Kembali
16
1
2021 Tik Ilmeu: Jurnal Ilmu Perpustakaan dan Informasi Vol 5 · 1 ISSN 2580-3662

Pemberdayaan Masyarakat melalui Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial di Perpustakaan Sumber Ilmu Desa Marga Sakti Kabupaten Musirawas

Universitas Terbuka Palembang; Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang; Universitas Terbuka Palembang

Abstrak

Perpustakaan dapat berperan lebih dan dapat turut turut andil dalam hal pemberdayaan masyarakat, mendekatkan, mengajak serta memberdayakan masyarakat. Salah satu cara untuk mendekatkan dengan masyarakat yaitu perpustakaan dapat menggunakan konsep inklusi untuk mencapai tujuan sebagai asas pembelajaran sepanjang hayat. Perpustakaan berbasis inklusi adalah perpustakaan yang memfasilitasi masyarakat dalam mengembangkan potensinya dengan melihat keragaman budaya, kemauan untuk menerima perubahan, serta menawarkan kesempatan berusaha, melindungi dan memperjuangkan budaya dan Hak Azasi Manusia. Demikianlah yang telah dilakukan oleh Perpustakaan Sumber Ilmu di Desa Marga Sakti Kabupaten Musi Rawas, dengan konsep Perpustakaan Desa Berbasis Inklusi Sosial, telah menjadikan perpustakaannya sebagai lembaga yang dapat memberdayakan masyarakat melalui kegiatan produktif seperti membuat keripik pare, budidaya jangkrik, penyediaan akses internet untuk masyarakat, aktifitas Karang Taruna dengan mendirikan Band Pemuda, Kegiatan PKK yang terpusat di perpustakaan, kegiatan mendongeng, Perpustakaan Keliling, mendirikan kampung baca dan lain-lain. Dari sekian banyak kegiatan di atas, menandakan bahwa perpustakaan tersebut telah menjadi central aktifitas masyarakat desa dan sebagai wujud nyata bahwa Perpustakaan Sumber Ilmu Desa Marga Sakti telah menerapkan konsep Inklusi Sosial.

Abstract

Libraries can play a more role and can contribute in terms of community empowerment, closer, invite and empower the community. One way to get closer to the community is that the library can use the concept of inclusion to achieve its goals as a principle of lifelong learning. Inclusion-based libraries are libraries that facilitate the community in developing their potential by seeing cultural diversity, willingness to accept change, and offering opportunities to try, protect and fight for culture and human rights. This has been done by the Library of Science Resources in Marga Sakti Village, Musi Rawas Regency, with the concept of a Village Library Based on Social Inclusion, which has made the library an institution that can empower the community through productive activities such as making bitter melon chips, cultivating crickets, providing internet access for the community, Karang Taruna activities by establishing Youth Bands, PKK activities centered in libraries, storytelling activities, mobile libraries, establishing reading villages and others. Of the many activities above, this indicates that the library has become the central activity of the village community and as a concrete manifestation that the Marga Sakti Village Resource Library has implemented the concept of Social Inclusion.
Keywords: Community empowerment · Library · Social Inclusion

Introduction

Isu pemberdayaan masyarakat senantiasa menjadi bahan kajian, penelitian, diskusi dan perbincangan dalam berbagai forum terutama pada ranah akademis di perguruan tinggi. Bahkan isu pemberdayaan masyarakat menjadi program yang tidak pernah berhenti dilakukan oleh pemerintah, baik pusat maupun daerah. Hingga saat ini dan ke depan, isu ini akan menjadi perhatian banyak pihak sebagai bagian dari program pembangunan sumber daya manusia dan peningkatan potensi daerah. Isu pemberdayaan masyarakat dikaji hampir di semua disiplin ilmu, tak terkecuali disiplin Ilmu Perpustakaan. Perpustakaan bukan merupakan hal yang asing bagi masyarakat akademisi, hampir setiap hari perpustakaan merupakan tempat menghabiskan waktu pelajar maupun mahasiswa setelah selesai proses belajar mengajar baik disekolah maupun dikampus. Saat ini perpustakaan dapat ditemukan di setiap negara, provinsi, kabupaten/ kota, kecamatan, bahkan desa. Perpustakaan di Indonesia secara umum terbagi menjadi beberapa jenis yaitu: Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, Dinas Perpustakaan Umum dari tingkat provinsi hingga desa, Perpustakaan Perguruan Tinggi, Perpustakaan Sekolah, Perpustakaan Khusus, Perpustakaan Lembaga Keagamaan, Perpustakaan Internasional, Perpustakaan Kantor Perwakilan Negara-negara Asing, Perpustakaan Pribadi, dan Perpustakaan Digital (NS, 2006, p. 37). Setiap jenis perpustakaan harus diselenggarakan berdasarkan asas pembelajaran sepanjang hayat (Republik Indonesia, 2007), dapat dipahami bahwa perpustakaan sebagai tempat pembelajaran sekaligus kemitraan bagi masyarakat yang dikelola secara profesional dan terbuka bagi semua kalangan. Oleh karena itu, diharapkan perpustakaan dapat mewujudkan masyarakat yang berkeadilan, menciptakan proses pembelajaran sepanjang hayat yang merupakan kunci dalam pengembangan transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial. Oleh karenanya perpustakaan dapat mengambil peran sebagai pusat informasi, atau lebih dari itu perpustakaan dapat bertransformasi menjadi tempat dalam pengembangan diri masyarakat sehingga perpustakaan dapat turut aktif untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Fenomena transformasi peran perpustakaan dari hanya sebagai pusat informasi akan tetapi lebih dari itu perpustakaan dapat berperan dalam upaya memberdayakan masyarakat dengan memberikan informasi tepat guna, terutama pemberdayaan masyarakat desa menyebabkan munculnya perpustakaan-perpustakaan desa. Sejak tahun 2017, pemerintah telah mengalokasikan dana desa sebesar 800 juta hingga 1 Milyar rupiah sebagai salah satu wujud upaya perhatian pemerintah untuk memberdayakan masyarakat, terutama masyarakat yang memiliki pengetahuan informasi yang sudah tidak lagi berada di bangku sekolah (Kementerian Keuangan RI, 2017, p. i). Hal tersebut sejalan dengan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 43 tahun 2014 tentang peraturan pelaksanaan Undang-undang Nomor 6 tahun 2014 tentang Desa dalam rangka mengoptimalkan penyelenggaraan Pemerintahan Desa, pelaksanaan pembangunan desa, pembinaan kemasyarakatan desa, dan pemberdayaan masyarakat desa (Rohman & Sukaesih, 2018). Perpustakaan desa merupakan salah satu jenis perpustakaan umum yang dikelola oleh desa, untuk mewujudkan perpustakaan desa bukan sesuatu hal nya mustahil, dikarenakan pemerintah pusat telah menyiapkan dana pembangunan desa yang pengalokasiannya untuk pemberdayaan masyarakat. Perpustakaan desa dapat tercipta melalui bentuk inklusifitas yaitu partisipasi langsung kelompok masyarakat dalam pembangunan perpustakaan desa. Selain itu menurut Darmadi (Inspektur Perpustakaan Nasional) menyatakan bahwa "Kehadiran perpustakaan harus membawa paradigma baru, menjadikan perpustakaan sebagai ruang untuk berbagi pengalaman, ruang belajar kontekstual dan ruangan untuk berlatih keterampilan yang melibatkan seluruh pemangku kepentingan. Perpustakaan juga harus memiliki peran sebagai penghubung antara sumber pengetahuan dengan pengguna pengetahuan" (Alam, 2015). Kehadiran perpustakaan, khususnya perpustakaan desa harus dapat menghapus image masyarakat yang menganggap perpustakaan merupakan tempat yang menakutkan untuk dikunjungi. Untuk menghilangkan image tersebut perpustakaan harus dapat menjadi lembaga yang inklusif bukan menjadi lembaga yang ekslusif. Perpustakaan desa sepatutnya menjadi lembaga inklusi sosia yaitu perpustakaan dapat diakses siapapun dan dapat menikmati layanan perpustakaan secara gratis (Prasetyawan & Suharso, 2015). Perpustakaan "Sumber Ilmu" merupakan perpustakaan desa yang terletak di Desa Marga Sakti, perpustakaan desa sumber ilmu tidak terkesan ekslusif sebaliknya perpustakaan ini mudah diakses oleh masyarakat dan telah bertransformasi menjadi sebuah institusi yang dapat membangkitkan serta memberdayakan masyarakat sekitar melalui program-program keumatan dengan turut serta membangkitkan ekonomi serta meningkatkan potensi masyarakat di sekitar perpustakaan. Hal inilah sebagai wujud nyata bahwa perpustakaan kini hadir sebagai lembaga yang inklusi dan bukan sebagai lembaga yang eksklusif (Hasil Wawancara Pak Paino Kepala Perpustakaan Sumber Ilmu Desa Marga Sakti). berdasarkan uraian diatas, peneliti tertarik untuk meneliti Perpustakaan "Sumber Ilmu" di Desa Marga Sakti Kabupaten Musi Rawas yang telah mencanangkan sebagai Perpustakaan Desa yang berbasis inklusi sosial. Peneliti tertarik mengambil lokasi di Perpustakaan Desa Marga Sakti dikarenakan peneliti tertarik untuk mengetahui; Program-program apa saja yang ditawarkan oleh Perpustakaan "Sumber Ilmu" dalam memberikan kontribusi bagi pembangunan desa dan pemberdayaan masyarakat; Transformasi atau perubahan apa saja yang dilakukan Perpustakaan "Sumber Ilmu" Desa Marga Sakti dalam upaya pemberdayaan masyarakat melalui Perpustakaan Desa Berbasis Inklusi Sosial. Dalam penelitian ini penulis menggunakan jenis penelitian kualitatif. Penelitian kualitatif merupakan jenis penelitian yang bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami subjek penelitian, seperti perilaku, persepsi, motivasi, tindakan, dan lain-lain (Moleong, 2013, p. 6). Metode yang digunakan untuk meneliti adalah metode studi kasus. Menurut Creswell, bahwa studi kasus merupakan strategi penelitian yang di dalamnya peneliti menyelidiki secara cermat suatu program, peristiwa, aktivitas, proses, atau sekelompok individu. Artinya, seluruh aktivitas, proses maupun program yang dilakukan oleh subjek berusaha diselidiki secara cermat dan menyeluruh (Creswell, 2010). Objek yang diteliti adalah perpustakaan desa yang diamati dan ingin diketahui secara holistik peran dan fungsinya sebagai pusat pemberdayaan masyarakat di Desa Marga Sakti Kabupaten Musi Rawas. Subjek dan informan dalam penelitian ini adalah ketua dan pengurus Perpustakaan "Sumber Ilmu" Desa Marga Sakti, Kepala Desa, dan masyarakat di Desa Marga Sakti sebagai informan. Selain itu, pihak dari Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Musi Rawas yang berperan sebagai narasumber dalam proses triangulasi hasil penelitian. Triangulasi pada hakikatnya merupakan pendekatan multimetode yang dilakukan peneliti pada saat mengumpulkan dan menganalisis data. Ide dasarnya adalah bahwa fenomena yang diteliti dapat dipahami dengan baik sehingga diperoleh kebenaran tingkat tinggi jika didekati dari berbagai sudut pandang, sehingga akan dimungkinkan memperoleh tingkat kebenaran yang handal (Rahardjo, 2010).

