Kembali
16
1
2020 Media Informasi Vol 29 · 2 ISSN 2829-2707

MULTITASKING PUSTAKAWAN SEBAGAI UPAYA ONE STOP SERVICES DI PERPUSTAKAAN FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN UGM

Universitas Gadjah Mada

Abstrak

Fakultas Kedokteran Hewan UGM dengan sumber daya manusia sebanyak 80 orang staf pengajar/dosen. Hampir 50% dari jumlah tersebut termasuk dalam generasi baby boomers. Generasi ini lahir sekitar tahun 1946-1964, dengan karakter yang mempengaruhi budaya dan pola berpikir dalam kehidupan. Hal ini disebabkan karena masa itu masih sebagai perjuangan dan perkembangan teknologi informasi belum seperti saat ini. Di satu sisi, tuntutan perkembangan teknologi yang terjadi saat ini menjadi hambatan yang dihadapi. Generasi baby boomers kurang familiar dengan perkembangan teknologi. Mereka lebih mudah untuk meminta bantuan secara langsung dari pada harus belajar mempelajari teknologi. Padahal sebenarnya teknologi memberi kemudahan dalam membantu pekerjaan. Di sisi lain, adanya kebijakan baru dari Kemenristekdikti (sekarang Kementerian Riset dan Teknologi/Badan Riset dan Inovasi Nasional) yang mengharuskan penerapan teknologi informasi dalam proses belajar mengajar, antara lain kuliah daring dengan SPADA, WEBEX, Google Meet, Zoom, Pembuatan Video Pembelajaran Daring dan lain-lain; dan adanya kebijakan tentang kewajiban seorang dosen mempunyai akun SINTA, Google Scholar, publikasi ilmiah di jurnal bereputasi baik nasional maupun internernasional yang terindeks SCOPUS, ISI, Web of Science, DOAJ atau yang lainya. Inilah permasalahan yang dihadapi oleh sebagian civitas akademika FKH UGM yang meski dijawab oleh pustakawan. Dari permasalahan tersebut, pustakawan bisa menjadikan dirinya sebagai pustakawan yang multitasking. Yaitu pustakawan yang mampu memerankan dalam berbagai hal. Peran sebagai pustakawan yang selalu melayani kebutuhan informasi dalam menunjang proses belajar mengajar; peran sebagai bagian dari civa fakultas, di masyarakat, di keagamaan dan pustakawan yang selalu siap dengan semua kebutuhan pemustaka baik dosen, mahasiswa maupun masyarakat di luar FKH UGM. Semua itu akan bermuara pada peningkatan kualitas layanan dengan mewujudkan layanan One Stop Services.
Keywords: generasi baby boomers · multitasking · one stop services · peningkatan layanan

Introduction

Berawal dari peran pustakawan di Fakultas Kedokteran Hewan UGM yang cukup bervariatif baik di perpustakaan maupun dalam berbagai kegiatan. Peran sebagai pustakawan, telah melaksanakan tugas pokok dan fungsi, mulai pengolahan, pelayanan, penyajian informasi, temu kembali informasi, pendidikan pemakai, pengembangan profesi dan sebagainya. Peran di fakultas, pustakawan yang membantu dalam pelaksanaan kegiatan-kegiatan di fakultas sebagai Sekretaris Jaminan Mutu, Tim A k r e d i t a s i F a k u l t a s , T i m Penyelenggara Seminar/Conference, Editor Pembuatan Prosiding, Journal Manager pada Penerbitan Jurnal Sain Veteriner dan Indonesian Journal of Veterinary Sciences, Tim Virtual Lecture Series Program Profesi Dokter Hewan (PPDH), Veteriner Webinar Series, Live Webinar, Tim TIK dan Kanal Pengetahuan dan Menara Ilmu, Sekretaris Takmir Masjid An-Nahl FKH UGM dan sebagainya. Peran inilah memberi motivasi dan semangat untuk meningkatkan kemampuan diri pustakawan dengan belajar berbagai hal yang menjadi kebutuhan civitas akademika FKH UGM dan masyarakat pemustaka pada umumnya. Di samping itu, mengingat sebagian peran yang diberikan perpustakaan kepada pemustaka sebatas layanan privat, by request tentang berbagai permasalahan yang dihadapi pemustaka. Layanan ini menjadi kurang efektif dan efisien. Untuk itu perlu kiranya dilakukan suatu upaya untuk meningkatkan pelayanan yang lebih efektif dan efisien dengan berinovasi dan berkreasi. Inovasi dan kreasi yang dilakukan bertujuan agar terciptanya layanan One Stop Services di Perpustakaan FKH UGM, yaitu: 1) Memberikan layanan sesuai kebutuhan civitas akademika dan masyarakat sebagai pemustaka, 2) Memberikan layanan satu atap, 3) Mengikuti perkembangan teknologi informasi yang be rka it an dengan sist em pendidikan dan pengajaran, 4) Mengembangkan kreatifitas dan inovasi, dan 5) Mewujudkan One Stop Services di Perpustakaan FKH UGM Berdasarkan uraian latar belakang tersebut di atas, yang menjadi permasalahan pada makalah ini adalah kreasi dan inovasi apa yang bisa dilakukan untuk mewujudkan layanan One Stop Services di Perpustakaan FKH UGM?

