TRANSFORMASI KONSEP KEGIATAN PERPUSTAKAAN BERBASIS INKLUSI SOSIAL DI MASA PANDEMI (STUDI KASUS PERPUSTAKAAN UTI)
Forum Literasi Lampung; Forum Literasi Lampung
Abstract
The University Library is an integrated library of educational, research and community service activities and functions as a learning resource center to support the achievement of educational goals located in higher education. The library provides various kinds of information that can help people who do not have a job base by providing information about the job market and providing training or practice for someone to be able to become an entrepreneur. The author uses qualitative research with library research methods. In collecting data, the author makes observations, documentation and direct interviews. From the recap in January-April, it shows that there has been an increase in student interest in visiting the library, this is shown by the number that continues to increase every month. From this it can be concluded that library activities have a very effective role in attracting student visits. Therefore, it is proper for us librarians to present activities that increase knowledge and knowledge in the university environment. The increase in interest in visiting is always accompanied by interest in borrowing/reading library users.
Keywords:
Library
· Social Inclution
· Transformation
Introduction
Pada umumnya perpustakaan merupakan sebuah lembaga instansi yang memiliki prosedur, fungsi dan tujuan yang serupa, seperti menyediakan dan memberikan pelayanan informasi kepada semua pemustaka. Baik itu perpustakaan umum, sekolah khusus ataupun perguruan tinggi. Akan tetapi, tiap-tiap jenis perpustakaan memiliki kreteria, fungsi dan definisi yang membedakan dengan perpustakaan lainnya. Salah satu lembaga penyedia sumber informasi yang berkembang pesat di Indonesia adalah perpustakaan. Perpustakaan1. Salah satu jenis perpustakaan dari sekian banyak jenis perpustakaan adalah perpustakaan universitas / perguruan tinggi. Cukup banyak pakar perpustakaan yang mengeluarkan teorinya tentang perpustakaan khususnya perpustakaan perguruan tinggi, seperti menurut Prof. Sulistyo Basuki mengatakan perpustakaan yang terdapat pada perguruan tinggi, badan bawahannya, maupun lembaga yang berfaliasi dengan perguruan tinggi, dengan tujuan utama membantu perguruan tinggi mencapai tujuannya yakni Tri Dharma Perguruan Tinggi (pendidikan, penelitian dan pengabdian masyarakat).2 Selain itu Qalyubi juga menguatkan bahwa perpustakaan perguruan tinggi merupakan suatu unit pelaksana teknis (UPT) perguruan tinggi yang bersama-sama dengan unit lain turut melaksanakan Tri Dharma Perguruan Tinggi dengan metode memilih, menghimpun, mengolah, merawat, dan melayankan sumber informasi kepada lembaga induknya pada khususnya dan masyarakat akademis pada umumnya.3 Selain menurut pakar ilmu perpustakaan tentang konsep perpustakaan perguruan tinggi, peneliti juga menambahkan perpustakaan menurut Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 2014 Pasal 1 ayat 10 “Perpustakaan Perguruan Tinggi adalah perpustakaan yang merupakan bagian integral dari kegiatan pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat dan berfungsi sebagai pusat sumber belajar untuk mendukung tercapainya tujuan pendidikan yang berkedudukan di perguruan tinggi”, selain itu dikuatkan juga di pasal 12 ayat 5 mengenai koleksi perpustakaan perguruan tinggi “Koleksi nonfiksi perpustakaan perguruan tinggi terdiri atas buku wajib mata kuliah, bacaan umum, referensi, terbitan berkala, muatan lokal, laporan penelitian, dan literatur kelabu dan Jumlah koleksi pada setiap perpustakaan