MODEL KOMUNIKASI PUSTAKAWAN YANG IDEAL
Universitas Islam Makassar
Abstrak
Artikel ini embahas tentang Komunikasi yang merupakan implementasi dari suatu Ilmu Komunikasi yang akan di biaskan ke Perpustakaan. Hal ini disebabkan karena disetiap Lembaga apapun pasti memiliki hubungan yang sangat erat dengan Komunkasi termaksud salah satunya adalah Perpustakaan, sebab pada Perpustakaan terdapat pengelola ahli dalam bidang Pustaka yang disebut dengan Pustakawan, yang dalam kaitannya Pustkawan ini mempunyai tugas memberikan layanan Prima kepada para pemustaka yang berkunjung ke sebuah perpustakaan. Disadari dalam era informasi dan komunikasi ini serta modernitas segala aspek kehidupan mengalami sebuah perubahan yang sangat signifikan khususnya dalam bidang Perpustakaan sehingga, Pustakawan dituntut untuk membenahi segala macam bentuk pelayanan yang ada pada sebuah Perpustkaan yang salah satunya adalah interkasi atau Komunikasi terhadap pemustaka, sebab jika Pustakawan memiliki keahlian atau cakap dalam berkomunikasi, ini akan menimbulkan citra dan pandangan yang positif bagi Perpustakaan.
Keywords:
Komunikasi
· Pustakawan
· Perpustakaan
Introduction
Kemajuan Era Tekhnologi Informasi dan Komunikasi saat ini meruapakan era yang memberikan kemudahan bagi manusia dalam memperoleh dan memanfaatkan berbagai macam bentuk informasi dan komunikasi. Namun yang menjadi persoalan yang dihadapi dewasa saat ini adalah tentang kemampuan berkomunikasi dengan baik dalam menjalani aktivitas kesehariannya. Komunikasi yang baik sangat dibutuhkan oleh manusia terutama Ketika seseorang tersebut melakukan aktivitas normal dalam situasi yang begitu formal semisal berada dalam lingkungan kerja. Lebih penting lagi Ketika aktivitas kerja seseorang berhubungan dengan orang lain yang Sebagian besar merupakan kegiatan komunikasi antar individu atau pribadi. Berbagai macam profesi seperti Dosen, Guru, Humas, dll yang didalam keseharian lingkungan kerja membutuhkan kecakapan serta keterampilan berkomunikasi yang tinggi dan baik, begitu juga di Perpustakaan, pengelola perpustakaan atau yang dikenal dengan sebutan Pustakawan memiliki banyak kontak dengan para Pemustaka (orang yang berkunjung ke perpustakaan), yang datang untuk mencari informasi yang dibutuhkan, sehingga kemampuan berkomunikasi sangat dibutuhkan sebab akan mempengaruhi kinerja dari Pustkawan itu sendiri. Dengan keterampilan komunikasi tersebut, Pustakawan diharapkan dapat membangun dan menanamkan citra positif dari sebuah Perpustakaan. Kriyantono (2006:4) menyatakan bahwa dalam kegiatan berkomunikasi yang efektif serta ideal dapat diartikan jika komunikasi yang terjadi terdapat kesamaan atau mempunyai hubungan antar kerangka berfikir dengan bidang pengalaman antara komunikator dengan komunikan, atau denga kata lain kegiatan berkomunikasi yang ideal akan mampu terjadi pada sebuah Perpustakaan jika mempunyai kerangka acuan yang sama beserta dengan bidang pengalaman antara Pustakawan dan Pemustaka. Pustakawan diera tekhnologi seperti saat sekarang ini harus bisa peka terhadap berbagai macam kebutuhan informasi para pemustaka, selain dari itu Pustakawan juga dituntut untuk memberikan pelayanan prima kepada para pengunjung Perpustakaan, jika Pustakawan dapat memberikan pelayanan yang baik tentu saja para Pemustaka akan merasa senang datang dan berkunjung kesebuah perpustakaan jika pustakawan melayani dengan komuikasi yang baik serta sambutan yang hangat serta mampu memberikan arahan, ramah dan peka terhadap kebutuhan para pemustakanya. Segala bentuk pelayanan yang ada disebuah Perpustakaan tidak hanya diukur dengan berbagai macam informasi yang diberikan, tetapi juga oleh pengaruh interkasi yang positif dari Pengelola Perpustakaan dan Pengunjung Perpustakaan. Pustakwan yaitu orang yang dalam bidang Perpustakaan yang mempunyai keahlian dalam mengelola dan mengorganisasikan bahan Pustaka, menurut undang-undang Republik Indonesia Nomor 43 tahun 1999 tentang pokok-pokok kepegawaian yang didalam ketentuan pelaksanaanya diatur dalam keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dengan nomor 132/KEP/M.PAN/12/2002 tentang Jabatan Fungsional Pustakwan dan Nomor Kredit, Menuntut peningkatan kualitas kinerja pustkawan berbasis system karir dengan prinsip pemberian penghargaan dan sanksi. Perpsutakaan Nasional Republik Indonesia menyatakan bahwa kepuasan adalah sebuah