-Raya 29 Sep 1943 Moesioem 30 Asia-Raya 25 Des 1943 Gedoeng Artja Gambir Barat, Djakarta 31 Orang Indonesia jang Terkemoeka di Djawa (1944) Hakubutu-Kan 32 10 Apr 1944 33 Kan Pō 10 Jun 1944 Jalan Gedong Artja 34 Kan Pō 25 Jul 1944 Gg. Blakang Artja 35 Asia-Raya 18 Agu 1944 gedoeng Artja 36 Asia-Raya 18 Sep 1944 Gedoeng Moesioem 37 Asia-Raya 23 Sep 1944 Moesioem; taman batjaan 38 Asia-Raya 14 Okt 1944 Moesioem 39 Asia-Raya 28 Okt 1944 Gedoeng Moesioem 40 Asia-Raya 11 Nov 1944 gedoeng Moesioem 41 Asia-Raya 23 Nov 1944 gedoeng Artja (Moesioem); Gedoeng Moesioem 42 Asia-Raya 25 Nov 1944 Moesioem; perpoestakaan 43 Asia-Raya 25 Des 1944 MOESIOEM 44 Asia-Raya 10 Mar 1945 GEDOENG ARTJA; gedoeng Moesioem; Roeang Batjaan 45 Asia-Raya 10 Mei 1945 Moesioem; perpoestakaan 46 Asia-Raya 19 Mei 1945 moesioem 47 Jaarboek Kon. Bat. Gen. IX (1950) Hakabutukan Djakarta 48 Oudheidkundig Verslag 1948 (1950) Hakubutukan 49 Madjalah Ilmu-Ilmu Sastra Indonesia (1964) Hakubutsu-kan (Museum) 50 Kartoepos-Bergambar Moesioem Djakarta (serie VIII, B1 , C, dll.) Moesioem Djakarta; * tanda hubung pada kata TOSJO-BOE dan Hakoeboetoe-kan (pada teks aslinya) diasumsikan karena terpotong pada akhir baris Dari himpunan nama di atas, terlihat banyaknya cara penyebutan dan penulisan nama Perpustakaan Kon. Bat. Gen. pada masa Jepang. Namun, secara garis besar, nama-nama itu pun tersusun dari tiga unsur kata utama yang sama dengan cap, label, dan autograf buku langka, antara lain nomina inti (perpustakaan), nomina pewatas genitif (museum), dan nomina pewatas lokatif (Batavia/Jakarta). Sedangkan kata lainnya seperti Gedoeng, Balai, Roeangan, Gunseikanbu, Pemerintah, Kepoenjaan, Gambir Barat; serta sebutan lain museum dan perpustakaan yang frekuensi kemunculannya rendah seperti Gedoeng Artja, Gedoeng Gadjah, “ ” (baca: Ruma Gaja), “ ” (baca: zō no ie; arti: Rumah Gajah), Taman Pembatjaan, Taman Poestaka, Gedoeng Kitab, Bibliotheek, dan Leeszaal dapat dieliminasi terlebih dahulu. Terkait nama dalam bahasa Indonesia dan tulisan Latin, dapat ditemukan kata Perpoestakaan muncul 21 kali, Museum 3 kali, Moeseoem 5 kali, Moesioem 35 kali, dan Djakarta 12 kali. Sementara itu, kata Batavia hanya terlihat pada cap koleksi buku langka. Unsur kata nomina inti dan nomina pewatas lokatif masing-masing hanya ada satu cara penulisan saja, yaitu Perpoestakaan, Djakarta, dan Batavia, tetapi unsur kata nomina pewatas genitif memiliki tiga macam ejaan, yaitu Museum, Moeseoem, dan Moesioem, yang akan ditentukan satu saja di antaranya. Kata Museum yang berasal dari bahasa Belanda nampaknya membuat pemerintah Jepang ingin mencarikan kata penggantinya. Sebagaimana terlihat pada perubahan nama jalan Museumlaan menjadi Djalan Gedong Artja (“Djakarta Tokubetu Si Kokuzji No. 8”, 1944, Juni 10) dan nama Gang Museum menjadi Gg. Blakang Artja (“Djakarta Tokubetu Si Kokuzji No. 12”, 1944, 25 Juli). Namun, berdasarkan keputusan Komisi Bahasa Indonesia terkait kosakata baru yang disahkan, kata Museum tetap tercantum dengan ejaan Moesioem, yang diberikan pengertian sebagai gedoeng penjimpanan barang koeno (“Pengoemoeman Kepoetoesan Komisi Bahasa Indonésia”, 1944, Februari 25). Ejaan seperti Moesioem Djakarta juga dipakai dalam berbagai terbitan resmi pemerintah Jepang (Gunseikanbu), misalnya pada Kartoepos-Bergambar Moesioem Djakarta dan Kan Pō. Oleh sebab keresmian dan tingginya frekuensi penggunaan ejaan kata Moesioem pada masa itu, maka penulisan nama Perpusnas pada masa Jepang dapat disimpulkan sebagai “Perpoestakaan Moesioem Batavia”, yang kemudian berubah menjadi “Perpoestakaan Moesioem Djakarta”. Terhadap nama dalam bahasa Jepang tulisan Jepang, dari himpunan