Kembali
16
1
2023 IKOMIK: Jurnal Ilmu Komunikasi dan Informasi Vol 3 · 2 ISSN 2798-9607

Kecemasan Perpustakaan Pada Mahasiswa Universitas Lancang Kuning

Universitas Lancang Kuning; Universitas Lancang Kuning; Universitas Lancang Kuning

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kecemasan pustakawan pada mahasiswa Unilak, tingkat kecemasan yang dialami, dan faktor-faktor yang mempengaruhi kecemasan tersebut. Metode yang digunakan yaitu metode survei dengan pendekatan kuantitatif. responden penelitian ini berjumlah 60 mahasiswa yang diambil dengan menggunakan teknik purposive sampling, dan data penelitian dianalisis menggunakan structural equation model (SEM) berbasis component atau variance dengan menggunakan metode partial least square (PLS). Hasil penelitian menunjukkan ada kecemasan perpustakaan pada mahasiswa Unilak, kecemasan yang dialami berada pada tingkat rendah. Kecemasan perpustakaan pada mahasiswa Unilak dipengaruhi oleh hambatan pelayanan pustakawan, hambatan kenyamanan perpustakaan, hambatan afektif, dan hambatan mekanis. Berdasarkan hasil penelitian ini diambil kesimpulan bahwa hambatan dengan pustakawan merupakan faktor yang memiliki pengaruh paling besar, pihak perpustakaan disarankan untuk melakukan evaluasi terhadap pelayanan yang diberikan kepada pemustaka dan juga melakukan pembinaan terhadap kompetensi pustakawan dalam memberikan pelayanan maupun penyelenggaraan perpustakaan, yang bertujuan untuk mengurangi tingkat kecemasan perpustakaan terutama pada factor hambatan dengan pustakawan.
Keywords: kecemasan · kecemasan perpustakaan · mahasiswa

Introduction

Pengelola perpustakaan terus-menerus mendapatkan tantangan dalam menghadapi dan mengidentifikasi berbagai permasalahan yang mungkin menghambat dalam penggunaan perpustakaan. Terdapat banyak faktor yang dapat mempengaruhi efektivitas penggunaan perpustakaan seperti ukuran gedung perpustakaan, kurangnya keterampilan literasi informasi, kesulitan menggunakan online public access catalog (OPAC), dan lain sebagainya. Salah satu faktor yang perlu menjadi perhatian serius oleh pengelola perpustakaan adalah kecemasan perpustakaan. Mellon (1986)collected in beginning composition courses over a two-year period, was analyzed for recurrent themes. It was found that 75 to 85 percent of the students in these courses described their initial response to library research in terms of fear. Three concepts emerged from these descriptions: (1 menemukan bahwa kecemasan perpustakaan tersebut disebabkan oleh ukuran gedung perpustakaan itu sendiri, tata letak perpustakaan, dan tidak mengetahui apa yang harus dilakukan di perpustakaan. Temuan mellon menjadi awal munculnya konsep kecemasan perpustakaan, dan hingga sekarang banyak penelitian yang sudah dilakukan tentang kecemasan perpustakaan baik di dalam maupun di luar negeri.Perpustakaan menjadi salah satu sumber informasi bagi mahasiswa untuk mendukung proses pembelajaran maupun penelitian dalam menyelesaikan tugas akhir. Fakta yang terjadi di lapangan, mahasiswa masih mengalami beragam hambatan ketika menggunakan perpustakaan. Keadaan ini perlu diatasi dengan memberikan pelayanan yang maksimal untuk mendukung semua kebutuhan informasi mahasiswa. Penelitian tentang kecemasan perpustakaan dirasa perlu dilakukan untuk memperbaiki sistem pelayanan tersebut, karena berdasarkan uraian pada paragraf sebelumnya dapat diketahui bahwa kecemasan perpustakaan sebagian besar dipengaruhi oleh faktor dari internal perpustakaan. Kecemasan perpustakaan adalah rasa cemas yang dialami oleh