konsep yang biasanya berhubungan dengan kenyamanan serta kepuasan dalam berkomunikasi dengan pesan serta media dan hubungan didalam sebuah organisasi. Menurut Cravens dalam susilowati (2009:4) menyatakan bahwa untuk mencapai kepuasan pelanggan yang tinggi, perlu dipahami apa yang menjadi keinginan para konsumen dan mengembangkan komitmen masingmasing orang dalam berorganisasi untuk memenuhi kebutuhan. Sedangkan untuk mewudjudkan dan menjaga kepuasan seperti yang dikemukakan oleh Suilowati (2006:5), bahwa organisasi jasa harus mampu melakukan 4 hal yaitu : 1, mengidentifikasi siapa pelanggan, 2, memahami tingkat harapan pelanggan, 3, memahami strategi kualitas pelanggan serta, 4, memahami siklus pengukuran dan umpan balik kepuasaan konsumen. Kepuasan adalah suatu perasaan senang atau perasaan kecewa yang muncul setelah membandingkan sebuah sebuah kesan atau persepsi serta kinerja atau hasil suatu produk, merasa puas atau tidak puas adalah tergantung pada hasil yang didapatkan dalam suatu kondisi tertentu. Kepuasan pengunjung perpustakaan atau Pemustaka dapat dilihat dan dikaitkan dengan informasi yang diperoleh atau didapatkan dalam sebuah perpustakaan, jika seorang pengunjung mendapatkan atau menemukan suatu informasi yang diinginkan maka dirinya akan merasa puas dan hal ini pula yang akan menjadikan momentum Perpustakaan sebagai tempat untuk memenuhi kebutuhan mereka dalam mencari sebuah informasi. Sehingga oleh karena itu, pemenuhan kebutuhan akan informasi dan layanan sangat penting untuk mempertahankan tingkat pemanfaatan Perpustakaan. Beberapa hasil penelitian tentang komunikasi pustakawan yang telah dilakukan untuk melihat bagaimana hubungan komunikasi dan upaya dalam penyampaian informasi dapat mencapai tujuan dan sekaligus menjadi sarana untuk mempromosikan koleksi yang dimiliki. Mengutamakan kualitas pelayanan adalah komitmen yang harus dibangun Bersama dengan menggunakan komunikasi yang ideal antara Pustakawan dan Pemustaka, fasiltas dan koleksi yang lengkap akan semakin sempurna jika dilengkapi dengan pemberian pelayanan yang prima disertai dengan komunikasi yang baik. Dengan menerapkan kecerdasan komunikasi dalam pelayanan di Perpustakaan diharapakan pengunjung atau Pemustaka akan merasa senang dan puas dalam memenuhi kebutuhan ilmiahnya, sehingga dengan demikian layanan yang ada dalam perpustakaan akan mencapai hasi yang baik dan optimal, sehingga ini akan menjadi salah satu tehnik atau strategi dalam promosi atau publikasi perpustakaan. Selanjutnya komunikasi ideal yang diterapkan akan sangat mempengaruhi kepuasan pemustaka, selain itu komunikasi pustakawan merupakan suatu pengetahuan asertif dan juga merupakan suatu keterampilan yang harus di pahami dan dikuasai oleh para peneglola Perpustakaan sehingga mampu membina hubungan baik dengan pemustaka dalam upaya memenuhi kepuasaan pengunjung Perpustakaan terhadap layanan yang diberikan, dan jika pustakawan mampu berkomunikasi dengan baik dan ideal maka pemustaka akan merasakan puas dengan pelayanan yang ada dalam sebuah Perpustakaan. KAJIAN PUSTAKA A. Pengertian Komunikasi Hubungan komunikasi antar manusia merupakan suatu kajian marjinal dalam kehidupan manusia itu sendiri, didalam kegiatan keseharian tentu manusia melakukan suatu aktivitas komunikasi pada lingkungan masyarakat atau lingkungan sosialnya dengan berbagai metode komunikasi yang diimplementasikan baik itu secara Verbal Ataupun Nonverbal. Komunikasi yang berlangsung pada pada masyarakat sosial ini berlangsung sebagai kontek dalam memahami sebuah istilah dalam berkomunikasi. Istikah komunikasi berawal dari sebuah Bahasa latin “communis” yang mempunyai maksud atau arti membuat sebuah pemahaman atau kebersamaan antara dua orang atau lebih., sedangkan “communis” berasal dari kata “coomunico “ yang juga mempunyai pemahaman atau arti berbagi. Selain itu kata komunikasi juga berasal dari suatu kata “communication” atau “communicare” yang berarti menjadikan sesuatu menjadi sama atau Bersama, sehingga dalam proses komunikasi dapat dimaknai sebagai, 1), sebuah proses untuk bertukar ide,gagasan, dan fikiran atau informasi, 2), menambah pengetahuan dan wawasan, 3), menyamakan sebuah persepsi. Pada hakekatnya adalah suatu proses penyampaian pesan oleh komunikator (pembawa informasi) kepada komunikan (penerima Informasi), menurut Effendy (1994:74) komunikasi mempunyai dua