Kembali
16
1
2023 Maktabatun Jurnal Perpustakaan dan Informasi Vol 3 · 1 ISSN 2797-2275

Pengaruh Struktur Modal dan Profitabilitas Terhadap Harga Saham BRIS

Universitas Islam Negeri Sumatera Utara; Universitas Islam Negeri Sumatera Utara; Universitas Islam Negeri Sumatera Utara; Universitas Islam Negeri Sumatera Utara

Abstrak

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh struktur fundamental dan profitabilitas terhadap harga saham bris. Setiap bisnis memiliki tujuan menyeluruh yang sama, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang: memaksimalkan dan meningkatkan kekayaan pemegang sahamnya. Untuk mencapai hal ini, manajemen bisnis dapat mengambil jalan untuk meningkatkan laba perusahaan dan memaksimalkan nilai perusahaan. Pengambilan sampel ditentukan dengan menggunakan teknik purposive sampling; berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan, dipilih enam Bank Umum Syariah secara acak. Data penelitian terdiri dari data sekunder yang diambil dari Annual Report (AR) tahun 2015-2019. Data Penelitian ini menggunakan metode statistik analisis regresi data panel. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: 1) DAR tidak berpengaruh signifikan dan berarti terhadap nilai perusahaan; 2) DER berpengaruh positif dan bermakna terhadap nilai perusahaan; 3) ROA tidak berpengaruh signifikan dan berarti terhadap nilai perusahaan; dan 4) ROE tidak berpengaruh signifikan dan berarti terhadap nilai perusahaan.

Abstract

The purpose of this study was to determine the effect of fundamental structure and profitability on BRIS stock prices. Every business has the same overarching goal, both in the short and long term: to maximize and increase the wealth of its shareholders. To achieve this, business management can take the path of increasing company profits and maximizing company value. Sampling was determined using a purposive sampling technique; based on predetermined criteria, six Islamic Commercial Banks were randomly selected. The research data consists of secondary data taken from the 2015-2019 Annual Report (AR). The data of this study used the statistical method of panel data regression analysis. The results of this study indicate that: 1) DAR has no significant and significant effect on firm value; 2) DER has a positive and significant effect on firm value; 3) ROA has no significant and significant effect on firm value; and 4) ROE has no significant and significant effect on firm value.
Keywords: Capital Structure · Profitability · Syariah banking · The value of the company

