Kembali
16
1
2017 Warta Perpustakaan Pusat UNDIP Vol 10 · 2 ISSN 0126-4559

JEJAK LANGKAH SEJARAH PERPUSTAKAAN

Universitas Diponegoro

Abstrak

Peradaban manusia tidaklah statis, peradaban manusia berjalan amat dinamis. Dari masa kemasa manusia berusaha mengaktualisasikan dirinya dengan berbagai cara, melalui gambar, melalui tulisan, melalui gerakan dan sebagainya. Sejarah perpustakaan menggambarkan perjalanan manusia yang bermula berkomunilasi dengan gerakan, lewat gambar dan akhirnya lewat tulisan sejak ditemukannya huruf. Huruf-huruf yang terangkai menjadi suatu kumpulan tulisan yang diabadikan diatas daun, di atas batu, kulit binatang dan kemudian tersimpan dalam perpustakaan adalah warisan bagi generasi sesudahnya. Perputakaanpun menjadi kian berkembang dengan teknologi yang kian canggih, melintas batas tanpa sekat antar negara dan antar ilmu pengetahuan yang makin melengkapi.
Keywords: tulisan · sejarah · perpustakaan

Introduction

Manusia adalah makhluk sosial yang membutuhkan interaksi dengan orang lain, yang merupakan awal terbentuknya komunikasi. Komunikasi tersebut dapat dilakukan melalui bahasa verbal, akan tetapi manusia juga dapat mengekspresikan pikiran dan perasaanya secara non verbal dengan media gambar dan tulisan. Bahkan bahasa gambar lebih dahulu dikenal oleh manusia di zaman prasejarah, dan melangkah ke zaman sejarah saat ditemukan tulisan. Adanya tulisan bermula di masa proto dengan sistem ideografik dan simbol mnemonik, tulisan-tulisan tertua yang ditemukan diantaranya tulisan Sumeria di lembah Mesopotamia, tulisan Mesir kuno dan tulisan Tionghoa dari masyarakat Tiongkok di propinsi Honan. Media yang digunakan untuk menulis dapat berupa batu yang biasa disebut dengan prasasti, bisa berupa kulit binatang, tanah liat, kulit kerang daun lontar ataupun papirus. Papirus adalah sejenis tanaman air yang dapat dipakai sebagai bahan semacam kertas yang dipakai oleh bangsa Mesir kuno untuk menorehkan segala sesuatu yang ingin dituangkan dalam bentuk gambar atau tulisan. Adanya tulisan membuat tradisi menulis berkembang seiring dengan berjalannya waktu, tradisi menulis tertua ada pada bangsa Sumeria yang mengembangkan sistem tulisan piktogram atau tulisan gambar ditahun 3100 sebelum masehi, disusul oleh bangsa Mesir yang mengembangkan hieroglif atau tulisan gambar di tahun 3000 sebelum masehi. Bangsa Asia yang mengawali tradisi tulisan adalah bangsa Cina, dengan media kulit kerang yang dimulai sejak tahun 1800 sebelum masehi dengan model tulisan yang tetap masih dipakai hingga saat ini. Tradisi menulis juga dimiliki oleh bangsa Fenisia dan juga bangsa Yunani Kuno. Adapun tradisi tulisan di Indonesia dimulai dengan penulisan didalam prasasti. Prasasti adalah batu bertulis yang berhuruf Pallawa dan berbahasa Sansekerta, penggunaan huruf pallawa dan bahasa sansekerta ini mendapat pengaruh dari India. Prasasti semacam ini ditemukan di berbagai tempat yaitu di Jawa Barat, di Kutai Kalimantan Timur, juga prasasti Canggal yang ditemukan di Jawa Barat.

