Kembali
16
1
2024 Maktabatun Jurnal Perpustakaan dan Informasi Vol 4 · 2 ISSN 2797-2275

Strategi Guru dalam Mengatasi Pengucilan Sosial Siswa di Lingkungan Kelas

Universitas Islam Negeri Sumatera Utara; Universitas Islam Negeri Sumatera Utara; Universitas Islam Negeri Sumatera Utara; Universitas Islam Negeri Sumatera Utara

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan strategi yang diterapkan oleh guru dalam mengatasi pengucilan sosial siswa di lingkungan kelas. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan metode studi kasus. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara mendalam dengan guru dan siswa, serta dokumentasi. Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan informasi mengenai strategi-strategi efektif yang dapat diterapkan oleh guru untuk mencegah dan mengatasi pengucilan sosial siswa, sehingga tercipta lingkungan kelas yang aman, tenteram, dan suportif. Peran guru sebagai mediator sangat penting dalam membangun hubungan yang harmonis antar siswa. Sebagai perantara dalam interaksi sosial, guru perlu memiliki pengetahuan mengenai cara orang berinteraksi dan berkomunikasi agar dapat menciptakan lingkungan yang berkualitas dan interaktif. Sebagai mediator dan fasilitator, guru berperan untuk menumbuhkan hubungan positif antara siswa yang terlibat dalam permasalahan sosial. Salah satu langkah yang dapat diambil adalah dengan mempertemukan siswa yang terlibat dalam bullying, kemudian mengarahkan mereka untuk bekerja dalam satu kelompok belajar. Jika siswa masih enggan berdamai, guru dapat melibatkan orang tua siswa untuk membantu menyelesaikan masalah tersebut.

Abstract

This study aims to describe the strategies implemented by teachers in addressing social exclusion among students in the classroom environment. This research uses a qualitative approach with a case study method. Data were collected through observations, in-depth interviews with teachers and students, and documentation. The findings are expected to provide information on effective strategies that teachers can apply to prevent and address social exclusion, creating a peaceful and supportive classroom environment. The teacher's role as a mediator is crucial in fostering harmonious relationships among students. As an intermediary in social interactions, teachers need to have knowledge of how people interact and communicate in order to create a high-quality and interactive environment. As both a mediator and facilitator, the teacher's role is to promote positive relationships between students involved in social issues. One of the steps that can be taken is to bring together students involved in bullying and guide them to work in a single study group. If the students are still unwilling to reconcile, the teacher may involve the students' parents to help resolve the issue.
Keywords: Strategi · Guru · Buliying · Siswa · Sekolah

Introduction

Pendidikan merupakan usaha sadar dan terencana untuk menciptakan suasana belajar yang dapat mengembangkan potensi peserta didik secara aktif. Hal ini diatur dalam Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 pasal 1 ayat (1), yang menyatakan bahwa "Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara." Pada masa remaja, individu mengalami berbagai perubahan fisik, psikologis, dan sosial. Secara biologis, masa remaja ditandai dengan perkembangan seks primer dan sekunder, sementara secara psikologis, remaja mengalami perubahan emosi dan sikap yang cenderung labil (Hurlock, 1990). Masa remaja dibagi menjadi dua fase, yaitu remaja awal (13-17 tahun) dan remaja akhir (17-18 tahun). Pada fase remaja akhir, individu telah mencapai tahap perkembangan yang lebih mendekati kedewasaan. Menurut Desmita (2011), masa remaja juga ditandai dengan pencapaian hubungan yang matang dengan teman sebaya, penerimaan terhadap perubahan fisik, kemandirian emosional dari orang tua, serta pengembangan karier dan nilai-nilai sosial. Namun, masa remaja juga sering kali diwarnai dengan masalah sosial seperti bullying, yang dapat menghambat perkembangan psikologis dan sosial siswa. Bullying, yang melibatkan tindakan kekerasan fisik atau verbal terhadap siswa lain, dapat menyebabkan dampak negatif pada mental dan emosional korban, bahkan mengganggu perkembangan mereka secara keseluruhan. Sesuai dengan Undang-undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, setiap anak berhak mendapatkan perlindungan dari tindak kekerasan, termasuk bullying (Suradi, 2013). Guru sebagai pelaksana proses pembelajaran memiliki peran penting dalam menangani masalah bullying atau pengucilan sosial di kelas. Guru tidak hanya berfungsi sebagai pendidik, tetapi juga sebagai pembimbing dan mediator dalam menyelesaikan konflik antar siswa. Menurut Mudri (2010), guru memiliki peran sebagai pembimbing yang membantu siswa, termasuk dalam mengatasi masalah perilaku seperti bullying. Sebagai mediator, guru dapat mempertemukan pelaku dan korban bullying untuk mencapai solusi damai, serta melibatkan orang tua jika diperlukan. Dalam konteks ini, penelitian mengenai strategi guru dalam mengatasi pengucilan sosial di kelas menjadi sangat penting. Dengan memahami peran guru sebagai mediator dan fasilitator, diharapkan tercipta lingkungan kelas yang inklusif, di mana setiap siswa merasa diterima, dihargai, dan dapat mengembangkan potensi dirinya secara optimal.

