Pembuatan Model Pemberdayaan Masyarakat Pesisir Sesuai Profesi Menggunakan Pendekatan Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial
Universitas Islam Negeri Sultan Maulana Hasanuddin Banten
Abstrak
Penelitian ini menjelaskan mengenai pembuatan model pemberdayaan masyarakat pesisir sesuai profesi dengan menggunakan pendekatan perpustakaan berbasis inklusi sosial. Penelitian ini mengambil kasus yang berada di Banten Lama Kota Serang Provinsi Banten. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mencari model pemberdayaan masyarakat yang tepat, yang disesuaikan dengan profesi yang ada di masyarakat pesisir. Pendekatan perpustakaan berbasis inklusi sosial sebagai cara untuk memberdayakan masyarakat sebagai upaya peningkatan kesejahteraan hidup. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif deskriptif dengan menekankan fungsi dan peran perpustakaan sebagai upaya peningkatan keterlibatan masyarakat dalam hal kesejahteraan. Hasil dari penelitian ini berupa model pemberdayaan masyarakat dalam kategori masyarakat pesisir yang sesuai dengan profesi yang dikerjakan oleh masyarakat. Perpustakaan dalam konteks terkecil diwakili oleh sebuah perpustakaan dengan penamaan taman baca masyarakat yang menjadi agen perubahan dalam masyarakat pesisir. Kesimpulan dalam penelitian ini adalah model perpustakaan berbasis inklusi sosial yang disesuaikan dengan profesi masyarakat ini disesuaikan dengan penekanan kolaborasi antara perpustakaan daerah, perpustakaan desa dan taman baca masyarakat. Selain itu juga, model pemberdayaan masyarakat ini
Abstract
This research explains the development of a model for empowering coastal communities based on their professions using a socially inclusive library approach. The case study was conducted in Banten Lama, Kota Serang, Banten Province. The objective of this research is to find an appropriate model for empowering the community, tailored to the existing professions in coastal communities. The socially inclusive library approach is employed as a means to empower the community and improve their well-being. The research method used in this study is descriptive qualitative research, focusing on the functions and roles of libraries in increasing community engagement in terms of well-being. The findings of this research present a model for empowering coastal communities based on their respective professions. In the smallest context, the library is represented by a community reading park, which serves as an agent of change in the coastal community. The conclusion in this study is that the social inclusion-based library model is adapted to community professions adapted to the support of collaboration between regional libraries, village libraries and community reading library. In addition, this community empowerment model is described in three models according to the profession, namely the community empowerment model for the fisherman profession, the trade profession and the tour guide profession.
Keywords:
Masyarakat Pesisir
· Model Pemberdayaan
· Inklusi Sosial
Introduction
Verry Mardiyanto: Pembuatan Model Pemberdayaan... dijabarkan dalam tiga model sesuai profesi yaitu model pemberdayaan masyarakat profesi nelayan, profesi pedagang dan profesi pemandu wisata. Kata kunci: Masyarakat Pesisir; Model Pemberdayaan; Inklusi Sosial A. Pendahuluan Kemajuan perekonomian menjadi tolak ukur daerah untuk dapat bersaing dengan daerah lain. Kemajuan perekonomian juga dapat dijadikan sebagai indeks kesejahteraan masyarakat yang di lihat dari segi pendapatan dan belanja barang yang dilakukan oleh masyarakat. Kemajuan perekonomian seringkali disematkan sebagai kemajuan bangsa yang didasarkan dari meningkatnya daya beli masyarakat. Kemajuan perekonomian juga dapat di lihat dari segi pemberdayaan masyarakat yang dilakukan oleh pemerintah atau masyarakat daerah tersebut dalam menciptakan kesejahteraan sosial secara bersama-sama. Artinya masyarakat dan pemerintah sadar akan memberdayakan masyarakat sekitar dengan tujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya dengan berbagai cara dan perlakuan sesuai dengan minat dan tujuan daerah untuk mencapai keberhasilan baik dari segi ekonomi, sosial dan budaya serta teknologi informasi kekinian. Pemberdayaan masyarakat dapat dilakukan dengan berbagai cara, salah satu caranya adalah melalui perpustakaan. Pemberdayaan masyarakat ini setidaknya bermaksud untuk memberikan kemampuan berupa kreatifitas dalam melakukan sesuatu kegiatan sehingga dapat memberikan nilai tambah pada objek yang dikerjakan. Misalkan masyarakat membutuhkan kemampuan pemasaran online, maka perpustakaan hadir di masyarakat tersebut untuk membantu pelatihan pemasaran online, konteks kemampuan ini disesuaikan dengan kebutuhan yang masyarakat inginkan yang disesuaikan dengan objek kegiatan yang perlu nilai tambah dan bermanfaat pada nilai jual objek berupa jasa atau produk. Makna perpustakaan ini menjadi inovasi baru untuk membantu nilai tambah dengan memanfaatkan koleksi perpustakaan, sarana dan prasarana perpustakaan, akses internet dan kemampuan pustakawan dalam mengolah nilai jual suatu produk dan jasa. Perpustakaan berbasis inlusi sosial merupakan salah satu perwujudan perpustakaan dari sudut pandang pemanfaatan perpustakaan yang mengedepankan konsep penyebaran pengetahuan. Menurut Sardjoko dalam paparannya di acara rakornas perpustakaan menjelaskan mengenai arah kebijakan dari poin pertama, yaitu pengembangan transformasi pelayanan perpustakaan berbasis inklusi sosial, melalui (a) pemerataan layanan perpustakaan berbasis inklusi sosial, (b) peningkatan akses literasi informasi terapan dan inklusif, (c) pendampingan masyarakat untuk literasi informasi, (d) peningkatan pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi, dan (e) perkuatan kerja sama dan jejaring perpustakaan dengan berbagai lembaga pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat (Sardjoko, 2018). Arah kebijakan tersebut merupakan sumber sasaran dan kebijakan pembangunan perpustakaan yang ditujukan untuk meningkatkan kualitas pelayanan perpustakaan berbasis inklusi sosial untuk kesejahteraan, dengan indikator kegemaran membaca, pemustaka atau pengunjung perpustakaan memanfaatkan perpustakaan sebagai pusat literasi informasi dan pelayanan perpustakaan berbasis inlusi sosial. Kebijakan perpustakaan berbasis inklusi sosial menjadi kebijakan untuk peningkatan pembangunan sumberdaya manusia yang menjadikan program ini sebagai program prioritas nasional dengan berkolaborasi bersama-sama, sinergitas antara perpustakaan, stakeholder dan masyarakat. Latar belakang dari transformasi layanan