PERAN PUSTAKAWAN DALAM MENINGKATKAN INDEKS LITERASI INFORMASI MASYARAKAT
Universitas Islam Makassar
Abstrak
Artikel ini membahas tentang bagaimana peranan dari pengelola sebuah Perpustakaan atau Pustakawan dalam meningkatkan indeks literasi informasi, yang dimana kemajuan suatu bangsa itu dapat dilihat dan diukur oleh sumber daya yang dimiliki khususnya kemampuan dalam mendapatkan dan mengelola sebuah informasi. Perpustkaan dalam kaitannya memiliki sebuah peranan yang sangat penting dalam mengembangkan sumber daya manusia khususnya dalam pemanfaatan sebuah informasi. Hal ini tentu tidak lepas dari bagaimana peranan pengelola Perpustakaan atau Pustakawan dalam meningkatkan indeks literasi Informasi bagi Masyarakat, upaya dari peningkatan indeks literasi ini kelak akan bermuara kepada peningkatan kuantitas serta kualitas sumber daya manusia bagi suatu bangsa yang siap bersaing dalam kompetisi global.
Keywords:
Informasi
· Pustakawan
· Literasi Informasi
Introduction
Dalam perkembangan era tekhnologi seperti saat sekarang ini yang menjadi salah satu aspek yang paling penting dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia adalah kemampuan dalam menemukan serta mengelolah sebuah informasi, sehingga bila aspek tersebut mampu di terapkan dan dilaksanakan tentu akan memberikan dampak yang sangat positif bagi suatu wilayah, daerah, bangsa serta negara ini dalam mengatasi berbagai macam persoalan yang tengah dihadapi. Jika literasi informasi suatu masyarakat itu mampu di tingktatkan tentu akan menghasilkan sebuah kompetensi informasi, yaitu suatu kecakapan atau keahlian informasi yang didapatkan dalam menemukan dan menggunakan informasi untuk bebrbagai macam keperluan sehari-hari sehingga akan mempengaruhi serta mempercepat sebuah perubahan dalam lingkungan masyarakat sehingga akan berpengaruh kepada kemajuan suatu bangsa dan negara. Perpustakaan merupakan suatu sumber daya informasi yang menjadi inti dari majunya sebuah Lembaga atau institusi, khususnya pada Lembaga Pendidikan. Selain daripada itu Perpustakaan juga menjadi sebuah wadah yang meberikan berbagai macam informasi, baik yang mempunyai hubungan dengan sosial, budaya, manajemen, ekonomi, serta informasi- informasi lainnya. Didalam institusi Pendidikan Perpustakaan bahkan diibaratkan sebagai Jantung dari Perguruan Tinggi, sehingga dari istilah ini Perpustakaan ini mempunyai sebuah peranan yang sangat besar dan penting bagi institusi Pendidikan, sebab jika Perpustakaan tersebut yang diibaratkan dengan jantung itu lemah dan tidak berfungsi sebagaiman fungsinya tentu akan mempengaruhi seluruh stakeholder yang ada begitupun juga dengan sebaliknya. Perpustakaan merupakan Lembaga informasi yang dalam Undang-Undang nomor 43 tahun 2007 menyebutkan bahwa Perpustakaan mempunyai fungsi sebagai wahana Pendidikan, penelitian, pelestarian, dan rekreasi dalam mencerdesakan suatu bangsa baik dalam lingkup masyarakat maupun individu. Perpustakaan dewasa saat ini telah melakukan trasnformasi yang dimulai pada era tradisional, era otomasi, hingga sampai pada era digital seperti saat sekarang ini. Perpustakaan telah memberikan sebuah bukti sebagai suatu Lembaga yang telah berkembang dan bertrasformasi, lalu bagaimana dengan pengelola perpustakaan atau Pustakawan itu sendiri.? Perkembangan sebuah Perpustakaan tentu tidak lepas dari para pengelola Perpustakaan itu sendiri atau biasa dikenal dengan istilah Pustakawan, Pustakawan bukan hanya bertugas untuk melakukan kegiatan-kegiatan administrasi seperti pengorganisasian dan pengolahan bahan Pustaka tetapi juga mampu memberikan kontribusi dalam peningkatan Indeks Literasi Masyarakat khususnya dalam pencarian informasi. Profesi Pustakawan didapatkan melalui sebuah Pendidikan dan atau dari pelatihan-pelatihan Pustakawan yang mempunyai tugas dan tanggung jawab dalam melaksanakan aktivitas-aktivitas di Perpustakaan. Pustakawan saat ini tentu bukan lagi seorang pengelola Perpustakaan yang mempunyai kemampuan terbatas yang hanya mampu melakuan kegiatan-kegiatan tekhnis dan pelayanan yang bersifat administrasi saja, tetapi Pustakwan harus bisa melakukan trasnformasi