Representasi Perpustakaan Nasional Republik Indonesia dalam Konten Akun Instagram
Universitas Gadjah Mada
Abstrak
Perpustakaan menghadapi berbagai tantangan akibat pandemi Covid-19 dengan beberapa kali merombak sistem pelayanannya. Pertama perpustakaan dipaksa menutup layanan, sehingga perpustakaan mengubah keseluruhan layanan tradisional ke layanan online. Saat ini muncul layanan hybrid dengan tetap menjaga protokol kesehatan. Kondisi yang masih tidak stabil ini mengharuskan perpustakaan memikirkan solusi jangka panjang terhadap layanan perpustakaan kedepan, sampai pada kondisi pandemi berakhir. Penelitian ini bertujuan untuk menggali informasi dan pemahaman terkait tren layanan perpustakaan selama dan pasca pandemi Covid-19. Metode penelitian yang digunakan adalah studi literatur dengan mengumpulkan dan menganalisis berbagai sumber literatur terkait tren layanan perpustakaan seperti apa yang berkembang selama pandemi hingga pasca pandemi Covid-19. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perpustakaan dapat mengadopsi teknologi pintar, seperti AR, VR, IoT, dan Gaming. Penggunaan teknologi tersebut dimaksudkan untuk meringankan pekerjaan pustakawan, memudahkan pengguna mengakses layanan perpustakaan, serta memberikan pengalaman baru bagi pengguna sehingga menarik minat kunjungan. Kesimpulan dari penelitian ini adalah dalam memberikan pelayanan perpustakaan harus selalu mampu menyesuaikan dengan kebutuhan pengguna sehingga sebaiknya bergerak mengikuti tren-tren baru yang sedang berkembang saat ini agar tetap eksis.
Abstract
Social media is one product of the development of technology and information. Social media is now used by individuals to communicate with friends and institutions, including the National Library. The National Library of Indonesia's Instagram social media represents library institutions as the frontline supporting the development of science and information technology. In addition, this shows that National Library keeps abreast of technological and information developments and follows the behavior patterns of its people who are now closer to technology. However, Instagram content or content has meaning, and in interpreting Instagram content a certain analysis is needed. This writing aims to discover the meaning behind uploading the National Library of Indonesia's Instagram account. This writing uses Roland Barthes' semiotic analysis by interpreting the signs contained in the National Library of Indonesia's Instagram uploads. From the results of the study, it was found that the representation of the National Library on its Instagram account shows that National Library is an institution that follows community developments through posts and published hashtags. The National Library is a place for professionals who want to enrich their knowledge.
Keywords:
Instagram
· Media social
· National library
· Representation
Introduction
Perpustakaan merupakan lembaga yang mendukung kemajuan informasi masyarakat di sekitarnya. Oleh sebab itu, perpustakaan dituntut mengikuti arus perkembangan informasi, pengetahuan, dan teknologi. Sejalan dengan five laws of library science yang dikemukakan oleh Ranganathan pada tahun 1931: Library is a growing organism, yaitu perpustakaan sebagai organisme yang selalu tumbuh. Seperti sel-sel organisme yang berkembang menjadi lebih bervolume, berbobot dan tinggi. Pada tahun 2008, Carol Simpson mengadaptasi five laws of library science untuk diterapkan pada media, antara lain media for use. Media tidak berguna jika hanya disimpan di lemari perpustakaan dan dikunci. Every patron his information, media informasi seharusnya tidak dibatasi di