Kembali
16
1
2023 Journal Papyrus : Sosial, Humaniora, Perpustakaan dan Informasi Vol 2 · 2 ISSN 2829-0690

UPAYA MENINGKATKAN MINAT BACA ANAK-ANAK DI YAYASAN PONDOK PENUAI INDONESIA

Universitas Kristen Satya Wacana; Universitas Kristen Satya Wacana; Universitas Kristen Satya Wacana

Abstrak

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui tentang bagaimana minat baca anakanak di Yayasan Pondok Penuai Indonesia dan upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan minat baca. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode kualitatif deskriptif yaitu mendeskripsikan seperti apa minat baca yang dimiliki anak-anak. Teknik analisis data yang digunakan adalah reduksi data, triangulasi dan penarikan kesimpulan. Hasil dari penelitian ini adalah minat baca yang rendah disebabkan oleh kurangnya kesadaran akan membaca dari dalam diri anak itu sendiri dan kurangnya dukungan dari lingkungan keluarga, sekolah, bahkan lingkungan masyarakat. Faktor lain seperti dari perpustakaan yang kurang memperhatikan minat baca dan tidak menyediakan kebutuhan pengguna perpustakaan juga dapat membuat minat baca berkurang. Selanjutnya, upaya yang dapat dilakukan adalah para orang tua dapat mengajarkan anak-anaknya untuk terus membaca dan memberikan dukungan serta motivasi. Perpustakaan juga dapat membantu dengan cara menyediakan bahan bacaan yang sesuai dengan kebutuhan anak-anak, terus menyediakan bahan bacan yang terbaru dan pengadaan koleksi digital, dan memberikan fasilitas yang memadai.
Keywords: Minat Baca Anak · Literasi Informasi · Budaya Baca

Introduction

Peran perpustakaan merupakan agen perubahan, pembangunan, dan agen budaya dan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Perpustakaan juga bertugas untuk menghimpun informasi, mengelola, dan memberdayakan serta memberikan layanan secara optimal. Selain memiliki peran dan tugas, perpustakaan juga memiliki fungsi dalam bidang Pendidikan dan pembelajaran, penelitian, rekreasi, dan preservasi. (Suwarno, 2007) Tujuan dari peran, tugas, dan fungsi perpustakaan tersebut adalah untuk mencapai terjadinya transformasi dan transfer ilmu pengetahuan dari sumbernya yaitu perpustakaan kepada para pengguna perpustakaan. Jika perpustakaan dapat melaksanakan semua tugasnya dengan baik maka para pengguna juga akan terus-menerus datang ke perpustakaan. (Suwarno, 2007) Selain itu, perpustakaan juga memiliki tugas untuk membantu mencerdaskan kehidupan bangsa melalui pengembangan dan pemberdayaan perpustakaan sebagai sumber informasi yang berupa karya tulis, karya cetak, atau karya rekam. Upaya perpustakaan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa adalah dengan membantu meningkatkan minat baca masyarakat. Membaca itu sendiri adalah sebuah proses untuk mendapatkan suatu pengetahuan dan informasi. Perpustakaan Yayasan Pondok Penuai Indonesia pada awalnya sudah ada pada tahun 2005. Perpustakaan ini memiliki visi yaitu menjadikan perpustakaan sebagai contoh bagi anakanak di Yayasan Pondok Penuai Indonesia untuk membangun perpustakaan dimana mereka berada nantinya dan misi yang dimiliki adalah membangun cinta baca yang tumbuh dari anakanak di Yayasan Pondok Penuai Indonesia menjadi cikal bakal cinta baca