Kembali
16
1
2021 Pustakaloka : Jurnal Kajian Informasi dan Perpustakaan Vol 13 · 1 ISSN 2502-4108

LITERASI MAHASISWA: STUDI KEBIASAAN DAN SIKAP MEMBACA MAHASISWA PROGRAM STUDI ILMU PERPUSTAKAAN

Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang

Abstrak

Literasi berkaitan dengan kemampuan membaca dan juga menulis. Dalam arti yang lebih luas, literasi berkaitan dengan kemampuan membaca yang disertaidengan kebiasaan dan sikap positif terhadap aktivitas membaca. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap informasi tentang kebiasaan dan sikap membaca mahasiswa. Responden penelitian ini adalah 39 mahasiswa semester V Program studi Ilmu Perpustakaan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang yang dipilih dengan menggunakan teknik sampling peluang. Teknik ini digunakan karena aksesibilitas yang mudah serta ketersediaan dan kesediaan mahasiswa mengingat situasi pandemi Covid-19. Pararesponden juga merupakan mahasiswa yang mengikuti mata kuliah Membaca Intensif pada semester yang sedang berlangsung di mana peneliti mengajar mata kuliah tersebut. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah kuesioner survei yang dikirim melalui fasilitas WhatsApp. Tanggapan mahasiswa dikirim kembali melalui platformGoogle Classroom. Data dianalisis menggunakan analisis tematik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hampir semua mahasiswa (95%) memiliki kesukaan atau kegemaran membaca sejak mereka duduk di bangku sekolah dasar. Sementara itu, mereka juga menunjukkan sikap (pandangan dan perasaan) yang positif terhadap kegiatan membaca dan dampaknya terhadap peningkatan kemampuan literasi dan akademiknya.</p>

Abstract

Literacy is concerned with reading and also writing. In a broader sense, literacy deals with reading ability accompanied by positive habits and attitudes towards reading activity. This study aimed at eliciting information about students’ reading habits and attitudes.This literacy information was obtained from the fifth semester students of Library Science Study Program, Faculty of Humanities, State Islamic University Raden Fatah Palembang. The selection of 39 students who participated in this study used opportunity sampling technique. Easy accessibility, students’ willingness and availability were the considerations of using this sample selection technique in Covid-19 pandemic situation. The participants were also the students who joined in Intensive Reading Course in which the researcher taught them in the ongoing semester.Data were collected by using questionnaire survey sent via WhatsApp facility. The participants’ responses were sent back to Google Classroom platform. The results of the study showed that the majority of the students (95%) have reading likeness since they were in school ages, particularly in elementary school. Meantime, they also have positive attitudes (view and feeling) towards reading activity and its impact on increasing their literacy ability and academic performance.
Keywords: literacy · reading · reading habit · reading attitude

Introduction

Kesukaan, hobi, dan kesenangan membaca seharusnya menjadi kebiasaan jangka panjang yang harus dimiliki setiap orang agar mereka melek informasi sepanjang hidupnya. Mahasiswa termasuk mahasiswa program studi ilmu perpustakaan sebagai anggota masyarakat dunia harus membiasakan diri dengan kegiatan membaca agar dapat melek informasi dan teknologi dalam masyarakat internet saat ini. Kebiasaan membaca yang melekatjuga sangat penting dimiliki oleh mahasiswa guna meningkatkan kemampuan literasi serta mendukung dan mengembangkan cara berpikir akademiknya. Melalui aktivitas membaca yang rutin dan berkelanjutan, seseorang dapat memperluas pengetahuan dan wawasan globalnya, dapat memperkaya bekal informasi, bahkan membaca secara ekstensif dapat membentuk kepribadian dan kapasitas mental individu." Membaca adalah