nama di atas, beserta cap, label, dan autograf pada koleksi buku langka, dapat ditemukan kata nomina inti “ ” (romanisasi Kunrei: tosyobu; romanisasi Hepburn: toshobu; harfiah: bagian perbukuan / bagian perpustakaan), “ ” (Kunrei: tosyokan; Hepburn: toshokan; harfiah: gedung perpustakaan, dengan huruf kanji lama ), “ ” (dengan huruf kanji baru “ ”); nomina pewatas genitif “ ” (Kunrei: hakubutukan; Hepburn: hakubutsukan; harfiah: gedung museum, dengan huruf kanji lama “ ”) dan “ ” (dengan huruf kanji baru “ ”); serta nomina pewatas lokatif “ ” (Batabia), “ ” (Batabiya), “ ” (Jakaruta, dengan huruf besar), “ ” (Jakaruta, dengan huruf kecil). Karena sedikitnya frekuensi kemunculan nama dalam tulisan Jepang, pemilihan kata akan didasarkan pada keresmian sumber informasi. Pemilihan kata dimulai dengan mengacu sepenuhnya pada cap dan label koleksi buku langka. Nomina inti dalam huruf Jepang terdapat pada cap dan label koleksi buku langka, yang menggunakan istilah “ ” (Kunrei: tosyobu; Hepburn: toshobu) dengan arti harfiah sebagai bagian perbukuan atau bagian perpustakaan. Sedangkan ejaan nomina pewatas genitif dapat dirujuk pada label koleksi buku langka yang menerakan “ ” (Kunrei: hakubutukan; Hepburn: hakubutsukan; dengan huruf kanji lama “ ”), yang arti harfiahnya yaitu gedung museum. Nomina pewatas lokatif yang tidak terdapat pada cap ataupun label, akan ditentukan berdasarkan buku “ ” [Panduan Wisata Moesioem Djakarta] (1943). Buku tersebut merupakan buku satu-satunya yang bersubjek tunggal tentang Moesioem Djakarta yang ditemukan dalam penelitian ini, serta diyakini sebagai terbitan Moesioem Djakarta itu sendiri. Walaupun ortografi kana (tata penulisan huruf Jepang) yang baru sudah digalakkan waktu itu (“Edjaan baroe oentoek menoelis nama-nama tempat”, 1945, Februari 19; “Tentang mendjalankan penetapan tjara menoelis nama-nama daerah dan tempat di Djawa”, 1945, Februari 25), tetapi banyak terbitan termasuk buku panduan tersebut yang masih tercetak dengan ortografi kana lama. Di dalam Panduan Wisata Moesioem Djakarta tertera nomina pewatas lokatif sebagai “ ” (Jakaruta, dengan huruf besar) dan “ ” (Batabia). Maka nama dalam bahasa Jepang tulisan Jepang, yang susunan katanya terbalik dengan bahasa Indonesia, nomina pewatas lokatif - nomina pewatas genitif - nomina inti, adalah dan (ortografi baru: dan ). Terhadap nama dalam bahasa Jepang tulisan Latin, banyaknya variasi penulisan disebabkan oleh tercampurnya beberapa sistem ejaan, yang dapat diasumsikan sebagai romanisasi Kunrei, Hepburn, dan Ophuijsen, ditambah lagi dengan tanda hubung, spasi, dan kapitalisasi yang tidak menentu. Nomina inti tertulis sebagai Tosyobu (romanisasi Kunrei), Tosyo-Bu (Kunrei dengan tanda hubung), Tosjoboe (Ophuijsen); nomina pewatas genitif: Hakubutukan (Kunrei), Hakubutu-Kan (Kunrei dengan tanda hubung, diikuti huruf “K” besar), Hakubutsu-kan (Hepburn dengan tanda hubung, diikuti huruf “k” kecil), Haku Butsukan (Hepburn dengan spasi), Hakoeboetsoekan (Ophuijsen), Hakoeboetsoe Kan (Ophuijsen dengan spasi), Hakoeboetoekan (campuran Kunrei dan Ophuijsen), dan Hakabutukan (yang ditulis keliru oleh Kempers); sedangkan nomina pewatas lokatifnya selalu mengikuti ejaan dalam bahasa Indonesia, yaitu Batavia dan Djakarta. Penentuan ejaan juga dilakukan berdasarkan keresmiannya dan mengacu sepenuhnya pada cap dan label buku langka. Nomina inti dapat ditemukan pada cap ke-1 (masih bernama Batavia) yang bertuliskan TOSYOBU, sementara nomina pewatas genitif dapat dilihat pada cap ke1 dan ke-2 (sudah berubah menjadi Djakarta) yang mencantumkan HAKUBUTU-KAN lengkap dengan tanda hubung. Kedua unsur kata tersebut menggunakan