Kembali
16
1
2019 Media Informasi Vol 28 · 2 ISSN 2829-2707

Implementasi smart library dalam menghadapi generasi digital native di Perpustakaan Fakultas Kedokteran; Kesehatan Masyarakat Dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada

Universitas Gadjah Mada

Abstrak

Di era digital native ini sudah banyak perpustakaan yang menerapkan dan menggunakan teknologi digital dalam kegiatan perpustakaan, baik itu pelayanan kepada pemustaka maupun kegiatan teknis sehari-hari. Perpustakaan dilengkapi dengan sistem aplikasi perpustakaan yang lengkap dan canggih seperti penggunaan sistem layanan mandiri dengan berbasis RFID (radio frequency identification), sistem teknologi komunikasi, dan lain sebagainya. Hal ini yang melatarbelakangi perlunya pengembangan perpustakaan yang mendukung keberadaan generasi digital natives. Konsep Smart Library atau perpustakaan pintar yang berbasis teknologi merupakan jawaban bagi kebutuhan generasi digital natives di perpustakaan. Konsep Smart Library ini yang mulai diimplementasikan di Perpustakaan Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan UGM.
Keywords: smart library · digital native · implementasi smart library

Introduction

Perpustakaan merupakan suatu organisasi atau institusi atau lembaga yang bergerak dalam bidang pengolah informasi memiliki peranan penting di masyarakat era 4.0 atau disebut juga dengan istilah fourth generation di mana pada era ini teknologi sudah menjadi basis dalam kehidupan masyarakat di tiap waktu. Informasi di era ini merupakan sesuatu yang mudah diperoleh namun kemampuan menelusur informasi yang beredar di masyarakat perlu dikelola dengan baik. Untuk itulah perpustakaan harus memiliki kemampuan untuk mengatasi hal ini. Suwarno & Ifonilla (2016) mengatakan bahwa perpustakaan seperti halnya sebuah organism yang selalu tumbuh dan berkembang. Ia selalu beradaptasi dengan kemajuan zaman, berupaya memahami perkembangan dan kebutuhan penggunanya, sehingga suatu ketika dapat menjelma menjadi pilihan utama bagi pemustaka dalam menelusur informasi. Inilah sesungguhnya yang dikatakan perpustakaan mengikuti trend, perpustakaan tidak mau ketinggalan zaman. Perkembangan teknologi dan pengetahuan yang sedemikian pesat memunculkan apa yang dinamakan dengan era digital, yang juga ditandai dengan lahirnya generasi digital natives. Hal ini menuntut adanya perubahan yang adaptif bagi setiap organisasi atau institusi termasuk perpustakaan dalam memberikan layanan kepada generasi 'baru' ini. Apabila dalam beberapa puluh tahun lalu fokus perubahan di perpustakaan pada keberadaan generasi digital immigrants, maka pada beberapa tahun ini terutama di perguruan tinggi sudah harus bergeser pada generasi digital natives. Hal ini dikarenakan dominasi jumlah generasi digital natives yang semakin tinggi dalam lingkungan perguruan tinggi. Mahasiswa, dosen, dan peneliti yang dulu banyak diisi oleh generasi baby boomers dan generasi X yang merupakan generasi digital immigrants, saat ini banyak diisi oleh generasi Y dan generasi Z yang merupakan generasi digital natives. Perubahan dominasi generasi digital natives ini harus disikapi oleh semua pihak termasuk perpustakaan agar mampu memenuhi kebutuhan dan keinginan generasi ini. Pengembangan perpustakaan pintar atau smart library menjadi satu jawaban untuk merespon keadaan ini. Perpustakaan Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan UGM (FKKMKUGM) harus mampu menghadirkan layanan yang berbasis pada pola perilaku dan kebiasaan generasi digital natives. Untuk itulah maka implementasi terhadap konsep smart library yang dikembangkan di perpustakaan FKKMK-UGM ini menjadi sangat penting. Tulisan ini akan memberikan gambaran bagaimana perpustakaan FKKMUGM mengimplementasikan smart library bagi sivitas akademika yang berasal dari generasi digital natives. Sebuah rancangan yang akan memberikan ruang lebih luas bagi pemanfaatan teknologi digital terutama teknologi pintar berbasis mobile dan online, layanan 24 x 7, layanan anytime, anywhere, dan layanan berbasis komunikasi yang lebih luas antara pustakawan dan pemustaka.