macam aspek yaitu yang pertama, adalah isi pesan kemudian yang kedua adalah symbol. Sehingga dalam prosesnya komunikasi dapat berlangsung apabila terdapat kesamaan makna dalam sebuah pesan atau informasi yang berupa lambang dan diterima oleh komunikan yang dapat berlangsung kapan saja dalam lingkungan sosial. Hal ini menggambarkan bahwa manusia tidak mungkin bisa tidak melakukan aktifitas komunikasi sebab manusia yang telah diciptkan sebagai mahluk sosial. Komunikasi adalah sebuah proses kegiatan sosial yang melibatkan individu dalam prosesnya, dan menggunakan symbol sebagai alat untuk menafsirkan makna yang ada dilingkungan sosial mereka. Sehingga dengan demikian kegiatan komunikasi jelas tidak dapat dipisahkan dari elemen kehidupan manusia, baik sebagai mahluk individu/interpersonal maupun sebagai masyarakat dalam lingkungan sosial. Komunikasi mendefenisikan sebagai proses dimana orang yang menggunakan pesan untuk menciptakan makna di dalamnya mempunyai kaitan tentang, budaya, konteks, dan media. Defenisi ini menyoroti lima karakteristik yang menjadi ciri dari sebuah komunikasi diantaranya adalah proses yang mempunyai arti sebagai rangkaian Tindakan temporal serta saling berhubungan yang di lakukan oleh para peserta. Kedua adalah peserta terlibat sebagai komunikasi yang mmenggunakan pesan untuk menyampaikan maksud dan tujuan, ketiga komunikasi terjadi karena konteks dan situasi yang seolah-olah tidak ada habisnya karena dipengaruhi oleh sejumlah faktor. Keempat, orang-orang yang berkomunikasi melalui banyak media komunikaitr untuk menyampaikan informasi, dan yang kelima adalah untuk menyampaikan informasi, kominikator menggunakan cara atau alat yang berbeda untuk bertukar pesan. B. Peran Komunikasi Keterampilan berkomunikasi bagi pengelola perpustakaan adalah salah satu cara untuk memeberikan pengetahuan atau pemahaman kepada pemustaka atau pengunjung Perpustakaan Ketika menerima sebuah informasi. Pemberian pengetahuan pemustaka dalam menerima sebuah pesan yang disampaiakn oleh Pustakawan tentu sangat penting karena dengan pengetahuan yang didapatkan pemustaka oleh pustakawan ini memberikan sebuah tanda bahwa pengelola perpustakaan tersebut memahami dan mengetahui cara berkomunikasi dengan baik dalam menyampaikan suatu pesan. Komunikasi memainkan peran yang begitu penting dalam sebuah Pepustakaan, hampir di seluruh unit atau divisi pada sebuah perpustakaan dalam aktivitas sehari-hari tidak pernah lepas dari berbagai macam interaksi atau komunikasi dalam berbagai hal, baik berkominikasi secara tulisan, secara verbal, ataupun bentuk-bentuk komunikasi yang lainnya. Didalam sebuah proses interaksi atau komunikasi mampu melibatkan berbagai pihak, karena tanpa adanya interkasi atau komunikasi dalam suatu institusi ini tentu akan mengakibatkan suatu organisasi yang ada didalamnya tidak mampu berjalan secara efekti dan efisien. Kemampuan dalam berinterkasi atau berkomunikasi merupakan suatu hal yang sangat penting bagi pegelola Perpustakaan atau Pustakawan, sebab didalam aktifitas kegiatan dalam melayani pemustaka pustakwan akan berhadapan langsung dan berinterkasi dalam pemberian informasi, sehingga Ketika Pustakawan memahami dan mengetahui cara berkomunikasi dengan baik dan ideal tentu pemustaka akan merasa puas dan senang berkunjung ke perpustakaan, itulah salah satu sebab penting peran dari seorang Pustkawan. Salah satu indikator yang dapat memberikan rasa puas kepada pengunjung Perpustakaan yaitu adanya layanan informasi yang didapatkan dari seorang Pustakawan.. baik atau tidaknya suatu Perpsutakaan dapat dilihat melalui bagaimana bentuk pelayanan yang diberikan kepada Pemustaka. Pengelola Perpustakaan, diharapkan mampu berinteraksi dan berkomunikasi langsung dengan para pengunjung Perpustakaan hal ini dimaksudkan untuk meningkatkan kemampuan dan kecakapan dalam berinteraksi dan berkomunikasi. Kemampuan dalam melakukan sebuah komunikasi begitu diperlukan oleh pengelola Perpustakaan sebab peran dalam komunikasi Pustakawan tidak hanya berfokus pada pelayanan pemberian informasi saja, tetapi Pustakawan juga diminta untuk mampu melakukan kegiatan sosialisasi, menujukkan sikap sopan santun, mempunyai pengetahuan yang luas dan mudah di ketahui oleh para Pemustaka. C. Tujuan Komunikasi Dalam suatu kegiatan interaksi atau komunikasi mempunyai suatu tujuan yang aktif didalam setiap aktifitas