Resepsi Khalayak tentang Makna Toleransi pada Tayangan Youtube “Log In” Season-2 Episode 15 (Perang Takjil)
Universitas Buddhi Dharma; Universitas Terbuka
Abstrak
Fenomena “perang takjil” selama Ramadan 2024 telah menjadi kajian menarik terkait toleransi antarumat beragama di Indonesia. Tayangan “Log In” di YouTube, dipandu oleh Habib Jafar mendiskusikan nilai toleransi dari perspektif agama dan sosial. Penelitian yang bertujuan menganalisis penerimaan audiens terhadap pesan toleransi dalam tayangan tersebut dengan mengidentifikasi posisi dominan hegemonis, posisi negosiasi, dan posisi oposisi. Metode kualitatif digunakan dengan pendekatan analisis resepsi, melibatkan wawancara mendalam kepada tiga subscriber channel “Log In” Season-2. Data dianalisis melalui proses penyusunan, penyaringan, hingga penemuan pola interpretasi. Penelitian menunjukkan adanya beragam penerimaan terhadap pesan toleransi. Sebagian besar informan memiliki posisi negosiasi dengan mengapresiasi upaya tayangan dalam menyebarkan nilai toleransi, namun terdapat kritik terkait perang takjil dimaknai sebagai bentuk toleransi. Aspek sosial, agama, dan pengalaman pribadi audiens menjadi kerangka interpretasi audiens. Tayangan ini diakui mampu memicu dialog lintas agama, namun berisiko menciptakan kesalahpahaman atau memperkuat stereotip.
Keywords:
Toleransi
· Perang Takjil
· Tayangan
· Youtube
· Resepsi
Introduction
Media massa saat ini tidak hanya berbentuk media konvensional berupa media massa elektornik ataupun cetak. Seiring perkembangan teknologi media massa kini merambah pada platform digital berbasis internet. Platform tersebut salah satunya adalah Youtube. Youtube menjadi platform terbesar yang menyediakan layanan video hingga film. Dengan layanan yang disediakan Youtube banyak dimanfaatkan pekerja media dan kreatif dalam pembuatan konten dengan berbagai genre. Salah satu konten yang marak tersedia di Youtube adalah tayangan podcast. Di Indonesia sendiri, Youtube dijadikan media pencarian informasi oleh penikmat Youtube. Hal ini sejalan dengan data platform media sosial terpopuler di Indonesia tahun 2024 yakni Youtube sebesar 139 juta pengguna atau 53,8% dari total populasi (databoks.katadata.co.id). Aktivitas yang sering dilakukan diantaranya berbagi foto/video (81%), komunikasi (79%), berita/informasi (73%), dan hiburan (68%) (databoks.katadata.co.id, 2024).Salah satu channel Youtube yang dijadikan media pencarian informasi adalah podcat “Log In” yang dimiliki Deddy Corbuzier. “Log In” merupakan special content yang hanya tersedia di bulan suci umat Islam atau Ramadan. Log In pertama kali dimulai tahun 2023, kemudian dilanjutkan season 2 pada Ramadan tahun 2024. Tujuan podcast tersebut adalah mempromosikan dan mengedukasi toleransi antar umat beragama. Tayangan yang berdurasi 50 – 60 menit ini, dipandu oleh Habib Jafar (representasi perspektif Islam) dan Onad (representasi perspektif Katolik). Tayangan ini syarat akan makna toleransi dalam setiap episodenya, karena Log In selalu menghadirkan tokoh-tokoh dari lintas agama untuk membahas isu fenomenal yang terjadi di masyarakat. Fenomena yang menjadi salah satu bahan diskusi toleransi pada tayangan “Log In” Season 2 adalah perang takjil. Fenomena “perang takjil”, yakni persaingan dalam mencari takjil selama bulan Ramadan, telah menjadi perbincangan hangat di masyarakat Indonesia. Praktik yang pada awalnya dilandasi niat mulia untuk berbagi dan mempererat solidaritas sosial kini kerap diwarnai dengan unsur kompetisi. Fenomena ini mencerminkan dinamika sosial yang kompleks, di mana nilai-nilai keagamaan bercampur dengan motivasi sosial maupun