PERAN PUSTAKAWAN CERDAS DI PERGURUAN TINGGI DALAM IKUT MEMBENTUK MASYARAKAT CERDAS
Universitas Gadjah Mada
Abstrak
Pustakawan perguruan tinggi dituntut untuk lebih meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan wawasannya. Kegiatan untuk menambah pengetahuan dapat dilakukan dengan berbagai cara, seperti : banyak membaca-menulis, sering mengikuti seminar, workshop, call for papers, bergabung dalam grup diskusi sosial media, belajar secara mandiri melalui Internet, dan lain-lain. Pemustaka dalam suatu perguruan tinggi sebagian besar generasi milenial. Perilaku generasi milenial sekarang ini sudah memasuki era society 5.0 (Perilaku masyarakat super cerdas). Mereka menginginkan layanan yang cepat, praktis, dan efisien. Pustakawan harus mengikuti arus generasi masyarakat yang dilayaninya, agar layanan yang diberikan sesuai dengan keinginan pemustaka. Peran pustakawan cerdas untuk masyarakat perguruan tinggi dengan memberikan layanan yang relevan dengan generasi milenial salah satunya yaitu layanan digital library mobile. Pemustaka hanya dengan mengunduh aplikasi lewat Playstore, sudah dapat meminjam dan membaca ebook tanpa harus mendatangi perpustakaan. Kegiatan lain yang dilakukan yaitu pustakawan berkolaborasi dengan peneliti (dosen dan mahasiswa). Kegiatan ini dilakukan dengan memberikan tutorial literasi informasi di meja layanan, yaitu: memberikan teknik kepenulisan tugas akhir, cara menggunakan SPSS, Mendeley, Zotero, membantu cek plagiarisme, sosialisasi sumber-sumber informasi, menyediakan referensi yang relevan, memberikan rujukan jurnal, dan memberikan layanan informasi lainnya. Layanan ini dapat memperlancar proses belajar-mengajar dan meningkatkan kualitas hasil penelitian di perguruan tinggi. Peran pustakawan cerdas untuk masyarakat kampung dengan mendampingi dan mengajar anak-anak di saat Jam Belajar Masyarakat (Pukul 18.30-20.30). Kegiatan remaja dan Taman Pendidikan AlQur'an (TPA) digiatkan kembali. Taman baca masyarakat (TBM) didirikan untuk melengkapi kegiatan literasi di masyarakat. Masyarakat menjadi cerdas dalam berliterasi, sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan.
Keywords:
smart librarians
· smart society
· pustakawan
· literasi
Introduction
Pustakawan tempo dulu dapat digambarkan sebagai seorang penjaga buku dengan rambut dikonde ke atas dan memakai kaca mata tebal. Gayanya yang kurang ramah dan selalu curiga dengan pemustaka yang datang. Itulah gambaran citra pustakawan tempo dulu, citra pustakawan yang sudah melekat di masyarakat. Kalimat di atas s e ri n g d i p a k a i ji k a k it a a k a n memahami masa depan, terlebih dahulu kita harus melihat masa lampau. Ungkapan tersebut sering dikatakan dalam rangka proses pembelajaran dari pengalaman masa lalu, dengan melihat citra pustakawan masa lalu dengan citra pustakawan sekarang. Dengan b e r k emb a n g n y a w a k t u , c i tr a pustakawan tersebut sedikit demi sedikit berubah. Sekarang ini citra pustakawan mulai berubah sebagai seorang pustakawan yang cerdas, profesional, ramah, dan berkompeten dalam bidang perpustakaan maupun d a l am b i d a n g l a i n n y a . Ci tr a pustakawan sekarang sudah tidak dipandang sebelah mata di masyarakat. Perubahan citra pustakawan terjadi seiring dengan perkembangan teknologi informasi dan perubahan peran pustakawan itu sendiri karena perubahan tuntunan masyarakat yang dilayani. Di zaman yang serba digital ini permintaan informasi semakin tinggi, menyebabkan meningkatnya orang mengakses internet. Internet sudah mengubah gaya hidup dan pe ril aku ma sya r aka t. Pe ril aku masyarakat sekarang sudah menuju society 5.0, yaitu perilaku masyarakat yang super cerdas. Perilaku masyarakat seperti itu merupakan dampak adanya kemajuan teknologi informasi, bahkan dampak tersebut sudah merambah di segala bidang. Perpustakaan yang merupakan bagian dari bidang pendidikan juga merasakan dampak adanya kemajuan teknologi. Pemustaka suatu perpustakaan