Method

Berdasarkan latar belakang dan tujuan yang telah dikemukakan, peneliti menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif. Metode ini dipilih karena bertujuan untuk mengeksplorasi dan memotret situasi sosial secara menyeluruh, luas, dan mendalam. Menurut Moleong (2014), penelitian deskriptif kualitatif adalah prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari perilaku orang-orang yang diamati. Dalam penelitian ini, metode deskriptif kualitatif digunakan untuk menggambarkan upaya pencegahan bullying di SMPN 1 Enam Lingkung, Kabupaten Padang Pariaman. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara dan observasi. Wawancara dilakukan untuk menggali informasi secara lisan maupun tulisan dari siswa dan guru di lingkungan sekolah, terkait dengan upaya pencegahan bullying. Selain itu, observasi dilakukan dengan mengamati secara langsung situasi sosial di sekolah untuk memperoleh data yang lebih mendalam tentang interaksi antar siswa dan guru, serta penerapan kebijakan pencegahan bullying. Penelitian ini melibatkan 5 siswa dan 5 guru sebagai subjek penelitian, dan lokasi penelitian dilaksanakan di SMPN 1 Enam Lingkung, Padang Pariaman.

Result & Discussion

Hasil observasi yang dilakukan di Sekolah Menengah Pertama Negeri 36, yang terletak di Jalan STM Medan, menunjukkan bahwa guru memiliki peran yang cukup signifikan dalam menangani perilaku bullying di kelas. Selama observasi, kami mengikuti proses pembelajaran yang dipimpin oleh Bapak PG, seorang guru mata pelajaran IPA. Dari beberapa aspek dan indikator yang diamati, ditemukan adanya perilaku bullying yang masih terjadi di kelas tersebut. Salah satu contoh kasus bullying muncul ketika Bapak PG meminta siswa untuk membagi kelompok dalam kegiatan pembelajaran kelompok. Dua siswa, berinisial LU dan AS, tidak mendapatkan kelompok dan merasa diabaikan oleh teman-temannya. Ketika ditanya mengapa mereka tidak bergabung dengan teman- temannya, LU dan AS menjelaskan bahwa mereka tidak diterima oleh kelompok lain. Teman-teman mereka menganggap bahwa keduanya tidak mampu bekerja sama dalam menyelesaikan tugas kelompok, dan tidak hanya itu, keduanya juga seringkali dikucilkan di luar jam pembelajaran. LU dan AS bercerita bahwa meskipun mereka berusaha mendekatkan diri kepada teman-teman mereka, upaya tersebut tidak membuahkan hasil. Teman-teman mereka tetap menolak untuk bekerja bersama mereka. Menanggapi hal ini, Bapak PG menjelaskan bahwa jika terjadi situasi serupa, ia akan mengelompokkan siswa yang mampu dan yang kurang mampu dalam satu kelompok untuk saling membantu. Selain itu, Bapak PG juga menjelaskan pentingnya kerjasama dalam kelompok untuk menciptakan suasana yang saling mendukung. Diharapkan dengan pembagian kelompok seperti ini, siswa akan terbiasa bekerja sama dan berkomunikasi dengan baik, yang pada gilirannya akan menurunkan tingkat bullying di kelas dan meningkatkan kerjasama antar siswa. Peran guru dalam menangani bullying bukan hanya terbatas pada penyelesaian konflik antar siswa, tetapi juga dalam memberikan pemahaman tentang bullying kepada siswa. Sebagai pembimbing, guru harus memberikan penjelasan yang jelas tentang makna dan dampak dari bullying, sehingga siswa memahami konsekuensi dari tindakan tersebut dan terhindar dari perilaku yang merugikan teman-temannya (Smith, 2004). Guru juga harus memberikan tindakan yang tegas ketika ada kasus bullying di kelas, agar masalah dapat diselesaikan dengan baik tanpa menimbulkan dendam di antara