Introduction

Pasar saham memainkan peran penting dalam perekonomian suatu negara karena memiliki tujuan ganda. Pasar modal memfasilitasi transfer dana dari investor ke perusahaan penerbit. Investor berharap untuk mencapai titik impas dari distribusi dana dengan menginvestasikan kelebihan dana yang mereka miliki. Pengaruh positif pasar saham terhadap pembangunan ekonomi nasional dapat dibagi menjadi empat kategori: (1) meningkatkan struktur pembiayaan perusahaan; (2) menyediakan akses pembiayaan jangka panjang bagi dunia usaha; dan (3) memfasilitasi alokasi modal yang efisien. Kehadiran pasar keuangan sangat penting bagi mereka yang memiliki modal untuk berinvestasi, karena menyediakan akses ke dividen bagi pemegang saham dan suku bunga kompetitif bagi pemegang obligasi. Selain itu, investor dapat sekaligus melakukan investasi pada sejumlah instrumen yang dapat memitigasi risiko (Astuti, 2010:5). Pertanyaan yang muncul adalah seberapa besar pengaruh kinerja organisasi terhadap harga sahamnya di pasar saham. Harga saham merupakan cerminan dari nilai perusahaan secara keseluruhan. Nilai suatu perusahaan akan naik jika kinerjanya membaik setelah go public. Di pasar saham yang efektif, ini akan dihargai dengan kenaikan harga saham perusahaan. Di sisi lain, jika berita buruk tentang kinerja perusahaan dirilis, harga saham akan jatuh di pasar saham. Ini adalah kontradiksi dengan kebijaksanaan umum bahwa kinerja perusahaan setelah go public harus diukur terhadap setiap perubahan signifikan dalam harga sahamnya. Perusahaan di semua sektor didorong oleh globalisasi untuk menjadi lebih kompetitif karena mereka berusaha untuk mempertahankan eksistensinya. Untuk alasan ini, bisnis harus bersaing tidak hanya dengan perusahaan yang ada di industri yang sama, tetapi juga dengan pendatang baru yang potensial di lapangan, dengan konsumen, dan dengan perusahaan yang saat ini mengisi peran mulai dari distributor ke konsumen hingga produsen barang pengganti. Untuk mencapai tujuan ekspansi yang telah ditetapkan, pelaku bisnis diharapkan untuk terus mengembangkan strategi dan inovasi baru. Namun demikian, diperlukan sumber daya keuangan yang cukup besar untuk mencapai target pertumbuhan tersebut di atas.Ini adalah sumber pertengkaran yang umum, terutama di organisasi sektor publik (Fadhillah, 2012). Laba per saham (EPS), juga dikenal sebagai rasio laba per saham, adalah metrik umum yang digunakan untuk menilai nilai perusahaan. Selanjutnya Syamsudin (2004:136) menyatakan bahwa pemegang saham biasanya tertarik dengan Earning Per Share (EPS) yang tinggi karena merupakan indikator keberhasilan perusahaan. Laba per saham, juga dikenal sebagai EPS, adalah salah satu metrik paling mendasar untuk dipertimbangkan saat melakukan analisis perusahaan. EPS suatu perusahaan mengungkapkan berapa banyak laba bersih perusahaan yang dapat didistribusikan kepada pemegang saham. Besar kecilnya EPS suatu perusahaan dapat diketahui dengan melihat laporan keuangannya (Tandelilin, 2001: 241). Tabel berikut menampilkan nilai yang dilaporkan Bursa Efek Indonesia (BEI) untuk dividen saham bank syariah. Selain perbankan, akademisi telah melakukan penelitian ekstensif tentang dampak struktur modal terhadap bisnis, menemukan bahwa struktur modal berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan (Chowdury & Chowdury, 2010; Bukit & Oyerogba, 2012). Hasil studi juga menunjukkan korelasi positif antara cakrawala investasi jangka panjang dan metrik profitabilitas seperti return on assets (ROA), return on equity (ROE), dan earning per share (EPS) (Goyal, 2013; Hasan, Ahsan, Rahaman, & Alam, 2014). Hasil penelitian juga menunjukkan korelasi positif antara leverage dan DER ketika ROA, ROE, dan EPS digunakan untuk menentukan nilai perusahaan (Waheed, Khan, Shahid, & Ahmad; 2016; Abiodun, 2014).Setelah itu banyak peneliti yang melakukan penelitian tentang dampak profitabilitas terhadap nilai perusahaan. Temuan penelitian menunjukkan bahwa profitabilitas berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan (Bukit, 2012; Chen & Chen, 2011; Mardiyati, 2012; Setiabudi & Dian, 2012; Rizqia dkk, 2013; Wijaya & Sedana, 2015; Sucuahi & Mark, 2016) .

Method

Penelitian ini menggunakan data sekunder yang diperoleh dari (www.idx.co.id), khususnya laporan keuangan Bank Umum Syariah (BUS) Indonesia tahun 2015-2019. Populasi sampel penelitian ini adalah seluruh bank umum syariah yang ada di Indonesia. Pengambilan sampel untuk penelitian ini dilakukan dengan menggunakan strategi purposive sampling, dan data dikumpulkan dari 13 bank umum berorientasi syariah di Indonesia. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah statistik deskriptif, yang berupaya mendeskripsikan dan memvisualisasikan data yang dikumpulkan sebagaimana adanya tanpa menarik kesimpulan yang luas dan menyeluruh tentangnya. Ketika melakukan penelitian dengan maksud untuk mendeskripsikan atau menggambarkan suatu objek penelitian melalui data sampel atau sampel yang mewakili populasi, analisis data panel adalah teknik yang digunakan untuk memodelkan pengaruh sekumpulan variabel terhadap objek tersebut.

