Evaluasi Program Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial Pada Perpustakaan Umum Kota Batu Berdasarkan Model Evaluasi Kirkpatrick
Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang; Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang; Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang; Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang
Abstrak
Perpustakaan berbasis inklusi sosial merupakan perpustakaan yang berperan aktif dalam menyediakan informasi terhadap masyarakat luas tanpa adanya diskriminasi terhadap kelompok tertentu. Bertujuan untuk menguatkan peran perpustakaan umum dalam memajukan sumber daya manusia yang memiliki kemampuan literasi tinggi dengan diimbangi kreativitas. Berdasarkan hasil penelitian ini, inklusi sosial di Perpustakaan Umum Kota Batu sendiri terdiri dari empat layanan kegiatan yaitu teknik decoupage, cooking, English Club, dan e-Book. Dari segi pendukung kegiatan, sarana dan prasarana yang dimiliki oleh Perpustakaan Umum Kota Batu cukup memadai baik dari tempat maupun alat dan bahan yang dibutuhkan untuk menjalankan kegiatan inklusi sosial. Inklusi sosial yang diadakan oleh Perpustakaaan Umum Kota Batu belum dilaksanakan secara maksimal sehingga untuk menuju tujuan akhir berupa peningkatan kesejahteraan belum tercapai. Pada kenyataannya terdapat informan yang tidak menerapkannya karena berbagai macam hal dan hanya menjadikannya sebagai sebuah knowledge.
Abstract
A library based on social inclusion is a library that plays an active role in providing information to the wider community without discrimination against certain groups. It aims to strengthen the role of public libraries in advancing human resources who have high literacy skills by balancing creativity. Based on the results of the study in the form of evaluation of activities using the kickpatrick model, social inclusion in the Batu City Public Library itself consists of four activity services, namely decoupage techniques, cooking, English Club, and e-Book. In terms of supporting activities, the facilities and infrastructure owned by the Batu City Public Library are quite adequate both from the place and the tools and materials needed to carry out social inclusion activities. The social inclusion held by the Batu City Public Library has not been implemented optimally so that to achieve the ultimate goal of improving welfare has not been achieved. In reality, there are informants who do not apply it for various reasons and only make it a knowledge.
Keywords:
Social Inclusion
· Public Library
· Kirkpatrick Evaluation
Introduction
Perpustakaan adalah lembaga informasi yang mengelola berbagai bahan pustaka, baik berupa artikel jurnal maupun buku yang diatur sistematis yang kemudian dapat digunakan sebagai sumber informasi bagi masyarakat. Seperti yang tertuang dalam Undang-Undang No. 43 Tahun 2007 yang memuat gambaran perpustakaan bahwa perpustakaan merupakan salah satu pusat informasi, sumber ilmu pengetahuan, pelestarian budaya, rekreasi, penelitian, dan beberapa macam jasa layanan yang ada. Artinya perpustakaan dituntut untuk bisa memberikan pelayanan profesional kepada pemustaka. Perpustakaan merupakan salah satu organisasi informasi yang fungsinya sebagai penyedia informasi dan penyebar informasi. Salah satu jenis perpustakaan yang mudah untuk ditemukan adalah perpustakaan umum. Perpustakaan umum memiliki hubungan erat dengan masyarakat luas atau masyarakat informasi sehingga perpustakaan umum dituntut untuk melakukan perubahan dalam melayani masyarakat supaya dapat menjaga eksistensinya serta memberikan pengaruh yang positif terhadap masyarakat. Perubahan yang dimaksud ialah perubahan perpustakaan berbasis inklusi sosial dengan menjadikan program pemberdayaan literasi dan pengentasan kemiskinan (Rachman, Sugiana, and Rohanda 2019). Perpustakaan berbasis inklusi sosial merupakan usaha menarik masyarakat untuk terlibat dalam kegiatan sosial tanpa memandang usia, jenis kelamin, suku, ras, agama, bahasa di Indonesia sehingga menjadikan masyarakat yang inklusif (Marwiyah 2019). Dengan adanya perubahan tersebut mampu menjadikan perpustakaan sebagai wadah masyarakat dalam proses belajar sepanjang hayat serta dapat meningkatkan kesejahteraanya. Tujuan dari program transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial yaitu untuk menyediakan sumber-sumber bacaan informasi dan pengetahuan, memfasilitasi masyarakat dengan berbagai kegiatan pelatihan dan keterampilan untuk pemberdayaan sosial ekonomi masyarakat. Sumber-sumber bacaan informasi dan pengetahuan merupakan koleksi perpustakaan baik dalam bentuk cetak maupun elektronik yang tidak hanya berguna untuk menambah wawasan melainkan dapat digunakan sebagi sarana menambah keterampilan. Perpustakaan berbasis inklusi sosial ini diharapkan mampu menjawab kebutuhan masyarakat luas dan memberikan