perpustakaan. Media yang berkembang kini menyediakan informasi yang sebelumnya tercetak menjadi informasi dalam bentuk elektronik dan digital. Every medium its user, setiap pengguna berhak menggunakan media belajar untuk mendukung proses belajar mereka. Save the time of the patron adalah bagaimana perpustakaan membantu pengguna untuk menghemat waktu dan tenaga pemustaka dalam mencari informasi yang dibutuhkan dengan bantuan media. Hukum kelima dari Carol Simpson dalam five laws of library science yang diadaptasi untuk media adalah sama dengan Ranganathan, yakni library is a growing organism. Dengan munculnya media baru, maka perpustakaan semakin berkembang, pengunjung menjadi lebih banyak sebab pembelajar masa kini telah beralih ke media dalam mengakses informasi di perpustakaan. Perpustakaan adalah lembaga yang selalu bertumbuh dan berkembang. Layanan yang diberikan juga disesuaikan dengan perkembangan teknologi. Hal ini tertuang dalam UndangUndang Republik Indonesia Nomor 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan bahwa perpustakaan mengembangkan layanannya sesuai dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi (Bagian 5 Pasal 14 ayat (3)). Salah satu perkembangan teknologi informasi adalah media itu sendiri. Media kini menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat bahkan tidak sedikit akademisi, praktisi, dan lembaga lain yang menunjukkan bagaimana pengaruh media tersebut (Bouzida, 2014). Pertumbuhan media sosial dan jejaring sosial menjadi salah satu aspek yang menarik di dunia internet dan menjadi begitu populer di kalangan masyarakat adalah sesuatu yang tidak dapat dihindari (Canty, 2012). Perkembangan media telah memasuki semua lini, bahkan terjadi dalam kehidupan sehari-sehari yang secara tidak sadar telah menjadi budaya. Perkembangan teknologi tidak lepas dari munculnya berbagai medium hingga media, mulai dari radio, televisi, hingga media sosial seperti YouTube, Facebook, Twitter, dan Instagram. Media sosial adalah salah satu produk dari teknologi baru yang tersedia dalam ponsel pintar masa kini. Instagram sebagai media sosial yang digunakan oleh khalayak seolah-olah telah menjadi kebutuhan utama penggunanya. Khalayak kini tidak dapat lepas dari ponsel pintar untuk scrolling dan update berita, cerita, dan kejadian lain yang sedang menjadi populer, khususnya di Instagram. Bahkan khalayak kini percaya terhadap informasi yang tersedia di media sosial, seperti Facebook, WhatsApp, YouTube, maupun Instagram. Media sosial yang kini sering kita gunakan juga mengembangkan layanan guna memenuhi kebutuhan masyarakat masa kini. Seiring dengan perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan, Instagram kini menyediakan fitur baru yang dapat digunakan oleh perorangan, bahkan instansi untuk menyebarluaskan informasi dan pengetahuan. Penambahan fitur tersebut dimulai dari: live Instagram, reel dengan durasi tertentu, story dengan durasi tertentu, dan feed Instagram. Postingan dalam feed Instagram seolah-seolah membentuk citra baik, berpendidikan, sukses, dan citra lain dengan makna yang berbeda. Feed, story, reel yang diunggah dalam Instagram adalah bagaimana pengunggahnya dalam membangun citra diri, merepresentasikan diri melalui foto, tulisan, bahkan komentar. Foto yang diunggah dalam Instagram adalah presentasi diri yang ingin ditunjukkan kepada orang lain (Rettberg, 2017). Pada tahun 2015 sebuah penelitian tentang representasi gambar di Instagram dilakukan oleh Rettberg (2017). Rettberg menganalisis gambar seorang model terkenal dari Amerika dengan like terbanyak pada tahun 2015, yakni mencapai 3,3 juta like di Instagram. Penelitian ini adalah