Kembali
16
1
2016 Jupiter Vol 15 · 1 ISSN 2777-046X

LANSKAP BARU PERPUSTAKAAN DAN PUSTAKAWAN PADA ERA DIGITAL

Politeknik Negeri Ujung Pandang

Abstrak

Artikel ini menyoroti lanskap baru kepustakawanan di era digital. Kemajuan teknologi komunikasi informasi (ICT) memberikan kontribusi yang signifikan terhadap perubahan paradigma perpustakaan - kepemilikan (just in case) dibandingkan akses (just in time). Paradigma baru perpustakaan menuntut penyesuaian yang relevan yang sesuaidengan tren saat ini. Artikel ini membahas peran baru perpustakaan serta pustakawan di era digital. peran-peran tersebut disajikan dalam artikel ini kemudian membandingkannya dengan perpustakaan yang konvensional. Sebagai hasil, perpustakaan perlu menyediakan layanan baru berdasarkan tren saat ini dan harapan pengguna perpustakaan di era digital.

Abstract

The article highlights the new landscape of the librarianship in the digital era. The advance of information communication technology (ICT) contributes significantly to the changing of library paradigm - ownership (just in case) versus access (just in time). The library new paradigm forces library to make adjustments with are relevant to the current trends. The article describes the new roles of library as well as librarian in the digital era. Those roles are presented in the article by comparing with the traditional (conventional) ones. As a result of those, library need to provide new services based on current trends and library users expectation in the digital era.
Keywords: peran baru dari perpustakaan · peran baru pustakawan · pustakawan milenium

Introduction

Perpustakaan dan pustakawan saat ini telah mengalami berbagai transformasi sebagai dampak dari kehadiran teknologi informasi komunikasi (TIK). Perpustakaan yang kita saksikan saat ini, khususnya di negara-negara maju memperlihatkan penyelenggaraan yang sangat berbeda dibanding satu atau dua dekade sebelumnya. Tidak hanya sampai di situ, teknologi itu bahkan telah mengubah paradigma penyelenggaraan perpustakaan secara revolusioner. Paradigma lama perpustakaan yang berbasis ownership kini berbasis access yang melahirkan perubahan-perubahan fundamental pada aspek pemakai, koleksi, ekspektasi pemakai, pencarian informasi (information search), dan scholarly communication (komunikasi ilmiah: jurnal ilmiah, buku, bab buku, makalah konferensi, dan format multi media). Perubahan-perubahan tersebut hanya sebagaian dari sekian banyak perubahan atau dampak signifikan dari kehadiran TIK. Perubahan-perubahan yang terjadi kemudian berdampak pula pada terjadinya reposisi peran dan fungsi perpustakaan dan pustakawan saat ini. Pustakawan sebagai lokomotif utama perpustakaan perlu menyikapi dan merespons setiap perubahan yang ada dengan menyiapkan agenda-agenda relevan terkait dengan perubahan tersebut. Respons yang tepat terhadap situasi kondisi kekinian dan trend masa depan merupakan aset berharga bagi pustakawan untuk sampai pada agenda aksi yang bersifat strategis dan tepat sasaran pada era digital. Akurasi respons pustakawan akan berkontribusi signifikan terhadap eksistensi dan atau jaminan terhadap bisa tidaknya perpustakaan tetap survive pada era yang sarat dengan perubahan yang berlangsung cepat. Selanjutnya, pustakawan harus memastikan bahwa pengetahuan, keterampilan, dan sikap (kompetensi) yang dimilikinya tetap relevan dengan perkembangan dan trend yang sedang dan yang akan terjadi. Kompetensi yang relevan dengan zaman merupakan syarat mutlak dan dan sangat