kegiatan yang sangat berguna dan menjadikan membaca sebagai hobi atau kebiasaan memungkinkan seseorang untuk mengembangkan cara berpikir dan penalaran yang baik. Selain itu, dengan membaca seorang individu dapat mengembangkan kemampuan literasinya, dalam arti dapat mengembangkan ketrampilan (ski//) membaca dan menarasikan gagasan melalui tulisan yang berkualitas. Banyaknya manfaat yang didapat dari membaca tidak sertamerta membuat seseorang tertarik untuk membaca. Seseorang mungkin suka membaca tetapi tidak pasti membaca sebagai aktivitas kebiasaan. Baik minat baca maupun kebiasaan membaca bisa dimiliki jika sudah terbiasa sejak usia dini. Kebiasaan membaca yang dimulai sejak usia sekolah (misalnya sejak sekolah dasar) dapat membentuk keterampilan membaca dan dalam jangka panjang dapat terus meningkatkan literasi setelah dewasa. Membaca harus dilihat sebagai kebiasaan seumur hidup dan keterampilan hidup yang penting.’ Kebiasaan membaca menandakan bahwa seseorang suka membaca dan terus melakukan aktivitas ini dalam kehidupan sehari-hari atau sepanjang hidupnya. Kebiasaan membaca merupakan pola perilaku membaca yang dilakukan melalui pengulangan yang sering. Kebiasaan membaca mengacu pada seberapa sering, seberapa baik, dan apa yang harus dibaca secara permanen dan teratur *Kebiasaan membaca dilakukan sebagai aktivitas otomatis, disengaja, dan disadari. melakukan Seseorang aktivitas yang memiliki membaca kebiasaan secara 1utin. membaca selalu sadar untuk Kesukaan membaca yang terus-menerus membentuk budaya membaca dalam diri sendiri. Orang yang hobinya membaca akan membaca segala bentuk teks bacaan dengan berbagai tujuan bacaan demi memuaskan dahaga memperoleh informasi yang sebanyak-banyaknya. Dalam konteks ini, kecintaan membaca menjadi cara hidup atau gaya hidup. Indikasi lain bahwa seseorang suka membaca adalah sikapnya terhadap membaca. Dalam pengertian sederhana, sikap berarti perasaan atau pendapat tentang sesuatu atau seseorang atau cara berperilaku yang disebabkan olehnya.* Kebiasaan membaca adalah sistem perasaan yang berkaitan dengan membaca yang menyebabkan seseorang mendekati atau menghindari situasi membaca.’ Sikap terhadap membaca bisa menjadi negatif dan positif tergantung pada bagaimana cara membaca dipersepsikan. Bisa saja seseorang tidak suka membaca tetapi ia menyadari manfaat yang diperoleh dari kegiatan membaca. Ada juga yang merasa membaca sebagai suatu keharusan atau bahkan kebutuhan dalam hidupnya. Membaca, bagaimanapun, adalah salah satu cara yang dapat dilakukan orang untuk memahami sesuatu dan diperlukan sikap positif terhadapnya agar membaca dapat berfungsi secara bermakna. Temuan penelitian menunjukkan bahwa kebiasaan membaca dan sikap membaca yang positif memainkan peran mendasar dalam meningkatkan cara berpikir seseorang. Dalam penelitian ini, kebiasaan membaca diartikan sebagai perilaku membaca yang dilakukan oleh mahasiswa. Sedangkan sikap membaca diartikan sebagai perasaan atau pendapat tentang aktivitas membaca.® Penelitian tentang kebiasaan membaca dan pengaruhnya telah banyak dilakukan. Kebiasaan membaca dapat meningkatkan kemampuan menulis ilmiah siswa, / penguasaan kosa kata, ° meningkatkan kemampuan membaca pemahaman,® meningkatkan kemampuan menulis narasi,’® dan menumbuhkan sikap berpikir kritis.'* Penelitian-penelitian sebelumnya mengkaji seputar hubungan kebiasaan membaca dan kontribusinya. Penelitian terkait literasi, terutama di kalangan mahasiswa, melalui sikap dan kebiasaan membaca yang dihubungkan secara simultan belum mendapat perhatian. Oleh karena itu penelitian ini bertujuan untuk mengetahui secara bersamaan kebiasaan membaca dan sikap membaca mahasiswa. Temuan penelitian akan memberikan informasi dan wawasan mengenai dua hal sekaligus, yaitu pola kebiasan dan sikap membaca mahasiswa serta kemungkinan implikasi yang bisa diungkap dari hasil temuan penelitian.