keseharian, sama halnya dalam sebuah Perpustakaan kepiawaian dalam menyampaikan suatu pesan atau informasi begitu sangat dibutuhkan, sebab dengan berkomukasi orang-orang akan mampu menyampaikan suatu keinginan atau hal-hal yang ingin dicapainya, semakin jelas dan efektifnya sebuah proses komunikasi itu berjalan semakin mudah pula informasi itu dapat ditangkap dan diterima. Oleh sebab itu kehadiran Perpustakaan yang berfungsi sebagai unit dalam hal pengelolaan berbagai macam infromasi. Komunikasi juga memegang sebuah tujuan yang begitu penting yaitu menjembatani hubungan antara personal dengan suatu kelompok yang adad ala lingkungan masyarakat untuk meningkatkan pemahaman dan hubungan kerja sama yang lebih baik lagi. Peningkatan pada bidang komunikasi bukan hanya dimulai karena adanya sebuah perkembangan dunia tehknologi saja tetapi juga diawali dengan munculnya kepahamankepahaman seseorang atau individu-individu tentang adanya kesempatan dan keperluan tentang beberapa aspek diantaranya ekonomi, sosial, dan kebuthan informasi, sehingga dapat disimpulkan bahwa sebuah pesan atau informasi merupakan element dari interkasi. Tanpa adanya suatu pesan atau informasi tentu sebuah proses komunikasi tidak akan mampu berjalan dengan baik, sehingga dengan kehadiran Perpustakaan yang berperan sebagai unit dalam pengelolaan Informasi akan menjadi sebuah jalan yang akan melancarkan sebuah proses komunikasi. D. Proses Komunikasi Dapat disimpulkan yaitu dalam kegiatan-kegiatan keseharian Perpustakaan suatu hal yang harus ada didalamnya adalah suatu proses atau kegiatan berkomunikasi, yang dimana dalam kegiatan kominkasi ini dimulai dengan Adanya saling kontak dan hubungan baik itu dilaksanakan secara langsung ataupun tidak lansgung, antara pengelola Perpsutakaan dan Pengunjung Perpustakaan dengan adanya sebuah informasi yang dikeluarkan dan di terima, serta munculnya suatu output dari proses di terimanya suatu informasi yang disamapaikan dalam kegiatan komunikasi tersebut. Segala macam bentuk-bentuk kegiatan pelayanan yang ada didalam sebuuah Perpustakaan yang melibatkan anatara pengelola dan pengunjung merupakan bentuk konkrit Komunikasi di Perpustakaan. E. Efektifitas Efesiensi merupakan faktor kunci untuk mencapai tujuan atau sasaran yang telah ditetapkan disetiap linkup organisasi, untuk mencapai efektifitas program dalam sebuah organisasi dibutuhkan kemampuan operasional untuk menyampaikan program kerja sesuai dengan yang telah di tetapkan dalam arti luas, efektifitas dapat dipahami sebagai derajat kompetensi atau suatu badan yang dapat melaksanakan semua tugas dan fungsinya untuk mencapai tujuan yang telah di tentukan sebelumnya . Efesiensi dalam dunia penelitian ilmu sosial digambarkan sebagai eksploratif serta produktif, sedangkan bagi Sebagian ilmuwan sosial efesiensi sering dilihat dari segi kualitas kerja atau program kerja. Dari pendapat beberapa ahli diatas, dapat disimpulkan bahwa konsep efesiensi adalah keberhasilan dari suatu kegiatan yang dalam kegiatan tersebut ada sebuah tujuan yang di tentukan sebelumnya.Mengingat keragaman pendapat tentang sifat dan komposisi yang ada tidak mengherankan jika ada begitu banyak ketidaksepakatan tentang bagaimana meningkatkan atau menyesuaikan, dan bahkan menetukan indicator dari sebuah efektivitas, sehingga akan lebih sulit untuk mengevaluasi suatu pencapai dari efektivitasi itu sendiri. Pemahaman yang lengkap tentang tujuan atau sasaran dari sebuah oganisasi adalah Langkah pertama dalam pembahasan suatu efektifitas atau efesiensi, sering dikaitkan dengan tujuan yang ingin dicapa, sehingga dalam upaya untuk mengukur suatu efektivitas maka hal pertama yang harus dilakukan adalah memperkenalkan konsep efektifitas itu sendiri. Sehingga dari beberapa uraian di atas dapat dijelaskan bahwa efesiensi atau efektivitas adalah kemampuan suatu organiassi untuk melakukan kegiatan suatu organisasi baik secara materil maupun immaterill dalam rangka pencapaian tujuan dan mencapai keberhasilan yang maksimal. F. Pengertian Pustakawan Pengelola Perpustakaan atau yang biasa disebut dengan Pustakwan yaitu seseorang yang bekerja atau melakukan aktifitas didalam sebuah Perpustakaan serta mempunyai keahlian dalam bidang kepustakawanan. Sedangkan menurut Organisasi Prosesi (IPI) Ikatan Pustakawan Indonesia menjelaskan yaitu orang yang melakukan aktifitas Perpustakaan dengan