siswa. Tindakan yang diambil oleh guru bertujuan untuk mencegah terulangnya perilaku bullying dan menciptakan lingkungan kelas yang aman dan inklusif. Sebagai mediator, guru memiliki peran penting dalam menciptakan hubungan yang positif di antara siswa. Untuk itu, guru perlu memiliki pengetahuan tentang cara berinteraksi dan berkomunikasi yang efektif, agar tercipta lingkungan yang berkualitas dan saling mendukung (Johnson & Johnson, 1999). Dengan mendorong perilaku sosial yang baik dan menghargai satu sama lain, guru dapat menumbuhkan rasa saling menghormati di antara siswa, yang akan berdampak positif pada suasana kelas yang lebih harmonis dan produktif. Oleh karena itu, upaya untuk mengatasi bullying tidak hanya melibatkan tindakan langsung terhadap pelaku, tetapi juga usaha untuk membangun pemahaman bersama tentang pentingnya kerjasama dan rasa hormat antar siswa. Tabel 1. Strategi Guru Mengatasi Buliying Aspek yang Diamati,Temuan,Tindakan Guru Pembagian Kelompok,"Dua siswa, LU dan AS, tidak mendapatkan kelompok dan merasa diabaikan oleh teman-temannya. Teman-teman mereka menganggap keduanya tidak mampu bekerja sama.",Bapak PG mengelompokkan siswa yang mampu dan yang kurang mampu dalam satu kelompok untuk saling membantu dalam menyelesaikan tugas kelompok. Perilaku Sosial di Luar Jam Pembelajaran,"LU dan AS dikucilkan di luar jam pembelajaran. Meskipun mereka mencoba mendekatkan diri, teman-teman tetap menolak mereka.",Bapak PG memberikan pemahaman tentang pentingnya kerja sama dan menghargai teman-teman satu kelas. Guru menjelaskan dampak dari pengucilan sosial dan bullying. Proses Pembelajaran Kelompok,Siswa tidak bekerja sama dengan baik dalam kelompok karena adanya kecenderungan pengucilan terhadap LU dan AS.,Bapak PG menjelaskan pentingnya kerja sama dalam kelompok dan menumbuhkan sikap saling mendukung di antara siswa. Guru mengingatkan siswa tentang pentingnya saling membantu dalam kelompok. Peningkatan Kerja Sama,Ada perbedaan perilaku antara siswa yang lebih mampu dan yang kurang mampu dalam bekerja sama.,"Bapak PG berharap melalui pembagian kelompok yang beragam, siswa akan terbiasa bekerja sama, sehingga meningkatkan kerja sama di kelas dan mengurangi bullying." Pemahaman tentang Bullying,Siswa tidak sepenuhnya memahami dampak dari perilaku bullying.,Bapak PG memberikan penjelasan tentang bullying dan dampaknya agar siswa lebih sadar dan menghindari perilaku tersebut. Guru juga memberikan tindakan agar kasus bullying dapat terselesaikan dengan baik.

Conclusion

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan di SMPN 1 Enam Lingkung, dapat disimpulkan bahwa guru memiliki peran yang sangat penting dalam mengatasi perilaku bullying dan pengucilan sosial di kelas. Dalam hal ini, guru bertindak sebagai mediator yang menghubungkan hubungan antar siswa dan berperan aktif dalam menciptakan lingkungan kelas yang lebih inklusif dan suportif. Hasil observasi menunjukkan bahwa praktik pembagian kelompok yang dilakukan oleh guru, di mana siswa yang mampu bekerja sama dengan yang kurang mampu, dapat mengurangi perilaku pengucilan dan meningkatkan kerjasama antar siswa. Selain itu, pemahaman yang diberikan oleh guru mengenai bullying dan dampaknya membantu siswa untuk lebih menyadari pentingnya sikap saling menghargai dan menghormati. Secara keseluruhan, dengan tindakan yang tepat dan pendekatan yang melibatkan komunikasi serta kerjasama, guru dapat mengurangi masalah bullying dan menciptakan suasana kelas yang lebih harmonis.