Digital Literacy Capabilities Menjawab Tantangan dan Merebut Peluang di Era Disruptif
Universitas Muhammadiyah Surakarta
Abstrak
Peran manusia di era society 5.0 tetap menjadi pilar utama ditandai dengan optimalisasi teknologi informasi yang terus melakukan penyempurnaannya. Pergumulan cyberspace (high technology) dan physicalspace (high touch) akan mengantarkan peningkatan kualitas kehidupan modern. Kolaborasi kehidupan sosial dengan memasukkan inovasi revolusi industri keempat yang ditandai dengan keterlibatan Internet of Things (IoT), Artificial Intelligence (AI) serta big data. Metodologi Penelitian kualitatif yang mendasari penulisan artikel ini menggunakan metode analisis deskriptif dan mengolah data yang ada. Era masyarakat 5.0 yang merupakan titik balik era disrupsi yang ditandai lahirnya paradigma baru dalam bertranformasi modern secara integral baik dari teori, pemikiran dan prilaku digital yang akan melahirkan ide dan gagasan baru. Kemampuan kreasi dan inovasi sebagai tuntutan agar mampu beradaptasi dan bertahan hidup. Peningkatan kapabilitas skill sebagai prasyarat menjawab tantangan dan mengopimalkan peranya secara signifikan. Kemahiran mendomisasi kreasi digital menjadi tuntutan agar mampu bertahan dalam era disrupsi ini. Kompetensi dasar meliputi kemampuan berpikir kritis terhadap kondisi yang cepat berubah, kemampuan peningkatan literasi digital, kemampuan beradaptasi dan opportunity ability serta kemampuan mendomentasikan dengan tulisan serta berkomuniksi efektif. Di sisi lain kemampuan menjaga nilainilai moral harus tetap terjaga sebagai kompetensi religiusitas.
Abstract
The role of man in the era of Society 5.0 remains the main pillar, characterised by the optimisation of information technology, which is constantly improving. The battle between cyberspace (high technology) and physical space (high touch) will lead to an increase in the quality of modern life. Collaboration in social life by incorporating the innovations of the fourth industrial revolution, characterised by the involvement of the Internet of Things (IoT), Artificial Intelligence (AI) and Big Data. The qualitative research methodology underlying the writing of this article uses descriptive analysis methods and processes existing data. The era of Society 5.0, which is a turning point in the era of disruption, is characterised by the birth of a new paradigm in modern transformation, which is integrated both from theory, thinking and digital behaviour. The ability to create and innovate as a requirement to adapt and survive. Increased capability as a prerequisite for responding to challenges and significantly optimising its role. The ability to master digital creation as a requirement to survive in this era of disruption. Basic skills include the ability to think critically about rapidly changing conditions, the ability to increase digital literacy, the ability to adapt and seize opportunities, and the ability to document and communicate effectively. On the other hand, the ability to uphold moral values must be maintained as a religious competence.
Keywords:
information technology
· digital competence
· disruptive era
Introduction
Revolusi industri mampu menggeser pola dan gaya hidup manusia secara fundamental. Wajah baru akibat revolusi industry 4.0 ini karena perkembangan teknologi informasi yang sangat pesat. Kemajuan teknologi tak mungkin di hindari, terus berjalan beriring perkembangan ilmu pengetahuan. Informasi sebagai anak kandung tranformasi teknologi. Kondisi ini telah mampu menggeser kebiasaan masyarakat tradisional, industrialisasi ke era informasi yang ditandai munculnya masyarakat informasi (information society). Kebutuhan informasi yang cepat kini pelan dengan pasti telah menggeser paradigma baru kebutuhan primer manusia abad ini. Informasi menjadi saat seksi dan sangat mendesak untuk dipenuhi. Manusia akan menjadi terasa kurang kehidupannya manakala telah tertinggal informasi yang lagi viral. Penyebaran informasi ini membentuk karakter baru pembentukan ide dan