citra positif dalam pembangunan masyarakat. Adanya program kegiatan perpustakaan berbasis inklusi sosial tidak lepas dengan yang namanya evaluasi. Evaluasi merupakan upaya untuk menilai hasil atau dampak dari suatu program atau aktivitas dengan cara membandingkan antara tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya dan bagaimana cara pencapaianya (Wartiningsih 2021). Ruang lingkup dari evaluasi program yaitu mulai dari input, proses sampai dengan hasil dari suatu program yang diselenggarakan. Wujud dari evaluasi adalah sebuah komentar atau pertimbangan dari tiga evaluator dalam mengambil keputusan. Diantara beberapa indikator adanya evaluasi yaitu keberhasilan dari program kegiatan, tercapainya tujuan, tercapainya materi, dan kemampuan peserta kegiatan (Sugiyo, Zulfika, and Widayanti 2018). Salah satu tujuan perpustakaan berbasis inklusi sosial yaitu untuk meningkatkan literasi informasi berbasis teknologi serta upaya untuk meningkatkan kualitas dan kesejahteraan masyarakat. Pentingnya melakukan evaluasi bagi sebuah lembaga dalam sebuah program diantaranya yaitu untuk mengetahui apakah tujuan dari program tersebut sudah tercapai atau terpenuhi dengan baik dan juga untuk memperbaiki sekaligus mengarahkan pelaksaan program untuk kedepanya. Selain itu, evaluasi juga dapat digunakan untuk mengetahui efektifitas sekaligus dampak dari sebuah program. Supaya nantinya dapat diketahui kelebihan beserta kekurangan dalam pelaksanaan program yang kemudian diidentifikasi sehingga dapat dilakukan proses perbaikan dan ditindaklanjuti secara cepat. Mengingat pentingnya evaluasi dalam suatu program khususnya evaluasi program perpustakaan berbasis inklusi sosial. Maka peneliti melakukan penelitian di lingkungan Perpustakaan Umum Kota Batu guna melihat kelebihan beserta kekurangan program perpustakaan berbasis inklusi sosial terhadap pemustaka. Hal ini selaras dengan munculnya program tersebut sejak tahun 2020 pada Perpustakaan Umum Kota Batu yang mana dalam pelaksanaanya bersamaan dengan pandemi Covid 19. Berdasarkan uraian diatas, permasalahan dalam penelitian ini adalah bagaimana penerapan program perpustakaan berbasis inklusi sosial pada perpustakaan umum kota Batu apakah program tersebut berjalan sesuai dengan perencanaan awal dan bagaimana evaluasi pelaksanaan program perpustakaan berbasis inklusi sosial pada perpustakaan umum kota Batu berdasarkan model evaluasi Kirkpatrick yang terdiri dari empat level evaluasi diantaranya yaitu reaction (reaksi), learning (pembelajaran), behavior (Perilaku), dan result hasil). Sedangkan tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui penerapan sekaligus evaluasi pelaksanaan program perpustakaan berbasis inklusi sosial pada perpustakaan umum kota Batu.
Method
Jenis penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif. Menurut Bodgan dan Taylor menyatakan bahwa "metodologi kualitatif merupakan tatacara penelitian yang menghasilkan data deskriptif dalam bentuk kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang serta perilaku yang bisa diamati"(Bogdan & Taylor, 2010). Objek dari penelitian ini adalah evaluasi pelaksanaan program perpustakaan berbasis inklusi sosial pada Perpustakaan Umum Kota Batu. Sedangkan subjek dari penelitian ini adalah pimpinan perpustakaan, staff dan pustakawan, serta pemustaka yang berada di Perpustakaan Umum Kota Batu.Pada penelitian ini sumber data yang digunakan adalah sumber data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh secara langsung dari beberapa narasumber dengan melakukan wawancara. Sedangkan untuk data sekunder diperoleh dari berbagai sumber seperti buku, jurnal, dan dokumen-dokumen lainnya yang berhubungan dengan penelitian. Tahap pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan metode observasi, wawancara, dan dokumentasi. Observasi dalam penelitian ini dilakukan dengan cara mengamati langsung kegiataninklusi sosial di Perpustakaan Umum Kota Batu. Wawancara pada penelitian ini dilakukan dengan cara terstruktur kepada pimpinan perpustakaan, staff dan pustakawan, serta pemustaka yangberada di Perpustakaan Umum Kota Batu. Sedangkan untuk metode dokumentasi menurut Arikunto dalam (Riyanda, 2020) menyatakan bahwa metode dokumentasi merupakan pencarian data mengenai variabel yang biasanya dalam bentuk catatan, transkrip, buku, surat kabar, majalah, prasasti, notulen rapat, agenda dan sebagainya. Analisis data merupakan proses penyusunan data secara sistematis yang didapatkan dari hasil wawancara, observasi, dan metode pengumpulan data lainnya sehingga dapat dimengerti dan disebarkan kepada masyarakat umum (Sugiyono, 2013). Dalam penelitian ini, analisis data yang digunakan adalah analisis data kualitatif menurut Miles dan Huberman yang terdiri dari tiga tahapan diantaranya yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan (Huberman & Miles, 1984).
