ANALISIS ARTIKEL CIVITAS AKADEMIKA UNIVERSITAS ISLAM NEGERI YANG TERINDEX SCOPUS
Universitas Gadjah Mada Yogyakarta
Abstrak
Integrasi ilmu, interkoneksitas bidang ilmu, merupakan beberapa istilahyang mengemuka semenjak Kementerian Agama mengubah IAIN menjadiUniversitas. Dari perubahan ini, diharapkan akan muncul kajian berbagai bidangilmu dengan sentuhan Islam di dalamnya. Sampai saat ini terdapat11 UIN yangtersebar di Indonesia. Pengembangan ilmu pengetahuan diharapkan tidak lagiterkotak-kotak antara ilmu agama dan umum, universalitas Islam akan semakintampak, sehingga perkembangan ummat Islam sendiri akan semakin maju.Artikelini hendak menganalisa produk artikel ilmiah civitas akademika UIN, yangterindex oleh SCOPUS. Artikel ilmiah dari civitas akademika, dianggap sebagaiproduk intelektual dalam rangka mendukung pengembangan ilmu pengetahuan yangintegral sesuai visi/misi UIN. Metode analisa yang dilakukan adalah denganpencarian melalui SCOPUS, menggunakan kata kunci atau gabungan kata kunciyang mengacu pada lembaga UIN di Indonesia. Daftar artikel yang muncul Kemudian dikelompokkan dan dinarasikan sesuai tujuan penelitian.Harapannyaakan dapat diketahui produktifitas civitas UIN dalam melakukan riset danmenuliskannya dalam artikel, sebaran bidang ilmu, kerjasamakepenulisanyangdilakukan, perkembangan jumlah artikel yang diindex SCOPUS dalam tahun.Selain itu,diharapkan akan muncul perbandingan produktifitas dan sebaran bidangilmu antara sebelum menjadi UIN dan setelah menjadi UIN</p>
Abstract
The Analysis of indexed article from UIN Academicians in SCOPUS Integration of science, interconnectivity of science, are a few terms that surfaced since the Ministry of Religious change IAIN to the Universitas Islam Negeri (UIN). The expectation of these changes, is to emerge study of various fields of science with a touch of Islam. There are 11 UIN in Indonesia. Development of science in UIN, is expected to no longer fragmented between religion and general knowledge. Thus, the universality of Islam will be more visible, so the development of the Muslims knowledges will be more advanced. This article is going to analyze the scientific articles of UIN academicians, which is indexed by SCOPUS. Scientific articles from the academic community, is regarded as an intellectual product in order to support the integral development of science according to the vision / mission of the UIN. Method of this analysis is by searching through SCOPUS, using keywords or combination of keywords that refer to UIN institutions in Indonesia. A list of articles that appeared, then grouped and narrated according to the purpose of research. The hope would be known productivity of UIN community, the distribution of science, cooperation of authorship, increase of articles indexed in the SCOPUS per years. In addition, we will know the trend of the article before becoming UIN and after becoming UIN
Keywords:
Scopus
· scholarly communication
· islamic state university
Introduction
