Akuisisi bahan pustaka di Perpustakaan MAN 2 Hulu Sungai Utara
Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta
Abstract
This study aims to determine the procedure for Acquisition of Reading Materials at the Library of MAN 2 Hulu Sungai Utara. The 2 staff or library managers are the population and the samples are the principal and the general treasurer of the school from this research. The qualitative method used in this research and data collection techniques using observation, interviews and documentation. The data that has been obtained from the results of data collection is processed and analyzed through qualitative data interpretation.The results of this study indicate that the library has not implemented SOP (Standard Operating Procedure) in the acquisition of reading materials in writing even though it has a SOP (Standard Operating Procedure).The peculiarity of this research is in the acquisition of reading materials, there is sorting of reading materials. The reading material sorting tool is a list of suggestions from the teacher and the update is regarding the SOP (Standard Operating Procedure) which will be applied even though it was sometimes used before. This acquisition includes the selection of reading materials by teachers, staff, librarians and students. Through purchases, grants or grants and contributions (donations) in implementing the library reading material acquisition system.
Keywords:
acquisition
· library
· reading material
Introduction
Melihat perkembangan informasi yang semakin cepat dewasa ini, kontribusi perpustakaan sangatlah bermakna untuk menyediakan beraneka ragam sumber informasi. Maka perpustakaan memerlukan pengelola atau pustakawan yang tidak hanya bisa memahami cara-cara pencarian informasi saja, namun memahami pula bagaimana cara menentukan dan melaksanakan asal-usul informasi teraktual yang searah dengan kemajuan ilmu pengetahuan, sesuai dengan kelas umur, pendidikan dan keinginan penggunanya. Bagi pengelola perpustakaan sekolah yang penggunanya adalah para murid dari berbagai tingkat kelas dan usia, staf pengajar serta staf administrasi yang kesemuanya mau memajukan ilmu dan kapasitasnya, hendaknya pustakawan dapat mencukupi kebutuhan mereka secara benar (Ismanu, 2012). Jika dilihat dari sudut pandang lebih luas lagi, perpustakaan adalah salah satu bagian operasi yang bertugas untuk menghimpunkan, menyediakan, menjaga, dan mengatur koleksi bahan pustaka secara logis untuk dimanfaatkan oleh pengguna sebagai sumber berita sekaligus sebagai sarana belajar yang tepat (Darmono, 2007). Kedudukan perpustakaan dalam menjadikan masyarakat literate tidak terlepas dari imajinasi dan tujuan perpustakaan itu sendiri. Imajinasi perpustakaan harus terbuka dan tersusun. Begitu pula tujuan perpustakaan harus dioperasikan secara benar-benar dan ahli. Untuk mengaplikasikan setiap tujuannya, perpustakaan perlu menempatkan tujuannya (Teguh Yudi Cahyono, 2007). Perpustakaan sekolah adalah suatu unit operasi yang bertujuan untuk menghimpun, menyediakan, menjaga dan mengatur koleksi bahan pustaka baik yang tertulis, tercetak maupun berbentuk grafis (seperti film, slide, piringan hitam, tape) yang dikelola dan disusun secara teratur untuk dimanfaatkan secara berkelanjutan sehingga bisa membantu peserta didik dan guru_x0002_guru dalam proses belajar mengajar (Novi Testa Pamungkas, 2009). Hal ini senada dengan yang disampaikan oleh Darmono (2001) bahwa Perpustakaan pada dasarnya adalah kunci awal belajar dan awal informasi bagi penggunanya. Perpustakaan juga bisa dimaknai bagai area berkas koleksi atau area menampung koleksi dan dibangun untuk sarana belajar siswa. Akuisisi bahan-bahan pustaka itu sendiri adalah mengupayakan bahan-bahan pustaka yang belum dimiliki perpustakaan dan meningkatkan bahan-bahan pustaka yang sudah dimiliki perpustakaan melainkan