ekonomi. Kompetisi ini juga semakin tampak di ruang digital, terutama dengan maraknya unggahan di media sosial yang menonjolkan aksi berburu takjil sebagai perlombaan untuk menaikan followers.Menurut penelitian sebelumnya, fenomenaini mencerminkan adanya perubahan budaya serta dinamika sosial di masyarakat. Fenomena ini menjadi viral pada tahun 2024 di kalangan pengguna media sosial. Sejak awal bulan puasa, tren war takjil di kalangan non-Muslim selalu ramai diperbincangkan dan sering muncul di For You Page (FYP) TikTok serta platform media sosial lainnya. Tren ini pertama kali diunggah oleh seorang pengguna TikTok dengan nama akun @andreayudias, kemudian diikutioleh akun-akun lain seperti @potret, @r_ruiyu, @ cuterthandell, @shintadars, dan banyak akun lainnya.Postingan yang diunggah biasanya menggambarkan aktivitas war takjil oleh non-Muslim yang mulai mencari takjil sekitar pukul dua hingga tiga siang, saat umat Muslim yang sedang berpuasa berada di puncak rasa lapar. Unggahan ini kemudian mendapatkan ratusan hingga ribuan komentar positif, baik dari Muslim maupun non-Muslim, yang menciptakansuasana damai dan saling menghargai (Nada & Ma’arif, 2024). Penelitian lainnya menjelaskan pula konten TikTok mengenai “perang takjil” berperan penting dalam menumbuhkan sikap toleransi antar umat beragama. Fenomena ini menunjukkan bahwa media sosial dapat memperkuat toleransi dan persatuan di Indonesia (Aminah dan Muyassaroh, 2024).Berdasarkan fenomena tersebut, “Log In” Season 2 pada episode 15, tim kreatif Log In memproduksi konten tentang pembahasan perang takjil sebagai bentuk toleransi dengan mengundang Pendeta Steve Marcel, pemuka agama Kristen. Tayangan tersebut berjudul “Awas Nanti Paskah.. Kami Balas Kalian!Perang Takjil – Login Jafar Onad”. Podcast yang tayang pada 25 Maret 2024 sudah ditonton sebanyak 6.172.111 views, 9.077 komentar, dan 156.000 like.Tayangan ini selain membahas perang takjil sebagai bentuk toleransi, namun juga mengklarifikasi makna perang takjil kepada Pendeta Steve Marcel yang sering membawakan istilah tersebut pada beberapa khotbah ketika bulan Ramadan.Dalam konteks tayangan podcast “LogIn”, toleransi diwujudkan melalui dialog lintas agama yang mengedepankan pemahaman, salingmenghormati, dan kesediaan untuk berdiskusi secara terbuka. Kehadiran Habib Jafar dan Onad sebagai representasi perspektif Islam dan Katolik, ditambah tokoh lintas agama lainnya, menegaskan bahwa toleransi tidak hanya berarti hidup berdampingan tetapi juga melibatkan diskusi aktif untuk memahami isu-isu sosial. Meskipun tayangan podcast Log In telah menjadi medium penting dalam mengedukasi masyarakat tentang toleransi, namun YouTube dalam membangun narasi toleransi lintas agama masih terbatas. Penelitian sebelumnya cenderung fokus pada perubahan budaya dan dinamika sosial yang dihasilkan oleh fenomena perang takjil, namun belum mengintegrasikan analisis resepsi khalayak terhadap tayangan berbasis dialog lintas agama. Selain itu, kontribusi konten digital dalam mereduksi konflik antaragama atau memperkuat hubungan sosial masih memerlukan eksplorasi lebih lanjut. Hal ini menjadi penting untuk diteliti, terutama dalam memahami bagaimana platform seperti YouTube dapat menjadi alat efektif untuk mempromosikan makna toleransi.Gambar 1. Thumbnails Log In Season 2 Episode 15 Sumber: https://www.youtube.com/watch?v=sjiVLclVBK0&t=2577sPenelitian ini berfokus pada analisis resepsi tayangan podcast “Log In” dalam mempromosikan toleransi antaragama, dengan unit analisis pada episode 15 tentang perang takjil. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penerimaan audiens terhadap pesan toleransi yang disampaikan melalui tayangan tersebut dengan mengidentifikasi aspek posisi dominan hegemonis, posisi negosiasi, dan posisi opsisi. Dengan memanfaatkan perspektif teori analisis resepsi, penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi nyata bagi pengembangan literasi media serta harmoni sosial di Indonesia. Selain itu, pemahaman yang lebih mendalam mengenaifenomena ini dapat memberikan kontribusi pada pengembangan strategi untuk memperkuat nilai-nilai keagamaan dan toleransi dalam masyarakat.