tentang bagaimana seseorang merepresentasikan diri melalui gambar yang diunggah pada Instagram. Penelitian lain tentang representasi dilakukan oleh Karunia (2022). Representasi perpustakaan dalam video musik Story of Us menunjukkan bahwa perpustakaan sebagai gedung kuno dengan desain gaya Eropa. Fasilitas seperti meja dan kursi tempat pemustaka membaca koleksi dibuat dari bahan baku kayu. Koleksi yang ditunjukkan dalam musik video tersebut terdiri dari buku-buku tebal dengan sampul buku bentuk hard copy. Selain itu, perpustakaan direpresentasikan sebagai tempat yang cocok untuk mencari teman kencan dan berkencan di sana. Sedangkan pustakawan dalam video musik tersebut merepresentasikan sebagai orang-orang kuno, memiliki sifat kaku, dan tidak mengikuti tren berpakaian masa itu. Berbeda lagi hasil penelitian yang dilakukan oleh Wicaksono (2020) bahwa perpustakaan dalam film pendek The Library merepresentasikan sebagai tempat untuk menyimpan buku-buku tebal dengan pencahayaan minim, tempat yang tenang, sepi, siapa pun yang berkunjung di perpustakaan dilarang untuk bersuara, bahkan perpustakaan direpresentasikan sebagai tempat kontestasi anggota Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender (LGBT), dan perpustakaan sebagai tempat yang aman untuk mengekspresikan diri bagi kelompok LGBT. Namun demikian, perpustakaan sebagai tempat belajar sepanjang masa dan memiliki peran penting dalam mengembangkan minat baca sejak dini, sebab perpustakaan dalam film The Library memberikan layanan untuk seluruh masyarakat tanpa memandang usia. Kajian tentang representasi perpustakaan banyak dibahas dalam media film berdurasi panjang maupun pendek. Namun demikian, kajian tentang representasi perpustakaan dalam konten sosial media masih jarang dilakukan. Dalam artikel ini yang dikaji adalah bagaimana representasi perpustakaan dalam konten media sosial Instagram. Perpustakaan yang dimaksud dalam tulisan ini merujuk pada Perpustakaan Nasional RI (selanjutnya disingkat Perpusnas) dan konten yang diunggah pada bulan April 2022 dengan like terbanyak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana representasi yang muncul dari unggahan pada feed akun Instagram Perpusnas melalui makna denotasi, konotasi, dan mitos.
Discussion
Perpustakaan Nasional RI Perpustakaan di Indonesia dibagi menjadi beberapa jenis. Di dalam UU Nomor 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan, perpustakaan dibagi menjadi tiga jenis, antara lain perpustakaan khusus, perpustakaan umum, dan perpustakaan nasional. Perpustakaan nasional adalah lembaga pemerintah non departemen yang berfungsi sebagai pembina, rujukan, deposit, penelitian, dan pelestarian di dunia keperpustakaan dan bertempat di ibu kota negara. Perpusnas merupakan salah satu fasilitas publik dan menyediakan layanan serta fasilitas seperti ruang pameran instalasi seni; pusat informasi; loker penyimpanan tas; peminjaman buku hardcopy atau akses buku melalui online (e-book); koleksi buku langka; koleksi buku umum; koleksi audiovisual; koleksi foto, peta, dan lukisan; executive lounge; ruang layanan anak-anak; layanan lansia dan penyandang disabilitas; tempat ibadah (musala) dan kantin (Mahfud, et al., 2020). Perpusnas sebagai fasilitas publik memiliki tugas untuk membina, mengembangkan, dan mendayagunakan segala jenis perpustakaan yang ada di Indonesia, serta melestarikan koleksi yang terdapat di perpustakaan sebagai hasil budaya bangsa. Namun demikian, tugas Perpusnas diatur dalam peraturan perundang-undangan untuk ikut melaksanakan tugas pemerintahan di bidang perpustakaan secara aktif. Selain itu Perpusnas memiliki fungsi dalam mengkaji dan