Result & Discussion

Saat ini kebutuhan informasi telah menjadi salah satu kebutuhan pokok yang perlu dipenuhi oleh setiap anggota masyarakat di era modern ini. Setiap orang memiliki hak yang sama atas informasi, baik untuk kepentingan pribadi, kepentingan akademik, kepentingan ekonomi, dan sebagainya. Namun terkadang akses untuk mendapatkan informasi masih dirasa sulit terutama bagi masyarakat yang tinggal di pedesaan, walaupun sudah banyak media informasi yang tersebar, baik tercetak maupun digital. Kesulitan mengakses atau mendapatkan informasi yang sangat dirasakan sekali oleh masyarakat desa yang tinggal terlampau jauh dari pusat kota, jauh dari pusat layanan informasi yaitu perpustakaan. Selain itu, akses menuju desa yang sulit, transportasi tidak memadai, susah sinyal telekomunikasi, dan sebagainya turut menjadi penghambat susahnya arus informasi untuk masuk ke desa. Padahal mereka, masyarakat desa, sama seperti masyarakat kota lainnya, membutuhkan informasi. Proses terbentuknya perpustakaan desa diawali dengan dikumpulkannya warga desa oleh Bapak Tumar selaku kepala desa beserta perangkat desa mulai dari BPD, Karang Taruna, PKK, dan sebagainya untuk mendiskusikan perihal pembangunan perpustakaan desa agar buku-buku di dalam kardus tersebut dapat dikelola dengan baik. Pembangunan perpustakaan desa selain agar dapat mengelola buku, dilatar- belakangi juga oleh kurangnya sarana dan prasarana untuk membaca dan mengembangkan minat atau hobi masyarakat desa, maka perlu menghadirkan sebuah tempat untuk mengelola buku, membina minat baca masyarakat desa, serta pemberdayaan masyarakat Desa Marga Sakti dalam bentuk Perpustakaan Desa "Sumber Ilmu". Selain sebagai tempat membaca dan memenuhi kebutuhan informasi, perpustakaan Desa Sumber Ilmu berperan aktif pemberdayaan masyarakat melalui program-program yang dicanangkan oleh pengelola Perpustakaan Sumber Ilmu. Berbagai kegiatan positif juga menjadikan perpustakaan sebagai pusat lokasi kegiatan, dikarenakan letak perpustakaan yang strategis yaitu berada di antara kantor PKK dan Posyandu, membuat seluruh kegiatan akan berhubungan dan berpusat di perpustakaan desa (Hasil wawancara Bapak Tumar, Kepala Desa Marga Sakti). Hal lain yang melatarbelakangi berdirinya perpustakaan desa ini yaitu keprihatinan warga terhadap maraknya pemakaian narkoba di kalangan anak muda. Biasanya anak muda yang tidak memiliki kegiatan, tidak sekolah, dan tidak berpendidikan akan mudah terbawa arus pemakaian benda haram ini. Oleh karena itu, perpustakaan desa hadir untuk memberikan wawasan kepada generasi muda agar jangan sampai mendekati narkoba dan memberi informasi mengenai bahaya narkoba bagi diri sendiri, bagi keluarga, dan bagi orang banyak. Inovasi pemerintah desa diperlukan dalam merancang kegiatan perpustakaan supaya perpustakaan desa Sumber Ilmu ini akan terus hidup dan berjalan. Bahkan pemerintah desa sudah menganggarkan dana sebesar Rp 230 juta yang diambil dari dana desa, guna pembangunan gedung perpustakaan yang lebih besar dan modern, agar bisa menampung lebih banyak masyarakat dan fasilitas di dalam perpustakaan, serta meningkatkan ketertarikan warga untuk selalu datang ke perpustakaan. Dengan berbagai latar belakang yang telah disebutkan, dapat dipahami bahwa pembangunan Perpustakaan Desa Sumber Ilmu ini adalah untuk kepentingan masyarakat desa itu sendiri. Maka perpustakaan ini mendapat sebutan sebagai perpustakaan desa berbasis inklusif sosial. Perpustakaan berbasis inklusi sosial merupakan wujud perpustakaan sebagai pembelajaran sepanjang hayat. Di mana perpustakaan bukan hanya sebagai pusat sumber informasi tetapi lebih dari itu sebagai tempat mentransformasikan diri sebagai pusat sosial budaya dengan memberdayakan dan mendemokratisasi masyarakat dan komunitas lokal, dalam upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat. Berdasarkan wawancara dengan Bapak Tumar, Perpustakaan Desa "Sumber Ilmu" dikatakan sebagai perpustakaan yang berbasis inklusi sosial karena perpustakaan ini dijadikan sebagai sentral atau pusat kegiatan masyarakat, di mana seluruh kegiatan akan dilakukan di perpustakaan karena akan memudahkan dalam memonitori atau mengawasi kegiatan pengembangan masyarakat bersama-sama. Seperti misalnya setiap minggu sore anak-anak dari SD hingga SMA akan datang ke perpustakaan untuk belajar menari. Selain itu, perpustakaan tidak lain adalah sumber ilmu dan informasi yang bisa didapatkan oleh warga melalui bahan bacaan yang tersedia. Melihat hal tersebut di atas bahwa perpustakaan desa Sumber Ilmu layak dikatakan sebagai perpustakaan desa yang berbasis inklusi sosial, karena perpustakaan desa tersebut sangat terbuka bagi masyarakat desanya untuk mengakses, memanfaatkan koleksi dengan membaca dan lain-lain dengan tujuan agar masyarakat desa tersebut melek informasi dan dapat memberdayakan masyarakat desa melalui kegiatan yang produktif dan dapat meningkatkan perekonomian warga desa. Sehingga warga desa Marga Sakti melihat perpustakaan sebagai tempat yang inklusi lawan dari ekslusif. Selain itu, menurut Bapak Paino, Perpustakaan Desa Sumber Ilmu dikatakan sebagai perpustakaan berbasis inklusi sosial karena perpustakaan ini hadir dengan sasaran utamanya tidak lain adalah masyarakat desa itu sendiri serta