Kembali
16
1
2019 Media Informasi Vol 28 · 2 ISSN 2829-2707

Pengembangan Perpustakaan Akademik

Universitas Gadjah Mada

Abstrak

Perpustakaan akademik mengalami perkembangan yang cepat seiring perkembangan institusinya. Fasilitas yang tersedia berubah seiring perkembangan teknologi. Demikian juga pustakawan ikut berkembang secara profesional baik intern dan ekstern. Keberhasilan pustakawan dalam mengembangkan diri akan menjadi bagian keberhasilan lembaga akademiknya. Perpustakaan akademik memberikan layanan yang prima dari sisi organisasi dan profesional pustakawan akan memberikan dampak positif pemustaka.
Keywords: Perpustakaan akademik · Pustakawan profesional · interpersonal skills · open access

Introduction

Perpustakaan dan pustakawan tidak pernah dapat dipisahkan, begitulah kata kawan-kawan pustakawan. Namun demikian, perpustakaan juga tidak dapat dipisahkan dari lembaga induknya. Perpustakaan akademik sangat terkait dengan lembaga induknya yakni perguruan tinggi. Perpustakaan sekolah sangat erat hubungannya dengan sekolah yang bersangkutan. Pengembangan pe rpust aka an akademik. Di sisi lain, bila pustakawannya mampu membangun reputasi, maka perpustakaannya akan ikut terbawa dan memiliki reputasi; dan perpustakaan yang mampu merubah dirinya dan memi l i k i r e p u t a si k a r e n a pustakawannya berprestasi, maka lembaga yang menaunginya juga akan terbawa dan dikenali sebagai lembaga yang memberikan dukungan untuk berhasil. Untuk berhasil maka pustakawan harus memiliki kemauan untuk berubah dan tentu hal ini bukan hal yang mudah bagi sebagian (besar) pustakawan. Melakukan perubahan bukan hal yang mudah. Tanpa inisiasi dan kemauan yang keras, serta keluar dari tradisi yang mengungkungnya. Keberanian keluar dari kungkungan tradisi organisasi dan berani melihat keluar jauh di atas cakrawala akan menjadikannya memiliki reputasi. Dalam satu statement dari Australian Library and Information Association (2009), disebutkan bahwa: Library and information p r o f e ssi o n a ls h a v e a responsibility to commit to professional development and career-long learning. Similarly, their employers and the Australian Library and Information Association have a responsibility to provide opportunities which enable library and information professionals to maintain excellent service delivery. Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa ada timbal balik dari kedua pihak, pustakawan dan lembaganya, bila perpustakaan ingin maju. Di satu sisi, pustakawan harus senantiasa menc a ri ke s empa t an untuk mengembangkan diri melalui berbagai peluang yang ada. Di sisi lain, lembaga yang menaungi para pustakawan harus senantiasa memberikan kesempatan bagi para pustakawan untuk meningkatkan kemampuan diri mereka. Tulisan ini memfokuskan pada adanya pemikiran tentang bagaimana pustakawan, di satu sisi, dan perpustakaan di sisi lain, dapat berkembang dan menjadi pemimpin atas kemajuan yang dapat dicapai dalam waktu tertentu. Tentu saja pengembangan diri pustakawan dan pengembangan pe rpust aka an memerlukan prinsip dan perencanaan strategis agar terjadi hubungan timbal balik yang saling menguntungkan bagi pustakawan dan perpustakaan. Selain itu, pengembangan pustakawan pada da s a rnya akan mendukung keberhasilan perpustakaan apabila pengembangan pustakawan tersebut dapat dilakukan dengan baik dan pembangunan perpustakaan dilakukan dengan berbasis pengetahuan yang telah diperoleh pustakawannya.