romanisasi Kunrei yang diakui oleh pemerintah Jepang saat itu, yang disebut juga Roma-zi (“Edjaan Roma-zi”, 1942, September 10). Karena kedua unsur kata yang ditemukan pada cap tersebut ditulis dengan huruf kapital secara keseluruhan, dikhawatirkan kelak akan mengakibatkan kerancuan saat mengonversinya menjadi kombinasi huruf besar dan kecil. Oleh karena itu, dengan merujuk pada ejaan dalam terbitan resmi pemerintah Jepang, seperti Kan Pō dan Orang Indonesia jang Terkemoeka di Djawa, dapat dilihat bahwa pada umumnya setelah tanda hubung juga akan diikuti huruf awal kapital. Maka, dengan menggunakan urutan tata bahasa Jepang, dapat disimpulkan nama dalam bahasa Jepang tulisan Latin adalah “Batavia Hakubutu-Kan Tosyobu” dan “Djakarta Hakubutu-Kan Tosyobu”. Mengenai pelafalannya, diterangkan dalam “Edjaan Roma-zi” (1942, September 10) bahwa huruf tu dilafalkan sebagai tsu, huruf -n pada akhir suku kata dilafalkan sebagai -ng, huruf r tidak begitu bergeletar, dan selebihnya dapat mengikuti pelafalan dalam bahasa Indonesia.
Conclusion
Selama 43 tahun sejarah Perpustakaan Nasional RI tercatat tanpa mengindahkan nama dirinya pada masa Jepang, akhirnya lengkap sudah nama tersebut direkonstruksi dalam bahasa Jepang tulisan Jepang, bahasa Jepang tulisan Latin, dan bahasa Indonesia tulisan Latin sebagai / Batavia Hakubutu-Kan Tosyobu / Perpoestakaan Moesioem Batavia, yang kemudian menjadi / Djakarta Hakubutu-Kan Tosyobu / Perpoestakaan Moesioem Djakarta. Penulisan nama yang disarankan di atas selain ditulis dengan huruf awal kapital pada tiap katanya dan tidak dimiringkan meskipun bahasa asing, sebaiknya perlu pula memperhatikan ejaan, spasi, tanda hubung, serta ortografi huruf Jepang yang lama atau baru. Dengan demikian, tiga unsur kata tersebut dapat menjadi satu kesatuan nama diri yang hanya merujuk pada Perpustakaan Kon. Bat. Gen. / Perpusnas pada masa Jepang. Penelitian ini tentu saja tidak melarang siapapun yang ingin menulis nama Perpusnas pada masa Jepang dengan caranya sendiri, selama tidak menimbulkan kekeliruan yang merujuk kepada perpustakaan lain. Tambahan pula, adanya cap dan label yang senantiasa menyertakan kata TOSYOBU dan “ ” yang berarti bahagian perpoestakaan sekaligus merefleksikan status Perpustakaan yang semakin signifikan pada masa Jepang. Hal ini kontras dengan masa Belanda sebelumnya yang menerakan Bat. Gen atau Kon. Bat. Gen. saja, tanpa menyertakan kata yang bermakna perpustakaan. Kata TOSYOBU sendiri dapat merujuk pada koleksi buku, majalah, surat kabar, dan peta yang sekarang menjadi Koleksi Langka Perpusnas, dan sekiranya agar tidak keliru dengan “ ” (Kunrei: Kosyahonbu; Hepburn: Koshahonbu; arti: bagian buku tulisan tangan kuno) yang menjadi Koleksi Naskah Nusantara Perpusnas. Supaya mempermudah peneliti lainnya, sumber referensi yang digunakan dalam penelitian ini, baik berbahasa Belanda, Jepang, maupun Indonesia sebagian besar telah dihimpun dan diterjemahkan dalam Catatan Mencari Nama Djakarta Hakubutu-Kan Tosyobu, sedangkan buku-buku yang diperoleh pada masa Jepang dapat ditelusuri dalam Senarai Buku Langka Lingkungan Kebudayaan Asia Timur (Sinosphere) jilid 5–8, yang dapat diakses oleh publik di Layanan Buku Langka Perpusnas. Walau sekadar menjawab siapakah gerangan nama Perpusnas pada masa Jepang, semoga penelitian sederhana ini dapat mengisi sedikit kekosongan sejarah Perpusnas, khususnya pada masa Jepang. Ini pun merupakan awal yang membuka persoalan berikutnya, yaitu “Apa saja yang dikerjakannya pada masa Jepang?” yang akan dibahas sebagai kelanjutan penelitian ini, dengan hipotesis bahwa berbagai kegiatan kepustakawanan yang sesuai masanya juga telah dilaksanakan.