Discussion

1. Smart library Smart libraries didefinisikan sebagai sebuah perpustakaan yang mampu memberikan “layanan pintar” atau “smart services” berbasis pada smart technology dan perubahan kebutuhan dari para pemustakanya terutama dari generasi digital natives. Smart library sebetulnya sangat berdekatan dan ada keterkaitan dengan digital library, walaupun kedua memiliki karakteristik masing-masing. Keduanya sama-sama berbasis pada digitization dan networking, akan tetapi dalam smart library sudah dikombinasikan dengan intelligence technology, keberagaman budaya, dan interaksi sosial. Smart library bukan sekedar perluasan perpustakaan secara fisik akan tetapi lebih dari itu dimana fokus pada layanan prima perpustakaan dan manajemen berkualitas tinggi dengan dukungan teknologi informasi. Hal ini direpresentasikan dengan interkoneksi, efisiensi yang tinggi dan kenyamanan (Wang, 2013). Pada beberapa sumber disebutkan bahwa Smart Library juga digambarkan sebagai sebuah “Intelligence Library” yang erat kaitannya dengan penerapan konsep Library 3.0. Mengadaptasi pendapat Giffinger et al. (2007), mengatakan bahwa smart library berkinerja baik dengan cara pandang ke depan, sebagai pusat informasi, menyediakan akses ke informasi dan meningkatkan literasi informasi; konsep mengacu pada pencarian dan identifikasi solusi cerdas yang memungkinkan perpustakaan modern untuk meningkatkan kualitas layanan. Karakteristik dan ciri-ciri sebuah Smart Library setidaknya mencakup 5 (lima) hal SMARTberikut ini: 1.1. Smart Technology Smart Library harus mampu menghadirkan teknologi pintar di perpustakaan. Teknologi pintar disini dalam konteks perangkat keras maupun perangkat lunak serta perangkat pendukung yang lain. Perangkat keras misalnya adalah pemanfaatan perangkat wireless, RFID (Radio Frequency Identification) dan mobile devices dalam pelayanan di perpustakaan. Selain itu pemanfaatan teknologi multimedia berbasis smart misal pemanfaatan Smart TV sebagai media akses interaktif dan dinamis bagi para pemustaka. Pemanfaatan teknologi e-money juga menjadi satu bentuk dari pemanfaatan teknologi pintar di perpustakaan. Pada sisi aplikasi, aplikasi berbasis mobile masih menjadi satu ciri yang paling utama, namun aplikasi yang saling terkoneksi, terintegrasi dan berbasis jaringan global menjadi sisi penting lainnya. 1.2. Smart Environment Hal penting lain dalam smart library adalah pembentukan lingkungan pintar di perpustakaan. Pembentukan lingkungan pintar harus dimulai dengan pola dan strategi pengelolaan perpustakaan yang fleksibel, adaptif, mudah untuk dikembangkan, dan mengikuti pola perilaku pemustaka atau generasi digital natives. Lingkungan pintar inilah yang akan membentuk satu komunitas pintar di perpustakaan. Pengembangan lingkungan pintar harus dapat dilakukan melalui desain interior perpustakaan, desain sistem, desain prosedur atau proses bisnis, infrastruktur hingga kepada desain gedung perpustakaan. Perencanaan terhadap keempat hal tersebut sangat penting untuk menciptakan satu lingkungan yang dapat mendukung bagi terciptanya sebuah komunitas dan layanan pintar. 1.3. Smart Services Konsentrasi layanan dari smart l i b r a r y a d a l a h b a g a ima n a menghadirkan kemudahan akses pemustaka kepada layanan dan juga sumber daya informasi yang dimiliki oleh perpustakaan. Sebagai contoh nyata dalam pemanfaatan alert system yang memungkinkan pemustaka mendapatkan berbagai notifikasi peminjaman koleksi, denda, layanan terbaru, pemesanan buku dan informasi layanan pribadi lainnya dengan memanfaatkan baik email, sms, mobile, apps account, maupun sosial media. Hal ini juga dapat dilihat dengan kemudahan pemustaka menjangkau komunikasi