Gerakan Dinas Perpustakaan Dan Kearsipan Kota Makassar Melalui Program Inovasi Sentuh Pustaka Di Perpustakaan Se-Kota Makassar
Universitas Muhammadiyah Enrekang; Universitas Muhammadiyah Enrekang; Universitas Muhammadiyah Enrekang
Abstrak
Tujuan kegiatan ini yaitu tersusunnya sistem pengelolaan bahan pustaka yang baik dan benar pada setiap sekolah dan tersusunnya buku panduan pengelolaan perpustakaan sekolah dasar. Khalayak sasaran kegiatan ini meliputi sekolah yaitu SD dan SMP Kabupaten Kota Makassar. Kegiatan ini melibatkan Tim inovasi sentuh pustaka sebagai narasumber dan pendamping, dan guru di setiap sekolah yang bertugas sebagai pustakawan di masing-masing sekolah. Metode pelaksanaan yaitu pendekatan klasikal dan pendekatan individual. Kegiatan pendampingan pengelolaan perpustakaan ini memberikan hasil berupa tersusunnya sistem pengelolaan bahan pustaka pada setiap sekolah dengan baik dan benar. Berdasarkan hasil evaluasi, dapat disimpulkan bahwa kegiatan ini berhasil dalam mencapai tujuan. Manfaat yang bisa diperoleh melalui kegiatan ini yaitu terjadi penguatan antara perpustakaan dan sekolah.
Keywords:
Kegiatan pendampingan
· pengelolaan perpustakaan
· sentuh pustaka
Introduction
Perpustakaan memegang peranan penting dalam meningkatkan minat baca dan penciptaan masyarakat belajar, demikian halnya perpustakaan sekolah. Perpustakaan sekolah merupakan sarana pendidikan yang strategis, karena selain sebagai penunjang kegiatan pembelajaran, juga sebagai salah satu barometer standar mutu sekolah. Namun kenyataannya tidak semua sekolah, memiliki fasilitas perpustakaan sekolah yang ideal dalam hal manajerial, ketenagaan, pengelolaan, pengadaan, serta penataan bahan pustaka. Hanya sekolah sekolah tertentu yang memiliki sistem perpustakaan yang memadahi dan memiliki sistem manajerial yang profesional. Sekolah sebagai organisasi pembelajaran perlu mengupayakan warga sekolahnya tumbuh sebagai pembelajar sepanjang hayat. Untuk menumbuhkan budaya belajar sepanjang hayat, pemerintah melalui Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 23 tahun 2015 tentang Penumbuhan Budi Pekerti, menyelipkan adanya kegiatan membaca buku non-pelajaran. Hal ini dimaksudkan agar tumbuh budaya baca di lingkungan warga sekolah utamanya peserta didik, sehingga minat baca meningkat dan penguasaan pengetahuan peserta didik dapat berkembang dengan baik. Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama merupakan sekolah dibawah naungan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Kota Makassar. Kedua sekolah ini berada di Kota Makassar Kabupaten Makassar yang merupakan kota yang berada di Provinsi Sulawesi Selatan. Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Makassar melakukan inovasi pembinaan dan pendataan perpustakaan yang dinamakan sentuh pustaka. Sentuh Pustaka adalah sebuah inovasi dengan melakukan pembinaan perpustakaan dengan melibatkan pihak internal seperti tim pembina perpustakaan sekolah dan pihak eksternal seperti kelompok kerja pustakawan, penerbit, pegiat literasi dan kepala sekolah. Perpustakaan yang sudah terdata pada tahun 2017 sebanyak 300 perpustakaan yang sudah terbina dan memiliki nomor pokok perpustakaan hingga tahun 2019 sedangkan 15 sekolah yang telah menerima inovasi program sentuh pustaka dari 826 jumlah sekolah SD dan SMP. Sekolah SD dan SMP ini merupakan sekolah yang berada di naungan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Makassar sehingga Dinas Perpustakaan dan Kearsipan memilih semua tingkatan sekolah tersebut sebagai program inovasi sentuh pustaka. Mengingat usia sekolah yang sudah lama, kedua sekolah ini mestinya sudah banyak perubahan yang bisa ditemukan dari sisi pelayanan kepada peserta didik. Namun tampaknya untuk mendukung pembelajaran, perpustakaan yang dimiliki sekolah tidak dapat memenuhi kebutuhan peserta didik dikarenakan belum terkelolanya perpustakaan dengan baik. Permasalahan Sekolah yang akan dipecahkan melalui program ini adalah hal-hal yang menyangkut pada persoalan a) belum dilakukan