Kembali
16
1
2024 Scinary: Science of Information and Library Vol 2 · 4 ISSN 2963-752X

Fenomena Doomscrolling terhadap Informasi Oversharing di Media Sosial pada Mahasiswa Program Studi Perpustakaan dan Ilmu Informasi Universitas Negeri Padang

Universitas Negeri Padang; Universitas Negeri Padang

Abstract

The purpose of this study is to describethe phenomenon of doomscrolling regarding oversharing information on social media among students in the Library and Information Science Program.This research uses a qualitative method with a phenomenological approach and employs snowball sampling to determine the informants. Data collection is conducted through observation, interviews, and documentation. The data analysis involves five stages: (1) reading and re-reading, (2) initial analysis, (3) developing emerging themes, (4) finding relationships between themes, and (5) analyzing emerging patterns. The results indicate that students in the Library and Information Science Program spend an average of 3-5 hours per day doomscrolling on social media platforms such as TikTok, Twitter, and Instagram, with the accessed information being predominantly emotional and personal. The motives for students engaging in doomscrolling of oversharing information are: (1) entertainment motives, (2) informational motives, (3) social motives, and (4) desire-driven motives. The impacts of doomscrolling on oversharing information are: (1) psychological effects, (2) time and concentration on studying, and (3) information evaluation and dissemination.
Keywords: Doomscrolling · Oversharing · Social Media · Students

Introduction

Fenomena doomscrolling telah menjadi hal yang semakin umum terjadi di kalangan pengguna media sosial. Doomscrollingmuncul dari keinginan untuk selalu mengetahui berita terkini, terutama yang bersifat negatif, dan berkembang menjadi perilaku menggulir berita secara kompulsif dan berlebihan. Pengguna media sosial termotivasi untuk terus mengikuti berita yang berpotensi berdampak pada diri sendiri dan orang-orang terdekat, sehingga pengguna sering menelusuri platform media onlinesecara terus-menerus untuk mencari informasi negatif (Sharma et al, 2022).Informasi yang sering akses oleh pengguna yang melakukan doomscrollingdi media sosial adalah informasi oversharing. Informasi oversharingtermasuk informasi yang banyak beredar di media sosial, hal ini terjadi karena adanya kemudahan akses informasi yang diberikan media sosial dapat membuat masyarakat melakukan oversharing, Menurut Febriana et al (2023) istilah oversharingmerujuk pada penyampaian informasi dengan cara yang berlebihan, baik disengaja maupun tidak, dengan tujuan utama mendorong orang untuk berbagi konten di media sosial demi mendapatkan perhatian, pujian, dan komentar dari pengguna lain guna meningkatkan popularitas. Aktivitas memposting menjadi suatu hal yang menarik dan menghibur bagi pengguna media sosial saat pengguna tersebut menjelajahnya. Postingan di media sosial mencakup berbagai tema seperti kehidupan pribadi, aktivitas sehari-hari, pekerjaan, hubungan keluarga, keagamaan, bisnis, pasangan, dan pencapaian. Mayoritas dari kegiatan memposting ini memiliki motif atau tujuan tertentu yang ingin dicapai.Dalam penelitian Natasya & Yulianita (2023), terdapat beberapa alasan mengapa pengguna media sosial melakukan oversharing. Pertama, kurangnya perhatian dari keluarga yang broken home. Kedua, rendahnya intensitas komunikasi antara anak dan orang tua. Selain itu, pengguna media sosial juga melakukan oversharing untuk memenuhi kebutuhan emosional, seperti keinginan untuk didengarkan dan dipahami oleh orang lain. Oversharingjuga digunakan sebagai cara untuk meluapkan emosi agar merasa lega, mencari tempat sharingyang tidak judgemental, mencari dukungan sosial baik dari segi kuantitas maupun kualitas.Berdasarkan hasil riset yang dilakukan IPSOS, bahwa Indonesia menempati posisi kedua negara yang melakukan perilaku membagikan informasi di media sosial. Informasi yang dibagikan oleh masyarakat Indonesia berupa gambar, opini, serta dalam bentuk updatestatus dalam melakukan suatu kegiatan (IPSOS dalam Akhtar, 2020). Hal tersebut terjadi karena adanya kemudahan yang diberikan media sosial dalam berbagi informasi sehingga meningkatnya minat masyarakat Indonesia untuk melakukan aktivitas tersebut.Dalam kasus media sosial, oversharingmenjadikan pengguna memanfaatkan media sosial sebagai tempat