diperlukan guna melaksanakan tugas dan tanggung jawab pustakawan dengan berhasil, meskipun dengan tantangan zaman yang tidak ringan. Situasi dan kondisi dunia perpustakaan pada era digital ini memang sangat dinamis dibandingkan dengan era sebelum berkembang pesatnya TIK seperti saat ini. Tentu, kondisi itu akan menjadi tantangan sekaligus peluang bagi pustawakawan untuk berperan lebih signifikan dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya secara profesional. Tantangan pustakawan masa kini sangat kompleks. Karena pada saat bersamaan, pustakawan pun diharuskan untuk tetap memainkan berbagai peran dan tugas-tugas konvensional (tradisionalnya) yang selama ini dilaksanakan. Dengan demikian, profesionalisme dan kompetensi kekinian merupakan syarat mutlak yang harus dimiliki pustakawan pada era digital ini agar dapat menjawab berbagai tantangan profesi dengan berhasil. Kompleksitas perubahan yang terjadi di dunia perpustakaan sebagai dampak perkembangan TIK mengharuskan penulis membatasi pembahasan pada perubahanperubahan (transformasi) terhadap penyelenggaraan perpustakaan dan pustakawan pada era digital. B. Perpustakaan Era Digital Implementasi TIK secara integral dan komprehensif di perpustakaan seharusnya tidak diposisikan sebagai momok. Tetapi, teknologi itu harus ditempatkan sebagai peluang dan fasilitas bagi perpustakaan dan pustakawan untuk memberikan layanan yang terbaik dan lebih berkualitas. Bahkan, kehadiran teknologi itu seharusnya menjadi media transformasi dan revitalisasi penyelenggaraan perpustakaan yang lebih sesuai dengan kondisi kekinian. Ada banyak fakta dan pengalaman yang menunjukkan begitu besar peran dan kontribusi TIK terhadap terjadinya efisiensi dan efektivitas penyelenggaraan perpustakaan. Best practices (paraktik-praktik terbaik) dan kisah sukses banyak perpustakaan dari berbagai negara dapat menjadi sumber inspirasi bagi para pengelola untuk melakukan hal serupa guna menghadirkan perpustakaan yang lebih sesuai dengan kebutuhan zama sekaligus hal itu akan mengangkat citra dunia perpustakaan Indonesia pada aras yang lebih terhormat. Pemanfaatan TIK secara luas dalam kehidupan sehari-hari masyarakat seharusnya menjadi pemicu dan pemacu bagi perpustakaan untuk menerapkan teknologi serupa di dalam penyeleng-garaan perpustakaan. Diyakini bahwa bila TIK eksis dalam penyelenggaraan perpustakaan, maka akan berdampak positif terhadap seluruh aspek perpustakaan. Hal itu setidaknya merupakan jawaban terhadap berbagai perkembangan dan trend yang terjadi saat ini dan nanti. Bila kita merujuk pada terminologi yang dinyatakan oleh Wastawy (2007) tentang The Open Revolution, maka tidak pilihan lain bagi perpustakaan kecuali melakukan berbagai perubahan di perpustakaan untuk merelevansikan dengan perkembangan, terutama perkembangan TIK. The Open Revolution Wastawy meliputi: 1. Open Research 2. Open Reference 3. Open Aggregation 4. Open Storage 5. Open Course 6. Open Content 7. Open Source 8. Open Standards 9. Open Archives 10. Open Text 11. Open Linking 12. Open Design 13. Open Access Menurut hemat penulis, revolusi versi Wastawy tersebut merupakan kegiatankegiatan pokok perpustakaan pada era digital ini. Karena itu, tidak bisa tidak perpustakaan modern harus mampu menyediakan berbagai layanan dan fasilitas yang lebih terbuka dan berkesesuaian dengan perubahan-perubahan tersebut di atas. Tidak hanya sampai di situ, revolusi sesungguhnya telah mengharuskan perpustakaan untuk menghadirkan TIK sebagai jawaban atas perubahan-perubahan