mengajak masyarakat untuk berperan langsung dalam pengembangan perpustakaan, melakukan berbagai kegiatan positif agar perpustakaan terus hidup. Dengan adanya perpustakaan juga dapat menggali potensi, minat, dan bakat yang dimiliki oleh warga desa yang pada akhirnya diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan hidup masyarakat. Dari hasil wawancara di atas dasar berdirinya Perpustakaan Desa Sumber Ilmu ini diawali oleh beberapa hal, yaitu buku-buku yang telah datang ke desa namun belum dikelola, sarana dan prasarana sebagai tempat membaca dan mengembangkan minat bakat di desa masih kurang, generasi muda yang kecanduan gadget, maraknya narkoba di kalangan anak muda, pendidikan di desa yang kurang memadai. Untuk itulah Perpustakaan Desa Sumber Ilmu hadir di tengah masyarakat desa Marga Sakti sebagai pusat pembelajaran sepanjang hayat. Pada dasarnya, semua lembaga, instansi, organisasi, komunitas tidak akan bisa berdiri sendiri tanpa bantuan dari berbagai pihak. Bahkan manusia sebagai makhluk sosial pun tidak bisa hidup tanpa manusia lain. Begitu pula dengan Perpustakaan Desa Sumber Ilmu yang tidak akan bisa berjalan sampai saat ini jika tidak mendapat dukungan dari berbagai pihak yang dengan kerja kerasnya hingga saat ini perpustakaan desa masih tetap eksis dalam pemberdayaan warga desa. Padahal di luar sana, masih sangat banyak perpustakaan desa yang tidak layak disebut dengan perpustakaan. Melainkan hanya gudang dengan tumpukan buku tanpa pengelolaan yang baik. Namun, Perpustakaan Desa Sumber Ilmu tetap melakukan kegiatan positif yang dapat memberdayakan masyarakatnya, meningkatkan minat dan bakat masyarakatnya, dan menumbuhkan kecintaan anak-anak terhadap buku bacaan. Berdirinya Perpustakaan Desa Sumber Ilmu sangat didukung oleh berbagai pihak yang sangat berperan sejak berdirinya perpustakaan ini hingga sekarang. Pihak-pihak ini juga bertanggung jawab dalam perkembangan perpustakaan dan melakukan berbagai inovasi agar perpustakaan tetap hidup dalam melaksanakan perannya dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa. Pihak-pihak yang berperan dalam mendukung berjalannya kegiatan Perpustakaan Desa Sumber Ilmu adalah Pemerintah Desa, Karang Taruna, PKK, Perusahaan PT. Djuanda Sawit Lestari, dan masyarakat desa. Peran dari berbagai pihak diuraikan dibawah ini. Pertama pemerintah desa dan BPD (Badan Permusyawaratan Desa) yang sangat kompeten dalam menjalankan setiap program-program perpustakaan dan melakukan inovasi agar kegiatan perpustakaan semakin aktif dan beragam. Maka di tahun ini juga Perpustakaan Desa Sumber Ilmu sedang dilakukan pembangunan gedung baru yang lebih luas di banding bangunan yang lama. Walaupun tidak begitu besar, namun diharapkan dengan adanya gedung baru ini semakin bisa mendukung kegiatan pengembangan masyarakat. Selain itu juga agar jika suatu saat kedatangan tamu dari luar daerah, maka perpustakaan Sumber Ilmu ini bisa menjadi sebuah icon bagi Desa Marga Sakti. kedua pihak yang berperan yaitu karang taruna. Perpustakaan mengajak pemuda desa ini untuk berperan aktif dalam mengembangkan perpustakaan. Saat masih dalam tahap diskusi untuk pembangunan perpustakaan, karang taruna juga diajak untuk berdiskusi. Selain menjadi pengelola perpustakaan, mereka juga aktif berperan dalam pengaplikasian informasi yang telah mereka dapatkan dari membaca koleksi buku di perpustakaan, salah satunya dengan membentuk grup band yang merupakan penerapan hasil membaca buku mengenai alat musik. Karang Taruna juga bertanggung jawab dalam menyampaikan informasi ke masyarakat. Khususnya untuk informasi yang mereka dapatkan dari platform digital seperti google, website resmi lembaga berita, bahkan dari sosial media. Ketiga Letak desa yang berdekatan dengan salah satu perusahaan kelapa sawit di Sumatera Selatan, yaitu PT. Djuanda Sawit Lestari merupakan suatu keberuntungan tersendiri yang dimiliki oleh desa. Maka pemerintah desa mengajak atau menggandeng perusahaan ini untuk bisa mendukung berdirinya Perpustakaan Sumber Ilmu. Bahkan wujud dukungan yang diberikan oleh perusahaan ini yaitu memberikan bantuan alat IT berupa sebuah komputer untuk kelengkapan sarana dan prasarana perpustakaan yang bisa digunakan oleh pengelola perpustakaan. Selain memberikan bantuan berupa komputer, perusahaan ini juga meminjamkan alat-alat berat yang bisa digunakan saat pembangunan gedung perpustakaan yang baru dan juga untuk menata lingkungan di sekitar perpustakaan. Dengan penjelasan ini, di mana perusahaan memberikan bantuan berupa komputer dan alat-alat berat, maka bisa disimpulkan bahwa PT. Djuanda Sawit Lestari mendukung sepenuhnya perpustakaan Sumber Ilmu ini, dan akan tetap mendukung pengembangan perpustakaan yang lebih baik lagi. Keempat Tim Penggerak Kesejateraan Keluarga (PKK) adalah salah satu lembaga desa yang memberdayakan wanita (khususnya para ibu) untuk turut berpartisipasi dalam pembangunan desa. Maka peran yang dilakukan oleh PKK dalam berdirinya perpustakaan ini yaitu turut memanfaatkan buku buku di perpustakaan dengan membaca dan meminjam buku, lalu menerapkan atau mempraktikkan langsung hasil yang didapatkan dari membaca buku. Hasil kerja yang berupa pembuatan kripik pare akan dipasarkan melalui PKK, jadi selain mengkonsumsi sendiri hasil