LITERASI SEBAGAI DASAR KEMELEKAN INFORMASI
Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar; Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar; Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui literasi sebagai dasar kemelekan informasi. Jenis penelitian ini adalah penelitian pustaka (Library Research), yang berkenaan dengan pembahasan dengan teknik mengumpulkan literatur atau bahan Pustaka yang berkaitan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahawa Berbagai penelitian dan pemahaman telah menegaskan bahwa literasi informasi adalah landasan penting bagi kemajuan individu dan masyarakat dalam era informasi digital. Dalam konteks ini, literasi informasi bukan hanya tentang kemampuan teknis untuk mengakses dan menggunakan teknologi informasi, tetapi juga tentang kemampuan kritis untuk mengevaluasi, menyaring, dan memanfaatkan informasi dengan bijak. Dengan literasi informasi, individu dapat secara efektif mengelola dan memanfaatkan sumber daya informasi yang tersedia untuk mencapai tujuan pribadi, sosial, pendidikan, dan pekerjaan mereka. Kemampuan untuk menavigasi melalui beragam sumber informasi, memahami keberagaman media, dan mengidentifikasi informasi yang relevan dan dapat dipercaya sangat penting dalam pengambilan keputusan yang berdampak pada kehidupan sehari-hari. Selain itu, literasi informasi juga berkontribusi pada inklusi digital, dengan memberdayakan individu dari berbagai lapisan masyarakat untuk berpartisipasi dalam masyarakat berbasis pengetahuan dan ekonomi digital. Oleh karena itu, investasi dalam pendidikan literasi informasi, termasuk literasi komputer dan media, menjadi semakin penting untuk menciptakan masyarakat yang terampil dan berdaya saing di era digital.
Keywords:
Literasi
· Melek Informasi
· Minat Baca
Introduction
Salah satu pilar penting dalam membangun peradaban ialah dengan aktifitas berliterasi. Serangkaian kegiatan literasi meliputi membaca, menganalisis dan mengamalkan bacaan untuk pengembangan keilmu pengetahuanan. Literasi tidak hanya memungkinkan individu untuk mengakses ilmu pengetahuan dan informasi, tetapi juga berperan dalam pemberdayaan sosial dan ekonomi. Literasi merupakan pondasi yang harusnya kuat sebelum masuk pada fase melek informasi di era digitalisasi. Di era Informasi makin mudah di akses sehingga membuat fenomena information Explosion atau informasi dari seluruh dunia mengalir deras dalam berbagai bentuk, format, isi dan jenis seakan-akan tidak mengenal batas ruang dan waktu. Selain informasi yang tidak terbndung, informasi membuat dilema dalam menentukan sikap atau pendapat terhadap informasi. Hal tersebut menjadikan literasi sebagai penuntun kemelekan informasi atau bagaimana seharusnya sikap terhadap informasi dipergunakan dengan tepat dan tidak disalahgunakan. Kemelekan terhadap informasi pada umumnya disebut dengan information literacy, yang berarti mampu memahami definisi dan konteks informasi. Dalam buku Australian and New Zealand Institute for Information Literacy, literasi informasi secara umum didefinisikan sebagai mengenali kapan informasi dibutuhkan dan memiliki kapasitas untuk menemukan, mengevaluasi, dan menggunakan secara efektif informasi yang dibutuhkan (Bundy, 2004: 3). Selain itu, Mulni, dkk dalam jurnal terkait standar melek informasi diantaranya: 1. Mengenali informasi yang dibutuhkan dan menentukan sifat dan cakupannya 2. Menemukan informasi secara efektif dan efisien, 3. Mengevaluasi informasi dan proses pencarian informasi secara kritis, 4. Mengelola informasi yang terkumpul atau didapatkan, 5. Menggunakan informasi baru dan terdahulu untuk membuat konsep baru atau menciptakan