Result & Discussion
Layanan Inklusi Sosial Perpustakaan Umum Kota Batu Program inklusi sosial pada Perpustakaan Umum Kota Batu di mulai sejak tahun 2020 yang bersamaan dengan pandemi Covid-19. Pada awal bulan Juli 2022, Perpustakaan Umum Kota Batu berhasil meraih penghargaan terbaik dalam implementasi perpustakaan berbasis inklusi sosial di Jawa Timur yang diselenggarakan oleh Perpusnas RI dalam kegiatan Peer Meeting Lerning Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial Jawa Timur. Dalam pengimplementasian program inklusi sosial ini, Perpustakaan Umum Kota Batu memiliki beberapa kegiatan yang dilaksanakan, diantaranya yaitu: Pelatihan Decoupage Pelatihan Decoupage merupakan salah satu kegiatan inklusi sosial yang diadakan oleh Perpustakaan Umum Kota Batu yang dilakukan dengan cara memanfatkan barang-barang bekas dengan menggunakan teknik decoupage, yaitu dengan cara menghias barang-barang bekas tersebut dengan menempelkan potongan-potongan tissu yang bergambar atau bermotif ke permukaan barang-barang bekas tersebut. Media yang digunakan dalam pelatihan Decoupage ini bervariasi mulai dari toples, talenan, vas bunga, botol kaca, dan media lainnya. pada pelatihan Decoupage ini, para peserta yang mengikuti pelatihan akan diajarkan bagaimana cara memanfaatkan barang-barang bekas dengan menggunakan teknik Decoupage, dimulai dari tahap menyiapkan alat dan bahan yang dibutuhkan, mengecat barang-barang bekas dengan warna dasar (putih), mengoles lem pada barang bekas yang sudah dicat dengan warna dasar (putih), menempelkan tissu bergambar atau bermotif pada permukaan barang bekas, dan terakhir mengoles pernis pada barang bekas yang sudah ditempel gambar bermotif agar terlihat rapi dan berkilau. Pada pelatihan Decoupage ini, Perpustakaan Umum Kota Batu menyiapkan beberapa alat dan bahan yang dibutuhkan pada saat melakukan kegiatan pelatihan tersebut. Alat dan bahan yang disiapkan oleh pihak perpustakaan berupa cat dasar, lem, pernis, tissue bergambar atau bermotif, barang-barang bekas (botol, talenan, dan toples), kuas, spons, hairdryer, dan wadah atau gelas plastik. Namun, ada beberapa peserta juga yang membawa beberapa peralatan sendiri contohnya seperti kuas. Hal tersebut dilakukan karena untuk mengantisipasi apabila pada saat pelatihan terdapat peralatan yang kurang, sehingga pelatihan dapat berjalan dengan lancar. Pelatihan Memasak (Cooking Class) Pelatihan memasak (cooking class) yang diadakan oleh Perpustakaan Umum Kota Batu ini berupa pelatihan memasak mulai dari proses memasak sampai proses menghidangkan makanan dan menghias makanan, diantaranya yaitu pelatihan membuat kue kering dan pelatihan membuat siomay. Fasilitas yang disediakan oleh pihak Perpustakaan Umum Kota Batu diantaranya berupa beberapa alat dan bahan yang dibutuhkan pada saat pelatihan memasak. Pada pelatihan memasak ini akan dibimbing oleh seorang tutor yang akan mempraktikan bagaimana langkah-langkah membuat resep makanan tersebut didepan peserta yang mengikuti pelatihan memasak. Selanjutnya, para peserta akan mengikuti setiap langkah yang dipraktikkan oleh tutor mulai dari menyiapkan alat dan bahan sampai dengan menghidangkan dan menghias makanan. Selain itu, pada saat pelatihan memasak ini juga disampaikan dengan 2 bahasa yaitu menggunakan bahasa Inggris dan bahasa Indonesia dengan tujuan agar para peserta dapat mengikuti pelatihan memasak sekaligus belajar bahasa Inggris. Pelatihan Bahasa Inggris (English Club) Perpustakaan Umum Kota Batu juga memiliki pelatihan bahasa Inggris yang diadakan selama dua minggu sekali yang dilaksanakan sejak akhir tahun 2020 hingga saat ini. Pelatihan bahasa Inggris ini diikuti oleh peserta yang mayoritas dari pegawai negeri di sekitar Balai Kota Among Tani Batu dan ada juga beberapa masyarakat umum. Pada pelatihan bahasa Inggris ini didampingi oleh seorang tutor yang merupakan salah satu staff dari Perpustakaan Umum Kota Batu. Pelatihan bahasa Inggris ini berupa latihan percakapan berbahasa Inggris dengan setiap peserta yang mengikuti pelatihan, sehingga para peserta diharapkan dapat berbicara bahasa Inggris dengan baik dan benar. Selain itu, pada pelatihan ini juga terdapat Fun Games seperti bermain tebakan kosa kata berbahasa Inggris dengan setiap peserta. Pelatihan Bahasa Inggris (English Club) ini sebelumnya hanya diikuti oleh pegawai negeri disekitar Balai Kota Among Tani Batu saja dan sedikit dari masyarakat umum yang mengikuti pelatihan. Hal tersebut dikarenakan kegiatan English Club ini tidak dianggarkan oleh pihak perpustakaan, sehingga pihak perpustakaan tidak berani merekrut banyak peserta dalam pelaksanaannya. Pada kegiatan English Club ini maksimal 20 orang peserta pada setiap pertemuannya. Namun, pada saat pelatihan berlangsung biasanya hanya 10-11 peserta yang mengikuti kegiatan English Club ini. Untuk cara bergabung dalam kegiatan English Club ini sangat mudah, yaitu dengan cara bergabung melalui link WhatsApp grub yang sudah dishare. Sosialisasi