mencari kepuasan diri dalam proses pengungkapan jati diri yang tampilkan kepada publik melalui bentuk postingan yang di unggah (Akhtar, 2020). Pemanfaatan media sosial sebagai tujuan untuk popularitas, dengan pengungkapan data pribadi sehingga mengabaikan segi keamanan di media sosial. Mirisnya lagi, sekarang ini sedang boomingnyakonten yang bersifat pribadi karena haus akan jumlah likedan followersdemi mengejar-ngejar namanya popularitas di atas keamanan diri. Mahasiswa merupakan salah satu kelompok pengguna media sosial yang sering mengakses informasi oversharingdari influencerdan konten viral. Informasi ini cenderung mempromosikan gaya hidup berlebihan, sehingga membuat kegiatan doomscrollingmenjadi rutinitas sehari-hari bagi mahasiswa. Aktivitas doomscrollingini memiliki banyak dampak negatif, terutama ketika ditambah dengan mengakses terus-menerus informasi oversharing.Doomscrollingterhadap informasi oversharingdapat memengaruhi kesehatan mental, menyebabkan kecemasan, stres, dan perasaan putus asa. Aktivitas ini membuat individu terus-menerus terpapar informasi negatif atau berlebihan, yang pada akhirnya menimbulkan tekanan emosional. Sejalan dengan pendapat Vannucci et al (2017) bahwa menghabiskan waktu bermedia sosial memiliki dampak pada gejala kecemasan dan depresi pada penggunanya. Mengakses informasi oversharingpada aktivitas doomscrollingdapat juga mengubah cara pandang individu terhadap informasi dan mendorong perilaku berlebihan dalam berbagi informasi. Hal ini diperkuat berdasarkan pendapat Wawan Hari Purwanto (Kominfo, 2017) bahwa apa pun yang dibaca, dengar, dan lihat memiliki dampak langsung pada perkembangan otak, karakter, dan pikiran. Maka, dengan munculnya konten-konten yang dilakukan masyarakat yang bersifat oversharingdi media sosial memungkinkan membawa pengaruh negatif terhadap perilaku pencarian informasi di media sosial.Berdasarkan pendapat Wathen & Burkell (2002) bahwa penggunaan media internet mengubah presepsi orang dalam pencarian informasi dalam konteks informasi yang diberikan. Perubahan perilaku pencarian informasi didasari karena perubahan budaya atau perkebangan zaman. Sejalan dengan itu, Wilson (Aeni et al, 2021) bahwa perubahan pencarian informasi terjadi karena adanya pengaruh dari psikologi, demografis serta lingkungan suatu masyarakat. Fenomena doomscrollingterhadap informasi oversharingdi media sosial menyebabkan perubahan dalam pencarian informasi yang cenderung berdampak negatif terhadap informasi yang beredar di media sosial. Mahasiswa sebagai agen of changememanfaatkan perkembangan teknologi sebagai media informasi, namun dengan banyaknya tindakan doomscrollingyang dilakukan terhadap informasi oversharingyang ada di media sosial mempengaruhi pola perilaku pencarian informasi mahasiswa. Informasi yang bersifat oversharingsering kali tidak memberikan manfaat pendidikan yang berarti bagi mahasiswa. Mengalokasikan waktu untuk menyerap informasi yang bersifat oversharingdapat mengganggu konsentrasi belajar mahasiswa dan membatasi waktu yang dapat digunakan untuk kegiatan yang lebih bermanfaat.Berdasarkan hasil wawancara awal dengan mahasiswa Program Studi Perpustakaan dan Ilmu Informasi Universitas Negeri Padang, ditemukan beberapa temuan yang menarik. Pertama, mahasiswa aktif menggunakan media sosial sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari. Kedua, sebagian mahasiswa mengaku pernah mengonsumsi dan mencari informasi yang bersifat oversharingdi media sosial. Hal ini menunjukkan bahwa kegiatan doomscrollingterhadap informasi oversharingtelah menjadi bagian dari interaksi online. Ketiga, hasil wawancara juga mengungkapkan bahwa sejumlah mahasiswa cenderung tergantung pada media sosial, di mana mahasiswa menghabiskan sebagian besar waktu luang untuk berinteraksi di platform tersebut. Keempat, terdapat indikasi bahwa informasi yang bersifat oversharingmemiliki pengaruh terhadap sebagian mahasiswa, dimana mahasiswa dapat terpengaruh oleh konten yang berlebihan atau tidak relevan yang ditemui di media sosial.Berdasarkan latar belakang tersebut, penelitian ini mengangkat terkait fenomena doomscrollingdi media sosial. Penelitian ini difokuskan pada tiga aspek, yaitu pengalaman, motif dan pengaruh dalam aktivitas doomscrollingterhadap informasi oversharingdi media sosial. Dengan subjek penelitian ini, pada mahasiswa Program Studi Perpustakaan dan Ilmu Informasi Universitas Negeri Padang.

