Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial di Perpustakaan Daerah Kabupaten Purwakarta: Studi Kasus Mengenai Lipperpul (Lima Program Perpustakaan Unggulan)
Universitas Padjadjaran; Universitas Padjadjaran; Universitas Padjadjaran
Abstrak
Konsep perpustakaan berbasis inklusi sosial merupakan hal yang menarik untuk diteliti dan dipahami lebih mendalam. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi bagaimana Lipperpul (Lima Program Perpustakaan Unggulan) di Perpustakaan Daerah Kabupaten Purwakarta menghadirkan inklusi sosial. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Teknik pengumpulan data melalui observasi partisipan, wawancasa, dokumentasi, dan studi pustaka. Penelitian ini dilakukan pada 3 informan pustakawan ahli muda Perpustakaan Daerah Kabupaten Purwakarta, 1 informan pengajar kelas gitar basic di Perpustakaan Daerah Kabupaten Purwakarta, dan 2 informan masyarakat yang memanfaatkan Lipperpul. Analisis data pada penelitian melalui reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian ini menunjukkan Inklusi sosial melalui Lipperpul: transformasi sosial, pemberdayaan, dan pembelajaran sepanjang hayat,. Penelitian ini diharapkan dapat mengetahui dan memahami inklusi sosial melalui Lipperpul.
Abstract
The concept of a library based on social inclusion is an interesting thing to research and understand more deeply. This research aims to explore how Lipperpul (Five Featured Library Programs) in Purwakarta Regency Regional Library presents social inclusion. This research uses a qualitative method with a case study approach. Data collection techniques through participant observation, interviews, documentation, and literature study. This research was conducted on 3 informants of young expert librarians of Purwakarta Regency Regional Library, 1 informant of basic guitar class teacher at Purwakarta Regency Regional Library, and 2 informants of the community who utilize Lipperpul. Data analysis in the study through data reduction, data presentation, and conclusion drawing. The results of this study show social inclusion through Lipperpul: social transformation, empowerment, and lifelong learning. This research is expected to know and understand social inclusion through Lipperpul.
Keywords:
Lipperpul
· Purwakarta Regency Regional Library
· Social inclusion
· Library transformation
· Community empowerment
· Lifelong learning
· Community involvement
Introduction
Perpustakaan Daerah Kabupaten Purwakarta telah hadir sejak 1953. Berdasarkan keputusan kepala JAPERNAS Kementrian Pendidikan, Pengajaran, dan Kebudayaan pada tanggal 26 November 1953 tentang Peraturan Penyelenggaraan Perpustakaan Rakyat Jabatan Pendidikan Masyarakat untuk mendirikan Taman Pustaka Mayarakat (TMP). TMP berubah status menjadi Unit Pelaksanaan Teknis Daerah (UPTD) Perpustakaan di tahun 1990 dengan ditetapkannya Peraturan Daerah Kabupaten Purwakarta Nomor 6 Tahun 1990. kemudian UPTD Perpustakaan kembali berubah status menjadi Kantor Perpustakaan Daerah Kabupaten Purwakarta sesuai dengan Keputusan Bupati Purwakarta Nomor 4 Tahun 2000 untuk selnajutnya kembali diperkuat dengan Peraturan Daerah Kabupaten Purwakarta Nomor 11 Tahun 2008 tentang Pembentukan Lembaga Teknis Daerah. Sejak tahun 2017, Perpustakaan Daerah Kabupaten Purwakarta resmi berubah status menjadi Dinas Kearsipan Purwakarta yang berlokasi di Kawasan wisata Situ Buleud, Jalan K.K. Singawinata, Nomor 10. Perpustakaan memegang peranan penting bagi masyarakat seperti penyediaan akses ke sumber informasi, mendukung pendidikan dengan menyediakan koleksi bahan pustaka, dan pengembangan literasi. Selain itu, perpustakaan juga berperan dalam mendukung inklusi sosial. Perpustakaan Daerah Kabupaten Purwakarta juga turut mendukung inklusi sosial dengan menghadirkan Lima Program Perpustakaan Unggulan atau biasa dikenal dengan Lipperpul. Melalui Lipperpul, Perpustakaan Daerah Kabupaten Purwakarta terpilih sebagai salah satu dari Sembilan kabupaten se-Indoensia sebagai percontohan program Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial oleh Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. Berdasarkan Peraturan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia Nomor 3 Tahun 2023 tentang Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial menjelaskan bahwa “Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial adalah peningkatan peran dan fungsi perpustakaan melalui pelibatan masyarakat sebagai wahana belajar sepanjang hayat untuk meningkatkan kualitas hidup dan kesejahteraan masyarakat”. Konsep perpustakaan berbasis inklusi sosial merupakan konsep perpustakaan yang proaktif dalam membantu masyarakat untuk mengembangkan keterampilan dan kepercayaan diri sehingga segala fasilitas yang tersedia di perpustakaan dapat memungkinkan setiap individu untuk mencipta, mengakses, menggunakan, dan berbagi informasi serta pengetahuan untuk meningkatkan seluruh potensi yang mereka miliki sehingga dapat menghadirkan pembangunan berkelanjutan yang bertujuan pada peningkatan mutu hidup (Woro Titi Haryanti, 2019). Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial bertujuan untuk: a) Meningkatkan peran dan fungsi perpustakaan dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat; b)Meningkatkan kualitas layanan perpustakaan; c)Meningkatkan pemanfaatan layanan oleh masyarakat sesuai dengan kebutuhan masyarakat; d) Membangun komitmen dan dukungan pemangku kepentingan untuk Tranformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial yang berkelanjutan; e) Meningkatkan kemampuan literasi dalam mendukung pemberdayaan masyarakat (Peraturan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, 2023). Berkaitan dengan itu, Mohamad Ramdhan, Kepala Dinas Arsip dan Perpustakaan Kabupaten Purwakarta menyatakan bahawa Lipperpul bertujuan untuk meningkatkan kemampuan masyarakat sehingga mereka dapat mengubah kualitas hidupnya menjadi lebih baik. Perpustakaan Daerah Kabupaten Purwakarta memanfaatkan segala sumber daya yang dimiliki untuk menjadikan Lipperpul berkontribusi bagi masyarakat dengan menjadikan perpustakaan sebagai wahana pembelajaran sepanjang hayat dan pengembangan potensi masyarakat. Inklusi sosial telah berkembang sejak abad ke-19 dan semakin mendapatkan perhatian khusus setelah Konferensi Tingkat Tinggi World Summit for Social Development pada tahun 1995. Konsep inklusi sosial berupaya dalam merangkul semua stigma dan marginalisasi akibat dari berbagai perbedaan meliputi perbedaan agama, etnis, kondisi fisik, kondisi ekonomi, pendidikan, pilihan orientasi seksual, dan lain sebagainya yang diterima masyarakat untuk dapat