E-book Pada setiap program kegiatan inklusi sosial yang dilaksanakan oleh Perpustakaan Umum Kota Batu, pihak perpustakaan akan mensosialisasikan mengenai instalasi aplikasi E-book Perpustakaan Umum Kota Batu. Aplikasi E-book ini merupakan aplikasi perpustakaan digital yang dikembangkan oleh Perpustakaan Umum Kota Batu. Aplikasi E-book tersebut dapat diunduh oleh pengguna pada gawai masing-masing melalui Playstore secara gratis. Tujuan perpustakaan menghadirkan aplikasi E-book tersebut diharapkan mampu menambah minat baca masyarakat dan mempermudah masyarakat yang ingin membaca buku tanpa harus datang ke perpustakaan, serta adanya sosialisasi mengenai E-book tersebut dapat mendekatkan masyarakat terhadap budaya literasi. Sosialisasi mengenai instalasi aplikasi E-book tersebut dilakukan disela-sela pelaksanaan kegiatan inklusi sosial lainnya. Biasanya pada sosialisasi tersebut akan dijelaskan bagaimana cara menginstal aplikasi E-book, cara regristasi akun di aplikasi E-book, serta cara meminjam dan mendowload buku yang ada di dalam aplikasi E-book tersebut. Pendukung Kegiatan Inklusi Sosial Sarana dan prasarana di Perpustakaan Umum Kota Batu terutama dalam program inklusi sosial ini sudah cukup memadai, hal tersebut dikarenakan Perpustakaan Umum Kota Batu belum lama ini memiliki gedung baru yang diresmikan beberapa bulan yang lalu. Sarana dan prasarana yang telah tersedia di Perpustakaan Umum Kota Batu diantaranya yaitu, komputer atau personal computer, rak-rak buku untuk koleksi, ruang membaca, mushollah, kamar mandi, ruang khusus anak-anak, dan beberapa sarana lainnya. Pada saat pelaksanaan kegiatan inklusi sosial, Perpustakaan Umum Kota Batu juga akan menyiapkan beberapa sarana dan prasarana yang dibutuhkan pada saat pelaksanaan kegiatan, meskipun ada beberapa sarana dan prasarana lain yang dibawa sendiri oleh peserta yang mengikuti kegiatan inklusi sosial tersebut. Contohnya pada kegiatan pelatihan Decoupage, pihak perpustakaan akan menyiapkan beberapa sarana dan prasarana yang dibutuhkan seperti alat dan bahan yang dibutuhkan pada saat pelaksanaan pelatihan Decoupage tersebut. Namun, ada beberapa alat yang dibawa sendiri oleh peserta contohnya seperti, kuas yang akan digunakan pada saat pelatihan Decoupage. Hal tersebut dilakukan karena untuk mengantisipasi apabila terdapat kekurangan alat dan bahan yang digunakan pada saat pelatihan. Jadi para peserta dihimbau jika ingin membawa sendiri beberapa alat yang dibutuhkan dari rumah agar pada saat pelatihan tidak terhambat dikarenakan kekurangan alat dan bahan yang disediakan. Sumber Daya Manusia (SDM) yang ada di Perpustakaan Umum Kota batu masih kurang memadai, hal tersebut dapat dilihat dari pelaksanaan program kegiatan inklusi sosial yang masih kekurangan SDM. Pada pelaksanaan program inklusi sosial, Perpustakaan Umum Kota Batu memanfaatkan para staf perpustakaan yang memiliki keterampilan yang cocok untuk menjadi pemateri pada kegiatan inklusi sosial di perpustakaan. Kurangnya SDM di perpustakaan mengakibatkan kegiatan inklusi sosial yang dilaksanakan di Perpustakaan Umum Kota Batu masih kurang bervariatif. Hal tersebut dikarenakan di dalam perpustakaan masih kekurangan SDM untuk mengelola program inklusi sosial yang dilaksanakan di Perpustakaan Umum Kota Batu. Selain itu, Perpustakaan Umum Kota Batu juga melakukan beberapa kerja sama dengan pihak atau instansi lain dengan tujuan untuk mengatasi adanya kekurangan Sumber Daya Manusia (SDM) di Perpustakaan Umum Kota Batu ini. Segmen atau Sasaran Kegiatan Perpustakaan sebagai penyelenggara kegiatan berbasis inklusi sosial tentu memiliki segmen atau sasaran kegiatan atau layanan, sehingga semua yang ada di perpustakaan dapat dinikmati oleh masyarakat tanpa terkecuali. Perpustakaan Kota Batu memiliki strategi tertentu dalam menentukan segmen atau sasaran pasar. Diantara strategi yang digunakan yaitu sebagai upaya mendorong peningkatan literasi baik meningkatkan kemampuan dan pemahaman masyarakat. Dengan adanya program perpustakaan berbasis inklusi sosial dapat meningkatkan kemampuan dan keterampilan masyarakat untuk memperoleh kualitas hidup yang lebih baik. Seperti halnya upaya dalam meningkatkan berbagai macam potensi yang dimiliki khususnya masyarakat wilayah Batu serta diimbangi dengan bantuan informasi yang telah disediakan di perpustakaan. Selain itu, perpustakaan berupaya untuk memberikan peluang bagi masyarakat dalam mendapatkan pengetahuan sekaligus melibatkan masyarakat dalam berbagai kegiatan yang ada baik dengan cara menyusun kerjasama maupun cara personal selling. Perpustakaan sebagai lembaga layanan publik yang berasosiasi langsung dengan masyarakat sekitar, tentunya perpustakaan perlu melibatkan masyarakat sebagai upaya membangun layanan yang sesuai dengan kebutuhan pengguna. Perpustakaan Umum Kota Batu menyajikan layanan dengan carapersonal selling atau jemput bola bagi masyarakat tertentu. Selain itu, Perpustakaan Umum Kota Batu juga menyusun