pemahaman baru, 6. Menggunakan informasi dengan memahami nilai budaya, etika, ekonomi, hukum, dan sosial seputar penggunaan informasi (Mulni, dkk, 2009: 108). Standar ini merupakan pedoman yang penting dalam mengembangkan literasi informasi yang komprehensif dan bertanggung jawab di tengah kompleksitas informasi dalam era digital. Selain itu, pedoman ini dapat menjadi tolak ukur dalam menentukan tingkatan masyarakat dalam menyikapi informasi. Untuk mengarah pada standar kemelekan informasi diperlukan keterampilan informasi dan pedoman yang dapat dijadikan sebagai landasan untuk menyikapi melek terhadap informasi. Selain itu, melalui pedoman dapat menjadikan sebagai bahan pemaparan terhadap pendidikan literasi dan informasi di masyarakat. Dalam konteks Islam, literasi dan inforamsi mendapatkan tempat yang signifikan, sebagaimana tercermin dalam ajaran-ajaran Nabi Muhammad SAW yang menekankan pentingnya ilmu dan pembelajaran sepanjang hayat. Selain itu juga Hadist-hadist yang berkaitan dengan membaca dan menuntut ilmu, serta menawarkan perspektif yang kaya akan nilai-nilai edukatif. Sejak wahyu pertama yang diterima oleh Nabi Muhammad SAW, “Iqra” (bacalah), Islam telah menempatkan penekanan kuat pada pentingnya literasi. Hal ini tidak hanya terbatas pada pembacaan teks, tetapi juga pada peningkatan kemampuan literasi umum yang dapat membantu dalam mengatasi tantangan sosial dan ekonomi. Hal tersebut menjadikan dasar untuk bagaimana literasi meruapakn salah satu alat berilmu yang dapat menyaring informasi dan mempermudah dalam memahami serat menyikapi informasi yang dapat bermanfaat bagi kehidupan sosial. Dalam Fathul bari syarah shahih albukhari karya Ibnu Hajar al-asqalani kitab Ilmu, menjelaskan pada bagian Pemahaman dalam masalah ilmu, yakni; Ali meriwayatakan kepada kami, Sufya meriwayatkan kepada kami, ia berkata: Ibnu Abi Najih berkata kepadaku dari Mujahid, ia berkata: “Aku menyertai Ibnu Umar ke Madinah. Sepanjang perjalanan, aku hanya mendengar satu hadits yang ia sampaikan dari Rasulullah صلى الله عليه وسلم. Ibnu Umar bercerita: “Ketika kami berada di majelis Rasulullah صلى الله عليه وسلم, dibawah setandan kurma. Lalu Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda: ‘Sesungguhnya ada sebuah pohon, yang perumpamaannya sama seperti seorang muslim’. Aku ingin menjawab bahwa itu adalah pohon kurma. Karena merasa paling muda, maka aku pun diam saja. Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda: “Ia adalah pohon kurma.” Matan Hadits di atas menjelaskan tentang pemahaman yang merupakan kecerdasan yang dimiliki seseorang untuk memahami kalimat dari sebuah perkataan atau perbuatan (informasi). Ketika Rasulullah صلى الله عليه وسلم melontarkan pertanyaan untuk dihidangkan al-jummar (setandan kurma) kepada beliau, Ibnu Umar memahami bahwa yang ditanyakan adalah pohon kurma. Selain itu dalam Imam Ahmad meriwayatkan hadits Abu Sa’id yang datang, tentang kisah wafatnya Nabi, bahwa Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda: “Sesungguhnya seorang hamba telah diberikan pilihan oleh Allah (antara duniawi dan apa yang ada di sisi-Nya).” Dengan tiba-tiba Abu bakar menagis, dan ia berkata: “Orang tua kami menjadi tebusanmu, wahai Rasulullah!” Orang-orang pun heran melihatnya. Abu Bakar memahami maksud perkataan tersebut, bahwasanya hamba yang diberi pilihan tersebut tidak lain adalah Nabi صلى الله عليه وسلم. Oleh karena itu, Abu Sa’id berkata: “Abu Bakar adalah seorang yang paling ‘alim (berilmu) diantara kami.”Sesungguhnya Allahlah Yang memberi petunjuk kepada kebenaran. Kedua penjelasan hadits di atas merupakan gambaran bahwa literasi dan melek informasi