pemustaka ketika menggunakan perpustakaan, sehingga perasaan tersebut berpengaruh terhadap efektivitas dalam penggunaan perpustakaan (Carlile, 2007). Rasa cemas ini bisa disebabkan oleh pustakawan, sarana yang ada di perpustakaan, suasana di perpustakaan, yang berdampak pada kenyamanan pemustaka saat menggunakanperpustakaan. Hal ini dibuktikan dengan beberapa penelitian tentang kecemasan perpustakaan yang sudah pernah dilakukan oleh Song et al. (2014) di beberapa perguruan tinggi di Cina, Annisa (2014) di Universitas Indoensia, dan Avidiansyah et al. (2021) di Universitas Gadjah Mada. Tiga penelitian tersebut dilakukan di perguruan tinggi yang berbeda dan berhasil mengidentifikasi bahwa rata-rata mahasiswa mengalami kecemasan perpustakaan.Jiao dan Onwuegbuzie (1999) menyebutkanbahwa kecemasan perpustakaan adalah permasalahan yang unik, sehingga perlu dilakukan penelitian untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang mempegaruhi kecemasan perpustakaan tersebut pada tempat yang berbeda. Berdasarkan pernyataan tersebut, penelitian ini dimaksudkan untuk mengidentifikasi kecemasan perpustakaan pada mahasiswa Universitas Lancang Kuning (Unilak). Unilak tercatat sebagai salah satu perguruan tinggi swasta di Kota Pekanbaru, yang memiliki mahasiswa aktif sebanyak 11.499 pada Tahun Akademik 2021/2022 Genap. Mahasiswa ini berasal dari suku dan etnis yang berbeda, seperti batak, minang, dan sebagian besar dari suku melayu riau. Setiap suku dan etnis tentunya memiliki kebudayaan yang berbeda pula. Menurut Anwar et al. (2004) pada lingkungan yang memiliki beragam budaya, memungkinkan peneliti untuk melakukan penyesuaian maupun pengembangan (memperbaharui) skala pengukuran kecemasan perpustakaan. Pendapat ini menguatkan pernyataan Jiao dan Onwuegbuzie di atas bahwa kecemasan perpustakaan adalah permasalahan yang unik, sehingga perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk mencari faktor-faktor yang mempengaruhi kecemasan perpustakaan tersebut.Berdasarkan penjelasan di atas, makadiajukan beberapa pertanyaan pada penelitian ini, diantaranya: (i) Apakah ada kecemasan perpustakaan pada mahasiswa Universitas Lancang Kuning?; (ii) Bagaimana tingkat kecemasan perpustakaan pada pada mahasiswa Universitas Lancang Kuning?; (iii) Apa faktor-faktor yang mempengaruhi kecemasan perpustakaan pada mahasiswa Universitas Lancang Kuning?. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah ada kecemasan perpustakaan, tingkat kecemasan yang dialami, dan mengidentifikasi faktorfaktor yang mempengaruhi kecemasan perpustakaanpada mahasiswa Unilak, sehingga hasil dari penelitian ini dapat memberikan kontribusi dalam pengembangan pelayanan perpustakaan Unilak untuk kedepannya. Berdasarkan penelusuran melalui google scholar, penelitian tentang kecemasan perpustakaan sudah pernah dilakukan di Indonesia:Pertama, Annisa (2014) melakukan penelitian untuk mengetahui tingkat kecemasan perpustakaan pada mahasiswa BIPA di Perpustakaan Universitas Indonesia. Hasil penelitian Annisa menunjukkan bahwa tingkat kecemasan pada mahasiswa BIPA berada pada kategori rendah dengan nilai deviasi sebesar 2,32. Penelitian ini mengidentifikasi 5 faktor yang mempengaruhi kecemasan perpustakaan yaitu hambatan dengan pustakawan, hambatan dengan kenyamanan di perpustakan, hambatan afektif, hambatan pengetahuan tentang perpustakaan, dan hambatan mekanik. Faktor yang memiliki pengaruh paling tinggi adalah hambatan mekanis, dan hambatan dengan pustakawan merupakan faktor yang memiliki pengaruh paling rendah terhadap