yang terjadi. Sejalan dengan apa yang dinya-takan Wastawy, Obe (2009) dalam artikelnya yang berjudul: “Transfor-mation Through Action: Making the Case for Libraries in the Knowledge Economy”, memaparkan perbandingan sejumlah aspek perpustakaan yang berbeda dari kondisi masa lalu sebagaimana tersaji pada table 1 berikut ini. Pemaparan itu setidaknya akan mengantarkan kita untuk sampai pada keyakinan bahwa perpustakaan pada era digital ini sangat berbeda dengan era sebelumnya. . Tabel 1 Perbandingan Perpustakaan Masa Lalu dan Masa Kini MASA LALU MASA KINI Repositori: gudang atau tempat penyimpanan Sumber: merespon kebutuhan dengan vahan pustaka yang tepat Koleksi: perhatian utama pada pengumpulan dan proteksi bahan pustaka Koneksi: menghubungkan pemakai terhadap sumber-sumber digital, lokal atau akses jarak jauh via web (internet) Transaksional: fokus pada peminjaman bahan pustaka dan terkait dengan berbagai prosedur Fokus Pembelajaran: empati, merespons dulu kebutuhan pembaca atau pembelajar Terisolasi: dioperasikan terpisah Jejaring: terhubung dengan sumber-sumber informasi global dan bekerja dengan patner Teratur: Asyik dengan peraturan yang menjadi penghalang (bersifat formal) Mudah Diakses: mudah digunakan, menawarkan bantuan dan dukungan Statis: tak berubah/stagnan, tak membangkitkan semangat, buku termashur, tetapi institusi yang tidak banyak membantu Dinamis: katalisator, membangkitkan semangat, mendorong, menyenangkan, dan penemuan Historis: tua (kuno), mungkin koleksi warisan unik, “kelihatan penting, tetapi tak istimewa , Kekinian: refleksi dari komunitas hari ini melalui interpretasi ulang dari koleksi sejarah Sejalan dengan pendapat Obe (2009) tentang perubahan-perubahan yang terjadi sebagai dampak kemajuan TIK saat ini, Sharma (2005) juga menyatakan adanya sejumlah perubahan penting terhadap penyelenggaraan perpustakaan pada era digital seperti sekarang ini. Sebagai respons terhadap kondisi dan situasi tersebut di atas, perpustakaan harus melakukan berbagai penyesuaian (adjustment) agar perpustakaan tetap eksis, survive, dan relevan dengan tuntutan dan ekspekstasi masyarakat pemakai saat ini. Penyesuaian dilakukan untuk melaksanakan sejumlah peran baru perpustakaan yang berbeda secara signifikan dari peran yang selama ini dilakoni. Pada era ini perpus-takaan dapat berperan antara lain sebagai: perantara & agregator (kolektor), penerbit, institusi riset dan pengembangan, pusat pendidikan, pengembangan kewirausahaan dll. Menarik pula dicermati tentang perubahan yang terjadi di dunia perpustakaan perguruan tinggi sebagai bagaian dari usaha untuk memahami secara komprehensif perubahan dunia perpustakaan secara keseluruhan. Penulis meyakini bahwa perubahan pada jenis perpustakaan ini pada hakikatnya adalah kurang lebih sama dengan perubahan pada jenis perpustakaan lainnya. Dengan kata lain, esensi perubahan itu akan berkontribusi terhadap perbaikan penyelenggaraan setiap jenis perpustakaan sekaligus menjadikan setiap perpustakaan lebih siap menghadapi perubahan dan tantangan baru yang sedang dan akan terjadi. Tabel 2. Komparasi Perpustakaan Konvensional dan Era Perpustakaan Digital NO. ERA KONVENSIONAL ERA DIGITAL 1 Operasional bergantung pada manusia Bergantung pada mesin 2 Mekanisasi (pengolahan data) Pengolahan pengetahuan 3 Sistem berdiri sendiri Komputer jaringan 4 Lan lokal Sistem akses (protokol) yang nirkabel 5 Informasi berpusat pada dokumen Informasi berpusat pada akses pemakai 6 Media cetak (akses) media elektronik Kumar (2009) dalam tulisannya: “Academic Libraries in Electronic Environment: Paradigm Shift”, ia menyatakan bahwa terdapat sejumlah peran baru yang dialamatkan kepada perpustakaan perguruan tinggi, yakni perpustakaan perguruan tinggi sebagai: 1. Pintu Gerbang terhadap Informasi: berfungsi sebagai pintu gerbang bagi pemakai perpustakaan untuk mengakses, mendapakan, mentransformasi, dan menggunakan sumbersumber informasi dalam berbagai format - tercetak dan elektronik 2. Pusat Pembelajaran: perpustakaan harus menyediakan peralatan, fasilitas, sumber-sumber informasi, dan layanan yang dinamis untuk mendukung aktivitas pembelajaran pemakai perpustakaan yang meliputi tugastugas, presentasi, proyek, riset, laporan, dsb) 3. Pusat Pelatihan: perpustakaan perlu menyediakan fasilitas pendukung untuk pelatihan bagi dosen dan infrastruktur untuk keperluan disain, pengembangan, pengintegrasian, dan implementasi kursus, program, lokakarya, termasuk dukungan terhadap pembelajaran jarak jauh 4. Pusat Penerbitan: perpustakaan perlu menyediakan personal computer, peralatan AV, dan fasilitas pendukung lainnya guna mendesain, menghasilkan, mengembangkan, mengintegrasikan, menerbitkan, dan meng-upgrade berbagai presentasi multimedia pemakai perpustakaan, misalnya, proyek, laporan, website, blogs, dan lain-lain. Perubahan di dunia perpustakaan perguruan tinggi dinyatakan pula oleh Midda dkk (2009) yang memokuskan pada perbandingan antara fungsi-fungsi perpustakaan perguruan tinggi beberapa tahun sebelumnya dengan perpustakaan yang berbasis teknologi informasi seperti yang eksis saat ini. Konsekuensi lain dari perkembangan TIK di samping adanya peran baru perpustakaan pada era digital ini adalah munculnya ekspektasi baru pemakai terhadap layanan dan fasilitas yang harusnya ada setiap perpustakaan. Menurut hemat penulis, perubahan ekspektasi itu setidaknya karena pemakai perpustakaan atau masyarakat pada umumnya terbiasa telah terbiasa memanfaatkan TIK dalam dalam kehidupan sehari-harinya. Mereka mendapatkan banyak kemudahankemudahan dalam memanfaatkan teknologi itu. Interaksi dan komunikasi setiap orang saat ini lebih didominiasi dengan menggunakan produk-produk TIK. Suatu hal logis kalau kemudian pemakai perpustakaan pada era ini juga mengharapkan penyelenggaraan perpustakaan berbasis TIK sebagaiamana mereka gunakan dalam kehidupan sehari-harinya. Tabel 3. Perbandingan Fungsi Perpustakaan Perguruan Tinggi FUNGSI PERPUSTAKAAN MASA LALU SEKARANG Sistem Perpustakaan Terintergrasi Ketersedian MARC, patron, recod (data) sirkulasi Berbasis Web, Meta-data, Link Sumber-Sumber Informasi, Penelusuran Lintas Database Ketersediaan Informasi Koleksi Tercetak, Peminjaman antar Perpustakaan (ILL), Abstrak & Indeks CD Koleksi Tercetak ditambah database online, pengiriman dokumen (DD), Perluasan sumber-sumber elektronik Akses terhadap Informasi Berjalan ke OPAC, PC, Tumpukan Koleksi Akses Jarak Jauh (remote) dan Nir-kabel Ruang Belajar Ruang Belajar yang Tenang Ruang Belajar Kelompok Pengajaran Informasi Pengajaran Bibliografi oleh instruktur. Literasi Informasi Printout Informasi Prienter Dot Matrix Printer Laser Jet Organisasi Birokrasi, Fungsional, Hirarki Berorientasi Layanan, Tim Kerja Orientasi Lokal Regional, Konsorsium Akses Komputer OPAC, Akses Online thd Database Information Common Keuangan Tergantung Lembaga Induk Partisipasi dalam Penggalangan Dana Konsorsium Mencoba dan Membeli Negosiasi Database Khusus Tidak hanya sampai di situ, TIK juga telah melahirkan generasi baru pada