pada kerangka fikir mereka dalam melakukan pelayanan-pelayanan yang ada pada sebuah Perpustakaan, dalam sebuah Perpustakaan tentu kebutuhan para pemustaka berbeda-beda sehingga dari hal ini pengelola Perpustakaan wajib meningkatkan kompetensinya seperti kecakapan dalam hal Literasi Information, Information Media, serta pengetahuan tentang koleksi yang dibuthkan oleh Pemustaka atau pengunjung Perpustakaan. KAJIAN PUSTAKA Kegiatan preservasi bahan pustaka merupakan langkah menyelamatan bahan pustaka dari kerusakan dan kemusnahan akibat faktor hama dan manusia dan faktor alam. A. Pengertian Informasi Kata informasi ini sudah ada dan dikenal sejak 20 tahun yang lalu, bahkan kata informasi ini yang berasal dar kata dasar inform sudah ada sejak abad ke – 14 Masehi. Istilah dari Informasi ini sudah sangat familiar dibeberapa lingkungan masyarakat bahkan hamper semua jenis bidang ilmu pengetahuan mengakui bahwa informasi itu adalah sebagai faktor dari sebuah konsep yang menghiasi bidang-bidang tersebut. Dalam konteks ini hakekat informasi ini pun menjadi bermacam-macam sebab selalu akan di warnai dengan beebagai macam serta sudut pandang para perumusnya, pemanfaatannya, serta kepentingan lainnya. Dalam konteks regulasi undang-undang sesuai yang disebutkan dalam pasal 1 ayat 2 undang-undang Republik Indonesia no 14 tahun 2008 mengenai system kemudahan akses informasi publik, yang dimnana dalam devinisi sebuah informasi ini dapat di artikan sebagai keterangan, peryataan, ide serta gagasan-gagasan yang mempunyi niai serta makna dan sebuah pesan baik data dan fakta serta penjelasannya yang bisa digunakan dan disajikan dalam berbagai macam metode yang disesuaikan dengan tingkatan perkembangan Informasi baik itu secara konvesional maupun secara digital. Kemudian dalam ayat 2 juga disebutkan bahwa infromasi publik adalah suatu informasi yang didapatkan, disimpan, kemudian dikelola oleh suatu badan atau Lembaga yang mempunyai kaitan penyelenggaran suatu badan publik lainnya yang disesuaikan dengan regulasi atau aturan serta pesan lain yang mempunyai hubungan dengan kepentingan lain. Sehingga dalam prinsipnya semua orang berhak untuk mengetahui serta mendapatkan sebuah informasi dari Lembaga atau badan penyelenggara baik yang berstatus negeri maupun swasta, seperti unit Lembaga informasi, Perpustakaan, Lembaga Kearsipan, serta Pusat dokumentasi dan unit-unit lainnya yang mempunyai tugas dan tanggung jawab dalam melayani kepentingan Publik. Para pakar di bidang informasi dan Perpustakaan mengemukakan sebuah perspektif bahwa informasi adalah suatu ilmu atau pesan yang disampaikan kepada seseorang baik itu secara invidu maupun kelompok dengan model yang dapat dengan mudah diketahui oleh orang lain. Kemudian dari pada itu pengetahuan juga berasal dari sebuah pesan atau informasi yang sesuai dan mampu diserap serta dikolaborasikan dalam mindset seseorang, kemudian ilmu dan pengetahuan yang mempunyai hubungan relevan denga apa yang ditangkap oleh panca indra yang kemudian dapat diakumulasikan sebagai informasi. Informasi atau pengetahuan adalah sesuatu yang nyata walaupun sumber yang menghsilkan pengetahuan dan informasi itu biasanya didapatkan dari hal-hal yang tidak nyata., seperti dari informasi hoax, isu atau gosip serta informasi yang didapatkan dari alam mimpi. Selain dari pada itu informasi juga merupakan suatu ilmu pengetahuan yang kemudian disesuiakan dengan suatu kesadaran akan sebuah peristiwa serta kejadian yang nyata serta faktor lain yang kemudian akan diserap dan dismpan dalam sebuah ruang yang Bernama experience (Pengalaman). Ruang pengalaman adalah suatu tempat yang mengelola berbagai bidang yang salah satu diantaranya adalah ruang imajinasi yang mampu mendeskripsikan serta menggambarkan kesadaran serta pemahaman yang dimiliki oleh seseorang baik itu secara kelompok maupun secara individual, dimensi pengalaman ini dapat berubah serta mampu meluas seiring dengan perkembangan-perkembangan yang didapatkan dari berbagai pengalaman – pengalaman seseorang. Mungkin dari hal ini kita bisa mendeskripsikan bahwa memank tidak mudah dalam mengartikan