kuantitasnya masih minim. Jadi akuisisi bahan-bahan pustaka ada dua peluang. Peluang yang pertama adalah mengupayakan bahan-bahan pustaka yang belum dimiliki oleh perpustakaan tersebut. Peluang yang kedua adalah meningkatkan bahan-bahan pustaka yang kapasitasnya masih minim (Hafiz Alrosyid, 2008). Perpustakaan dapat mencukupi keperluan pengguna perpustakaan yang berbagai macam tersebut melalui kegiatan akuisisi bahan pustaka yang ada di perpustakaan. Mengingat pentingnya kegiatan akuisisi bahan pustaka, maka setiap perpustakaan harus mempunyai kegiatan akuisisi bahan pustaka. Tujuannya untuk dapat menyajikan bahan perpustakaan yang sesuai dengan keperluan pengguna (Sri Oktaviani, 2013). Perpustakaan sekolah merupakan perpustakaan yang berada di lingkungan sekolah, dengan misi terselenggaranya dan terjangkaunya misi sekolah dan tujuan pendidikan secara umum (I Ketut Widiasa, 2017). Umumnya pemfokusan arah kehadiran perpustakaan sekolah ialah mengampu jalan pendidikan agar berjalan dengan laju pada bagian bimbingan dan produktif. Memiliki pendidikan, informasi, penelitian, rekreasi, kebudayaan, kreatifitas dan dokumentasi merupakan fungsi dari perpustakaan sekolah. Semua yang memuat informasi dari berbagai bentuk yang disediakan dan dimiliki oleh pihak perpustakaan sekolah ialah koleksi perpustakaan sekolah. Keperluan pengguna dan kemajuan dunia pendidikan tersebut diserasikan dengan koleksi. Makanya, butuh dilaksanakan akuisisi bahan-bahan pustaka secara berkelanjutan. Akuisisi bahan pustaka di perlukan sebab untuk mencukupi kebutuhan anggota didik, sebagai sarana pengampu pemngajaran demi meluaskan dan memajukan ilmu baik dalam globe pendidikan ataupun ilmu pengetahuan alam. Hal yang paling bermakna dan menjadi faktor pembatas di dalam kegiatan perpustakaan merupakan koleksi. Memajukan antalogi untuk bahan pustaka perpustakaan terbaru mengikuti perkembangan informasi. Agar koleksi yang terdapat di perpustakaan bisa mencontoh perubahan berita, perpustakaan butuh melaksanakan perluasan akan antalogi-antalogi melewati cara akuisisi bahan pustaka. (Ni Putu Dewi Gardina Rahayu, 2017). Menurut Yusuf, bahwa koleksi buku dan koleksi non buku merupakan bentuk koleksi perpustakaan sekolah. Pada bentuk koleksi buku dapat digolongkan atas dua bagian yaitu: buku yang ditulis menurut kenyataan alam, budaya, kondisi sosial, sejarah dan lain sebagainya ialah buku non fiksi sedangkan buku ilmiah, ilmiah populer, informasi umum, dan informasi khusus, termasuk kedalamnya buku teks yang merupakan suatu buku tentang suatu bidang ilmu tertentu yang ditulis berdasarkan sistematika dan oraganisasi tertentu sehingga memudahkan proses pembelajaran oleh guru maupun murid, buku pelengkap adalah jenis buku yang masih tergolong kepada jenis buku teks tetapi berfungsi sebagai penunjang pelajaran atau penunjang buku teks, buku penunjang dikalangan seolah sering disebut buku bacaan, atau bahkan ada yang menyebutnya sebagai buku perpustakaan meskipun istilah ini kurang tepat termasuk kedalam buku fiksi. Contohnya: Bacaan pengetahuan, Vertebrata, Cara Beternak Ayam (M. Yusuf, 2005). Salah satu dari kegiatan penyajian teknis pada suatu perpustakaan dalam usaha untuk membagikan informasi yang dibutuhkan oleh para pengguna secara terbaru mrupakan pengertian dari Akuisisi bahan pustaka. Melalui aktivitas beroperasi kerja akuisisi, perpustakaan berikhtiar mengumpulkan bakal bacaan yang akan membentuk antalogi perpustakaan. Aktivitas akuisisi diawali dari pemilahan, pembelian, mencapai pada langkah interogasi pemeriksaan dan pendataan (Ratnaningsih, 2007). Darmono, mengatakan bahwa akuisisi koleksi perpustakaan adalah salah satu aktifitas dilaksanakan agar adanya penambahan kumpulan bahan perpustakaa. Aktifitas akuisisi perpustakaan diselaraskan sesuai dengan tipe, fungsi , tujuana, dan program bahkan dan