Method

Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif dengan pendekatan studi fenomenologi (Hadi et al, 2021).Penelitian kualitatif fenomenologi mengkaji tentang makna dari suatu fenomena yang dialami suatu individu, dengan fokus penelitian ini tentang fenomena doomscrollingterhadap informasi oversharingdimedia sosial.Penelitian ini dilaksanakan secara fenomenologi dengan tujuan memperoleh gambaran tentang pengalaman, motif dan pengaruh fenomena doomscrollingterhadap informasi oversharingdi media sosial pada mahasiswa Program Studi Perpustakaan dan Ilmu Informasi Universitas Negeri Padang. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif. Penelitian inimenggunakan teknik snowballsampling dengan menetapkankriteria yang telah ditentuakan, yaitumemiliki media sosial dan aktif menggunakannya, pernah mengakses informasi yang bersifat oversharingminimal tiga kali, berusia sekitar 19-23 tahun, serta berstatus sebagai mahasiswa aktif Program Studi Perpustakaan dan Ilmu Informasi di Universitas Negeri Padang.Pengabsahan data menggunakan triangulasi sumber, dengan membandingkan data dari informan dengantriangulator. Teknik analisis data dilakukan melaluilima tahap yaitu: (1) reading and re-reading; (2) analisis tahap awal; (3) mengembangkan kemunculan tema; (4) mencari hubungan antar tema; (5) analisis pola-pola yang mencul.

Result & Discussion

1.Pengalaman Mahasiswa Melakukan Doomscrollingterhadap Informasi Oversharingdi Media Sosial.Pengalaman doomscrollingpada mahasiswa dalam konteks informasi oversharingdapat dianalisis berdasarkan beberapa aspek yang relevan. Aspek yang dibahas yaitu mengkaji bagaimanafrekuensi dan penggunaan media sosial, jenis informasi, perasaan, respon, dan kepuasan. Pada Frekuensi penggunaan dan media sosial yang digunakan mahasiswa Program Studi Perpustakaan dan Ilmu Informasi rata-rata menghabiskan waktu sekitar 3-5 jam/hari dalam melakukan doomscrolling terhadap informasi oversharingdi media sosial. Umumnya dilakukan sepanjang hari, dari pagi hari setelah bangun tidur, siang dan malam sebelum tidur. Aktivitas doomscrollingpada malam hari juga sering kali dilakukan untuk bersantai dan mengalihkan pikiran dari tekanan akademik atau stres sehari-hari.Media sosial yang sering digunakan informan adalah TikTok, Twitter, dan Instagram, dipilih karena informasinya selalu up-to-datedan menarik. Menurut Kaplan dan Haenlein (Yasa et al, 2023), media sosial memiliki kemampuan untuk menyediakan informasi baru secara real-time. Mahasiswa memilih media sosial tersebut karena kemampuannya menyediakan konten yang cepat, menarik, dan terus diperbarui. Mahasiswa Program Studi Perpustakaan dan Ilmu Informasi mengakses beragam informasi melalui doomscrolling, terutama terkait kehidupan pribadi, hubungan asmara, dan updateharian yang bersifat emosional. Menurut Wilson (Ishak, 2006), kebutuhan afektif mendorong seseorang untuk mencari informasi yang memenuhi kebutuhan emosionalnya. Hal ini membuat mahasiswa cenderung terlibat dalam doomscrolling, menggulir media sosial tanpa tujuan jelas, tetapi mencari konten yang memenuhi kebutuhan emosional mahasiswa. Konten yang bersifat emosional dan pribadi cenderung lebih menarik, sehingga mahasiswa terus terlibat dalam aktivitas ini.Informasi oversharingyang ditemui mahasiswa Program Studi Perpustakaan dan Ilmu Informasi melalui doomscrollingdi media sosial dapat memberikan berbagai dampak, tergantung pada jenis informasi dan perspektif mahasiswa.Terdapatmahasiswa memberikan rekasi senang, cemas, sedih bahkan ada yang melihat sebagai bentuk reflektif. Mahasiswa yang memberikan reaksi perasaan senang, cemas dan sedih adalah mahasiswa yang sedang mengerjakan skripsi sebagai tugas akhir akademik, sehingga hal tersebut membuat mahasiswa lebih sering merasakan stres. Stres yang dialami mahasiswa dalam menyelesaikan skripsi membuat mahasiswa lebih sering melakukan doomscrollingterhadap