sebuah konsep informasi karna infromasi ini sendiri mempunyai berbagai macam model, sifat, serta tujuan yang terkadang satu dengan yang lainnya berbeda. Pengertian yang satu dengan yang lainnya biasanya terjadi karena mempunyai beberapa perbedaan mulai dari pemahaman terkait informasi itu sendiri maupun penekanan serta versi yang berbeda. Sementara itu pesan atau informasi juga memiliki pemaknaan yang berbeda-beda tergantung seperti apa model serta indikator yang diterapkan. Hampir disemua bidang displin ilmu pengetahuan memandang pesan atau informasi adalah suatu bagian dari indikator yang mempunyai berbagai macam relevansi. Tetapi pada dasar prinsipnya pengetahuan atau informasi itu berawal dari suatu ide, data atau fakta serta peristiwa yang diabadikan baik secara lisan, ataupun tulisan hingga dapat bermanfaat bagi orang lain. Dalam kajian suatu bidang informasi yang memiliki berbagai macam aspek yang sesuai dengan pemahaman informasi secara kontekstual, sehingga bidang-bidang pada displin ilmu yang lain dapat mengambil pelajaran serta kekayaan akan pengetahuan dan informasi yang diperuntukkan untuk pengembangan kualitas sumber daya manusia yang siap bersaing dalam kompetisi global. B. Ciri-Ciri Informasi Informasi merupakan sebuah sarana atau alat yang dapat digunakan dalam pencarian sebuah ilmu dan pengetahuan, naman dari pada itu masih banyak orang yang belum mengetahui dan memahami tentang ciri-ciri serta fungsi dari Informasi tersebut. Berikut akan diuraikan ciri serta fungsi dari informasi : 1. Ciri yang Pertama adalah adanya nilai Benar dan Salah, yang artinya pesan atau informasi yang didapatkan atau disampaikan pasti akan berhubungan dengan sebuah realita atau kenyataan yang kebenaran dan kesalahan nya masih akan terus di uji. 2. Update atau Baru artinya setiap informasi atau pesan yang didapatkan oleh si penerima harus betul-betul terbaru atau terupdate. 3. Korektif, artinya informasi atau pesan yang dapat dimanfaatakan dalam melakukan perbaikan-perbaikan terhadap pengetahuan atau pesan yang didapatkan sebelumnya yang benar atau yang keliru. 4. Kejelasan , artinya pesan yang didapatkan mampu memberikan serta melakukan penegasan terhadap sebuah informasi yang ada sebelumnya sehingga dapat memberikan keyakinan terhadap infromasi yang ada. Kemudian dari pada informasi juga mempunyai beberapa fungsi yang dapat dimanfaatkan dalam kehidupan sehari-hari baik secara individual maupun secara kelompok, Fungsi dari Informasi adalah : C. Fungsi Informasi 1. Sumber Ilmu Pengetahuan Sebuah informasi atau pesan yang didapatkan tentu menyajikan sebuah kejadian dalam sebuah kondisi tertentu, seperti menunjukkan hubungan kekuasaan dan dapat memudahkan dalam menemukan berbagai macam ide-ide, sehingga dengan begitu seseorang dapat menjadikan atau memperoleh sebuah informasi itu sebagai alat atau sarana dalam menemukan ide, gagasan serta pengetahuan yang baru. 2. Wahana Rekreasi atau Hiburan Dalam penyaluran sebuah informasi dapat menggunakan beberpa media, baik yang elektronik maupun yang sifatnya konvesioanal atau non elektronik, media elektronik tentu memiliki posisi yang paling tinggi dalam memberikan sebuah informasi melalui hiburan-hiburan dibandingkan dengan media yang lainnya. Umumnya seseorang menggunakan media elektronik sebagai bentuk hiburan atau relaksasi untuk menghilangkan kepenatan atas problem-problem tengah dihadapi. 3. Fungsi Mempengaruhi Ini adalah fungsi lain dari sebuah informasi yang bertujuan untuk mepengaruhi seseorang baik secara individu ataupun masyarakat, sebab saat ini seperti yang kita lihat bahwa begitu banyak orang-orang yang terpengaruh oleh informasi atau pesan yang didapatkan dari berbagai macam media, baik media elektronik atau pun media massa, menurut salah seorang pakar informasi Bernama De Vito, fungsi mempengaruhi dalam informasi ini dianggap sangat penting dan krusial dalam sebuah komunikasi massa, selain itu fungsi mempengaruhi itu sendiri dapat timbul dari berbagai macam aspek, seperti mensosialisasikan sebuah sikap, mengubah pola piker, serta mampu memperkuat sikap, sehingga oleh karena itu sebuah