anak-anak Indonesia. Perpustakaan di Yayasan Pondok Penuai Indonesia berperan sebagai penyedia informasi bagi setiap anak yang tinggal di Yayasan tersebut. Tugas dari perpustakaan tersebut adalah membantu setiap anak untuk bertumbuh dan memiliki pengetahuan yang luas, baik tentang pengetahuan umum, pengetahuan yang berkaitan dengan jurusan-jurusan tertentu, hingga pengetahuan tentang kerohanian. Selain itu, perpustakaan juga bertugas untuk menumbuhkan serta meningkatkan minat baca. Namun, seiring berjalannya waktu perpustakaan tersebut tidak ada yang menggunakannya. Tidak ada yang datang membaca dan tidak ada orang yang secara khusus mengelola perpustakaan tersebut sehingga perpustakaan menjadi kotor dan koleksi yang ada pun menjadi kotor dan berantakan. Dengan adanya permasalahan tersebut, salah satu sponsor di Yayasan Pondok Penuai Indonesia mempunyai ide untuk merubah perpustakaan tersebut menjadi perpustakaan yang dapat digunakan kembali. Yayasan Pondok Penuai Indonesia adalah tempat di mana seluruh anak-anaknya dalam proses pendidikan yang dimulai dari SMP hingga kuliah. Di komunitas para pembelajar ini, menurut salah satu sponsor yang menjadi penggerak perubahan di perpustakaan tersebut mengatakan bahwa sebaiknya memiliki sebuah perpustakaan yang nyaman untuk tempat membaca. Kondisi perpustakaan yang kurang baik menurutnya perlu mendapat sentuhan sedikit seperti ruangan dan isi serta perlengkapannya agar dapat memanggil anak-anak untuk masuk dan membaca. Pada tahun 2020 perpustakaan tersebut diperbaiki dan diubah menjadi lebih baik. Penataan buku dan tata letak rak buku juga di buat beraturan serta koleksi-koleksi yang ada di input dalam sebuah sistem automasi perpustakaan sumber terbuka (open source) yaitu SLIMS. Koleksi-koleksi tersebut di input oleh beberapa anak yang ditugaskan untuk menginputnya di SLIMS. Perpustakaan tersebut memiliki fasilitas berupa jaringan wifi yang dapat digunakan oleh anak-anak di Yayasan, ruangan yang cukup luas, meja belajar, karpet untuk tempat duduk, dan dispenser air. Fasilitas yang disediakan sudah cukup memadai untuk dimanfaatkan oleh setiap anak yang datang ke perpustakaan. Hingga saat ini, perpustakaan tersebut masih terus dibuka dan digunakan oleh beberapa anak yang datang membaca maupun mengerjakan tugas di perpustakaan. Perpustakaan di Yayasan Pondok Penuai Indonesia memiliki koleksi bahan bacaan sekitar 1000 eksemplar namun minat baca anak-anak masih sangat kurang. Anak-anak tidak banyak yang datang ke perpustakaan dan membaca di sana. Perpustakaan dapat dikatakan sudah cukup bagus dan rapi namun tidak ada yang datang untuk membaca, anak-anak datang hanya pada saat awal perpustakaan dibuka namun semakin lama tidak ada yang datang lagi ke perpustakaan. Minat baca yang kurang akan menyebabkan perpustakaan menjadi perpustakaan yang tidak berguna, karena jika tidak ada yang datang untuk mencari informasi atau membaca di perpustakaan, perpustakaan akan sia-sia dibangun. Sebagai lembaga penyedia informasi, perpustakaan akan sangat disayangkan jika tidak digunakan dan dimanfaatkan. Dengan adanya permasalahan tersebut maka dilakukan penelitian ini yang bertujuan untuk mengetahui bagaimana minat baca anak-anak di yayasan