dengan pustakawan atau pengelola perpustakaan terkait layanan perpustakaan. Pelayanan berbasis sumber daya digital dan jejaring global juga menjadi faktor penting dalam smart library. Pemanfaatan single account untuk dapat mengakses berbagai sumber daya digital kapanpun dan dimanapun (layanan anytime anywhere) yang dimiliki oleh perpustakaan harus menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam layanan pintar perpustakaan. Namun, implementasi smart services harus didukung dengan adanya smart technology, smart environment, smart communities dan juga smart librarians. Dimensi smart services menghadirkan inovasi teknologi sebagai layanan cerdas, seperti penggunaan RFID, akses seluler dan nirkabel, web semantik, Internet of Things, augmented reality untuk memberikan pengalaman baru dalam menikmati cultural heritage (Schopfel, 2018). 1.4. Smart Communities/Users Keberadaan generasi digital merupakan komponen penting dalam smart library. Smart Library akan menciptakan satu komunitas pintar (smart users) yang secara cepat akan menyesuaikan dengan perubahan orientasi cara perpustakaan dalam m e l a y a n i m e r e k a . S m a rt Communities/Users adalah mereka yang secara aktif siap menggunakan dan memanfaatkan smart technology, smart services dan menyesuaikan dengan smart environment yang ada di perpustakaan. Generasi digital natives merupakan generasi yang sangat siap sebagai smart communities. Kebiasaan mereka memanfaatkan smart devices, intensitas interaksi sosial, berjejaring, dan perilaku yang tidak dapat lepas dari teknologi menjadi kekuatan dari smart communities. 1.5. Smart Librarians/Staff Komponen lain selain keberadaan smart communities adalah kesiapan pustakawan atau staf perpustakaan dalam mendukung smart library. Selain pemustaka yang harus mempunyai kemampuan dan keterampilan memanfaatkan berbagai smart technology, pustakawan juga harus dapat menjadi pustakawan pintar, pustakawan yang mempunyai keahlian dalam pemanfataan berbagai perangkat pintar, paham kebutuhan pemustaka dari generasi digital, paham pola perilaku pemustaka, dan harus menyediakan waktu lebih untuk selalu siap memberikan layanan kepada pemustaka dan juga meningkatkan pengetahuannya. Selain memberikan pelayanan, maka pustakawan pintar harus mampu memposisikan dirinya sebagai pembimbing, konsultan, bahkan pendamping pemustaka dalam melakukan eksplorasi terhadap pengetahuan dan informasi yang dibutuhkan. Barysev R.A. dan Babina O.I. (nd.) menyatakan bahwa pengembangan smart library tidak mungkin dilakukan tanpa personal yang mempunyai kualitas tinggi (highqualified personal). Dimana menurut keduanya pustakawan harus meningkatkan kemampuannya secara t e r u s me n e r u s b a g a ima n a menggunakan teknologi baru, layanan berbasis-web (online), melakukan inisiasi dan menjaga hubungan antara perpustakaan dengan organisasi lain untuk keperluan resource sharing. Kelima karakteristik di atas tentu dapat dikembangkan sesuai dengan kebutuhan dan situasi masing-masing perpustakaan. Namun setidaknya dengan berpedoman pada kelima karakteristik di atas maka kita dapat mu l a i me l a k u k a n i n isi a si pengembangan sebuah smart library. 