infromasi atau pesan sangat memiliki peran yang sangat penting dalam mengubah perilaku suatu masyarakat. D. Pengertian Literasi Informasi Literasi informasi adalah suatu kecakapan atau keahlian yang dalam era tekhnologi sangat penting untuk di kuasai, ALA (American Librarian Associatioan) dalam teorinya mengatakan seseorang yang cakap informasi merupakan seseorang yang bisa mengetahui kapan informasi itu dibutuhkan serta mampu dalam melakukan kegiatan mencari, menemukan serta mengevaluasi dalam menggunakan informasi lebih selektif. Kemudian dari pada itu kecakapan literasi informasi juga merupakan suatu syarat dalam membentuk masyarakat menjadi masyarakat yang melek informasi dan juga merupakan bagian dari hak asasi setip orang untuk melakukan pembelajaran sepanjang hayat. Kecakapan dalam berliterasi saat ini harus menjadi suatau kewajiban baik itu ditingkat sekolah maupun di tingkat Perguruang tinggi, sebab literasi Informasi tidak lagi bermakna sebagai kemampuan membaca dan menulis saja tetapi dalam penjabaran yang lebih luas lagi kecakapan berliterasi sesorang akan mampu memberikan pembelajaran serta pemahaman tentang bagaimana mendapatkan sebuah sumber informasi atau bahan rujukan yang tepat kemudian digunakan sebagai alat penunjang dalam kegiatan proses pembelajaran. Perpustakaan merupakan suatu unit yang bertindak dalam mengelola serta menyediakan sumber informasi, yang memiliki peran penting dalam pengembangan Literasi Informasi, ada beberapk cara atau tehnik yang dapat dilakukan oleh pengelola Perpustakaan dalam mengembangka kecakapan literasi informasi yang salah satunya adalah dengan cara memberikan Pendidikan pemustaka. Saat sekarang banyak yang mengatakan bahwa kita memasuki generasi milenail atau biasa juga ada yang mengatakan sebagai generasi Google maksudnya adalah semua jenis-jenis informasi yang terdapat dan tertulis dalam alat penelusuran seperti google itu semuanya pasti benar, sehingga inilah yang menyebabkan munculnya permasalahan-permasalahan di lingkungan masyarakat kita saat ini, karena menjadikan informasi yang beredar dalam dunia maya sebagai tolak ukur dari kebenaran inforamasi. Inilah kemudaian yang menjadi salah satu tugas yang harus diselesaiakan oleh Pustakawan bagaimana memberikan pemahaman terkait informasiinformasi yang beredar saat ini. Walaupun dengan meningkatnya ilmu pengetahuan dan tekhnologi ini sehingga mengakibatkan ledakan Informasi, tetapi kita juga harus cakap dan ahli dalam menemukan sebuah informasi yang benar karena tidak semua informasi yang beredar disekitar kita dapat diterima dan dimanfaatkan, Khususnya bagi orang-orang yang berkecimpung dalam dunia Pendidikan. Achmad (2007:1) dalam bukunya mengatakan bahwa informasi yang bermuatan negative cenderung lebih banyak ditemukan melalui informasi yang bermuatan positif, sehingga oleh sebab itu para pengguna jasa informasi bisa lebih bijak dan lebih cerdas dalam menemukan sebuah informasi sesuai dengan apa yang dibutuhkan. Kecakapan dan keahlian dalam beriliterasai bukan hanya suatu kemampuan dalam menemukan informasi tetapi juga dapat mempengaruhi aktivitas membaca seseorang baik itu di kalangan siswa maupun dilingkup Perguruan Tinggi. kemudian selain daripada meningkatkan kemampuan membaca bagi para peserta didik kecakapan litrerasi informasi juga mampu diimplementasikan secara kolaborasi dalam kegiatan-kegiatan akademik yang akan menunjang kemampun proses belajar mengajar maupun dibidang penelitian. E. Literacy Culture Majunya suatu bangsa dan negara dapat diukur dan dilihat dari berapa banyak produk yang telah diciptakan serta pengetahuan yang dimiliki dari setiap sumber daya manusinya, kemudian ilmu atau pengetahuan yang dimilikinya dari berbagai macam aspek dan sumber baik di dapatkan melalui lisan ataupun tulisan. Sehingga semakin tinggi pemahaman serta kemampuan seseorang dalam mendapatkan ilmu pengtahuan dan kecakapan dalam literasi informasi tentu akan semakin baik nilai perdaban yang ada dalam suatu bangsa atau negara tersebut. Kemudian daripada itu literasi informasi juga mampu di terjemahkan dalam bentuk yang lebih sederhana yaitu kemampuan