informasi oversharingsebagai bentuk hiburan diri. Sesuai dengan pendapat Pas (2023) bahwaorang dengan pikiran dan gejala depresi lebih mudah mencari informasi negatif secara onlinedan terjebak dalam doomscrolling, karena pikiran negatif lebih mendominasi pikiran dari pada yang positif. Mahasiswa Program Studi Perpustakaandan Ilmu Informasi cendrung merespon informasi oversharingdengan hanya menggulir layar handphonedan melihat tanpa memberikan komentar atau like, yang lebih memilih untuk menjadi pengamat pasif daripada berinteraksi langsung dengan konten yang dilihat. Sementara yang lain, menggunakan informasi oversharinguntuk pembelajaran atau berdasarkan manfaat yang dirasakan seperti pencapaian atau penghargaan yang didapat seseorang. Di sisi lain, dalam melakukan doomscrollingterhadap informasi oversharingpada mahasiswa Program Studi Perpustakaan dan Ilmu Informasi menunjukkan adanya kepuasan dan ketidakpuasan yang dirasakan mahasiswa terkait dengan kelengkapan informasi ataupun terkiat pada manajemen waktu. Kebutuhan akan informasi menjadikan seseorang merasa penting untuk memenuhi rasa ingin tahu sebagai respons terhadap ketidaklengkapan pengetahuan yang dimiliki, dengan tujuan untuk memuaskan keinginan individu (Kinanti & Erza, 2020). Mahasiswa merasa puas ketika informasi yang ditemukan lengkap dan mendalam, karena informasi tersebut memenuhi kebutuhan untuk mendapatkan pengetahuan yang komprehensif. Namun, mahasiswa merasa tidak puas jika informasi tersebut setengah-setengah atau tidak lengkap. Perasaan yang tidak puas juga dirasakan pada mahasiswa saat doomscrollingterjadinya akibat manajemen waktu yang kurang baik dalam membagi waktu antara media sosial dan belajar. Dimana mahasiswa Program Studi Peprustakaan dan Ilmu Informasi yang seharusnya fokus pada pada tugas akademik, lebih melakukan doomscrollingdi media sosial terhadap informasi oversharing, hal ini membuat mahasiswa kehilangan waktu yang digunakan untuk kegiatan produktif, seperti membaca materi kulaih atau mengerjakan tugas. Sehingga, ketidakmampuan dalam mengelola waktu secara efektif dapat membuat pengalaman tersebut menjadi tidak memuaskan serta merugikan bagi mahasiswa2.MotifMahasiswa Melakukan Doomscrollingterhadap Informasi Oversharingdi Media Sosiala.Motif Hiburan Media sosial memberikan berbagai manfaat bagi penggunanya, salah satunya sebagai sarana hiburan untuk penggunanya (Baijuri et al, 2023). Aspek menarik dari media sosial adalah kemampuannya menyediakan informasi yang terus-menerus, termasuk informasi oversharingyang dapat membuat pengguna terlibat dalam doomscrollingsebagai bentuk pelampiasan dari stres dengan skripsi pada mahasiswa Program Studi Perpustakaan dan Ilmu Informasi. Doomscrollingterhadap informasi oversharingmemungkinkan mahasiswa untuk melarikan diri sejenak dari tekanan akademik dengan cara yang mudah diakses. Aktivitas ini menjadi cara mahasiswa untuk merasa terhubung dengan dunia luar dan mendapatkan hiburan instan, meskipun terkadang berdampak negatif pada produktivitas akademik dan kesejahteraan mental mahasiswa.Doomscrollingterhadap informasi oversharingdi media sosia juga berfungsi sebagai bentuk hiburan saat tidak adanya interaksi sosial yang terjadi. Ketika mahasiswa sendirian di rumah atau berada di kampus, di mana orang-orang di sekitar sibuk dengan handphonemasing-masing dan tidak ada interaksi sosial langsung yang terjadi, doomscrollingmenjadi cara untuk mengisi waktu luang tersebut. Meskipun secara fisik tidak ada interaksi langsung dengan orang lain, mahasiswa tetap dapat merasakan keterlibatan dan hubungan sosial melalui konten yang dikonsumsi. Dalam hal ini, doomscrollingberfungsi sebagai pelarian sementara dari realitas yang mungkin terasa sepi dan monoton. Terdapat mahasiswa Program Studi Perpustakaan dan Ilmu Informasi yang mengisi waktu kosong setelah melakukan kegiatan harian dengan melakukan doomscrollingterhadap