proses klasifikasi seluruh bahan pustaka yang dimiliki oleh sekolah, b) belum dilakukan proses katalogisasi dengan baik sehingga tidak semua bahan pustaka terdokumentasi dengan baik, dan c) belum dilakukan proses pengaturan bahan pustaka dengan benar sesuai dengan pedoman yang ada. Program ini dilaksanakan dengan tujuan untuk memahami kondisi riil yang ada di lapangan tentang pengelolaan perpustakaan sebagai bagian penting dalam mendukung upaya gerakan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan serta meningkatkan layanan perpustakaan. Program ini diharapkan bermanfaat bagi sekolah dalam mengelola perpustakaan sekolah dengan prinsip-prinsip dasar pengelolaan perpustakaan yang mendukung upaya gerakan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan. Selain itu, program ini sangat bermanfaat dalam memberikan layanan perpustakaan dan memanfaatkan fasilitas perpustakaan sekolah
Method
Bertolak pada permasalahan yang dihadapi Sekolah, maka solusi yang dirancang oleh pengusul untuk menanggulangi permasalahan tersebut adalah dengan melakukan pengelolaan bahan pustaka yang dimiliki perpustakaan sekolah dilakukan sesuai dengan pedoman yang digunakan secara umum. Realisasi pemecahan masalah dilakukan dengan menggunakan dua pendekatan yaitu pendekatan klasikal dan pendekatan individual. Pendekatan klasikal dilaksanakan pada kegiatan penyampaian materi oleh tim inovasi sentuh pustaka yang diikuti oleh seluruh guru pada semua sekolah. Pendekatan ini dipilih berdasarkan pertimbangan bahwa setiap guru pada sekolah tersebut akan berkesempatan untuk diberikan tugas tambahan sebagai pustakawan sekolah. Sedangkan pendekatan individual dilaksanakan pada kegiatan pengelolaan bahan pustaka yang dilaksanakan oleh pembantu pelaksana (tim inovasi sentuh pustaka) dengan berkonsultasi dan berkoordinasi dengan tim sentuh pustaka (nara sumber) dan 2 orang guru pada masing-masing sekolah yang bertugas sebagai pustakawan pada saat ini. Sasaran yang strategis dalam kegiatan ini yaitu Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama. Sekolah tersebut merupakan sekolah dibawah naungan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Kota Makassar. Kedua sekolah ini terletak di kota Makassar. Pada saat kegiatan pendampingan, masing-masing sekolah melibatkan 2 orang guru yang bertugas sebagai pustakawan.
Result & Discussion
Kegiatan pengelolaan tersebut dimulai dari proses klasifikasi bahan pustaka, katalogisasi, dan penyusunan bahan pustaka. Pelaksanaan kegiatan ini dengan menggunakan 2 metode, yaitu 1) metode klasikal, dan 2) metode individual. Metode klasikal digunakan pada saat kegiatan penyampaian materi tentang pengelolaan perpustakaan sekolah oleh tim inovasi sentuh pistaka. Penyampaian materi oleh tim inovasi sentuh pustaka dilakukan dan diberikan pelatihan dan pembinaan oleh seluruh guru pada setiap sekolah. Pada kegiatan ini disampaikan pemaparan materi tentang Konsep dasar Perpustakaan Sekolah, Klasifikasi Bahan Pustaka, Katalogisasi, dan Penyusunan Bahan Pustaka. Proses klasifikasi merupakan proses pengelompokan bahan pustaka sekolah atas dasar tertentu serta diletakkan secara bersama-sama dalam suatu tempat (Bafadal, 2011). Tujuan klasifikasi menurut Basuki (1991) sebagai penyusunan buku di rak dan sebagai sarana penyusunan entri bibliografi didalam katalog tercetak, bibliografi, dan indeks dalam tata susunan sistematis. Sementara itu Suwarno (2011) melihat tujuan klasifikasi dari sisi pengguna yakni agar pengguna dapat lebih mudah dalam menelusuri bahan pustaka yang dicari secara cepat dan tepat. Klasifikasi yang dilaksanakan pada sekolah mitra dengan menggunakan sistem klasifikasi Dewey Decimal Classification yang digunakan di perpustakaan seluruh dunia. Proses kedua yang dilakukan adalah katalogisasi. Katalog merupakan suatu daftar yang berisi keterangan-keterangan yang lengkap (komprehensif) dari suatu buku-buku koleksi, dokumen-dokumen, atau bahan-bahan pustaka lainnya (Bafadal, 2011). Sementara itu, Suhendar (2010) mengemukakan bahwa