Sejak awal tahun 2000, beberapa Institut Agama Islam Negeri (IAIN) di Indonesia berubah menjadi Universitas Islam Negeri (UIN). IAIN Jakarta menjadi IAIN pertama yang kemudian disusul beberapa IAIN lainnya. IAIN Syaruf Hidayatullah menjadi UIN dengan dasar Kepres no. 031 20 Mei 2002. Perubahan ini, sebagaimana dituliskan dalam sejarah UIN Syarif Hidayatullah diharapkan meneguhkan integrasi keilmuan agama, kemanusiaan dan keindonesiaan. Lulusan yang cerdas namun berlandaskan iman menjadi target.2 UIN Sunan Kalijaga merumuskan paradigma integrasi interkoneksi, yang diharapkan melahirkan pemahaman Islam yang ramah, demokratis dan rahmatal lil ‘alamin. Kepres nomor 50 tahun 2004 menjadi dasar lahirnya UIN Sunan Kalijaga dan UIN Malang. 3 Sejak awal perubahan sampai saat ini, terdapat 11 UIN di Indonesia. UIN tersebut antara lain : UIN Alauddin Makassar, UIN Ar-Raniry Banda Aceh, UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, UIN Raden Fatah Palembang, UIN Sulthan Syarif Kasim Riau Pekanbaru, UIN Sumatera Utara Medan, UIN Sunan Ampel Surabaya, UIN Sunan Gunung Djati Bandung, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, UIN Walisongo Semarang4 Kehadiran bentuk baru dari IAIN ini, khususnya 3 UIN pertama diharapkan dapat menjembatani dikotomi antara ilmu agama dan ilmu umum.5 Selama ini, dikotomi ilmu agama dan umum menimbulkan paling tidak 6 (enam) masalah, yaitu pengingkaran validitas dan status ilmiah yang satu atas lainnya, kesenjangan sumber ilmu antara ilmu agama dan ilmu umum, berkenaan dengan objek ilmu yang dianggap sah, munculnya disintegrasi pada tatanan klasifikasi ilmu, terkait metodologi ilmiah dan sulitnya mengintegrasikan pengalaman manusia sebagai pengalaman yang riil dan legitimate.6 Dengan menjadi UIN, maka kajian tidak lagi dibatasi hanya pada satu hal saja (agama Islam), namun juga menyentuh berbagai bidang lainnya. Misalnya IPA, psikologi, matematika, ekonomi, teknologi informasi, kedokteran dan lainnya. Dalam hal ini Kartanegara (2005) menyebutnya dengan ilmu sekuler atau umum. 7 Ilmuwan Islam, sebagaimana dalam Kartanegara (2005) disebutkan melakukan penjenisan, bukan pemisahan. Hal ini karena ilmuwan tersebut menggunakan konsep ilmu yang integral serta telah menemukan basis yang menyatukan keduanya
Method
Penelusuran produktifitas civitas UIN, dilaksakan pada database SCOPUS. Penelusuran dilakukan dengan pencarian artikel berdasar institusi afiliasi (di Scopus disebut affiliation name (AFFILORG). Institusi afiliasi merupakan afiliasi yang dituliskan penulis pada dokumen, biasanya mengikuti nama penulis. Institusi yang dituliskan adalah nama-nama UIN yang terdapat di website DIKTIS Kemenag RI (http://diktis.kemenag.go.id/rankingptai/?action=lembaga-uin). Kata kunci yang digunakan ialah : ( AFFILORG ( kalijaga ) OR AFFILORG ( syarif hidayatullah ) OR AFFILORG ( maulana malik ibrahim ) OR AFFILORG ( gunung djati ) OR AFFILORG ( sunan ampel ) OR AFFILORG ( walisongo ) OR AFFILORG ( sultan syarif kasim ) OR AFFILORG ( alauddin ) OR AFFILORG ( ar-raniry ) OR AFFILORG ( raden fatah ) OR AFFILORG ( uin sumatera utara). Hasil yang muncul, kemudian dikelompokkan dan ditampilkan dalam bentuk grafik sesuai dengan tujuan penulisan artikel ini. Selain itu, visualisasi data menggunakan VOSViewer dilakukan untuk mendapatkan gambaran lebih mendalam tentang sebaran ilmu dan jejaring kepenulisan yang dilakukan civitas akademika UIN.