Discussion

1. Pengembangan diri pustakawan Bekerja di sebuah perpustakaan dengan menjalankan rutinitas keseharian akan membuat pustakawan tidak berkembang dan akan bertahan dengan keterbatasan pengetahuan, jaringan, dan reputasi. Seorang pustakawan yang hanya menjalankan rutinitas keseharian tanpa diberikan kesempatan atau tanpa keinginan untuk mendapatkan kesempatan membangun reputasi dirinya akan terus terjebak dengan rutinitas. Akhirnya mereka hanya menjadi pustakawan biasa tanpa reputasi, tanpa pengetahuan yang berarti. Menjadi pustakawan harus mampu membangun jejaring baik lokal, nasional, maupun internasional. Membangun jejaring mutlak diperlukan bagi pustakawan, baik secara kelembagaan maupun secara pribadi. Secara kelembagaan, jejaring diperlukan karena perpustakaan tidak akan mampu melayani semua pemustaka dan organisasi yang jumlahnya cukup banyak, apabila perpustakaan tidak memiliki sumber informasi yang diharapkan. Jejaring, yang dilakukan pustakawan bisa berupa menghubungi jaringan perpustakaan yang dimilikinya untuk memperoleh sumber informasi yang dibutuhkan oleh pemustakanya, atau menghubungi jaringan antar pustakawan. Jejaring juga dapat memberikan pencerahan bagi seorang pustakawan. Seorang pustakawan harus terus menerus meningkatkan kualitas diri. Bila dia ingin belajar maka dia dapat menghubungi kawan mereka dalam jejaringnya untuk berdiskusi dan berbagi ilmu pengetahuan. Hal lain yang perlu mendapat perhatian adalah interpersonal skills. Pustakawan harus mampu membangun hubungan dan dalam hal itu, maka seorang pustakawan harus mampu berkomunikasi dengan orang lain. Interpersonal skills dibutuhkan dalam menjalin komunikasi. Interpersonal skills tidak saja memfokuskan pada cara berbicara, tetapi juga siapa yang kita ajak bicara dan bagaimana kita bersikap saat menghadapi orang lain. Pengembangan profesional menunjukkan komitmen pribadi individu dari waktu ke waktu dan upaya untuk memastikan kemampuan secara unggul dalam kinerja sepanjang karirnya. Lingkungan perpustakaan dan informasi yang dinamis dan terus berubah menuntut para profesional di bidang perpustakaan dan informasi untuk mempertahankan dan terus mengembangkan pengetahuan dan keterampilan mereka, sehingga mereka dapat mengantisipasi dan melayani kebutuhan informasi masyarakat dan pustakawan. Pengembangan profesional mencakup banyak pengalaman belajar yakni: pengalaman di dalam dan di luar tempat kerja – hal ini bertujuan untuk m e n a m b a h p e n g e t a h u a n , mengembangkan diri, keterampilan dan informasi perpustakaan serta memperluas jangkauan kompetensi kejuruan. Kegiatan pembelajaran dapat berhubungan dengan perpanjangan bidang umum atau khusus pendidikan perpustakaan dan manajemen informasi. Pengembangan diri pustakawan khususnya pengetahuan yang mendasari praktik profesional, pengembangan praktisi reflektif, pengembangan keahlian penelitian, atau studi dari disiplin lain yang mengarah ke pribadi dan pengembangan profesional. 2. Pengembangan perpustakaan Perpustakaan dewasa ini sudah berkembang sangat pesat sesuai dengan perkembangan jaman. Perpustakaan masa kini sudah sangat berbeda dengan perpustakaan pada umumnya yang belum terautomasi dan masih berbasis pada koleksi. Perpustakaan tidak boleh hanya memfokuskan pada koleksi perpustakaan. Perpustakaan harus selalu memperhatikan bagaimana layanannya dan apa saja layanan yang harus ada. Sebagai living organism, perpustakaan tentu harus terusmenerus meningkatkan fasilitas layanan yang sesuai dengan perkembangan baru. Fasilitas fisik perpustakaan masih diperlukan sampai saat ini, meskipun orang sering berbicara tentang perpustakaan digital yang dapat diakses dari mana pun. Namun perpustakaan secara fisik tetap dibutuhkan. Fasilitas fisik pun sebetulnya terus berkembang di dalam perpustakaan karena kebutuhan dan tuntutan kemajuan dalam berbagai bidang dan teknologi. Perpustakaan masa kini (today's libraries), lingkungan perpustakaan haruslah membuat pemustaka ingin selalu datang. Itulah sebabnya perpustakaan harus didisain agar welcoming dan engaging, serta menjadikan pemustaka saling berinteraksi. Perpustakaan yang baik saat ini juga harus memungkinkan terjadinya kolaborasi dan pembelajaran yang aktif. Pemustaka juga seharusnya dapat difasilitasi agar dapat mengerjakan atau menghasilkan produk tertentu di dalam perpustakaan.Kemudahan akses, penyediaan fasilitas dan koleksi yang sesuai kebutuhan, dan pelayanan yang membuat pemustaka betah adalah halhal yang terus selalu dikembangkan di dalam perpustakaan. 