sekaligus menjalin kerjasama mulai dari sekolah, masyarakat desa, lembaga atau instansi, sampai dengan komunitas yang ada di wilayah Batu. Dari berbagai rancangan atau upaya tersebut, membuktian bahwasanya pihak terkait berupaya membuka kesempatan atau peluang bagi masyarakat dalam memperoleh informasi sesuai dengan kebutuhanya. Gambar 1. Kegiatan Pelatihan Decoupage Sumber: Peneliti (2022) Dalam menentukan segmen atau sasaran kegiatan ini erat kaitanya dengan upaya perpustakaan dalam menghadirkan layanan yang sesuai dengan kebutuhan informasi masyarakat. Diantara segmen atau sasaran kegiatan inklusi sosial pada Perpustakaan Umum Kota Batu yaitu mulai dari tingkat pendidikan sekolah dasar sampai dengan mahasiswa, pekerja, dan juga Ibu rumah tangga. Perpustakaan Umum Kota Batu berupaya menjalin kerjasama dengan lembaga pendidikan seperti halnya mengadakan kegiatan perpustakaan keliling ke sekolah. Dalam upaya tersebut, Perpustakaan melakukan program pengembangan minat budaya baca dan pengenalan perpustakan. Kegiatan ini meliputi, sosialisasi layanan perpustakaan, pemutaran film, review film, reading time, book review challenge, dan lain-lain. Pengguna remaja dan dewasa (pelajar atau mahasiswa) hingga pekerja (Ibu rumah tangga). Pihak Perpustakaan Umum Kota Batu terus mengembangkan dan meningkatkan layanan supaya tidak tertinggal dan dapat memenuhi kebutuhan informasi masyarakat. Bagi remaja dan dewasa (pelajar/mahasiswa), Perpustakaan Umum Kota Batu menyelenggarakan kegiatan inklusi sosial seperti pelatihan keterampilan decoupage dan juga English Club yang diselenggarakan setiap dua minggu sekali. Tidak hanya itu, kegiatan English Club juga diikuti oleh beberapa Aparatur Sipil Negara (ASN) daerah setempat dan juga pekerja lainya yang berprofesi sebagai guru sekolah. Selain itu, Perpustakaan Umum Kota Batu juga menyelenggarakan kegiatan inklusi sosial berupa Cooking and Craft Class. Adapun peserta dalam kegiatan tersebut merupakan kolaborasi antara Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Batu degan Batu Learn English Community. Selanjutnya, segmen atau sasaran kegiatan decoupage yaitu mulai dari anak-anak sampai dengan pekerja atau bahkan hingga Ibu rumah tangga. Decoupage merupakan salah satu kegiatan yang sering dipraktikkan dalam kegiatan inklusi sosial lainya. Seperti halnya pada kegiatan Cooking and Craft Class, pada kegiatan tersebut peserta diberikan pengetahuan yang mencakup pembelajaran Bahasa Inggris sekaligus praktik pembuatan kue kering dan juga menghias toples dengan teknik decoupage. Evaluasi Program Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial Berdasarkan Model Evaluasi Kirkpatrick Reaction Dalam suatu program yang bertujuan sebagai pembelajaran kepuasan peserta terhadap penyampaian bahan, sarana dan prasarana yang digunakan menjadi salah satu tolak ukur untuk menentukan keberhasilan program tersebut. Partner dalam (Badu, 2013) menjelaskan the interest, attention, and motivation of the participants are critical to the success of any training program, people learn better when they react positively to the learning environment. Dari pernyataan tersebut dapat disimpulkan jika penilaian keberhasilan suatu program pembelajaran berkaitan erat dengan minat, ketertarikan dengan program, dan motivasi dari partisipan. Kepuasan peserta dalam hal ini pemustaka menjadi acuan dalam menentukan tingkat ketercapaian tujuan dari penyelenggaraan kegiatan-kegiatan inklusi sosial ini. Reaksi positif dan antusiasme yang tinggi dari masyarakat Batu untuk berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan inklusi sosial Perpustakaan Umum Kota Batu tentu menjadi harapan bagi pustakawan dan staf yang terlibat. Sebagai partisipan atau pemustaka, reaksi tersebut tentu bisa terwujud dengan melihat berbagai aspek seperti materi yang akan disampaikan, cara penyampaian materi, media yang digunakan untuk menyampaikan materi, fasilitas yang menunjang baik fasilitas perpustakaan secara umum maupun fasilitas penunjang kegiatan inklusi sosial yang diadakan. Tabel 1. Reaction Decoupage: Dari penelusuran lapangan diketahui bahwa decoupage menjadi salah satu kegiatan yang memiliki reaksi yang positif dari peserta kegiatan inklusi sosial. Dari penuturan peserta, kegiatan craft atau pembuatan kerajinan tangan decoupage ini sangat menarik diikuti karena namanya yang masih sangat jarang didengar di kalangan masyarakat. Hal ini menjadi daya tarik sendiri karena banyak calon peserta yang ingin tahu apa itu decoupage dan bagaimana proses pembuatan kerajinan decoupage.sarana dan prasarana yang disediakan oleh Perpustakaan Umum Kota Batu dalam kegiatan pelatihan decoupage ini sangat memadai. Materi dan petunjuk yang disampaikan oleh pemateri yang juga merupakan pustakawan di Perpustakaan Umum Kota Batu juga disampaikan dengan jelas sehingga mudah dipahami dan mudah diikuti. “Penyampaian materi mudah dipahami serta sangat menyenangkan.”