informasi oversharing. Aktivitas ini menjadi pilihan untuk mengatasi kebosanan, sehingga dapat menghibur dan mengisi kekosongan waktu. Dengan demikian, doomscrollingmenjadi solusi praktis dan efektif bagi mahasiswa Program Studi Perpustakaan dan Ilmu Informasi untuk mengisi waktu luang, mengatasi kebosanan, dan mencari hiburan tanpa perlu banyak usaha, meskipun memuliki dampak jangka panjangnya terhadap produktivitas mahasiswa.b.Motif InformasiInformasi menjadi salah satu motif yang dilakukan mahasiswa Program Studi Perpustakaan dan Ilmu Informasi dalam melakukan doomscrollingterhadap informasi oversharingdi media sosial. Mahasiswa melakukannya dengan tujuan untuk selalu memperbarui diri dengan informasi terbaru agar tidak ketinggalan berita atau perkembangan yang terjadi. Menurut Baijuri et al (2023) informasi sebagai basis data yang bisa dijadikan sumber berita. Maka, hal tersebut memungkin mahasiswa untuk terus melakukan doomscrollingkarena tidak ingin ketinggalan informasi yang diminati terkait informasi asmara dan hal random lainya yang sedang tren.Keinginan untuk up-to-datedengan apa yang terjadi di lingkungan sekitar, juga menjadi alasan mahasiswa melakukan doomscrollingterhadap informasi oversharing. Maka, informasi oversharingyang seringkali mencakup informasi pribadi dan peristiwa sehari-hari orang lain, memungkinkan mahasiswa untuk merasa lebih dekat dan memahami apa yang sedang terjadi di sekitar. Dengan terpapar pada informasi jenis ini, mahasiswa dapat merasa lebih dekat dengan apa yang sedang terjadi di lingkungan sekitar. Informasi ini membantu mahasiswa untuk memahami permasalahan sosial, hubungan interpersonal, dan peristiwa sekitar dengan cara yang lebih personal dan langsung. Melalui proses ini, mahasiswa tidak hanya memperoleh informasi yang bersifat umum, tetapi juga merasakan keterhubungan dengan pengalaman dan perspektif orang lain.Media sosial membuat mahasiswa lebih cepat mendaptkan informasi, yang membuat doomscrollingmenjadi aktivitas pilihan mahasiswa. Hal ini sesuai dengan pendapat Puntoadi (Fitriani, 2017) bahwa karakteristik yang dimiliki media sosial yaitu memiliki sifat viral, dimana membuat informasi menyebar degan cepat, akibat pengguna yang cendrung berbagi informasi secara luas. Mahasiswa Program Studi Perpustakaan dan Ilmu Informasi tidak hanya dapat informasi dari sumber resmi berita, tetapi juga dengan orang lain yang membagikan pengalaman dan pandangan pribadi. Fenomena ini menunjukkan bagaimana media sosial dapat menjadi sumber informasi yang dinamis dan beragam, menawarkan perspektif yang berbeda dari berbagai pengguna. Konten yang dibagikan secara viral sering kali menarik perhatian karena relevansinya dengan isu-isu terkini atau karena mengandung elemen yang menghibur atau informatif. Mahasiswa, yang selalu mencari informasi terbaru dan relevan, memanfaatkan sifat viral media sosial untuk tetap terhubung dengan perkembangan terbaru dan pandangan yang beragam.c.Motif SosialSelain motif hiburan dan informasi, motif sosial memainkan peran pada mahasiswa dalam melakukan doomscrollingterhadap informasi oversharingdi media sosial. Pengaruh sosial dari teman-teman berperan signifikan dalam mendorong mahasiswa untuk lebih sering terpapar informasi oversharing, yang kemudian memengaruhi perilaku dalam menggunakan media sosial. Dalam konteks sosial, Wilson (Faturrahman, 2016) berpendapat bahwa peran seseorang dalam hubungan interpersonal ikut mempengaruhi perilaku informasi.Konten yang lagi tren pada kalangan teman-teman mahasiswa Program Studi Perpustakaan dan Ilmu Informasi sering menjadi pemicu bagi mahasiswa mengakses informasi oversharing. Hal tersebut menunjukan adanya pengaruh sosial yang kuat yang kemudian menjadi bagian dari kebiasaan melakukan doomscrollingterhadap informasi oversharing. Selain itu, informasi oversharingyang didapat di media sosial sering menjadi bahan diskusi dengan teman. Mahasiswa