riset. Pergeseran gaya hidup tidak saja dari sisi konten informasinya, namun perangkat akses yang menyertainya pun ikut berkembang sangat pesat dan signifikan. Kemudahan-kemudahan dengan fasiltas teknologi membawa dampak dalam segala aktifitas kehidupan dalam seluruh lini kehidupan tanpa terkecuali. Tren semakin sempurnya kemasan konten dan penyajian terus meningkatkan releasenya untuk memanjakan para pemakainya. Teknologi informasi telah menjadi pelumas handal cepatnya gelombang great dircuption . Percepatan interaksi global dalam hal data dan informasi ini menimbulkan banyak konsekuensi. Revolusi industry 4.0 menjadi pemicu peran manusia dipinggirkan dengan hadirnya teknologi. mendorong tatanan dan warna baru dunia tidak sebagaimana di era sebelumnya. Sementara di society 5.0 peran manusia menjadi andalan diiringi basis teknologi informasi yang terus melakukan penyempurnaannya. Peningkatan kapabilitas skill sebagai prasyarat menjawab tantangan dan mengopimalkan perannya secara signifikan. Dunia baru dari kemajuan teknologi merubah dalam interaksi, marketplace baru, dan jaringan tanpa batas. Kontribusi terbesar dalam revolusi teknologi informasi adalah tranformasi entitas fisik ke dalam etentias elektronik menuju entitas digital. Konten-konten fisik bisa diduplikasi dan menjadi konten digital yang membawa status menjadi tidak terbatas. Hal ini dikenal sebagai asset digital. Aset-aset digital akan semakin murah untuk di reproduksi, di kemas ulang, di simpan, di organisasi, didesiminasi, diolah, dimanipulasi, diakses di transmisikan serta didistribusikan. Aset-aset digital juga memberi peluang kapitaliasi konten-konten digital dengan berbagai type. Transformasi digital di dorong masifnya kemajuan tekonologi informasi diharapkan dapat mengatasi permasalah global. Terintegrasinya cyber space room dan ruang physical space menstimulus konten-konten baru, networking global. Personal, materi, dan sistem semuanya saling tekoneksi di dunia virtual/maya. Kehebatan AI saat ini telah menjadi rival dari kemampuan maunsia itu sendiri dan diumpankan kembali ke ruang fisik. Hadir model baru kehidupan akibat reaksi dari perubahan yang sangat cepat, yaitu era disruptif. Era disruptif terus bergerak membangun ide dan gagasan baru yang berdampak lahirnya cara-cara baru agar tetap bertahan. Inovasi merupakan kata kunci keberhasilan global saat ini. Teknologi disruptif/inovasi disruptif merupakan inovasi menciptakan pasar dan nilai jejaring baru. Inovasi disruptif menjadikan ide-ide inovatif bukanlah semata-mata fungsi dari otak, melainkan juga fungsi dari perilaku. Inovasi disruptif melakukan berpikir berbeda menggabungkan ide-ide yang original dan merespon informasi yang masuk dalam otak melalui pola-pola terintegrasi, melihat hubungan konstektual dan unsur-unsur yang kelihatannya tidak berhubungan (Dyer 2015: 3) Kata yang menjadi trend dan viral di dunia virtual, yaitu kata disrupsi yang menurut KBBI online berarti tercerabut dari akarnya. Secara terminology disrupsi adalah kondis dimana ternjadinya inovasi yang menyebabkan perubahan secara besar-besaran atau mendasar ke dalam sistem baru dan tata cara baru pula. The Innovator’s Dilemma buka karya Clayton Christensen pada tahun 1997 telah mengenalkan istilah teknologi dan disrupsi digital merupakan sebuah keadaan yang fundamental yang merupakan dampak kemajuan perkembangan teknologi digital dan inovasinya yang merubah pola piker dan pola perilaku masyarakat akan perubahan pasar, pertumbuhan industri yang pesat, serta budaya kehidupan kekinian. Konsep masyarakat 5.0 dan revolusi industri 4.0 tidak ada perbedaan yang signifikan. Artificial Intelligence (AI) dimanfaatkan oleh konsep revolusi industri 4.0 sementara di society 5.0 Unsur atau komponen manusia menjadi sentral garapan. Konsep society 5.0 mengukir sejarah peradaban manusia melalui inovasi kekinian dari masyarakat 1.0 ke masyarakat 4.0 dalam (Mayasari, 2019) Belakangan ini, industri dan masyarakat futuristik semakin mendapat perhatian, yaitu pada Industri 5.0 dan