cara melakukan pelayanan kepada para pengunjung yang susuai dengan pengetahuan- pegetahuan yang bersumber dari Ilmu Perpustaakn itu sendiri. Kemampuan dalam melakukan dokumentasi serta penyebarluasan Informasi yang didapatkan yang ditempuh dari suatu Pendidikan. Selain dari pada itu pengertian Pustakawan yakni orang yang melaksanakan dan melakukan aktifitas pada sebuah Perpustakaan yang dalam upaya nya dimaksudkan untuk pemberian layanan kepada masyrakat yang sejalan dengan visi misi pada setiap Lembaga yang menaunginya. Merujuk pada suatu undang-undang tentang Perpustakaan yang menjelaskan bahwa Pengelola Perpustakaan sebagai orang yang memiliki kompetensi dan keahlian yang didapatkan dari Pendidikan atau Pelatihan kepustakawanan serta memiliki tugas dan tanggung jawab dalam melaksanakan kegiatan kepustakawanan. Dari beberapa penjelasan Pustakawan diatas oleh karena itu dapat ditarik benang merahnya bahwa pengelola Perpustakaan atau Pustakawan adalah orang yang berkompetensi serta terampil yang telah mendapatkan pengetahuan tentang Perpustakaan baik itu dari Pendidikan, Pelatihan ataupun sumber-sumber lainnya yang dperuntukkan untuk memeberikan pelayanan kepada masyrakat serta pemustaka lainnya serta pengolahan Perpustakaan. G. Kompetensi Pustakawan Dalam Era saat seperti sekarang ini yang dimana ilmu dan pengetahuan mengalami suatu perubahan yang begitu semakin cepat, begitu juga dengan Perpustakaan yang saat ini selalu mengiktui perubahan-perubahan sehingga selalu dibenturkan dengan berbagai macam persoalan dan tantangan yang kian kompleks. Sehingga dari itu diperlukan sumber daya manusia yang memiliki kemampuan sesuai dengan bidang pekerjaan yang ditekuni. Oleh karena itu Pustakawan juga dituntut memiliki sebuah kemapuan serta keahlian dalam mengelola sebuah Perpustakaan, mengingat tantangan serta perubahan yang kian begitu sangat cepat di era digitalisasi saat ini. Sehingga dalam hal ini Pustakawan dituntut unutk mampu meningkatkan profesionalisme dalam melayani masyarakat, berikut beberapa indikator pendukung yang perlu diperhatikan dalam meningktakan kemampuan dan keahlian dalam bidang kepustakawanan ;a), Penguasaan serta pemahaman ilmu dan terampil serta mempunyai integritas sebagai Pustakawan, b), memiliki tanggung jawan serta memiliki wewenang yang diberikan. C), memiliki standar dan prosedur kerja yang baik. D), standar kerja Pustakawan harus berorientasi kepada kulaitas dan kuntitas. H. Peranan Pustakwan Tugas dan fungsi seorang Pustakawan saat ini bukan lagi hanya sekedar pelayanan sirkulasi saja atau pelayanan Pinjam-kembali, atau terbatas pada pengadaan dan pengolahan bahan Pustaka saja, tetapi juga pustakawan harus mampu mengembangkankan Pengetahuannya sesuai dengan tuntutan seperti saat sekarang seperti kemampuan dalam mengelola web, mengelola layanan pinjam antar perpustakaan, serta menegembangkan layanan multi media dan masih banyak lagi layanan yang harus di upgrade sesuai dengan tuntutan saat ini. Sehingga Ketika pelayanan yang ada dalam sebuah Perpustakaan mengikuti perkembangan dan trend saat ini tentu akan menjadi penilaian yang bagi Pustakawan serta Perpustakaannya.
Method
Pada penulisan ini penulis menerapakan atau menngunakan jenis penelitian bahan Pustaka (Research), yang dimana seluruh aktivitas penelitian yang berkenaan dengan pembahasan denagan tekhnik mengumpulkan literatur atau bahan Pustaka yang berkaitan. Peneltian Pustaka juga merupakan suatu proses aktivitas yang ilmiah yang dimaskudkan untuk mendapatkan solusi dari masalah yang ditemukan. Kemudian kegunaan dari jenis penelitian ini adalah untuk menemukan pemahaman dan pengetahuan dari beberapa permasalahan yang ditemukan serta mampu memeberikan jalan keluar untuk menyelesaikan suatu problem. Dalam penulisan ini yang menggunakan penelitian Bahan Pustaka sebagai objek dalam penelitian dengan cara membaca dan menganalisisnya, kemudian dalam penulisan ini penulis juga mengunakan pendekatan peneliatian kualitatif yaitu suatu penelitian yang tersusun secara sistematis yang diterapkan dalam mengkaji atau menelaah pada objek yang mempunyai latar belakang alamiah tanpa melakukan pemalsuan data didalamnya. Metode penelitian kualitatif ini biasa juga dikatakab sebagai metode yang natural dan alamiah, sehingga banyak peneliti yang menggunkan jenis penelitian ini dalam menyelesaikan suatu permasalahan yang ada.