menyusun kebijakan nasional di bidang perpustakaan, melancarkan serta membina aktivitas lembaga Pemerintahan di bidang perpustakaan (Gammayani, et al., 2015). Representasi Perpustakaan Representasi adalah perbuatan yang mewakili, diwakilkan, atau apa yang mewakili sesuatu (KBBI). Representasi dapat berupa simbol dan tanda baik dalam bentuk suara, tulisan, gambar yang diproduksi secara elektronik atau digital, musik, bahkan suatu objek (Hall, 1997). Representasi sebagai objek yang dibuat dan dibangun dengan beberapa cara dan dirujuk oleh objek itu sendiri (Rettberg, 2017). Representasi melalui media sosial memunculkan makna berbeda dari setiap pengguna media sosial atau dalam memaknai tanda. Dalam memaknai tanda dapat menggunakan analisis semiotika. Dalam istilah semiotika, ada yang disebut dengan denotasi dan konotasi (Chandler, 1994). Konsep Barthes tentang semiotika tidak lepas dari mitos sebagai sistem gabungan tanda antara penanda dan petanda, oleh karena itu mitos menjadi interpretasi terbuka (Bouzida, 2014). Representasi perpustakaan dapat dilihat melalui simbol yang terdapat di area perpustakaan, tulisan yang tertera di area perpustakaan, gedung perpustakaan, desain interior perpustakaan, logo perpustakaan, bahkan pada setiap tulisan dan gambar yang diunggah di media sosial yang dimilikinya. Representasi perpustakaan bisa dalam berbagai bentuk, seperti yang dikemukakan Barthes, bahwa representasi dapat diketahui dari simbol atau tanda. Tanda yang dimaksud dapat berupa verbal atau disebut dengan linguistik, dan berupa nonverbal atau tanda-tanda visual dari berbagai segi. Jika tanda yang dilihat dari apa yang diunggah dari media sosial yang memiliki perpustakaan, maka tanda yang dimaksud dapat berupa kalimat yang biasa disebut dengan caption, dapat berupa simbol tagar, tanda seru, tanda tanya, dan simbol kalimat lainnya, dan dapat berupa gambar, serta video yang diunggah. Media Sosial Media kini telah menjadi budaya masyarakat: iklan, televisi, majalah, musik, adalah bentuk dari budaya media (Durham & Kellner, 2006). McLuhan menyatakan bahwa medium sebagai pesan yang memiliki konsep mengubah cara pandang manusia berdasarkan yang nampak atau dimunculkan dalam media tersebut (Strate, 2008). Hal yang dimunculkan bisa berupa gambar, suara, atau gabungan dari keduanya. Media sosial merupakan saluran komunikasi atau platform media baru yang mengharuskan penggunanya berada dalam ranah internet atau online (Kurniasih, 2016). Media sosial atau disebut juga jejaring sosial memungkinkan penggunanya untuk berinteraksi dengan pengguna lain, seperti berbagi gambar, video, film, musik, komentar, dan masih banyak lagi (Mishra, 2008). Beberapa tipe media sosial memiliki fungsi masing-masing dan layanan yang diberikan berbeda, seperti yang dituliskan oleh Mishra (2008) dalam tabel berikut: Tabel 1. Software tools dan layanannya Web 2.0 Websites Web 2.0 Technology Explanation of Services Podcast Maker, Procast, Odeo Podcasting Multimedia authoring and syndication MediaWiki Collaborative Authoring Open editing and tagging Flicker, Slide, Zoto Photo and Image Management Open image access and tagging Delicious, Blinklist, Stumbleupon Social Tagging Democratic website ranking Digg, Newsvine, Gabbr Peer Producing News User decide what is news YouTube, Google, Video, Metacafe Video Collections Video uploads Blogger, WordPress Blogging Personal authoring and publishing Joomla, Drupal CMS Web design and management MySpace, FaceBook, Xanga Social Networking Connect single user with hub of friends GoogleDocs, Rallypoint Collaborative Writing Online word processing Google, Yahoo Answers, IMDB Customized Search