Discussion
.SCOPUS dalam Dunia Komunikasi Ilmiah SCOPUS, merupakan mesin pengindeks yang memuat abstrak dan sitasi berbagai artikel, buku dan prosiding. Sebuah jurnal, prosiding atau buku perlu memenuhi ketentuan dan proses tertentu agar dapat masuk pada database SCOPUS. Karena syarat yang ditetapkan ini, maka SCOPUS dijadikan salah satu tolok ukur produktifitas dengan kualitas tertentu. Tolok ukur tersebut, disebutkan secara jelas pada website PAK DIKTI, tertulis laman yang sering diacu oleh jurnal ilmiah adalah ISI Web Of Knowledge dan SCOPUS8. Administrator dari web PAK Dikti juga menuliskan agar (dosen) mencari jurnal (untuk publikasi) yang masuk di database Scopus atau Thomson Reuter (ISI Web of Knowledge)9. Selain DIKTI Indonesia, Australian Research Councill juga menggunakan Scopus untuk Excellent in Research for Australia (ERA) 2015. ERA menggunakan informasi kutipan yang relevan pada bidang ilmu tertentu untuk memperoleh informasi expert panel, yang akan menentukan kualitas hasil riset.10 1 E. Karya Ilmiah Civitas Akademika UIN di Scopus Hasil dari pencarian menggunakan kata kunci afiliasi institusi, ditemukan 365 dokumen yang terindeks Scopus selama 2002 sampai 5 Mei 2016. Analisis dibagi menjadi dua bagian, terkait karakter dokumen serta jejaring penulis Gambar 1. jumlah karya terindeks Scopus Gambar di atas memperlihatkan, secara umum mulai 2002, terdapat tren kenaikan karya ilmiah civitas UIN yang terindex Scopus, tersebut yaitu 2006, yang menurun 1 angka dibanding tahun 2005, 2008 yang mengalami penurunan 4 angka dibanding 2007, serta 2015 yang mengalami penurunan 14 angka dibanding 2014. Sementara pada tahun 2016, sampai bulan Mei terdapat 26 artikel yang terindeks Scopus. Jika dibandingkan, dengan tahun 2015, capaian bulan Mei 2016 ini telah mencapai 39%. Jika konsisten, sangat mungkin capaian pada akhir 2016 akan melampaui 2015. 1. Karakter dokumen Gambar 2. Subyek karya terindex Scopus 2002-2016 Subyek terbanyak adalah social sciences (90), diikuti computer science (80) dan engineering (62). Angka ini menarik, karena ternyata computer science dapat menempati posisi kedua dengan selisih 10 dibanding social science. Computer science baru muncul mulai 2009, dan jumlah terbesar di 2014 dengan angka 24. Sedangkan social science telah muncul di Scopus sejak 2002 Gambar 3. Perbandingan subyek computer science dan social science Pertumbuhan subyek computer science sendiri, dalam tiga tahun terakhir selalu mengungguli social science. Gambar 4. Pertumbuhan jumlah artikel eksak-non eksak Dokumen bergenre ilmu sains teknologi dan kesehatan, mulai muncul tahun 2008, jumlahnya langsung naik dan terus melampaui ilmu sosial humaniora. Bahkan, pada 5 bulan awal tahun 2016, sains teknologi dan kesehatan memiliki angka hampir 400% dari bidang sosial humaniora Gambar 5. Grafik perbandingan subyek saintek dan kesehatan, sosial humaniora dan multidisiplin Gambar di atas memperlihatkan bahwa subyek ilmu sains teknologi dan kesehatan ternyata mendominasi karya civitas UIN yang terindeks Scopus. Jumlah total dokumen dengan subyek saintek dan kesehatan adalah 70%, meskipun subyek ini baru muncul di Scopus pada tahun 2008. Gambar 6. Nama publikasi Kondisi di atas dikuatkan lagi dengan wadah publikasi. Dokumen civitas UIN yang terindeks Scopus, paling banyak dimuat pada prosiding terkait teknologi. Pada posisi kedua ditempati jurnal Al-Jamiah (jurnal bersubyek humaniora) Tipe sumber dokumen, menunjukkan jurnal menempati posisi paling tinggi dengan 242 dokumen, disusul prosiding. Berbanding lurus dengan jurnal sebagai tipe sumber dokumen yang menempati angka tertinggi, tipe dokumen juga menempatkan artikel sebagai dokumen paling banyak yang terindeks Scopus Gambar 9. Prosentase artikel