Method

Pendekatan deskriptif digunakan dalam penelitian ini. Survei kuesioner digunakan untuk mengumpulkan data dalam penelitian ini. Jenis data yang dihasilkan oleh survei jenis ini berkaitan dengan apa yang dipikirkan meliputi sikap, pendapat, kepercayaan, dan nilai. > Instrumen memuat 10 item pertanyaan kebiasaan membaca dan 10 item pertanyaan sikap membaca yang ditempatkan pada tabel yang sama. Seluruh pertanyaan disusun berdasarkan konsep teoritis yang relevan dan berdasarkan tujuan untuk menggambarkan kebiasaan membaca dan sikap membaca mahasiswa. Instrumen survei diberikan kepada 35 mahasiswa Program Studi Ilmu Perpustakaan Fakultas Ilmu Budaya secara online melalui aplikasi WhatsApp. Respon dari peserta penelitian dikirim kembali melalui fasilitas Google Classroom. Mereka dipilih dengan menggunakan sampling peluang. Teknik sampling ini dipandang sesuai dengan untuk penelitian ini karena beberapa kriteria praktis seperti ketersediaan dan aksesibilitas.* Para partisipan adalah mahasiswa semester V yang tergabung dalam kelas dimana peneliti mengajar matakuliah Intensive Reading di semester berjalan. Di masa pandemi saat ini, mahasiswa tidak tersedia di ruang kelas tetapi mereka dapat diakses dengan mudah secara virtual melalui aplikasi WhatsApp. Data dari survei dianalisis dengan menggunakan analisis tematik. Creswell mengusulkan beberapa langkah dalam menganalisis data dengan menggunakan analisis tematik: menyiapkan dan mengatur data, membaca semua data, mengkodekan data, membuat tema setiap data, menginterpretasikan temuan dan hasil.*

Result & Discussion

Bagian ini menyajikan temuan dan pembahasan. Data yang diambil dari survei kuesioner ditampilkan dan dianalisis secara bersamaan. Data tentang kebiasaan membaca digabungkan dengan data sikap membaca untuk membuat setiap pernyataan dari kedua variabel tersebut saling terkait dan spesifik. 1. Apakah anda suka membaca dan apakah kebiasaan membaca sudah anda lakukan sejak kecil (misalnya, sejak SD atau SMP)? Bagaimana pandangan anda tentang membaca sejak usia dini atau sejak usia sekolah? Tabel 1 Kemiripan Membaca dan Memulai Membaca Kesukaan Membaca Suka Tidak suka Membaca dimulai Sekolah dasar Sekolah Menengah % 95% 5% % 82% 18% Temuan pada tabel di atas menunjukkan bahwa sebagian besar mahasiswa dalam penelitian ini suka membaca dan mulai membaca saat mereka duduk di bangku sekolah dasar. Mereka menambahkan bahwa membaca sejak usia dini (misalnya sejak SD) dapat melatih dan membangun sikap membaca pada usia dewasa. Kesukaan membaca nampak berkorelasi erat dengan pandangan tentang membaca sejak usia sekolah seperti yang ditunjukkan pada tanggapan mereka berikut ini: a) Menumbuhkan jiwa pengetahuan sejak dini, b) Membangun minat baca, ¢) Melatih kemampuan membaca sejak kecil, d) Menjadi kebiasan intelek, e) g) Melatih literasi sejak usia dini, f) Mengenal kosa kata dan kalimat sejak dini, Kebiasaan baik untuk mengenal lingkungan dan pelajaran, h) Melatih visual. Perasaan positif terhadap membaca ini pada dasarnya memungkinkan mahasiswa untuk mempertahankan kebiasaan membaca mereka dan harus selalu memandang membaca sebagai kegiatan yang menyenangkan. Penelitian sebelumnya menegaskan bahwa sikap positif terhadap membaca juga membentuk dan mewujudkan kebiasaan membaca.” Mewujudkan kebiasaan membaca tidak diperoleh secara instan, namun berproses sejak usia dini di lingkungan sekolah dan juga di rumah. 