perpustakaan untuk kesejahteraan masyarakat juga dibahas dalam acara Rakerpus IPI XXII dan Seminar Ilmiah Nasional IPI oleh Kepala Biro Hukum dan Perencanaan Perpusnas Joko Santoso menyatakan sesuai dengan RKP 2019, sasaran pembangunan nasional perpustakaan adalah peningkatan 128 Tik Ilmeu, Vol. 7, No. 1, 2023 kualitas sumber daya manusia dan perbaikan kesejahteraan rakyat. Kedua sasaran ini dapat diwujudkan dengan menjadikan perpustakaan sebagai pusat literasi informasi dan pusat kegiatan informasi. Capaian sasaran ini dapat dilihat dari indeks kegemaran membaca, jumlah pemustaka, akses layanan, dan jumlah perpustakaan umum yang memberikan layanan inklusi sosial. Program dan kegiatan Prioritas Nasional 2019 adalah pembangunan manusia melalui pengurangan kemiskinan dan peningkatan pelayanan dasar yang terdiri dari tiga skala prioritas nasional, yaitu literasi informasi terapan dan inklusif, pendampingan masyarakat untuk literasi informasi dan pemerataan layanan perpustakaan berbasis inklusi sosial. Menurut Joko, transformasi perpustakaan yang dapat dibagi menjadi tiga bagian. "Pertama, pusat ilmu pengetahuan (inovasi), kedua, pusat kebudayaan (pelestarian dan pemajuan), dan yang ketiga adalah pusat kegiatan masyarakat (pemberdayaan) (Tuasamu, 2019). Skala pembahasan dari paparan tersebut menjadikan program perpustakaan berbasis inklusi sosial berkolaborasi bersama masyarakat pedesaan atau masyarakat yang mampu mengembangkan kesejahterannya secara mandiri dengan modal pendampingan dari pustakawan yang sudah dilatih dan diberikan pengetahuan mengenai program perpustakaan berbasis inklusi sosial. Selain itu, dalam penelitian mengenai stategi transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial di Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah Kabupaten Siak dijelaskan mengenai empat strategi yang menjadi langkah pasti untuk melakukan program inklusi sosial ini yaitu analisis lingkungan, kedua yaitu tahapan perumusan strategi, ketiga yaitu implementasi strategi dengan salah satu kegiatan yaitu promosi, anggaran dan pembuatan standar operasional prosedur dan keempat yaitu evaluasi strategi (Mhd Ardi Wiranda, 2022). Solusi dalam memberdayakan masyarakat desa, salah satunya dengan penggunaan dana desa. Dana desa ini dapat digunakan untuk membantu pengelolaan perpustakaan desa. Dana desa menjadi alasan lainnya, yaitu untuk membantu dalam penyerapan anggaran dan pemanfaatan perpustakaan desa. Perpustakaan desa dalam kaitannya program perpustakaan berbasis inklusi merupakan perpustakaan ujung tombak ke masyarakat, artinya perpustakaan desa ini dekat di masyarakat karena faktor lokasi. Sinergitas perpustakaan desa dalam penelitian ini adalah untuk memaksimalkan manfaat dari perpustakaan desa dalam menciptakan kesejahteraan masyarakat setempat. Komponen pelayanan perpustakaan desa dengan dukungan kebijakan pemerintah setempat dan sarana prasarana pendukung program merupakan alasan lainnya dalam menggambarkan model pemberdayaan yang ingin diketahui dan dikaji lebih lanjut dalam ruang lingkup perpustakaan berbasis inklusi sosial. Indonesia memiliki beragam pemberdayaan masyarakat yang berpotensi dalam meningkatkan budaya dan perekonomian masyarakat. Salah satunya berada pada Kecamatan Kasemen, Kota Serang, Provinsi Banten. Secara garis besar dalam gambaran umum yang diambil dari laporan Kecamatan Kasemen dalam angka tahunan 2019, dari data BPS Kota Serang tahun 2019 (Badan Pusat Statistik, 2019). Kecamatan Kasemen memiliki luas wilayah 56,36 Km2. Ibukota Kecamatan Kasemen terletak pada jarak ± 9 Km dari ibukota Serang. Bentuk topografi wilayah Kecamatan Kasemen sebagian besar merupakan dataran, dengan ketinggian rata-rata 500-700 m dari permukaan laut, dengan rata-rata curah hujan ± 7,52 mm/tahun. Kecamatan Kasemen merupakan wilayah pembangunan bagian utara dari kota Serang. Wilayah Pembangunan Bagian Utara ini diarahkan dengan fungsi utama pariwisata cagar budaya dan cagar alam, pelabuhan, perdagangan dan jasa, perumahan dan berbagai fasilitas umum. Di wilayah Kecamatan Kasemen melintas sebuah sungai yang cukup besar dan terkenal yaitu Sungai Cibanten yang bermuara di Karangantu yang ada di wilayah Kecamatan Kasemen. Kecamatan Kasemen memiliki Cagar Budaya Banten Lama dan Cagar Alam Pulau Dua. Cagar Budaya Banten Lama ini merupakan tempat ziarah yang banyak dikunjungi oleh 129 Verry Mardiyanto: Pembuatan Model Pemberdayaan... peziarah baik dari daerah Banten sendiri maupun dari luar daerah Banten, serta masih banyak peninggalan sejarah di masa Kesultanan Banten yang ada di wilayah Kecamatan Kasemen, Kota Serang, Provinsi Banten. Model pemberdayaan masyarakat pesisir menjadi kajian masyarakat yang mengedepankan mata pencahariannya dari sektor kelautan dan sektor lainnya seperti perdagangan dan wisata. Sektor pencaharian yang menjadi tulang punggung perekonomian di setiap daerah pesisir. Pemberdayaan ini dipandang perlu karena potensi yang dimiliki dari masyarakat banten lama untuk berkembang sebagai pemandu wisata atau belajar untuk berinovasi dari keberagaman produk perikanan yang harapannya produk perikanan tersebut dapat dijadikan salah satu cara untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir. Model pemberdayaan masyarakat dengan pendekatan transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial akan membantu meningkatkan kualitas hidup dan kesejahteraan masyarakat pengguna perpustakaan, melalui pengembangan perpustakaan yang lebih mengutamakan kepada program pemberdayaan masyarakat (Kurniasih & Saefullah, 2021). Jika menelisik lebih jauh lagi, masyarakat banten lama merupakan masyarakat yang mempunyai peninggalan sejarah yang beragam tempat wisata keagamaan, seperti keberadaan Masjid Agung Banten, Vihara Avalokitesvara, Benteng Speelwijk, Benteng Surosowan, Museum Kepurbakalaan, Masjid Baiturahman Kampung Bugis Banten dan tempat-tempat peninggalan lainnya. Kedepanya kemajuan atau ramainya dari wisata religi, wisata sejarah dan perikanan menjadi tolak ukur untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat banten lama yang berada di Kecamatan Kasemen, Kota Serang. Terlebih lagi jika disinergitaskan dengan urgensi sektor pariwisata dengan kelautan serta religi. Hasilnya tidak lain maka akan menjadi daerah yang mengandalkan pariwisata, religi dan kelautan dalam menopang kehidupan masyarakat, sehingga ciri khas dari Kota Serang akan tertuju terhadap daerah Banten Lama. Masyarakat banten lama atau masyarakat yang berdomisili tinggal di daerah banten lama mempunyai keunikan tersendiri, yaitu keberagaman wisata religi dan budaya setempat. Wisata religi dan mata