Method
Penelitian ini menerapkan metode kualitatif, yang menurut West dan Turner (2008:77) tidak bergantung pada analisis data statistik untuk mendukung interpretasi. Sebaliknya, metode ini mendorong peneliti untuk merumuskan pernyataan retoris yang logis berdasarkan temuannya. Penelitian ini menitikberatkan pada interpretasi yang didapat dari pernyataan setiap informan dalam memaknai toleransi pada tayangan “Log In” Season-2 Episode 15 Perang Takjil. Metode penelitian ini menggunakan analisis resepsi khalayak. Analisis resepsi disebut juga sebagai penerimaan khalayak atau studi penerimaan yang menjelaskan studi penerimaan berbasis khalayak berfokus pada bagaimana beragam jenis anggota khalayak memaknai bentuk konten tertentu.Analisis ini memfokuskan juga perhatianpada konten atau isi teksi media (Baran dan Davis, 2010:302). Sejalan dengan hal tersebut, analisis resepsi khalayak menurut Struat Hall (dalam Morissan, 2015) menjelaskan bahwa khalayak menginterpretasikan pesan media melalui tiga kemungkinan posisi.Pertama, dominant hegemonic position (posisi dominan hegemonis), di mana khalayak menerima pesan sesuai dengan kode dominan yang telah ditetapkan oleh media sebagai pengirim pesan.Kedua, negotiated position (posisi negosiasi), di mana khalayak memahami kode dominan, namun padasaat yang sama mereka juga menolak beberapa bagian tertentu dan memilih elemen-elemen yang sesuai atau relevan untuk diadaptasi ke dalam konteks mereka sendiri. Ketiga, oppositional position (posisi oposisi), di mana khalayak menerima dan memahami pesan yang disampaikan, tetapi memiliki interpretasi yang berbeda. Posisi ini terjadi ketika khalayak berpikir kritis dan menolak pesan yang disampaikan oleh media, memilih untuk menafsirkan pesan tersebut sesuai dengan pandangannya sendiri. Berdasarkan klasifikasi posisi khalayak dalam penelitian ini peneliti akan menggali pemaknaan toleransi pada aspek posisi dominasi hegemonis, posisi negosiasi, dan posisi oposisi.Tabel 1. Data InformanInisialNama Usia JenisKelamin Latar BelakangSI 31 Tahun Pr PekerjaFW 35 Tahun Pr IRTWA 22 Tahun Pr MahasiswaSumber: olah data peneliti, 2024Teknik pengumpulan data pada penelitianini menggunakan data primer melalui wawancara mendalam kepada informan sebanyak tiga orang.Pemilihan informan tersebut menggunakan teknik purposive sampling dengan kriteria perbedaan usia, penonton atau viewers setia tayangan Youtube Log In, dan subscriber channel Log In.Menurut Moleong (2010:248), analisis datakualitatif dilakukan melalui serangkaian langkah, yaitu pengorganisasian data, pemilahan data, sintesis data, identifikasi pola, serta penentuan hal-hal yang penting dan relevan untuk dipelajari, kemudian memutuskan informasi yang dapat disampaikan kepada orang lain.Dalam penelitian ini, triangulasi yang digunakan adalah triangulasi sumber, yang berarti memverifikasi data yang dikumpulkan dari berbagai sumber di lapangan (Sugiyono, 2018: 184). Dalam konteks penelitian ini, peneliti membandingkan data yang diperoleh melalui wawancara dengan data dari observasi virtual pada tayangan “Log In” Season-2 Episode 15 mengenai Perang Takjil.