Result & Discussion

Pengaruh Debt to Equity ratio (DER) terhadap Harga Saham Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa nilai DER berpengaruh positif signifikan terhadap harga saham, semakin tinggi nilai DER maka semakin tinggi pula harga saham.Sebaliknya, harga saham cenderung turun seiring dengan penurunan nilai DER. Nilai koefisien regresif DER yang besar yaitu 0,474 artinya jika nilai DER naik sebesar Rp 1 maka harga saham akan naik sebesar Rp 0,474 juga.Sebaliknya penurunan nilai DER sebesar Rp 1 akan menyebabkan penurunan harga saham sebesar Rp 0,474. Rasio utang terhadap ekuitas mengungkapkan bagaimana perusahaan membiayai dirinya sendiri sehubungan dengan uang yang dimilikinya, baik dalam bentuk utang jangka panjang maupun ekuitas jangka pendek. Efek positif DER terhadap harga saham menunjukkan bahwa investor memperhatikan jumlah modal mereka yang mereka alokasikan ke perusahaan untuk menghasilkan keuntungan bersih bagi diri mereka sendiri. Semakin besar DER, semakin besar kemungkinan struktur pembiayaan bisnis memanfaatkan uang yang disediakan oleh kreditur dengan baik. Hasil tersebut bertentangan dengan penelitian Tika (2012) yang menemukan bahwa DER berpengaruh negatif terhadap harga saham. Pengaruh Debt to asset ratio (DAR) terhadap Harga Saham Harga saham dipengaruhi secara signifikan dengan arah positif oleh rasio profitabilitas yang diproyeksikan menggunakan Debt to Asset Ratio (DAR). Artinya, jika nilai DAR naik, maka harga saham juga akan naik. Di sisi lain, penurunan nilai DAR akan menyebabkan jatuhnya harga saham. Dengan koefisien regresi DAR sebesar Rp 1.913, maka kenaikan DAR sebesar 1 persen akan menyebabkan kenaikan harga saham sebesar 1 persen, dan penurunan DAR sebesar 1 persen akan menyebabkan penurunan harga saham sebesar 1 persen. Hasil analisis regresi menunjukkan adanya hubungan yang positif dan signifikan secara statistik antara variabel DAR dengan harga saham. Hal ini dikarenakan ketika DAR meningkat secara rata-rata, maka harga saham juga ikut meningkat seperti terlihat pada tabel 4.1. Pada tahun 2009, median DAR adalah 0,46 persen, dan median harga saham adalah 121,1 ribu dolar. Kenaikan DAR menjadi 0,48 pada tahun 2010 bertepatan dengan kenaikan harga saham menjadi 2077,5000 pada tahun itu. Namun, untuk tahun 2011, DAR rata-rata turun menjadi $0,4600 sementara harga saham rata-rata naik menjadi $2.422,1500. Nilai DAR terus turun pada tahun 2012, mencapai 0,4480, namun harga saham naik tajam tahun itu, berakhir pada $333,9 per saham. Efek positif DAR terhadap harga saham disebabkan oleh strategi investasi perusahaan, yang didasarkan pada teori trade-off struktur moneter. Menurut Brigham dan Houston (2010: 183), adanya fakta bahwa membayar bunga sebagai pengurang pajak membuat suatu obligasi menjadi lebih murah dibandingkan dengan saham biasa atau saham preferen merupakan dasar dari trade-off theory. Penggunaan utang yang lebih banyak akan menurunkan pajak dan menyebabkan porsi laba perusahaan yang lebih besar dibagikan kepada pemegang saham sebagai laba sebelum bunga dan pajak (EBIT). Dengan meningkatnya aktivitas perusahaan, semakin jelas bahwa produknya dapat menembus pasar yang ditargetkan, menghasilkan keuntungan yang lebih tinggi. Hal ini terjadi karena perusahaan makanan dan minuman menghasilkan produk yang dibutuhkan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan gizi dasarnya; akibatnya, sasaran penjualan yang ditetapkan oleh bisnis ini lebih mungkin untuk dipenuhi. Oleh karena itu, meskipun DAR tinggi, dividen yang dibayarkan kepada investor tetap relatif tinggi, yang mendorong naiknya harga saham. Temuan ini bertentangan dengan teori yang menyatakan bahwa DAR digunakan untuk menghitung berapa total kebutuhan arus kas perusahaan yang dipenuhi oleh biaya operasional (Retno, 2010:8). Nilai yang tinggi pada DAR ini menunjukkan bahwa kas digunakan untuk mendanai sebagian besar aktivitas operasional perusahaan. Ini menimbulkan risiko tinggi, karena keuntungan perusahaan kemungkinan akan digunakan terutama untuk membayar bunga dan pajak daripada memperluas bisnis.Tingkat risiko yang tinggi menyebabkan jatuhnya harga saham karena investor tidak menghargai saham berisiko tinggi dan akibatnya permintaan akan saham tersebut turun. Pengaruh Earning per share (EPS) terhadap Harga Saham Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa earning per share (EPS) berpengaruh positif signifikan terhadap harga saham. Artinya, EPS yang lebih tinggi akan menyebabkan harga saham lebih tinggi dan sebaliknya. Sebaliknya, harga saham cenderung turun ketika EPS menurun.Besarnya koefisien regresi EPS sebesar 0,505 berarti bahwa kenaikan laba per saham sebesar 1 persen akan