pencaharian nelayan menjadi salah satu sumber mata pencaharian yang mendominasi di masyarakat banten lama. Selain itu juga, pemberdayaan masyarakat pesisir dalam model pemberdayaan masyarakat yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan hidup dari sektor pariwisata religi dan sejarah serta dari sektor kelautan sebagai nelayan atau sebagai wisata kelautan, ditambah lagi dengan pendekatan perpustakaan yang saat ini familiar dengan program perpustakaan berbasis inklusi sosial. Perpustakaan yang menjadi media di dalam masyarakat untuk dapat menjembatani kemampuan atau potensi yang ada di masyarakat untuk dapat berinovasi dan berkreatifitas sehingga memunculkan produk- produk dan jasa dengan nilai lebih yang nantinya dapat bermanfaat bagi masyarakat itu sendiri. Adapun untuk model pemberdayaan ini berasal dari temuan penelitian di lapangan dengan bermaksud untuk menggambarkan pembuatan model dari hasil temuan di lapangan. Model pemberdayaan ini disesuaikan dengan profesi yang ada dan dilakukan oleh masyarakat di pesisir banten, khususnya di daerah Kasemen Kota Serang. Informasi-informasi yang didapatkan dilakukan penyimpulan sesuai dengan pola model pemberdayaan masyarakat yang akhirnya dapat dijadikan model atau pedoman dalam melakukan pemberdayaan masyarakat pesisir. Dari hal tersebut dapat diturunkan menjadi model pemberdayaan sesuai profesi-profesi yang ada, model ini dihubungkan dengan manfaat yang diberikan dalam program perpustakaan berbasis inklusi sosial. 130
Method
B. Metode Penelitian Penelitian ini menggunakan metodelogi penelitian kualitatif. Menurut Anggito mengenai penelitian kualitatif adalah pengumpulan data pada suatu latar alamiah dengan maksud menafsirkan fenomena yang terjadi dimana peneliti adalah sebagai instrument kunci, pengambilan sampel sumber data dilakukan secara purposive dan snowball, teknik pengumpulan data dengan trianggulasi (gabungan). Analisis data bersifat induktif/ kualitatif, dan hasil penelitian kualititatif ini lebih menekankan makna daripada generalisasi (Anggito, 2018). Penelitian kualitatif ini mengambil jenis penelitian kualitatif secara deskriptif. Penelitian menjelaskan dengan mengacu pada temuan-temuan yang ada di lapangan dan dikembangkan dengan sudut pandang keilmuan perpustakaan sebagai media dalam inklusi sosial serta sudut pandang taman bacaan masyarakat sebagai ranah untuk memediasi peneliti ke masyarakat. Tahapan penelitian yang dilakukan melalui tahapan pra-lapangan, lapangan atau pekerjaan dan tahapan analisis data. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan teknik wawancara struktur dengan memberikan pedoman wawancara yang sudah disusun berdasarkan permasalahan yang ada dan dikaitkan dengan konsep perpustakaan berbasis inklusi sosial kepada narasumber terpilih. Narasumber yang dijadikan informan adalah dari pihak perpustakaan kota serang, perpustakaan daerah provinsi, taman baca masyarakat dan masyarakat sekitar. Adapun untuk narasumber yang dipilih adalah pustakawan di perpustakaan Kota Serang, pustakawan di perpustakaan daerah provinsi Banten dan pengelola taman baca masyarakat di daerah Karangantu, Kasemen, Kota Serang serta masyarakat yang terlibat dalam profesi yang dijadikan model pemberdayaan masyarakat ini. Wawancara dilakukan secara berkesinambungan yang dimulai dari pustakawan, pengelola taman baca masyarakat dan masyarakat profesi. Analisis data dan interpretasi data yang dilakukan dalam penelitian ini melalui tahapan reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Untuk interpretasi data dilakukan dengan transkrip dan teks serta penelahaan dokumentasi yang didapatkan di lapangan (Rustanto, 2015). Penelitian kualitatif deksriptif yang dilakukan oleh peneliti dengan beberapa tahapan yaitu tahapan survei permasalahan, kemudian peneliti melakukan pengambilan data dari narasumber yang sesuai dengan mencirikhaskan narasumber yang minat dan mempunyai andil dalam masyarakat pesisir banten lama, kemudian peneliti juga mengambil data dari pemangku kebijakan, dalam hal ini adalah perpustakaan yang nantinya menjadi agen perubahan untuk mengaplikasikan program transformasi perpustakaan berbasikan inklusi sosial. Selanjutnya peneliti melakukan gambaran penelitian dengan menggambarkan model yang tepat dengan permasalahan yang terjadi di masyarakat pesisir tersebut. Peneliti berupaya untuk melakukan keabsahan data dengan menekankan dari hasil masalah yang sudah diketahui dan dilakukan analisis data, kemudian peneliti menganalisis model pemberdayaan tersebut yang sesuai dengan program transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial. 131 Verry Mardiyanto: Pembuatan Model Pemberdayaan... Tahapan dalam penelitian ini Survei Permasalahan Analisis Kajian Model Pemberdayaan Masyarakat Analisis Fungsi Perpustakaan Dalam Merealisasikan Model Pencocokan Model yang Tepat Rekomendasi Model Pemberdayaan Masyarakat Untuk Pemerintah, Masyarakat dan Komunitas Gambar 1. Tahapan Proses Penelitian Penjelasan dalam gambar 1, tahapan proses penelitian. Penelitian diawali dari survei permasalahan yang ada di masyarakat pesisir banten lama. Hasil dari survei permasalahan ini dijadikan agenda selanjutnya untuk memulai kajian model pemberdayaan yang tepat dan sesuai dengan permasalahan yang ada. Setelah dilakukan kajian model yang tepat maka peneliti menggambarkan komponen yang terlibat di dalam model tersebut, seperti: komponen kemampuan masyarakat dalam bidang jasa/produksi. Selanjutnya peneliti menggambarkan model pemberdayaan masyarakat pesisir banten lama dengan pendekatan perpustakaan berbasis inklusi sosial yang di dalamnya menjadikan perpustakaan sebagai tempat untuk meningkatkan keterampilan masyarakat dalam jasa/produksi barang agar mempunyai nilai tambah dan menghasilkan pendapat yang meningkat. Model ini disesuaikan dengan komponen pekerjaan dalam jasa atau produksi yang ada di masyarakat tersebut. Hasil akhir dari model pemberdayaan masyarakat ini adalah terciptanya masyarakat yang mandiri dan mampu berkembang sesuai dengan perkembangan zaman teknologi informasi saat ini. Sebagaimana kegiatan yang dilakukan oleh masyarakat. Kegiatan sebagai identik untuk melakukan pekerjaan yang dapat berupa jasa dan produk. Kegiatan tersebut bertujuan untuk meningkatkan taraf hidup, dalam hal ini adalah pendapatan perkapita rumah tangga. Survei permasalahan menjadi hal yang pertama, kemudian dilakukan analisis kajian model pemberdayaan yang sesuai dengan profesi yang dikerjakan oleh masyarakat. Dengan fokus pada tiga profesi yakni nelayan, pedagang dan pemandu wisata. Kemudian dilakukan pencocokan yang model yang tepat dan sesuai