kecemasanperpustakaan yang dialami oleh mahasiswa BIPA.Kedua, peneltian yang dilakukan oleh Song et al. (2014) di Cina menunjukkan bahwa kecemasan yang dialami oleh mahasiswa berada pada ketegori sedang, dan menemukan 7 faktor yang mempengaruhi kecemasan perpustakaan diantaranya resources, retrieval, regulations, staff, knowledge, comfort, and affection. Pada penelitian ini Song et al. (2014) melakukan modifikasi terhadap skala pengukuran kecemasan perpustakaan berdasarkan konteks budaya Cina, sehingga penelitian ini mendapatkan hasil yang berbeda dari penelitian sebelumnya.Ketiga, Avidiansyah et al. (2021) melakukan penelitian terhadap mahasiswa program sarjana, magister, dan doktoral di Universitas Gadjah Mada. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa ada perbedaan tingkat kecemasan perpustakaan berdasarkan jenjang pendidikan, namun secara umum kecemasan yang dialami mahasiswa berada pada kategori rendah. Selanjutnya, Avidiansyah et al.(2021) juga mengidentifikasi bahwa mahasiswa yang tidak mengikuti sosialisasi layanan perpustakaan mengalami kecemasan dengan kategori sedang, dan mahasiswa yang sudah mengikuti sosialisasi layanan perpustakaan mengalami kecemasan dengan kategori rendah.Berdasarkan hasil dari 3 penelitian di atas menggambarkan bahwa kecemasan perpustakaan dipengaruhi oleh faktor-faktor yang berbeda, dilatar belakangi oleh perbedaan geografis, budaya, maupun jenjang pendidikan. Dengan demikian, tidak tertutup kemungkinan penelitian yang dilakukan di Unilak juga mendapatkan hasil yang berbeda, dan bisa dijadikan sebagai pedoman untuk pengembangan layanan khususnya di Perpustakaan Unilak. Penelitian ini memiliki perbedaan dari penelitian sebelumnya berdasarkan tempat dan mahasiswa yang menjadi objek penelitiannya.LANDASAN TEORIKecemasan PerpustakaanPemustaka mengunjungi perpustakaan untukmemenuhi kebutuhan informasinya, yang diharapkan dapat membantu dalam menyelesaikan tugas seharihari.Namun terkadang pemustaka dihadapkandengan rasa cemas ketika ingin menggunakan perpustakaan, yang sering diistalahkan dengan konsep kecemasan perpustakaan (library anxiety).Konsep kecemasan perpustakaan ini bermula dari penelitian yang dilakukan Mellon (1986)collected in beginning composition courses over a two-year period, was analyzed for recurrent themes. It was found that 75 to 85 percent of the students in these courses described their initial response to library research in terms of fear. Three concepts emerged from these descriptions: (1 yang mengidentifikasi empat penyebab kesemasan perpustakaan. Dua terkait dengan ruang fisik perpustakaan yaitu ukuran bangunan dan tata letak perpustakaan. Dua penyebab lainnya bersifat konseptual dan terkait dengan proses penelitian atau tingkat literasi yang dimiliki oleh pemustaka. Selain mengalami rasa cemas, perasaan malu juga akan muncul ketika melihat pemustaka lain lebih kompeten dalam menggunakan perpustakaan, sehingga berakhir dengan perilaku menghindar untuk menggunakan perpustakaan.Beberapa penelitian sebelumnya telahmengidentifikasi penyebab terjadinya kecemasan perpustakaan. Salah satunya penelitian Bostick (1992) yang mengidetifikasi indikator yang mempengaruhi kecemasan perpustakaan, diantaranya: Hambatan dengan pustakawan; Hambatan kenyamananperpustakaan; Hambatan afektif; Pengetahuan tentang perpustakaan; dan Hambatan mekanis berkaitan dengan perasaan.Hambatan dengan pustakawan muncul ketikamahasiswa merasa tidak dipedulikan atau tidak mendapatkan pelayanan yang baik di perpustakaan.Hambatan afektif berkaitan dengan