(Ibu RA) Antusiasme yang tinggi dari seluruh lapisan masyarakat dan sarana serta prasarana yang memadai membuat pelatihan decoupage ini menjadi kegiatan inklusi yang paling sering diadakan di Perpustakaan Umum Daerah Kota Batu. Cooking: Kegiatan inklusi sosial selanjutnya yaitu kegiatan cooking. Kegiatan ini baru diadakan dua kali oleh Perpustakaan Umum Kota Batu yang pertama yaitu pembuatan kue kering dan kegiatan kedua yaitu pembuatan siomay. Menurut penuturan salah satu staf Perpustakaan Umum Kota Batu, kegiatan ini juga banyak diminati masyarakat khususnya perempuan. Namun, karena adanya keterbatasan sarana dan prasarana serta bahan baku, peserta pada kegiatan ini sangat terbatas. Informan yang mengikuti kegiatan ini mengaku sangat tertarik dengan kegiatan memasak ini karena pemilihan resep yang mudah untuk dibuat ulang di rumah. “…program ini diadakan secara gratis, saya hanya membeli beberapa bahan seperti kuas dan gunting untuk peralatan saat pelatihan.” (Ibu FN) Dalam penyampaian tutorial memasak, informan merasa materi yang disampaikan bisa dipahami namun belum bisa maksimal. Menurut informan, bahasa yang digunakan kurang formal dan penyampaiannya kurang runtut sehingga terkesan kurangnya waktu persiapan. “…bahasanya kurang formal dan mungkin kurang persiapan, materi yang dijelaskan juga tidak runtut.” (Ibu FN) English Club: Selanjutnya, yaitu kegiatan English Club yang menjadi kegiatan inklusi pertama yang diadakan oleh Perpustakaan Umum Kota Batu. Kegiatan ini kebanyakan diikuti oleh ASN yang bekerja di SKPD di Lingkungan Pemerintahan Kota Batu. Menurut penuturan peserta English Club materi yang dibawakan selalu dekat dengan kehidupan sehari-hari dan fokus kepada percakapan sehari-hari sehingga memang sangat diperlukan para peserta English Club.Kegiatan English Club ini juga diselingi dengan fun game sehingga tidak membuat peserta bosan dalam mengikuti kegiatan English Club tersebut. “…penyampaian materi dari pematerinya sangat bagus karena langsung dipraktekkan dan maju satu per satu, jadi sangat mudah untuk dipahami.”(Ibu FN) E-Book: Menurut salah satu informan, informasi yang disampaikan mengenai pengenalan e-Book mudah diterima namun pemaparan mengenai proses instalasi dan aktivasi hingga aplikasi bisa digunakan masih membingungkan karena hanya di share secara verbal tanpa adanya visualisasi. Tidak disediakannya LCD dan proyektor dalam memberi pengetahuan mengenai e-Book Perpustakaan Kota Batu, sehingga membuat peserta kebingungan khususnya bagi peserta yang kurang melek terhadap teknologi. “Pada saat menjelaskan masih kurang jelas karena hanya dijelaskan secara lisan saja.” (Ibu FN) Sumber: Data diolah Peneliti (2022) Learning Pada tahap ini dilakukan evaluasi hasil pembelajaran, dengan mengukur ketercapaian tujuan pembelajaran dan hasil pembelajaran yang diharapkan. Keefektifan program juga diukur dengan tiga aspek yaitu sikap, pengetahuan, dan keterampilan (Nurhayati, 2018). Pada kegiatan inklusi sosial ini diharapkan para peserta dapat meningkatkan kesejahteraan keluarganya baik kesejahteraan ekonomi, kesejahteraan kesehatan, kesejahteraan pendidikan dan lainnya. Tanpa adanya perubahan sikap, pengembangan pengetahuan, dan peningkatan keterampilan pada partisipan maka program dapat dinyatakan gagal. Tabel 2. Learning Decoupage: Pada kegiatan pelatihan decoupage, peserta tentu akan mendapatkan pengetahuan dan keterampilan baru mengenai kerajinan decoupage. Informan yang kami temui mengatakan jika sebelumnya dia belum pernah mendengar bahkan membuat kerajinan menggunakan teknik decoupage tersebut. “Alhamdulillah bertambah ilmu tentunya serta saya jadi memiliki hobi baru juga.” (Ibu EN) Informan mengaku juga mendapatkan pengetahuan baru bahwa teknik decoupage tersebut dapat dipadu padankan dengan teknik pilin menggunakan clay sehingga membentuk suatu kerajinan daur ulang yang tidak hanya lebih indah, namun juga visualisasinya dapat dilihat secara tiga dimensi serta dapat diperjual belikan. Cooking: Selanjutnya, pada kegiatan cooking and craft class yang diadakan Perpustakaan Kota Batu, informan mengaku selain mendapat tambahan keterampilan dalam membuat kue kering putri salju, informan juga mendapat pengetahuan baru tentang vocabulary yang berkaitan dengan memasak dan bahan baku kue kering. “…Saat kegiatan decoupage, cooking dan kegiatan yang lainnya kami biasanya juga menggunakan Bahasa Inggris untuk selingan dalam penyampaian materi.” (Ibu DE) Informan juga mengaku menjadi mengetahui bagaimana cara mengatur oven baik oven listrik maupun oven tangkring agar kue dapat matang dengan sempurna. “…kegiatan ini juga membantu saya mengetahui beberapa dasar baking seperti jenis-jenis tepung terigu, perbedaan butter dengan mentega, bagaimana pengaturan oven, dan masih banyak lagi.” (Ibu FN) English Club: Pada kegiatan inklusi sosial English Club, informan mengatakan bahwa dengan mengikuti kegiatan ini ia merasa kepercayaan diri dalam menggunakan Bahasa Inggris di percakapan sehari-hari menjadi