Discussion
A. Komunikasi Pustakawan Komunikasi Bagi Pengelola Perpustakaan atau Pustakawan mempunyai dua asal kata yaitu komunikasi dan Pustaka, didalam asal kata ini tentu memiliki makna yang berbeda namun masih saling mempunyai hubungan antara kedua kata tersebut. Seandainya pada sebuah Lembaga atau Perpustakaan tidak mempunyai aktifitas interaksi atau komunikasi, tentu perpustakaan tidak mungkin bisa berjalan sesuai dengan fungsinya sebab pada seluruh divisi yang ada pada Perpustakaan sangat ditentukan oleh Komunikasi. Komunikasi dalam Bahasa latin itu bersumber dari kata latin yaitu commnucatio yang mempunyai arti kata sama, yang dimaksudkan adalah mempunyai kesamaan makna, Effendy (2011:9). Sehingga Ketika ada seseorang yang terlibat dalam sebuah komunikasi, contohnya dalam suatu percakapan tentu proses interaksi atau komunikasi akan terus berlangsung Ketika mempunyai kesamaan dari apa yang kita komunikasikan atau kita diskusikan. Sehingga kesamaan dalam berbahasa diperuntukan dalam suatu proses komunikasi yang belum tentu mempunyai kesamaan makna. Maksudnya adalah memahami suatu bahasa dalam subuah percakapan itu belum tentu memberikan pemahaman dalam makna komunikasi tersebut. Tubbs dan Moss memberikan sebuah pemahan tentang komunikasi sebagai suatu proses dari penciptaan makna antara dua orang yaitu komunikator dan komunikan atau lebih, walaupun dalam sebuah percakapan atau interkasi akan memberikan gambaran tentang seluk beluk manusia, akan tetapi bukan berarti dari komunikasi tersebut menggambarkan perilakunya tergantung seseorang tersebut mampu memaknai setiap proses dari komunikasi tersebut. Kebayakan orang mungkin lupa bahwa hampir di seluruh bagian dari hidup ini diisi oleh sebuah proses komunikasi, dimulai sejak bangun dari tidur hingga Kembali keperaduan aktivitas komunikasi itu terjadi. Proses komunikasi itu dapat terjadi melalui dengan pribadi diri kita sendiri atau dikenal dengan istilah person communication bisa juga dengan dengan seseorang atau interpersonal communication, dalam suatu masyrakat, maupun suatu golongan atau kelompok dalam suatu organisasi yang ada pada lingkungan masyarakat. Ada beberapa ahli yang mengatakan bahwa interaksi atau percakapan antara manusia menggunakan pancaindera sebagai suatu alat yang paling dominan dalam berkomunikasi seperti mata dan telinga. Sehingga informasi-informasi yang diterima dalam fikiran seseorang akan mampu menetukan sikapnya kepada sesuatu. Sedangkan Perpustakaan banyak orang yang memahami sebagai tempat penyimpanan buku-buku yang tersusun pada sebuah rak-rak sesuai dengan aturannya. Bahan pustaka yang ada dalam sebuah perpustkaan menyimpan berbagai macam pesan yang dibutuhkan oleh Pemustaka atau pengunjung Perpustakaan. selain itu perpustakaan didukung juga oleh sumber daya manusia yang mempunyai berbagai macam keahlian serta keterampilan dalam melayani pemustaka dala penelusuran informasi.Dari pemahaman tersebut mampu kita simpulkan bahwa Perpustakaan mempunyai sumber daya yang terampil seperti Pustakawan, sehingga Pustakawan Tersebut dituntut memiliki berbagai macam keterampilan, khususnya dalam bidang komunikasi, sebab kecakapan dan kemampuan berkomunikasi dengan baik merupakan suatau indikator utama yang ada dalam sebuah Perpustakaan B. Komunikasi Ideal Pustakawan Komunikasi yang ideal adalah suatu komunikasi yang dihasilkan oleh sebuah proses percakapan yang mampu memeberikan pemahaman dan pengetahuan akan informasi yang dibutuhkan tanpa adanya suatu kendala didalamnya. Salah satu fungsi dari komunikasi ideal ini adalah mampu memberikan kemudahan dalam memahami informasi yang diucapkan oleh komunikator atau pemberi informasi dengan komunikan yang akan menerima informasi, sehingga setiap percakapan yang digunakan oleh komunikator dalam menyampaikan sebuah informasi atau pesan akan lebih lengkap dan lebih jelas. Dalam hal ini Pustakawan bertidak selaku komunikator yang memiliki model interaksi dalam menyampaikan sebuah informasi yang berbeda-beda, setiap Pustakwan memiliki ciri khas tersendiri dalam menyampaikan sebuah pesan atau informasi, ciri khas terssebut akan menjadi sebuah salah sati model komunikasi yang ideal. Pustakawan harus bisa mempertahankan dan meningkatkan model komunikasi yang di miliki dalam implementasinya serta mampu memperbaiki kelemahan-kelemahan dalam melakukan sebuah interaksi ataupun komunikasi dengan para pemustaka. Model komunikasi yang dilakukan oleh pengelola Perpustakaan atau Pustakawan merupakan jembatan bagi bentuk interaksi baik secara verbal maupun non