dengan kelompok masyarakat, terlebih jika di daerah pesisir mayoritas nelayan. Berikutnya analisis fungsi perpustakaan dalam merealisasikan model yang sudah dibuat. Perpustakaan menjadi media untuk mensikronisasikan dan meningkatkan kapasitas kemampuan masyarakat. Perpustakaan berkolaborasi bersama pemerintah setempat dari pemerintah kota atau kabupaten hingga ke pemerintah desa. Kolaborasi ini menjadikan kolaborasi yang terstruktur antara pemerintah dan perpustakaan. Hal ini berkaitan dengan perpustakaan yang pengelolanya mampu berkoneksi dan berjaring dengan profesi-profesi lainnya yang mampu membangkitkan kreativitas seperti membangun jaringan dengan lembaga swadaya masyarakat, komunitas dan bahkan bakti sosial (Rhoni, 2018). Pendanaan kegiatan dan pemantauan menjadi andil bersama. Penelitian ini di bagi menjadi tiga tahapan untuk dapat memberikan hasil yang sesuai dengan rencana penelitian. Penelitian ini juga menjelaskan tiga hal besar yang sesuai dengan rumusan masalah penelitian. Pertama yaitu penjelasan mengenai permasalahan masyarakat pesisir banten lama dalam meningkatkan taraf hidup masyarakat. Kedua kajian model pemberdayaan masyarakat pesisir banten lama dalam meningkatkan taraf hidup masyarakat melalui pendekatan program perpustakaan berbasis inklusi sosial. Ketiga Analisa dari strategi perpustakaan daerah kota serang dalam mengaplikasikan program perpustakaan berbasis inklusi sosial di masyarakat pesisir banten lama. Tiga hal besar tersebut dapat ditelusuri dalam penelitian.Setidaknya dari tiga tahapan tersebut menjadi jawaban dari tantangan pembangunan dengan layanan perpustakaan berbasis inklusi sosial yang mengedepankan peran sebagai lembaga penyedia informasi untuk dapat di akses dari berbagai kalangan masyarakat tanpa ada batasan sekat, seperti usia, gender dan strata sosial di masyarakat (Prasetyo & Utami, 2020)
Discussion
C. Pembahasan Konsep pemberdayaan masyarakat dalam penelitian ini merujuk pada proses untuk memberdayakan masyarakat dengan pendekatan program perpustakaan berbasis inlusi sosial. Pemberdayaan masyarakat secara harfiah bermanfaat untuk masyarakat itu sendiri dengan mencoba model-model yang tepat dan sesuai dalam masalah yang sedang diberdayakan. Proses pemberdayaan masyarakat ini dilakukan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat tersebut. Konsep pemberdayaan ini menjelaskan bahwa pembangunan akan berjalan lancar apabila masyarakat diberikan kesempatan atau berhak mengelolah sumber daya yang ada untuk kepetingan masyarakat itu sendiri. Dengan kata lain memberdayakan adalah meningkatkan kemampuan dan meningkatkan kemandirian masyarakat (Rahim et al., 2014). Memberdayakan tidaklah semudah kata untuk memberdayakan masyarakat, namun dengan konsep yang matang dan sesuai dengan permasalahan yang ada maka dapat dilakukan analisis dari pemecahan masalah tersebut yang nantinya masyarakat dapat diberdayakan dengan potensi-potensi yang dimiikinya dengan tujuan utamanya meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara umum. Pemberdayaan masyarakat sendiri diciptakan oleh perubahan dan tuntutan zaman. Artinya keperluan memberdayakan masyarakat ini untuk sebuah inovasi dan pengembangan sumber daya manusia dalam konteks masyarakat umum. Jika masyarakat tersebut sudah berdaya maka inovasi akan muncul, namun setidaknya pendekatan-pendekatan keterampilan dan peningkatan pengetahuan merupakan sumber utama dalam konsep pemberdayaan masyarakat. Cara lain dari memberdayakan masyarakat dapat dilihat dari potensi yang dimiliki oleh masyarakat tersebut, dengan potensi tersebut dapat dijadikan produk unggulan yang mudah diberdayakan, misalkan dalam masyarakat pesisir adalah potensi wisata kelautan dan wisata produk makanan laut. Pemberdayaan pada produk wisata tersebut dengan inovasi dan terobosan baru dapat dimungkinkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat setempat. Sebelum membahas lebih lanjut mengenai pemberdayaan masyarakat maka perlu dijabarkan mengenai konsep literasi informasi. Konsep ini difungsikan sebagai konsep untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat supaya mendapatkan pengetahuan baru dengan membaca, akses internet dan peningkatan pengetahuan informasi terkini. Literasi informasi yang bermula dari minat baca seringkali disebut sebagai sebuah perilaku pengguna atau perilaku seseorang untuk mau atau ingin dalam memperoleh pengetahuan dan mendapat pengetahuan dengan proses membaca. Artinya literasi informasi adalah peningkatan gaya hidup untuk memperoleh pengetahuan dengan cara membaca. Membaca buku apapun sesuai dengan minat dan keperluan serta kebutuhan orang. Buku yang disediakan adalah buku-buku yang sesuai dengan keinginan dan rentang umur pembaca. 133 Verry Mardiyanto: Pembuatan Model Pemberdayaan... Literasi informasi pada penelitian ini berbasiskan pada pemberdayaan masyarakat untuk gemar membaca agar memperoleh pengetahuan yang sesuai dengan keperluannya. Yuliant menjelaskan mengenai literasi adalah sebuah konsep yang memiliki makna yang kompleks, dinamis, yang diinterpretasikan dan didefinisikan secara beragam dan dari berbagai sudur pandang. Secara istilah literasi berasal dari kata "literatus" yang merupakan Bahasa Latin dan memiliki arti "a learned person" atau orang yang belajar, sedangkan dalam Bahasa Indonesia litersi diartikan sebagai keberaksaraan atau melek aksara yaitu kemampuan menulis dan membaca. Literasi secara sederhana didefinisikan sebagai kualitas atau kemampuan melek huruf/aksara yang di dalamnya meliputi kemampuan membaca dan menulis. Sedangkan untuk macam-macam literasi di bagi menjadi literasi informasi, literasi media, literasi komputer, dan literasi ekonomi sehingga literasi dapat diartikan melek informasi, melek teknologi, berpikir kritis, dan peka terhadap lingkungan (Yuliant, 2018). Literasi informasi dimaksudkan sebagai upaya untuk pemenuhan kebutuhan kehidupan dalam hal pengetahuan. Hal tersebut dapat membuat masyarakat dengan mudah memperoleh akses informasi yang tujuannya untuk sadar akan informasi yang diterima dan peka terhadap lingkungannya. Selain itu juga, masyarakat menjadi paham akan dunia baru, terlebih lagi yang berhubungan dengan peningkatan nilai tambah dalam diri masyarakat seperti hal nya peningkatan kemampuan dengan membaca, berdiskusi, dan berselancar di dunia internet, yang semuanya dibantu dengan media perpustakaan. Setelah membahas mengenai Konsep transformasi perpustakaan menjadi isu terkini dan strategis karena masuk ke dalam program prioritas nasional dalam upaya untuk mewujudkan generasi yang unggul. Generasi yang mempunyai kepekaan terhadap lingkungan