menyebabkan kenaikan harga saham sebesar 0,505 persen.Sebaliknya, penurunan laba per saham sebesar Rp 1 akan menyebabkan penurunan harga saham sebesar Rp 0,505.EPS yang tinggi menunjukkan bahwa perusahaan akan memberikan kesempatan kepada pemegang sahamnya untuk tumbuh dan mendapatkan keuntungan, sehingga analisis EPS sering digunakan oleh investor untuk menentukan kemungkinan dividen dibagikan kepada pemegang saham. Temuan penelitian ini didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh Tika (2012) dan Hidly (2012), keduanya menemukan bahwa EPS berpengaruh positif signifikan secara statistik terhadap harga saham.Juga jelas dari temuan penelitian ini bahwa EPS memiliki dampak yang signifikan terhadap harga saham. Temuan ini sejalan dengan penelitian Endah (2011), Tika (2012), dan Hidly (2012), yang semuanya menemukan bahwa EPS berpengaruh signifikan terhadap harga saham.Artinya laba per saham merupakan variabel terbaik untuk memprediksi harga saham.Rasio profitabilitas, seperti laba per saham (EPS), menentukan tingkat pertumbuhan yang akan dilihat oleh pemegang saham. Menurut Tandelilin (2010:372), salah satu indikator terpenting untuk menilai prospek masa depan perusahaan adalah melihat tingkat pertumbuhan labanya. Rasio P/E yang tinggi menunjukkan bahwa investor memberi nilai tinggi pada pertumbuhan, dan sebaliknya. Hal ini tidak diragukan lagi akan menarik minat investor untuk membeli saham, dan permintaan yang tinggi akan mendorong harga saham lebih tinggi. Pengaruh Return on Equity (ROE) terhadap Harga Saham Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa return on equity berpengaruh negatif signifikan terhadap harga saham. Artinya, peningkatan ROE akan diikuti dengan penurunan harga saham. Sebaliknya, penurunan ROE akan menyebabkan naiknya harga saham. Variabel regresi koefisien ROE terbesar adalah 0,024.Artinya peningkatan ROE sebesar 1 Rp akan mengakibatkan penurunan harga saham sebesar 0,024 Rp. Sebaliknya, penurunan ROE sebesar Rp 1 akan menyebabkan kenaikan harga saham sebesar Rp 0,024.Arti dampak negatif terhadap ROE adalah ROE yang tinggi menandakan bahwa perusahaan makanan atau minuman sedang mengalami kenaikan harga saham meskipun ROE turun. Hal ini terlihat dari nilai rata-rata ROE tahun 2009 sebesar 23,8740 berdasarkan rata-rata harga saham sebesar 1211,2000 (tabel 4.1). Pada tahun 2010, return on equity (ROE) turun menjadi 22,1100, sedangkan harga satu lembar saham naik menjadi 2077,5000. Situasi yang sama terjadi pada tahun 2011: rata-rata return on equity (ROE) turun menjadi 20,5340, sedangkan rata-rata harga saham naik menjadi 2422,1500. Demikian pula pada tahun 2012, nilai ROE jatuh ke titik terendah sepanjang masa di 19,2800, tetapi harga saham naik tajam ke rekor tertinggi di 3339,000. Hal ini menunjukkan bahwa perusahaan makanan dan minuman tidak menggunakan sumber daya mereka secara maksimal, dan bahwa tingkat pertumbuhan nilai yang lebih tinggi berarti harga saham yang lebih tinggi. Temuan ini bertentangan dengan temuan penelitian yang dilakukan oleh Hidly (2012) yang menyimpulkan bahwa ROE berpengaruh positif signifikan terhadap harga saham. Pengembalian ekuitas (ROE) mengukur laba yang diperoleh pemegang saham (investor saham preferen dan saham biasa) atas saham finansial mereka di perusahaan. Return on equity (ROE) juga digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan menarik investasi dari pemegang saham. Nilai Return on Equity yang tinggi menunjukkan bahwa perusahaan berkembang dengan cepat dan akan menarik investor berkualitas tinggi. Hal ini tidak diragukan lagi akan menarik minat investor untuk membeli saham, dan permintaan yang tinggi akan mendorong harga saham lebih tinggi.

Conclusion

Disimpulkan dari temuan penelitian ini bahwa harga saham secara signifikan dipengaruhi oleh profit margin yang diproyeksikan melalui ROE dan EPS serta struktur modal yang diproyeksikan melalui DAR dan DER secara bersamaan. Dukungan yang kuat terhadap fluktuasi harga saham juga dapat dilihat dari rasio DER hingga DAR hingga EPS terhadap return on equity. Oleh karena itu keempat variabel tersebut bersifat informatif dalam memprediksi pergerakan harga saham.Jelas juga bahwa DER, DAR, dan EPS berpengaruh positif terhadap harga saham, sedangkan ROE berpengaruh sebaliknya. Nilai saham suatu perusahaan akan naik jika DER, DAR, dan EPS-nya naik semua. Di sisi lain, harga saham akan turun drastis jika ROE meningkat. Hasil analisis menunjukkan bahwa EPS berpengaruh signifikan terhadap harga saham. Earning per share yang tinggi menjadi daya tarik bagi pemegang saham karena menunjukkan bahwa pemegang saham berhak menerima pembayaran dividen atas setiap lembar saham yang dimilikinya.