tersebut. TINJAUAN PUSTAKA Membaca adalah suatu kegiatan melihat serta memahami isi dari apa yang tertulis, segala informasi yang dibutuhkan akan didapatkan dengan cara membaca. Tujuan umum membaca adalah untuk mendapatkan informasi baru, dan terdapat pula tujuan yang khusus seperti untuk tujuan kesenangan (novel,majalah, komik), meningkatkan pengetahuan (buku pelajaran atau buku pengetahuan), dan untuk melakukan suatu pekerjaan (buku petunjuk atau prosedur kerja). (Darmono, 2007) Melalui membaca akan tercipta masyarakat informasi, yaitu masyarakat yang sadar akan pentingnya suatu informasi dan mampu menggunakannya sehingga dapat meningkatkan kualitas, kuantitas, dan kompetensi yang ada dalam dirinya. Semakin sering seseorang membaca maka pengetahuan yang didapatkan juga akan semakin luas, tetapi sebaliknya jika jarang membaca maka pengetahuan yang dimiliki akan terbatas. Menurut Sunindyo (1975: 2) dalam Undang (2007), membaca sangat bermanfaat karena membaca tersebut dapat : a) mengisi waktu luang dengan kesibukan yang berguna b) menambah pengetahuan di samping pengetahuan yang didapat dari sekolah c) meningkatkan keterampilan yang berhubungan dengan hobi, olah raga, dan seni yang sesuai dengan keperluannya sendiri d) mengembangkan watak dan perilaku yang baik e) memanfaatkan perpustakaan-perpustakaan yang ada di dalam masyarakat (Sudarsana, 2007) Menurut Mudjito (1993) dalam Undang (2007), menyebutkan bahwa dengan membaca seseorang antara lain dapat : a) mengisi waktu luang; b) mengetahui hal-hal yang aktual yang terjadi di lingkungannya; c) memuaskan pribadi yang bersangkutan; d) memenuhi tuntutan praktis kehidupan sehari-hari; e) meningkatkan minat terhadap sesuatu lebih lanjut; f) meningkatkan pengembangan diri; g) memuaskan tuntutan intelektual; h) memuaskan tuntutan spiritual, dan lain-lain. (Sudarsana, 2007) Minat baca merupakan kecenderungan jiwa yang mendorong seseorang berbuat sesuatu terhadap membaca. Minat baca ditunjukkan dengan keinginan yang kuat untuk melakukan kegiatan membaca. (Darmono, 2007) Menurut Sutarno (2006), faktor yang menjadi pendorong bangkitnya minat baca adalah ketertarikan, kegemaran dan hobi membaca, dan pendorong tumbuhnya kebiasaan membaca adalah kemauan dan kemampuan membaca (Sutarno, 2006). Seseorang yang memiliki minat dalam membaca adalah orang yang menyadari bahwa membaca sangat penting dan akan menjadikan membaca sebagai kegiatan yang menyenangkan. Beberapa faktor yang mendorong bangkitnya minat baca adalah sebagai berikut : a) rasa ingin tahu yang tinggi atas fakta, teori, prinsip, pengetahuan dan informasi b) keadaan lingkungan fisik yang memadai, dalam artian tersedianya bahan bacaan yang menarik, berkualitas, dan beragam c) keadaan lingkungan sosial yang kondusif, yaitu adanya iklim yang selalu dimanfaatkan dalam waktu tertentu untuk membaca d) rasa haus informasi, rasa ingin tahu, terutama yang actual e) berprinsip hidup bahwa membaca merupakan kebutuhan rohani (Sutarno, 2006) Namun, tidak semua orang memiliki minat dalam membaca yang disebabkan oleh beberapa faktor. Pengaruh minat baca siswa yang rendah diakibatkan oleh faktor internal yaitu dari dalam diri sendiri berupa kesadaran untuk membaca dan faktor pembantu