sekitar dan generasi yang mempunya pengetahuan yang luas dengan memanfaatkan media-media teknologi informasi untuk mendapatkan informasi tersebut. Konsep perpustakaan yang bertransformasi saat ini menjadi perpustakaan yang mengedepankan manfaat dari layanannya dirasakan langsung di masyarakat. Fenomena transformasi peran perpustakaan dari hanya sebagai pusat informasi melainkan perpustakaan dapat berperan dalam upaya memberdayakan masyarakat dengan memberikan informasi tepat guna, terutama pemberdayaan masyarakat desa menyebabkan munculnya perpustakaan-perpustakaan desa (Diana et al., 2021). Sinergitas antara penggunaan teknologi informasi, layanan perpustakaan dan kepekaan sosial atas permasalahan yang terjadi di masyarakat dengan digabungkan dengan pemenuhan literasi informasi menjadikan sebuah konsep perpustakaan bertransformasi atau dikenal sebagai transformasi perpustakaan berbasisi inklusi sosial. Kedepannya lembaga perpustakaan dengan sistem dan motif pelayanan seperti ini dapat dengan mudah membuat masyarakat lebih berdayaguna dan bermanfaat atas kebutuhan hidupnya. Persamaan dengan manajemen pengetahuan dengan penyeberan informasi ini adalah irisan dalam transformasi perpusutakaan. Sebagai mana di kegiatan dalam perpustakaan untuk mengatur pengetahuan dengan cara bedah buku, diskusi informasi dan digitalisasi produk baik itu buku dan non buku (Rodin, 2014). Hal tersebut menjadi salah satu kegiatan transformasi perpustakaan era saat ini. Banyak contoh dan hasil dari perpustakaan berbasis inklusi sosial namun banyak juga model yang digunakan dalam pemberdayaan tersebut, diantaranya adalah pemberdayaan masyarakat melalui komunitas yang digerakkan oleh CSR perusahaan dalam melakukan pemberdayaan masyarakat atau dari komunitas binaan lembaga pemerintah. Salah satu contoh dari Perpustakaan Sumber Ilmu Desa Marga Sakti telah menerapkan konsep Inklusi Sosial dengan model proses pemberdayaan dimulai dari pemberdayaan masyarakat, praktik dari kegiatan membaca, memiliki nilai tambah dan keuntungan, lalu hasilnya adalah gemar membaca (Diana et al., 2021). Contoh lainnya mengenai pemberdayaan yang dilakukan oleh perusahaan dalam sebuah kegiatan implementasi Corporate Social Responsibility dalam bidang pendidikan melalui 134 Tik Ilmeu, Vol. 7, No. 1, 2023 pemberian bantuan berupa penyediaan dan peningkatan fungsi perpustakaan, sebagai contoh Corporate Social Responsibility (CSR) dalam bidang pendidikan dilakukan oleh Coca Cola Foundation Indonesia melalui Program PerpuSeru berhasil untuk membangun infrastruktur dan meningkatkan fungsi perpustakaan, serta membantu peningkatan kualitas kompetensi dari pustakawan (Kurniawan et al., 2020). Konsep transformasi perpustakaan mengedepankan pembinaan masyarakat dengan bantuan perpustakaan. Komponen dari perpustakaan seperti pencarian sumber pustaka, buku-buku fisik dan elektronik, akses ke sumber informasi dan ruang perpustakaan dijadikan sebagai media untuk memberdayakan masyarakat. Namun tidak sebatas komponen fisik yang ada diperpustakaan saja, melainkan komponen dari manfaat elektronik dan kepiawaian pustakawan dalam memberikan pemahaman terhadap sumber informasi dan perlakuan khusus seperti membuat sumber informasi itu lebih implikatif terhadap permasahalan masyarakat adalah pokok utama dalam transformasi perpustakaan. Transformasi pustakawan adalah dasar utama dalam melakukan transformasi perpustakaan. Menurut Wahid dijelaskan mengenai pustakawan (di berbagai jenis institusi perpustakaan) sebaiknya meningkatkan kompetensi diri dan melakukan transformasi perpustakaan untuk persiapan menghadapi disrupsi. Rekomendasi Wahid terhadap pustakawan adalah pustakawan perlu mengikuti perkembangan teknologi digital library 4.0 dan memperhatikan tiga hal, yaitu penguatan pengetahuan, membangun konektivitas, dan berorientasi pada kebutuhan komunitas. Hal tersebut dilakukan agar pustakawan siap menghadapi disrupsi dan pelayanan perpustakaan yang diberikan kepada pengguna berdampak langsung bagi kesejahteraan masyarakat (Nashihuddin & Suryono, 2018). Arti dari konsep trasnformasi perpustakaan adalah berawal dari transformasi pustakawan yang sadar akan keberlangsungan perpustakaan untuk dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai tempat pengembangan diri dan memajukan kesejahteraan masyarakat. Selain itu juga, transformasi perpustakaan adalah terbosan atau inovasi yang hadir dalam dunia perpustakaan, yang notabene perpustakaan sebagai tempat layanan pinjam kembali dan baca koleksi perpustakaan melainkan denga transformasi perpustakaan maka perpustakaan dapat membantu masyarakat untuk peningkatan kemampuan individu yang tujuan utamanya adalah berbasis inklusi sosial atau dapat dikatakan peningkatan kemampuan individu untuk dapat mensejahterakan diri dan masyarakat. Sebuah alur penelitian yang mempunyai siklus lingkaran dan permulaan di awali dengan survei permasalahan. Permasalahan yang ditemukan dalam penelitian ini sesuai dengan pendapat para informan. salah satu informan yang diwawancari adalah pendiri dari Taman baca Jawara Serang, yaitu Badri atau sering dipanggil A Badri atau Kang Badri. A'Badri menjelaskan bahwa permasalahan yang dihadapi oleh masyarakat daerah sini, daerah pesisir banten lama tidak lepas dari kesejahteraan seperti perekonomian dan kemampuan literasi informasi. Oleh karena itu, Badri menjelaskan mengenai sejarah dan asal usul dari adanya Teras Baca Jawara ini. Salah satunya adalah ketika itu, la masih berstatus mahasiswa dan menjadi ketua organisasi di kampusnya mengadakan pengabdian di masyarakat, dan mengambil tempat di kampung halamannya dengan mengadakan program baca, seperti emndongeng atau berliterasi, intinya membantu masyarakat yang tidak mampu untuk menikmati Pendidikan. Dan akhirnya teras baca jawara hingga sekarang semakin melejit dan eksistensi di kota Serang maupun di nasional dengan brand teras baca jawara serang. Bisa di cari di Instagram dan di dunia maya lainnya bahwa teras baca jawara serang sudah membuat gebrakan-gebrakan yang lumayan cepat dan inovatif terkait dari membumikan literasi informasi di kalangan masyarakat, terutama di masyarakat banten lama. Lain halnya dengan informan lainnya yang saat ini menjabat sebagai ketua teras baca jawara, yaiut Lidya. Lidya wanita keturunan suku Bugis yang tinggal di perumahan 135 Verry Mardiyanto: Pembuatan Model Pemberdayaan... mina bakti karangantu, lahir di sana dan besar di sana merasakan sekali seluk beluk kehidupan masyarakat pesisir, terutama daerah karangantu dan sekitaran banten lama. Lidya mengungkapkan bahwa peramsalahan yang timbul di masyarakat saat ini tidak