fungsi katalog adalah sebagai daftar inventaris bahan pustaka dari suatu perpustakaan serta sebagai sarana temu balik bahan pustaka. Setelah proses katalogisasi, berikutnya adalah dilakukan proses penyusunan bahan pustaka. Namun sebelum proses tersebut dilakukan, bahan pustaka terlebih dahulu dilengkapi dengan perlengkapan yang harus dimiliki, yaitu label buku, kartu buku beserta kantongnya, dan slip tanggal. Satu persatu bahan pustaka akan dilengkapi dengan perlengkapan tersebut sebelum kemudian disusun di rak sesuai dengan klasifikasi yang tepat. Kegiatan pendampingan kepada 2 orang pustakawan pada masing-masing sekolahuntuk melakukan kegiatan klasifikasi, katalogisasi, dan penyusunan bahan pustaka dengan menggunakan metode klasikal. Jadi setelah para guru mendapatkan materi tentang pengelolaan bahan pustaka, maka pendampingan intensif dilakukan secara individual kepada guru yang ditunjuk oleh kepala sekolah sebagai pustakawan. Guru pustakawan bersama-sama dengan tim inovasi sentuh pustaka (pembantu pelaksana) melakukan proses pengelolaan bahan pustaka mulai dari klasifikasi, katalogisasi, dan penyusunan bahan pustaka. Sebagai gambaran pelaksanaan kegiatan, sebagaimana divisualisasikan pada Gambar 1 dan Gambar 2. Peran tim sentuh pustaka dalam hal ini adalah sebagai pendamping teknis guru pustakawan. Sehingga segala tahapan dalam pengelolaan bahan pustaka oleh guru selalu mendapatkan arahan dari mahasiswa yang tentunya selalu konsultasi dan koordinasi dengan tim sentuh pustaka. Kegiatan ini memakan waktu cukup lama dikarenakan koleksi pustaka pada setiap sekolah banyak. Kegiatan pendampingan pengelolaan perpustakaan ini memberikan hasil berupa tersusunnya sistem pengelolaan bahan pustaka pada kedua sekolah mitra dengan baik dan benar. Sistem klasifikasi bahan pustaka dan katalogisasi menggunakan system DDC (Dewey Decimal Code) yang memang sudah lazim digunakan pada sebagian besar perpustakaan di dunia. Sedangkan untuk penyusunan bahan pustaka diurutkan berdasarkan kode buku dan disusun berderet mulai dari samping kiri ke kanan. Untuk mempermudah pembaca melakukan penelusuran pustaka maka diberikan kode nomor buku pada tiap rak. Selain itu kelengkapan administrasi sirkulasi buku juga dilengkapi pada kegiatan pendampingan ini, sehingga ketika pembaca melakukan peminjaman sudah dapat direkam dengan baik meskipun masih memakai sistem manual. Selain itu, kegiatan ini menghasilkan luaran berupa artikel yang sudah dimasukkan pada jurnal nasional. Luaran berikutnya adalah Panduan Pengelolaan Perpustakaan Sekolah yang dapat digunakan oleh sekolah baik sekolah Dasar ataupun sekolah yang lainnya dalam mengelola bahan pustaka yang mereka miliki. Kegiatan pendampingan pengelolaan perpustakaan ini sangat bermanfaat dan dibutuhkan oleh pihak sekolah. Sebagai tindak lanjut (sustainbility) program ini, penulis berencana akan membuat lanjutan program yang mengarah kepada pengelolaan perpustakaan digital. Mengingat bahwa kemajuan teknologi saat ini yang demikian canggih sangat memungkinkan untuk memberikan kemudahan bagi pengelola perpustakaan dalam mengelola bahan pustaka yang dimiliki. Berdasarkan hasil evaluasi, dapat disimpulkan bahwa kegiatan ini berhasil dalam mencapai tujuan. Banyak manfaat yang bisa diperoleh melalui kegiatan ini. Bagi Kepala Sekolah, melalui kegiatan ini diharapkan dapat memainkan peranannya dalam memberikan pembinaan dan pendampingan terhadap para guru di sekolahnya yang diberi tugas sebagai pustakawan. Kebermanfaatan lainnya dari kegiatan ini juga dirasakan Bagi Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Kota Makassar, melalui kegiatan pelatihan ini secara langsung dapat membantu memberikan pemahaman serta keterampilan bagi para kepala sekolah dan guru dalam mewujudkan mutu pendidikan melalui pengelolaan perpustakaan. Dengan demikian Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Kota Makassar perlu melakukan kegiatan sejenis, untuk memantapkan hasil dari kegiatan ini. Perpustakaan merupakan salah satu sumber belajar penting