bertindak secara inklusif dalam kehidupan sehari-hari. Para peneliti mengidentifikasi bahwa inklusi sosial bukan hanya solusi terhadap eksklusi sosial, tetapi juga menjadi solusi untuk pembangunan manusia yang proaktif terhadap kesejahteraan sosial serta mengakui perbedaan dan keberagaman dalam masyarakat (Saloojee & Saloojee, 2011). Saloojee (2011) menegaskan bahwa inklusi sosial meliputi valued recognition, valued participation, and valued citizenship. Inklusi sosial memiliki tiga skema bertingkat mengenai derajat inklusi sosial meliputi akses neoliberal, partisipasi dalam keadilan sosial, dan pemberdayaan potensi manusia (Gidley, J. M., Hampson, G. P., Wheeler, L, Bereded-Samuel, 2010). Interpretasi paling luas terkait inklusi sosial dilihat dari perspektif pemberdayaan potensi manusia. Berdasarkan perspektif tersebut inklusi sosial tidak hanya sekadar keadilan sosial dan hak asasi manusia, tetapi juga meliputi upaya untuk memaksimalkan potensi yang dimiliki tiap individu. Pendekatan tersebut juga menyatakan bahwa inklusi sosial sebagai pemberdayaan yang melibatkan semua individu baik yang termarjinalisasi ataupun tidak dengan menghargai perbedaan, keberagaman, dan mementingkan kolektivisme (Gidley, J. M., Hampson, G. P., Wheeler, L, Bereded-Samuel, 2010). Melalui perspektif pemberdayaan potensi manusia, inklusi sosial juga berfokus pada konsep pembelajaran sepanjang hayat dan transformasi sosial dengan tujuan perkembangan positif bagi masyarakat. Berdasarkan hal tersebut, Lipperpul menjadi program Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial yang diharapkan dapat mendukung pemberdayaan masyarakat, menjadi wahana pembelajaran sepanjang hayat, dan mewujudkan transformasi di Perpustakaan Daerah Kabupaten Purwakarta. Lipperpul terdiri dari program Getuk Lindri (Gerakan Untuk Literasi Mandiri), Maranggi (Maca Rame-rame Ngangge Digital), Simping (Sumber Informasi Melalui Pelayanan Perpustakaan Keliling), Pala Manggu (Pelayanan Hari Minggu), dan Ngala Manggu (Ngabuka Layanan Sabtu jeung Minggu). Getuk Lindri merupakan kegiatan kerja sama yang dilakukan Perpustakaan Daerah Kabupaten Purwakarta dengan berbagai pojok baca di Purwakarta. Maranggi merupakan upaya dalam peningkatan layanan perpustakaan digital baik melalui aplikasi E-Perpus Purwakarta dan pojok baca digital. Simping merupakan layanan perpustakaan keliling guna menghadirkan koleksi bahan pustaka langsung ke hadapan pemustaka. Pala Manggu memiliki konsep yang serupa dengan Simping hanya saja lokasi kegiatannya ada di tempat wisata. Ngala Manggu merupakan kegiatan tetap membuka layanan Perpustakaan Daerah Kabupaten Purwakarta di akhir pekan. Lima program tersebut hendaknya menjadi program yang mendukung pemberdayaan masyarakat, pembelajaran sepanjang hayat, dan transformasi sosial. Jika begitu, Lipperpul dapat menjadi program yang secara harfiah benar mendukung inklusi sosial. Lipperpul perlu menjadi program yang inklusif karena dengan begitu Perpustakaan Daerah Kabupaten Purwakarta dapat berperan lebih besar dalam menciptakan masyarakat yang berpengetahuan luas, sejahtera, berdaya, dan memastikan bawa semua individu dapat berpartisipasi dan memanfaatkan layanan perpustakaan yang disediakan. Dengan demikian, peneliti tertarik untuk meneliti mengenai inklusi sosial melalui Lipperpul di Perpustakaan Daerah Kabupaten Purwakarta. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui inklusi sosial melalui pelaksanaan Lipperpul diharapkan melalui penelitian ini dapat memberikan manfaat untuk pengembangan kajian perpustakaan berbasis inklusi sosial.
Method
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus dengan tujuan untuk mengetahui inklusi sosial dalam pelaksanaan Lipperpul di Perpustakaan Daerah Kabupaen Purwakakarta. Subjek dalam penelitian ini adalah berbagai pihak yang ikut terlibat dalam pelaksanaan Lipperpul baik dari internal Perpustakaan Daerah Kabupaten Purwkaarta maupun pihak eksternal. Objek penelitian ini adalah Lipperpul yang meliputi Getuk Lindri, Simping, Maranggi, Pala Manggu, dan Ngala Manggu. Penelitian ini menggunakan enam informan yang dipilih berdasarkan teknik purposives sampling dengan kriteria yang telah ditetapkan. Kriteria tersebut ialah pihak yang merencanakan dan/atau mengerti serta ikut serta dalam pelaksanaan Lipperpul di Perpustakaan Daerah Kabupaten Purwakarta. Jenis dan sumber data yang digunakan dalam penelitian ini meliputi sumber data primer dan sekunder. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini melalui wawancara terstruktur, observasi partisipan, dokumentasi, dan studi pustaka. Data selanjutnya diuji kredibilitasnya melalui teknik triangulasi sumber. Sebelum data disajikan, data dianalisis menggunakan model Miles dan Huberman melalui tiga tahapan yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan sehingga pembaca dapat memamahi hasil penelitian dengan lebih mudah.
Result
Program Lipperpul Perpustakaan Daerah Kabupaten Purwakarta Perpustakaan Daerah Kabupaten Purwakarta melaksanakan lima program untuk mendukung program Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial oleh Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. Berdasarkan hasil wawancara dan observasi yang peneliti lakukan di lapangan, berikut kegiatan yang dilaksanakan: 1. Getuk Lindri (Gerakan Literasi untuk Mandiri) Getuk Lindri merupakan program kerja sama antara Perpustakaan Daerah Kabupaten Purwakarta dengan berbagai pojok baca di daerah Purwakarta. Kerja sama yang dilakukan meliputi hibah koleksi bahan pustaka, peminjaman koleksi bahan pustaka, dan pengadaan kegiatan kreatif dengan tujuan untuk merangsang ketertarikan masyarakat dalam memanfaatkan pojok baca. Harapannya Getuk Lindri dapat menjadi program yang meningkatkan kemampuan literasi masyarakat. 2. Maranggi (Maca Rame-rame Ngangge Digital) Maranggi merupakan pengembangan layanan perpustakaan berbasis teknologi. Perpustakaan Daerah Kabupaten Purwakarta menghadirkan aplikasi perpustakaan digital E-Perpus Purwakarta dengan tujuan memudahkan masyarakat dalam mengakses berbagai koleksi digital yang telah disediakan tanpa ada batasan ruang dan waktu. E-Perpus Purwakarta memiliki ribuan koleksi dengan berbagai subjek. 3. Simping (Sumber Informasi melalui Pelayanan Perpustakaan Keliling) Simping merupakan program perpustakaan keliling. Perpustakaan Daerah Kabupaten Purwakarta berkomitmen untuk menyediakan layanan seluas mungkin sehingga akan lebih banyak masyarakat yang dapat memanfaatkan layanan perpustakaan. Simping bertujuan untuk memperluas akses masyarakat terhadap berbagai sumber informasi terutama bagi masyarakat yang sulit menjangkau Perpustakaan Daerah Kabupaten Purwakarta. 