Masyarakat 5.0. Industri 5.0 diumumkan oleh Komisi Eropa menuju industri Eropa yang berkelanjutan, berpusat pada manusia, dan tangguh. Society 5.0 diusulkan oleh Kabinet Jepang untuk menyeimbangkan kemajuan ekonomi dengan penyelesaian masalah sosial di masyarakat Jepang. Secara umum, revolusi industri dan masyarakat telah saling berinteraksi secara mendalam sejak revolusi industri pertama. (Sihan Huang, 2022:424) Masyarakat attau society 5.0 merupakan konsep masyarakat fokus pada manusia (human centered) dengan dasar teknologi (technology based) sebagai sarana perubahan. Jepang secara khusus yang merespon perkembangkan ini. Konsep masyarakat 5.0 hadir sebagai sebuah reaksi atas revolusi industri 4.0 yang di akan mengurangi peran manusia (Haqqi, 2019:169)
Method
Metodologi Penelitian kualitatif yang mendasari penulisan artikel ini, dengan pendekatan studi literatur yang mengkolaborasikan sejumlah kajian pustaka. Sumber kajian diambil dari sebuah buku, jurnal online, internet sumber terpercaya dan sumber-sumber laian di ras perlu oleh penulis. Penulis menggunakan metode analisis deskriptif dan mengolah data yang ada
Result & Discussion
Era Society 5.0 merupakan masyarakat yang bertumpu terhadap manusia dengan menyelaraskan kemajuan ekonomi. Problem sosial masyarakat akan di urai dengan mengkolaborasikan ruang maya (virtual space) dan ruang kasat mata atau nyata. Pengaruh society 5.0 ditandai dengan adanya digitalisasi ke seluruh sektor formal dan non formal misalnya bidang fashion dan kecantikan, assembling, infrastruktur, komunikasi, tata pemerintah, ekonomi dan industri. Perkembangan dari masa ke masa masyarakat 1.0 hingga masyaratkat 5.0 terlihat dalam gambar berikut yang endingnya saat ini bahwa konsep masyarakat 5.0 menyempurnakan konsep-konsep masyarakat sebelumnya. Gambar 1. Perkembangan Konsep Masyarakat Industri 1.0 sampai 5.0 Saat dimana manusia masih berburu dan baru mengenal tulisan era itu sebagai awal masyarakat 1.0, saat manusia sudah berkembang dengan menggantungkan hidupnya pada sektor pertanian era itu di kenal sebagai masyaratkat 2. Peradaban terus berkembang, Society 3.0 ditandai dengan manusia mulai menggunakan mesin untuk membantu kegiatan sehari-hari. Sementara konsep masyarakat 4.0 manusia telah industry teknologi informasi dan komunikasi berupa komputer dan jaringan internet. Puncaknya pada masyarakat 5.0 bahwa manusia sudah melebur dengan teknologi dan internet dalam menjalani kehidupannya. Kolaborasi kehidupan sosial dengan memasukkan inovasi revolusi industri keempat yang ditandai dengan keterlibatan Internet of Things/IoT, Artificial Intelligence (AI) serta Big Data. Berdasarkan survei yang dilakukan oleh APJII (Assosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia) bahwa penetrasi penggunaan internet dari tahun 2022 ke 2023 mencapai 78.19 % dibandingkan tahun lalu 77,02%. Gambar di bawah menunjukkan peninggkatan pengguna internet dari tahun ke tahun. Gambar 2. Perkembangan Pemakaian Internet dari tahun ke tahun Gambar 3. Perilaku pengguna internet Masa dimana seluruh kehidupan harus selalu bersinggungan dengan internet dan medianya. Sebuah perilaku di era society 5.0 dengan berapa variasi yang di akses sebagai aktualisasi jaman digital dan peradaban informasi. Gambar di bahwa menunjukkan bahwa variasi konten sebagai highlight perlaku pengguna internet yang berselancar di dunia virtual. Banjirnya informasi tersebut nitizen dituntun untuk berperilaku kritis terhadap proses mencari, menyeleksi, mengambil serta menganalisa informasi tersebut. Melimpahnya informasi tersebut akan dikemas ulang dalam bentuk informasi dan konten baru oleh kecerdasan buatan (AI). Kemampuan AI menjadi andalan dalam prose nilai baru dalam industry yang sebelumnya sebagai fatamorgana saja. Sebuah permasalah timbul apa yang harus disiapkan oleh individual agar dapat beradaptasi dengan kondisi ini. Manusia yang mengetahui gejala, kondisi serta proses dan akibat proses disruption akan dapat mengantisipasi dan bereaksi dengan tepat. Pendiri Facebook, Mark