abad ini Generasi Milenial (The Millennial Generation). Sementara, Chen (2009) mengistilahkannya sebagai Generation G (Google Generation). Generasi milenial adalah generasi yang mengikuti dan identik dengan perkem-bangan TIK. Dalam konteks informasi, mereka memiliki karakteristik antara lain: 1. Mereka memperoleh informasi secara online 2. Mereka mendapatkan informasi dan konten secara gratis 3. Mereka sendiri mengelola konten dalam jumlah besar 4. Mereka sendiri yang membuat, mengumpulkan, dan menyesuaikan informasi 5. Mereka bertindak sebagai distributor sekaligus sebagai pemasar informasi 6. Mereka selalu terkoneksi 7. Mereka mendapatkan informasi secara cepat 8. Mereka selalu On. Karakteristik generasi milenial di atas mengindikasikan begitu dominanya peman-faatan TIK dalam kehidupannya, tak terkecuali masyarakat Indonesia. Dalam konteks Indonesia, dunia perpustakaan kita harus lebih awas dan mumpuni dalam banyak aspek, terutama menyediakan layanan berbasis TIK plus fasilitas perpustakaan terkait dengan teknologi itu. Dengan demikian, perpustakaan akan semakin mengecilkan peluang untuk ditinggal pemakainya. Potensi dan peluang perpustakaan ditinggalkan pemakainya di tengah kecanggihan TIK merupakan sesuatu yang sangat logis. Tidak dipungkiri bahwa kemampuan dan keperkasaan internet saat ini sebagai sumber informasi yang hampir tak tertandingi. Bahkan, internet dapat memerankan hampir seluruh peran perpustakaan konvensional selama ini. Keunggulan lain, internet memfasilitasi ketersediaan akses sumber-sumber informasi kapan dan di mana saja, format dan ragam informasi, internet sebagai alat komunikasi efisien dan efektif, dan keunggulan-keunggulan lainnya. Faktafakta tentang keunggulan yang dimiliki internet itu bisa menjadi motif dan alasan logis bagi pemakai untuk lebih memilih menggunakan internet dari pada perpustakaan. Terlepas dari fakta-fakta tersebut, generasi melenial adalah generasi sekarang adalah the net generation does not love the wall. Semua itu, menurut hemat penulis, merupakan dampak dari prinsip inovasi Google “Open and Free Information Service”. Implementasi dari prinsip itu akan terus berlanjut sebagai bagian dari “Google Utopia” “an ultimate place wherein is literally open and we can get all the information we want via Google and for free. (Chen-Chen, 2009) Menjadi suatu kewajaran kalau kemudian ekspektasi pemakai perpustakaan berlangsung sangat dinamis dan akan sedinamis perkembangan TIK. Di balik itu, ada fakta bahwa ekspektasi pemakai perpustakaan lebih cenderung melebihi (di luar) kemampuan perpustakaan yang bergerak ”lebih lambat”. Kelambatan perpustakaan terkait dengan penyediaan sumber-sumber informasi elektronik dan tercetak, infra-struktur TIK yang memadai kuantitas dan kualitasnya, fasilitas perpustakaan, pendanaan, staf kompeten, dst. Perkembangan dan trend yang dipaparkan dalam tulisan ini mengha-ruskan perpustakaan terselenggara dengan berbagai layanan yang berbasis TIK. Layanan demikian akan menjadi salah satu faktor kunci untuk dapat mengantarkan perpustakaan berada pada jalur benar dan tepat yang sesuai dengan ekspektasi pemakai, trend dan perkembangan kekinian. Karena itu, pada era digital ini penyelenggaraan perpustakaan harus didu-kung dengan ketersedian layanan-layanan antara lain berupa: 1. Akses sumber-sumber informasi elektronik (e-resources) 2. Referensi Elektronik 3. Layanan Humas (Public Relation) 4. Promosi dan Pemasaran Perpustakaan 5. E-publishing 6. Program Literasi Informasi 7. Sirkulasi