Discussion

Kata multitasking pustakawan sudah sering didengungkan sejak lama. Tu n t u t a n k emamp u a n , p e r a n , keterampilan dan peran pustakawan dalam mengahadapi perkembangan teknologi saat ini. Generasi saat ini yang dikenal dengan generasi Z atau bahkan sebagai generasi Alpha, yang segala sesuatunya berbasis internet, Internet of things (IoT). Tanpa internet serasa hidup menjadi sepi atau bahkan kehidupan menjadi mati. Saat ini segala sesuatu cukup dengan sepuluh jari by android, mau makan ada gofood, akan bepergian ada goJek, perkuliahan ada Webconference, onlineshop, tiket online dan sebagainya. Kemampuan teknologi informasi pustakawan menjadi tuntutan dalam menghadapi perkembangan teknologi informasi saat ini. Kreasi dan inovasi perlu diciptakan oleh pustakawan. K r e a t i v i t a s d a n i n o v a si pust akawan inil ah yang dapa t mewujudkan pustakawan mempunyai peran yang lebih, tidak cukup sebagai pustakawan yang bergelut dengan pekerjaan perpustakaan saja, akan tetapi pustakawan yang bisa berperan dalam berbagai bidang dan kegiatankegiatan baik di kampus maupun di masyarakat. Inilah yang menjadi nilai lebih seorang pustakawan yang multitasking. Multitasking, kita kenal juga sebagai peran ganda, atau tugas ganda. Multitasking pustakawan bisa juga diartikan, pustakawan yang dapat memanfaatkan waktu luangnya untuk memajukan layanan perpustakaan. Multitasking ini memungkinkan pustakawan untuk bekerja cepat dan efisien. Menurut Ganggi (2018) menya t akan bahwa s a l ah s a tu pustakawan multitasking adalah p u st a k awa n y a n g memp u n y a i kemampuan literasi yaitu suatu ketrampilan yang dapat dimanfaatkan oleh pustakawan. Multitasking pustakawan itu sangat dibutuhkan dan bermanfaat bagi perkembangan perpustakaan. Menurut Fatmawati (2017) manfaat multitasking bagi pustakawan yaitu bersikap lebih inovatif, semakin berkualitas, efektif, dan efisien dalam menyelesaikan pekerjaan, maupun lebih gaul. Dengan demikian akan berusaha meningkatkan pelayanan di perpustakaan. Pelayanan perpustakaan yang akan diwujudkan yaitu layanan one stop services. Layanan one stop servicessebagai pelayanan yang dilakukan oleh suatu k a n t o r, d i m a n a m a s y a r a k a t memerlukan apa saja yang dapat dilakukan dengan menghubungi dan menerima layanan dari kantor tersebut dan terpadu yang dikenal sebagai layanan satu pintu dengan tujuan untuk meningkatkan kualitas pelayanan publik dan memberikan akses yang lebih luas kepada masyarakat untuk mempe rol eh pe l ayanan publik (Ginting, 2018). Hal ini didukung adanya komitmen pemerintah untuk meningkatkan kualitas pelayanan publik dengan disahkannya UU No. 25 tahun 2009 tentang pelayanan publik (Rusli, tt). O n e s t o p s e r v i c e s i n i menunjukkan tingkat kualitas layanan. Konsep kualitas dalam layanan publik merupakan komponen penting yang harus diperhatikan. Menurut Gasperz (2005), kualtas memiliki banyak arti; secara konvensional, kualitas diartikan sebagai gambaran karakteristik langsung dari suatu produk seperti keandalan reliability, performasi, easy of use (mudah digunakan), dan estetika (esthetics). Sedangkan secara strategik, kualitas sebagai meeting the needs of customers yaitu diartikan sebagai segala sesuatu yang mampu memenuhi keinginan atau kebutuhan pelanggan. Penelitian terdahulu terkait multitasking pustakawan (Ganggi, 2018) dan layanan one stop services (Ginting, 2018), menjadi dasar bagi