Result & Discussion
Pemaknaan Toleransi Pada Tayangan Youtube“Log In” Season-2 Episode 15 (Perang Takjil) Toleransi adalah sikap yang mencerminkanpenghargaan terhadap perbedaan, di mana seseorang menerima dan mengizinkan keberadaan pendapat, pandangan, keyakinan, atau kebiasaan orang lain, meskipun hal tersebut berbeda atau bertentangan dengan pandangannya sendiri. Makna toleransi pada penelitian ini merujuk pada toleransi antar umat beragama. Toleransi, menurut Masril (2020), merujuk pada sikap dan tindakan untuk menghormatiperbedaan yang ada, baik itu perbedaan agama, suku, etnis, pandangan, maupun tindakan orang lain yang berbeda. Dengan demikian, toleransi antar umat beragama mencakup sikap terbuka dan kesiapan untuk menerima perbedaan, sekaligus memberikan kebebasan kepada setiap individu untuk menjalankan aktivitas yang berkaitan dengan keyakinannya.Pemahaman ini sejalan dengan Pasal 29 ayat 2 UUD 1945, yang menyatakan bahwa negara menjamin kebebasan setiap warga negara untuk memeluk agama dan beribadah sesuai dengan keyakinannya. Pasal ini mencerminkan bahwa Indonesia adalah negara yang mengakui keberagaman agama dan kepercayaan, memberikan hak kepada setiap warga negara untuk memeluk agama yang mereka anut.Tayangan Youtube “Log In” Season-2 Episode15 (Perang Takjil) membahas fenomena sosial yang terjadi sehubungan dengan bulan Ramadan (bulan suci umat muslim). Dari tayangan tersebut merepresentasikan adanya toleransi antar agama yakni, Islam, Kristen Tiberias dan Katolik. Berikut scene yang merepresentasikan makna toleransi pada fenomena perang takjil dapat dilihat pada tabel 2. Scene Waktu Isi Pesan 39:33:16 Berkah di bulan Ramadan bukan untuk muslim namun juga dirasakan semua umat - Pendeta Marcel39:56:00 Sama saja seperti natal, imlek kan kita juga merasakan kebahagiannya, paling tidak paling simple adalah libur - Habib Jafar 40:37:20Sejak awal islam mendeklarasikan sebagai agama rahmatan lil’alamin (selamat bagi semesta), bukan hanya lil’muslimin (bukan hanya bagi orang islam), bukan hanya lil’insan (bagi manusia). Ketika ada war takjil, rahmat cinta Tuhan dalam keyakinan islam itu dirasakan oleh semua. Dan sama sekali tidak melihat dengan begitu siapa tahu masuk Islam. itu urusan hidayah bukan urusan saya, itu hak perogratif Tuhan.Tapi bagi saya, orang itu bukan hanya mengetahui Islam tapi merasakan kegembiraan Islam sehingga pengetahuan menjadi utuh dan membangun toleransi tentang Islam - Habib Jafar 41:48:00 Toleransi sudah sangat terasa karena saya lahir di Manado yang menjungjung tinggi nilai toleransinya - Pendeta Marcel 43:42:14Toleransi yang orang pahami adalah menghargai, tetapi toleransi bagi saya ikut mendukung dan ambil bagian, contoh letika Banser ikut mendukung menjaga ibadah umat di Manado -Pendeta MarcelBerdasarkan tabel di atas, fenomena “perang takjil” dapat dilihat sebagai suatu hal yang menyatukan umat dari berbagai agama di bulan Ramadan, yang merupakan bulan suci bagi umat Islam. Istilah “perang” di sini tidak dimaksudkan dalam arti harfiah, di mana perang biasanya merujuk pada konflik fisik dan nonfisik, yaitu situasi permusuhan antara dua kelompok