Engines Targeted searches Wayfaring, Frappr, HouseMaps Mapping Sharing personal maps Sumber: (Mishra, 2008) Jenis-jenis konten yang dapat dibagikan ke media sosial menurut Alliance terbagi menjadi enam, antara lain (1) Pinterest berfungsi untuk menciptakan infografis; (2) Twitter sebagai tempat bercakap-cakap dan terhubung ke blog; (3) Google+ digunakan untuk sharing foto dan tautan; (4) YouTube yang berfungsi untuk membagikan video kepada khalayak; (5) Facebook untuk membagikan momen dalam bentuk gambar yang menarik; (6) Instagram yang digunakan untuk membuat meme, kutipan, yang kini juga digunakan untuk membagikan video dengan durasi tertentu dan gambar (Kurniasih, 2016). Instagram dalam beberapa tahun terakhir telah menjadi media baru yang banyak disorot dan digunakan oleh masyarakat. Instagram kini menawarkan layanan untuk pengambilan gambar berupa foto, video, filter manipulasi, yang kemudian dibagikan kepada teman-teman maya pengguna melalui story, feed, reel, direct message (Hu, et al., 2014). Instagram juga digunakan sebagai media promosi baru bagi beberapa instansi, tidak terkecuali perpustakaan. Instagram sebagai media baru memberikan kemudahan untuk melakukan jejaring atau terhubung dengan khalayak luas. Namun demikian, media baru tersebut tetap memiliki kekurangan, yakni tidak ada batasan dalam mengakses konten yang terdapat di Instagram; dan media baru tersebut membutuhkan jaringan internet yang stabil untuk dapat menggunakannya (Ambarsari, 2020). Analisis Representasi Perpustakaan dalam Konten Instagram Di Indonesia, pengguna Instagram mencapai 99,9 juta dengan jumlah pengguna di atas usia 13 tahun mencapai 46,1%. Keseluruhan pendudukan Indonesia berdasarkan Badan Pusat Statistik pada pertengahan tahun 2022 mencapai 275,77 juta jiwa (BPS, 2022). Ditilik dari pengguna Instagram masa kini, yang mengikuti akun Instagram Perpusnas hanya berjumlah 246.000 dari keseluruhan pengguna Instagram. Artinya hanya 0,2% dari pengguna Instagram yang mengikuti akun Perpusnas. Pengguna Instagram di Indonesia lebih memilih mengikuti akun para konten kreator bahkan ada yang mencapai 5,9 juta pengikut dengan jumlah post 1.208 dalam bentuk video dan foto. Hal ini berbanding terbalik dengan jumlah post akun Instagram Perpusnas yang lebih banyak, yakni mencapai 2.180 namun dengan jumlah pengikut yang lebih sedikit, yakni 246 ribu. Sumber: Digital 2022: Indonesia — DataReportal – Global Digital Insights Gambar 1. Data pengguna Instagram di Indonesia Penulis memilih dua unggahan gambar dari akun Instagram Perpusnas yang diunggah pada April 2022 dengan like dan komentar terbanyak. Berikut hasil analisis semiotika dengan makna denotasi, konotasi, dan mitos. Sumber: Instagram Perpustakaan Nasional RI Gambar 2. Unggahan akun Instagram perpusnas pada 11 April 2022 Makna denotasi dalam Gambar 2 adalah sebagai berikut: terdapat tulisan “Pemberitahuan” dan “Tutup” dengan font yang lebih besar; bangunan perpustakaan yang tinggi dengan logo perpusnas; kerumumanan dengan membawa papan besar dan bendera; terdapat tulisan “Terkait dengan adanya rencana aksi penyampaian pendapat Aliansi Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Seluruh Indonesia dan pengalihan arus lalu lintas di kawasan Monas pada hari Senin, 11 April 2022 maka untuk sementara Gedung Layanan Perpusnas TUTUP”; caption akun menggunakan tagging #SahabatPerpusnas; perpustakaan nasional mencantumkan media sosial dan alamat website yang dimiliki. Makna konotasi dalam Gambar 2 adalah sebagai berikut: perpustakaan memberikan informasi kepada masyarakat bahwa layanan akan ditutup pada hari Senin, 11 April 2022; bangunan perpustakaan yang