2. Bagaimana frekuensi kegiatan membaca anda? Bagaimana pandangan anda tentang dampak frekuensi membaca? Tabel 2 Frekuensi membaca Frekuensi Membaca kadang-kadang Sering Jarang setiap hari % 46% 31% 12% 10% Frekuensi kebiasaan membaca mahasiswa tidak menunjukkan persentase yang signifikan. Dengan kata lain, meskipun persentase kesukaan membaca tinggi, namun membaca tidak dilakukan sebagai aktivitas yang sangat lazim. Namun, mereka menunjukkan banyak pandangan positif terhadap membaca yang dilakukan dengan frekuensi tinggi sebagai berikut: a) Menambah wawasan secara terus menerus, b)Memperluas pengetahuan di setiap waktu, c) Selalu meningkatnya kemampuan literasi informasi, d) Melatih konsentrasi terus menerus, e) Meningkatkan pola pikir secara konstan, f) Lebih kuat dalam berpikir, g) Setiap waktu menambah wawsasan dalam dan luar negeri. Dari tanggapan tersebut dapat dikatakan bahwa mahasiswa menyadari manfaat membaca jika dilakukan secara rutin dan terus menerus kendatipun mereka sendiri tidak melakukannya sebagai prioritas dengan frekuesnsi tinggi. Efek bermanfaat menunjukkan dari bahwa membaca mereka yang menyadari dirasakan oleh pentingnya mahasiswa membaca ini untuk membangun kemampuan berpikir yang konstruktif, memperluas khazanah pengetahuan, meningkatkan fokus, dan konsentrasi.*® 3. Jenis bacaan apa yang paling Anda sukai? Apa yang Anda rasakan ketika membaca bacaan yang paling Anda sukai? Tabel 3 Jenis Bahan Bacaan yang Paling Disukai Jenis Bahan Bacaan Paling Disukai Novel Berita online Cerita pendek Fiksi Komik Sejarah Bacaan ilmiah Buku Jenis bahan bacaan yang paling % 36% 28% 13% 5% 7% 2% 2% 2% disukai mahasiswa adalah novel, dilanjutkan dengan berita on/ine. Dalam konteks ini, mahasiswa menunjukkan kecenderungan memiliki kebiasaan membaca karya sastra. Beberapa sikap positif terthadap membaca novel sebagai preferensi bacaan dengan pandangan sebagai berikut: a) Merasakan membaca seolah masuk dalam cerita, b) Masuk dan terbawa dalam alur cerita, ¢) Menyenangkan seakan terlibat dalam cerita, d) Merasa puas jika sudah tau isinya, e) Penasaran dengan yang terjadi di masa lalu dari berbagai sudut pandang, f) Merasa senang karena tertarik membaca terus, g) Membuat pikiran tenang, h) Semangat dan termotivasi ingin tahu lebih jauh. Studi karya sastra sebelumnya menegaskan manfaat membaca karya sastra seperti novel. Membaca teks sastra melibatkan perasaan pribadi pembaca dan memotivasi mereka untuk terus membaca hingga memuaskan rasa ingin tahu.?’ 4. Apa yang paling sering anda baca di media sosial di HP anda? Bagaimana pendapat anda membaca informasi dari media sosial? Tabel 4 Membaca Informasi Media Sosial Di Ponsel Membaca Informasi Media Sosial di Ponsel berita online WA /instagram komik online novel/fiksi berita pendidikan berita politik, fashion Hampir setengah dari jumlah mahasiswa % 41% 25% 13% 13% 7% 1% menunjukkan kebiasaan membaca berita online di ponsel mereka. Dalam hal membaca berbagai berita dan informasi di media sosial melalui ponsel, mahasiswa memberi pendapat sebagai berikut:a) Harus berhati-hati bethubungan dengan bacaan di media social, b) Harus memilih informasi secara bijak, c) Harus pandai mengidentifikasi mana informasi yang benar dan mana yang palsu, d) Harus mencari sumber terpercaya, €) Harus mencari informasi bermutu, f) Jangan percaya dan terpancing dengan berita-berita palsu, g) Menyaring berita mencari kebenaran, h) Cari info yang akurat, i) Tergantung pribadi dalam mencerna informasi. Pendapat positif di benak mahasiswa ini menandakan bahwa mereka memiliki pertimbangan yang baik dalam berinteraksi dengan konten media sosial. Media sosial memiliki kelemahan dan bahaya.”® Berita atau informasi palsu, pidato atau ujaran kebencian, foto atau gambar yang diedit untuk tujuan jahat adalah konten berbahaya dari platform media sosial di mana pembaca harus dengan hati-hati dan bijaksana mengakses dan membaca konten yang dimediasi internet tersebut. Bahaya dan dampak negatif konten media sosial nampaknya disadari sepenuhnya oleh para mahasiswa. Pandangan mereka di atas juga menunjukkan munculnya cara berpikir yang dewasa dan penuh pertimbangan ketika berinteraksi dengan konten media online. 