sangat membutuhkan ilmu untuk mengerti dan memahami informasi sehingga terhindar dari kekeliruan. Olehnya itu penting bagi seseorang untuk memahami maksud dan tujuan dari sebuah informasi yang didapatkan. Namun di banyak komunitas, terdapat kesenjangan literasi yang signifikan yang perlu diatasi guna kepentingan kemelekan terhadap informasi. Penekanan pada pemahaman dan penafsiran yang tepat terhadap informasi tercermin dalam hadits-hadits yang dikutip, di mana kecerdasan dalam memahami konteks dan maksud informasi ditekankan. Literasi informasi memainkan peran kunci dalam masyarakat untuk menghindari kesalahpahaman dan kekeliruan. Dengan demikian, literasi informasi tidak hanya sebagai keterampilan praktis, tetapi juga sebagai landasan moral dan etis dalam menyikapi informasi yang diperlukan untuk kemajuan sosial dan individu. TINJAUAN PUSTAKA 1. Penelitian yang dilakukan oleh Blasius Sudarsono dengan judul Generasi Pembelajar Mandiri Dan Pendidikan Abad 21 menyatakan konsep keberinformasian (information literacy). Menjadikan berinformasi (information literate) adalah tugas pustakawan dalam menjalankan konsep tersebut. Selain konsep, istilah keberinformasian juga dibahas secara terminologi karena istilah information literacy memiliki banyak terjemahan, mulai dari keberaksaraan informasi, keberaksaraan dan berinformasi. Selain itu ia menjelaskan tentang pembelajaran sepajang hayat berawal dari kemauan dari diri sendiri olehnya itu jelas diperlukan kemampuan berinformasi. 2. Penelitian yang dilakukan Yolan Priatna dengan judul Kemelekan Informasi Masyarakat Terhadap Potensi Daerah (Studi Deskriptif Tentang Kemelekan Informasi Masyarakat Terhadap Potensi Lokal di Kabupaten Ponorogo) menjelaskan tentang hasil penemuan kemelekan informasi masyarakat Ponorogo terhadap potensi lokal dan faktor saja yang mempengaruhi tingkat kemelekan. Selain itu tidak lupa dengan menggunakan kacamata Kondisi demografi, social, dan ekonomi serta bagaiamana ketersediaan akses, penguasaan informasi, model komunikasi masyarakat dan peranan pemimpin.
Method
Jenis penelitian yang digunakan yaitu penelitian pustaka (Library Research), yang berkenaan dengan pembahasan dengan teknik mengumpulkan literatur atau bahan Pustaka yang berkaitan. Peneltian Pustaka juga merupakan proses aktivitas ilmiah dengan maksud untuk mendapatkan solusi dari masalah yang ditemukan. Kemudian kegunaan dari jenis penelitian ini adalah untuk menemukan pemahaman dan pengetahuan dari beberapa permasalahan yang ditemukan serta mampu memeberikan jalan keluar untuk menyelesaikan suatu problem. Dalam penulisan ini menggunakan penelitian pustaka sebagai objek dalam penelitian dengan cara membaca dan menganalisisnya, kemudian dalam penulisan ini, penulis juga mengunakan pendekatan peneliatian kualitatif yaitu suatu penelitian yang tersusun secara sistematis yang diterapkan dalam mengkaji atau menelaah pada objek yang mempunyai latar belakang alamiah tanpa melakukan pemalsuan data didalamnya. Metode penelitian kualitatif merupakan metode yang natural dan alamiah, sehingga banyak pene
Discussion
A. Literasi Kemampuan awal yang harus dimiliki oleh setiap individu untuk menjalani hidup di masa yang akan datang adalah dengan mengenalkan literasi. Menurut KBBI literasi adalah kemampuan menulis dan membaca melalui keterampilan dalam bidang atau aktivitas tertentu dalam mengolah informasi serta pengetahuan untuk kecakapan hidup. Penguasaan literasi yang baik akan membantu manusia secara personal dan komunal dalam menghadapi era percepatan informasi yang semakin hari semakin kompleks dan canggih. Dalam jurnal literasi kini berkembang seiring