tinggi, megah, kokoh, kuat, modern, formal dengan logo Perpusnas; kerumunan dengan papan dan bendera yang dikibarkan akan menutupi jalan masuk atau akses untuk ke Perpusnas; admin Perpusnas menyapa para pemustaka dengan tag #SahabatPerpusnas. Dari makna denotasi dan konotasi pada Gambar 2, berikut makna yang muncul: perpustakaan nasional ingin merebut perhatian khalayak bahwa layanan perpustakaan tutup selama satu hari penuh dengan menegaskan pada tulisan “Pemberitahuan” dan “Tutup” dengan font yang besar; perpustakaan nasional memberikan ruang kepada Aliansi BEM Seluruh Indonesia untuk melakukan demonstrasi. Menyuarakan hak, kritik, dan saran masyarakat yang terwakili oleh para Aliansi; gedung Perpusnas yang menjulang seolah-seolah menampakkan gedung yang mewah dengan koleksi yang lengkap. Gedung perpustakaan nasional nampak menjulang dengan jendela hitam besar yang merepresentasikan kemewahan gedung dan tampak formal. Siapa pun yang memasuki atau keluar dari gedung tersebut nampak seperti seorang perlente yang berpendidikan dan sukses; kerumunan yang membawa papan dan mengibarkan bendera merepresentasikan massa yang identik ketika melakukan unjuk rasa. Mereka berkerumun dan menutupi akses di depan gedung perpustakaan yang mentereng hingga pintu perpustakaan tidak terlihat sebab tertutup oleh massa. Massa berdesak-desakan dengan mengibarkan bendera serta beberapa orang yang mengangkat papan agar pesan dalam papan tersebut terbaca oleh siapa pun.; keterangan tagar SahabatPerpusnas merujuk pada seluruh pengikut akun Instagram perpustakaan nasional. Penggunaan tagar dimaksudkan untuk menyasar para pengguna perpustakaan nasional pula. Penggunaan tagar juga dimaksudkan agar mudah untuk dicari dan sebagai tanda yang diberikan oleh perpustakaan nasional kepada seluruh pengguna perpustakaan nasional sebagai sapaan; dengan menunjukkan akun media sosial pada bagian paling akhir dalam foto yang diunggah, merepresentasikan bahwa perpustakaan nasional mengikuti perkembangan teknologi informasi dan masyarakat masa kini yang mulai berubah dalam mencari informasi. Pemustaka kini melakukan pencarian informasi melalui media sosial seperti Instagram, WhatsApp, Twitter, YouTube, dan Telegram (Hisan, 2022). Sumber: Instagram Perpustakaan Nasional RI Gambar 3. Unggahan akun Instagram perpusnas pada 11 April 2022 Makna denotasi dalam Gambar 3 adalah sebagai berikut: gambar lampu, bulan sabit, bintang; gedung perpustakaan yang tinggi dengan logo perpusnas; terdapat tulisan “Jam Buka Layanan Perpusnas bulan ramadhan 1443 H/2022 M” yang diikuti dengan hari serta pukul; terdapat tulisan “Kuota 1000”; latar belakang foto berwarna biru tua; caption akun menggunakan tagging #SahabatPerpusnas dan #perpusnasramadan; perpustakaan nasional mencantumkan media sosial yang dimiliki. Makna konotasi dalam Gambar 3 adalah sebagai berikut: gambar bulan sabit, bintang, dan lampu hias menunjukkan waktu malam hari dan waktu untuk ibadah; bangunan perpustakaan yang tinggi, megah, kokoh, kuat, modern, formal dengan logo Perpusnas; latar belakang foto yang menunjukkan suasana malam hari; admin akun Instagram Perpusnas yang menyapa pemustaka dengan #SahabatPerpusnas; admin akun Instagram Perpusnas yang menggunakan tagar #perpusnasramadan sebagai tanda. Berdasarkan makna denotasi dan konotasi, maka muncul mitos sebagai berikut: perpustakaan merepresentasikan bulan ramadhan dengan menggunakan gambar bulan sabit dan bintang yang tepat berada di lengkungan dalam bulan sabit, serta penggambaran bulan ramadhan pada malam hari yang khas dengan adanya karakteristik lampu lampion yang berasal dari Timur Tengah; latar belakang foto berwarna