5. % Apakah anda melakukan kegiatan membaca di waktu senggang/luang? Jika anda melakukan kegiatan membaca di waktu luang, bacaan apa yang paling disenangi?Bagaimana pendapat anda tentang memanfaatkan waktu luang untuk membaca? Tabel 5 Membaca Di Waktu Luang dan Jenis Bacaannya Membaca di Waktu Luang Selalu kadang-kadang Jarang Jenis bahan bacaan berita online fiksi/komik Novel Webtoon Berita Islam, berita politik, pendidikan, fashion, cerita pendek, berita motivasi % 64% 23% 13% % 30% 15% 41% 5% berita| 9% Dalam hal memanfaatkan waktu luang, data menunjukkan bahwa lebih dari lima puluh persen dari jumlah mahasiswa menyatakan bahwa mereka selalu membaca di waktu-waktu tersebut. Artinya, lebih dari separuh responden memiliki kebiasaan membaca dalam mengisi waktu luang. Novel dan berita online adalah dua jenis bahan bacaan yang lebih banyak mereka baca di waktu senggang. Mereka juga memanfaatkan waktu luang dengan membaca teks-teks bermakna lainnya seperti berita Islam, berita politik, berita pendidikan, fashion, cerpen, dan berita motivasi. Membaca di waktu luang mereka pandang sebagai kegiatan dan kebiasan yang positif seperti terigambarkan dalam tanggapan berikut: a) Lebih baik membaca game utama, b) Menghibur diri sendiri, c) Jadikan rutinitas, d) Melatih otak menambah ilmu, e) Menghilangkan stress, f) Kegiatan pengalihan ilmu, g) Meningkatkan literasi. Mahasiswa menunjukkan sikap positif membaca di waktu luang. Membaca sebenarnya merupakan kegiatan yang bisa dilakukan di waktu senggang. Membaca di waktu senggang bisa menjadi salah satu alternatif kegiatan yang bermanfaat untuk dilakukan. Tanggapan yang dikonfirmasi dari mahasiswa menunjukkan bagaimana membaca di waktu senggang memberikan efek yang berarti. Pemanfaatan waktu luang yang diisi dengan kegiatan yang berguna seperti membaca dilihat sebagai aktivitas yang perlu dijadikan rutinitas yang dapat mengurangi stres pikiran, menghibur diri sambil menambah ilmu, dan membangun literasi diri. . Ketika membaca, apakah anda membaca dalam hati atau membaca dengan bersuara? Jika membaca dalam hati, apa yang anda rasakan? Jika membaca dengan bersuara, apa yang anda rasakan? Tabel 6 Mode Membaca Mode Membaca Dalam hati/ membaca diam Membaca dengan suara keras % 87% 13% Berkaitan dengan mode membaca, temuan menunjukkan bahwa sebagian besar mahasiswa memiliki kebiasaan membaca dalam hati, tidak bersuara. Menurut pendapat mereka, membaca dalam hati memberi kesan berikut ini: a) Lebih meresapi, b)Merasakan nuansa yang lebih baik, c)Lebih bersemangat, tenang, santai, d) Menghayati, lebih mudah memahami, e) Lebih nyaman, lebih lebih mudah konsentrasi, lebih mudah ingat, f) Kecepatan membaca lebih dan mudah menangkap isi bacaan. Mahasiswa yang diteliti lebih memilih mode membaca dalam hati daripada membaca dengan suara lantang. Membaca dengan hati disebut juga dengan membaca dalam hati. Temuan itu menunjukkan kekuatan membaca dengan hati. Mahasiswa merasa bahwa membaca dalam hati lebih nyaman dan lebih dapat memahami apa yang dibaca. Membaca dengan cara diam dalam hati adalah membaca dengan santai sehingga lebih mudah berkonsentrasi dan lebih mudah menghafal dan menangkap isi teks bacaan. . Ketika membaca, berapa lama waktu yang anda gunakan? Bagaimana pendapat anda tentang durasi waktu yang dimanfaatkan ketika membaca? Tabel 7 ‘Waktu yang Dihabiskan Untuk Membaca ‘Waktu yang Dihabiskan 1jam 30 menit 20-25 menit 15-30 menit 30-45 menit 2-3 jam 1-3 jam % 20% 13% 18% 18% 11% 5% 2% Data terkait waktu yang dihabiskan untuk