Discussion

B. Tradisi Menulis Bermula dari tradisi menulis maka berbagai peristiwa dimasa lalu dapat diketahui di masa kini. Tradisi menulis menjadi jalan untuk mentransfer ilmu pengetahuan, tradisi menulis pada akhinya memunculkan adanya perpustakaan. Para ahli telah menemukan bukti bahwa perpustakaan pertama di dunia berada di Mesir Kuno, dimana koleksi dari perpustakaan Mesir kuno ini berupa tablet tanah liat dan papirus. Para peneliti juga menemukan bahwa sejak awal 700 sebelum masehi sistem klasifikasi perpustakaan dimungkinkan telah ada di Nineveh lebih meningkat lagi bahwa ternyata pada sekitar 296 sebelum masehi sudah suatu sistem di perpustakaan yang hampir mirip dengan sistem katalogisasi. Pada abad 8 dan 9 perpustakaan mulai meluas hingga ke Timur Tengah, Afrika Utara, Sisilia dan Spanyol. Di Timur Tengah agama menjadi akar dari perpustakaan Islam. Perpustakaan di dunia Islam mulai terjadi pada massa kekuasaan Bani Umayah. Dimana perpustakaan Islam saat peradaban Islam terletak di sebuah masjid dan buku pertama yang menjadi koleksi adalah Al-Quran. Perpustakaan ini juga berperan utama dalam mengubah cara berkomunikasi, hal ini disebabkan selama ini lebih dominan berkomunikasi secara lisan daripada berkomunikasi secara tertulis. Dimana pernah dikatakan oleh Ibnu Abbas, bahwa ketika Rasulullah menerima wahyu, beliau menghafal setiap wahyu yang diterima. Pada awalnya sahabat nabi menulis AlQuran hanya untuk diri sendiri, akan tetapi Rasul kemudian menitahkan untuk ditulis dan dikumpulkan menjadi sebuah kitab yang berbahan pelepah daun atau kulit. Perpustakaan masjid tertua ditemukan di Aleppo yang memiliki sepuluh ribu buku. Perpustakaan menjadi berkembang sejak ditemukannya mesin cetak pada abad pertengahan. Dialah si Johannes Gutenberg yang berkebangsaan Jerman yang mempelopori cara penulisan dengan menggunakan mesin cetak yang sebelumnya dilakukan dengan tangan. Perkembangan pesat perpustakaan di dunia terjadi saat masa Revolusi Industri di Eropa, yang menimbulkan pengembangan perpustakaan yang bermula dari budayawan yang berfokus pada artefak sejarah dan agama berubah menjadi terfokus pula pada para akademisi, sehingga ilmu pengetahuan berkembang pesat. Bahkan dapat dikatakan bahwa diabad pertengahan itulah ditahun 1600- 1700 menjadi masa keemasan bagi perpustakaan karena terjadi peningkatan secara signifikan. Sehingga pada periode itu pula di Inggris berdiri perpustakaan umum pertama yang beranggotakan masyarakat luas, bukan hanya dari akademisi maupun kalangan agamawan yang menjadi awal mula tumbuhnya perpustakaan umum. Sehingga dengan perkembangan yang begitu pesat dibutuhkan pengelola perpustakaan yang akhirnya melahirkan American Library Association yang menjadi asosiasi perpustakaan tertua dan terbesar didunia. Perkembangan perpustakaan yang begitu pesat tentu saja berimbas pula pada perkembangan perpustakaan di Indonesia. Sesungguhnya bangsa Indonesia telah lama mengenal peradaban baca tulis, yang ditandai dengan ditemukannya prasasti di Kalimantan Timur dari abad lima masehi, seperti telah disinggung pada bagian sebelumnya. Dimana peradaban baca tulis ini akhirnya melahirkan mahakarya seperti Negarakertagama, Arjunawiwaha, Mahabarata, Ramayana, Sutasoma dan sebagainya. Hanya saja pada masa itu karya-karya ini hanya dapat dinikmati oleh para petinggi negeri dan para bangsawan. Di pulau