atau lebih dengan menggunakan kekerasan (Sugono, 2008: 1156). Dalam konteks ini, “perang takjil” lebih kepada sebuah lelucon atau candaan yang berkembang di media sosial seperti X, Instagram, dan TikTok, yang mencerminkan rasa peduli dan solidaritas sosial terhadap umat Islam yang tengah berpuasa selama Ramadan. Hal ini sejalan dengan konfirmasi dari Pendeta Marcel yang menjelaskan bahwa, “Berkah di bulan Ramadan bukan untuk muslim namun juga dirasakan semua umat”. Pernyataan Pendeta Marcel pun diperkuat oleh Habib Jafar yang mengatakan, “Sejak awal Islam mendeklarasikan sebagai agama rahmatan lil’alamin (selamat bagi semesta), bukan hanya lil’muslimin (bukan hanya bagi orang islam), bukan hanya lil’insan (bagi manusia). Ketika ada war takjil, rahmat cinta Tuhan dalam keyakinan Islam itu dirasakan oleh semua”.Dua pernyataan tersebut dalam tayangan “Log In” Season 2 Episode 15 menjadi sebuah klarifikasi dan edukasi terkait perang takjil yang menjadi fenomena menarik di bulan Ramadan tahun 2024. Pemaknaan akan perang takjil pun mendapat tanggapan yang beragam dari informan penelitian yang merupakan viewer tayangan tersebut. Dari ketiga informan sepakat memaknai perang takjil sebagai makna pesan toleransi beragama yang tersampaikan melalui berbagai sudut pandang dalam tayangan “Log In”.Para informan sepakat bahwa Habib Jafar dan Pendeta Marcel meyakini bahwa agama mengajarkan nilai-nilai universal seperti kedamaian dan kasih sayang. Tradisi berbagi takjil menjadi contoh konkret untuk mempererat persaudaraan antaragama, selama dilakukan dengan niat ikhlas tanpa kompetisi berlebihan. Tayangan ini mengajarkan bahwaperbedaan agama tidak boleh menjadi penghalang untuk saling menghormati dan hidup berdampingan secara damai. Dialog antaragama memberikanpemahaman bahwa toleransi adalah jembatanpenting untuk menjalin hubungan sosial yang harmonis. Namun, fenomena perang takjil bagi salah satu informan dapat juga dimaknai sebagai kompetisi dan konsumerisme. Pesan toleransi dalam tayangan ini mendorong penonton untuk lebih kritis terhadap fenomena sosial tersebut, dan memotivasi mereka untuk melakukan tindakan nyata, seperti berbagi secara bermakna di komunitas yang membutuhkan.Secara keseluruhan, tayangan ini tidak hanya mempromosikan toleransi beragama, tetapi juga memberikan ruang dialog terbuka yang relevan dengan konteks sosial Indonesia yang majemuk.Pesan tersebut menjadi pengingat akan pentingnya sikap saling menghormati dan komitmen untuk hidup berdampingan dalam keragaman.Pemaknaan tersebut merupakan bagian dariresepsi khalayak yang dilihat berdasarkan tiga posisi menurut Hall (dalam Morisson, 2015), menjelaskan bahwa khalayak melakukan decoding terhadappesan media melalui tiga kemungkinan posisi, yakni dominant hegemonic (posisi dominan hegemonis), negotiated position (posisi negosiasi) dan oppositional position (posisi oposisi). Berikut adalah pemaknaan yang dihasilkan dari tiga kategori tersebut.Tabel 3. Hasil Pemaknaan InformanSI FW WA1Resepsi khalayak tentanggaya penyampaian HabibJafar dan Pendeta Marcelterkait Makna Toleransidalam Perang Takjil padatayangan Log InD-H D-H