yang disedikan, akuisisi perpustakaan dilaksanakan oleh pustakawan ataupun staf yang dilaksanakan. Adapun dengan cara pengadaan bahan pustaka contohnya dari segi pembelian, melanggan, tukar_x0002_menukar, hibah bahkan hasil sendiri. Untuk melaksanakan akuisisi koleksi perpustakaan seharusnya dipilih, karena ada kebijaksanaan tertulis yang diatur oleh aktivitas akuisisi antalogi perpustakaan (Darmono, 2007). Dari latar belakang di atas penulis terdorong menulis tentang akuisisi bahan pustaka di Perpustakaan MAN 2 Hulu Sungai Utara, karena penulis berpendapat bahwa akuisisi koleksi perpustakaan merupakan bagian dari aktifitas yang penting dalam proses pengembangan perpustakaan. Dengan hanya memiliki staf tiga orang dan kepala perpustakaan yang bukan berasal dari lulusan pendidikan perpustakaan. Perpustakaan MAN 2 Hulu Sungai Utara tetap mampu menyediakan koleksi yang cukup lengkap terutama buku pelajaran yang menjadi kebutuhan siswa-siswi. Tentunya Perpustakaan MAN 2 Hulu Sungai Utara memiliki SOP untuk mengatur kegiatan pengadaan koleksi perpustakaan, tetapi tidak ada yang menjalankan akuisisi koleksi perpustakaan sesuai standar SOP tersebut. Untuk itu penulis tertarik ingin mencari tahu tentang bagaimana akuisisi bahan pustaka di Perpustakaan MAN 2 Hulu Sungai Utara
Method
Jenis penelitian yang digunakan oleh peneliti merupakan penelitian deskriptif kualitatif. Penelitian kualitatif bersifat deskriptif, cenderung menggunakan analisis dengan pendekatan induktif, proses dan makna (perspektif subjek) lebih ditonjolkan (Sedarmayanti, 2011). Penelitian deskriptif kualitatif ditujukan untuk menggambarkan permasalahan yang diteliti secara terperinci untuk menunjang penelitian, peneliti memperoleh referensi data primer atau sekunder. Referensi data primer bisa diperoleh dengan wawancara yang dilaksanakan secara lengkap terhada staf yang bekerja di perpustakaaan sekolah tersebut. Sedangkan sumber data sekunder merupakan sumber data penulis peroleh dari studi literature (buku) ataupun internet sesuai yang diperlukan. Populasi dari penelitian ini yaitu staf atau pengelola Perpustakaan MAN 2 Hulu Sungai Utara yang berjumlah 2 orang dan sampelnya yakni kepala sekolah dan bendahara umum sekolah. Dalam penelitian kualitatif ini, teknik pengumpulan data yang digunakan oleh peneliti yaitu observasi, wawancara dan dokumentasi.
Discussion
Perpustakaan MAN 2 Hulu Sungai Utara terletak Jl. Sukmaraga Nomor 045, Kelurahan Sungai Malang, Kecamatan Amuntai Tengah, Kabupaten Hulu Sungai Utara. Jadwal Pelayanan Perpustakaan MAN 2 Hulu Sungai Utara terbagi menjadi dua, yaitu sebelum covid-19 dan saat covid-19. Adapun sebelum covid-19 peminjaman dan pengembalian bahan pustaka buka pada Senin – Kamis & Sabtu pukul 08.00-14.30 WITA, dan Jum’at pukul 08.00-11.30 WITA Kemudian untuk ruang baca dan referensi dibuka pada Senin – Kamis & Sabtu pukul 08.1514.30 WITA dan Jum’at pukul 08.15-11.00 WITA. Sementara selama pandemi COVID-19 Perpustakaan buka pada Senin – Kamis & Sabtu pukul 08.30-12.30 WITA dan Jum’at pukul 08.30-11.00 WITA. Jenis pelayanan yang dilakukan hanya sirkulasi, di mana siswa hanya dapat meminjam dan mengembalikan koleksi. Tidak diizinkan berkumpul atau terlalu lama berada di perpustakaan dan tetap mematuhi protokol kesehatan. Selanjutnya, dalam pembahasan ini, peneliti menjelaskan berdasarkan wawancara dengan Bapak Fahmi (Pengelola Perpustakaan MAN 2 Hulu Sungai Utara) pada Selasa, 19 Oktober 2021, pukul 09.45 WITA, yaitu: A. PENGADAAN BAHAN PUSTAKA Akuisisi koleksi perpustakaan di sekolah memiliki Standard Operating Procedure (SOP) pengadaan bahan pustaka akan tetapi belum sepenuhnya menerapkan/menjalankan pengadaan bahan pustaka yang berpedoman Standard Operating Procedure (SOP) tersebut. aktifitas akuisisi koleksi perpustakaan yang memiliki aturan terhadap SOP yaitu melalui aktifitas