Jawa sejarah perpustakaan dimulai dari masa kerajaan Mataram yang ditandai dengan karya sastra Sang Hyang Kamahayanikan yang berisi uraian tentang agama Budha Mahayana selain itu juga karya berjudul Brahmandapurana dan Agastyaparwa. Menilik dari judul dan isinya terlihat bahwa karya-karya tersebut dikhususkan untuk kalangan bangsawan dan kerabat kerajaan. Pasang naik perpustakaan terjadi pada masa masuknya pengaruh Islam yang kemudian berinteraksi dengan budaya melayu sehingga menghasilkan berbagai karya sastra seperti Kitab Bustanus Salatin, Hikayat Raja-raja Pasai dan Babad Tanah Jawi. Kitab-kitab tadi biasanya disimpan di dekat keraton atau masjid yang merupakan pusat pertanian dan kebudayaan.Dari Cirebon terdapat puluhan buku yang ditulis pada sekitar abad 16 dan 17 seperti misalnya Pustaka Rajya-rajya Bumi Nusantara ,Pustaka Praratwan, Pustaka Negarakertabhumi, Purwaka Samatabhuwana, Usadha, Naskah Masasastra, Usana, Pustaka Prasasti dan sebagainya. Jumlah yang cukup banyak menimbulkan kesimpulan bahwa Cirebon merupakan salah satu pusat perbukuan di masa itu. C. Masa Kolonialisme Belanda menguasai Indonesia dalam jangka waktu yang cukup lama. Masuknya Belanda membawa pengaruh pula dalam perkembangan teknologi di Indonesia, dimana mulai dikenal teknologi di bidang percetakan. Dengan dikenalnya mesin cetak dan percetakan maka budaya membaca dan menulis menjadi berkembang pesat, sehingga mulai dibangun gedung perpustakaan. Perpustakaan pada masa kolonialisme dimulai pada saat penjajahan VOC ( Vereenigde Oost Compaqnie) yaitu perpustakaan gereja di Batavia pada tahun 1624, yang karena sesuatu dan lain hal perpustakaan tersebut baru diresmikan pada 27 April 1643 dengan pengelolaan pustakawan bernama Dominus Abraham Fierenius. Pada tahun 1643 inilah perpustakaan tidak lagi diperuntukan hanya bagi kalangan keluarga kerajaan dan bangsawan, akan tetapi dapat juga dikunjungi oleh masyarakat awam. Buku yang dimiliki perpustakaan ini dipinjamkan hingga ke Semarang dan Juana di Jawa Tengah. Sehingga pada masa ini telah dilakukan pinjam antar perpustakaan atau yang saat ini biasa disebut dengan istilah “interlibrary loan”. Perpustakaan berikutnya baru berdiri seratus tahun kemudian yaitu Bataviaasche Genootschap van Kunsten en Wetenschappen (BKGW) juga di Batavia di tahun 1178. Perpustakaan BKGW sebenarnya didirikan untuk melengkapi lembaga BKGW, sehingga perpustakaan BKGW ini merupakan perpustakaan khusus. Pendirian perpustakaan lembaga BKGW ini dimotori oleh Mr. J.C.M. Setelah pendirian BKGW, maka berdirilah perpustakaan-perpustakaan khusus lainnya. Seperti Bibliotheek’s Lands Plantentuin te Buitenzorg pada tahun 1842, yang kemudian berubah nama menjadi Central Natuurwetenchappelijke Bibliotheek van het Departement van Lanbouw, Nijverheid en Handel pada tahun 1911 dan kemudian berubah nama lagi menjadi Bibliotheca Bogoriensis. Selain pendirian perpustakaan-perpustakaan khusus tersebut, pemerintah kolonial juga mendirikan perpustakaan rakyat atau disebut juga Volksbibliotheek. Volksbibliotheek ini memiliki arti perpustakaan yang didirikan oleh Volkslectuur yang dikelola oleh Volkschool. Volksbibliotheek ini adalah perpustakaan yang melayani murid dan guru, namun masyarakat umum dapat juga dilayani dengan dipungut biaya. Selain pendirian perpustakaan khusus dan perpustakaan sekolah, di masa kolonial juga dirintis