membaca sangat variatif. Hal ini menandakan bahwa mahasiswa memiliki durasi waktu membaca beragam. Perbedaan durasi ini sejalan dengan pandangan siswa tentang durasi membaca yang dibutuhkan. Ekspresi pandangan mereka tentang durasi waktu yang dibutuhkan untuk membacadiantaranya: a) Terlalu lama membaca jenuh, b) Berapapun durasi waktu jangan disia-siakan, c) Jangan terlalu lama, secukupnya, d) Tidak perlu patokan durasi, e) Yang penting pemanfaatn durasi, f) Tidak perlu waktu lama, cukup jika sudah memahami isi bacaan, g) Yang penting menejemen waktu, singkat tapi rutin Menurut pendapat mahasiswa, durasi waktu membaca bukanlah soal berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk membaca. Kualitas waktu dan pembacaan rutin meskipun dalam waktu yang lebih singkat dirasakan sebagai aspek manajemen waktu yang penting. Dengan kata lain, membaca tidak harus banyak dari sisi kuantitas tetapi kualitas membaca adalah hal yang sangat substantif. 8. Ketika berada di kampus, lokasi atau tempat apa yang anda pilih atau tempat favorit anda untuk kegiatan membaca? Bagaimana pendapat anda tentang membaca di lingkungan kampus? Tabel 8 Lokasi Membaca di Kampus Lokasi Perpustakaan Taman Adab % 77% 23% Perpustakaan dirasakan sebagai tempat terbaik untuk melakukan kegiatan membaca di kampus. Perpustakaan dipandang sebagai tempat paling favorit untuk kegiatan membaca di lingkungan kampus. Menurut pandangan mereka, perpustakaan merupakan tempat yang cocok karena: a) Kondusif, lebih nyaman, lebih efektif, b) Dapat memanfaatkan fasilitas, c) Tersedia berbagai buku dan bahan bacaan, d) Terpacu membaca, e) Lebih tenang tidak bising. Melihat perpustakaan sebagai lokasi terbaik untuk membaca dapat didasarkan pada pengalaman mereka sendiri selama studi di kampus. Mereka kemungkinan besar pernah mengunjungi perpustakaan universitas dan perpustakaan fakultas untuk tujuan membaca atau hanya menghabiskan waktu senggang dengan membaca. Fasilitas perpustakaan seperti Wi-Fi, koleksi perpustakaan, suasana tenang, ruangan ber-AC, dipandang dapat menunjang semangat membaca dan menemukan suasana membaca yang kondusif dan efektif. . Apakah anda melakukan kebiasaan membaca di rumah/kos? Bagaimana perasaan atau pendapat anda tentang membaca di rumah? Tabel 9 Membaca di Rumah/kos Membaca di Rumah/Kost Selalu Kadang-kadang Jarang Tidak pernah Lebih dari % 67% 18% 10% 5% separuh jumlah siswa yang diteliti melakukan kegiatan membaca di rumah/kost. Mereka mengembangkan kebiasaan ini di rumah bersama dengan sikap positif mereka terhadap membaca di kedua tempat seperti yang ditunjukkan oleh tanggapan mereka seprti di bawah ini: a) Lebih tenang tidak ada gangguan, b) Lebih tenang dan fokus, c¢) Tidak bising dan menambah focus, d) Lebih efektif, lebih nyaman, e) Lebih konsentrasi, baca sambil santai, f) Menyenangkan, bebas, g) Mudah faham lebih santai. Rumah keluarga, khususnya kamar pribadi dalam rumah seseorang memberikan suasana yang kondusif untuk terjadinya sesuatu yang baik. Membaca sebagai kegiatan pribadi membutuhkan tempat yang tenang di mana membaca yang berkualitas terjadi. Membaca di rumah atau di kost dipandang positif oleh mahasiswa karena suasananya dapat meningkatkan fokus membaca sedemikian rupa sehingga dapat terwujud proses membaca yang optimal. 