Zuckerberg menggambarkan proses disruption dalam era ini pada gambar berikut: Gambar 4. Proses disrupsi Proses-proses kecil yang terabaikan atau mungkin tidak di sadari sehingga menjadi boom waktu termasuk oleh mereka sebagai korporasi besar sekalipun. Perubahan itu seakan sebagai banjir bandang yang tidak disadari yang perubahan itu mendadak dan mengejutkan begitu besar. Keberhasilan beradaptasi dengan kondisi disruption adalah bagaimana menselaraskan proses interasi dan yang akan menghasilkan bentuk inovasi baru serta disrupsi. Sukses proses ini kadang sangat ekstrim karena akan muncul sebuah inovasi yang benar-benar berbeda bahkan betul-betul yang lama telah ditinggalkan. Skill apa yang diperlukan dalam era disrupsi ini? 1. Kemampuan berpikir kritis (critical thinking) Renald Kasali (2021:12) dalam bukunya Disruption, menyampaikan bahwa kondisi ini akan bisa dihadapai dengan kemampuan enterpreneurship. Kemampuan berpikiri kritis (critical thinking) dan melihat peluang yang ada. Secanggih apa pun teknologi, itu hasil kreasi dan inovasi dari manusia itu sendiri artinya manusia lebih unggul dalam hal critical thinking. Critical thinking menurut Forbes (2018) kemampuan berpikir kritis merupakan satu dari tujuh kemampuan yang tidak akan tergantikan oleh Artificial Intelligence (AI) dan robot sejenisnya. Berpikir kritis menggambarkan bahwa DNA Inovator pada dirinya bekerja. Berikut bagan bagaimana proses berpikir kritis dalam era disrupsi. Gambar 5 Model DNA Inovator untuk membangun ide-ide inovatif Apa yang dimaksud dengan critical thinking? Critical thinking menurut Michael Scriven, dari Claremont Graduate University, adalah kemampuan secara aktif dan terus berkreasi dalam penyempurnaan konsep, bersifat aktif dan dinamis, menganalisa perkembangan yang terjadi dan mensintesa, serta terampil dalam mengevaluasi informasi. Berpikir kritis merupakan kualifikasi penilaian tersebut dapat diterima akal sehat dan bisa di pertanggungjawabkan. Orang yang berpikir kritis tidak hanya sekedar mengekor keputusan dan kesimpulan, naman mencoba menguji pendapat tersebut dengan validitas data dan kesinambungan Singkatnya, berpikir kritis merupakan kemampuan menempatan logika secara proporsional dan rasional tentang sebuah permasalhan agar dapat dipercaya. 2. IT Literasi atau Keterampilan Digital IT literasi ini merupakan peningkatan kompetensi teknologi atau dikenal dengan istilah Digital Upskilling dengan meningkatkan ketrampilan dalam, web master, conten creator, digital marketing, video dan desain grafis dan lain sebagainya. 3. Writing skills atau kompetensi menulis Penuangan ide dan gagasan hanya bisa di lakukan dengan menulis. Karena ilmu akan di ikat dengan tulisan. Suatu ide kreatif, inovasi tanpa dituliskan tidak akan memberikan kemanfaatan. Kemampuan menuangkan ide-ide dengan narasa yang menarik terus harus di bangun. Sesuai Sunnah “Khatibinnaas ‘ala qadri ‘uqulihim, ‘ulumihim, wa lughatihim” yang artinya “Berbicaralah kepada manusia sesuai dengan kadar intelektualitasnya, ilmunya dan bahasanya (kaumnya)”. Membangun komunikasi lewat tulisan akan di kenang sepanjang masa. 4. Kemampuan beradaptasi (adaptability) Muhammad Syarrif Bando (2018) Technopreneur dan sociopreneur adaptif terhadap perubahan serta mampu mendukung proses transformasi ekonomi yang lebih merata, melalui tumbuhnya bisnis-bisnis online dan munculnya start-up bisnis serta socio-preneur. Dalam dunia konvensional, produk merupakan benda kasat mata dan terjadi transaksi tatap muka dengan pelanggan di suatu tempat (marketplace). Namum kondisi sekarang yang telah mengalami perubahan, dunia mengalami disrupsi maka, produk dalam proses disruption dapat berubah menjadi jasa. Dan jasa akan berubah menjadi marketplace. Karennya. Interaksi kolaboratif akan menghasilkan produk masa depan. 