Perpustakaan FKH UGM untuk menjadikan pustakawan memiliki peran ganda/multitasking menuju dalam memenuhi kebutuhan civitas akademika FKH UGM dan masyarakat s e b a g a i p e m u s t a k a y a n g memanfaatkan layanan dan fasilitas di Perpustakaan FKH UGM. UndangUndang No. 43 tahun 2007 tentang perpustakaan, menyatakan bahwa perpustakaan adalah institusi pengelola koleksi karya tulis, karya cetak, d a n / a t a u k a r y a r e k am s e c a r a profesional dengan sistem yang baku g u n a m e m e n u h i k e b u t u h a n pendidikan, penelitian, pelestarian, informasi dan rekreasi para pemustaka. Pustakawan adalah seseorang yang memiliki kompetensi yang diperoleh melalui pendidikan dan/atau pelatihan kepustakawanan serta mempunyai tugas dan tanggungjawab untuk melaksanakan pengelolaan dan pelayanan perpustakaan. Dari sini terlihat fungsi sebuah perpustakaan yang sangat besar dan tugas seorang p u st a k a w a n t i d a k l a h ri n g a n . Pustakawan harus mampu mengelola koleksi secara professional dan kompeten. Profesional, yang dilandasi dengan pendidikan dan ketrampilan, serta memerlukan kepandaian dalam m e n j a l a n a k a n t u g a s n y a (Poerwodarminto, 2007:911). Untuk itu kemampuan seorang pustakawan hendaknya selalu meningkatkan kemampuan dan keterampilan guna mendukung tugas dan fungsi seorang p u st a k awa n . Kemamp u a n d a n ketrampilan yang perlu dikuasai oleh pustakawan yaitu kemampuan dalam berbagai literasi. Literasi sebagai salah satu ketrampilan yang dapat dimanfaatkan oleh pustakawan sebagai dukungan u n t u k m e n j a d i p u s t a k a w a n multitasking. Literasi oleh Koltay (2011) dibedakan menjadi 3 jenis, literasi media, literasi informasi, dan literasi digital. Sedang menurut Ganggi (2018) menyatakan bahwa literasi yang dimiliki oleh pustakawan tidak hanya terbatas oleh 3 jenis literasi saja, namun ditambahi dengan literasi lain yang mendukung peran pustakawan: 1) Literasi media. Literasi media merupakan penguasaan seseorang untuk berfikir dan kreatif dalam memahami media masa. Seorang pustakawan perlu menguasai literasi media karena pada saat ini media masa berkembang sangat pesat 2) Literasi budaya. Kemampuan u n t u k m e m a h a m i d a n mengapresiasi keberagaman dalam adat istiadat, norma, dan kepercayaan baik kebuadayaan sendiri maupun kebudayaan lain. 3) Literasi informasi, merupakan tipe informasi yang paling sering digunakan dalam perpustakaan. Literasi ini merupakan suatu kemampuan untuk mengetahui kebutuhan informasi, kemampuan mengidentifikasi, mencari, mengevaluasi dan secara efektif menggunakan informasi tersebut. 4) L i t e r a si d i g i t a l , s e b a g a i kewaspadaan, sikap kemampuan seseorang menggunakan peralatan digital sebagaimana meskinya dan mengidentifikasi, mengakses, memanajemen, mengintegrasi, mengevaluasi, menganalisis dan sumber daya digital, serta mengkomunikasikannya dengan y a n g l a i n d e n g a n t u j u a n mengkonstruksi aksi sosial dan merefleksikan prosesnya (Martin, 2006:19, Ganggi, 2011). 5) Literasi visual, merupakan kemampuan untuk memahami dan memproduksi pesan visual. Generasi Z merupakan gen yang mengalami pergeseran dari kertas menuju pixel. 6) Literasi global. Literasi global didefinisikan sebagai pemahaman terhadap manusia dan negaranya serta memiliki kemampuan berinteraksi dan berkolaborasi dengan lintas budaya. 