perpustakaan umum yaitu Openbare Lesszalen pada tahun 1910. Adanya perguruan tinggi di masa kolonial di awal tahun 1920an memicu perkembangan pendirian perpustakaan perguruan tinggi seperti misalnya Genesskunde Hoogeschool dan Rechtshoogescool juga Fakulteit van Letterkunde yang kesemuanya didirikan di Batavia, sedang Technische Hoogescholl didirikan di Bandung pada tahun 1920. Satu hal yang patut diperhatikan bahwa saat itu telah ada persewaan buku volksbibliotheek menyewakan bahan bacaan ilmiah populer, sedangkan Huurbibliotheek menyewakan bacaan berupa roman dalam bahasa asing seperti bahasa Perancis juga bahasa Inggris dan bahasa Belanda, selain itu perpustakaan ini juga menyewakan buku remaja, dan bacaan gadis remaja. Bukan hanya bahan bacaan yang disewakan dimasa itu namun juga terdapat perpustakaan yang menyewakan koleksi naskahnya. Perlu diketahui bahwa dimasa kolonial pihak pribumi dalam hal ini pihak keraton Mangkunegoro juga mengupayakan pendirian sebuah perpustakaan keraton, demikian pula halnya dengan keraton Yogyakarta yang mendirikan perpustakaan Radyo Pustaka. Ketika Jepang menguasai Indonesia, mereka melakukan pelarangan dengan membakar buku buku berbahasa asing seperti bahasa Belanda, Perancis dan Inggris. Sisi positif dari aturan ini adalah tersedianya ruang yang lebih luas bagi penulisan dan penerbitan buku-buku berbahasa Indonesia. D. Masa Kemerdekaan Pada masa kemerdekaan perkembangan perpustaakaan sedikit mengalami kendala karena perang kemerdekaan, baru pada tahun 1948 pemerintah mendirikan Perpustakaan Negara Republik Indonesia di Yogyakarta. Di rentang waktu tahun 1950 hingga tahun 1960 pemerintah Indonesia mulai menggiatkan perpustakaan dengan mendirikan Taman Pustaka Rakyat disingkat TPR. Taman Pustaka Rakyat terbagi atas beberapa tipe yaitu : 1. Tipe A untuk Pedesaan dengan komposisi koleksi 40 persen bacaan setingkat SD dan 60 persen bacaan untuk setingkat SMP. 2. Tipe B untuk Kabupaten dengan 40 persen koleksinya merupakan bahan bacaan setingkat SMP dan 60 persen adalah bahan bacaan setingkat SMA. 3. Tingkat C dikhususkan untuk tingkat Propinsi dimana 40 persen dari koleksi adalah bahan bacaan yang diperuntukkan bagi pembaca setingkat SMA dan 60 persen lainnya merupakan bahan bacaan untuk kalangan mahasiswa. Dapat dikatakan bahwa perkembangan perpustakaan pada masa kemerdekaan diawali sejak tahun 1950 yang ditandai dengan berdirinya perpustakaan baru yaitu perpustakaan Bung Hatta dengan koleksi yang menitik beratkan pada perkembangan ilmu pengetahuan dan kebudayaan Indonesia. Sementara itu Koninklijk Bataviasasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen karena prestasinya dalam meningkatkan ilmu dan kebudayaan kemudian dirubah menjadi Lembaga Kebudayaan Indonesia di tahun 1950. Dan pada tahun 1962 lembaga ini diserahkan pada pemerintah Indonesia dan diubah menjadi Museum pusat, sedangkan koleksi perpustakaannya menjadi milik Perpustakaan Museum Pusat. Pada perkembangan berikutnya nama Museum Pusat berubah menjadi Museum Nasional, sedang perpustakaan berubah nama menjadi Perpustakaan Museum Nasional, dimana di tahun 1980 dilebur menjadi Pusat Pembinaan Perpustakaan yang berubah lagi pada tahun 1989 dimana lembaga ini menjadi bagian dari Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. Perpustakaan bukan hanya didirikan di Jakarta akan tetapi juga di wilayah Indonesia