perguruan tinggi sebagian besar merupakan generasi milenial. Generasi yang dikelilingi dengan teknologi modern seperti laptop, smartphone, tablet, dan lain-lain. Generasi ini menginginkan setiap aspek kehidupan akan lebih cepat, praktis, dan efisien sesuai permintaan. Pustakawan sebagai tenaga profesional di perpustakaan perguruan tinggi harus mengikuti arus generasi yang dilayaninya. Agar layanan yang diberikan relevan dengan pengguna perpustakaan saat ini. Untuk itu pustakawan harus meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan wawasan. Sebuah perpustakaan perguruan tinggi akan maju dan berkembang apabila pustakawan di dalamnya adalah pustakawan yang cerdas dan profesional. Hal tersebut seperti kalimat berikut: “The 'smart library' requires 'smart librarians which gives service to user centric and user friendly” (Nahak, 2019). P u st a k a w a n c e r d a s p a d a umumnya digambarkan sebagai pustakawan yang menggunakan teknologi informasi untuk efisiensi dalam memfasilitasi dan melayani pemustaka. Sedangkan menurut J o h n s o n ( 2 0 1 2 ) p a d a F o r u m Pe rpust aka an Int e rna siona l di Shanghai, bahwa characteristic smart li b r a ri a n ti d a k h a n y a mamp u menggunakan teknologi informasi atau mempunyai tingkat kepandaian tertentu. Characteristic Smart Librarian,(Johnson, 2012): 1. Level of qualification 2. Affinity to life-long learning 3. Social and ethnicity 4. Flexibility 5. Creativity 6. Open mind 7. Participation in public life Karakter pustakawan cerdas di atas sangat dibutuhkan di lingkungan perpustakaan perguruan tinggi maupun di lingkungan masyarakat umum. Pustakawan cerdas dalam suatu perguruan tinggi mampu menyediakan literatur ilmiah dan informasi ilmiah secara praktis, efisien dan up to date. Kegiatan yang dilakukan pustakawan tersebut tidak terlepas dari tujuan Tri Darma Perguruan Tinggi, yaitu memperlancar proses pendidikan, p e n e l i t i a n , d a n p e n g a b d i a n masyarakat. Kegiatan pendidikan, penelitian dan pengabdian masyarakat akan menghasilkan SDM yang unggul, kritis, cerdas, kreatif, dan berkualitas. Pustakawan sebagai penyedia literatur ilmi ah dan s ebaga i f a silit a tor komunikasi ilmiah guna menunjang proses pendidikan dan penelitian di kampus. Pust akawan be rus aha memberikan layanan yang berkualitas secara efektif dan efisien sesuai kemajuan zaman. Dosen dan mahasiswa selain melakukan kegiatan pendidikan dan penelitian, mereka mempunyai k e w a j i b a n p a d a p e n g a b d i a n masyarakat. Ilmu yang didapatkan di bangku kuliah diharapkan dapat disumbangkan untuk pemberdayaan m a s y a r a k a t s e h i n g g a d a p a t me n i n g k a t k a n k e s e j a h t e r a a n . Pustakawan dalam hal ini tidak memp u n y a i k ewa j i b a n d a l am pengabdian masyarakat. Pustakawan yang cerdas dan pustakawan yang p e d u li d e n g a n ma s y a r a k a t d i lingkungannya, akan tergerak hatinya untuk menyumbangkan ilmu, tenaga, dan waktunya guna meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Pustakawan dalam berkegiatan di masyarakat perkampungan bukan merupakan suatu hal yang mudah, hal ini membutuhkan beberapa strategi agar seimbang antara kehidupan di kantor, keluarga, dan masyarakat. Kehidupan di dalam masyarakat perkampungan sangat komplek dan heterogen. Jarak antara rumah yang satu dengan yang lainnya sangat berdekatan, bahkan berhimpitan, sehingga interaksi antara mereka sangat intens. Keadaan seperti ini sangat tidak kondusif untuk anak-anak usia sekolah. Waktu belajar mereka habis untuk bermain-main dengan teman sebayanya. Rata-rata orang tua sibuk dengan aktifitasnya masingma sing. Me r eka kur ang memperhatikan waktu belajar anak. Di sinilah pustakawan dibutuhkan untuk membantu mengurai permasalahan dalam hal pendidikan yang terjadi di masyarakat perkampungan. Tulisan ini akan membahas bagaimana peran pustakawan cerdas yang dilakukan untuk masyarakat perguruan tinggi dan tempat tinggalnya.