jauh dari rendahnya dalam menikmati Pendidikan terutama di kalangan anak-anak dan remaja, serta lidya mengungkapkan bahwa daerah sini banyak orang bererita bahwa daerah yang tertinggal di serang, padahal bisa di lihat sendiri daerah sini berpotensi menjadi daerah maju yang ditopang dari pariwisata, perikanan dengan nelayannya dan perdagangan dengan mebel kayu serta pasarnya. Namun jika datang kesini, banyak masyarakat yang belum sejahtera. Seperti bisa di lihat dari bangunan yang dimilikinya hingga pekerjannya. Oleh karena itu, dari dua informan yang bermukim di daerah Karangantu, daerah pesisir Banten Lama yang menjadi lokasi objek penelitian ini, maka dapat disimpulkan bahwa masalah kesejahteraan, pendidikan, akses terhadap teknologi informasi adalah masalah pokok yang sampai saat ini menjadi masalah atau kendala untuk dapat membuat masyarakat menjadi maju dan sejahtera. Profesi apa saja yang diteliti dalam penelitian ini? Profesi yang ada dalam kawasan pesisir, mayoritas adalah profesi nelayan. Profesi nelayan menjadi model utama dalam mencoba untuk menggambarkan pemberdayaan masyarakat. Dengan profesi nelayan yang mayoritas maka akan terlihat mengenai nelayan yang mempunyai nilai lebih dengan bantuan inklusi sosial dari perpustakaan. Profesi berikutnya adalah pedagang. Mengapa pedagang? Karena dalam sebuah strukutr masyarakat desa, dalam hal ini adalah masyarakat yang berada di akwasan pesisir banten, maka akan dijumpai pedagang. Pedagang ini memang terlihat sebagai profesi yang mayoritas ada di semua daerah, baik itu di pedesaan pesisir dan di pedesaaan pegunungan serta di daerah perkotaan. Profesi pedagang ini di daerah pesisir berada di pasar dan berada di setiap pinggir jalan dengan akses hilir mudik kendaraan. Bahan yang dihual dapat berupa sayur mayur, kelontongan, bahan pokok dan sebagainya hingga pada alat kelistrikan, bahan bagunan dan serba-serbi pemenuhan kehidupan manusia. Profesi pedagang yang diteliti menyasar pada pedagang hasil olahan laut dan pedagang pasar yang mempunyai nilai khas dalam daerah karangantu atau di daerah banten lama. Pedagang ikan menjadi sasaran dalam penelitian. Bagaimana meningkatkan nilai jual dan pemasarannya dengan bantuan program perpustakaan inlusi sosial? Dapat dijelaskan dalam bagian selanjutnya. Profesi selanjutnya adalah pengusaha wisata. Pengusaha wisata ini identik dengan pemilik perahu dan bekerja sebagai antar dan jemput wisatwan. Wisatawan dapat berupa pemancing, masyarakat umum atau sewa berhari-hari untuk ekspedisi di beberapa pula di daerah laut jawa. Model pemberdayaan masyarakat sesuai profesi pekerjaan 1. Profesi nelayan Profesi nelayan yang diketahui sebagai masyarakat yang bekerja di laut dalam hal ini mencari ikan dengan berbagai cara, yaitu dengan pancing, jaring, tembak dan tambak di laut dengan teknik tambak apung, baik itu skala besar atapun kecil. Potensi ikan yang didapatkan nelayan tergantung dari cuaca, alat tangkap, musim ikan, musim air atau arus laut dan bulan yang sesuai dengan wajtu melaut. Nelayan dapat merencanakan dan memetakan waktu yang tepat untuk mencari ikan, mengolah, menjual dan memperbaiki perahu sesuai dengan waktu dan musim yang terjadi. Pekerjaan nelayan ini identik dengan tangkapan ikan dan hasil laut sejenisnya. Dari tangkapan tersebut dapat diambil manfaat untuk dijual langsung ke pasar atau konsumen atau dilakukan pengolahan menjadi hasil jadi, sehingga mempunyai nilai tambah. 2. Profesi pedagang Profesi pedangan ini dalam konteks masyarakat pesisir melakukan aktifikas jual beli dalam barang konsumsi primer, sekunder dan tersier. Namun dalam konteks pesisir 136 Tik Ilmeu, Vol. 7, No. 1, 2023 banten lama ini, pedagang yang dimaksud adalah pedagang dengan aktifitas jual beli cinderamata, oleh-oleh, barang unik, dan barang-barang yang dibutuhkan oleh wisatawan di Banten Lama. Ketika hari-hari besar keagamaan dan hari libur nasional, banten lama mempunyai daya tarik tersendiri sehingga profesi pedagang ini mempunyai pendapatan yang lebih dari hari biasanya. 3. Profesi pemandu wisata Profesi pemandu wisata dalam hal ini dapat berhubungan dengan pemandu wisata di laut, atau bangungan-bangunan fenomenal di daerah banten lama. Pemandu wisata ini diperlukan bagi wisatawan yang berkunjung untuk mendapatkan informasi lisan dan struktur sehingga menikmati wisata di banten lama menjadi tidak hanya biasa namun luar biasa. Apa yang dimaksud dengan model pemberdayaan masyarakat sesuai profesi ini? Model pemberdayaan masyarakat sesuai profesi ini adalah model yang disesuaikan dengan kemampuan dan minat serta ketertarikan masyarakat yang pada khususnya menyasar untuk pengembangan keprofesian masyarakat. Profesi ini mengarah kepada profesi yang ada di lokasi penelitian. Profesi yang ada di lokasi penelitian menurut penjabaran dari ketua Teras Baca, Lailatul adalah "Profesi di daerah karangantu atau di sekitar Banten Lama ini meliputi profesi nelayan, pedagang, mebel atau buruh kayu serta wisata, namun mayoritas profesi disini adalah nelayan dan pedagang, yang bisa dilihat dari daerah pantai gope hingga di pasar karangantu". Profesi-profesi yang ada pada lokasi penelitian ini, disimpulkan menjadi 3 besar, yaitu profesi nelayan, profesi pedagang dan profesi wisata. Profesi nelayan ini adalah masyarakat yang mencari ikan di laut dan mempunyai hasil pendapatan dari laut berupa ikan laut serta ikan payau. Profesi pedagang ini adalah profesi yang berada di pasar serta mempunyai tempat atau lapak untuk menggelar dagangannya dan di beli oleh masyarakat dan yang ketiga profesi wisata, profesi wisata ini adalah profesi yang bergerak dalam bidang pariwisata baik itu wisata bahari dan wisata religi yang ada di daerah Kawasan banten lama. Wisata bahari ini adalah masayrakat yang mempunyai perahu untuk disewakan atau dijadikan alat transportasi untuk mengantar wisatawan atau pengunjung untuk menikmati teluk di kawasan pantai gope dan sekitarnya. Selain itu juga, profesi wisata ini meliputi wisata hutan bakau yang notabene menjadi wisata jalan kaki sejnak menikmati keindahan keanekaragaman yanga da di hutan bakau pantai gope. Berikut ini adalah gambaran yang diajukan untuk menjadi model pemberdayaan masyarakat dengan pendekatan perpustakaan berbasikan inklusi sosial yang sesuai dengan permasalahan-permasalahan yang telah dijabarkan. Untuk profesi lainnya tidak sedikit berbeda dengan model pemberdayaan profesi nelayan, perbedaan terletak pada kegiatan yang dilakukannya dan hasil yang diharapkannya. Seperti untuk wisata adalah jasa maka program mengarah ke jasa, sedangkan nelayan pada produksi ikan di laut dan cara penjualannya. 