perguruan tinggi paling sedikit 2.500 (dua ribu lima ratus) judul”. Dari literatur di atas, ada satu hal yang dapat digaris bawahi, bahwasanya perpustakaan memiliki berperan dalam penyediaan informasi dan kemudahan akses kepada siapa saja, tanpa melihat strata social dan pendidikannya. Perpustakaan menyediakan berbagai macam informasi-informasi yang dapat membantu masyarakat yang tidak mempunyai basis pekerjaan dengan menyediakan informasi bursa kerja dan memberikan pelatihan atau praktek kepada seseorang untuk dapat berwirausaha. Perpustakaan juga dapat membantu peningkatan kesehatan masyarakat dengan menyediakan informasi mengenai higienitas dan penanggulangan penyakit. Dan banyak lagi hal lain yang dapat dilakukan perpustakaan untuk dapat berperan sebagai lembaga sumber informasi. Corona virus 19 sangat berdampak pada rendahnya sektor perekonomian di Indonesia, cukup banyak perusahaan melakukan pemutusan kerja kepada karyawannya dikarenakan rendahnya nilai jual beli di Indonesia, pemutusan tersebut berhimbas meningkatnya pengangguran di Indonesia. Dampak itupun juga dirasakan oleh masyakarat di provinsi lampung sebagai salah satu provinsi di Indonesia. Hadirnya perpustakaan di lingkungan masyarakat sebagai pusat informasi dapat menjadi solusi bagi masyarakat dalam menciptakan dan mendapatkan peluang kerja melalui informasi koleski baik itu berbentuk buku cetak ataupun berbentuk digital sehingga jumlah pengangguran dapat berkurang. Beberapa hal yang dapat menjadi masalah salah satunya ketika masyarakat yang ke perpustakaan tidak / belum memiliki kemampuan tentang dunia digital. Dengan ketidakmampuan mengoperasikan perangkat digital, maka perpustakaan melakukan tranformasi dalam memberikan kegiatan perpustakaan yang dimanakan dengan inklusi social ke pemustaka. LANDASAN TEORI Transformasi Menurut dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) transformasi bermakna Perubahan rupa (bentuk, sifat dan fungsi). Menurut D’ Arcy Thompson dalam Stephanie Jill Najoan mengatakan “Transformation is a process and a phenomenon of the change of form under altering circumstances”. Transformasi merupakan salah satu sebuah proses perubahan bentuk dalam keadaan yang berubah-ubah, dengan demikian transformasi dapat terjadi secara tak terbatas. Sedangkan menurut Anthony Antoniades mengatakan bahwa transformasi merupakan sebuah proses perubahan secara terjadi secara berangsur- angsur sehingga sampai pada tahap ultimate, perubahan dilakukan dengan memberikan respon terhadap pengaruh unsur eksternal dan internal yang dapat mengarahkan terjadinya sebuah perubahan dari bentuk yang sudah dekenal sebelumnya. Dan Menurut Laseau mengatakan bahwa transformasi memiliki kategori diantaranya 1. Transformasi bersifat (geometri) bentuk geometri yang berubah dengan komponen pembentuk & fungsi ruang yang serupa. 2. Transformasi bersifat hiasan (ornamental) dilakukan dengan menggeser, memutar, mencerminkan, menjungkirbalikan, melipat, dll. 3. Transformasi bersifat (kebalikan) pembalikan citra pada figur objek yang dapat ditransformasi dimana citra objek dirubah menjadi citra sebaliknya 4. Transformasi bersifat (merancukan) kebebasan perancang dalam beraktifitas.4 Dapat disimpulkan bahwasanya transformasi merupakan sebuah proses perubahan yang terjadi secara perlahan-lahan ataupun cepat yang terjadi di internal atau eksternal pada sebuah kegiatan yang mengarahkan kepada perubahan dari bentuk yang sudah dikenal menjadi bentuk yang baru atau belum dikenal. Transformasi pada perpustakaan sangat dikenal dengan istilah perpustakaan berbasis inklusi sosial. Perpustakaan Perguruan Tinggi Universitas Teknokrat