D-H2Resepsi Khalayak tentangpandangan HabibJafar dan Pendeta Marcelterkait Makna Toleransidalam Perang Takjil padatayangan Log InO N D-H3Resepsi Khalayak membuatberpikir kritistentang makna Toleransidalam Perang Takjil padatayangan Log InN N NSI FW WA4Resepsi Khalayak tentangkonten yang mengandungunsur ketersinggunganToleransi dalam PerangTakjil pada tayangan LogInO N NHasil O N ND-H= Dominan HegemonisN= NegosiasiO= OposisiSumber: olah data peneliti, 2024Posisi Dominan Hegemonis Khalayak TayanganYoutube “Log In” Season-2 Episode 15 (Perang Takjil)Berdasarkan hasil olah data, ketiga khalayak tidak memiliki posisi dominan hegemonis dalam memaknai toleransi pada perang takjil. Posisi dominan hegemonis adalah khalayak sejalan dengan kode dominan yang dari awal diciptakan oleh media sebagai pengirim pesan (Hall, 1980). Pada tayangan ini channel “Log In” sebagai media yang menyajikan konten toleransi antar umat beragama belum dapat menciptakan pesan dominan kepada viewers pada “Log In” Season-2 Episode 15 (Perang Takjil). Proses encoding oleh media dengan memilih tema perang takjil diharapkan menjadi salah satu bentuk contoh toleransi antar umat beragama di saat umat Islam menjalankan ibadah puasa Ramadan. Encodingmerupakan sebuah pesan yang disampaikan oleh pengirim pesan melalui sebuah teks media (Muid, 2013).Pesan toleransi yang direpresentasikan oleh fenomena perang takjil didapat diterima khalayak, dikarenakan gaya penyampaian Habib Jafar dan Pendeta Marcel sebagai pengisi acara mendapatkan tanggapan positif dari ketiga khalayak. Menurut WA, Habib Jafar adalah sosok yang sangat populer di media sosial. Gaya penyampaiannya yang khas, yaitu santai, humoris, dan lugas, membuatnya mudah diingat dan disukai oleh banyak orang. Dalam konteks tayangan “Log In”, Habib Jafar berperan sebagai seorang influencer yang dapat mempengaruhi opini publik. Gaya penyampaiannya yang menghibur dan mudah dipahami membuat pesan-pesan yang disampaikannya menjadi viral dan menyebar luas di media sosial.Hal ini menunjukkan bahwa Habib Jafar tidak hanya seorang tokoh agama, tetapi juga seorang komunikator yang efektif. Sejalan juga menurut FW, Habib Jafar tampil sebagai sosok yang moderat dan inklusif. Beliau seringkali menjembatani perbedaan antara berbagai kelompok agama dan budaya. Dalam diskusi tentang perang takjil, Habib Jafar mungkin menekankan pentingnya toleransi, persatuan, dan kerja sama antar umat beragama.Gaya penyampaiannya yang santai dan humoris juga dapat membantu menciptakan suasana yang kondusif untuk dialog antaragama. Selain Habib Jafar, gaya penyampaian yang penuh percaya diri, penuh penghormatan dan juga penuh humor dilakukan oleh Pendeta Marcel, sehingga membangun suasana yang santai serta bersahabat diantara tokoh agama yang berbeda.Posisi Negosiasi Khalayak Tayangan Youtube “Log In” Season-2 Episode 15 (Perang Takjil)Posisi negosiasi adalah posisi kedua yangmenggambarkan khalayak dapat menerima ideologi dominan secara umum. Pada kasus-kasus tertentu khalayak melakukan pengecualian untuk menolak penerapannya yang disesuaikan dengan aturan budaya setempat (Amalia, Indriani, S., & Mahameruaji, 