verbal. Model komunikasi verbal dan non verbal digunakan untuk memahami makna dari sebuah proses percakapan atau komunikasi yang terjadi. Pustakawan mempunyai perilaku yang spsesial yang biasa digunakan dalam situasi tertentu dalam menyampaikan atau memberikan sebuah pelayanan dalam sebuah Perpustakaan, model ini di keluarkan untuk memberikan simpati kepada para pengunjung Perpustakaan yang memanfaatkan jasa pelayanan dari sebuah Perpustakaan. Suherman (2009) mengemukakan bahwa kemampuan dan keterampilan awal yang diperlukan dari seorang pengelola perpustakaan atau Pustakawan adalah : 1. Kecakapan berinteraksi secara ideal dan positif. Pustakawan dituntut agar bisa memahami model-model komunikasi yang simple, ideal, dan sederhana akan tetapi mampu memberikan interaksi yang saling menguntunkan antara pengelola Perpustakaan dengan Pengunjung perpustakaan. 2. Keterampilan Dalam Pemilihan Koleksi Pengelola perpustakaan atau Pustakawan diharuskan mempunyai sikap yang responsive dalam menindak lanjuti pertayaaan terkait informasi yang dibutuhkan oleh pengunjung Perpustakaan, serta memiliki keterampilan dalam pemilihan koleksi yang akan disediakan dalam layanan sebuah Perpustakaan sesuai dengan siapa yang memanfaatkan Perpustakaan tersebut. 3. Kemampuan Kerja Team Hendaknya Pustakawan mampu dapat menjadi jembatan penghubung kerja sama atara perpustakaan dengan Lembaga-lembaga lain baik kerja sama secara indiviud maupun kelompok, mislanya dengan kerja sama dengan penulis, penerbit atau instansi-instansi yang berkaitan dengan Perpustakaan atau Pustakawan 4. Sikap Pustakawan dalam memberikan pelayanan Kegiatan pelayanan yang ada di Perpustakaan salah satunya adalah pertukaran iformasi yang sering terjadi dan tidak efisien diantara kedua belah pihak, sehingga harus di perhatikan lagi agar menjadi sebuah pertukaran infromasi yang efektif, sikap loyal dan ramah pengelola Perpustakaan sangat dibutuhkan dan diinginkan oleh pengujung perpustakaan, sehingga Pustakawan harus bisa melayani pemustaka dengan cara yang sebaik mungkin, misalnya memberikan ucapaan yang ramah kepada pemustaka, memberikan penjelasan yang ramah saat memberikan arahan kepada pemustaka yang sedang dalam memerlukan bantuan. 5. Memiliki Pemahaman akan Keanekaragaman Culture Ketika Pustakawan memiliki pengetahuan dan pemahaman yang tidak hanya berfokus pada satu sub disiplin ilmu saja, tentu ini akan menjadi nilai tambah, contoh misalnya pustakawan memahami tentang keanekaragaman suatu budaya tentu ini akan baik sebab pengunjung yang datang ke Perpustakaan tidak hanya satu budaya saja melaikan berbagai macam budaya. Di dalam suatu interaksi atau komunikasi yang paling perlu diperhatikan adalah bagaimana suatu hubungan itu dapat terjadi dengan serasi dan selaras yang disertai dengan penuh saling pengertian. Dalam praktek sebuah komunikasi hal mendasar yang perlu kita perhatikan adalah memahami mood seseorang yang akan kita ajak berkomunikasi, sebab Ketika kita tidak mampu memahami konidisi tersebut maka prkatek komunikasi kita tidak akan berjalan dengan baik. Selain dari pada kemampunan membaca situasi pustkawan juga harus memiliki kecakapan serta kemampuan dalam berkomunikasi, suatu sikap dalam komunikasi bukan hanya terletak pada suatu tulisan atau perkataan tetapi bagaimana Pustakawan juga harus memahami bagaimana model yang baik dalam menyampaikan suatu pesan ke penerima pesan. Berikut model-model komunikasi Pustakawan yang efektif yang perlu diimplementasikan oleh para pengelola atau pustakawan kepada para pengunjung Perpustakaan atau Pemustaka: 1. Mendengarkan Pengunjung atau Pemustaka Saat sedang berkomunikasi, sebenarnya kita diperbolehkan untuk menyampaikan suatu gagasan atau pendapat, namun bukan berarti kita tidak memberikan pengunjung atau pemustaka untuk mengutarakan pendapatnya, sebab dalam mendengarkan dan memperhatikan orang lain juga itu penting. Ketika kita hanya memikirkan dirikita sendiri saat melakukan sebuah interaksi maka orang akan menganggap sebagai individu yang egosi, karena hanya berfokus kepada pribadi kita, oleh sebab itu berilah kesempatan kepada para pengunjung perpustakaan berbicara dan pada saat orang tersebut berbicara kita harus menjadi pendengar yang baik pula sehingga Ketika ini di implementasikan akan menghasilkan suatu komunikasi yang ideal bagi para pemberi dan penerima informasi. 