perasaan tidak kompeten saat menggunakan perpustakaan, ditambah dengan asumsi bahwa mahasiswa lain terlihat lebih kompeten dalam menggunakan perpustakaan.Selanjutnya hambatan kenyamanan mengacukepada kenyamanan lingkungan perpustakaanyang memberikan rasa aman, ramah, dan tidak membahayakan. Pengetahuan tentang perpustakaan berkaitan dengan sejauh mana mahasiswa mengetahui dan merasa akrab dengan lingkungan perpustakaan.Terakhir, hambatan mekanis mengacu padakecemasan yang muncul ketika siswa menggunakan peralatan perpustakaan seperti komputer, printer, dan mesin fotokopi.Kerangka KonseptualLima faktor kecemasan perpustakaan diatas bisa dijadikan acuan untuk mengukur tingkat kecemasan perpustakaan, sehingga kerangkapenelitian ini disusun sebagai berikut:Gambar 1. Kerangka Konseptual PenelitianBerdasarkan kerangka konseptual di atas,hipotesis yang diajukan sebagai berikut:H1 : Hambatan pelayanan olehpustakawan berpengaruh terhadap kecemasanperpustakaan pada mahasiswa Universitas Lancang Kuning.H2 : Hambatan afektifberpengaruh terhadap kecemasan perpustakaan pada mahasiswa Universitas Lancang Kuning.H3 : Hambatan kenyamananperpustakaan berpengaruh terhadap kecemasan perpustakaan pada mahasiswa Universitas Lancang Kuning.H4 : Pengetahuan tentangperpustakaan berpengaruh terhadap kecemasan perpustakaan pada mahasiswa Universitas Lancang Kuning.H5 : Hambatan Mekanisberpengaruh terhadap kecemasan perpustakaan pada mahasiswa Universitas Lancang Kuning.

Method

Metode pada penelitian ini menggunakanmetode survei dengan pendekatan kuantitatif.Menurut Fraenkel et al. (2016) dalam metode survei, data dikumpulkan dari sekolompok respondenmenggunakan kuisioner. Pada dasarnya penelitian kuatitatif mencoba menjelaskan permasalahan berdasarkan angka dan hasil penelitian digeneralisasi terhadap populasi yang lebih besar. Populasi dalam penelitian ini adalah mahasiswa aktif Universitas Lancang Kuning yang mengalami kecemasanperpustakaan. Pengumpulan data primer dalam penelitian ini dilakukan menggunakan kuisioner, mengadopsi skala pengukuran kecemasan yangdikembangkan oleh Bostick. Data sekunderdihasilkan melalui studi pustaka, mengumpulkan berbagai literatur yang terkait dengan topik penelitian terutama artikel jurnal dan buku, sebagai rujukan dalam penelitian ini.Data penelitian dianalisis menggunakanstructural equation model (SEM) berbasis component atau variance dengan menggunakan metode partial least square (PLS). Pemilihan metode ini berdasarkan alasan bahwa metode PLS merupakan metode analisis yang powerful, karena tidak mengasumsikan data harus dengan pengukuran skala tertentu, jumlah sampel kecil, dan juga dapat digunakan untuk konfirmasi teori (Ghozali, 2014). Penentuan jumlah sampel penelitian mengacu kepada pendapat Ghozali (2014) bahwa jumlah minimal sampel yang dibutuhkan dalam SEM-PLS berkisar dari 30 hingga 100 orang.Sampel diambil menggunakan teknik purposive sampling, dengan kriterianya adalah mahasiswa yang mengalami kecemasan perpustakaan.Selanjutnya, pengujian hipotesis dilakukandengan teknik analisis jalur menggunakan program SmartPLS 3. Pada penelitian ini terdapat 5 variabel bebas diantaranya hambatan dengan pustakawan (X1), hambatan afektif (X2), hambatan kenyamanan perpustakaan (X3), pengetahuan tentangperpustakaan (X4), hambatan mekanis (X5), dan 1 variabel terikat yaitu kecemasan perpustakaan (Y).Keputuhan terhadap hipotesis ditetapkan dengan melihat nilai tstatistik dan ttabel. Hipotesis diterima jika tstatistik > ttabel, sebaliknya hipotesis ditolak jika tstatistik < ttabel.