dalam mengelolah sebuah bacaan atau dengan istilah yang lain Melek Aksara. Wicaksono dalam Association of College and Research Libraries mengatakan bahwa kumpulan dari kemampuan seseorang dalam upaya mengetahui kapan dirinya membutuhkan suatu informasi dan bagaimana cara melakukan penelusuran serta melakukan evaluasi terhadap informasi yang dibutuhkan. Selain dari pada itu literassi informasi juga memuat sebuah pengetahun serta keterampilan dalam menyelesaikan sebuah problem dalam pengambilan keputusan, baik untuk kepentingan individu maupun kepentingan sosial, hal tersebut dapat ditempuh dengan cara penelusuran, penemuan serta memanfaatkan informasi yang didapatkan dari berbagai macam sumber dan aspek serta melakukan perbandingan dengan pengtetahuan yang terabaru secara efektif dan efisien. Dari ulasan diatas kita dapat menyimpulakan bahwa kecakapan dalam berliterasi mempunyai hubungan yang sangat kuat dengan keterampilan serta keahlian dalam menemukan serta memanfaatkan sebuah informasi sesuai dengan kebutuhannya. Seseorang dapat dikatakan sebagai orang yang berliterat atau melek informasi ketika ia mampu memahami serta menyimpulkan apa yang tersirat dari yang tersurat dari isi bacaan atau informasi yang di baca. Kebiasaan literasi seseorang itu tidak muncul atau datang dengan secara tiba-tiba, tetapi harus mendapat dukungan dari berbagai macam pihak sehingga dari dukungan yang diberikan baik dari keliuraga, serta lingkungan akan membentuk sebuah kebiasan berliterasi yang akan mengahasilkan sebuah culture atau budaya literasi informasi yang baik. Kebiasaan seseorang bukan Cuman ada dari lahiriyah tetapi kebiasaan juga itu bisa muncul dari sebuah prosesn belajar dan adanya faktor disekitar yang dapat membentuk kebiasaan seseorang tersebut. Saat ini sudah banyak yang menginformasikan tentang minat atau budaya literasi kita saat ini sangat rendah, tentu yang menjadi penyebab dalam hal ini adalah karena masyarakat kita masih belum menganggap aktivitas membaca menjadi sebuah kebutuhan dalam peningkatan kemampuan kompetensi individu. Seperti yang sudah di jelaskan diawal bahwa salah satu indikator dalam menetukan kualiatas suatu bangsa dan negara dengan melihat pengetahuan yang dimiliki oleh sumber daya nya serta produk-produk yang telah diciptkan, tentu hal tersebut tidak akan bisa didapatkan ketikan minat atau budaya baca kita rendah, karena tidak ada jalan lain yang dapat ditempuh untuk mentrasfer pengetahuan selain dengan membaca. F. Jenis-Jenis Literasi Informasi Saat ini telah banyak yang menjelaskan tentang perkembangan sebuah informasi yang dapat digambarkan melalui beberapa aspek informasi seperti teks book, journal, laporan keuangan, dan audio visual. Bisa saja kedepan akan ada bentuk lain dari aspek informasi lain yang dapat memberikan gambaran terkait jenis literasi yang dipahamai saat ini, berikut jenis literasi informasi yang dapat menjadi alat pendukung dalam pengembangan serta peningktan informasi diantaranya: 1. Literasi Digital atau Visual Literasi yang pertama mengenai literasi digital atau visual ini adalah suatu keahlian dalam memahami suatu kemampuan dalam berfikir, dan belajar yang dapat memberikan gambaran terkait individual dalam sebuah konteks citra. Literasi digital atau visual juga merupakan suatu kecakapan yang dimiliki dalam meringkan beban kerja yang dilaksanakan. Jenis litersasi ini akan memberikan sebuah penjelasan tentang sesutau yang bersifat visual, objek serta gambar yang dapat digunakan sebagai media komunikasi dengan orang lain. 2. Literasi Media Literasi media adalah suatu kecakapan serta kemampuan seseorang yang digunakan dalam mencari dan mengakses sebuah informasi yang di manfaatkan dalam keperluan sehari-hari. Saat sekarang seperti ini aktifitas sehari hari seseorang telah banyak di pengaruhi oleh beberapa media dalam menemukan sebuah informasi seperti radio, tv, sosial media serta media-media cetak lainnya. Dengan kecakapan serta kehalian yang dimiliki dalam menggunakan media sebagai alat penelusaran informasi ini akan menjadikan seseorang memiliki sebuah kompetensi dalam menemukan serta menganalis sebuah informasi yang dibutuhkan. 