budidaya, mereka juga membantu memasarkan produk hingga keluar daerah. Berdirinya perpustakaan ini tidak lain adalah untuk masyarakat Desa Marga Sakti sendiri. Sudah menjadi tanggung jawab masyarakat bersama untuk kemajuan perpustakaan desa ini. Maka masyarakat berusaha menjadikan perpustakaan sebagai pusat kegiatan dengan memanfaatkan ruangan dan bahan bacaan yang tersedia. Selain itu, sudah ada beberapa warga yang mempraktikkan hasil bacaannya, dengan membudidayakan jangkrik dan kripik pare. Sehingga dari sini terlihat bahwa masing-masing pihak mendapatkan keuntungan, masyarakat selain mendapatkan penghasilan dari mata pencarian pokok seperti bertani karet dan sawit, mereka juga mendapatkan penghasilan tambahan dari budidaya jangkrik dan pembuatan kripik pare ini. Bagi perpustakaan, sudah jelas dengan memusatkan kegiatan di perpustakaan membuat peran perpustakaan sebagai pemberdayaan masyarakat telah tercapai. Selain faktor pendukung berdirinya Perpustakaan Desa Sumber Ilmu yang datang dari berbagai pihak, menurut Bapak Paino, pengembangan perpustakaan juga didukung oleh beberapa faktor yaitu: 1. Fasilitas yang tersedia di perpustakaan cukup lengkap sehingga bisa dimanfaatkan oleh warga untuk mencari dan mendapatkan informasi serta dapat mencapai tujuan perpustakaan yaitu untuk pemberdayaan masyarakat. 2. Lokasi perpustakaan yang strategis yaitu dekat dengan sekretariat PKK, Karang Taruna, dan Posyandu membuat segala kegiatan akan berhubungan dengan perpustakaan. 3. Dukungan penuh dari masyarakat yang aktif melakukan kegiatan di perpustakaan dan menerapkan atau mengaplikasikan hasil bahan bacaan dalam kehidupan. 4. Mendapat pengawasan langsung dari Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Musi Rawas, yang selalu memonitori kegiatan di Perpustakaan Desa Sumber Ilmu. Selain itu juga biasanya pihak Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Musi Rawas juga memberikan bantuan berupa dana dan fasilitas kepada perpustakaan. 5. Akses internet yang terjangkau dan cukup lancar membuat warga banyak yang ke perpustakaan untuk mengakses informasi melalui komputer yang disediakan di perpustakaan. Perpustakaan hadir sebagai lembaga atau instansi yang berperan dalam pengembangan minat baca masyarakat Indonesia. Berdasarkan studi Most Littered National in the World yang dilakukan oleh Central Connecticut State University, menyatakan bahwa Indonesia menduduki peringkat ke 60 dari 61 negara dalam hal minat baca (Mikhael Gewati, edukasi.kompas.com). Jelas bahwa tingkat minat baca masyarakat Indonesia sangatlah rendah. Untuk itu perlu penanaman sejak dini akan pentingnya membaca pada diri anak, karena minat baca bukanlah sesuatu yang bisa muncul dengan sendirinya. Diperlukan usaha penanaman, kecintaan pada buku sejak kecil. Oleh karena itu, dibutuhkan dorongan kerja sama orang tua, perorangan, lembaga, instansi, untuk menanamkan kegemaran membaca pada anak. Walaupun di samping itu masih banyak faktor yang menyebabkan rendahnya minat baca, salah satunya adalah ketersediaan bahan bacaan dilingkungan sekitar anak, baik lingkungan internal (keluarga inti) maupun lingkungan sosial. Lingkungan sosial menjadi sangat penting bagi penumbuhan minat baca, karena setiap harinya kita akan selalu berinteraksi melakukan kegiatan di lingkungan. Jika lingkungan sosial dekat dengan buku, maka akan memudahkan dalam menumbuhkan minat baca masyarakat. Penumbuhan minat baca inilah yang menjadi salah satu latar belakang didirikannya Perpustakaan Desa Sumber Ilmu. Dengan menghadirkan perpustakaan di tengah masyarakat, sama saja dengan mendekatkan masyarakat dengan buku, sehingga memudahkan masyarakat untuk mendapatkan informasi, wawasan, ilmu pengetahuan yang pada akhirnya akan memunculkan kecintaan terhadap buku. Jika warga desa sudah memiliki kecintaan terhadap buku, maka membaca sudah menjadi budaya yang wajib dilakukan oleh warga desa. Untuk mencapai hal tersebut, maka Perpustakaan Desa Sumber Ilmu telah melakukan berbagai upaya untuk menciptakan budaya membaca di lingkungan desa. Kegiatan tersebut antara lain : Peratama, Kegiatan mendongeng adalah kegiatan bercerita yang dilakukan oleh seseorang dengan intonasi yang jelas, ekspresi wajah yang disesuaikan dengan cerita, perubahan berbagai karakter suara, menggunakan buku cerita maupun tidak, dan menggunakan alat peraga maupun tidak. Cerita yang dibawakan haruslah yang menarik dan berkesan, biasanya memiliki nilai-nilai khusus yang akan disampaikan kepada pendengarnya (Nusantari, 2012). Mendongeng menjadi sebuah cara alternatif yang bisa dilakukan oleh seseorang dalam menanamkan kecintaan anak-anak terhadap bacaan. Anak-anak yang tertarik dengan cerita biasanya akan terus mencari buku yang berisi cerita-cerita menarik dan kaya akan nilai-nilai yang tersirat dalam cerita. Berdasarkan hal tersebut, maka Perpustakaan Desa Sumber Ilmu sudah menerapkan kegiatan mendongeng di perpustakaan bahkan sudah dibuatkan sebuah tempat khusus yang bisa digunakan untuk bercerita, yaitu gubuk pohon. Biasanya setiap anak-anak pulang dari mengaji, mereka akan mendatangi gubuk pohon untuk mendengarkan cerita dari seorang guru paud, yang tidak lain adalah Ibu Kades sendiri. Cerita yang disampaikan biasanya tentang budi pekerti, akhlak, sopan santun, dan