biru tua merepresentasikan bulan ramadhan hanya terlaksana pada malam hari saja dengan bintang yang bertebaran dan didukung dengan gambar bintang-bulan sabit dan lampu lampion yang ikonik; perpustakaan nasional membatasi jumlah pengunjung setiap harinya hanya untuk 1000 orang saja. Perpustakaan juga mengarahkan dan menegaskan tentang aturan tersebut, selain itu perpustakaan memberikan sebuah kewajiban kepada pengunjung untuk melakukan scan QR di aplikasi peduli lindungi. Scan QR dan jumlah pengunjung yang dibatasi seolah merepresentasikan perpustakaan nasional pada bulan Ramadhan hanya boleh dikunjungi oleh mereka yang memiliki ponsel dengan kapasitas kamera dan aplikasi yang memadai. Seolaholah memberikan keterangan bahwa perpustakaan nasional membatasi pengunjung dengan status sosial-ekonomi tertentu; tagar #perpusnasramadan menandakan bahwa perpustakaan sedang merayakan bulan Ramadhan selama bulan April hingga Mei hingga idul fitri tiba. Hal ini merepresentasikan perpustakaan adalah lembaga yang ikut merayakan Ramadhan dan menyambut bulan Ramadhan dengan suka cita; tulisan hari dan jam buka untuk layanan Perpusnas menjadi lebih pendek dari bulan sebelum Ramadhan. Hal ini menunjukkan bahwa pustakawan memerlukan waktu untuk menata kembali koleksi yang telah diupayakan oleh pemustaka lantas pustakawan dapat memiliki waktu yang cukup untuk mempersiapkan waktu buka puasa. Pustakawan menunjukkan bahwa mereka juga manusia biasa yang membutuhkan waktu dan energi yang terbatas selama melaksanakan ibadah puasa. Meski demikian, pustakawan tetap memberikan layanan prima kepada pemustaka, dilihat dari jam buka perpustakaan yang tetap membuka layanan pada hari Minggu, dan hanya menutup layanan perpustakaan pada hari libur nasional yang jatuh selama bulan Ramadhan. Sumber: Instagram Perpustakaan Nasional RI Gambar 4. Bio Profil Perpustakaan Nasional RI Makna denotasi dalam Gambar 4 adalah sebagai berikut: foto profil Perpusnas dengan gedung; informasi jumlah post, pengikut, yang diikuti, jam buka layanan perpustakaan; tulisan “Scan QR Peduli Lindungi” dan alamat website Perpusnas; informasi unggahan penting dalam sorotan. Makna konotasi dalam Gambar 4 adalah sebagai berikut: foto profil akun instagram dengan gedung tinggi dan besar dan pencahayaan foto profil yang memiliki nilai seni dan keindahan; informasi tentang jumlah unggahan 2.180 yang terdiri dari foto dan video, pengikut akun berjumlah 246k, akun yang diikuti berjumlah 172, informasi jam buka layanan perpustakaan nasional setiap hari; syarat untuk pengunjung perpustakaan memiliki aplikasi Peduli Lindungi dan QR barcode aplikasi tersebut sebelum memasuki area gedung perpustakaan; perpusnas menyimpan informasi penting dalam sorotan Instagram sehingga dapat dilihat oleh pemustaka online di Instagram kapan saja. Berdasarkan makna denotasi dan konotasi, maka mitos yang muncul adalah sebagai berikut: dalam foto profil yang digunakan merepresentasikan bahwa gedung perpustakaan sama indahnya dan sama besar serta sama tingginya dengan bangunan yang ditunjukkan. Hal ini seolah perpustakaan nasional ingin dipandang oleh masyarakat sebagai bangunan yang mewah dengan nilai keindahan dan seni yang tinggi. Arsitektur bangunan modern dan merujuk pada gedung pencakar langit yang nampak lebih indah ketika menjelang senja; jumlah unggahan merepresentasikan bahwa Perpusnas selalu update informasi di Instagram. Admin akun Instagram rajin melakukan unggah informasi yang berupa foto dan video, serta menunjukkan bahwa perpustakaan memiliki seorang ahli dalam bidang seni desain, editing video, pengambilan video, kamera yang mumpuni, yang artinya perpustakaan