10. a) Apakah Anda membaca materi yang terkait dengan mata kuliah Anda sebelum dan sesudah kuliah yang diberikan oleh dosen? Bagaimana pendapat anda tentang membaca untuk persiapan mengikuti kuliah dosen dalam rangka memahami materi yang akan diberikan? Tabel 10a Membaca Materi Kuliah Sebelum Dan Sesudah Pembelajaran Di Kelas Membaca materi pelajaran sebelum dan sesudah = 5 pembelajaran di kelas Selalu Kadang-kadang Jarang o % 59% 28% 13% Lebih dari setengah jumlah mahasiswa memiliki kebiasaan membaca yang baik berkaitan dengan persiapan kuliah. Sebagian besar mahasiswa juga memiliki pandangan positif dalam membaca sebelum dan sesudah pertemuan kelas dengan dosen. Mereka memiliki pendapat serupa seperti: a) Sebaiknya membaca b) dulu materi terkait untuk mempersiapkan pertanyaan dosen, Sebaiknya meimilki bekal sebelum kuliah agar bisa mencerna penjelasan dosen, ¢) Biar ada bekal, mudah ingat materi, d) Untuk bekal agar mudah memahai penjelasan dosen, e) Agar bisa memahami sedikit demi sedikit, f) h) Lebih siap menguasai materi, g) Membantu memahami, lebih semangat, Bagus untuk diri sendiri dalam persiapan diskusi, kosong, j) 1) Agar kepala tidak Menambah pemahaman materi, k) Lebih dulu tahu materi, 1) Membaca RPS. Mahasiswa memiliki sikap yang sangat positif terhadap membaca sebelum pembelajaran di kelas. Mereka menunjukkan banyak pertimbangan dalam mempersiapkan pembelajaran di kelas. Mereka dapat sepenuhnya menyadari pembelajaran mandiri di universitas. Bisa jadi mereka tidak bisa hanya mengandalkan penjelasan dosen di dalam kelas. Membekali diri dengan mempelajari materi kuliah sangatlah penting. Mahasiswa berpandangan bahwa membaca untuk memperoleh pemahaman awal terhadap bahan ajar sebelum pembelajaran di kelas sangat penting karena pertimbangan sebagai berikut: mengantisipasi pertanyaan dosen, lebih mudah menghafal materi pembelajaran, lebih memahami penjelasan dosen, menguasai materi perkuliahan, mendukung pemahaman, mengikuti kelasdengan semangat, dan mempersiapkan diskusi kelas. b. Apakah anda dapat membaca materi kuliah di rumah atau di kos? Bagaimana pendapat Anda tentang informasi membaca materi kuliah yang sudah diberikan oleh dosen? Tabel 10b Membaca Materi Kuliah Di Rumah / Kost Membaca materi kuliah di rumah/kos Selalu kadang-kadang Jarang tidak pernah % 35% 38% 20% 7% Lebih dari setengah jumlah mahasiswa meninjau ulang materi kuliah meskipun frekuensinya berbeda. Hal ini menunjukkan bahwa kegiatan review sudah biasa dilakukan oleh mahasiswa. Mereka juga memiliki sikap positif untuk kegiatan tinjau ulang materi pembelajaran mereka seperti terekam berikut ini: a) Memahami yang belum difahami, b) Untuk menguatkan pemahaman terhadap materi kuliah, ¢) Lebih mendalami lebih mengerti, d) Agar melekat di otak, e) Agar tidak mudah lupa, f) Lebih untuk memahami guna persiapan ujian, g) 1) Biar tidak hilang begitu saja, h) Membantu mengingat materi, Menguatkan/mengulang memori, j) Lebih baik, sangat baik membaca ulang materi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mahasiswa memiliki kebiasaan membaca ulang materi pembelajaran yang diberikan oleh dosennya. Beberapa mahasiswa tidak pernah memeninjau ulang materi pembelajaran mereka, namun mereka menunjukkan sikap positif terhadap kebiasaan tinjau ulang materi kuliah. Mereka menyadari keuntungan-keuntungan jika mempelajari kembali materi belajar mereka di luar ruangan kelas. Menguatkan pemahaman terhadap materi, menguatkan memori terhadap pelajaran, memahami materi secara lebih mendalam, dan tidak mudah lupa terhadap bahan ajar adalah dampak-dampak yang dirasakan oleh mahasiswa apabila melakukan kegiatan tinjau ulang materi yang telah disajikan oleh dosen di ruang kelas. Dalam jangka panjang, kebiasaan membaca ulang atau mereview materi belajar secara reguler dapat menguatkan retensi pengetahuan dan pemahaman. Seringkali pelajaran di kelas mudah hilang dari memori dan dilupakan. Hal ini dapat diatasi dengan strategi baca ulang materi belajar setiap waktu guna memperkuat ingatan terhadap materi sehingga retensi daya ingat terhadap pengetahuan yang dibaca dapat bertahan dalam jangka waktu yang lama.”