7) Biliteracy, atau lebih dikenal dengan literasi bahasa adalah penguasaan terhadap penguasaan dua bahasa atau lebih. Mengingat mudahnya informasi didapatkan dan beragamnya pemustaka yang dilayani, seorang pustakawan perlu menguasai lebih dari satu bahasa. Pemahamanan terhadap b e b e r a p a b a h a s a a k a n memudahkan pustakawan dalam memb e ri k a n l a y a n a n d a n mengolah informasi sebelum dilayankan. Kemampuan literasi yang perlu dimiliki oleh pustakawan agar mampu mempunyai peran ganda dalam memenuhi kebutuhan pemustaka, baik untuk generasi saat ini, generasi baby boomers, generasi Z bahkan untuk generasi Alpha.Tujuh literasi di atas sebagai acuan bagi pustakawan untuk m e n j a d i p u s t a k a w a n y a n g multitasking, dan mampu mewujudkan layanan one stop services.Apalagi pada masa sekarang ini dunia yang sedang dilanda pandemi wabah virus COVID19. Hal ini mengubah semua tatanan dan adaptasi baru di perpustakaan. Dengan adanya wabah ini, menuntut a d a n y a p e r u b a h a n p e l a y a n a n . Pelayanan yang biasanya secara luring berubah ke layanan daring. Sebagian perpustakaan meniadakan layanan luring atau hanya diperuntukkan bagi sebagian pemustaka yang sangat memerlukan, sampai kondisi pulih kembali. Dengan keadaan seperti ini, membuat Perpustakaan FKH UGM merubah layanan perpustakaan. Semua difokuskan pada layanan online dengan memanfaatkan media sosial, website, email dan lain-lain. P e r p u s t a k a a n F a k u l t a s Kedokteran Hewan UGM mempunyai 3 staf, yang mempunyai tugas dan fungsi masing-masing. Ketiga staf ini mempunyai kelebihan masing-masing yang dapat dijadikan modal untuk pengembangan perpustakaan. Banyak kegiatan dan pelayanan yang telah diberikan. Banyak pula kreatifitas dan inovasi yang bisa diciptakan di perpustakaan. Beberapa civitas akademika memberikan semangat, motivasi dan apresiasi tentang hal-hal baru yang ada di perpustakaan. Seperti yang pernah diungkapkan oleh Dekan FKH UGM bahwa “ada hal baru apa di perpustakaan?” Perpustakaan dinilai sebagai unit yang dapat memberikan hal-hal baru di lingkungan Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada (FKH UGM). Peran perpustakaan dan pustakawan yang dapat memberi kontribusi bagi proses belajar mengajar di FKH UGM. Perpustakaan menjadi tempat untuk bertanya dan mendapat jawab atas pertanyaan. Perpustakaan menjadi tempat untuk meminta bantuan dalam banyak hal. Dengan melihat keadaan civitas akademika FKH UGM, bahwa dosen yang rata-rata sebagai generasi baby boomers mengalami kesulitan dalam memenuhi kebijakan yang telah d i c a n a n g k a n o l e h Rist e k d i k ti (Kemenristek BRIN) dan UGM. Adanya kebijakan baru tersebut sebagian besar dosen mengalami kesulitan dan kesulitan juga dalam mempelajari hal-hal baru yang terkait d e n g a n t e k n o l o g i i n f o rma si . Perpustakaan menawarkan hal-hal yang memang diperlukan oleh civitas akademika FKH UGM. Kebijakan Kementerian Riset dan Teknologi/Badan Riset dan Inovasi Na si o n a l y a n g me n g h a r u s k a n penerapan teknologi informasi dalam proses belajar mengajar, antara lain adanya kuliah daring dengan SPADA, WEBEX, Go o g l e Me e t, Zo om, Pembuatan Video Pembelajaran Daring dan lain-lain; dan adanya kebijakan tentang kewajiban seorang dosen mempunyai akun SINTA, Google Scholar, publikasi ilmiah di jurnal bereputasi baik nasional maupun internasional yang terindeks di SCOPUS, ISI, Web of Science, DOAJ d a n s e b a g a i n y a . Da ri si n il a h pustakawan FKH UGM