Indonesia melakukan transformasi kegiatan perpustakaannya untuk mewujudkan kegiatan perpustakaan yang inklusif dalam megembangankan basis mahasiswa melalui penguatan literasi. Proses transformasi sudah mulai diterapkan dari tahun 2018 dengan bekerjasama Fakultas-fakultas, Bidang Kemahasiswaan dan UKM Universitas sebagai lembaga seluruh kegiatan mahasiswa yang ada di Universitas. Perpustakaan Universitas Teknokrat Indonesia memiliki komitmen untuk bertransformasi guna menghadirkan kegiatan yang inklusif kepada seluruh mahasiswa. Transformasi ini dapat dimaknai dengan perpustakaan berbasis inklusi sosial. Bentuk Transformasi Bentuk transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial merupakan sebuah proses pendekatan kegiatan perpustakaan yang berkomitmen meningkatkan kualitas keilmuan, pendidikan dan kompetensi mahasiswa universitas melalui pengembangan perpustakaan yang lebih mengutamakan program pemberdayaan mahasiswa, diharapkan dengan adanya program kegiatan ini perpustakaan khususnya perpustakaan perguruan tinggi dapat berperan aktif dalam mewujudkan keberhasilan berbagai program pembangunan berkelanjutan melaui pemberdayaan mahasiswa. Program kegiatan transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial yang diselenggarakan oleh Bappenas dan Perpustakaan Nasional RI banyak memfokuskan kepada perpustakaan yang berada di daerah ataupun desa, hal ini dikarenakan perpustakaan desa di dirikan dan letaknya berada di tengah-tengah masyarakat desa dimana tujuan dari didirikan perpustakaan desa adalah agar dapat memberikan pelayana kepada masyarakat desa sehingga lebih mudah dalam mengakses informasi dan tidak perlu datang ke perpustakaan yang ada di kota, dimana koleksi, layanan dan kegiatan yang disediakan disesuaikan dengan ciri khas masyarakat sekitar desa.5 Akan tetapi saat ini transformasi perpustakaan berbasis inklusi social sudah masuk ke wilayah perpustakaan perguruan tinggi, dengan memberikan kegiatan-kegiatan yang meningkatkan keilmuan dan kompetensi mahasiswa dalam menciptakan peluang kerja dan berkarya di dunia kerja ketika sudah menyelesaikan di perkuliahan. Inklusi Sosial Menurut Dian Utami dengan mengutif Wijayanti mengatakan bahwa inklusi merupakan sebuah pendekatan dalam membangun dan mengembangkan sebuah lingkungan dengan mengikutsertakan semua masyarakat dari berbagai perbedaan latar belakang, karakteristik, kemampuan, status, kondisi, etnik, maupun budaya. Perpustakaan berbasis inklusi sosial dapat dikatakan sebagai sebuah wadah yang menawarkan jasa layanan informasi kepada seluruh masyarakat untuk mengembangkan potensi diri untuk peningkatan ekonomi. Perpustakaan berperan sentral sebagai penghubung informasi dengan masyarakat bahkan dapat berperan sebagai wahana yang nyaman untuk mengembangkan informasi menjadi pengetahuan yang bersifat stimulan terhadap perkembangan ekonomi masyarakat, dan dikuatkan dengan Dian Utami dengan mengutip Rawal mengatakan bahwa eksklusi sosial merupakan sebuah konsep yang mencoba membatasi akses sebagian kelompok sosial atau pengucilan dengan perampiasan hak dalam bersosial. Eksklusi sosial juga dapat diartikan sebagai pembatasan hak seseorang dalam hubungan sosial dimana seseorang itu tinggal. Eksklusi sosial memiliki term pembatasan yang merujuk pada sebuah definisi tersebut maka inklusi sosial memiliki term penyetaraan bahwa hak akses yang serupa kepada seluruh kelompok sosial masyarakat.6 Dian Arya Susanti mengatakan Konsep inklusi sosial pertama kali muncul ditahun 1970an Negara Prancis sebagai bentuk respon masyarakat terhadap krisis kesejahteraan di negara Eropa, berdampak pada meningkatnya kerugian