berkembangnya pesatan informasi yakni literasi lama (membaca, menulis, dan berhitung), tetapi juga memiliki literasi baru (new literacy. Menurut Afzazul dalam tesis menjabarkan literasi baru merupakan literasi yang berusaha untuk mendapatkan pengetahuan dan menjawab tantangan zaman dengan aspek kompetensi yang mencakup, yaitu: 1. Literasi data Literasi data adalah kemampuan untuk memahami dan memanfaatkan informasi besar dalam dunia digital. Ini melibatkan interpretasi data, analisis, dan pengambilan keputusan yang kritis. Literasi data juga terkait erat dengan literasi statistik, mencakup pemahaman grafik, analisis data, dan penggunaan informasi pribadi secara online. 2. Literasi teknologi Pemahaman terkait teknologi, seperti coding, kecerdasan buatan, dan rekayasa, penting untuk mendukung kehidupan digital. Literasi teknologi mendukung berbagai aspek, termasuk investasi digital, keberlanjutan bisnis, dan manajemen keuangan. Ini melibatkan kemampuan sosial untuk berinteraksi dengan informasi melalui perangkat elektronik, membantu pengguna berkembang dalam lingkungan teknologi. 3. Literasi manusia Literasi manusia melibatkan kemampuan seperti komunikasi, kolaborasi, pemikiran kritis, kreativitas, kepemimpinan, dan adaptasi budaya. Ini penting untuk berinteraksi dalam kehidupan sosial dan memahami peran manusia dalam era digital dan teknologi. Literasi ini memastikan bahwa individu tidak melupakan pentingnya hubungan sosial dan interaksi dengan sesama dalam dunia digital yang terus berkembang (Rahman. A, 2024: 3-6). Literasi data, literasi teknologi, dan literasi manusia adalah komponen kunci dalam menghadapi era digital yang semakin kompleks. Literasi data memberikan kemampuan untuk mengelola informasi besar dan mengambil keputusan secara kritis dan efektif. Di sisi lain, literasi teknologi memungkinkan individu memahami dan menggunakan teknologi digital dengan baik, mendukung berbagai aspek kehidupan dari bisnis hingga interaksi sosial. Sementara literasi manusia menekankan pentingnya keterampilan interpersonal seperti komunikasi, kolaborasi, dan pemikiran kritis dalam konteks digital, yang membantu menjaga keseimbangan antara teknologi dan interaksi sosial. Ketiga literasi ini secara bersama-sama menjadi kunci untuk menavigasi tantangan yang kompleks dan memanfaatkan peluang yang ada di dalam masyarakat digital yang terus berkembang. Perkembangan literasi lama yang menjadi literasi baru kini menjadi sangat mendasari dalam pertumbuhan ilmu pengetahuan masyarakat untuk pengolahan informasi dan kemelekan dalam sebuah informasi tanpa melupakan konsep literasi lama. B. Melek Informasi Kemampuan atas mengelola informasi atau menggunakan informasi secara efektif dalam menyelesaikan informasi disebut dengan information literates atau melek informasi. Menurut Dian Konsep literasi informasi pertama kali diciptakan tahun 1974 oleh Paul G. Zurkowski. Saat itu Zurkowski pentingnya kemampuan literasi informasi di era informasi. Sedangkan menurut American Library Association (ALA) menekankan pentingnya menjadi melek informasi, seseorang harus mampu mengenali kapan informasi dibutuhkan dan memiliki kemampuan untuk menemukan, mengevaluasi dan menggunakan informasi yang dibutuhkan secara efektif (Dian, NF: 2021). Melalui literasi, informasi dapat memberdayakan semua lapisan masyarakat untuk mencari, mengevaluasi, menggunakan, dan menciptakan informasi secara efektif untuk mencapai tujuan pribadi, sosial, pekerjaan, dan pendidikan mereka. Menurut UNESCO kemelek informasi masyarakat dapat mengakses informasi tentang kesehatan mereka, lingkungan mereka, pendidikan dan pekerjaan mereka, dan untuk