Conclusion

Penelitian ini telah mengungkapkan bahwa mayoritas mahasiswa yang diteliti memiliki kesukaan dalam membaca dan pandangan serta pikiran positif terhadap aktivitas membaca.Kesukaan, kecintaan, dan kebiasaan mereka dalam membaca telah tumbuh sejak usia sekolah, yaitu sejak sekolah dasar. Membaca sejak usia dini dipandang sebagai usia emas untuk menumbuhkan kecintaan dan kebiasaan membaca jangka panjang sepanjang hidup. Aktivitas dan kebiasaan membaca yang terinternalisasi dalam diri seseorang dilihat sebagai prilaku yang positif karena manfaat yang banyak dari kegiatan membaca, terutma dapat membentuk pola pikir yang sehat, meningkatkan daya intelektualitas, melatih beripikir konstruktif dan solutif, serta, dalam konteks akademik, semangat ketika membaca, substansi atau konten bacaan yang menambah wawasan dan khazanah pengetahuan merupakan aspek-aspek yang penting ketika membaca, baik dalam waktu yang singkat lebih-lebih dalam durasi waktu yang panjang. saat ini, Dalam konteks kegiatan membaca kekinian di zaman internet dan online pola prilaku, kebiasaan, dan sikap pandangan mahasiswa menunjukkan bahwa kegiatan membaca semakin bermakna untuk dilakukan dan dikembangkan. Perubahan media bacaan dengan adanya media sosial di dunia virtual dapat dimanfaatkan secara optimal untuk menumbuhkan minat, kebiasaan, dan cinta membaca dalam diri mahasiswa. Sifat media sosial yang mudah diakses di segala waktu dan tempat, konten bacaan yang sangat kaya dan beragam, sumber bacaan yang murah dan bahkan gratis adalah kentungan-keuntungan tersendiri bagi para mahasiswa untuk dimanfaatkan dengan tujuan memperkaya wawasan, ilmu pengetahuan dan memperluas persfektif berpikir. Akan tetapi, sikap bijak dan kehati-hatian dalam memilih dan memilah konten bacaan di media sosial yang tergenggam di tangan mahasiswa, lewat media telefon seluler, dipandang sebagai sikap yang harus dimiliki oleh setiap pengguna dan pencinta bacaan di dunia sosial. Mahasiswa berpandangan bahwa sikap bijak dan penuh kehati-hatian dalam membaca konten bacaan di media sosial harus menjadi prioritas utama untuk menjaga agar kegiatan membaca betul-betul membawa manfaat untuk memlihara pola dan nalar berpikir positif, konstruktif dan istiqgomah semata-mata untuk meningkatkan literasi, memperluas wawasan dan pengetahuan, memperluas cakrawala perspektif, dan mengasah batin (misalnya, lewat bacaan karya-karya sastra). Kecintaan, kebiasaan dan kebijaksanaan membaca ini terdampak pula kepada kehidupan akademik mahasiswa dalam penelitian ini. Mereview sebagai kegiatan membaca dilakukan oleh mahasiswa dalam kesadaran mereka untuk mengembangkan lietrasi mereka secara lebih bermakna dalam upaya meningkatkan kemampuan dan prestasi akdemik. Realitas kehidupan membaca mahasiswa dapat berimplikasi pada pengambilan kebijakan-kebijakan yang secara nyata mendukung literasi mahasiswa, secara spesifik mahasiswa yang sedang kuliah di Program Studi Ilmu perpustakaan. dapat meningkatkan prestasi akdemik. Mahasiswa dalam penelitian ini memandang bahwa kebiasaan membaca dan sikap positif terhadap kegiatan membaca akan lebih bermakna jika dilakukan secara teratur, rutin, dan terus menerus. Kegiatan membaca yang bermakna tidak harus dilakukan dalam durasi waktu yang lama, tetapi yang lebih penting dari durasi adalah memanfaatan waktu membaca secara berkualitas. Dengan kata lain, kualitas membaca dalam pengertian fokus dan