Online, misalnya layanan pemesan buku online 8. Layanan Information Desk 9. Ketersediaan workstation (PC) yang terhubung dengan internet 10. Ketersediaan Ruang Publik yang cukup di Perpustakaan C. Pustakawan Milenial Dampak lain perkembangan dan kemajuan TIK terhadap perpustakaan adalah peningkatan jumlah sumber-sumber informasi digital (elektronik). Peningkatan tersebut menyebabkan terjadinya perubahan peran pustakawan dari selama ini dominan menangani sumber-sumber informasi tercetak (berbasis ownership) beralih pada pengelolaan sumber-sumber informasi digital (berbasis akses). Perubahan cara dan metode pengelolaan sumber informasi tersebut merupakan sebuah tantangan yang harus direspons pustakawan. Tidak berlebihan adanya kalau kemu-dian pustakawan masa kini akan bergelut dengan sejumlah isu penting yang terkait dengan era digital itu, misalnya: manajemen koleksi, organisasi dan menajemen penge-tahuan, preservasi digital, penelusuran online, pengelolaan konten digital, dan promosi dan penggunaan perpustakaan dan jaringan (Singh, 2009). Isu-isu sentral tersebut dapat teratasi dengan ketersediaan SDM profesional dan yang memiliki kompentesi kekinian guna melaksanakan tugas-tugas yang sangat berbeda dari tugas-tugas yang dilaksanakan sebelumnya. Peran tambahan pustakawan pada era informasi ini menurut Sharma (2005) adalah tugas-tugas konvensional yang selama ini dilaksanakannya plus tugas-tugas sebagai manajer informasi - mengetahui bagaimana cara pustakawan mengelola dan memberikan layanan informasi sehingga kebutuhan informasi pemakai terpenuhi. Selanjutnya, pusta-kawan juga melakukan tugas sebagai penasihat/instruktur informasi – menja-min bahwa pemakai/staf mengetahui bagaiamana mengakses sumber-sumber informasi yang relevan (bagian dari program literasi informasi). Berikutnya, pustakawan harus bekerja menggunakan sistem dan jaringan untuk menyebarkan informasi kepada pemakai dengan cara yang tepat melalui disain dan pengembangan sistem. Pustakawan sebagai bagian penting dari perpustakaan diharapkan dapat memain kan berbagai peran agar ekspektasi dan kebutuhan pengguna perpustakaan dapat terpenuhi dengan baik dan lebih memuaskan. Untuk itu, peran-peran tambahan yang harus dilaksanakan pustakawan pada era ini menurut Helder (2009) adalah sebagai: 1. Mengadvokasi 2. Manajer Konsorsium 3. Konsultan 4. Manajer Konten 5. Fasilitator 6. Pembimbing/guru 7. Perantara (Intermediary) 8. Manajer Pengetahuan 9. Periset 10. Sifter/Data Mining (pustakawan ahli yang membantu pemakai menemukan dan tata urutan sumber-sumber informasi) 11. Web Designer Lebih lanjut Saha (2009) menyatakan bahwa peran yang harus dilakukan pustakawan pada era digital, antara lain sebagai berikut: 1. Pengembangan koleksi: menyediakan bahan pustaka untuk keperluan riset dan kegiatan ilmiah yang terdiri dari kegiatan seleksi, pengadaan, pengolahan untuk akses informasi dan pengawasan. 2. Konsultan informasi: membimbing mahasiswa dan dosen dalam kaitannya dengan ketersedian bahan pustaka terbaik guna memenuhi kebutuhan informasi mereka 3. Pengajaran: membantu mahasiswa dan dosen agar mereka menjadi warga yang mampu menggunakan informasi secara etis. 4. Menyediakan akses berbagai format informasi 5. Mengevaluasi ketersediaan sumber informasi 6. Mengorganisasikan dan menata informasi 7. Meyakinkan pelaksanaan preservasi informasi 8. Menyediakan staf khusus untuk keperluan pengajaran dan bantuan dalam mengintepretasi dan mengakses sumbersumber informasi aksesnya. Tabel 4. Pekerjaan