lebih meningkat. “iya, saya jadi lebih berani berbicara menggunakan bahasa inggris.” (Ibu MA) Tidak hanya peningkatan kepercayaan diri, dengan mengikuti English Club ini informan mengaku jika vocabulary-nya sedikit banyak bertambah sehingga semakin menambah kepercayaan diri dalam melakukan komunikasi dengan menggunakan Bahasa Inggris. “…selain itu, tentunya vocabulary saya juga bertambah karena adanya kata-kata yang belum saya ketahui artinya.” (Ibu MA) E-Book: Pada kegiatan selanjutnya yaitu e-Book, menurut penuturan dari informan, adanya sistem perpustakaan digital e-Book Perpustakaan Umum Kota Batu tentu akan menambah pengetahuan dan pengalaman peserta dalam memanfaatkan kemajuan teknologi informasi dan komunikasi dengan melakukan peminjaman buku melalui sistem perpustakaan digital e-Book Perpustakaan Umum Kota Batu. Sumber: Data diolah Peneliti (2022) Behavior Evaluasi ini dilakukan untuk mengetahui sejauh mana pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang sudah dipelajari untuk diimplementasikan pada suatu pekerjaan. Dalam hal ini, evaluasi perilaku digunakan untuk mengetahui apakah pemustaka yang mengikuti kegiatan inklusi sosial menerapkan pengetahuan yang dimiliki dalam pekerjaannya atau kegiatan sehari-hari. Terdapat empat kondisi yang diperlukan agar partisipan dapat mengaplikasikan perubahan tersebut, Kirkpatrick dalam (Nurhayati, 2018) yaitu 1) Mempunyai keinginan untuk berubah; 2) mengetahui apa yang harus dilakukan dan bagaimana melakukannya; 3) Bekerja dalam lingkungan yang tepat; 4) Mendapatkan penghargaan karena mau untuk berubah. Tabel 3. Behavior Decoupage: Salah satu peserta menjelaskan bahwa keterampilan yang diajarkan di kegiatan inklusi sosial juga diterapkan di rumah dengan membuat decoupage sendiri di rumah. Menurut informan, setelah mengikuti kegiatan inklusi berupa decoupage pada Perpustakaan Umum Kota Batu informan menjadi senang mengumpulkan benda-benda yang sekiranya bisa dihias dengan teknik decoupage seperti kaleng susu, botol mineral water, toples yang mulai rusak atau yang kurang menarik, dan lain sebagainya untuk selanjutnya dihias dengan teknik decoupage. Cooking: Dari penuturan informan, kegiatan cook yang dilakukan oleh informan menggunakan keterampilan yang didapat dari kegiatan inklusi sosial yang selanjutnya dikreasikan lagi oleh informan. “Rasanya jauh lebih enak, karena ada beberapa tambahan bahan.” (Ibu FN) Disisi lain terdapat peserta inklusi sosial cooking yang belum pernah mencoba membuat kembali kue kering karena minimnya alat yang dimiliki. Namun, dari penuturan yang disampaikan oleh informan, informan mengaku sangat ingin mencoba kembali membuat kue kering sendiri di rumah. “Ada keiinginan untuk membuat ulang di rumah, namun saya tidak memiliki oven di rumah, mungkin menjelang lebaran yang akan dayan saya bisa membuatnya.” (Ibu RA) English Club: Dari penuturan informan, Bahasa Inggris akan full digunakan ketika berbincang dengan sesama anggota English Club atau dengan split bahasa untuk memudahkan komunikasi dengan yang lainnya. Terdapat juga informan yang mengaku menerapkan pengetahuan yang didapat dari English Club ini pada kegiatan MC yang sering dilakukan. “…menggunakan ungkapan Bahasa Inggris sering saya lakukan dalam kegiatan sehari-hari, pada saat mengobrol, pada saat MC…” (Bapak DS) Dengan mengikuti English Club, informan mengaku menjadi lebih percaya diri untuk menyelipkan Bahasa Inggris di sela-sela kegiatan MC dan menjadi berani mengisi MC yang mengharuskan menggunakan full Bahasa Inggris. E-Book: Terdapat informan yang mengatakan jika aplikasi e-Book yang sudah terinstal pada gawai informan hanya pernah dibuka ketika melakukan instalasi dengan kata lain aplikasi tersebut tidak digunakan sama sekali oleh informan tersebut. “Tidak, karena saya lebih suka membaca buku fisik. Saya malah tidak pernah menggunakan aplikasi tersebut.” (Ibu RA) Sumber: Data diolah Peneliti (2022) Result Result merupakan hasil akhir setelah peserta mengikuti suatu program atau kegiatan. Hasil akhir pada kegiatan-kegoatan inklusi sosial ini bisa berupa suatu produk atau suatu ide usaha yang diharapkan bisa meningkatkan kesejahteraan pemustaka. Kegiatan inklusi sosial yang diadakan Perpustakaan Umum Kota Batu ini diharapkan mampu memberikan hasil nyata bagi peserta yang mengikuti kegiatan inklusi sosial. Tabel 4. Result Decoupage: Salah satu peserta menjelaskan bahwa keterampilan yang diajarkan di kegiatan inklusi sosial juga diterapkan di rumah. Menurut informan, setelah mengikuti kegiatan inklusi berupa decoupage menjadi senang mengumpulkan benda-benda yang sekiranya bisa dihias dengan teknik decoupage seperti kaleng susu, botol mineral water, toples yang mulai rusak atau yang kurang menarik, dan lain sebagainya untuk selanjutnya dihias dengan teknik decoupage. “…tapi saya sering mengikuti kegiatan pameran/bazar, dan untuk saat ini masih menjadi hobi yang kadang-kadang bisa menghasilkan uang.” (Ibu EN) Cooking: Result pada kegiatan cooking ini masih berupa kue kering yang hanya dikonsumsi sendiri dan tidak dikomersialkan. Informan mengatakan memang belum ada niatan untuk menjual kue kering yang dibuatnya karena merasa pengetahuan dan kemampuan beliau di bidang tersebut masih sangat minim. “Belum ada niatan mbak, karena saya juga belum menguasainya.”