2022). Dari ketiga informan hanya dua informan yang memaknai toleransi pada Tayangan Youtube Log In Season-2 Episode 15 (Perang Takjil), yakni FW dan WA. Hal ini ditandai adanya pesan toleransi dapat diterima dari contoh fenomena perang takjil.Menurut informan FW, pentingnya memahami esensi agama pada tayangan tersebut, karena Habib Jafar menjelaskan bahwa dalam Islam, esensi agama adalah cinta dan kasih sayang kepada sesama. Pendeta Marcel menekankan bahwa dalam Kristen, esensi agama adalah iman kepada Tuhan Yesus dan menyebarkan kasih-Nya. Memahami esensi agama masing-masing dapat membantu membangun jembatan toleransi dan saling pengertian. Namun, FW juga beranggapan bahwa gimik ”Perang Takjil”, sebagai konsepyang diusung dalam tayangan ini, meskipun dimaksudkan sebagai gimik, dapat dianggap tidak sensitif dan meremehkan makna bulan Ramadan bagi umat Islam.Penggunaan istilah ”perang” dalam konteks agama bisa menimbulkan persepsi negatif dan provokatif.Informan lain WA menyepakati bahwa istilah“perang” mengarahkan pada hal provokatif, terlebih ketika ada pernyataan ”Kami Balas Kalian” pada judul video dan pernyataan Habib Jafar dalam video tersebut, ”Kami Balas Kalian”, berpotensi menimbulkan persepsi permusuhan dan balas dendam antar umat beragama.Hal ini bisa diartikan sebagai ancaman dan tidak sesuai dengan nilai-nilai toleransi dan perdamaian.Namun, khalayak menonton tayangan tersebutsecara utuh maka viewers akan mendapatkan makna toleransi dari contoh fenomena tersebut. Seperti yang diungkapkan oleh WA yakni memahami esensi agama, Habib Jafar dan Pendeta Marcel menekankan bahwa esensi agama adalah cinta dan kasih sayang kepada sesama. Perbedaan keyakinan tidak boleh menjadi penghalang untuk saling menghormati dan hidup berdampingan dengan damai. Tradisi berbagi takjil selama bulan Ramadan adalah contoh indah toleransi dan saling berbagi antar umat beragama.Berdasarkan temuan tersebut kedua khalayakmenitik beratkan resepsi khalayak tentang pandangan Habib Jafar dan Pendeta Marcel terkait Makna Toleransi dalam Perang Takjil pada tayangan Log In. Selain itu, resepsi khalayak membuat berpikir kritis tentang makna Toleransi dalam Perang Takjil, karena khalayak perlu menginterpretasikan makna “perang” ditidak hanya diartikan secara makna sebenarnya. Perbedaan interpretasi khalayak menjadi bagian proses decoding pesan yang dipersepsikan sesuai pengalaman, pengetahuan, dan keyakinan baik agama maupun budaya. Menurut Nasrullah (2019), khalayak merupakan entitas aktif yang secara mandiri memilih dan menggunakan media, serta membentuk makna berdasarkan kode-kode yang mereka miliki.McQuail (2011) menambahkan bahwa khalayakmemiliki kebebasan untuk menentukan sumbermedia yang mereka konsumsi, disesuaikan dengan preferensi pribadi dan persepsi mereka tentang apa yang dianggap relevan dan menarik.Posisi Oposisi Khalayak Tayangan Youtube “Log In” Season-2 Episode 15 (Perang Takjil)Posisi oposisi yang ditemukan pada penelitian ini hanya pada satu khalayak saja, yakni SI. SI memiliki tanggapan yang oposisi dikarenakan fenomena perang takjil cenderung bersifat konsumtif dan kompetitif justru