memiliki konten kreator beserta peralatan yang dibutuhkan untuk keperluan konten Instagram; dari sudut pandang pemustaka, Perpusnas memberikan layanan prima hingga malam pada hari Senin-Jumat, dan tetap membuka layanan meski di hari libur, yakni hari Minggu. Perpusnas memberikan layanan untuk mendukung kebutuhan informasi masyarakat hingga malam hari dan memberikan harapan kepada pemustaka untuk tetap ke perpustakaan walau matahari telah tenggelam; aturan melakukan scan QR Peduli Lindungi seolah menunjukkan bahwa yang dapat dan diperbolehkan untuk mengakses layanan perpustakaan hanyalah untuk kalangan tertentu. Dari segi pemustaka, perpustakaan hanya boleh diakses oleh orang-orang yang memiliki ponsel pintar dengan kapasitas yang memadai dan memiliki fitur kamera. Hal ini bertolak belakang dengan aturan dalam Undang-Undang No.43 tahun 2007 tentang Perpustakaan yang menyebutkan bahwa perpustakaan nasional sebagai rujukan masyarakat. Masyarakat yang membutuhkan informasi sebagai rujukan tidak hanya dari kalangan yang memiliki ponsel pintar, tetapi juga mereka yang belum atau tidak memiliki gawai tersebut; sorotan dalam akun Instagram Perpusnas merupakan bagian dari tema isi akun tersebut. Konten tersebut meliputi testimoni, prokes perpustakaan, newsletter, layanan online, pemenang lomba, keanggotaan, peminjaman koleksi, QnA, gemilang perpustakaan, read me a book, (Memorandum of Understanding) MoU, View (Mallawa, 2022).
Conclusion
Perpustakaan nasional merepresentasikan diri melalui apa yang diunggah dalam konten media sosial berupa Instagram. Perpustakaan nasional mengikuti perkembangan teknologi informasi dan media baru. Hal ini adalah usaha perpustakaan nasional untuk merangkul seluruh jaringan masyarakat menggunakan media dan penyebaran informasi yang lebih efektif, dan efisien. Selain itu, perpustakaan nasional berusaha untuk tetap mengunggah informasi terkini yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan, kegiatan perpustakaan, layanan perpustakaan, dan informasi lain yang berguna. Dalam unggahan fotonya, perpustakaan merepresentasikan bahwa gedung perpustakaan nasional tidak kalah mewah dengan gedung lembaga pemerintah lain, bahkan nampak seperti tempat orang-orang dengan model perlente. Selain itu, perpustakaan mengikuti perkembangan bahasa yang digunakan dalam media baru seperti menggunakan tagar untuk menandai pemustaka perpustakaan nasional. Hal ini bagus untuk dilakukan sebab sesuai dengan kepopuleran tagar di media sosial agar pencarian menjadi lebih cepat dan mudah untuk diingat. Perpustakaan nasional juga mendukung masyarakat untuk menyuarakan suara mereka melalui demonstrasi yang tertib. Perpustakaan memberikan ruang kepada masyarakat untuk menyuarakan pendapat. Perpustakaan nasional merupakan tempat bagi orang-orang yang ingin merubah hidup menjadi lebih baik, meningkatkan pengetahuan, dan tempat orang-orang berpendidikan dan kasta tinggi jika dilihat dari ikon gedung perpustakaan nasional yang nampak mewah. Perpustakaan nasional memberikan aturan kepada seluruh pemustaka yang datang untuk melakukan scan QR aplikasi Peduli Lindungi. Seolah menunjukkan perpustakaan nasional hanya bisa dijamah oleh kaum sosial-ekonomi tertentu yang memiliki ponsel pintar. Temuan ini diharapkan dapat menjadi referensi untuk pembaca bahwa representasi foto yang diunggah pada sosial media dapat menimbulkan perspektif yang berbeda. Hal ini menunjukkan bahwa makna yang dibangun oleh setiap individu, kelompok, atau dalam konsep tertentu akan berbeda. Topik representasi perpustakaan dapat dikembangkan pada akun sosial media perpustakaan yang lain, seperti YouTube, Twitter, dan sebagainya.