seperti motivasi dari guru atau dosen dan orang tua (Ruslan & Wibayanti, 2019). Pengaruh minat baca juga dapat dari faktor pembantu lain seperti fasilitas perpustakaan. (Mumpuni Atikah & Nurbaeti, 2019) Minat dalam membaca tidak dimiliki oleh seseorang dengan sendirinya tetapi minat membaca dapat tumbuh jika dibentuk. Seseorang dapat membentuk minatnya dalam membaca melalui sebuah dorongan atau motivasi yang ada dalam dirinya atau dorongan dari luar. (Darmono, 2007) Dorongan yang dari luar dapat berupa dorongan dari orang tua, sekolah, lingkungan masyarakat, dan lain-lain. Motivasi Internal dan Eksternal 1. Motivasi Internal Motivasi internal adalah motivasi yang timbul dari dalam diri manusia. Hal-hal yang dapat menimbulkan motivasi internal adalah sebagai berikut : 1. adanya kebutuhan maka seseorang didorong untuk membaca 2. pengetahuan tentang kemajuan diri sendiri, dengan demikian maka seseorang akan terdorong untuk membaca lebih banyak lagi 3. memiliki cita-cita akan menjadi pendorong bagi seseorang untuk belajar dan dengan kemauan belajar tersebut maka akan terdorong untuk membaca lebih banyak. (Sudarsana, 2007) 2. Motivasi Eksternal Motivasi eksternal adalah motivasi yang disebabkan oleh faktor-faktor diluar manusia seperti lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat. Hal-hal yang dapat menimbulkan motivasi eksternal adalah sebagai berikut : 1. hadiah dapat menjadi motivasi bagi seseorang untuk lebih giat dalam membaca 2. hukuman dapat juga menjadi motivasi karena seseorang akan berusaha untuk menghindari hukuman dengan memenuhi tugas membaca 3. persaingan atau kompetisi merupakan dorongan untuk memperoleh kedudukan atau penghargaan (Sudarsana, 2007) Adanya motivasi internal dan motivasi eksternal yang terdapat pada manusia sangat mempengaruhi minat dalam membaca. Motivasi dari dalam diri seseorang seperti kebutuhan akan informasi adalah awal yang baik untuk menumbuhkan minat baca. Dengan adanya kebutuhan tersebut maka seseorang akan termotivasi untuk membaca agar dapat memenuhi kebutuhannya. Selain motivasi dari dalam diri seseorang, terdapat pula motivasi dari luar yang dapat membantu menumbuhkan minat baca. Motivasi dari luar tersebut dapat berupa persaingan dalam suatu kompetisi yang dilaksanakan oleh perpustakaan agar mendapatkan hadiah. Selain itu motivasi yang dari luar juga dapat diperoleh dari lingkungan keluarga, sekolah, bahkan masyarakat. Motivasi dari dalam maupun dari luar manusia berpengaruh dalam menumbuhkan dan meningkatkan minat baca. Jika seseorang tidak memiliki motivasi apapun untuk membaca maka minat membaca tidak akan tumbuh di dalam dirinya. Untuk melatih kebiasaan membaca, perlu adanya kemauan yang keras dan disiplin yang tinggi serta konsentrasi baik pikiran maupun perhatian dengan baik. (Sudarsana, 2007) Kebiasaan membaca bukan hanya semata-mata karena kemauan dan kesenangan dalam membaca tetapi juga harus diawali dengan beberapa hal seperti berikut : a) kebiasaan orang tua membaca b) orang tua memperkenalkan buku kepada anaknya sedini mungkin c) penyediaan bahan bacaan yang tepat dan baik pada anak d) lingkungan rumah untuk kegiatan membaca e) menanamkan rasa cinta terhadap buku f) menunjukkan bahwa buku sebagai