juga sering membagikan informasi yang didapat di media sosial. Namun, dengan membagikan informasi yang menarik dan sedang tren kepada teman-teman, aktivitas ini secara tidak langsung berdampak positif dalam memperkuat ikatan sosial di antara mahasiswa Program Studi Perpustakaan dan Ilmu Informasi.Pada dasarnya, kebutuhan akan informasi menjadikan seseorang merasa penting untuk memenuhi rasa ingin tahu sebagai respons terhadap ketidaklengkapan pengetahuan yang dimiliki. Maka, menerima dan membagikan informasi oversharingdi media sosial menjadi cara agar terhubung dengan lingkungan sosial mahasiswa, keinginan untuk menjadi sumber informasi merupakan salah satu alasan yang kuat memengaruhi kebiasaan doomscrolling terhadap informasi oversharing.d.Motif Dorongan KeinginanMelakukan doomscrollingterhadap informasi oversharingdi media sosial merupakan suatu pilihan yang diambil atas dasar kebutuhan atau keinginan seseorang. Sehingga, keduanya menjadi alasan seseorang mengakases informansi. Hasil wawancara dengan lima mahasiswa dari Program Studi Perpustakaan dan Ilmu Informasi mengungkapkan bahwa mayoritas informan lebih didorong oleh keinginan ketimbang kebutuhan dalam melakukan aktivitas ini.Dalam melakukan doomscrollingterhadap informasi oversharing, motivasi utama seringkali didorong oleh keinginan daripada kebutuhan. Keinginan tersebut umumnya untuk mencari hiburan, mengisi waktu luang, dan mengikuti tren yang sedang viral di media sosial. Mahasiswa seringkali mengakses informasi yang lebih personal, randomatau terkait dengan hiburan semata meskipun berita tersebut menyedihkan atau melemahkan semangat (Gume, 2024). Ketertarikan ini tidak selalu didorong oleh kebutuhan akan informasi yang mendalam atau relevan, melainkan lebih kepada dorongan keinginan untuk mencari hiburan semata. Dalam konteks ini, keinginan untuk terhubung dengan konten yang bersifat personal dan terkini mengarah pada aktivitas doomscrolling, yang cenderung dilakukan saat memiliki waktu luang. Aktivitas ini memungkinkan mahasiswa untuk terus-menerus terpapar oleh berbagai jenis konten yang dapat memberikan hiburan daripada informasi yang mendalam atau kritis.Terdapat satu dari lima mahasiswa yang menjelaskan adanya kombinasi antara kebutuhan dan keinginan dalam melakukan doomscrollingterhadap informasi oversharingdi media sosial. Dimana kebutuhan tersebut mengacu pada konteks memperoleh informasi terbaru yang up-to-date. Sehingga, informan terorong melakukan doomscrolling 3.Pengaruh Doomscrollingterhadap Informasi Oversharing pada Mahasiswa di Media Sosiala.PsikologisMedia sosial dalam kehidupan sehari-hari menawarkan berbagai manfaat, yaitu sebagai hiburan dan informasi. Namun, aktivitas doomscrollingterhadap informasi oversharingdi media sosial memberikan dampak negatif pada psikologis. Dampak tersebut sering kali memicu respons emosional negatif pada penggunanya.Dari wawancara yang dilakukan pada mahasiswa Program Studi Perpustakaan dan Ilmu Informasi, mahasiswa merasakan takut dan cemas terhadap informasi yang dilihat saat doomscrolling, mahasiswa merasakan seolah-olah informasi yang oversharingyang dilihat terjadi pada diri mahasiswa. Kecemasan tersebut tidak hanya dirasakan sesaat, namun masuk ke dalam pikiran sehingga menggangu keseharian mahasiswa. Sehingga, terpapar terus-menerus pada informasi oversharingdapat mngakibatkan perasaan putus asa dan kehilangan semangat, sehingga berdampak pada gejala kecemasan dan depresi pada penggunanya (Vannucci et al, 2017).Aktivitasdoomscrollingterhadap informasi oversharingjuga memberikan perubahan suasana hati mahasiswa Program Studi Perpustakaan dan Ilmu Informasi. Perubahan suasana hati yang terjadi pada mahasiswa, seperti marah, sedih dan tiba-tiba gelisah. Perubahan suasana hati mahasiswa tersebut, tergantung pada informasi yang dilihat, sehingga memperngaruhi secara langsung emosional. Selain itu, terdapat mahasiswa