sosial di Eropa. Konsep ini sudah tersebar ke seluruh Eropa dan Inggris sepanjang 1980-an dan 90-an. Konsep ini mendapatkan perhatian yang luas setelah dibahas pada Konferensi Tingkat Tinggi World Summit for Social Development, Copenhagen, Denmark, 6-12 March tahun 1995 atau dikenal dengan Copenhagen Declaration on Social Development. Deklarasi pembangunan sosial ini menekankan pada konsensus program dan menempatkan Tahun 2019 menjadi masyarakat pembangunan. Maknanya terlibatnya masyarakat dalam setiap aspek pembangunan dalam menunaikan hak-haknya ini disebut inklusi sosial.7 Menurut Reza Mahdi dengan mengutif Charity Commission mengatakan ada ada enam versi promosi inklusi sosial sebagai berikut8: 1)Memberikan saran dan bantuan kepada masyarakat yang berpotensi tereksklusi seperti dengan membuat kegiatan pemberdayaan masyarakat kepada mereka sehingga partisipasi mereka dapat bertambah. 2)Melakukan penelitian mengenai masyarakat yang sudah atau berpotensi tereksklusi sehingga diharapkan bisa mendorong masyarkat untuk memberikan bantuan kepada mereka. 3)Kampanye mengenai pendidikan dan pemenuhan kebutuhan untuk masyarakat yang sudah atau berpotensi tereksklusi, dilakukan secara masif untuk menyadarkan masyarakat mengenai pentingnya memberdayakan mereka. 4)Kegiatan regenerasi untuk mengubah dan meningkatkan keadaan sosial dan ekonomi suatu masyarakat. 5)Membentuk suatu jaringan guna menghubungkan kelompok di area yang terkait dengan berbagai masalah sehingga dapat memengaruhi komunitas tertentu untuk memungkinkan mereka membuat hal yang lebih efektif dan turut bergabung. 6)Meningkatkan atau mengoordinasikan peluang bagi organisasi tertentu seperti LSM maupun pemerintahan untuk berpartisipasi dalam memberdayakan masyarakat. Inklusi Sosial Perpustakaan Perguruan Tinggi Paul Sturges dalam Susanti mengatakan bahwa perpustakaan berbasis inklusi sosial sebagai Perpustakaan yang dapat memberi fasilitas kepada masyarakat dalam mengembangkan potensi dengan mempertimbangkan keragaman budaya, kemauan untuk menerima perubahan, serta menawarkan kesempatan berusaha, melindungi dan memperjuangkan budaya serta Hak Asasi Manusia. Untuk mengatasinya, dokumen yang serupa juga menjelaskan beberapa kebijakan yang harus diambil, diantaranya 9; a)Inklusi sosial harus diarusutamakan sebagai prioritas kebijakan untuk layanan perpustakaan dan informasi. b)Otoritas perpustakaan harus mempertimbangkan layanan spesifik apa yang perlu dirancang untuk memenuhi kebutuhan kelompok dan komunitas minoritas. c)Otoritas perpustakaan harus berkonsultasi dan melibatkan kelompok yang dikecualikan secara sosial untuk memastikan kebutuhan dan aspirasi mereka. d)Perpustakaan harus berlokasi di mana ada permintaan, juga harus membangun di atas fasilitas dan layanan yang ada sedapat mungkin. e)Jam buka harus lebih fleksibel dan disesuaikan untuk mencerminkan kebutuhan dan minat masyarakat. f)Layanan perpustakaan dan informasi harus mengembangkan peran mereka sebagai pusat sumber daya masyarakat, serta menyediakan akses ke komunikasi dan informasi. g)Otoritas perpustakaan harus mempertimbangkan kemungkinan penempatan fasilitas bersama dengan layanan lain yang disediakan oleh otoritas setempat. h)Perpustakaan harus menjadi tempat belajar bagi pembelajar mandiri. i)Perpustakaan harus menjadi sarana utama untuk menyediakan akses TIK yang terjangkau (atau lebih disukai gratis) di tingkat lokal. j)Bermitra dengan organisasi pembelajaran lainnya. k)Otoritas perpustakaan harus mempertimbangkan apakah beberapa layanan mungkin lebih efektif diberikan dalam basis regional (Libraries for All: Social Inclusion in Public Libraries Policy Guidance for Local Authorities in England, 1999 Sehingga Transformasi perpustakaan digital berbasis inklusi sosial merupakan wujud perpustakaan digital sebagai pembelajaran sepanjang hayat. Dimana perpustakaan digital bukan hanya sebagai pusat sumber informasi, tetapi lebih dari itu; sebagai tempat mentrasformasikan diri, sebagai pusat sosial budaya berbasis layanan perpustakaan digital dengan memberdayakankan dan mendemokratisasi masyarakat dan komunitas lokal, dalam upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat.10