saintek-kesehatan, sosial humaniora dan multidisiplin Jumlah dokumen bidang sains, teknologi dan kesehatan, menempati posisi 65% dari total Gambar 10. Visualisasi all keyword (minimal 5) Jika visualisasi dilakukan untuk semua kata kunci yang memiliki angka kesamaan minimal 5, maka sebagaimana ditunjukkan pada gambar di atas, human dan Indonesia memiliki jumlah yang laing banyak. Gambar 11. Visualisasi author keyword (minimal 3) Untuk melihat dinamika dokumen dari sudut pandang pengarang, maka diambil kata kunci yang ditentukan pengarang sebagai dasarnya. Kata kunci Indonesia menempati posisi yang paling banyak dibahas, dengan 5 istilah terkait. Yaitu women, education, islam, identity dan terrorism Gambar 12. Keterkaitan keyword Indonesia Gambar 13. Institusi yang terlibat dalam penulisan 2. Jejaring Scopus menunjukkan bahwa UIN Syarif Hidayatullah, yang menjadi UIN sejak 2002 menempati posisi tertinggi dengan 177 dokumen yang ditulis oleh civitas akademikanya. Hal menarik ditunjukkan pada posisi kedua, yang ditempati oleh perguruan tinggi non-UIN, yaitu Institut Teknologi Bandung (ITB). Hal ini dapat diartikan, bahwa sentuhan teknologi pada dokumen civitas UIN yang terindeks Scopus memang sangat terlihat. Gambar di atas juga meneguhkan dan membenarkan data sebelumnya yang menunjukkan bidang sains dan teknologi yang memiliki jumlah tertinggi, serta computer science yang menempati posisi kedua subyek yang paling banyak ditulis oleh civitas UIN. Dari 10 institusi yang terekam dalam Scopus, terdapat pula beberapa universitas di luar negeri yang berkolaborasi dengan civitas UIN. Tercatat ada Universiti Teknologi Malaysia (UTM), Universiti Malaysia Trengganu (UMT) dan Universiti Kebangsaan Malaysia(UKM), ketiganya dari Malaysia Gambar 14. 10.besar negara jejaring Namun demikian, jika dilihat secara keseluruhan, civitas UIN telah menjalin kerjasama kepenulisan dengan berbagai civitas dari berbagai negara. Gambar di atas menunjukkan data yang dimaksud Gambar 15. Asal/jenis institusi jejaring Jika dipilah asal dan jenis perguruan tingginya, UIN mulai terbuka dengan perguruan tinggi umum, baik dari dalam dan luar negeri Gambar 17. Jejaring antar penulis (minimal 3 dokumen) Gambar di atas menunjukkan kelompok kolaborasi penulis. Terlihat Salim A, memiliki kelompok kolaborasi yang paling banyak, disusul Atilola dan Mamat M. Data di atas dapat dimanfaatkan untuk melihat kecenderungan kolaborasi tiap penulis, serta mendorong penulis yang kolaborasinya masih minim untuk meningkatkan kolaborasi dengan penulis lainnya.
Conclusion
Berdasarkan pendahuluan dan beberapa permasalahan yang dirumuskan, maka dapat disimpulkan bahwa: 1. Sejak tahun 2002, civitas akademika UIN mampu menjaga konsistensi penerbitaan dokumen ilmiah pada publikasi yang terindeks Scopus. 2. Sejak 2002, subyek ilmu yang ditulis civitas UIN telah mengalami perkembangan, tidak hanya pada bidang ilmu sosial atau keagamaan saja. 3. “Indonesia” merupakan topik yang paling banyak memiliki keterkaitan, setidaknya dengan 5 (lima) istilah lain, yaitu : islam, identity, terorism, women dan education. 4. UIN Syarif Hidayatullah menjadi UIN yang paling produktif dalam penerbitan yang terindeks Scopus 5. Mustafa bin Mamat (ID Scopus: 35761412000, civitas Universitas Sultan Zainal Abidin, Malaysia) menjadi penulis paling produktif pada penerbitan yang terindeks Scopus yang bekerjasama dengan civitas UIN di Indonesia. 6. Agus Salim (ID Scopus: 55770771700, civitas UIN Syarif Hidayatullah), menjadi penulis yang paling banyak berkolaborasi dengan penulis lain pada dokumen yang terindeks Scopus. 7. Made Sanjaya WS (ID Scopus: 55537361600, civitas UIN Sunan Gunung Jati) menjadi penulis UIN yang berasal dari Indonesia paling produktif terindeks Scopus.