2. Digital Native dan Digital Immigrants Pe rkembangan t eknologi informasi telah mendorong sebuah generasi baru yang disebut sebagai generasi digital natives. Digital natives dan digital immigrants adalah dua istilah yang digunakan Marc Prensky untuk membedakan keterkaitan manusia dengan teknologi saat ini. Digital natives merupakan gambaran seseorang (terutama anak hingga remaja) yang sejak kelahirannya telah terpapar gencarnya perkembangan teknologi, seperti perkembangan komputer, internet dan sebagainya yang terkait dengan teknologi. Lebih lanjut Prensky mengatakan, digital immigrants merupakan gambaran seseorang (terutama yang telah berumur) yang selama masa kehidupan anak hingga remaja berlangsung sebelum berkembangnya komputer. Pada artikelnya, Prensky lebih menitikberatkan digital nativessebagai siswa yang masih belajar di bangku sekolah (dari TK hingga perguruan tinggi), sedangkan digital immigrants merupakan guru/dosen/tutor yang memberikan pelajaran di sekolah/ perguruan tinggi (Prensky, 2001). Keterampilan generasi digital natives dan digital immigrants dalam kemampuannya untuk penggunaan teknologi sangatlah berbeda. Perbedaan yang dimaksud adalah perbedaan dalam cara berpikir dan cara menggunakan pikiran untuk memroses informasi. Hasil survei yang dilakukan oleh www.netday.com di Amerika Serikat disimpulkan bahwa digital natives tidak hanya menggunakan teknologi secara berbeda namun juga melakukan pendekatan dan menjalani kehidupan mereka sehari-hari secara berbeda pula. Selain itu banyak kemungkinan-kemungkinan yang bisa terjadi melalui media baru ini, kemungkinan makna internet bagi digital natives lebih dari sekedar sebuah teknologi baru daripada digital immigrants. Digital immigrants diyakini kurang cepat untuk memahami teknologi baru dari pada digital natives. Digital immigrants belajar dan mengejar akan ketinggalan untuk dapat memahami teknologi. Terlihat jelas bahwa digital natives dan digital immigrants dianggap memiliki pola pikir, pola interaksi dan cara menjalani hidup yang cukup berbeda. Digital natives dianggap oleh banyak peneliti lebih mahir dalam menggunakan media baru dibandingkan dengan digital immigrants. Cara hidup digital natives berbeda dengan digital immigrants. Sebagai contoh digital natives cenderung berkomunikasi melalui media sosial seperti twitter, facebook, BBM, whatsap, bermain game online, mencari data menggunakan google (bukan perpustakaan). Hal tersebut memberikan gambaran bahwa terpaan internet yang didapat oleh digital natives cukup banyak dimana hal ini mempengaruhi cara hidup dan berpikir mereka. Generasi digital natives merupakan generasi yang memiliki sifat ”kreatif” dan sangat potensial di dunia internet. Hal ini disebabkan digital natives merupakan generasi yang sangat cepat tingkat p e r k emb a n g a n n y a t e r h a d a p pertumbuhan informasi, pengetahuan dan hiburan di dunia maya. Diantara digital natives dan digital immigrants yang memiliki pola pikir yang berbeda, tentu dalam pemenuhan kebutuhan akan informasi berbeda pula. Seorang digital natives akan jauh lebih nyaman mencari informasi yang dibutuhkannya dengan menggunakan media yang berbasis elektronik namun berbeda dengan digital immigrants yang selama hidupnya lebih cenderung kepada sumber daya informasi tercetak alias paper-based. Prensky (2001) bahkan menggambarkan bahwa generasi digital natives secara fisik memiliki perbedaan pada otak mereka yang terbentuk selama pertumbuhan mereka sejak dalam kandungan hingga tumbuh dewasa (Jones, 2011). Generasi digital natives ini mencakup mereka yang dalam istilah lain dimasukan sebagai Generasi Y, Generasi Z, Generasi Millenial, atau Net Generation. 