137 Verry Mardiyanto: Pembuatan Model Pemberdayaan... Masyarakat Profesi Nelayan Koleksi Buku Sarana Pendukung Tingkat Kesejahteraan Perpustakaan Daerah (Kota - Desa) Komunitas Masyarakat Gambar 2. Model Pemberdayaan Masyarakat Profesi Nelayan Penjelasan model pemberdayaan masyarakat profesi nelayan bermula dari kebutuhan masyarakat yang profesi nelayan untuk dapat meningkatkan kualitas hidup dengan cara pendekatan perpustakaan berbasis inklusi sosial. Model ini hasil dari gambaran yang dilakukan oleh peneliti dalam menyimpulkan hasil temuan peneliti di lapangan yang berkaitan dengan model pemberdayaan masyarakat sesuai profesi nelayan. Hal pertama yang dilakukan adalah perpustakaan kota melalui agen-agen perubahan di kelurahan atau desa seperti perpustakaan kelurahan atau desa serta taman baca masyarakat yang sudah di bina oleh perpustakaan kota meneliti terlebih dahulu. Survei awal sebagai Langkah untuk memberikan program yang sesuai dengan kemampuan warga. Karena profesi nelayan maka kegiatan-kegiatan sebagai berikut ini yang dapat dilakukan: 1. Pengolahan hasil ikan laut menjadi produk olahan kemasan Pengolahan ini meliputi tangkapan ikan yang mempunyai nilai ekonomis atau permintaan tinggi di masyarakat dibuat menjadi kemasan yang praktis, siap dibawa, aman, halal dan dapat dikonsumsi secara instan. 2. Peningkatan kemampuan dalam berlayar dan mencari ikan di laut Kemampuan dalam berlayar terfokus pada peralatan navigasi yang elektrobik, tidak hanya dengan kompas, angin laut dan pembacaan cuaca sekitar namun dengan bantuan teknologi berlayar menjadi aman dan nyaman. Pencarian ikan juga diperlukan dalam mencari ikan yang tepat konsumsi dan tidak menangkap ikan yang dilarang oleh pemerintah. 3. Promosi dan pemasaran hasil ikan laut Kegiatan promosi dan pemasaran hasil ikan laut ini dilakukan dengan branding, pembuatan kemasan dan informasi-informasi sehingga tercipta oleh-oleh khas dari daerah Banten Lama dalam produk ikan atau produk hasil laut. 4. Strategi dalam pembukuan hasil penjualan ikan dan dihubungkan dengan modal dalam mencari ikan Stategi pembukuan ini ditujukan untuk meningkatkan sadar tertib administrasi, dengan menuliskan dalam kertas dan dikonversi ke excel atau aplikasi penjualan maka dapat dilihat kurva dari modal, biaya operasional, hasil penjualan dan hasil keuntungan yang didapatkan oleh nelayan. 5. Perbaikan jala dengan bahan yang ramah lingkungan Kegiatan perbaikan jala ini dimaksud untuk memberikan edukasi kepada nelayan ketika cuaca buruk dan tidak bisa melaut, maka perbaikan jala dengan pendekatan ramah lingkungan diperlukan, seperti hal nya dengan bahan-bahan plastik yang dapat di daur ulang atau tambang yang kuat dan rangkaian simpul jaring yang terstruktur rapih dan siap digunakan. 138 Tik Ilmeu, Vol. 7, No. 1, 2023 Berkaitan dengan komunitas masyarakat dengan diwakili taman baca masyarakat atau komunitas lainnya yang sudah dilakukan pembinaan oleh perpustakaan kota untuk memberikan pendidikan dan pelatihan terkait dari program- program yang cocok diterapkan di masyarakat. Tidak hanya itu saja, akses ke modal keuangan dalam hal ini perbankan dapat terjalin dengan bantuan kredit usaha rakyat dengan pelatihan yang diberikan dalam ranah digitalisasi serta bauran produk tangkap hasil nelayan (Rahim et al., 2014). Sarana prasarana juga dikelola dan digunakan untuk menjadi alat mencapai tujuan dari program perpustakaan berbasiskan inklusi sosial. Sarana prasarana yang dibutuhkan seperti: komputer, jaringan internet, printer, dan buku-buku pendukung dari kegiatan tersebut. Setelah dilakukan pendidikan dan pelatihan maka tahapan selanjutnya adalah monitoring dan evaluasi sebagai bahan untuk menentukan kegiatan selanjutnya dan perpustakaan memastikan bahwa masyarakat sudah mandiri dan dapat melakukan kegiatan peningkatan kemampuan yang akhirnya dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Tingkat literasi masyarakat memainkan peran penting dalam kunci kesuksesan program pemberdayaan masyarakat dengan pendekatan perpustakaan berbasis inklusi sosial ini (Husna et al., 2021). Tantangan lainnya jika masyarakat sudah dilepas atau selesai dari program ini adalah ide kreatif dari masyarakat tersevut. Ide kreatif ini difunsgikan agar dapat bertahan dari era persaingan usaha dan percepatan teknologi informasi. Ide kreatif ini berupa penggunaan sosial media yang viral untuk kebutuhan promosi hasil usaha nelayan tangkap. Selain itu juga, peningkatan efisiensi dan keefektifan proses pembuatan produk menjadi hal utama supaya dapat menekankan biaya produksi. Model kedua mengenai profesi sebagai pedagang. Berikut ini adalah gambar model pemberdayaan masyarakat. Perpustakaa n Bersama Komunitas Media, Metode dan Agenda Hasil Peningkatan Kesejahteraa Masyarakat Profesi Pedagang Gambar 3. Model Pemberdayaan Masyarakat Profesi sebagai Pedagang Model ini hasil dari gambaran yang dilakukan oleh peneliti dalam menyimpulkan hasil temuan peneliti di lapangan yang berkaitan dengan model pemberdayaan masyarakat sesuai profesi pedagang. Penjelasan model pemberdayaan masyarakat yang berprofesi sebagai pedagang bermula dari pemetaan pedagang dengan maksud untuk memetakan dagangan yang sama. Pemetaan ini digunakan agar pedagang tersebut mempunyai satu visi kesamaan dagangan. Pemetaan pedagang ini dimulai dari menggandeng komunitas sekitar seperti pada komunitas pojok budaya atau pojok kerja yang mempunyai visi misi yang sama dalam mendidik masyarakat agar terciptanya masyarakat yang literat dan sejahtera. Selanjutnya adalah hasil yang diharapkan dari pemetaan ini adalah pedagang dalam melakukan kegiatan perpustakaan melalui kegiatan inklusi sosial dengan penekanan terhadap media isi informasi yang sama, yaitu terhadap spesifikasi dagangan atau hasil produk yang dijual. Setelah dipetakan dari 139 Verry Mardiyanto: Pembuatan Model Pemberdayaan... barang atau dagangan yang dijual, maka dilanjutkan dengan menentukan media, metode dan agenda program yang sama dengan barang yang dijual. Berikut ini adalah kegiatan- kegiatan yang dilakukan, yang disesuaikan dengan barang yang dijual oleh pedagang. Data ini berasal dari lapangan. Adapun metode kegiatan dan program yang dilakukan dapat berupa: 1. Penjualan online barang pakaian produk khas banten lama melalui pembuatan akun sosial media. Kegiatan pembuatan akun sosial media ini menyasar kepada pedagang yang belum mempunyai sosial media atau belum dimanfaatkan sosial media untuk pemasaran barang jualan tersebut. namun tidak hanya sosial media melainkan toko online e- commerce seperti shoppe, Tokopedia dan lainnya diperlukan agar toko online terdeteksi diberbagai platform jual beli online. 