4. Ngala Manggu (Ngabuka Layanan Sabtu jeung Minggu) Ngala Manggu adalah program dimana Perpustakaan Daerah Kabupaten Purwakarta tetap membuka layanan perpustakaan di akhir pekan. Ngala Manggu menjadi salah satu strategi untuk meningkatkan pelayanan informasi untuk senantiasa memenuhi kebutuhan informasi masyarakat. Perpustakaan Daerah Kabupaten Purwakarta menyadari bahwa banyak masyarakat yang tidak dapat memanfaatkan perpustakaan selain di akhir pekan. Maka dari itu Ngala Manggu bertujuan untuk memenuhi dan memperluas kebutuha informasi masyarakat terutama para pekerja dan pelajar. Melalui Ngala Manggu, masyarakat tidak hanya dapat memanfaatkan koleksi bahan pustaka, tetapi juga berbagai fasilitas lain yang disediakan seperti ruang auditorium. Perpustakaan Daerah Kabupaten Purwakarta juga mengadakan kelas pelatihan masyarakat di akhir pekan dengan tujuan agar masyarakat dapat meningkatkan keterampilan dan pengetahuan. 5. Pala Manggu (Pelayanan Hari Minggu) Pala Manggu adalah program perpustakaan keliling di hari Minggu yang berlokasi di area wisata Taman Air Mancur Sri Baduga. Tujuan hadirnya armada perpustakaan keliling di area tersebut diharapkan dapat meningkatkan minat baca masyarakat. selain itu, Pala Manggu juga bertujuan untuk meningkatkan literasi masyarakat dengan cara memberikan akses yang terbuka bagi masyarakat untuk memanfaatkan koleksi bahan pustaka. Inklusi Sosial Melalui Lipperpul Pada hasil penelitian ini, dikemukakan hal-hal mengenai inklusi sosial melalui pelaksanaan Lipperpul di Perpustakaan Daerah Kabupaten Purwakarta. Peneliti memberikan gambaran terkait inklusi sosial dengan menggunakan teori inklusi sosial dilihat dari perspektif pemberdayaan potensi manusia. Dalam perspektif tersebut, inklusi sosial merupakan upaya untuk memaksimalkan potensi setiap individu dengan cara mendukung social transformation, empowerment, dan lifelong learning (Gidley, J. M., Hampson, G. P., Wheeler, L, Bereded-Samuel, 2010). Perpustakaan memiliki peran besar dalam menciptakan inklusi sosial. Berdasarkan hasil wawancara dengan pustakawan ahli muda penanggungjawab program TPBIS di Perpustakaan Daerah Kabupaten Purwakarta, Ibu Ritta Utami bahwa: “Konsep perpustakaan berbasis inklusi sosial artinya menyediakan layanan yang terbuka untuk semua masyarakat tanpa memilah-milah berdasarkan gender, agama, ataupun ras. Perpustakaan Daerah Kabupaten Purwakarta harus menjadi lembaga yang menyediakan layanan yang terbuka untuk semua dan berbagai kegiatan yang dilaksanakan tidak terdikotomi oleh satu kelompok tertentu, tetapi beraneka ragam sesuai dengan kebutuhan pemustaka dan memberikan efek positif.” (Wawancara Bu Ritta, 2024) 1. Transformasi sosial melalui Lipperpul Berdarkan hasil penelitian, dasar dari transformasi perpustakaan melaksanakan Lipperpul berdasar pada Peraturan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia Nomor 3 Tahun 2023 Tentang Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial. “Lipperpul termasuk program Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial yang tertuang dalam RPJMN tahun 2018-2023 dan menjadi salah satu program unggulan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. Dari situlah terdapat perubahan dan perluasan layanan perpustakaan, sementara Perpustakaan Daerah Kabupaten Purwakarta mereplikasi program TPBIS sejak 2020 di bawah tanggung jawab bidang layanan dan otomasi Perpustakaan Daerah Kabupaten Purwakarta. Dalam pelaksanaannya kami (Perpustakaan Daerah Kabupaten Purwakarta) berpedoman pada pedomana umum TPBIS dan yang terbaru ditambah oleh Perka Perpustakanaa Nasional Nomor 3 Tahun 2023.” (Wawancara Bu Ritta, 2024). Dengan adanya peraturan tersebut, perpustakaan diharuskan untuk meningkatkan peran dan fungsi perpustakaan melalui pelibatan masyarakat sebagai wahana belajar sepanjang hayat sehingga masyarakat dapat meningkatkan kualitas hidup dan kesejahterannya. Perubahan peran dan fungsi perpustakaan merujuk pada kapasitas perpustakaan yang tidak hanya menjadi lembaga pusat informasi, tetapi juga menjadi pusat aktivitas dan pemberdayaan bagi masyarakat. Gambar 1 Perubahan Strategi Layanan TPBIS Sumber: Perpusnas RI Dengan adanya peraturan tersebut sebagai dasar transformasi perpustakaan, maka Perpustakaan Daerah Kabupaten Purwakarta melakukan beragam perubahan untuk mendukung terlaksananya program Lipperpul. Perubahan tersebut meliputi peningkatan layanan informasi seperti memperbaiki fasilitas, sarana, dan prasarana Perpustakaan Daerah Kabupaten Purwakarta serta melakukan perubahan untuk meningkatkan kompetensi SDM (sumber daya manusia) Perpustakaan Daerah Kabupaten Purwakarta. Berdasarkan hasil penelitian, memperbaiki fasilitas, sarana, dan prasarana ditunjukkan dengan dibangunnya ruang auditorium pada tahun 2023, memperbarui koleksi bahan pustaka satu tahun sekali, meningkatkan kecepatan akses internet, mempernyaman ruang baca, menghadirkan armada perpustakaan keliling, dan memanfaatkan teknologi dengan cara menghadirkan aplikasi perpustakaan digital E-Perpust Purwakarta. Peningkatan layanan informasi tersebut ditujukkan untuk mendukung keberhasil program Lipperpul. Gambar 2 Ruang Auditorium Perpusda PWK Sumber: Peneliti (2024) Selain peningkatan layanan informasi, Perpustakaan Daerah Kabupaten Purwakarta juga melakukan transformasi dengan cara peningkatan kompetensi SDM. SDM Perpustakaan Daerah Kabupaten Purwakarta diberikan beragam pelatihan seperti BIMTEK dan sosialisasi terkait TPBIS sehingga mereka mengalami perubahan ide dan nilai terkait program TPBIS. “Perpustakaan Dearah Kabupaten Purwakarta pernah mengadakan pelatihan public speaking, pelatihan tersebut berguna sehingga kami memiliki kemampuan untuk melakukan pendekatan dan beradaptasi untuk menghadapi berbagai masyarakat. itu juga menjadi upaya untuk mendukung inklusi sosial.” (Wawancara Bu Ritta, 2024) Perubahan ide dan nilai perpustakaan tercermin dari hadirnya Lipperpul sebagai program dengan layanan yang berorientasi pada masyarakat untuk meningkatkan pemberdayaan dan kesejahteraan mereka. Lipperpul hadir disesuaikan dengan kebutuhan dan minat masyarakat. “Lipperpul itu juga mencakup kelas pelatihan masyarakat, kelas itu kita sesuaikan dengan kebutuhan dan preferensi masyarakat. Kami (Perpustakaan Daerah Kabupaten Purwakarta) mengadakan kelas merajut, itu berawal dari saran pemustaka juga. Selain itu, kami juga selalu merangkul semua masyarakat, siapapun baik laki-laki atau perempuan boleh mengikuti kelas merajut ini. Perubahannya terlihat dari situ, menyediakan program yang sesuai dengan keinginan