3. Literasi Komputer Literasi ini mempunyai pandangan tentang suatu keahlian tentnag bagaiamana menggunakam serta mengoperasikan perangkat komputer secara efektif sebagai suatu cara dalam menemukan sebuah informasi yang dalam hal ini adalah bagian dari literasi informasi dan komputer. Literasi komputer ini mempunyai beberapa aspek utama yang wajib diketahui adalah literasi tentang Hardware Dan Software, dalam literasi Hardware seseorang akan bersinggungan dengan beberapa perangkat dasar yang digunakan dalam penggunaan sebuah komputer seperti notebook, dan laptop. Sedangkan pada literasi software ini orang akan lebih banyak bersentuhan dengan beberapa perangkat dari hardware seperti microsoft office, power point, dan excel. G. Tingkatan Literasi Seperti yang telah disebutkan sebulumnya bahwa literasi informasi saat ini tidak bisa lagi di maknai sebagai kemampuan membaca dan menulis saja, berikut ada beberapa tingkatan literasi informasi yang sesuai dengan perkembangan saat ini : 1. Tingkatan pertama Pada tingkatan ini pengertian literasi informasi lebih difokuskan kepada kemampuan dalam mengenal huruf, kata atau kalimat ini disebabkan karena persoalan pendidikan yang belum merata pada saat itu. 2. Tingkatan Kedua Pada tingkatan ini literasi informasi dimaknai sebagai suatu kemampuan atau keahlian dalam mengumpulkan sumber-sumber bahan bacaan yang dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan akan informasi dalam menjawab segala persolan-persoalan yang ada. 3. Tingkatan Ketiga Pada tingkatan ini literasi informasi dimaknai sebagai suatu kemampuan dalam mengunkapkan sebuah ide, gagasan baru atau suatu teori baru dari hasil bacaan yang telah di baca. Sehingga dari beberpa hasil bahan bacaan yang telah diselesaikan mampu menghasilkan sebuah pengetahuan-pengetahuan yang baru. 4. Tingkatan Keempat Pada tingkatan ini literasi informasi dimaknai sebagai suatu kemampuan memahami apa yang tersirat dari yang tersurat dari bahan bacaan yang telah dibaca, pada konteks ini seseorang akan lebih jelih serta lebih menganalisis lagi apa makna yang terkandung dalam bahan bacaan. 5. Tingkatan Kelima Pada tingkatan ini literasi informasi dimaknai sebagai tingkatan yang tertinggi yaitu seuatu kemampuan dalam menciptakan sebuah produk, barang atau jasa, yang mempunyai nilai dan dapat di gunakan dalam kompetsi global, dari kedalam literasi yang dimiliki oleh seseorang tentu akan mengantarakannya kepada sebuah kecakapan atau keahlian dari hasil bacaan mereka mampu memberikan output yang yang dapat digunakan dalam percaturan dunia.
Method
Dalam penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif yang bertujuan untuk memahami kegiatan preservasi bahan pustaka, faktor-faktor apa yang menyebabkan kerusakan bahan pustaka, dan bagaimana usaha mencegah kerusakan bahan pustaka, hal demikian ditelaah secara komprehensif, intens, rinci dan mendalam, dengan demikian maka usaha perawatan bahan pustaka dapat teratasi dan ditemukan solusi pemecahannya. Sumber data yang digunakan yaitu data kepustakaan dan data lapangan dengan informan pengelola perpustakaan. Data sekunder merupakan data referensi pendukung yang ada kaitannya dengan apa yang diteliti melalui kepustakaan (library research), seperti buku, majalah, jurnal, dan lain-lain. Metode pengumpulan data yaitu melalui penelusuran literatur dan proses wawancara atau dialog dengan pengelola perpustakaan. Dokumentasi, yaitu penulis langsung melihat dan membaca dokumen atau arsip-arsip yang berhubungan dan diperlukan dalam pembahasan artikel tersebut. Teknik pengolahan data yaitu mengumpulkan literature pendukung sesuai kajian dan menyusun suatu daftar permasalahan dalam bentuk pertanyaan dan disusun secara sistematis berdasarkan kerangka konseptual. Model analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah model interaktif yang dikembangkan oleh Miles dan Huberman yang dimulai dengan pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan/verifikasi. Proses analisis data dilakukan secara terus-menerus di dalam proses pengumpulan data selama penelitian berlangsung.