bertolak belakang dengan nilai-nilai inti puasa.Tidak hanya itu, dalam tayangan tersebut juga dapat memicu stereotipe dan generalisasi. Tayangan ini juga mengandung beberapa stereotipe dan generalisasi tentang agama Kristen, seperti anggapan bahwa semua umat Kristen tidak boleh masuk masjid. Hal ini tidak akurat dan dapat melukai perasaan umat salah satu umat beragama. Berdasarkan tanggapan tersebut, posisi oposisi khalayak terjadi karena SI menerima dan mengerti pesan apa yang diberikan media, namun informan memiliki interpretasi yang berbeda.Menurut Hall (dalam Morisson, 2015), posisi ini hanya akan terjadi ketika khalayak berpikir kritis, kemudian menolak segala bentuk pesan yang disampaikan oleh media dan memilih untuk mengartikannya sendiri. Posisi oposisi terlihat adanya resepsi khalayak tentang konten yang mengandung unsur ketersinggungan toleransi dalam perang takjil pada tayangan “Log In”. Unsur ketersinggungan direpresentasikan dari makna khalayak terkait stereotipe. Menurut Hogg dan Vaughan (dalam Oktafiani, 2016), dapat memperkuat bias dan prasangka antar kelompok, sehingga menghambat harmoni sosial. Penelitian terbaru oleh Ahmed dan Matthes (2022) juga menemukan bahwa stereotipe dalam media dapat meningkatkan polarisasi antar kelompok sosial, terutama dalam konteks isu lintas agama.Hal ini menunjukkan bahwa khalayak tidakhanya pasif menerima pesan tetapi aktif mengkaji dan menilai dampak sosial dari tayangan tersebut.Menurut Jenkins (dalam Cahya, 2016) dalam konsep participatory culture, khalayak bukan hanya penerima pasif tetapi juga agen aktif yang berpartisipasi dalam produksi makna. Dalam penelitian ini, SI tidak hanya menolak pesan tayangan tetapi juga memberikan interpretasi alternatif berdasarkan nilai yang mereka anut.
Conclusion
Hasil penelitian ini menunjukkan keberagaman persepsi makna toleransi dalam perang takjil.Posisi dominan hegemoni tercermin dari respon yang menerima sepenuhnya nilai-nilai toleransi yang diusung oleh tayangan, seperti menginspirasi tindakan nyata untuk menyebarkan nilai kebaikan.Posisi negosiasi terlihat dalam pengakuan terhadap pentingnya toleransi dan saling menghormati, meskipun terdapat beberapa pandangan kritis terkait pendekatan yang diambil. Di sisi lain, posisi oposisi muncul dalam kekhawatiran mengenai potensi kesalahpahaman dan sensitivitas terhadap diskusi yang berkaitan dengan agama.Tayangan Log In memiliki potensi besar dalam mempromosikan dialog antaragama dan memperkuat toleransi di masyarakat. Namun, pengembangan konten yang lebih mendalam dan responsif terhadap kritik dapat meningkatkan dampaknya dalammembangun pemahaman lintas agama yang lebih luas. Penelitian ini dapat berkontribusi pada aspek akademis, penelitian ini dapat mendorong kajian lebih mendalam tentang penerimaan khalayak terhadap pesan-pesan media dalam konteks keberagaman sosial dan agama. Secara praktis, kreator konten disarankan untuk memperkaya perspektif yang disampaikan dengan melibatkan berbagai narasumber dari latar belakang budaya dan keilmuan yang berbeda, serta memperhatikan sensitivitas dalam pemilihan tema agar lebih inklusif dan edukatif.