2. Memahami Model Komunikasi Dalam sebuah Perpustakaan tentu pengunjung yang datang bukan hanya dari satu golongan,kelompok,atau suku saja melainkan semua kalangan bisa mengakses informasi dalam perpustkaan sehingga penting bagi pengelola Perpustakaan untuk bisa memahami gaya atau model-model komunikasi pengunjung, ada beberapa model atau gaya komunikasi orang-orang yang harus kita fahami. a. Pasif Seseorang yang mempunyai gaya seperti ini biasanya terlihat acuh terhadap segala sesuatnya, mereka biasanya susah diajak dalam berkomunikasi, mereke terkadang tidak mengungkapkan apa yang menjadi keinginan dan kebutuhannya sehingga dalam sebuah interaksi mereka didominasi oleh orang-orang lain. Dalam sebuah penelitian orang yang dengan gaya komunikasi pasif seperti ini biasanya buruk dalam komunnikasi non verbal b. Agresif Sebenranya cukup mudah dalam menentukan dan memahami seorang komikator yang aktif, tetapi terkadang mereka memberi perintah serta memberikan pertanyaan-pertanyaan dengan cara yang kasar, dan tidak mau mendegarkan orang lain saat berkomunikasi. Mereka sering tampil sepihak dalam mengkomunikasikan sesutau. c. Pasif Agresif Model komunikasi seperti ini biasa cukup sulit untuk dimengerti, sebab seseorang yang mempunyai model komunikasi seperti ini tampak pasfi di depan namun di dalam hati mereka sangat aktif, kebanyakan dari komunikator pasif-agresif seperti ini lebih banyak bergumam atau berinterkasi pada diri mereka sendiri ketimbang berintekteraksi dengan orang lain, itu dikarenakan mereka sulit untuk mengakui keinginan mereka sehingga ekspresi gerak tubuhnya tidak sesuai dengan apa yang disampaikan. d. Asertif Seseorang yang mempunyai model komunikasi seperti ini adalah tipe orang yang dapat dijadikan sebgai rekan kerja sama yang baik. Berinteraksi dengan orang seperti itu akan terasa lebih nyaman, sebab model komunikasi asertif ini mampu menginterpretasikan ide dan perasaan mereka dengan baik, tanpa menyampingkan kepentingan orang lain. Sehingga mereka cukup terbuka Ketika dalam melaksanakan suatu pembicaran. Jika dalam komunikasinya mereka tidak setuju dengan persepsi yang dikemukakan maka orang tersebut akan menyampaikannya secara sopan. Sehingga orang yang menerapkan gaya seperti ini akan sangat mudah untuk dipahami. 3. Menggunakan komunikasi Tubuh Komunikasi tubuh merupakan suatu bagian penting dalam suatu proses terjadinya interaksi yang ideal, bentuk komunikasi tubuh merupakan suatu bentuk yang dalam penerpannya tidak menggunkan perkataan atau kata-kata melainkan bahasa yang dimunculkan dari eksperesi gerak tubuh. Dengan menambahkan gerak tubuh pada saat berkomunikasi dapat memberikan atau menguatkan informasi yang ingin disampaikan kepada si penerima pesan. Dengan melihat gerak atau bahasa tubuh seseorang mampu melihat dan mengetahui kebenaran diri kita, apakah kita menyampaikan pesan atau informasi yang benar atau tidak. 4. Menunjukkan Sikap Yang Ramah Hal yang penting juga yang perlu di terapkan dalam sebuah bentuk pelayanan kepada seluruh pengunjung Perpustakaan atau pemustaka adalah sikap yang baik, serta ramah dalam melayani berbagai macam permintaan dari pemustaka, ini bertujuan agar saat berkomunikasi kita mampu menghindari terjadinya saling ketersinggungan. Bersikap ramah bukan berarti seluruh kemauan dan kebutuhan pemustaka harus dipenuhi, tetapi bagaimana kita mampu memberikan pengertian dan pemahaman yang baik dengan para pemustaka.
Conclusion
Dalam sebuah aktivitas komunikasi yang kita bangun tentu akan melibatkan semua orang sehingga kita harus mampu mengetahui apa yang di inginkan dari orang-orang yang sedang berkomunikasi dengan kita. Begitu halnya dengan kita selaku para pengelola Perpustakaan atau Pustakawan kita dituntut untuk memiliki kecakapan dalam berinteraksi atau berkomunikasi dengan baik serta terstruktur dalam menyampaiakan kan pesan atau informasi., tentu dalam hal ini pengelola Perpustakaan tidak hanya berkomukasi saja dengan para pengunjung perpustakaan melainkan seluruh stakeholder yang ada, sehingga kemapuan dalam menyampaikan sebuah informasi atau pesan sangat dituntut kepada pengelola Perpsutakaan. Ketika pengelola Perpustakaan tidak memiliki sebuah keterampilan serta kecakapan dalam berkomunikasi maka akan berpengaruh kepada kualitas seluruh pelayanan yang diterapkan dalam sebuah perpustakaan. komunikasi yang ideal dalam sebuah Perpustakaan dapat diterapkan jika kita mampu mendegarkan terlebih dahulu pengunujung atau pemustaka saat berbicara, kemudian kita mampu memahami model-model komunikasi setiap pemustaka, selain itu Pustakwan juga harus memahami komunikasi Verbal dan komunikasi Non verbal, serta yang paling utama adalah seluruh Pengelola Perpustakaan mampu menerapakan Service Excellent.