Method
Penulis menggunakan penelitian kualitatif dengan metode kepustakaan (library research). Metode penelitain kualitatif merupakan sebuah metode penelitian yang datanya dikan dalam bentuk verbal dan analisis tanpa menggunakan teknik statistik.11 Dalam melakukan pengumpulan data, penulis melakukan observasi, dokumentasi dan wawancara langsung. Penelitian deskriptif kualitatif ditujukan untuk mendeskripsikan dan menggambarkan fenomena-fenomena yang ada, baik bersifat alamiah maupun rekayasa manusia, yang lebih memperhatikan mengenai karakteristik, kualitas, keterkaitan antar kegiatan.12
Result & Discussion
1.Pelatihan Marketing Digital Digital marketing merupakan salah satu kegiatan promosi dan pencarian pasar melalui media digital secara online dengan menggunakan berbagai sarana seperti jejaring social. Dunia maya saat ini tak lagi hanya mampu menghubungkan orang dengan perangkat, namun juga orang dengan orang lain di seluruh penjuru dunia. Digital marketing yang biasanya terdiri dari pemasaran interaktif dan terpadu memudahkan interaksi antara produsen, perantara pasar dan calon konsumen. Di satu sisi, digital marketing memberi kemudahan kepada pebisnis dalam memantau dan menyediakan segala kebutuhan dan keinginan calon konsumen, disisi lain calon konsumen bisa mencari dan mendapatkan informasi produk hanya dengan menjelajah dunia maya sehingga memberi kemdahan pada proses pencariannya. Pembeli saat ini semakin mandiri dalam membuat keputusan dalam melakukuan pembelian berdasarkan hasil pencariannya. Digital marketing dapat menjangkau seluruh masyarakat di manapun mereka berada tanpa ada lagi batasan geografis ataupun waktu 13. Bentuk tranformasi kegiatan berbasis inklusi social yaitu pelatihan marketing digital, kegiatan ini dilaksakan oleh perpustakaan universitas teknokrat Indonesia berkerjasama dengan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) dengan tujuan meningkatkan kemampuan mahassiwa dalam menciptakan peluang kerja di suatu hari nanti dan memberikan solusi dalam memasarkan produk dengan harga yang murah dan tanpa modal. Dalam kegiatan ini mahasiswa diajarkan bagaimana menggunakan Platform digital marketing seperti menggunakan media sosial atau jejaring sosial. Jejaring sosial yang tersedia terkadang memiliki karakteristik yang berbeda, seperti Facebook, Path, Instagram, dan Twitter. Selain itu juga untuk meningkatkan budaya baca di lingkungan Universitas Teknokrat Indonesia. Gambar 1: Pelatihan Marketing digital 2.Pelatihan Desain Grafis Selian pelatihan marketing digital dalam konsep mempromosikan produk, perpustakaan juga memberikan pelatihan berbasis inklusi social di lingkungan Univeristas Teknokrat Indonesia yaitu pelatihan desain grafis. Beberapa usaha mikro kecil menengah (UMKM) terkadang tidak mau/ mampu mengeluarkan biaya tambahan untuk menggunakan jasa desain grafis. Mereka beranggapan bahwa desain grafis yang baik dan bagus membutuhkan biaya yang besar ketika dieksekusi menjadi kemasan. Padahal untuk membuat desain kemasan yang baik dan terkesan profesional tidak selalu membutuhkan biaya yang mahal. Banyak contoh