dan terbuka untuk semua kalangan.” (Wawancara Bu Ritta, 2024) Perpustakaan Dearah Kabupaten Purwakarta berproses untuk melakukan perubahan paradigma dan prinsip dasar pelaksanaan kegiatan perpustakaan. Perpustakaan kini harus secara nyata menjadi pusat aktivitas dan pemberdayaan masyarakat sehingga Perpustakaan Daerah Kabupaten Purwakarta harus memastikan bahwa tiap layanan yang dilakukan sudah inklusif dan relevan bagi semua lapisan masyarakat. Transformasi yang terjadi juga meliputi perubahan pola pikir dan budaya kerja. Dalam melaksanakan Lipperpul, Perpustakaan Daerah Kabupaten Purwakarta menyadari pentingnya kolaborasi dengan berbagai pihak seperti OPD, lembaga swasta, ataupun komunitas. Seperti yang dikemukakan oleh Kepala Dinas Arsip dan Perpustakaan Kabupaten Purwakarta, Pak Asep, bahwa: “Untuk menjalankan transformasi, perpustakaan perlu melakukan kerjasama dengan menyasar OPD (Organisasi Perangkat Daerah) yang ada kaitannya dengan kegiatan keperpustakaan. Kemudian juga kami menggandeng pemerintah kecamatan, pemerintas desa, dan beragam komunitas yang konsen pada literasi.” (Wawancara Pak Asep, 2023) Dengan adanya berbagai perubahan tersebut terjadilah perubahan paradigma perpustakaan. Perubahan tersebut meliputi perubahan pandangan terkait peran perpustakaan yang kini menjadi pusat aktivitas untuk mendukung pengembangan keterampilan masyarakat. Hal tersebut sesuai dengan pernyataan peserta kelas gitar basic di Perpustakaan Daerah Kabupaten Purwakarta, Bu Astria yaitu: “Saya merasakan adanya perubahan pandangan terhadap Perpustakaan Daerah Kabupaten Purwakarta. Saya merasakan sendiri bahwa Perpustakaan Daerah Kabupaten Purwakarta sekarang tidak hanya menjadi tempat membaca, tetapi juga menjadi tempat untuk praktik. Pihak Perpustakaan Daerah Kabupaten Purwakarta menyediakan tempat untuk belajar, melakukan berbagai kegiatan, dan disediakan berbagai kelas pelatihan.” (Wawancara Bu Astria Muncan, 2023) Gambar 3 Dokumentasi Kelas Gitar Basic Sumber: Peneliti (2023) 2. Pemberdayaan melaui Lipperpul Berdasarkan hasil penelitian, Lipperpul mendukung pemberdayaan masyarakat dengan cara: “Bentuk pemberdayaan melalui Lipperpul ini dimulai dengan meningkatkan kemudahan masyarakat dalam memperoleh bahan bacaan. Akses masyarakat terhadap informasi menjadi hal yang penting. Setelah kemudahan akses itu didapatkan barulah diharapkan terjadi pemberdayaan.” (Wawancara Bu Ritta, 2024). Berdasarkan hasil penelitian, Perpustakaan Daerah Kabupaten Purwakarta menyadari bahwa akses ke sumber informasi yang merata bagi masyarakat memainkan peran krusial dalam meningkatkan pemberdayaan. Hal tersebut terjadi karena dengan akses informasi yang merata setiap masyarakat memiliki kesempatan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan, Pengetahuan dan keterampilan yang meningkatkan menjadikan individu dan komunitas mampu meningkatkan kualitas hidup mereka dan juga meningkatkan rasa percaya diri. a) Pemberdayaan melalui Maranggi Berdasarkan hasil penelitian, Maranggi merupakan layanan perpustakaan digital melalui aplikasi E-Perpus Purwakarta. E-Perpus Purwakarta berupaya untuk memberikan akses sumber informasi yang terbuka dan merata bagi setiap lapisan masyarakat tanpa batasan jarak dan waktu. Hal tersebut sesuai dengan tagline aplikasi E-Perpus Purwakarta yaitu “Perpustakaan di ujung jarimu, di manapun, dan kapanpun!”. Gambar 4 Aplikasi E-Perpus Purwakarta Sumber: Peneliti (2024) E-Perpus Purwakarta memiliki ribuan koleksi digital dengan subjek yang beragam. Berdasarkan hasil wawancara dengan PIC (People in Charge) program Maranggi, Pak Imadudin, menyatakan bahwa: “Adanya aplikasi E-Perpus Purwakarta ini untuk kemudahan akses masyarakat terutama masyarakat kelas jauh dan kelas karyawan. Biasanya mereka kan kesulitan, ya, untuk datang langsung memanfaatkan perpustakaan konvensional. Makanya hadir aplikasi perpustakaan digital, jadi mereka tetap bisa memanfaatkan layanan perpustakaan tanpa perlu datang ke sini (Perpustakaan Daerah Kabupaten Purwakarta). Kelas jauh itu juga maksudnya masyarakat yang tidak bisa datang langsung ke perpustakaan karena masalah jarak, jadi mereka bisa mengakses dari mana saja misalnya dari pedesaan. Aplikasi e-perpus ini tidak terbentur oleh jarak dan waktu lah, jadi masyarakat semua bisa mengakses.” (Wawancara Pak Imad, 2024). Maranggi mendukung pemberdayaan masyarakat dengan menyediakan buku elektronik yang dapat masyarakat akses di mana saja dan kapan saja, berdasar dari koleksi di E-Perpus Purwakarta yang mereka manfaatkan diharapkan mereka memiliki kemampuan untuk mengembangkan potensi yang mereka miliki sehingga mereka dapat berdaya. Maranggi juga kegiatan yang dilakukan untuk mendukung program pemberdayaan yang dilaksanakan melalui akses ke koleksi sumber bacaan digital bagi masyarakat. Selain itu, koleksi buku elektronik yang disediakan melalui Maranggi juga dimanfaatkan sebagai materi tambahan dalam kelas pelatihan keterampilan. “Kalau Perpustakaan Daerah Kabupaten Purwkarta itu kan menyediakan pemberdayaan melalui pengadaan pelatihan-pelatihan di desa-desa. Nah, Maranggi itu mendukungnya melalui penyediaan bahan pembelajaran. Itu kan beberapa bahan pembelajaran mengambil koleksi di E-Perpus Purwakarta. Misalnya saja dari kelas merajut di Pondok Salam, merajut itu juga melihat dari buku-buku yang disediakan melalui Maranggi. Selain dari narasumber, referensinya juga dari koleksi buku digital. Untuk pengembangan selanjutnya saja.” (Wawancara Pak Imad, 2024). b) Pemberdayaan melalui Getuk Lindri Perpustakaan Daerah Kabupaten Purwakarta berupaya meningkatkan pemberdayaan melalui peningkatan akses informasi masyarakat. Getuk Lindri meningkatkan akses informasi yang merata bagi masyarakat melalui kehadiran pojok baca. Perpustakaan Daerah Kabupaten Purwakarta umumnya memiliki perhatian lebih pada pojok baca yang berlokasi jauh dari pusat kota seperti di Kecamatan Kiara Pendes, Pondok Salam, Tegalwaru, Cadaswarari, dan berbagai kecamatan lainnya. Dengan hadirnya Getuk Lindri masyarakat yang mengalami kesulitan akses ke Perpustakaan Daerah Kabupaten Purwakarta tetap bisa memanfaatkan fasilitas perpustakaan sehingga kebutuhan informasinya tetap terpenuhi. Perpustakaan Daerah Kabupaten Purwakarta memperhatikan setiap pojok baca memiliki koleksi yang beragam. Dengan keberagaman koleksi diharapkan masyarakat dapat memperluas wawasan dan pengetahuan dalam berbagai bidang. Salah satu pojok baca di Purwakarta yaitu Pukinas Corner yang berlokasi di Jalan Mawar II Nomer 32 RT. 81/RW. 07, Nagri Kaler, Purwakarta menyediakan berbagai jenis koleksi mulai dari koleksi fiksi seperti