dalam proses pembelajaran. Menurut Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan, dinyatakan bahwa “perpustakaan adalah institusi pengelola koleksi karya tulis, karya cetak, dan/atau karya rekam secara profesional dengan sistem yang baku guna memenuhi kebutuhan pendidikan, penelitian, pelestarian, informasi, dan rekreasi para siswa sebagai penggunaan perpustakaan." Dari definisi tersebut, maka perpustakaan sekolah merupakan perpustakaan yang berada di lingkungan sekolah, bertanggung jawab kepada kepala sekolah, dan bertugas untuk melayani seluruh sivitas akademika sekolah tersebut. Bafadal (2011) menyatakan bahwa perpustakaan sekolah itu merupakan sumber belajar, karena kegiatan yang paling tampak pada setiap kunjungan siswa adalah belajar, baik belajar masalah-masalah yang berhubungan langsung dengan mata pelajaran yang diberikan di kelas, maupun buku-buku lain yang tidak berhubungan langsung dengan mata pelajaran yang diberikan di kelas. Penyelenggaraan perpustakaan sekolah, oleh Bafadal (2011) bukan hanya untuk mengumpulkan dan menyimpan bahan-bahan pustaka, tetapi dengan adanya penyelenggaraan perpustakaan sekolah diharapkan dapat membantu siswa dan guru menyelesaikan tugas-tugas dalam proses belajar mengajar. Sementara itu, Yusuf & Suhendar (2007: 3) menyebutkan tujuan didirikannya perpustakaan tidak terlepas dari tujuan diselenggarakannya pendidikan sekolah secara keseluruhan, yaitu memberikan bekal kemampuan dasar kepada siswa, serta mempersiapkan mereka untuk mengikuti pendidikan menengah. Layanan perpustakaan pada intinya ditujukan untuk kepuasan penguna atau pemustaka. Kepentingan pengguna dalam memanfaatkan informasi yang tersedia di perpustakaan ada kalanya berbeda antara satu dengan yang lainnya. Perbedaan tersebut seharusnya dapat memotivasi pustakawan menambah pengetahuannya dalam bidangnya agar dapat memberi pelayanan maksimal bagi para pengguna. Berkaitan dengan layanan perpustakaan, pustakawan dituntut bersikap ramah, sopan, tekun dan tidak cepat bosan, setiap memberi jawaban dari semua pertanyaan pengguna perpustakaan jika perlu memberikan jalan keluar membimbing dan mengarahkan setiap pengguna. Beranjak dari hal tersebut maka pustakawan harus memiliki kompetensi sehingga dapat menimbulkan pelayanan yang berkualitas sehingga pengguna dapat memperoleh informasi yang dibutuhkannya secara optimal dan memanfaatkan berbagai perkakas penelusuran yang tersedia.
Conclusion
Berdasarkan hasil kegiatan pendampingan pengelolaan perpustakaan ini dapat disimpulkan bahwa kegiatan ini efektif untuk membentuk sistem pengelolaan perpustakaan yang baik pada setiap sekolah, dengan menggunakan pendekatan klasikal dan pendekatan individual. Setiap sekolah mampu melakukan klasifikasi bahan pustaka, katalogisasi, dan tersusunnya bahan pustaka di sekolah sasaran dengan menggunakan sistem yang sudah digunakan di sebagian besar perpustakaan di dunia. Pengelolaan bahan pustaka yang baik dapat meningkatkan minat baca peserta didik, sehingga mampu membentuk budaya baca di lingkungan sekolah. Dengan demikian dapat mendukung program literasi yang digalakkan oleh sekolah dan dinas pendidikan kabupaten setempat. Berdasarkan hasil kegiatan pendampingan ini beberapa masukan yang dapat penulis rumuskan sebagai berikut: 1) bagi Kepala Sekolah, hendaknya menyegerakan pembangunan gedung perpustakaan atau setidaknya memberikan ruang baca bagi siswa sehingga siswa dapat memanfaatkan waktu istirahat dengan membaca buku di perpustakaan. Selain itu, menambah koleksi bahan pustaka dengan melakukan open donasi kepada orang tua wali murid sehingga ketersediaan bacaan yang mutakhir bagi siswa dapat terpenuhi. Dimungkinkan pula penambahan koleksi bahan pustaka melalui donasi 1 alumni 1 buku serta harus juga dilakukan rekrutmen penerimaan alumni jurusan ilmu perpustakaan agar perpustakaan sekolah dapat tertata dengan baik . 2) bagi Guru Pustakawan, agar senantiasa melakukan pembaharuan database bahan pustaka sehingga semua bahan pustaka dapat tercatat dengan lengkap.