3. Implementasi Smart Library di Pe rpust aka an Fakult a s Kedokt e ran, Ke s ehatan Masyarakat dan Keperawatan UGM Implementasi Smart Library FKKMK-UGM di rancang dengan memperhatikan pemanfaatan smart technology, pengembangan smart environment, penyediaan smart services, terciptanya smart communities, dan terbentuknya smart librarians. Fokus dari sasaran smart library adalah pada bagaimana mewujudkan satu pengelolaan perpustakaan yang efisien, dinamis, inovatif, fleksibel, adaptif dan mampu menjembatani kebutuhan generasi digital natives khususnya di Perpustakaan FKKMK-UGM. Pemanfaatan smart technology dilakukan dengan secara bertahap menyediakan berbagai perangkat teknologi pintar di perpustakaan, yang memungkinkan pemustaka dapat mengakses informasi dengan lebih mudah, cepat, tepat dan efisien. Penggunaan teknologi wireless, mobile, dan RFID akan menjadi prioritas dalam rangka mewujudkan smart technology di perpustakaan FKKMK-UGM. Implementasi smart technology di perpustakaan FKKMKUGM saat ini telah menggunakan teknologi RFID. Kegunaan sistem RFID ini untuk mengirimkan data dari piranti portable yang dinamakan tag, dan kemudian dibaca oleh RFID reader selanjutnya diproses oleh aplikasi komputer yang membutuhkannya. Pemanfaatan teknologi RFID di perpustakaan FKKMK-UGM untuk proses peminjaman dan pengembalian buku cetak, selain itu digunakan untuk pengamanan koleksi buku cetak dengan tingkat akurasi untuk mendeteksi buku yang lebih baik (Sukirno, 2018). P e n g e m b a n g a n s m a r t environment dilakukan dengan melakukan desain interior, desain sistem, dan infrastruktur yang mendukung implementasi smart technology dan pembentukan smart communities. Fokusnya adalah bagaimana menciptakan smart space dan smart behavior bagi pemustaka. Implementasi terciptanya smart environment di perpustakaan FKKMK, ruangan baca di desain ulang dengan menempatkan kursi dan meja baca layaknya seperti berada di cafe, dilakukan pengecatan media dengan warna-warna terang. Hal ini bertujuan agar pemustaka yang mayoritas merupakan generasi digital natives lebih betah dan berlama-lama berada di perpustakaan, ruangan dibuat senyaman mungkin. Smart services memfokuskan bagaimana pemustaka dapat memperoleh layanan dan berinteraksi dengan perpustakaan maupun pengelola perpustakaan dengan lebih fleksibel dan mudah. Konsep 24 X 7 services harus terwujud dalam kerangka smart servicesini. Pemanfaatan teknologi mobile, digital communication, social media, dan notification system/alert system merupakan pendukung utama dalam menyediakan smart services. Pemustaka kapanpun dan di manapun dapat selalu berinteraksi dengan pustakawan dan juga mengakses informasi yang dibutuhkan di perpustakaan. Bahkan dengan menggunakan teknologi GPS yang saat ini ada, maka pemustaka dapat dengan mudah menemukan lokasi di mana sebuah koleksi berada dengan maupun tanpa bantuan pustakawan. Untuk mendukung smart services, saat ini di perpustakaan FKKMK telah menyediakan mesin layanan pinjam mandiri. Mesin diperuntukan bagi pengguna yang akan mengembalikan dan meminjam koleksi buku cetak secara mandiri. Selain menyediakan mesin selfservice loan, untuk meningkatkan layanan bagi generasi digital natives, perpustakaan FKKMK juga menyediakan tablet yang bisa dipinjam oleh pengguna. Tablet disediakan untuk pemustaka yang akan mengakses layanan digital, misalnya untuk searching journal online melalui database yang telah dilanggan oleh UGM.

Conclusion

Generasi digital natives merupakan generasi yang dilingkupi dengan lingkungan berbasis teknologi, bekerja dengan cara multitasking, berjejaring dengan banyak orang, menyukai suatu permainan yang interaktif, akses informasi secara acak, ingin segera mendapatkan informasi secara instan, cepat, tanpa harus membaca informasi secara detail, pilihan rujukan informasi dominan pada sumber-sumber yang tersedia online, dibanding sumber informasi yang disediakan perpustakaan. Implementasi smart library di perpustakaan FKKMK dalam menghadapi generasi digital natives tidak serta merta secara menyeluruh bisa diwujudkan sesuai dengan keinginan para pemustaka. Minimal saat ini sudah mulai dikembangkan beberapa kebutuhan pemustaka generasi digital natives.