Discussion
1. Peran pustakawan cerdas untuk masyarakat perguruan tinggi Kata peran merupakan sesuatu yang menjadi bagian atau yang mempunyai kedudukan dalam masyarakat (KBBI, 2016). Tiap-tiap orang memiliki berbagai peran yang berasal dari pola-pola pergaulan hidupnya. Untuk itu peran menentukan apa yang diperbuat bagi masyarakat serta kesempatan-kesempatan apa yang diberikan masyarakat kepadanya (Soekanto, 1990). Istilah Pustakawan merupakan orang yang mempunyai kompetensi yang diperolehnya melalui pendidikan/pelatihan kepustakawanan serta mempunyai tugas dan tanggung jawab untuk melaksakan pengolahan dan pelayanan perpustakaan (UU RI No.43, 2007). Sedangkan kata perguruan tinggi adalah daerah lingkungan bangunan tempat semua kegiatan belajar mengajar tingkat tinggi dan administrasi berlangsung (KBBI, 2016). Jadi kalimat peran cerdas pustakawan perguruan tinggi disimpulkan merupakan sesuatu yang diperbuat seorang pustakawan cerdas untuk masyarakat di lingkungan tempat belajar mengajar tingkat tinggi. Pustakawan perguruan tinggi dalam perkembangannya tidak hanya memberi layanan peminjaman dan pengembalian buku, tetapi lebih dari itu yaitu memberi informasi dan memberi fasilitas kebutuhan untuk kemudahan ma sya r aka t yang dil ayaninya . Masyarakat yang dilayani pada suatu kampus, mayoritas generasi milenial. Generasi yang menginginkan layanan yang serba cepat, praktis, dan efisien. Sudah dijelaskan di atas bahwa perilaku generasi milenial sekarang ini sudah memasuki society 5.0, yaitu perilaku masyarakat yang super cerdas. Dengan melihat kenyataan pada masyarakat perguruan tinggi seperti itu, apakah kita sebagai seorang pustakawan akan tinggal diam. Walaupun kita berbeda generasi dan umur kita jauh berbeda dengan pemustaka, tetapi setidaknya kita harus berusaha mengimbangi perilaku dan keinginan pemustaka yang sebagian besar mahasiswa. Dalam kehidupan sehari-hari generasi milenial sudah dimanjakan dengan kemudahan-kemudahan yang mereka dapat dari kemajuan teknologi. Mulai dari transportasi ada ojek online, dari rumah bisa pesan kendaraan yang akan mengantar ke manapun. Apabila perut lapar hanya berbekal smartphone yang terhubung internet makanan yang diinginkan sudah ada yang mengantar. Transaksi keuangan tidak perlu datang ke bank, mobile banking sudah bisa mengatasinya. Belanja online pun menjamur dan sudah membudaya di masyarakat. Dalam bidang pendidikan ada istilah pendidikan jarak jauh (Elearning). Proses belajar-mengajar tidak dilakukan di dalam kelas, melainkan lewat media internet. Mahasiswa di rumah maupun di mana saja tinggal membuka komputer maupun smartphone yang sudah terhubung internet, mereka sudah bisa mengikuti perkuliahan. Dengan melihat fenomena di atas, seorang pustakawan harus mengikuti arus kemajuan zaman. Pustakawan h a r u s b e r u s a h a me n i n g k a t k a n w a w a s a n , p e n g e t a h u a n , d a n keterampilan dengan jalan banyak membaca-menulis, sering mengikuti seminar, workshop, call for papers, bergabung dalam grup diskusi di sosial media, belajar secara mandiri melalui internet, dan lain sebagainya. Internet menawarkan berbagai ilmu dan pengetahuan yang dapat diakses kapanpun dan di manapun. Pustakawan bisa belajar lewat layanan di internet seperti: - Search engine: Google, Yahoo, DuckDuckGo, MSN, Bing, Ask, Q u o r a , D o g p i l e , Ya n d e x , Boardreader, WolframAlpha, IxQuick,SlideShare, Addict-omatic, Creative Commons Search, Bookmarking Site, E-Commerce, dll. - Video: Youtube, Vimeo, Vine, Snapchat, Webex,Zoom, dll. - Media Sosial: Facebook, Twitter, WhatsApp, Instagram, Telegram, Line, LinkedIn. Google Plus, Social Publising Platform (Blog dan Microblog), dll. Di zaman sekarang ini tidak ada kata tidak bisa, keaktifan dan ketekunan yang bisa membuat kita cerdas. Belajar dari internet sangat membantu kita dalam beraktifitas sehari-hari. Lewat berbagai search engine yang ditawarkan di internet, kita bisa melacak dan mencari informasi yang kita inginkan. Youtube dan f a si l i t a s v i d e o l a i n n y a a k a n me n awa r k a n b e r b a g a i ma c am informasi, sehingga kita yang dulunya tidak bisa menjadi bisa. Berbagai media sosial tak kalah pentingnya dalam memberi sumbangan ilmu pengetahuan dan pengalaman hidup. Dengan berjejaring sosial akan menambah wawasan, pengetahuan, dan keterampilan. Kita harus mampu m e n g i d e n fi k a si , m e m a h a m i , menginterpretasi dan menyampaikan apa yang kita ketahui kepada orang lain. Cara kita memahami dan bagaimana kita bisa dipahami orang lain itulah yang menjadi kunci layanan literasi. Kita perlu menggunakan pengetahuan kita di dalam literasi. Bagaimana kita memanfaatkan teknologi informasi untuk bisa b e r k omu n i k a si me n g - g u n a k a n berbagai perangkat untuk melakukan berbagai hal dalam layanan literasi di p e r g u r u a n t i n g g i m a u p u n d i lingkungan tempat tinggal kita. Kemudian pertanyaannya layanan apa yang akan kita berikan kepada pemustaka di zaman sekarang? Layanan yang cepat, praktis, dan efisien yang mereka butuhkan. Layanan yang berkualitas dan inovatif yang diutamakan, seperti layanan yang menyediakan fasilitas untuk pemustaka agar dapat meminjam, membaca maupun belajar secara online. Beberapa perpustakaan kemudian memberikan layanan inovatif berupa perpustakaan digital dengan konsep data buku yang ditampilkan secara online, sedangkan pemustaka masih mendatangi perpustakaan apabila membutuhkan buku secara fullteks. Konsep perpustakaan digital lainnya yaitu koleksinya dalam bentuk digital t e t api dis a jikan ma sih s epe rti p e r p u st a k a a n k o n v e n si o n a l . Perpustakaan digital seperti ini sering disebut dengan istilah Bookless. P e r p u st a k a a n d i g i t a l m o b i l e merupakan jenis perpustakaan digital yang berbasis internet. Perpustakaan digital ini memiliki koleksi digital dan disajikan secara online. Pemustaka hanya berbekal smartphone atau komputer yang sudah terhubung internet, pemustaka sudah dapat mengakses buku-buku digital di manapun dan kapanpun tanpa harus mendatangi perpustakaan. Untuk itu layanan digital library mobile inilah yang diberikan ke pemustaka di perguruan tinggi, karena sesuai dengan ke inginan pemust aka gene r a si milenial. Gambar 1, memuat contohcontoh digital library mobile yang bisa diunduh lewat Playstore. Digitlib DEB SV UGM, iJogja, dan iPusnas merupakan bentuk digilital library mobile yang sejenis. Peran pustakawan cerdas selain memberikan layanan perpustakaan digital mobile yaitu pustakawan berkolaborasi dengan peneliti yaitu dosen dan mahasiswa. Kolaborasi pustakawan dengan peneliti ini b e n t u k n y a s e p e rti b imb i n g a n pemustaka atau layanan literasi informasi. Layanan literasi informasi yang diberikan di sini berbeda dengan yang lainnya. Layanan literasi informasi tidak dilakukan dengan cara memberi materi di dalam kelas maupun dengan cara webinar. Layanan literasi informasi yang dilakukan yaitu secara privat atau tutorial di meja layanan literasi informasi. Mahasiswa datang untuk berkonsultasi di meja layanan. Pustakawan dengan kemampuannya memberikan solusi yang pemustaka hadapi. Adapun