Discussion
A. Kegiatan Preservasi Bahan Pustaka Istilah Peran disini dapat dimaknai dengan beberapa perspektif seperti bagian, posisi, atau mungkin juga kedudukan dan wilayah dimana perpustakaan tersebut menjalankan tugas dan fungsinya. Tentu wilayah atau tempat sebuah Perpustakaan akan menjadi penentu, dan sangat berpengaruh dalam pengemabangannya, ketika hal tersebut tidak menjadi priotitas atau hal yang utama difikirkan dalam menempatkan sebuah Perpustakaan tentu perpustakaan akan menjadi pelengkap di instansi yang ada sehingga tugas dan fungsinya tidak akan berjalan dengan baik. Memank sukses atau tidaknya suatu Perpustakaan itu tidak dapat diukur melalui dimana lokasinya saja tetapi peran dari pengelola Perpustakaan atau Pustakawan juga merupakan suatu indikator yang sangat penting di perhatikan walaupun Perpustakaan sudah berada disuatu tenpat atau wilayah yang sangat strategis tetapi Pustakawan yang mengelolanya tidak mempunyai ide, gagasan, atau inovasi yang baik tentu Perpustakaan itu juga tidak bisa dan tidak mampu dalam menjalankan tugasnya sebagai penyedia jasa informasi. Merujuk dari sebuah regulasi atau aturan yang tercantum dalam undang-undang Peprustakaan dengan No 43 tahun 2007 yang berada pada bab I pasal I ayat 8 yang mengatakan bahwa Pustakawan atau pengelola Perpustakaan yaitu seseorang yang mempunyai keahlian serta kecakapan yang didapatkan melalui suatu pendidikan formal atau pelatihan-pelatihan kepustakwanan yang memiliki tugas dan tanggung jawab dalam menjalankan pengelolaan serta pelayanan yang ada dalam sebuah Perpustakaan. sehingga dari penjabaran diatas dapat kita simpulkan bahwa Pustkawan mempunyai peran dalam meningkatkan Indeks Literasi Masyarakat, beberapa peran Pustakawan dapat kita liat sebagai berikut: 1. Pendidik Sebagai Pendidik (edukator) pengelola Perpustakaan atau Pustakawan yang dalam kesehariannya melakukan aktivitas pada sebuah unitnya tugasnya bukan hanya melayani Pemustaka dalam hal yang berifat tekhnis saja tetapi juga harus bisa berperan sebagai edukator atau pendidik, seorang pengelola Perpustakaan atau Pustakawan harus bisa menjalankan fungsi pendidikan pada unit kerjanya seperti membagikan ilmu pengetahuan, memberikan pendampingan, serta memberikan pelatihan-pelatihan yang berhubungan dengan pengembangan kepribadian, serta pengembangan keterampilan dalam menemukan dan memanfaatkan informasiinfromasi yang dibutuhkan. 2. Manajer Pada dasarnya Pengelola Perpustakaan atau Pustakawan adalah seorang Manajer Informasi yang bertugas dalam melakukan pengelolaan Informasi dengan Pemustaka yang berada disisi yang lainnya. Sebagai seorang pemimpin atau manajer pengelola Perpustakaan harus mempunyai jiwa Leadership yang dimana mampu memimpin, menggerakkan serta menjadi koordinator dalam menjalankan aktivitas kesehariannya dalam sebuah Perpustakaan, pengelola Perpustakaan yang bertindak sebagai seorang manajer yang mempunyai jiwa kepemimpinan harus dapat memaksimalkan semua jenias sumber daya yang ada dalam Unitnya seperti SDM, sumber daya informasi sarpras (sarana dan Prasarana) yang dapat menunjang pencapaian dari peningkatan Indeks Literasi. 