Result & Discussion

Data penelitian dikumpulkan menggunakankuisioner yang dilaksanakan pada Januari hingga April 2022, sebanyak 60 mahasiswa telah berpartisipasi sebagai responden, terdiri dari 15 (25%) laki-laki dan 45 (75%) perempuan. Berikut disajikan perbandingan jumlah responden dalam bentuk diagram:Gambar 2. Perbandingan Jumlah RespondenSelanjutnya data yang dihasilkan dari kuisioner penelitian dibuatkan tabulasi menggunakan Ms. Excel dan diberikan coding untuk membedakan jawaban setiap responden. Jawaban kuisioner responden dijumlahkan dan dibagi dengan jumlah pertanyaan untuk menghitung nilai rata-rata setiap responden.Nilai rata-rata ini diperlukan untuk menentukan apakah ada kecemasan perpustakaan pada mahasiswa Unilak. Anwar et al. (2004) membuat kategori kecemasan perpustakaan menjadi 5 tingkatan, sebagai berikut:Tabel 1. Kategori Kecemasan PerpustakaanSumber: Anwar et al. (2004)Tingkat Kecemasan Rentang Nilai Rata-Rata No anxiety 0,00 – 2,21Low anxiety 2,22 – 2,65Mild anxiety 2,66 – 3,54Moderate anxiety 3,55 – 3,98Severe anxiety 3,99 – 5,00Dari tabel 1 di atas dapat diketahui bahwa mahasiswa dianggap tidak mengalami kecemasan perpustakaan jika memiliki nilai rata-rata ≤ 2,21.Berdasarkan hasil penghitungan nilai rata-rata, terdapat 2 responden memiliki nilai ≤ 2,21 [lihat lampiran 1], yang berarti responden tersebut tidak mengalami kecemasan perpustakaan. Sisanya 58 responden mengalami kecemasan perpustakaan pada tingkatan yang berbeda, diantaraya low anxiety 11 orang, mild anxiety 40 orang, moderate anxiety 3 orang, dan severe anxiety 4 orang [lihat tabel 2]. Berdasarkan penghitungan tersebut ditarik kesimpulan bahwa ada kecemasan perpustakaan pada mahasiswa Unilak.Secara keseluruhan nilai rata-rata dari 58 responden yang mengalami kecemasan perpustakaan adalah 3,05, yang berarti tingkat kecemasan perpustakaan mahasiswa unilak berada pada tingkat sedang (mild anxiety).Tabel 2. Kecemasan Perpustakaan pada Mahasiswa UnilakSumber: Data diolah Mei 2022Tingkat Kecemasan Rentang Nilai Rata-Rata Frekuensi Persentase No anxiety 0,00 – 2,21 2 3,33 %Low anxiety 2,22 – 2,65 11 18,33 %Mild anxiety 2,66 – 3,54 40 66,67 %Moderate anxiety 3,55 – 3,98 3 5 %Severe anxiety 3,99 – 5,00 4 6,67 %Total 60 100%Evaluasi Model SEM PLSEvaluasi model SEM PLS dilakukan dengandua tahap menggunakan program SmartPLS 3. Tahap pertama adalah evaluasi terhadap model pengukuran (instrumen penelitian), yang meliputi uji validitas dan uji reliabilitas. Menurut Ghozali (2014) instrumen dikatakan valid jika memiliki nilai factor loading di atas 0,5 dan instrumen dikatan reliabel jika konstruk memiliki nilai composite reliability dan cronbach’s alpha di atas 0,70. Setelah dilakukan uji validitas dengan program SmartPLS, terdapat beberapa instrumen penelitian yang memiliki nilai factor loading di bawah 0,5 [lihat lampiran 2], sehingga harus dikeluarkan dari konstruk untuk dilakukan pengujian kembali. Pada Pengujian yang kedua, semua instrumen sudah memiliki nilai