yang merasakan dampak negatif pada emosinya saat melakukan doomscrollingterhadap informasi oversharing. Namun, lebih memilih bersikap pasif dan mengabaikan konten tersebut. Mahasiswa melakukan hal ini dengan tujuan mencoba melindungi diri dari dampak negatif informasi yang ditemui, meskipun upaya ini tidak selalu berhasil sepenuhnya.b.Waktu dan Konsentrasi BelajarPenggunaan media sosial yang dilakukan secara berlebihan, terutama melalui aktivitas doomscrollingterhadap informasi oversharingdampat memiliki dampak yang signifikan pada manajemen waktu dan konsentrasi belajar pada mahasiswa Program Studi Perpustakaan dan Ilmu Informasi. Mahasiswa seringkali lupa terhadap waktu, yang mengakibatkan pemeborosan waktu yang seharusnya bisa digunakan untuk kegiatan produktif, seperti untuk belajar atau mengerjakan tugas akademik. Dari hasil wawancara, mahasiswa Program Studi Perpustakaan dan Ilmu Informasi mengungkapkan sering kali merasa menyesal setelah meyadari waktu terbuang sia-sia. Sehingga, tugas akademik tidak terselesaikan atau menumpuk, dimana membuat mahasiswa semakin sulit megatur waktu secara efektif yang mengakibatkan stres yang berdampak negatif pada emosional.Dampak terhadap konsentrasi belajar juga dirasakan saat melakukan doomscrollingterhadap informasi oversharingdi media sosial. Mahasiswa Program Studi Perpustakaan dan Ilmu informasi menjelaskan bahwa adanya kesulitan untuk fokus dalam mengerjakan tugas akademik. Hal ini sesuai dengan pendapat Wawan Hari Purwanto bahwa apa yang dibaca, didengar, dilihat memiliki dampak langsung pada pekembangan otak, karakter dan pikiran (Kominfo, 2017). Fokus ini teralihkan karena pengaruh emosional negatif yang dirasakan mahasiswa dalam mengakses informasi oversharing,seperti perubahan susasana takut, cemas dan gelisah sehingga mahasiswa kesulitan berpikir jernih dalam mengerjakan tugas akademik. Akibat munculnya informasi oversharingini, mahasiswa sering kali terjebak dalam siklus emosi negatif yang dapat memperburuk kemampuan untuk berkonsentrasi dan menyelesaikan tugas dengan efektif.Satu dari lima informan mahasiswa Program Studi Perpustakaan dan Ilmu Informasi mengakui bahwa mahasiswa masih bisa membatasi waktu dalam aktivitas doomscrollingterhadap informasi oversharingdi media sosial. Namun, tetap terpengaruh jika ada teman yang membagikan informasi oversharing. Hal ini menjadi pemicu keterlibatan dalam aktivitas doomscrollingdan berdampak pada terganggunya konsentrasi belajar. Akibatnya, rekomendasi algoritma yang muncul di media sosial mahasiswa berubah, mengakibatkan banyak informasi oversharingyang muncul di layar handphonemahasiswa.c.Penilaian dan Penyebaran InformasiAktivitas doomscrollingterhadap informasi oversharingtidak hanya mempengaruhi aspek psikologis, manajemen waktu, dan konsentrasi belajar mahasiswa, tetapi juga mempengaruhi cara menilai dan menyebarkan informasi. Pada mahasiswa Program Studi Perpustakaan dan Ilmu Informasi, perilaku ini berdampak pada kemampuan untuk menilai informasi secara kritis. Berdasarkan hasil wawancara, terdapat mahaisiswa yang melakukan verifikasi informasi dengan membandingkan dengan sumber lain untuk memastikan keakuratan sebelum membagikannya. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun doomscrolling terhadap informasi oversharingdapat mengganggu beberapa aspek kehidupan mahasiswa, mahasiswa masih terhadap informasi oversharingdan dimanfaatkan sebagai upaya agar tidak ketinggalan berita terkini yang mahasiswa minati. berusaha untuk menerapkan pemikiran kritis dan evaluasi yang mendalam dalam menangani informasi yang diterima.Terdapat dua dari lima mahasiswa Program Studi Perpustakaan dan Ilmu Informasi yang tidak mencari keakuratan informasi yang didapat, sehingga saat melakukan doomscrollingterhadap informasi oversharinglebih meningkatkan mahasiswa dalam terjebak informasi hoaks karena algoritma media sosial yang cendrung menampilkan