label dan kemasan yang diproduksi dengan biaya yang rendah namun tetap terlihat menarik dan memukau. Hal ini disebabkan oleh optimalisasi desain grafis yang baik dan pemanfaatan material kemasan yang terjangkau14. Gambar dan desain kemasan menjadi factor utama untuk menarik minat konsumen untuk membeli produk yang kita jual. Disinilah peran desain grafis dalam menciptakan bentuk-bentuk menarik, keren dan kreatif supaya menarik konsumen. Pelatihan dilaksanakan di ruang perpustakaan secara virtual dengan tujuan untuk mengefektifkan pelatihan kegiatan dan mempermudah dalam melakukan praktek dalam mendesain. Kegiatan pelatihan ini dilaksanakan di perpustakaan berkerjasama dengan Fakultas Teknik dan Ilmu Komputer (FTIK). Gambar ke 2: Pelatihan Desain Grafis Dari transformasi konsep kegiatan perpustakaan berbasis inklusi social ini perpustakaan mengalami loncakan dalam segi minat baca dan minat kunjung mahasiswa ke perpustakaan. Secara tidak langsung kegiatan peprustakaan berbasis inklusi social ini dapat menjadi magnet dalam menumbukan kembali budaya baca di lingkungan perguruan tinggi. Rekapitulasi Pengunjung Perpustakaan UTI 2019 NoBulanJumlah Pengunjung 1Januari2294 2Februari2349 3Maret2360 4April2619 Rekapitulasi Peminjaman Perpustakaan UTI 2019 NoBulanJumlah Pengunjung 1Januari1025 2Februari1521 3Maret1982 4April2059 Dari rekapan di bulan januari-april menunjukkan bahwa telah terjadi peningkatan dalam minat kunjung mahasiswa ke perpustakaan, hal ini di tunjukkan dari jumlah yang terus terjadi peningkatan di setiap bulannya. Dari hal dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwa kegiatan perpustakaan memiliki peran yang sangat efektif dalam menarik minat kunjung mahasiswa. Oleh karena itu sudah selayaknya kita pustakawan menghadirkan kegiatan-kegiatan yang meningkatkan keilmuan dan pengetahuan di lingkungan perguruan tinggi. Peningkatan minat kunjung selalu dibarangi pula dengan minat pinjam / baca pemustaka di perpustakaan. Seperti yang selalu di katakan oleh prof perpustakaan yaitu Prof, Sulistyo mengenai perpustakaan, beliau pernah berkata bahwa berkembangannya suatu peradapan dapat dilihat dari sumber daya yang mereka miliki, berkembangannya manusia di sebuah wilayah atau negera dapat dilihat dari seberapa besar mereka dalam memanfaatkan perpustakaan. Begitu juga dengan perguruan tinggi untuk dapat menilat perguruan tinggi tersebut seberapa besar pemanfaatan ilmu pengetahuan dan kemajuan dalam informasi dapat dilihat seberapa hidupnya perpustaan yang mereka miliki. Perpustakaan merupakan jantung dalam dunia pendidikan termasuk perguruan tinggi, menurunnya kualitas keilmuan perpustakaan mana penurunan pula keilmuan di perguruan tinggi tersebut.
Conclusion
Perpustakaan Universitas Teknokrat Indonesia (UTI) sudah mulai menerapkan beberapa kegiatan yang berbasis inklusi sosial. Kegiatan inklusi sosial perpustakaan UTI antara lain mengadakan pelatihan marketing digital dan pelatihan desain grafis. Hal ini bertujuan mendekatkan peran serta fungsi perpustakaan untuk mendukung budaya baca dan literasi informasi masyarakat perguruan tinggi khususnya dan masyarakat bandarlampung pada umumnya, serta kegiatan ini bertujuan meningkatkan knowledge mahasiswa dalam marketing produk dan kesiapan menciptakan peluang kerja. Dengan adanya kegiatan inklusi sosial, diharapkan dapat memberi pengaruh serta dampak yang baik untuk kehidupan mahasiswa setelah Lulus dari universitas. Kegiatan inklusi sosial yang ada di perpustakaan Universitas Teknokrat Indonesia dilakukan secara berkelanjutan, sehingga masyarakat pun dapat mengikuti kegiatan guna mengoptimalkan potensi yang dimiliki.