3. Administratoris Pengelola perpustakaan yang menjalankan aktivitas atau kegiatan-kegiatan administrasi harus bisa menngerjakan mulai dari menyusun sampai dengan melakukan sebuah evaluasi dari rancangan atau rencana kerja sebuah Perpustakaan, setelah itu harus mampu melakukan sebuah analisis program yang telah berhasil dijalankan dan dikerjakan yang diinginkan dari analisis ini adalah untuk menemukan upaya apa yang dapat dilakukan dalam melakukan sebuah perbaikan dalam program kerja yang telah berjalan dan dilaksnakan. Sehingga dari penjabaran diatas dapat disimpulkan bahawa Pengelola Perpustakaan juga dituntut mempunyai pengetahuan yang luas dalam bidan pengorganisasian dan sistem kerja. Dengan kemampuan yang dimiliki oleh seorang Pustakawan ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas kerja serta berdaya guna yang baik. 4. Supervisi Peran yang terakhir ini adalah Pengelola perpustakaan bertindak sebagai Supervisi atau Supervisior yang dalam fungsinya mampu melakukan sebuah pembinaan yang profesional yang dapat mengembangkan Persatuan diantara pengelola Perpustakaan atau Pustakawan, sehingga dari itu mampu menimbulkan semangat kerja dalam kebersamaan. Pengelola Perpustakaan juga harus selalu meningkatkan pengetahuannnya serta wawasannya sehingga mampu menningkatkan keterampilan serta prestasi pada bidang yang dijalankannya. Kemudian hal yang perlu juga jalankan pengelola Perpustakaan yang bertindak sebagai Supervisor adalah bagaimana menjaga hubungan baik dengan rekan sejawat atau pembina serta selalu mengkordinasikan dengan cara yang bijak ketika terjadi perselisihan dalam unit kerja sehingga hal ini juga dapat indikator dalam meningkatkan kinerja selurh sumber daya manusia yang ada dalam sebuah Perpustakaan. B. Tantangan Pustakawan Dalam Meningkatkan Indeks Literasi Berbagai macam cara yang telah dilakukan oleh pengelola Perpustakaan atau Pustakawan dalam mengikuti arus perkembangn tekhnologi yang semakin hari semakin menuntut Pengelola Perpustakaan agar bisa berinovasi dalam meningkatkan indeks Literasi Masyarakat, dalam mengembangkan indeks Literasi tentu pengelola Perpustakaan memiliki tantangan yang harus siap dijalankan dalam pencapaiaanyan diantaranya: 1. Literasi Alat Maksudnya adalah bagaiamana Pengelola Perpustakaan atau Pustakawan dapat memahami serta mempergunakan sebuah perangkat tekhnologi informasi baik itu secara konsep maupun secara Implementasi. 2. Literasi Sumber Daya Adalah sebuah kemampuan dalam memahami sebuah bentuk, aspek, serta tata cara dalam menemukan sebuah informasi khususnya dalam jaringan sistem informasi yang senantiasa terus berkembang. 3. Literasi Sosial Adalah suatu kemampuan dalam memahami bagaiaman informasi atau pesan yang dihasilkan oleh berbagai pihak baik secara individu maupun kelompok dalam sebuah masyarakat. 4. Literasi Riset Maksudnya adalah bagaiamana pengelola perpustakaan atau Pustakawan mempunyai kemampuan serta keahlian dalam mengelola sebuah Riset sebagai sebuah sarana dalam mendapatkan serta menemukan sebuah informasu yang terbaru. 5. Literasi Pubikasi Yang dimaksud dengan literasi Publikasi adalah sebuah kemampuan atau keahlian bagi seorang Pustakawan dalam melakukan sebuah penerbitan informasi serta ide-ide ilmiah dalam suatau kalangan yang lebih luas dengan memanfaatkan sumber-sumber informasi berbasis jaringan.
Conclusion
Mengingat banyaknya manfaat jika seseorang memilki kecakapan Literasi Informasi, oleh karena itu pengelola Perpsutakaan atau Pustakawan harus bisa menjalankan perannya dalam meningkatkan Indeks Literasi Masyarakat, dengan menjalankan peran-peran dari seorang Pengelola Perpustakaan serta memperjelas fungsi dari Sebuah Perpustakaan yakni mempunyai fungsi sebagai lembaga Pendidikan, Penelitian, pelestarian, sarana Informasi, dan tempat rekreasi seperti yang di sebutkan dalam undang-undang Perpustakaan yang diharapakan dapat menigkatkan indeks Literasi masyarakat, yang pada akhirnya mampu menciptkan sebuah situasi masyarakat yang mampu menjadikan aktivitas Literasi ini sebagai kebutuhan Pokok dalam aktivitas kesehariannya.