konten serupa (Tosepu, 2018). Saat informasi oversharingmuncul berulang kali, mahasiswa mulai menerima informasi tersebut tanpa mempertanyakan validitasnya. Selian itu, mahasiswa Program Studi Perpustakaan dan Ilmu Informasi lebih rentan terhadap informasi yang bersifat emosional dan sensasional. Cara mahasiswa menilai informasi oversharingyang ditemui sangat mempengaruhi pada cara penyebaran informasinya. Mahasiswa yang tidak memverifikasi informasi yang diterima lebih terdorong membagikan informasi oversharingdi media sosial. Lebih sering membagikan informasi yang lebih menarik bagi mahasiswa tersebut, baik mengirim dalam bentuk pesan maupun melalui storydi media sosial. Sedangkan, mahasiswa yang memverifikasi informasi yang ditemui di media sosial, lebih berhati-hati membagikan informasi oversharingdi media sosial, dengan mempertimbangakan kebenaran yang akan dibagikan. Karena mahasiswa berganggapan informasi oversharinglebih dapat digunakan sebagai pembelajaran, tanpa merasa terdorong untuk membagikannya ke orang lain atau media sosial.Dengan demikian, perbedaan dalam cara mahasiswa Program Studi Perpustakaan dan Ilmu Informasi menilai dan memverifikasi informasi oversharingtidak hanya mempengaruhi cara mahasiswa menyebarkan informasi tetapi juga mencerminkan perilaku pencarian informasi yang lebih kompleks dan terstruktur. Hal ini menunjukkan bahwa mahasiswa yang lebih kritis dalam menilai informasi dapat berperan sebagai filterdalam arus informasi, mengurangi penyebaran hoaks dan informasi yang tidak akurat, yang sejalan dengan prinsip perilaku pencarian informasi yang baik dan tepat.

Conclusion

Berdasarkan pembahasan mengenai fenomena doomscrollingterhadap informasi oversharingdi media sosial pada mahasiswa Program Studi Perpustakaan dan Ilmu Informasi Universitas Negeri Padang, dapat disimpulkan bahwa aktivitas ini memiliki dampak signifikan pada tiga aspek yang di uraikan sebagai berikut.(1) Pengalaman mahasiswa melakukan doomscrollingterhadap informasi oversharing.Mahasiswa rata-rata menghabiskan waktu sekitar 3-5 jam per hari untuk melakukan doomscrolling, terutama melalui media sosial seperti TikTok, Twitter, dan Instagram. Informasi yang mahasiswa akses cenderung bersifat emosional dan pribadi, memenuhi kebutuhan afektif. Meskipun dapat menghibur dan mengisi waktu luang, doomscrollingsering kali mengganggu produktivitas akademik dan manajemen waktu.(2) Motif mahasiswa melakukan doomscrollingterhadap informasi oversharing.Mahasiswa terlibat dalam doomscrollingkarena berbagai motif, termasuk hiburan, informasi, sosial, dan dorongan keinginan. Hiburan menjadi motif utama, di mana doomscrollingberfungsi sebagai cara untuk mengatasi kebosanan dan melarikan diri dari tekanan akademik. Motif informasi juga signifikan, dengan mahasiswa berusaha tetap up-to-datedengan berita. Motif sosial muncul dari pengaruh teman dan keinginan untuk terhubung dengan tren viral. Sementara itu, dorongan keinginan sering kali lebih kuat daripada kebutuhan, dengan mahasiswa mengakses informasi untuk hiburan dan mengikuti tren, meskipun terkadang informasi tersebut tidak relevan atau tidak bermanfaat.(3) Pengaruh doomscrollingterhadap informasi oversharingpada mahasiswa. Doomscrollingterhadap informasi oversharingberdampak signifikan pada mahasiswa dalam tiga aspek utama. Psikologis, mahasiswa mengalami kecemasan dan perubahan suasana hati yang mengganggu kesejahteraan mental mahasiswa. Dalam hal manajemen waktu, doomscrollingsering menyebabkan pemborosan waktu yang seharusnya digunakan untuk belajar, menambah stres dan kesulitan dalam mengatur waktu. Secara penilaian dan penyebaran informasi, mahasiswa yang tidak memverifikasi informasi lebih cenderung membagikannya tanpa memeriksa keakuratan, berisiko menyebarkan hoaks, sementara mahasiswa yang memverifikasi informasi lebih berhati-hati dalam penyebaran, menggunakan informasi sebagai pembelajaran.