nilai-nilai lainnya yang berguna bagi anak-anak. Bahkan perpustakaan sudah pernah mengundang narasumber untuk mendongeng di hadapan anak-anak yaitu seorang tetua di Desa Marga Sakti. Beliau menceritakan tentang sejarah desa pada zaman dahulu, seperti cerita tentang asal-usul Tapak Lebok di Desa Mambang. Dengan adanya kegiatan mendongeng ini diharapkan anak-anak akan tertarik dengan cerita yang nantinya mereka akan dengan sendirinya membaca buku tanpa disuruh, selain itu biasanya ketika Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Musi Rawas mengadakan lomba cerita anak, ada beberapa anak yang akan mengikuti lomba tersebut setiap tahunnya (Hasil wawancara Bapak Paino, Kepala Perpustakaan Sumber Ilmu). Kedua, pengoperasian perpustakaan keliling. Desa Marga Sakti yang cukup luas membuat beberapa warga yang tinggal jauh dari perpustakaan akan jarang datang ke perpustakaan. Maka untuk memudahkan warga yang tinggal jauh dari perpustakaan, maka dibentuklah perpustakaan keliling (pusling) dengan memanfaatkan mobil pribadi Kepala Desa yang sudah lama tidak digunakan. Mobil tersebut di perbaiki, di cat ulang, dan di alihfungsikan menjadi perpustakaan keliling yang bisa memuat buku-buku yang siap digunakan oleh masyarakat. Mobil perpustakaan keliling beroperasi setiap 2 minggu lalu akan mendatangi dusun-dusun di Desa Marga Sakti dan berhenti di pusat keramaian warga seperti misalnya di lapangan. Dengan adanya perpustakaan keliling ini dapat memudahkan warga untuk membaca dan meminjam buku sehingga program ini dapat diterima dengan baik oleh warga desa. Koleksi yang dibawa oleh pusling akan selalu di ganti, tidak koleksi yang itu-itu saja agar warga tidak bosan. Jadi selain menyediakan buku di perpustakaan, mereka juga menyajikan buku yang didekatkan ke masyarakat, supaya masyarakat mengetahui peran perpustakaan dalam pemberdayaan masyarakat (Hasil Wawancara Bapak Paino, Kepala Perpustakaan Sumber Ilmu). Ketiga, Selain program perpustakaan keliling perpustakaan desa sumber ilmu juga berinovasi membuat kampung baca, ada satu dusun yang dijadikan sebagai icon Kampung Baca yaitu Dusun IV. Bahkan kampung baca ini sudah diresmikan langsung oleh Bupati Musi Rawas. Dikatakan dengan kampung baca, karena di dusun IV ini ada sebuah pondok baca yang sudah dikelola dengan baik, tersedia beberapa buku (walaupun belum dikelola), tempatnya rapi, cukup di manfaatkan oleh warga, dan terletak di sebelah SD. Berbeda dengan dusun lain yang biasanya mobil pusling harus mencari tempat keramaian terlebih dahulu, maka jika di dusun IV mobil pusling langsung mendatangi pondok baca ini secara rutin berdasarkan hari yang sudah ditentukan, jadi warga tinggal mendatangi pondok baca untuk bisa membaca dan meminjam buku perpustakaan (Hasil Wawancara Bapak Tumar, Kepala Desa Marga Sakti). Dengan hadirnya Perpustakaan Desa Sumber Ilmu dan dengan dibentuknya ketiga kegiatan di atas, diharapkan minat baca masyarakat akan meningkat. Seperti yang disampaikan oleh Bapak Paino, bahwa setelah adanya tempat untuk membaca, yaitu perpustakaan, sudah ada peningkatan membaca di kalangan masyarakat sejak awal berdirinya perpustakaan ini hingga sekarang yang bisa dilihat dari data perpustakaan yang menunjukkan ada peningkatan minat membaca. Seperti anak-anak sekolah yang tertarik datang ke perpustakaan untuk membaca, para orang tua yang biasanya mampir ke perpustakaan karena lokasi yang berdekatan dengan sekretariat PKK. Suatu proses menuju berdaya, atau proses untuk memperoleh daya/kekuatan/kemampuan, dan atau proses pemberin daya/kekuatan/kemampuan dari pihak yang memiliki daya kepada pihak yang kurang atau belum berdaya. Proses akan merujuk pada suatu tindakan nyata yang dilakukan secara bertahap untuk mengubah kondisi masyarakat yang lemah, baik knowledge, attitude, maupun practice (KAP) menuju pada penguasaan pengetahuan, sikap-perilaku sadar dan kecakapan-keterampilan yng baik. Tujuan dari berdirinya Perpustakaan Desa Sumber Ilmu ini yaitu menumbuhkan minat baca anak-anak, yang kemudian menegembangkan target pengguna hingga kalangan dewasa. Dari bagan di atas, maksudnya adalah kegiatan pemberdayaan sesungguhnya merupakan kegiatan praktik membaca yang ditujukan pada masyarakat dewasa. Aplikasi/praktik membaca ini dilakukan sebagai upaya mengajak masyrakat untuk mau membaca. Dengan melakukan praktik membaca, masyarakat merasakan langsung manfaat dari kegiatan membaca, yang nantinya hail praktik membacatersebut dijual, maka akan mendtangkan nilai tambah dan keuntungan masyarakat itu sendiri. Pelaksanan kegiatan yang ada di perpustakaan sumber ilmu didasari oleh 2 motif yaitu in-order-to motive dan because motive. In-order-to motive merupakan motif yang merujuk pada masa mendatang. Kaitannya dengan kegiatan perpustakaan desa sumber ilmu ini, motif ini berupa harapan pengelola akan kondisi masyarakat di masa mendatang yaitu masyarakat yang gemar membaca, kreatif, dan melek akan informasi. Sedangkan because motive berupa kondisi yang dialmi masalalu yang dijadikan pelajaran bagi pengelola agar masyarakat tidak terus berkutad pada kondisi “gaptek” atau gagap teknologi, buta aksara, dan kurangnya pemanfaatan lahan secara maksimal karena kurangnya ilmu yang dimiliki masyrakat. Jika digambarkan dapat terlihat