seleksi terhadap koleksi perpustakaan. Alat bantu seleksi materi perpustakaan, pengecekan dana atau mengolah skala yang diutamakan. B. SOP (STANDARD OPERATING PROCEDURE) Perpustakaan Sekolah mempunyai SOP berkaitan tentang akuisisi koleksi perpustakaan. SOP ini bertujuan untuk mengelola alur aktifitas akuisisi koleksi perpustakaan dan berisi tentang pihak yang bertanggungjawab atas aktifitas yang dilaksananakan. Aturan akuisisi koleksi perpustakaan utamanya buku yang tercantum terhadap SOP Perpustakaan. Adapun tahapan yang dilaksanakan oleh perpustakaaan sekolah terhadap pemilihan koleksi perpustakaan sebagai perpustakaan yang mempunyai SOP yang mengatur sebuauh aktifitas akuisisi koleksi perpustakaan. SOP ini penting untuk akuisisi bahan pustaka, karena dengan adanya SOP aktifitas pengadaan bahan pustakan akan secara sistematis. C. KEGIATAN AKUISISI BAHAN PUSTAKA DI PERPUSTAKAAN SEKOLAH Perpustakaan Sekolah melaksanakan aktifitas akuisisi secara terus menerus per tahun maupun pertahun, jumlah penerima BOS 862 Orang Siswa. Anggaran untuk melakukan kegiatan pengadaan bahan pustaka Buku Paket Siswa, Guru dan Referensi berasal dari dana Sekolah (BOS) sebesar Rp. 226.500.000, -. Aktifitas akuisisi koleksi perpustakaan sekolah melalui aktifitas pemilihan koleksi perpustakaan, alat bantu untuk seleksi koleksi perpustakaan, pengecekkan, dana maupun pengolahan skala yang diutamakan. D. PROSEDUR PEMILIHAN ATAU SELEKSI BAHAN PUSTAKA DI PERPUSTAKAAN SEKOLAH Tahap seleksi koleksi perpustakaan sekolah dilaksanakan oleh guru-guru yang berada di lingkungan Sekolah MAN 2 Hulu Sungai Utara, kemudian petugas perpustakaan akan melaksanakan seleksi terhdap koleksi perpustakaan dengan melalui alat bantu seleksi, setelah itu menyeleraskan terhadap dana atau skala yang utama. E. ALAT BANTU SELEKSI BAHAN PUSTAKA Alat bantu seleksi yang dipergunakan untuk memilih bahan pustaka di Perpustakaan Sekolah di antaranya meminta judul buku dari guru. Guru adalah staf pengajar atau meminta juduk koleksi perpustakaan, karena guru yang mengawasi tipe materi apa yang dibutuhkan untuk menunjang aktifitas pembelajaran disekolah. Pepustakaan sekolah memberikan buku secara spesifik untuk daftar buku yang dipesan oleh guru. Daftar usulan tersebut berisi tentang judul buku yang dipesan, pengarang buku, penerbit buku atau tahun terbit buku. Para pengunjung tidak suli mencari buku tersebut dengan biaya sekolah (BOS). Gunanya untuk melengkapi referensi guru saat kegiatan belajar mengajar (KBM). Alat bantu ini merupakan salah satu alat yang berperan penting dalam seleksi bahan pustaka perpustakaan MAN 2 Hulu Sungai Utara meskipun dari semua alat bantu yang disebutkan disini penting tetapi alat bantu satu ini biasanya yang khas untuk di pakai. Pengecekan anggaran. Dalam mengadakan bahan pustaka, perpustakaan sekolah memperoleh dana dari dana Sekolah (BOS) yang sudah dibuat melalui RKA (Rencana Kegiatan Anggaran). Kegiatan pengadaan bahan pustaka Buku Paket Siswa, Guru dan Referensi berasal dari dana Sekolah (BOS) sebesar Rp. 226.500.000,-. per tahun. Anggaran tersebut digunakan untuk mengurus segala keperluan tentang perpustakaan. Anggaran yang dikeluarkan oleh perpustakaan baik pengadaan ataupun untuk kebutuhan perpustakaannya lainnya harus ada buktinya, seperti kwitansi dan cap. Karena nantinya akan dilaporkan kepada kepala sekolah, bandahara sekolah bagian BOS dan kepala perpustakaan. Penyusunan anggaran ini menjadi tanggung jawab kepala sekolah yaitu, Bapak Alpahmi dan penyusun serta laporannnya bekerjasama dengan bendahara sekolah (Bapak Rudi) bagian dana BOS dan kepala perpustakaan (Ibu Rusyidah). Skala Prioritas. Apabila kebutuhan bahan pustaka sangat banyak, sedangkan anggaran untuk pengadaan bahan pustaka tidak mencakupi, maka perpustakaan MAN 2 Hulu Sungai Utara membuatkan skala prioritas dari seluruh bahan pustaka