sumber informasi g) dukungan dari berbagai pihak h) memberikan dasar-dasar arah studi yang mandiri Minat baca harus ditanamkan sejak dini maka peran orang tua sangat penting dalam membantu anaknya agar gemar membaca buku. Selain orang tua, perpustakaan juga memiliki peran dalam membina dan menumbuhkan kesadaran membaca. Perpustakaan dapat memilih bahan bacaan yang menarik, mempromosikan pemanfaatan perpustakaan yang berkaitan dengan peningkatan minat baca, melakukan berbagai kegiatan seperti lomba minat dan kegemaran membaca, dan memberikan penghargaan kepada anak-anak seperti yang paling banyak meminjam buku di perpustakaan (Darmono, 2007). Dalam buku Manajemen Perpustakaan, Sutarno menjelaskan bahwa minat dan budaya baca masyarakat harus dilakukan dengan berbagai cara seperti: a) dimulai sejak dini b) dilakukan terus-menerus c) disediakan sumber bacaan yang memadai d) ditanamkan suatu kebiasaan e) memiliki lingkungan yang mendukung f) adanya suatu kebutuhan g) menghadapi tantangan (ujian, testing, tugas, dan sebagainya) h) tersedia fasilitas (Sutarno, 2006). Beberapa hal yang harus dilakukan untuk tujuan meningkatkan minat baca perlu dilakukan terus-menerus dan memerlukan pihak-pihak yang bertanggung jawab untuk mengerjakannya. Pembinaan Minat Baca Perpustakaan sebagai penampung buku-buku yang berisi berbagai informasi dan sarana tempat membaca maka perpustakaan bermanfaat bagi masyarakat sebagai tempat untuk mengembangkan minat baca. Minat baca merupakan salah satu pelayanan yang ada di perpustakaan dan pelayanan tersebut bertujuan untuk mengembangkan minat dalam membaca, terampil dalam menyeleksi buku, menggunakan, dan mampu mengevaluasi materi bacaan dan memiliki kebiasaan efektif dalam membaca informasi serta memiliki kesenangan membaca. Menurut Sudarsana (2007), Pembinaan minat baca merupakan salah satu aspek dari 10 aspek pembinaan perpustakaan, pembinaan minat baca merupakan tanggung jawab para pengelola perpustakaan. Oleh karena itu, para pengelola harus memiliki kemampuan yang sesuai dengan kebutuhan perpustakaan untuk bertanggung jawab dalam pembinaan minat baca. Salah satunya adalah pengelola harus mengetahui latar belakang masyarakat yang akan dilayani sehingga dapat menyediakan bahan bacaan yang diperlukan. Faktor yang mempengaruhi pembinaan minat baca di dalam perpustakaan Faktor dari perpustakaan yang mempengaruhi pembinaan minat baca tidak dapat berjalan adalah sebagai berikut : a) kurangnya tenaga pengelola perpustakaan b) kurangnya dana pembinaan minat baca c) terbatasnya bahan pustaka d) kurangnya variasi jenis layanan perpustakaan e) terbatasnya ruang perpustakaan f) terbatasnya perabot dan peralatan perpustakaan g) kurangnya lokasi perpustakaan h) kurangnyapemasyarakatan perpustakaan. (Sudarsana, 2007) Perpustakaan turut berperan aktif dalam meningkatkan minat baca, namun ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi pembinaan minat baca tersebut. Faktor-faktor tersebut perlu diperhatikan oleh perpustakaan agar dapat diperbaiki menjadi lebih baik sehingga dapat mencapai tujuan perpustakaan. Dengan demikian, perpustakaan dapat meningkatkan layanan apa saja yang dibutuhkan oleh pemustaka dan memperbaiki setiap kekurangan yang ada.