pada bagan berikut: Pemberdayaan masyarakat atau (community empowerment) adalah pemberdayaan masyarakat yang sengaja dilakukan baik oleh pemerintah, instansi atau swasta dengan memfasilitasi masyarakat lokal dalam merencanakan, memutuskan dan mengelola sumberdaya yang dimiliki oleh masyarakat tersebut, sehingga pada akhirnya mereka memiliki kemampuan dan kemandirian secara ekonomi, ekologi dan sosial secara berkelanjutan. Sehingga dari pendapat tersebut maka berdirinya Perpustakaan Desa Sumber Ilmu ini tidak lain adalah untuk pemberdayaan masyarakat Desa Marga Sakti. Maka untuk mewujudkan hal tersebut, perpustakaan telah berperan dengan menyediakan fasilitas yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat, seperti bahan bacaan yang beragam, tempat untuk berkumpul mengadakan kegiatan pengembangan masyarakat seperti belajar menari, band, membuat kerajinan tangan, tempat melestarikan budaya, mencari dan mendapatkan informasi, serta meningkakan perekonomian masyarakat (Hasil Wawancara Bapak Paino, Kepala Perpustakaan Sumber Ilmu). Selain itu, perpustakaan juga membuat program pemberdayaan masyarakat di mana masyarakat dapat mengembangkan minat dan bakat nya melalui kegiatan ini, diantaranya yaitu program pembangunan bidang ekonomi melalui beberapa kegiatan yaitu sebagai berikut: Pertama, Pembuatan Kripik Pare (Kripar)Pembuatan kripar ini berawal dari inisiatif masyarakat, khususnya para ibu untuk mengolah pare menjadi makanan ringan yang tidak hanya bisa dikonsumsi sendiri melainkan juga bisa di pasarkan ke warga desa hingga keluar daerah bahkan sampai ke pulau Jawa. Awalnya mereka melihat banyak sekali warga yang menjual pare di pasar, lalu terpikirlah untuk mencoba membudidayakan pare menjadi sesuatu yang baru. Untuk langkah awal, mereka mencari sumber informasi mengenai pembuatan kripar di perpustakaan, baik dari buku melalui dari internet. Akhirnya setelah mengetahui langkah-langkahnya, barulah pembuatan kripar dilakukan hingga saat ini warga masih memproduksi kripar. Dengan pembuatan kripar, perekonomian dalam satu KK yang memproduksi kripar dapat meningkat (Hasil Wawancara Ibu Siti, warga pembuat kripar). Untuk memudahkan warga dalam memperoleh pare yang berkualitas, pemerintah desa mengajak warga untuk membuat kebun dan menanam pare di sekitar sekretariat PKK. Namun, hingga saat ini pembuatan kebun belum di lakukan atau masih sebatas rencana saja. Hal ini dikarenakan adanya pandemi covid yang mengharuskan warga untuk menjaga jarak guna meminimalisir penyebaran virus. Diharapkan setelah pandemi ini mereda, pembuatan kebun pare dapat direalisasikan agar memudahkan warga memperoleh pare dengan harga yang relatif murah jika di tanam sendiri. Dalam kegiatan ini, peran perpustakaan dapat dilihat dari penyedia sarana atau tempat untuk belajar pembuatan kripar bersama ibu-ibu PKK dan memberikan bantuan dana untuk packaging dan labelling produk kripar ini supaya lebih menarik. Bantuan untuk mengembangkan program ini juga didapatkan dari Bank Sumsel berupa dana dan alat packaging produk. Perpustakaan menjadi jembatan penghubung antara masyarakat pembuat kripar dengan pihak Bank Sumsel (Hasil Wawancara Bapak Paino, Kepala Perpustakaan Sumber Ilmu). Kedua, Salah satu yang mempraktikkan hasil membaca buku di perpustakaan yaitu budidaya jangkrik. Dengan perpustakaan menyediakan bahan pustaka guna pengembangan budidaya jangkrik, dapat meningkatkan kinerja warga untuk terus melakukan budidaya ini sehingga dapat membantu perekonomian warga. Selain program pembangunan dibidang ekonomi kegiatan pembanguan lainnya yaitu dibidang seni dan budaya yaitu Pertama, terbentuknya kelompok band, Ide awal pembentukkan band ini adalah inisiatif dari kepala perpustakaan. Ada salah satu buku koleksi perpustakaan tentang teori dan praktik drum band, lalu mendatangkan pelatih untuk mengajarkan para pemuda ini agar lebih terlatih dalam memainkan alat musik (Hasil Wawancara dengan Bapak Tumar, Kepala Desa Marga Sakti). Dengan adanya band pemuda ini, perpustakaan memfasilitasi remaja di Desa Marga Sakti untuk mengembangkan minat dan bakat mereka dalam bermusik. Sehingga selain bersekolah dan bekerja, kegiatan mereka juga bisa diisi dengan kegiatan positif seperti latihan band dan kedepannya diharapkan band pemuda ini bisa tampil dalam acara-acara besar di desa bahkan nantinya bisa mengikuti perlombaan di luar daerah. Kedua, Seni tari Program perpustakaan dalam rangka pemberdayaan masyarakat ini akan terus dilakukan serta melakukan inovasi agar perpustakaan memiliki banyak lebih banyak program yang berkaitan dengan pemberdayaan masyarakat desa. Sebagaimana yang diungkapkan oleh Hogan, yang mengemukan bahwa proses pemberdayaan sebagai suatu proses yang relatif terus berjalan sepanjang usia manusia yang diperolah dari pengalaman individu tersebut dan bukannya suatu proses yang berhenti pada suatu masa saja (Adi, 2013, p. 212). Setiap perpustakaan diharapkan dapat membawa perubahan positif bagi masyarakat. Perpustakaan Desa Sumber ilmu berada disebuah desa yang ada di pelosok jauh dari kota kabupaten apalagi propinsi. Dari keadaan letak geografis tersebut membuat masyarakat sulit untuk menjangkau perpustakaan kabupaten maupun perpustakaan umum propinsi. Salah satu perubahan dari desa Marga