factor loading di atas 0,5 [lihat lampiran 3], sehingga model pengukuran pada penelitian bisa dinyatakan valid. Evaluasi model pengukuran dilanjutkan dengan uji reliabilitas untuk melihat nilai composite reliability dan cronbach’s alpha.Hasil uji reliabilitas disajikan pada tabel berikut: Tabel 3. Hasil Uji ReliabilitasSumber: Data diolah Mei 2022Variabel Composite Reliability Cronbach’s Alpha Hambatan oleh pustakawan (X1) 0,899 0,860 Hambatan afektif (X2) 0,877 0,837Hambatan kenyamanan perpustakaan (X3) 0,846 0,757 Pengetahuan tentang perpustakaan (X4) 0,835 0,849 Hambatan mekanis teknologi (X5) 0,866 0,795 Kecemasan Perpustakaan (Y) 0,892 0,896Dari tabel 3 dapat dilihat bahwa nilai composite reliability dan cronbach’s alpha setiap konstruk sudah berada di atas nilai yang dipersyaratkan, sehingga model pengukuran pada penelitian bisa dinyatakan reliabel. Tahap kedua adalah evaluasi terhadap model struktural yang mengacu pada nilai R-squre dari variabel terikat dan nilai koefisien jalur. Nilai R-squre berkisar antara 0 sampai 1, jika nilainya semakin mendekati angka 1 menandakan akurasi prediksi yang semakin baik dari model yang digunakan (Santosa, 2018). Kecemasan perpustakaan (Y) sebagai varibel terikat pada penelitian ini memiliki nilai R-square sebesar 0,998, yang berarti variabilitas kecemasan perpustakaan dapat dijelaskan oleh lima variabel bebas sebesar 99% atau hampir mencapai 100%. Selanjutnya nilai koefisien jalur (nilai tstatistik) didapatkan dari proses bootstrapping menggunakan program SmartPLS, yang disajikan pada tabel di bawah:Tabel 4. Hasil BootstrappingSumber: Data diolah Mei 2022Hipotesis Jalur Original Sampel Standard Deviation T Statistics H1 X1 → Y 0.342 0.045 7.575H2 X2 → Y 0.398 0.054 7.338H3 X3 → Y 0.220 0.209 3.970H4 X4 → Y 0.116 0.110 1.052H5 X5 → Y 0.172 0.054 3.169Langkah terakhir adalah pengujian hipotesis dengan melihat perbandingan antara tstatistik dan ttabel.Nilai dihitung ttabel berdasarkan formula berikut: Derajat kebebasan (df) = , dengan adalah jumlah responden (Santosa, 2018), maka: . Penentuan ttabel diambil dengan Taraf kesalahan 0,05, maka diperoleh nilai ttabel = 2,002. Dengan demikian, hipotesis diterima jika nilai tstatistik > 2,002 dan hipotesis ditolak apabila tstatistik < 2,002. Kesimpulan terhadap hipotesis sebagai berikut:Tabel 5. Pengujian HipotesisSumber: Data diolah Mei 2022Hipotesis T Statistics ttabel KesimpulanH1 7.575 2,002 DiterimaH2 7.338 2,002 DiterimaH3 3.970 2,002 Diterima H4 1.052 2,002 Ditolak H5 3.169 2,002 DiterimaBerdasarkan tabel 5 di atas terdapat empat hipotesis yang diterima yaitu hambatan oleh pustakawan (H1), hambatan afektif (H2), hambatan kenyamanan perpustakaan (H3), dan hambatan mekanis (H1), sedangkan pengetahuan tentang perpustakaan (H4) ditolak karena memiliki nilai tstatistik di bawah 2,002. Dengan demikian disimpulkan bahwa kecemasan perpustakaan pada mahasiswa Unilak dipengaruhi oleh 4 faktor kecemasan perpustakaan (H1, H2, H3, H5). Diantara 4 faktor