Method

Penelitian ini menggunakan metode pendekatan kualitatif deskriptif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mendeskripsikan tentang minat baca anak-anak di Yayasan Pondok Penuai Indonesia dan mengetahui program apa yang dapat dilakukan perpustakaan untuk meningkatkan minat baca. Penelitian kualitatif adalah penelitian yang bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian misalnya perilaku, persepsi, motivasi, tindakan dan lain-lain., secara holistik, dan dengan cara deskripsi dalam bentuk kata-kata dan bahasa, pada suatu konteks khusus yang alamiah dengan memanfaatkan berbagai metode alamiah (Moleong, 2012). Pada penelitian ini, digunakan teknik pengumpulan data yaitu observasi dan wawancara. Wawancara adalah proses interaksi yang dilakukan oleh dua orang atau lebih, di mana kedua pihak yang terlibat (pewawancara/interviewer dan terwawancara/interviewee) memiliki hak yang sama dalam bertanya dan menjawab (Herdiansyah, 2015). Wawancara akan dilakukan dengan cara mengajukan beberapa pertanyaan kepada beberapa anak dan pengelola perpustakaan di Yayasan Pondok Penuai Indonesia. Istilah observasi diarahkan pada kegiatan memperhatikan secara akurat, mencatat fenomena yang muncul, dan mempertimbangkan hubungan antar-aspek dalam fenomena tersebut (Gunawan, 2016). Objek observasi adalah perilaku yang tampak, yang sengaja dimunculkan (terencana) dan memiliki tujuan tertentu (Herdiansyah, 2015). Observasi juga dilakukan dengan cara mengamati secara langsung di Perpustakaan Yayasan Pondok Penuai Indonesia untuk mengumpulkan data yang dibutuhkan. Observasi ini dilakukan untuk melihat bagaimana perilaku anak-anak dalam membaca di perpustakaan Yayasan Pondok Penuai Indonesia. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik Reduksi data, Triangulasi, dan penarikan kesimpulan. Mereduksi data berarti merangkum, memilih hal-hal yang pokok, memfokuskan pada hal-hal yang penting, dicari tema dan polanya dan membuang hal yang tidak perlu (Sugiyono, 2010). Data yang sudah terkumpul merupakan modal awal yang sangat berharga dalam penelitian, dari data yang terkumpul akan dilakukan analisis yang digunakan sebagai bahan masukan untuk penarikan kesimpulan. Triangulasi adalah teknik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain dalam membandingkan hasil wawancara terhadap objek penelitian (Moleong, 2012). Terdapat empat macam triangulasi di antaranya adalah dengan memanfaatkan penggunaan sumber, metode, penyidik dan teori. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan teknik pemeriksaan dengan memanfaatkan sumber (Moleong, 2012). Triangulasi sumber adalah menggali kebenaran informasi tertentu melalui berbagai sumber memperoleh data. Dalam triangulasi dengan sumber yang terpenting adalah mengetahui adanya alasan-alasan terjadinya perbedaan-perbedaan tersebut (Gunawan, 2016). Setelah melalui tahap reduksi data dan triangulasi, yang harus dilakukan adalah menarik kesimpulan. Hasil analisis data yang diperoleh dikumpulkan menjadi suatu kesimpulan dan diverifikasi.

Discussion

Menurut wawancara dan pengamatan yang telah dilakukan pada anak-anak di Yayasan Pondok Penuai Indonesia mengenai kurangnya minat baca yang mereka miliki, terdapat beberapa alasan sebagai berikut : 1) Beberapa anak tidak menyukai membaca buku karena mudah merasa bosan dan malas dan hanya membaca jika memerlukan suatu informasi seperti untuk memenuhi kebutuhan tugas sekolah. 2) Lebih suka menonton film atau animasi pada handphone dan membaca komik online seperti webtoon. 3) Lebih suka membaca jika bahan bacaan tersebut dijadikan dalam suatu video. 4) Lebih suka belajar secara langsung atau praktek, jika hanya membaca cenderung menjadi jenuh. 5) Tertarik membaca jika diadakan suatu program yang dapat menarik minat baca, contohnya yaitu seperti diadakan lomba membaca buku sebanyak yang mereka bisa dan akan mendapatkan penghargaan atau hadiah. Dapat juga membuat program seperti rutin membaca setiap hari tetapi dengan waktu yang tidak begitu lama sehingga dengan begitu akan menjadi kebiasaan dan sedikit demi sedikit menarik minat untuk membaca. 