lainnya hal ini dimaksudkan agar terjadi pemerataan dan mempercepat perkembangan perpustakaan di seluruh tanah air. Sejalan dengan itu maka diterbitkanlah Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia nomer 29103 pada tahun 1956, yang menjadi dasar pendirian Perpustakaan Negara di beberapa wilayah di Indonesia seperti misalnya di Palangkaraya, Medan, Singaraja, Pekanbaru, Mataram, Manado, Kupang, Samarinda, dan dikota-kota lainnya. Perpustakaan negara ini dapat terselenggara dan dikembangkan atas kerjasama antara tiga instansi yaitu Biro Perpustakaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan yang membina secara teknis, juga Perwakilan Departemen Departemen Pendidikan dan Kebudayaan yang bertugas membina secara administratif, serta Pemerintah Daerah Tingkat Propinsi dimana Perpustakaan Negara tersebut diselenggarakan yang bertugas memberikan fasilitas pendukung bagi kelancaran operasional Perpustakaan Negara di wilayah binaannya. Dengan kerjasama ketiga institusi ini diharapkan perkembangan perpustakaan akan semakin cepat dan merata. E. Era Digital dan Internet Seiring dengan berjalannya waktu maka perpustakaan semakin tumbuh dan berkembang, apalagi perpustakaan kian mendapat perhatian dari pemerintah terbukti dengan ditekannya Undang Undang no 43 tahun 2007 yang memberikan dasar hukum dan perubahan bagi kondisi perpustakaan dan pustakawan. Adanya perkembangan Teknologi Informasi yang menyebar ke semua bidang termasuk juga bidang perpustakaan merubah perpustakaan menjadi Perpustakaan Digital. Perpustakaan Digital adalah sebuah sistem yang memiliki layanan dan obyek informasi yang mendukung akses objek informasi dengan menggunakan perangkat digital. Perpustakaan digital sering disebut juga sebagai perpustakaan maya, perpustakaan elektronik, perpustakaan hyper, perpustakaan cyber dan sebagainya. Sebenarnya pada prinsipnya antara perpustakaan biasa dengan perpustakaan digital sama, namun perbedaannya pada prosedur kerja berbasis komputer dan sumber informasinya yang berbentuk digital. Keberadaan perpustakaan digital tidaklah berdiri sendiri namun berkaitan dengan sumber-sumber lain dan layanan informasinya. Pesatnya perkembangan teknologi informasi dan penerapannya di perpustakaan difungsikan dalam berbagai bentuk seperti penggunaan teknologi informasi sebagai Sistem Informasi Manajemen Perpustakaan atau sering juga disebut automasi perpustakaan. Teknologi informasi dapat juga dipergunakan sebagai sarana dalam menyimpan, memperoleh informasi dan menyebarluaskan informasi ilmu pengetahuan tersebut dalam format digital. Bentuk penerapan teknologi informasi ini sering disebut sebagai Perpustakaan Digital. Penerapan teknologi informasi diperpustakaan ini dapat dipergunakan secara terpisah, namun dapat juga dipergunakan secara terintegrasi dalam suatu sistem informasi, bergantung pada kemampuan software yang dipergunakan dan sumber daya manusianya serta infrastruktur pendukungnya. Menurut Wahyu Supriyono dan Ahmad Muhsin ada banyak keunggulan dari perpustakaan digital yaitu : 1. Layanan jarak jauh 2. Akses yang mudah 3. Murah 4. Pemeliharaan koleksi dapat dilakukan secara digital 5. Jaringan global Sedangkan manfaat dari perpustakaan digital antara lain adalah : 1. Sumber pengetahuan 2. Media penyebaran pengetahuan 3. Media penyimpanan atau repository 4. Perawatan/preservasi 5. Media promosi, dsb