kegiatan dalam layanan literasi informasi di sini meliputi: 1. Memberikan teknik kepenulisan t u g a s a k h i r m a h a sis w a , memberikan cara olah data me n g g u n a k a n S P S S , c a r a menggunakan Mendeley, Zotero dll. 2. M e m b a n t u p r o s e s c h e c k Plagiarisme 3. Sosi a lis a si sumbe r-sumbe r informasi 4. Menyediakan referensi yang relevan 5. Memberikan rujukan jurnal 6. Memberi informasi lainnya. Dalam kegiatan ini tidak hanya mahasiswa yang mendatangi meja layanan literasi informasi, tetapi pustakawan juga aktif mendatangi me j a b a c a d i s a a t p emu st a k a mengerjakan tugas akhir. Bagi seorang pustakawan cerdas, perpustakaan sudah dianggap rumah kedua, dan mahasiswa adalah anak-anaknya. Di saat mahasiswa mengerjakan tugas akhir di meja baca, pustakawan dengan penuh keramahan menanyakan: “Sampai di mana tugas akhirnya?” Di situ nanti akan terjadi dialog, diskusi, kedekatan, dan keakraban. Di sinilah keunggulan dari layanan literasi informasi yang dilakukan seorang pustakawan cerdas. Layanan literasi informasi yang dilakukan dapat menciptakan hubungan baik dan penuh keakraban antara pustakawan dan pemustaka. 2. Peran pustakawan cerdas untuk masyarakat kampung Kampung merupakan suatu kelompok tempat tinggal dari bagian kota, pada suatu kelurahan di bawah kecamatan, kebanyakan masyarakatnya berpenghasilan rendah, dan belum modern (KBBI, 2016). Kehidupan di kampung sangatlah komplek dan heterogen. Penduduknya dalam mencari nafkah waktunya tidak pasti, sehingga untuk mendampingi anakanaknya belajar sangatlah kurang. Anak-anak yang seharusnya belajar, masih bermain-main di luar rumah. Pustakawan yang hidup di perkampungan, tergerak hatinya untuk menyumbangkan pikiran, waktu, dan tenaganya untuk mengurai permasalah tersebut. Dengan inisiatif dan keikhlasan sendiri pustakawan mengumpulkan dan mengajar anakanak. Pustakawan membuat kesepakatan bersama warga untuk menetapkan waktu JBM (jam belajar masyarakat), yaitu pukul 18.30 – 20.30 WIB. Di saat JBM keluarga yang mempunyai anak s e k o l a h d imo h o n u n t u k ti d a k menyalakan televisi dan handphone. Anak-anakpun sudah berada di dalam rumah, atau ikut belajar bersama. Sirine pemanggilanpun dibunyikan di saat-saat JBM. Anak-anak berkumpul untuk belajar bersama. Seorang pustakawan cerdas mendampingi dan m e n g a j a r a n a k - a n a k d a l a m mengerjakan PR dan membaca pelajaran sekolah. Taman pendidikan Al-Qur'an (TPA) yang sudah lama vakum, kini digiatkan kembali. Belajar membaca Al-Qur'an dilaksanakan sehabis sholat maghrib, kemudian dilanjutkan belajar bersama setelah sholat isya. Di sini pustakawan mendampingi anak-anak SD-SMP mengerjakan PR dan membaca bukubuku pelajaran. Dengan memberi semangat dan motivasi belajar kepada anak-anak, pustakawan mampu mengumpulkan anak-anak untuk mengaji dan belajar bersama. Kaum remaja di kampung seperti remaja-remaja pada umumnya. Aktifitas mereka banyak diwarnai dengan mempergunakan smartphone, untuk belajar online, bersosial media, ataupun hanya sekedar bermain game. Pustakawan di kampung melihat fenomena seperti itu merasa ingin memberdayakan remaja dengan kegiatan-kegiatan yang lebih positif dan bermanfaat buat diri sendiri juga l i n g k u n g a n n y a . P u st a k a w a n memprakarsai, mengumpulkan dan mengaktifkan kembali kegiatan remaja di kampung. Kegiatan di kampung akan berjalan dengan sukses kalau di dalamnya kaum remajanya juga aktif. Untuk itu pustakawan memberi contoh kepada kaum remaja, agar nantinya menggantikan tugas pustakawan dalam memajukan kampung, terutama