berusaha mengembangkan diri dan kemampuan untuk bisa memenuhi kebutuhan civitas akademika. Layanan tersebut di atas sudah bisa dipenuhi oleh perpustakaan. Layanan yang telah diberikan meliputi Sinta, Google Scholar, Repository, Mendeley, Optimalisasi Karya Ilmiah dengan MS Word, Webex, Google Meet, Zoom, Pembuatan Video Sederhana, (Inshot, Viva Video, Power Director, Adope Premiere, Filmora, Google Form, Google Drive, Google P h o t o , F l i c k r, p e n g e l o l a a n penyelenggaraan seminar/conference, Quizz Interaktif Kahoot, Design Canva, Photoshop, Pengurusan ISBN, Pengurusan HKI (Hak Kekayaan Intelektual), pengurusan ISSN/EISSN, Checking Plagiarisme: Turnitin, Manajemen Pengelolaan Jurnal Online ( O J S ) ; P e m b u a t a n V i d e o Pembelajaran, Pembuatan Prosiding, Buku, dan Tim Penjaminan Mutu FKH UGM. Lib Webinar Series Upaya menuju layanan One Stop Services Tahun 2020 merupakan tahun y a n g b e r b e d a d e n g a n t a h u n sebelumnya. Wabah COVID-19 yang menjadi pandemi seluruh dunia, membuat perpustakaan merubah layanan dari layanan onsite ke layanan online dengan memanfaatkan email, websit e , fac ebook , instagram, Whatsapp dan lain-lain. Untuk tetap memberikan layanan secara optimal, selama masa pandemi, perpustakaan telah mengadakan pelatihan-pelatihan dengan nama Lib Webinar Series, dengan menggunakan Cisco WEBEX yang telah dilanggan oleh UGM, Live streaming Youtube dan pelatihan ini didukung oleh Tim TIK dan KPMI FKH UGM. Kegiatan inilah yang menjadi unggulan perpustakaan FKH UGM untuk mewujudkan layanan One Stop Services. Pada Tabel 1 menunjukkan jenis pelatihan yang ditawarkan dalam Lib Webinar Series. Pelatihan dalam Lib Webinar Series, mulai Mei - Oktober telah sampai pada yang seri yang ke 6. Tabel 2 menunjukkan data kegiatan Lib We b i n a r S e ri e s y a n g s u d a h berlangsung Dalam kegiatan Lib Webinar Series ini, calon peserta diwajibkan untuk mendaftarkan diri/register dengan Google form yang telah disediakan. Berdasarkan data yang diperoleh menunjukkan bahwa partisipasi peserta cukup banyak yang terdiri dari pustakawan, dosen, mahasiswa, guru, dan masyarakat umum, dari berbagai daerah seluruh Indonesia dari Sabang s ampai Merauke, dari Aceh hingga Papua. Lib Webinar Series yang telah dilakukan perpustakaan memberi dampak positif dan sangat dibutuhkan oleh peserta, sehingga kegiatan ini akhirnya menjadi unggulan untuk mewujudkan layanan one stop services. Peran inilah yang diharapkan oleh civitas akademika yang dapat memberi kemudahan dan memberi kontribusi dalam proses belajar mengajar. Untuk itu perpustakaan selalu menjaga kualitas layanan dengan menanamkan m u l t i t a s k i n g p u s t a k a w a n , meningkatkan kemampuan dan keterampilan pustakawan, selalu berusaha kreatif, inovatif, berusaha mewujudkan layanan One Stop Services.

Conclusion

Multitasking pustakawan sebagai peran ganda yang harus dimiliki oleh seorang pustakawa n meliputi kemampuan literasi media, literasi informasi, literasi teknologi, literasi global dan lain-lain dengan berkreasi dan berinovasi serta pandai memanfaatkan peluang dan kesempatan yang ada. Lib Webinar Serires dengan berbagai jenis pelatihan menjadi salah satu upaya dalam menjadikan pustakawan yang multitasking, dan diharapkan pustakawan menjadi trendsetter bagi perpustakaan lain serta dapat meningkatkan layanan di perpustakaan. Dengan demikian upaya layanan One Stop Services dapat terpenuhi.