Pustakawan Era Tradisional & Era Digital Era Perpustakaan Tradisional Era Perpustakaan Digital Library Administrator Information Generator Classifier Informasiton Gatherers Cataloguer Information Recorders Reference Librarian Information Processors Library Science Teacher Information Organizers Thesaurus Constructors Information Disseminators Bibliograher Information Retrievers Librarmetrician Information Preservers Bibliometrian etc Information Measurers Information Compilers Pemaparan di atas mengindikasikan bahwa pada era digital, pustakawan memiliki begitu banyak peran baru yang harus dijalankan. Peran pustakawan itu jauh lebih kompleks dari peran tradisional yang selama ini dilaksanakan. Namun, beberapa di antara peran baru itu menjadikan peran pustakawan menjadi less-visible - kurang nyata (Borgman, 2001). Hal itu terlihat dari peran pustakawan, misalnya, pustakawan yang bertindak sebagai arsitek informasi, manajer aset digital, dan spesialis kontent. Meskipun begitu, pustakawan tetap memiliki tugas dan tanggung jawab dalam menyeleksi, menghimpun, mengatur, melestarikan, dan menyediakan akses informasi, dengan lebih fokus pada konteks perpustakaan digital. Pergeseran peran pustakawan sebagai dampak perkembangan dan kemajuan TIK sesungguhnya sangat signifikan dari peran yang selama ini ada. Agar pemahaman kita komprehensif terhadap peran baru pustakawan saat ini, Saha (2009) memberikan komparasi peran itu sebagaimana tersaji pada tabel 4. Dalam artikel “Rekonstruksi Peran Pustakawan Indonesia: Persiapan Menghadapi Era Perpustakaan Digital” Salmubi (2011) menyatakan perbandingan ragam pekerjaan pustakawan era digital dengan pustakawan konvensional sebagaimana tersaji di tabel 5. Tabel 5. Peran Pustakawan Era Konvensional dan Pustakawan Era Digital Pustakawan K onvensional Pustakawan Era Digital Collection Builder Classifier, Cataloger, Indexer Information Retrieval Specialist Reference Librarian Information Provider Information Manager Knowledge Prospector (Pencari/Pendulang) Metadata Developers and Publisher Knowledge Navigators and Expedition Guides Information Analysis/Knowledge Interpreter Information Access Provider Knowledge Manager Sumber : The Evolving Roles of Information Professionals in the Digital Age

Conclusion

Teknologi informasi komunikasi (TIK) berkontribusi besar dalam mengubah lanskap penyelenggaraan perpustakaan saat ini. Respons terhadap berbagai transformasi itu mengharuskan pustakawan membekali diri dengan profesionalisme dan kompetensi kekinian yang relevan dengan kebutuhan dan tuntutan zaman. Karena itu, pustakawan Indonesia menghadapi berbagai tantangan dan peluang untuk membawa dunia perpustakaan Indonesia menjadi lebih modern sebagaimana terjadi di negara lain. Meskipun terjadi perubahan dramatis terhadap penyelenggaraan perpustakaan (perubahan paradigma), namun amanah yang dibebankan terhadap perpustakaan selama ini tidak berubah. Perpustakaan tetap merupakan institusi yang bertanggung jawab terhadap upaya melestarikan sumber-sumber informasi dan menyediakan akses luas terhadap pengetahuan dan informasi itu untuk memajukan dan mencerdaskan masyarakat. Semoga. Saran / Rekomendasi Pimpinan perpustakaan diharapkan melakukan penyesuain aspek-aspek penyelenggaraan perpustakaan yang mengacu pada perkembangan terbaru yang berbasis teknologi informasi komunikasi (TIK). Pada saat bersamaan, perpustakaan harus mengadopsi praktik-praktik terbaik diperlukan perpustakaan guna meningkatkan kualitas layanan pada era digital.