novel dan tersedia pula koleksi nonfiksi. Tersedianya koleksi yang beragam diharapakn dapat meningkatkan minat baca masyarakat karena Getuk Lindri menyediakan lingkungan yang mendukung masyarakat untuk membaca. Dengan meningkatkan minat membaca, masyarakat dapat memperluas pengetahuan dan wawasannya. Pengetahuan dan wawasan yang dimiliki masyarkat dari hasil membaca menjadi landasan pemberdayaan masyarakat. Dengan pengetahuan dan wawasan yang diperoleh masyarakat dapat mengembangkan keterampilan sehingga dapat meningkatkan kualitas hidupnya. Gambar 5 Dokumentasi Pukinas Corner Sumber: Pemiliki Pukinas Corner Gambar 6 Dokumentasi Kegiatan Mewarnai di Pukinas Corner Sumber: Pemilik Pukinas Corner Selain mendukung pemberdayaan dengan meningkatkan akses informasi masyarakat, Getuk Lindri juga berperan menciptakan ruang untuk meningkatkan partisipasi masyarakat melalui kegiatan kreatif salah satunya adalah melakukan kegiatan yang mendukung kreativitas masyarakat. Seperti yang terjadi di Pukinas Corner dimana pojok baca tersebut dimanfaatkan untuk melakukan kegiatan kreatf menggambar untuk anak-anak. c) Pemberdayaan melalui Simping dan Pala Manggu Simping dan Pala Manggu merupakan program yang serupa yaitu layanan perpustakaan keliling. Perbedaannya terletak di waktu layanan, Simping beroperasi di hari Senin hingga Jumat sementara Pala Manggu melakukan layanan di hari Minggu. Dua program tersebut berkontribusi pada pemberdayaan melalui peningkatan akses informasi yang merata dengan cara mendatangkan langsung berbagai koleksi bahan pustaka ke hadapan masyarakat. Sejauh ini, Perpustakaan Daerah Kabupaten Purwakarta memiliki tiga armada perpustakaan keliling. Pada tahun 2024, Simping banyak melakukan layanan di berbagai jenjang tingkatan sekolah. “Program Simping lebih sering berkunjung ke berbagai sekolah, tetapi kami juga mengadakan kunjungan ke berbagai desa dan berbagai komunitas. Simping sejauh ini sudah berkeliling ke berbagai sekolah mulai dari SD, SMP, SMA, bahkan pondok pesantren.” (Wawancara Bu Emma Hermawati, 2023) Gambar 7 Program Simping di SMP N 6 Darangdan Sumber: Perpustakaan Daerah Kabupaten Purwakarta (2024) Berdasarkan hasil penelitian, berikut data terkait rekap informasi pelaksanaan Tabel 1. Lokasi Layanan Simping di Perpustakaan Daerah Kabupaten Purwakarta Tanggal Kegiatan Simping Lokasi Kegiatan Simping 8 Januari 2024 SMAN 1 Plered 9 Januari 2024 SDN 2 Wanayasa 10 Januari 2024 SMPN 2 Bojong 11 Januari 2024 MI Darul Falah Kiarapedes 12 Januari 2024 SMPN 2 Darangdan 15 Januari 2024 SMP IKADI Tegalwaru dan SMAN 1 Bungursari 16 Januari 2024 SMP IBS Enterpreuneur Kiai Demak dan SMKN 1 Maniis 17 Januari 2024 SMPN 1 Sukatani dan SMPN 3 Cibatu 18 Januari 2024 SMPN 1 Sukasari dan SMKN 3 Linggabuana 19 Januari 2024 MAN Purwakarta dan SDN Babakansari 22 Januari 2024 SMP SATAP Negeri 5 Jatiluhur dan SDN 2 Nagreg 23 Januari 2024 SMPN 6 Darangdan dan MTsN 3 Purwakarta 24 Januari 2024 SMPN 2 Campaka dan MI Al-Hidayah Kiarapedes 25 Januari 2024 SMAN 1 Babakancikao dan Ponpes Nuurudzholaam Bungursari 26 Januari 2024 Gedung Creative Center Purwakarta Sumber: Perpustakaan Daerah Kabupaten Purwakarta (2024) Sementara Pala Manggu meningkatkan akses informasi masyarakat dengan cara menghadirkan koleksi bahan pustaka ke masyarakat di lokasi layanan yang strategis. Pala Manggu juga menjadi solusi untuk mengatasi keterbatasan masyarakat yang tidak bisa datang langsung ke Perpustakaan Daerah Kabupaten Purwakarta. Selain itu armada Pala Manggu juga menyediakan aneka ragam koleksi mencakup koleksi dengan berbagai topik untuk berbagai kalangan. Keanekaragaman koleksi yang dibawa dapat mengakomodasi beragam minat dan kebutuhan pembaca dari berbagai kelompok masyarakat. Gambar 8 Dokumentasi Pelaksanaan Pala Manggu Sumber: Perpustakaan Daerah Kabupaten Purwakarta (2023) d) Pemberdayaan melalui Ngala Manggu Selayaknya program Lipperpul lainnya Ngala Manggu mendukung pemberdayaan dengan menjadi program yang dapat memberikan kesempatan bagi masyarakat untuk tetap dapat memperoleh akses dan memanfaatkan berbagai fasilitas dan layanan di Perpustakaan Daerah Kabupaten Purwakarta. “Ngala Manggu memberikan akses yang lebih luas kepada masyarakat yang memiliki jadwal padat selama hari kerja, Ngala Manggu memberikan kesempatan bagi mereka untuk tetap dapat mengakses dan memanfaatkan berbagai sumber daya di Perpustakaan Daerah Kabupaten Purwakarta. Dengan begitu Ngala Manggu dapat menarik dan menjangkau berbagai kelompok masyarakat untuk memanfaatkan perpustakaan, sehingga Perpustakaan Daerah Kabupaten Purwakarta menjadi terbuka untuk semua.” (Wawancara Bu Ritta, 2024). Selain tetap membuka layanan perpustakaan di akhir pekan, Ngala Manggu juga menghadirkan berbagai kelas pelatihan untuk masyarakat. Berdasarkan hasil penelitian, Perpustakaan Daerah Kabupaten Purwakarta telah mengadakan berbagai kelas pelatihan untuk masyarakat sejak September 2020. Tabel 2. Daftar Kelas Pelatihan di Perpustakaan Daerah Kabupaten Purwakarta No Kelas Pemberdayaan Masyarakat yang Dilaksanakan 1. Kelas Merajut 2. Kelas Menulis Artikel 3. Kelas Menulis Puisi 4. Kelas Bahasa Korea 5. Kelas Bahasa Inggris Tingkat SD 6. Kelas Bahasa Korea Batch 2 7. Kelas Bahasa Korea Batch 3 8. Kelas Bahasa Korea Batch 4 9. Kelas Bahasa Inggris untuk Pelajar SD, SMP, dan SMA 10. Kelas Public Speaking 11. Kelas Bahasa Korea Batch 5 12. Kelas Merajuut Batch 2 13. Kelas Matematika untuk Pelajar SD Kelas 4, 5, dan 6 14. Kelas Bahasa Jepang 15. Kelas Pelatihan Pemulasaran Jenazah 16. Kelas Bahasa Korea Batch 6 17. Kelas Gitar Basic 18. Kelas Gitar Basic Batch 2 19. Kelas Bahasa Jepang Batch 2 Sumber: Perpustakaan Daerah Kabupaten Purwakarta (2024) Gambar 9 Dokumentasi Peserta Kelas Gitar Basic Sumber: Peneliti (2024) 3. Pembelajaran sepanjang hayat melalui Lipperpul Berdasarkan penelitian, Lipperpul memaknai pembelajaran sepanjang hayat sebagai: “Kami (Perpustakaan Daerah Kabupaten Purwakarta memaknai pembelajaran sepanjang hayat sebagai penyediaan layanan yang tidak membatasi usia pengunjung atau anggota perpustakaan. Semua lapisan masyarakat, baik itu dari anak-anak, remaja, orang tua, hingga lansia, mangga (silakan) mengunjungi perpustakaan untuk memanfaatkan layanan yang telah disediakan oleh perpustakaan.” (Wawancara Bu Ritta, 2024) Lipperpul berkontribusi untuk mendukung pembelajaran sepanjang hayat dengan cara menyediaan beragam fasilitas berguna bagi kemudahan masyarakat untuk terus belajar, mengembangkan pengetahuan dan potensi masyarakat. a) Pembelajaran sepanjang hayat melalui Maranggi Maranggi mendukung pembelajaran sepanjang hayat dengan menyediakan akses ke berbagai koleksi buku elektronik tanpa batasan ruang dan waktu yang dapat mendukung proses pembelajaran sepanjang hayat. Perpustakaan Daerah Kabupaten Purwakarta memanfaatkan aplikasi perpustakaan digital untuk memperluas akses masyarakat ke berbagai jenis bahan bacaan sebagai upaya menjadikan Perpustakaan Daerah Kabupaten Purwakarta sebagai pusat belajar sepanjang hayat. “Dalam upaya mendukung pembelajaran sepanjang hayat bagi masyarakat, Maranggi berperan sebagai program yang mendukung dari segi penyediaan sarana dan prasarana. Istilahnya sebagai penunjang.”