2. Pelatihan manajemen keuangan agar terciptanya alur kas keuangan usaha yang mendukung UMKM. Pelatihan keuangan difungsikan agar modal, hasil penjualan dalam laba bersih terukur dengan pasti sehingga UMKM atau pedagang dapat merencanakan di masa yang akan datang untuk menambah modal atau giat usaha agar target terlampui. 3. Promosi online secara lokal dengan menggandeng ojek online dan jasa ekspedisi paket sehari tiba. Promosi online ini dalam konteks kedaerahan atau lokal dengan maksud didaftarkan kedalam aplikasi jualan di grab, gojek dan maxim dalam divisi market atau toko atau sebutannya goshop. UMKM ini menjadi mudah dan terdeteksi masyarakat sekitar yang terjangkau jika dibutuhkan segera. 4. Peningkatan kemampuan pemasaran secara offline dan online dengan mengedepankan kearifan lokal budaya banten. Hal ini disesuaikan dengan kemampuan penggiat elektronik atau generasi muda di Banten yang mampu membuat aplikasi jual beli online. 5. Pemberian jasa bimbingan pemahaman berdagang dalam era digital secara elektronik melalui whatssapp grup sehingga terciptanya komunikasi yang intens dalam memecahkan masalah dan bertukar produk serta pelanggan. Jasa bimbingan ini seperti halnya privat antara perpustakaan dan pedagang ketika pedagang menemukan masalah dalam produk dan proses produk untuk inovasi. Kegiatan selanjutnya adalah pemetaan dalam menentukan media yang tepat dan membuat agenda program yang disesuaikan dari hasil dagangan yang dijual. Tahap selanjutnya adalah kegiatan pengevalusian atas program yang dilakukan. Kegiatan ini juga termasuk dalam kegiatan pemantauan dan pembimbingan kepada para pedagang yang sudah menerima pelatihan dan pembekalan keterampilan dalam upaya peningkatan kapasitas diri. Peningkatan kapasitas diri tidak lain adalah untuk memberikan pengetahuan, masukan ilmu dan kemampuan teknik dalam berdagang. Dalam hal ini adalah lebih menekankan pada aspek penjualan, promosi, keuangan, strategi penggunaan grup whatsapp hingga pada pembelajaran menggunakan buku yang berhubungan dengan produk lokal khas Banten Lama. 140 Tik Ilmeu, Vol. 7, No. 1, 2023 Pemandu Wisata Perpustakaan Bersama Komunitas Media Peningkatan Kesejahteraa Kesejahteraan Sosial Gambar 4 Model Pemberdayaan Masyarakat Profesi sebagai Pemandu Wisata Model ini hasil dari gambaran yang dilakukan oleh peneliti dalam menyimpulkan hasil temuan peneliti di lapangan yang berkaitan dengan model pemberdayaan masyarakat sesuai profesi pemandu wisata Penjelasan model pemberdayaan masyarakat yang berprofesi sebagai pemandu wisata ini tidak lain sama dengan model pemberdayaan masyarakat berprofesi pedagang. Namun ada perbedaan model ini. Perbedaan tersebut terletak di pemandu wisata objek launnya. Artinya jika di pedagang dengan berbagai macam dagangan maka di pemandu wisata ini dengan satu dagangan yaitu objek wisata yang dijual. Dapat dikembangkan dengan paket-paket wisata dengan harga yang terjangkau dan target yang dilakukan. Hal pertama yang dilakukan dalam model pemberdayaan masayarakat dengan pendekatan perpustakaan berbasis inklusi sosial dengan subjek masyarakat berprofesi sebagai pemandu wisata adalah perpustakaan bekerjasama dengan komunitas lokal dalam hal ini adalah masyarakat yang sadar akan wisata di banten lama perlu peningkatan baik itu dari segi pelayanan, keselamatan, kebersihan, harga dan umpan balik berupa rasa kagum dan ingin datang kembali ke tempat-tempat wisata yang ada di Banten Lama. Pembuatan media peningkatan kesejahteraan dengan dasar pembuatan beberapa kegiatan yang berhubungan dengan pemandu wisata seperti, perencanaan tur wisata, harga yang terjangkau dan fasilitas serta kegiatan pendekatan dengan lingkungan hidup seperti wisata menanam mangrove. Berikut ini adalah detail dari kegiatan yang dapat dilaksanakan pendekatan perpustakaan berbasis inklusi sosial berprofesi sebagai pemandu wisata: 1. Pelatihan pembuatan paket wisata yang sesuai dengan harga dan fasilitas. Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan pengetahuan dan pengalaman dalam pembuatan paket-paket wisata yang berdaya saing, bukan saling berebut konsumen namun menjadi sepakat satu dalam komunitas agar konsumen dapat menikmati wisata dengan harga dan fasilitas yang dibayarkan. Artinya ada harga dan ada paket yang diberikan, disesuaikan dengan harga yang disepakati oleh komunitas tersebut. 2. Promosi online dengan berbagai media sosial dan media pembelanjaan online serta kerjasama dengan hotel/penginapan/transportasi lokal dan nasional serta stakeholder pariwisata. Kegiatan ini diberikan trik dalam membuat promosi online kepada pemandu wisata. Pertama yang dilakukan adalah pembuatan email, media sosial dan akun di e- commerce serta website tersendiri untuk memberikan informasi wisata, selanjutnya adalah trik dan menyambungkan atau memediasi mitra kerja dalam dunia pariwisata serta pemangku kebijakan. 3. Peningkatan kemampuan berbahasa inggris atau bahasa asing dan sikap serta perilaku dalam berinteraksi dengan wisatawan. 141
Conclusion
D. Kesimpulan Pembuatan model pemberdayaan masyarakat sesuai profesi yang dijelaskan dalam ketiga model sesuai profesi, yaitu profesi nelayan, profesi pedagang dan profesi pemandu wisata ini disesuaikan dengan keadaan masyarakat pada saat itu. Model ini dapat diimplementasikan sesuai dengan harapan dengan media perpustakaan berbasis inlusi sosial dapat tercipta kesejahteraan bagi masyarakat. Model ini dapat berbeda di lain daerah tergantung dengan survei awal atas permasalahan yang terjadi. Kolaborasi menjadi kunci utama untuk aksi dari model pemberdayaan. Kolaborasi dari pemerintah, komunitas dan masyarakat. Pemerintah melalui perpustakaan daerah, perpustakaan desa, komunitas dengan taman baca masyarakat dan masyarakat dengan pemuda atau karang taruna. Kesejahteraan menjadi tujuan utama untuk mengakselerasi kehidupan yang lebih baik lagi dan perpustakaan menjadi media untuk mengarahkan kehidupan yang lebih baik. Peneliti menyarankan untuk model pemberdayaan masyarakat sesuai profesi dengan pendekatan perpustakaan berbasis inklusi sosial dalam konteks masyarakat pesisir ini dikembangkan sesuai dengan permasalahan yang ada. Hal ini berguna untuk pemberian solusi bagi masyarakat pesisir sehingga terciptanya kesejahteraan masyarakat yang dicita-citakan melalui profesi pekerjaan yang ditingkatkan melalui teknologi dengan bantuan perpustakaan dan bantuan komunitas serta masyarakat sekitar yang sadar untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat dapat dilakukan dengan berbagai cara, salah satunya dengan pendekatan perpustakaan berbasis inklusi sosial.