Sakti yaitu melahirkan sebuah Perpustakaan Sumber Ilmu sebagai wadah meningkatkan minat baca masyarakat dan mengembangkan literasi masyarakat. Selain itu perpustakaan desa sumber ilmu berperan sebagai pusat kegiatan belajar masyarakat. Perpustakaan Desa Sumber Ilmu desa marga sakti telah berupaya terlibat aktif dalam mengembangkan kemampuan dan keterampilan masyarakat melalui perpustakaan berbasis inklusi. Upaya tersebut bahkan telah membuahkan hasil yang cukup optimal. Menurut salah satu responden, perpustakaan desa sumber ilmu tidak hanya berfungsi dalam mengembangkan minat baca dan memberantas buta huruf semata, namun juga berupaya meningkatkan kesejahteraan hidup masyarakat melalui pengetahuan dan informasi yang diperoleh melalui perpustakaan desa. Lebih jauh dikemukan bahwa kehadiran perpustakaan desa sumber ilmu telah berkontribusi dalam membuka peluang usaha seperti peternakan dan olahan makanan ringan serta meningkatkan pendapatan masyarakat desa yang selama ini hanya bergantung pada hasil pertanian sawit yang telah mengalami penurunan harga. Kegiatan perpustakaan mendapat dukungan penuh dari pemerintah desa marga sakti, terutama kepala desa. Keberadaan perpustakaan desa sumber ilmu didesa marga sakti tidak hanya menurunkan angka buta huruf, tetapi meningkatkan kesejahteraan dan kualitas hidup masyarakat. Terlebih ketika perpustakaan sumber ilmu semakin banyak meraih prestasi, maka semakin meningkatkan semangat dan rasa bangga masyarakat terhadap perpustakaan desa. Menurut kepala desa hal ini menjadi modal yang cukup baik untuk meningkatkan keterlibatan masyarakat dalam pembangunan desanya. Pelibatan masyarakat salah satunya dapat disalurkan melalui kegiatan membaca dan kegiatan pemberdayaan diperpustakaan desa. Selain itu perpustakaan desa juga sudah mendirikan sebuah pondok baca yang dapat digunakan sebagai ruang publik tempat masyarakat bertemu dan berbagi ilmu. Program yang dikembangkan perpustakaan desa sumber ilmu merupakan bentuk transformasi dari peran dan fungsi perpustakaan desa sehingga manfaanya dapat lebih nyata dirasakan oleh masyarakat desa.

Conclusion

Perpustakaan Desa Sumber Ilmu Desa Marga Sakti didirikan untuk mewujudkan masyarakat desa yang cerdas, mandiri, dan sejahtera melalui berbagai layanan perpustakaan desa berbasis inklusi sosial. Perpustakaan sumber ilmu dapat maju dan berkembang karena adannya komitmen semua pihak yang terlibat dan terkait. Idealisme, semangat, kreativitas dan inovasi dari pengelola perpustakaan menjadi motor penggerak keberhasilan pemberdayaan masyarakat berbasis inklusi sosial dan dukungan kemitraan berkelanjutan. Peran masyarakat Desa Marga Sakti dalam proses pembangunan perpustakaan desa dapat dilihat dari antusiasme warga saat mengikuti diskusi atau rapat desa untuk membahas rencana pembangunan perpustakaan desa. Dalam pengembangan perpustakaan desa, masyarakat berusaha menjadikan perpustakaan sebagai pusat kegiatan dengan memanfaatkan ruangan dan bahan bacaan yang tersedia di perpustakaan. Pengelolaan perpustakaan melibatkan anggota masyarakat. Perpustakaan Desa Sumber Ilmu di Desa Marga Sakti dalam pemberdayaan masyarakat memiliki tiga peran yaitu peran pendidikan, peran Sumber Daya Manusia, dan peran ekonomi, peran kultural. Kegiatan untuk peran pendidikan adalah adanya program kegiatan bimbingan belajar dengan difasilitasinya mobil perpustakaan keliling, untuk peran SDM program kegiatannya adalah adanya kegiatan pelatihan seni tari dan seni budaya di perpustakaan, peran ekonomi adalah program pembuatan keripik pare dan budidaya jangkrik, sedangkan pemberdayan kultural yaitu dengan adanya pelestarian seni tradisional yang ada di masyarakat. Untuk terus mengembangkan Perpustakaan Desa Sumber Ilmu agar tetap hidup dan menjadi pusat informasi dan kegiatan desa, maka Perpustakaan Desa Sumber Ilmu membuat beberapa program yang dapat memberikan kontribusi bagi pembangunna desa dan pemberdayaan masyarakat. Program tersebut seperti pembudidayaan jangkrik, pembuatan kripik pare, dan membentuk band pemuda desa. Selain itu ada beberapa kegiatan dalam rangka menumbuhkan minat baca masyarakat seperti mendongeng (story telling), perpustakaan keliling, dan kampung baca. Pemberdayaan yang dilakukan oleh Perpustakaan Sumber Ilmu yang berbasis Inklusi Sosial dapat dilihat dari beberapa bidang, seperti ekonomi, sosial, budaya. Perekonomian masyarakat dapat terbantu dengan hadirnya perpustakaan ini, karena dengan memanfaatkan bahan bacaan di perpustakaan, masyarakat mendapat ilmu baru yang dapat diterapkan secara langsung dan dapat menambah penghasilan pokok masyarakat. Dalam bidang sosial, masyarakat berusaha menjadikan perpustakaan sebagai pusat kegiatan desa karena lokasi nya yang cukup strategis. Dalam bidang budaya, salah satu kegiatan yang dilakukan perpustakaan yaitu mengajak anak-anak desa untuk belajar budaya tradisional salah satunya lewat tarian, di mana setiap hari minggu anak-anak akan diajarkan menari tarian tradisional hingga kreasi. Dengan konsep inklusi sosial, perpustakaan tidak hanya berdiri sendiri namun mendapat dukungan besar dari masyarakat khususnya dan beberapa pihak yang berkepentingan (stake holder) seperti Pemerintah Daerah, Karang Taruna, PKK, dan Perusahaan PT. Djuanda Sawit Lestari.