3. Pengembangan lingkungan perpustakaan Perpustakaan yang baik saat ini membagi ruangan menjadi social zone, quiet zone, dan silent zone. Area social zone merupakan area yang memperbolehkan para pemustaka untuk bisa berbicara dengan banyak orang. Dengan kata lain, di area ini pemustaka boleh berbicara dan ngobrol dengan pemustaka lain. Di area ini, kegiatan yang menghasilkan suara, seperti presentasi dan permainan musik diperbolehkan. Selain itu, biasanya di area ini juga diperbolehkan untuk makan dan minum, tetapi kebersihan tetap harus dijaga. Area social zone didisain agar “more playful, casual and comfortable.” (Franz, 2016). Area seperti ini pada umumnya dilengkapi dengan café sehingga pemustaka dapat memperoleh kopi atau minuman lainnya serta makanan ringan. Sedikit berbeda dengan social zone, area quiet zone didisain untuk memberikan kesempatan bagi pemustaka untuk diskusi dengan kawan pemustaka lainnya tetapi tidak boleh berbicara keras. Area ini merupakan collaborative space yang memungkinkan adanya interaksi sesama pembelajar. Di area ini biasanya juga disediakan fasilitas untuk diskusi bersama dalam ruanganruangan yang didisain untuk 4-8 orang dan dilengkapi dengan layar monitor atau smartboard dan media untuk menulis. Sementara itu, area silent zone memberikan kesempatan bagi para pemustaka untuk lebih serius belajar dengan fasilitas yang memungkinkan pemustaka belajar atau mengerjakan tugas secara mandiri. Di area ini tidak diperbolehkan untuk berdiskusi atau berbicara dengan pemustaka lain yang dikhawatirkan akan mengganggu konsentrasi belajar mereka. 4. Pengembangan sumber daya pembelajaran di dalam perpustakaan Perkembangan baru dunia perpustakaan akademik, yakni tidak hanya memiliki dan menyediakan koleksi dalam bentuk cetak dan digital konvensional seperti buku, jurnal, ebooks, e-journals, surat kabar, dan sebagainya. Perpustakaan masa kini juga menyediakan sumber daya pembelajaran dalam bentuk datasets maupun files. Koleksi perpustakaan demikian juga terbagi dua, yaitu, koleksi hasil dari pengadaan baik pembelian maupun langganan, dan koleksi hasil produksi sendiri. Dengan demikian perpustakaan masa kini bukan sekedar media untuk menyimpan koleksi hasil pembelian dan langganan, tetapi juga hasil produksi dan harvesting. Produksi informasi dalam bentuk video dihasilkan melalui penyediaan studio yang dapat merekam suara maupun audiovisual masyarakat setempat, baik pakar maupun orang awam. Terkait dengan harvesting koleksi, hal ini dimaksudkan agar perpustakaan dapat menyediakan sumber informasi yang berasal dari berbagai media sosial dan web. 5. Pengembangan kreasi dan diseminasi pengetahuan dalam sebuah perpustakaan Te rka it dengan sumbe r pengetahuan yang dimiliki oleh sebuah perpustakaan, maka diseminasi juga menjadi penting. Perpustakaanperpustakaan masa kini pada umumnya sudah menyediakan repositori dalam bentuk Open Access karena sumber informasi yang dihasilkan oleh sebuah l emb a g a d i h a r a p k a n d a p a t dimanfaatkan oleh semakin banyak orang, sehingga Open Access menjadi sangat krusial. Sementara itu akses informasi juga harus semakin memberikan manfaat. Oleh karena itu, perpustakaan yang baik akan menyediakan fasilitas akses terbuka untuk koleksi yang dibuat oleh lembaganya. Promosi perpustakaan dan koleksinya dilakukan juga dengan berbagai media, termasuk media sosial tentunya. Media sosial menjadi media yang sangat baik untuk diseminasi informasi maupun promosi perpustakaan karena banyak pemustaka yang tinggal (residents) di media tersebut.

Conclusion

Perpustakaan akademik akan selalu berubah mengikuti tren yang terjadi di dalam masyarakat. Untuk bisa berkembang, perpustakaan harus selalu mengadakan analisis terhadap perilaku pemustaka. Penyediaan informasi yang relevan akan sangat membantu pemustaka dalam proses pembelajaran. Area yang nyaman juga akan membuat process of learning menjadi lebih baik bagi pemustakannya.