(Wawancara Pak Imad, 2024) Seperti yang telah disebutkan sebelumnya bahwa pembelajaran sepanjang hayat merupakan sebuah konsep dimana individu tanpa terkecuali dapat belajar dan mengembangkan keterampilan tanpa ada batasan dalam segi apapun. Maka dari itu, Maranggi menghadirkan kemudahan akses informasi untuk mendukung proses pembelajaran sepanjang hayat seluruh lapisan masyarakat. Selain itu, untuk mendukung pembelajaran sepanjang hayat Maranggi juga menyediakan koleksi buku elektronik yang beragam untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Keberagaman koleksi di e-Perpus PWK merupakan wujud komitmen Perpustakaan Daerah Kabupaten Purwakarta untuk memenuhi berbagai kebutuhan informasi dan minat masyarakat Purwakarta sehingga kehadiran e-Perpus PWK dapat relevan dan bermanfaat bagi masyarakat. E-Perpus PWK juga dapat mendorong pembelajaran. b) Pembelajaran sepanjang hayat melalui Getuk Lindri Berdasarkan hasil penelitian, Getuk Lindri memainkan peran dalam mendukung pembelajaran sepanjang hayat bagi masyarakat dengan mendekatkan masyarakat ke berbagai sumber bacaan sehingga masyarakat memiliki ruang untuk mengembangkan pengetahuan dan kesempatan untuk belajar beragam topik melalui koleksi dan kegiatan kreatif yang dilaksanakan di pojok baca. Dengan tujuan tersebut, berbagai lapisan masyarakat dapat memanfaatkan layanan perpustakaan salah satunya adalah layanan ke akses berbagai koleksi bahan pustaka. Getuk Lindri menjadikan masyarakat yang tidak memiliki atau sulit akses menuju ke Perpustakaan Daerah Kabupaten Purwakarta menjadi lebih mudah dalam mengakses koleksi bahan bacaan sehingga kebutuhan informasinya terpenuhi. Perpustakaan Daerah Kabupaten Purwakarta selalu berupaya untuk menyediakan koleksi yang beragam demi memenuhi kebutuhan beragam informasi masyarakat. Koleksi yang beragam membantu masyarakat untuk dapat mengakses informasi dari berbagai sumber dan dapat memperluas wawasan masyarakat dalam berbagai bidang. Hal tersebut sesuai dengan pernyataan PIC Getuk Lindri, Bu Emma: “Kami (Perpustakaan Daerah Kabupaten Purwakarta selalu mendukung pembelajaran sepanjang hayat, Getuk Lindri itu hadir untuk mendukung itu. Dengan kita mendekatkan masyarakat ke bahan bacaan lalu kita menyediakan beragam bahan bacaan walaupun dalam penyediaannya masih banyak kekurangan. Namun, kami berusaha semaksimal mungkin menyediakan koleksi-koleksi yang beragam untuk mendukung pembelajaran sepanjang hayat bagi masyarakat. Agar koleksi yang disediakan semakin beragam, salah satu cara yang kita lakukan adalah menerima bantuan dari provinsi seperti pinjaman atau hibah koleksi. Terkadang kita juga menerima hibah buku dari masyarakat atau komunitas.” (Wawancara Bu Emma, 2023). c) Pembelajaran sepanjang hayat melalui Simping dan Pala Manggu Berdasarkan hasil penelitian, program Simping dan Pala Manggu juga menjadi program yang mendukung pembelajaran sepanjang hayat bagi masyarakat. Sama seperti program Lipperpul lainnya, Simping dan Pala Manggu mendukung pembelajaran sepanjang hayat bagi masyarakat dengan menyediakan dan memudahkan akses masyarakat ke berbagai sumber informasi atau bahan bacaan. “Simping dan Pala Manggu itu kan layanan perpustakaan keliling, layanan tersebut menjadi alat untuk menyasar masyarakat untuk mendukung pembelajaran sepanjang hayat. Misalnya ada yang merasa kalau ke perpustakaan daerah itu terlalu jauh, maka itu kita hadirkan lewat Simping dan Pala Manggu.” (Wawancara Bu Ritta, 2024). Perpustakaan Daerah Kabupaten Purwakarta menyatakan bahwa untuk mendukung pembelajaran sepanjang hayat di masyarakat harus memperhatikan setiap lapisan masyarakat terutama masyarakat yang rentan atau mengalami kesulitan untuk datang langsung memanfaatkan layanan dan fasilitas yang disediakan oleh Perpustakaan Daerah Kabupaten Purwakarta. d) Pembelajaran sepanjang hayat melalui Ngala Manggu Ngala Manggu menjadi program yang dalam pelaksanaannya diprioritaskan untuk mendukung pembelajaran sepanjang hayat bagi masyarakat. Ngala Manggu mendukung pembelajaran sepanjang hayat bagi masyarakat dengan menjadi program yang menyediakan layanan perpustakaan di akhir pekan sehingga Perpustakaan Daerah Kabupaten Purwakarta dapat memperluas penyediaan akses masyarakat ke berbagai informasi. “Bentuk pembelajaran sepanjang hayat yang terlihat dari program Ngala Manggu itu dari siapa saja bisa berkunjung dan telah memanfaatkan layanan yang telah disediakan termasuk bagi mereka yang sebelumnya tidak dapat memanfaatkan layanan di hari kerja seperti para karyawan dan pelajar.” (Wawancara Bu Ritta, 2024) Ngala Manggu juga mendukung pembelajaran sepanjang hayat dengan menyediakan tempat belajar yang kondusif bagi masyarakat. Selain dari segi beragam koleksi yang disediakan, Perpustakaan Daerah Kabupaten Purwakarta juga memperhatikan sarana dan prasarana untuk mendukung kenyamanan proses belajar masyarkat. Gambar 10 Dokumentasi Kondisi Ruang Baca Perpustakaan Daerah Kabupaten Purwakarta Sumber: Peneliti (2024) Ngala Manggu juga mendukung pembelajaran sepanjang hayat dengan menyediakan menghadirkan beragam kelas pelatihan yang bisa dimanfaatkan oleh seluruh lapisan masyarakat. Dengan begitu Ngala Manggu mendukung pembelajaran sepanjang hayat dengan menciptakan kesempatan bagi setiap individu untuk mengakses sumber informasi melalui penyediaan beragam koleksi bahan pustaka, menyediakan tempat bagi masyarakat untuk belajar, dan mengembangkan keterampilan untuk mendukung potensi masyarakat guna meningkatkan kualitas hidup masyarakat
Discussion