6) Beberapa mahasiswa yang datang ke perpustakaan hanya untuk mengerjakan tugas dan memanfaatkan wifi yang disediakan untuk menyelesaikan tugas mereka. Beberapa anak di Yayasan Pondok Penuai Indonesia yang telah di wawancarai mengatakan bahwa alasan mereka tidak menyukai membaca buku adalah karena cepat merasa bosan dan lebih menyukai proses belajar yang menggunakan metode praktek, bukan hanya membaca. Ada pula yang membaca jika hanya untuk mendapatkan suatu informasi tertentu seperti membaca buku pelajaran untuk memenuhi tugas sekolah. Melalui wawancara yang telah dilakukan, penulis juga memperhatikan tingkah laku setiap anak di Yayasan tersebut. Terdapat kesamaan antara hasil wawancara dengan perilaku dari anak-anak. Anak-anak lebih banyak menghabiskan waktu untuk bermain telepon, ada pula yang berolahraga, dan tidak datang ke perpustakaan. Anak-anak sangat jarang datang ke perpustakaan dan membaca, kecuali jika diarahkan oleh pengurus yayasan untuk membaca. Pengurus yayasan membuat jadwal untuk anak-anak dapat datang ke perpustakaan dan anak-anak disarankan untuk meminjam setidaknya satu buku untuk mereka baca. Namun, hal tersebut tidak berjalan lama karena jika tidak diarahkan dan tidak diperhatikan oleh pengurus maka anak-anak tidak akan membaca. Berbeda dengan anak-anak yang lain, mahasiswa secara khusus tidak diberi kewajiban untuk membaca di perpustakaan, namun tetap dianjurkan untuk membaca. Beberapa mahasiswa yang datang ke perpustakaan hanya menggunakan jaringan wifi yang disediakan untuk mengikuti kelas online dan mencari informasi untuk memenuhi tugas kuliah. Motivasi yang kurang dalam membaca dapat ditingkatkan melalui dukungan baik dari orang tua, lingkungan sekitar, maupun dari perpustakaan itu sendiri. Dengan adanya dorongan dari luar akan membuat anak-anak mulai memiliki keinginan untuk membaca. Pada zaman sekarang ini kebanyakan dari anak-anak muda lebih memilih mengisi waktu luang dengan bermain telepon, menonton acara yang disukai, dan melakukan hal lain yang tidak berkaitan dengan kegiatan membaca. Hal ini sangat wajar karena seiring berkembangnya zaman banyak hal yang ada di media sosial yang lebih menarik dibandingkan dengan membaca buku. Padahal pada kenyataannya adalah, membaca juga tidak kalah menarik bagi orang yang gemar membaca buku. Ada beberapa informasi yang mungkin tidak dapat ditemukan di internet tetapi ada di dalam buku. Untuk meningkatkan minat baca diperlukan bantuan dan dukungan dari lingkungan anak itu sendiri. Selain itu, perpustakaan juga dapat menyediakan bahan bacaan yang dapat menarik minat dan bahan bacaan yang sesuai dengan kebutuhan anak-anak tersebut.

Conclusion

Minat baca yang kurang disebabkan oleh beberapa hal baik dari dalam diri seseorang maupun kurangnya dukungan dari luar. Perpustakaan di Yayasan Pondok Penuai Indonesia yang sudah diperbarui menjadi lebih baik tetap tidak membuat anak-anak memiliki minat baca yang tinggi. Hal ini terjadi karena kurangnya motivasi dari dalam diri anak-anak itu sendiri dan kurangnya motivasi dari luar. Dalam upaya untuk meningkatkan minat baca diperlukan peran dari orang tua, sekolah, dan lingkungan masyarakat yang dapat menjadi contoh bagi anak-anak agar gemar membaca buku. Motivasi untuk membaca juga harus ditanamkan pada anak sejak dini, orang tua berperan penting dalam mengajarkan anak-anak untuk gemar membaca. Selain itu, perpustakaan yang menjadi tempat untuk bahan bacaan dilayankan juga harus memperhatikan minat baca. Saran bagi perpustakaan kiranya perpustakaan dapat menyediakan bahan bacaan yang sesuai dengan kebutuhan anak-anak, menambah bahan bacaan yang terbaru, dapat dibuat pengadaan koleksi digital, membuat perpustakaan lebih menarik lagi dari segi tampilan perpustakaan agar menjadi daya tarik bagi anak-anak, dan dapat pula menyediakan fasilitas yang memadai.