mana yang harus diusahakan oleh pustakawan. Rata-rata pemustaka butuhkan adalah buku-buku pelajaran yang berkaitan dengan pelajaran sekolah, buku-buku cerita atau fiksi sebagai penghibur kejenuhan pemustaka, buku pustaka untuk tingkat MAN, majalah, dan seni musik. Karena koleksi bahan di perpustakaan tersebut banyak koleksi mata pelajaran. Jadi, skala prioritas ini berarti kebijakan yang dibuat pustakawan untuk menentukan bahan-bahan pustaka mana yang lebih di utamakan dalam berbagai aspek yang dapat memberikan kegunaan atau menyelaraskan dana yang telag ditetapkan perpustakaan. F. SISTEM AKUISISI BAHAN PUSTAKA DI PERPUSTAKAAN SEKOLAH Akuisisi bahan pustaka melalui pembelian. Pengadaan koleksi di Perpustakaan Sekolah dilakukan dengan pembelian. Perpustakaan dalam tahap penyusunan kembali (regroup), koleksi perpustakaan misalnya fiksi seperti: buku cerita, cerita rakyat, dan novel. Karena ketersediaan biaya yang terbatas. Pembelian ini ditempuh dengan melalui penawaran dari penerbit langsung berbicara dengan pihak yang berwenang dan pustakawan tidak dilibatkan dalam urusan pengadaan bahan pustaka melalui pembelian. Semua bukti transaksi mulai dari kwitansi, cap, nota kosong dan sebagainya disimpan dan dilaporkan kepada kepala sekolah serta bandahara sekolah bagian BOS. Akuisisi bahan pustaka melalui hadiah atau hibah. Pihak yang biasanya memberikan hibah dari siswa-siswi yang diusulkan oleh wali masing-masing kelas dan bisa juga guru-guru. Selain itu perpustakaan juga bisa mengambil opsi akuisisi bahan pustaka melalui melanggan, jenis bahan pustaka yang dilaksanakan melalui melanggan adalah majalah dan surat kabar. G. HAMBATAN DALAM KEGIATAN AKUISISI BAHAN PUSTAKA SEKOLAH Aktifitas akuisisi koleksi perpustakaa, perpustakaan sekolah menemukan beberapa hambatan. Adapun pemecahan masalah untuk hambatan yang dihadapi pada pengadaan koleksi di Perpustakaan Sekolah MAN 2 Hulu Sungai Utara di antaranya yakni toko buku yang sulit dicari artinya toko tersebut tidak secara khusus langsung dari penerbit seperti gramedia dan toko buku itu hanya ada di kota tertentu. Adapun untuk pendanaan yang terbatas, perpustakaan pun bisa melaksanakan seleksi terhadap koleksi perpustakaan yang akan dipesan. Selesksi yang dilaksanakan wajib mempertimbangkan keperluan pengguna bahkan kecocokan buku, adapun tujuannya yaitu dengan adanya biaaya yang digunakan untuk diadakan buku yang diperlukan
Conclusion
Dalam memilih bahan pustaka, perpustakaan tersebut menerapkan instrumen bantu seleksi. Seperti usulan dari guru dan perpustakaan juga membuat skala prioritas serta pengecekan terhadap biaya yang tersedia. Meskipun sudah memiliki SOP, di perpustakaan ini masih belum sepenuhnya menerapkan atau menjalankan sistem pengadaan koleksi yang berpedoman dengan SOP yang semestinya. Adapun sistem akuisisi yang sudah diterapkan yaitu akusisi melalui pembelian, melalui hibah, dan melalui langganan. Setelah melaksanakan observasi langsung di Perpustakaan Sekolah MAN 2 Hulu Sungai Utara, peneliti bisa memberikan saran yang diharapkan dapat berguna terhadap perpustakaan Sekolah MAN 2 Hulu Sungai Utara hendaknya menambah staf atau petugas perpustakaan yang memiliki keahlian dibidang perpustakaan sehingga akuisisi terhadap pengembangan koleksi di perpustakaan bisa berjalan sesuai dengan semestinya, agar pelaksanaan aktifitas akuisisi lebih maksimal, pihak perpustakaan bisa menerapkan SOP yang ada guna terjalinnya aktifitas akuisisi bahan pustaka secara sistematis. Adapun berkaiatan tentang dana koleksi perpustakaan, pihak perpustakaan dapat mengatur dana dengan seoptimal mungkin baik dari seluruh koleksi perpustakaan yang akan dipilih dapat diselenggarakan dan seharusnya pihak yang berwenang ikut serta dalam pemusnahan koleksi perpustakan yang tidak pantas untuk dipakai misalnya terhadap bencana alam, seperti banjir.