mendampingi anak-anak belajar di saat JBM. Langkah pertama yang dilakukan pustakawan untuk menarik minat remaja agar aktif kembali dengan mengadakan outbond selama 2 hari dengan dana dari masjid dan dari kampung. Kegiatan ini diagendakan setiap setahun sekali agar kaum remaja merasa senang dan tetap ingin meramaikan kegiatannya. Agenda kegi a t an r ema j a l a innya ya itu mengadakan whorkshop penggunaan smartphone untuk bisnis di internet, memberi literasi informasi tentang gizi dan kesehatan remaja putri, memberi literasi informasi anti hoaks, dan kegiatan lainnya. Untuk melengkapi kegiatank e g i a t a n d i a t a s, p u st a k awa n membentuk Taman Baca Masyarakat (TBM). Pu st a k awa n memb u a t proposal untuk pengajuan dana dan bantuan buku. Proposal tersebut disebar ke perbagai instansi dan perguruan tinggi. Masyarakat sekitar diminta untuk menyumbang buku maupun majalah yang sudah tidak dibaca lagi, agar dapat dimanfaatkan warga lainnya. Pengolahan buku-buku dibantu remaja dan mahasiswa KKN. B u k u - b u k u k o l e k s i T B M dipromosikan lewat pertemuanpertemuan kampung, grup whatshapp warga dan pertemuan PKK. Ternyata antusias warga khususnya ibu-ibu dan anak-anak merasa senang dengan buku bacaan yang disediakan di TBM. Permainan edukatif juga disediakan untuk anak- anak yang s edang perkumpul di saat JBM. Ibu-ibu membaca buku sambil mendampingi anak-anak belajar dan bermain di TBM. Buku bacaan keterampilan, memasak, kesehatan, dan berkebun merupakan buku favorit ibu-ibu. Masyarakat dengan banyak membaca buku-buku tersebut menjadi bertambah pengetahuan dan keterampilannya. M e r e k a s e c a r a b e r k e l o m p o k mempraktekkan apa yang sudah mereka baca. Dengan kegiatan ini, mereka bertambah penghasilannya, karena buku yang mereka baca diaplikasikan dengan berjualan dan berkebun di lahan sempit mereka. Tanpa disadari kegiatan literasi di kampung dapa t meningka tkan kesejahteraan masyarakat. Demikan kegiatan seorang pustakawan di kampung tempat tinggalnya. Prinsip dalam hidupnya adalah ilmu, tenaga, dan pikirannya dapat bermanfaat bagi masyarakat luas.
Conclusion
Pustakawan cerdas sangat dibutuhkan dalam membentuk masyarakat yang cerdas. Peran pustakawan cerdas untuk masyarakat di perguruan tinggi mampu memperlancar kegiatan belajarmengajar dan dapat meningkatkan kualitas hasil penelitian. Layanan perpustakaan digital mobile yang diberikan sangat sesuai dengan perilaku generasi milenial. Mahasiswa yang merupakan pemustaka terbesar di perguruan tinggi sangat terbantu dan dipermudah dengan layanan digital library mobile. Kegiatan tutorial literasi informasi banyak memberi ma n f a a t u n t u k ma s y a r a k a t d i perguruan tinggi. Tutorial literasi i n f o rma si d a p a t me n c i p t a k a n hubungan yang hangat dan penuh keakraban di antara pemustaka dan pustakawan, karena dalam kegiatan literasi ini akan terjadi interaksi secara langsung, tatap muka, dialog, dan diskusi. Peran pustakawan cerdas yang diberikan untuk masyarakat di lingkungan t empa t tingga lnya merupakan bentuk implementasi dari Tri Dharma Perguruan Tinggi. Hal tersebut merupakan tantangan dan peluang bagi seorang pustakawan yang m e n e r j u n k a n d i r i n y a d a l a m berpartisipasi dan mengabdikan d iri n y a u n t u k k e m a j u a n d a n kesejahteraan masyarakat. Anak-anak di kampung mempunyai wadah untuk belajar bersama. Dengan adanya taman baca masyarakat, gemar membaca menjadi membudaya. Masyarakat kampung menjadi cerdas dalam b e r l i t e r a s i s e h i n g g a d a p a t meningkatkan kesejahteraan.