tersebut, hambatan pelayanan oleh pustakawan memiliki tstatistik paling tinggi yaitu 7.575 yang berarti memiliki pengaruh paling besar terhadap kecemasan perpustakaan yang dialami mahasiswa Unilak.Hasil penelitian ini berbeda dengan penelitian yang dilakukan oleh Kurnia (2017) yang melakukan penelitian pada mahasiswa Sekolah Pascasarja UGM, dimana pada penelitian tersebut 5 faktor (hambatan pelayanan oleh pustakawan; hambatan afektif; hambatan kenyamanan perpustakaan; pengetahuan tentang perpustakaan; hambatan mekanis/teknologi) yang di uji berpengaruh signifikan terhadap kecemasan perpustakaan, sedangkan pada penelitian ini terdapat satu faktor yang tidak berpengaruh yaitu pengetahuan tentang perpustakaan. Selanjutnya, temuan yang sama dengan penelitian Kurnia (2017) yaitu faktor hambatan dengan pustakawan yang sama-sama memiliki pengaruh paling besar dan juga faktor hambatan mekanis yang memiliki pengaruh paling rendah.

Conclusion

Berdasarkan temuan dalam penelitian ini,didapatkan gambaran tentang kecemasan perpustakaan pada mahasiswa Unilak, sehingga dapat ditarik kesimpulan bahawa ada kecemasan perpustakaan pada mahasiswa Unilak. Hasil perhitungandidapatkan bahwa, kecemasan perpustakaan dialami oleh 96,67% atau sebanyak 58 mahasiswa, sedangkan 2 responden lainnya dikategorikan tidak mengalami kecemasan perpustakaan. Kecemasan perpustakaan yang dialami mahasiswa Unilak berada pada tingkat rendah sebesar 18,33% (11 orang), tingkat sedang sebesar 66,67% (40 orang), tingkat tinggi sebesar 5% (3 orang), dan tingkat sangat tinggi sebesar 6,67% (4 orang). Dengan demikian dapat digeneralisasi bahwa kecemasan perpustakaan pada mahasiswa Unilak berada tingkat sedang. Selanjutnya, Berdasarkan hasil pengujian hipotesis terdapat 4 faktor yang mempengaruhi kecemasan perpustakaan padamahasiswa Unilak diantaranya: hambatan afektif; hambatan pelayanan oleh pustakawan; hambatan kenyamanan perpustakaan; dan hambatan mekanis/ teknologi.Penelitian ini membuktikan bahwa hambatandengan pustakawan merupakan faktor yang memiliki pengaruh paling besar. Hal ini mengindikasikan bahwa pustakawan yang bertugas di Perpustakaan Unilak memiliki kompetensi yang minim dalam memberikan pelayanan kepada pemustaka. Pihak perpustakaan disarankan untuk melakukan evaluasi terhadap pelayanan yang diberikan kepada pemustaka dan juga melakukan pembinaan terhadap kompetensi pustakawan dalam memberikan pelayanan maupun penyelenggaraan perpustakaan, sehingga bisa mengurangi tingkat kecemasan perpustakaanterutama pada factor hambatan dengan pustakawan.Selain itu, hambatan afektif juga memiliki pengaruh besar terhadap kecemasan perpustakaan. Hambatan afektif ini berkaitan dengan perasaan tidak mampu dalam menggunakan perpustakaan, karena kurang memiliki keterampilan penggunaan perpustakaan, sehingga disarankan adanya sikap proaktifpustakawan untuk mendorong mahasiswa mengikuti berbagai pelatihan penggunaan perpustakaan, untuk meningkatkan kemampuan mahasiswa dalam menggunakan perpustakaan.