membuat keputusan penting tentang kehidupan mereka (UNESCO, 2023). Utamanya dalam dunia digital, literasi dan informasi mengharuskan pengguna untuk memiliki keterampilan dalam menggunakan teknologi informasi dan komunikasi serta aplikasinya untuk mengakses dan menciptakan informasi. Literasi dan Informasi juga erat kaitannya dengan dua literasi lain yang terkait: literasi komputer (keterampilan TIK) dan literasi media (pemahaman tentang berbagai jenis media dan format yang digunakan untuk mengirimkan informasi). Menurut Luciano Floridi dalam bukunya kita hidup di zaman hyperhistory di mana kesejahteraan individu dan masyarakat sepenuhnya bergantung pada teknologi, informasi dan komunikasi. Selain itu menurut Michael Buckland dalam masyarakat modern, tidak mengherankan jika informasi dipelajari dari berbagai sudut pandang, dan bahkan sejumlah disiplin ilmu, diantaranya ilmu komputer, studi media, psikologi, sosiologi, matematika, pendidikan, ekonomi, dan filsafat. Disiplin ilmu ini sebagian yang tertarik pada informasi dalam arti informasi yang bermakna dan dapat dikomunikasikan serta menjadi pisau analisi yang kuat dalam menguji kredibelitas suatu informasi.
Conclusion
Berbagai penelitian dan pemahaman telah menegaskan bahwa literasi informasi adalah landasan penting bagi kemajuan individu dan masyarakat dalam era informasi digital. Dalam konteks ini, literasi informasi bukan hanya tentang kemampuan teknis untuk mengakses dan menggunakan teknologi informasi, tetapi juga tentang kemampuan kritis untuk mengevaluasi, menyaring, dan memanfaatkan informasi dengan bijak. Dengan literasi informasi, individu dapat secara efektif mengelola dan memanfaatkan sumber daya informasi yang tersedia untuk mencapai tujuan pribadi, sosial, pendidikan, dan pekerjaan mereka. Kemampuan untuk menavigasi melalui beragam sumber informasi, memahami keberagaman media, dan mengidentifikasi informasi yang relevan dan dapat dipercaya sangat penting dalam pengambilan keputusan yang berdampak pada kehidupan seharihari. Selain itu, literasi informasi juga berkontribusi pada inklusi digital, dengan memberdayakan individu dari berbagai lapisan masyarakat untuk berpartisipasi dalam masyarakat berbasis pengetahuan dan ekonomi digital. Dengan demikian, literasi informasi bukan hanya tentang penguasaan teknologi, tetapi juga tentang pemberdayaan individu untuk menjadi peserta aktif dalam proses pengetahuan dan pembelajaran sepanjang hayat. Dalam Islam, literasi dan pemahaman informasi memegang peran krusial yang tercermin dalam ajaran Nabi Muhammad SAW yang menekankan pentingnya ilmu dan pembelajaran sepanjang hayat. Wahyu pertama "Iqra" menegaskan pentingnya literasi sebagai pondasi agama, yang melampaui sekadar membaca teks untuk mencakup kemampuan mengatasi tantangan sosial dan ekonomi. Hadits-hadits seperti yang terdapat dalam Fathul Bari dan riwayat Abu Sa'id menunjukkan bagaimana pemahaman yang dalam dapat mengungkapkan makna mendalam dari informasi melaui kata-kata Nabi, menyoroti pentingnya kemampuan literat serta intelektual dalam menafsirkan dan mengimplementasikan ajaran agama dalam kehidupan sehari-hari. Dalam konteks global yang terus berkembang di mana teknologi informasi dan komunikasi semakin meresap ke dalam setiap aspek kehidupan, peningkatan literasi informasi menjadi kunci untuk memastikan bahwa individu dan masyarakat dapat menghadapi tantangan dan peluang yang dihadirkan oleh revolusi informasi. Oleh karena itu, investasi dalam pendidikan literasi informasi, termasuk literasi komputer dan media, menjadi semakin penting untuk menciptakan masyarakat yang terampil dan berdaya saing di era digital.