Inklusi Sosial Melalui Lipperpul Perpustakaan dapat menjadi lembaga yang mendukung inklusi sosial. Perpustakaan berbasis inklusi sosial merupakan konsep perpustakaan yang diperbarui dan proaktif sehingga dapat membantu individu dan komunitas dalam mengembangkan keterampilan, kepercayaan diri, dan jaringan sosial. Perpustakaan diharapkan berperan menjadi jantung komunitas yang dapat menyediakan layanan untuk semua orang tanpa memandang usia atau latar belakang sosial sehingga mereka memiliki akses terhadap informasi, pengetahuan, dan layanan seluas mungkin (Department for Culture, Media, 1999). 1) Transformasi sosial melalui Lipperpul Menurut Alexander (1987) dalam Pakilaran (2006) menyatakan bahwa transformasi merujuk pada perubahan yang terjadi secara perlahan dan tergantung pada faktor yang mempengaruhinya, perubahan yang terjadi meliputi perubahan baik fisik maupun nonfisik. Berdasarkan hasil penelitian, Perpustakaan Daerah Kabupaten Purwakarta juga melakukan perubahan dalam pelaksanaan program Lipperpul. Disebutkan juga bahwa dalam transformasi sosial terdapat hubungan sebab akibat dari terjadinya perubahan tersebut (Todd, 2005). Transformasi sosial juga merupakan suatu proses pergeseran struktur atau tatanan dalam masyarakat meliputi perubahan dari segi pola pikir yang lebih inovatif, perubahan sikap, serta perubahan dalam kehidupan sosial untuk mendapatkan penghidupan yang lebih baik (Davis et al., 2017). Transformasi sosial mengandung perubahan dalam tiga dimensi meliputi transformasi struktural, transformasi kultural, dan transformasi interaksional, suatu hal baru bisa disebut bertransformasi jika tiga dimensi tersebut telah atau sedang terjadi (Davis et al., 2017). Seperti yang telah disebutkan bahwa dasar pelaksanaan Lipperpul adalah Peraturan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia Nomor 3 Tahun 2023 Tentang Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial. Peraturan Nomor 3 Tahun 2023 menyebutkan bahwa Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial adalah peningkatan peran dan fungsi perpustakaan melalui pelibatan masyarakat sebagai wahana belajar sepanjang hayat sehingga dapat meningkatkan kualitas hidup dan kesejahteraan pengguna perpustakaan. Melalui pelaksanaan Lipperpul yang berdasar pada peraturan tersebut telah terjadi transformasi peranan dan fungsi Perpustakaan Daerah Kabupaten Purwakarta. Dalam tiap pelaksanannya Lipperpul menjadi program yang diharapkan dapat menjadi wadah bagi masyarakat untuk mengembangkan keterampilan dan potensi mereka sehingga meningkatkan pemberdayaan sosial ekonomi. Hal tersebut sejalan dengan pernyataan Davis et al (2017) bahwa transformasi ditunjukkan dengan adanya perubahan dalam peran, kekuasaan, otoritas, dan fungsi. Lipperpul menjadi wadah bagi Perpustakaan Daerah Kabupaten Purwakarta untuk meningkat peran dan fungsi perpustakaan yang tidak hanya menjadi pusat informasi, tetapi kini perpustakaan dapat berperan menjadi pusat aktivitas dan pemberdayaan masyarakat. Transformasi kultural meliputi perubahan baik dalam budaya material serta perubahan dalam budaya nonmaterial (Davis et al., 2017). Berdasarkan hasil penelitian Perpustakaan Daerah Kabupaten Purwakarta melakukan berbagai perubahan baik material dan nonmaterial untuk mendukung pelaksanaan Lipperpul. Perubahan tersebut meliputi peningkatan layanan informasi dan peningkatan kompetensi SDM Perpustakaan Daerah Kabupaten Purwakarta. Department for Culture, Media, & Sports (1999) menyatakan bahwa dalam mengembangkan perpustakaan berbasis inklusi sosial, perpustakaan perlu melakukan berbagai perubahan termasuk perubahan dalam aspek pelayanan dan budaya perpustaaan. Perubahan tersebut dilakukan untuk mendukung isu keberlanjutan dan sumber daya jangka panjang dalam pengembangan strategi inklusi sosial. Transformasi interaksional merujuk pada konsekuensi logis dari adanya transformasi struktural dan kultural (Davis et al., 2017). Perpustakaan Daerah Kabupaten Purwakarta telah mengalami transformasi dari adanya Peraturan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia Nomor 3 Tahun 2023 yang mewajibkan Perpustakaan Daerah Kabupaten Purwakarta untuk melakukan perubahan peran dan fungsi perpustakaan menjadi wahana pembelajaran sepanjang hayat sehingga masyarakat dapat meningkatkan kualitas hidup dan kesejahteraan mereka melalui pelaksanaan Lipperpul yang mendukung pelibatan masyarakat. Dalam melaksanakan Lipperpul, Perpustakaan Daerah Kabupaten Purwakarta juga melakukan transformasi kultural baik dari segi material dan nonmaterial. Perubahan tersebut meliputi pengambangan Lipperpul yang berorientasi pada masyarakat, peningkatan fasilitas dan layanan, serta perubahan dalam ide dan nilai terkait perpustakaan berbasis inklusi sosial. Dengan berbagai perubahan yang dilakukan terjadilah transformasi interaksional dimana terjadi perubahan paradigma perpustakaan melalui pelaksanaan Lipperpul. Berdasarkan hasil penelitian, masyarakat yang mengikuti program Lipperpul memiliki pandangan bahwa Perpustakaan daerah Kabupaten Purwakarta tidak hanya sebagai tempat imtik menyimpan buku, tetapi juga menjadi tempat bagi mereka untuk melakukan berbagai kegiatan serta menyediakan tempat bagi masyarakat untuk mengaplikasikan hasil bacaannya sehingga masyarakat mampu meningkatkan potensi dan keterampilan yang mereka miliki. Hal tersebut diungkapkan oleh salah satu peserta kelas gitar basic, Bu Astria Muncan, sebagai berikut: “Saya merasakan adanya perubahan pandangan terhadap Perpustakaan Daerah Kabupaten Purwakarta. Saya merasakan sendiri bahwa Perpustakaan Daerah Kabupaten Purwakarta sekarang tidak hanya menjadi tempat membaca, tetapi juga menjadi tempat untuk praktik. Pihak Perpustakaan Daerah Kabupaten Purwakarta menyediakan tempat untuk belajar, melakukan berbagai kegiatan, dan disediakan berbagai kelas pelatihan.” (Wawancara Bu Astria Muncan, 2023) 2) Pemberdayaan melalui Lipperpul Pemberdayaan dan inklusi sosial merupakan pendekatan yang saling melengkapi dan memperkuat untuk mengubah suatu lingkungan kelembagaan dengan cara mendorong pertumbuhan yang berpihak pada masyarakat (Bennett, 2002). Pemberdayaan dalam inklusi sosial memiliki tujuan untuk membantu individu yang termarjinalisasi secara sosial untuk menyadari kekuatan yang mereka peroleh dari tindakan kolektif (Bennett, 2002). Menurut Marshall dalam (Vanni, 2014) tindakan kolektif adalah sebuah tindakan yang dilakukan secara bersamaan di dalam suatu kelompok karena memiliki tujuan yang sama. Pelaksanaan Lipperpul sebagai program Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial tentu saja memiliki tujuan untuk meningkatkan pemberdayaan masyarakat. Perpustakaan dapat meningkatkan pemberdayaan dengan cara a) ketersediaan dan kemudahan akses bahan pustaka dan sumber informasi yang bermutu untuk masyarakat, b) masyarakat dapat memanfaatkan perpustakaan untuk berbagi pengalaman dan melatih keterampilan agar memperoleh keahlian untuk meningkatkan kesejahteraan, dan c) perpustakaan dapat menjadi ruang sinergitas kegiatan masyarakat (Woro Titi Haryanti, 2019). Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa Lipperpul mendukung pemberdayaan masyarakat dengan cara memastikan keseteraan akses informasi bagi berbagai lapisan masyarakat. Meningkatkan akses informasi masyarakat dianggap dapat berkontribusi pada pemberdayaan masyarakat. Hal tersebut dikarenakan pemberdayaan merupakan suatu proses memberikan individu atau kelompok masyarakat baik yang terpinggirkan atau yang rentan terpinggirkan dengan pengetahuan, keterampilan, dan disedediakaan sumber daya yang diperlukan bagi masyarakat untuk mengambil peran aktif dalam kehidupannya (Bennett, 2002). Dari pernyataan tersebut maka Perpustakaan Daerah Kabupaten Purwakarta telah melakukan pemberdayaan karena Perpustakaan Dearah Kabupaten Purwakarta dari menyediakan sumber daya berupa koleksi bahan pustaka untuk mendukung masyarakat untuk mengembangkan pengetahuannya sehingga mereka dapat mengambil peran aktif dalam kehidupannya. Seperti apa yang dikemukakan Bennet (2002) bahwa usaha pemberdayaan diutamakan untuk masyarakat yang terpinggirkan atau rentan terpinggirkan juga sejalan dengan kegiatan Lipperpul yang berupaya untuk menyediakan akses informasi ke masyarakat di desa yang berlokasi jauh dari Perpustakaan Daerah Kabupaten Purwakarta dan juga ke berbagai lapisan masyarakat lainnya. Hal tersebut sesuai karena pada pelaksanaannya perpustakaan berperan penting dalam mengembangkan memelihara masyarakat yang demokratis dengan memberikan akses individu ke berbagai pengetahuan dan ide yang luas serta beragam (Mahdi et al., 2020). Selain peningkatan akses informasi sebagai upaya untuk mendukung pemberdayaan masyarakat, Perpustakaan Daerah Kabupaten Purwakarta melalui Ngala Manggu mendukung pemberdayaan masyarakat dengan menghadirkan berbagai kelas pelatihan keterampilan. Berdasarkan hasil penelitian, Perpustakaan Daerah Kabupaten Purwakarta menghadirkan kelas pelatihan keterampilan karena perpustakaan kini mampu menjadi wadah bagi masyarakat untuk mengembangkan kompetensi dan potensi yang ada baik dalam diri mereka ataupun di sekitar mereka. Hal tersebut sejalan dengan pernyataan Baruchson-Arbib & Elbeshausen (2007) bahwa dalam mendukung pemberdayaan perpustakaan dapat menjadi pusat pembelajaran yang memfasilitasi penyerapan keterampilan. Dengan menyediakan kelas pelatihan keterampilan, masyarakat dapat memperoleh pengetahuan dan keterampilan yang belum pernah mereka miliki. 3) Pembelajaran sepanjang hayat Lipperpul Perpustakaan Daerah Kabupaten Purwakarta memaknai pembelajaran sepanjang hayat sebagai penyediaan layanan yang tidak membatasi usia pemustaka atau masyarakat yang ingin memanfaatkan layanan perpustakaan. semua lapisan masyarkat baik itu anak-anak, remaja, hingga dewasa dapat memanfaatkan layanan yang disediakan. Perpustakaan Daerah Kabupaten Purwakarta juga tidak membatasi masyarakat baik dari segi latar belakang, gender, agama, ras, kondisi sosial-ekonomi, dan perbedaan dari segi apapun, semua lapisan masyarakat memiliki hak untuk memanfaatkan layanan perpustakaan. Konsep pembelajaran sepanjang hayat di perpustakaan juga dilakukan dengan cara Perpustakaan Daerah Kabupaten Purwakarta menyediakan beragam fasilitas untuk mendukung kegiatan pembelajaran sepanjang hayat bagi masyarakat. Pernyataan tersebut sejalan dengan pendapat Mahdi, et al., (2020) bahwa perpustakaan merupakan sarana pembelajaran sepanjang hayat tanpa membedakan usia, ras, agama, status sosial-ekonomi, dan gender. Standar Nasional Perpustakaan Umum Tahun 2011 juga memperkuat peran perpustakaan sebagai sarana pembelajaran sepanjang hayat. Transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial yang dilakukan oleh Perpustakaan Daerah Kabupaten Purwakarta merupakan wujud perpustakaan sebagai sarana pembelajaran sepanjang hayat di mana perpustakaan tidak hanya sebagai pusat informasi, tetapi juga sebagai tempat bagi masyarakat untuk mentransformasikan dirinya dalam upaya peningkatan kesejahteraan. Lipperpul menjadi program yang mendorong pembelajaran sepanjang hayat dengan menyediakan koleksi bahan pustaka dan menyediakan ruang untuk mendukung proses pembelajar sepanjang hayat untuk masyarakat. Dukungan proses pembelajaran sepanjang hayat bagi masyarakat juga ditunjukkan dengan Perpustakaan Dearah Kabupaten Purwakarta yang menyediakan ruang bagi masyarakat untuk belajar. Perpustakaan menjadi ruang sosial dimana pengetahuan dan keterampilan dapat dikembangkan dan diperluas secara sistemastis (BaruchsonArbib & Elbeshausen, 2007). Seperti dalam hasil penelitian bahwa Perpustakaan Daerah Kabupaten Purwakarta menyediakan fasilitas yang memadai seperti adanya ruang baca yang dibagi berdasarkan ruang baca untuk anak, ruang baca untuk remaja, dan ruang baca umum, selalin itu Perpustakaan Daerah Kabupaten Purwakarta juga memiliki ruang auditorium untuk melaksanakan kelas pelatihan keterampilan. Berbagai fasilitas tersebut hadir untuk mendukung pembelajaran sepanjang hayat bagi masyarakat. Hal tersebut didukung dengan pernyataan Alvim & Calixto (2012) dimana mereka menekankan peran sosial perpustakaan sebagai tempat pertemuan bagi masyarakat, perpustakaan dapat menjadi agen positif yang memberikan manfaat sosial bagi masyarakat. Dukungan terhadap pembelajaran sepanjang hayat juga ditunjukkan dengan perpustakaan menjadi makerspace yaitu tempat untuk belajar secara kolaboratif dan kreatif bagi masyarakat (Irhamni, 2018). Menurut Irhamni (2018), perpustakaan merupakan platform dan didedikasikan untuk pengembangan pengetahuan, pembelajaran, kreativitas, dan imajinasi, serta harapan baru bahwa perpustakaan dapat menjadi tempat mempersiapkan pemustakanya dengan beragam keterampilan bukan hanya melalui teori, tetapi juga melalui praktikum dan beragam aktivitas yang mendukung kreativitas masyarakat.
Conclusion
Berdasarkan hasi penelitian mengenai inklusi sosial melalui Lipperpul ditunjukkan bahwa untuk mendukung inklusi sosial Perpustakaan Daerah Kabupaten Purwakarta melakukan transformasi sosial, pemberdayaan, dan pembelajaran sepanjang hayat dalam pelaksanaan Lipperpul. Transformasi sosial yang dilakukan terdiri dari perubahan struktural, kultural, dan interaksional. Pemberdayaan melalui Lipperpul dilakukan dengan menyediakan ketersediaan dan kemudahan akses koleksi bahan pustaka bagi masyarakat dan Lipperpul menyediakan kelas pelatihan keterampilan sehingga masyrakat dapat memperoleh keahlian untuk meningkatkan kesejahteraannya. Pembelajaran sepanjang hayat melalui Lipperpul ditunjukkan dengan Lipperpul menjadi program yang dapat dimanfaatkan oleh berbagai lapisan masyarakat dan menyediakan beragam fasilitas untuk mendukung proses pembelajaran sepanjang hayat bagi masyarakat.