(Ibu FN) Dari penuturan beliau juga didapatkan hasil kue kering yang dibuatnya memiliki bentuk yang lebih baik daripada ketika pertama kali membuatnya di Perpustakaan Kota Batu. Namun, disisi lain ternyata terdapat juga peserta yang tidak bisa mencoba atau memasak ulang sendiri dikarenakan terbatasnya peralatan yang dimiliki sehingga bisa dikatakan informan tersebut tidak mempunyai result dari kegiatan inklusi sosial tersebut. English Club: Selanjutnya pada kegiatan English Club ini, beberapa peserta mengakui bahwasanya setelah mengikuti pelatihan English Club lebih berani mengekspresikan sesuatu menggunakan bahasa Inggris. Hal ini disertai dengan pembuktian bahwa peserta tersebut yang pada saat ini berkecimpung di dunia entertain merasa dirinya lebih berani jika suatu saat berinteraksi dengan tamu dari luar negeri. Dengan demikin bisa dikatakan jika salah satu anggota peserta English Club tersebut dapat mencapai kesejahteraan ekonomi yang menjadi salah satu tujuan kegiatan inklusi sosial. E-Book: Kemudian menurut penuturan informan, adanya sistem perpustakaan digital e-Book Perpustakaan Umum Kota Batu dapat memudahkan pemustaka untuk mendapatkan informasi dan menambah wawasan ilmu pengetahuan. Sumber: Data diolah Peneliti (2022) Inovasi Kegiatan Inklusi Sosial Inklusi sosial yang ada di Perpustakaan Umum Daerah Kota Batu masih belum mempunyai kegiatan yang beragam. Kegiatan inklusi sosial yang diadakan oleh Perpustakaan Umum Daerah Kota Batu masih sebatas decoupage, cooking and craft, English Club, perpustakaan keliling, dan sosialisasi Aplikasi E-Book. Menurut pemustaka kegiatan-kegiatan yang diadakan masih belum memenuhi kebutuhan saat ini yang berkaitan dengan pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi juga tentang digital creative. Pemustaka sendiri juga banyak yang menginginkan kegiatan inklusi sosial yang berkaitan dengan pemanfaatan telnologi informasi dan komunikasi seperti edit foto sederhana, pembuatan video pendek dengan apliaksi sederhana, dan lain sebagainya. Oleh karena itu, kami peneliti menggagas sebuah kegiatan inklusi sosial yang lebih relevan dengan kebutuhan saat ini berupa Pelatihan Optimalisasi Canva dan Website yang bekerjasama dengan Perpustakaan Umum Daerah Kota Batu. Selain itu diharapkan juga masyarakat yang mengikuti kegiatan ini mampu membuat website sederhana. Kegiatan ini dilaksanakan pada tanggal 30 Agustus 2022 yang diikuti oleh 15 peserta yang merupakan masyarakat Kota Batu dengan background yang beragam. Namun, ada beberapa peserta yang memang sudah familiar dengan Canva sehingga menurutnya pelatihan ini seharusnya dikhususkan untuk beginner yang mau mengenal Canva. Beberapa peserta pelatihan Optimalisasi Canva dan Website sedang mencoba merintis sebuah usaha, sehingga dengan pelatihan Optimalisasi Canva dan Website peserta berharap mampu membuat logo produk, label, dan poster produk untuk mepromosikan produk usahanya. Peserta yang merupakan seorang mahasiswa juga mengatakan jika dengan pelatihan ini, peserta mampu membuat desain presentasi dengan menggunakan Canva. Untuk hasil dari pelatihan ini, peserta berhasil membuat desain grafis sederhana menggunakan Canva dan peserta berhasil membuat website sederhana.
Conclusion
Berdasarkan hasil penelitian yang telah peneliti lakukan, dapat ditarik kesimpulan sebagai bahwa kegiatan inklusi sosial di Perpustakaan Umum Kota Batu terdiri dari empat layanan kegiatan yaitu teknik decoupage,cooking, English Club, dan e-Book. Sasaran kegiatannya yaitu seluruh lapisan masyarakat yang ada di Kota Batu.Dari segi pendukung kegiatan, sarana dan prasarana yang dimiliki oleh Perpustakaan Umum Kota Batu cukup memadai baik dari tempat maupun alat dan bahan yang dibutuhkan untuk menjalankan kegiatan inklusi sosial. Namun, untuk Sumber Daya Manusia (SDM) sendiri masih kurang dari segi jumlah maupun kemampuan dikarenakan untuk kegiatan inklusi sosial sendiri Perpustakaan Umum Kota Batu hanya memanfaatkan staf maupun pustakawan yang ada tanpa adanya SDM professional karena adanya kendala anggaran. Kegiatan-kegiatan inklusi sosial yang diadakan oleh Perpustakaaan Umum Kota Batu belum dilaksanakan secara maksimal sehingga untuk menuju tujuan akhir berupa peningkatan kesejahteraan belum tercapai. Pada kenyataannya terdapat informan yang tidak menerapkannya karena berbagai macam hal dan hanya menjadikannya sebagai sebuah knowledge. Disisi lain, terdapat peserta inklusi sosial yang berhasil menerapkan keterampilan yang didapatkan dari kegiatan inklusi sosial pada kehidupan sehari-hari hingga ada informan yang mampu menaikkan value diri melalui keterampilan yang dimiliki.