5. Membangun kesalehan digital Gambar 6 Perubahan Religiusitas masyarakat Gambar di atas menunjukkan perilaku beragama di era disruptif. Pergeseran norma dan nilai kehidupan beragamapun mengalami disruptif. Untuk itu tata nilai dan komintmen nilai-nilai luhur harus terus dipertahankan. Berkembang tetapi tetap beradab. Relegiusitas membimbing dalam berperilaku digital yang santun dan bertanggungjawab. Selalu menganjurkan produksi kontenkonten yang baik dan memberikan kesan dan pesan kebaikan. Di sisi lain para pemimpin hendaknya menjadi role model yang simpatik dan pemberi contoh yang baik pula. Sesungguhnya tidak banyak dari kita yang secara legowo dapat menerima adanya gap kesenjangan menjadi sebuah peluang untuk melakukan adaptasi dan segera malakukan pembaharuan, dan tidak memandang sebelah mata sebagai ancaman semata. Gap tersebut lah merupakan bagian dari disrupsi, sesuatu yang hadir tiba-tiba dan berbeda dari sebelumnya, bahwkan tidak tersirat sebelumnya dalam pemikirannya. Barangnya bisa sama, namun model marketing atau permasaran berbeda. Banyak hal memiliki fungsinya sama, namun hadir lebih simple dan muncul dalam bentukbentuk yang baru.. Para incumbent menganggap inovasi sebagai sebuah penyimpangan. Pola perubahan yang tidak stabil di perparah dengan perkembangan teknologi sangat cepat berubah. Kadang inovasi lahir tidak lagi disadari melalui dinamika interaksi kelembagaan, perserikatan, dan organisasi. Perubahan yang beragam tersebut menjadi menjelma menjadi tatanan sistem baru dan prosedur yang baru. Gagal paham di era disrupsi ini menyebabkan terkunci di masa lalu sehingga kurang responsive terhadap perubahan. Gagal menghubungkan diri dengan jejaring-jejaring teknologi dan support di luar, bahkan gagal meremajakan diri. Akhirnya kondisi yang konvensional seakan masih relevan dengan kondisi sekarang. (Kasali, 2018) Secara khusus Kepala Perpustakaan Nasional menyampaikan bahwa pengembangan pola pikir menjadi hal utama sebelum melangkah lebih jauh dalam pengembangan pusat informasi. Karena pada dasarnya sebagian besar pustakawan saat ini masih menganggap bahwa bidang yang ditekuninya, tidak memiliki prospek masa depan di dunia industri. Paradigma yang perlu diubah, profesi pustakawan banyak peluang di depan sana. Begitu daya pikir dan kesadaran terbangun, buatlah seperangkat strategi untuk memperluas disiplin ilmu informasi akan lebih cerah. Maka berani mencoba hal-hal baru dengan belajar melalui media apapun untuk menguasai teknologi informasi menjadi syarat mutlak bagi pustakawan untuk bersaing dengan disiplin ilmu lain, seiring dengan disrupsi inovasi yang bermunculan menggantikan posisi industri konvensional. Waspada terhadap perubahan di segala bidang, termasuk ekonomi dan bisnis karena ada peluang informasi penting yang dapat dikemas ulang oleh pustakawan. Pada momen inilah momentum perkembangan dunia informasi termasuk perpustakaan dan kearsipan dibangkitkan. Selain berinovasi, para penggiat dunia informasi bisa sekaligus mendapatkan penghasilan lebih dengan cara menawarkan produk atau jasa di bidang pengolahan informasi. (Bando, 2015)
Conclusion
Era masyarakat 5.0 yang merupakan titik balik era disrupsi yang melahirkan ide dan gagasan baru. Berinovasi dan terus berkreasi sebagai tuntutan agar mampu beradaptasi dan bertahan hidup. Tantangan harus dihadapi dengan terus berkreasi dan berinovasi agar terus tetap dapa berkontribusi di abad disruptif ini. Kompeternsi digital sebagai prasyarat agar mampu bertahan dalam era ini adalah kemampuan berpikir kritis terhadap kondisi yang cepat berubah, kemampuan peningkatan literasi digital, kemampuan beradaptasi dan opportunity ability serta kemampuan mendomentasikan dengan tulisan serta berkomuniksi efektif. Di sisi lain kemampuan menjaga nilai-nilai moral harus tetap terjaga sebagai kompetensi reliusitas. Keberhasilan bertahan di era disruptif sebagai profesi apapun termasuk pustakawan merupakan tantangan tersendiri. Membangan paradigma baru dalam bertransformasi kekinian secara integral baik dari pemahaman, pemikiran dan perilaku. Tidak lagi bekerja sebatas menjadi tanggungjawabnya semata, tetapi terus mengupgrade diri dan belajar cepat dan membangun kompetensi untuk memberikan layanan yang prima serta memberikan sebuah solusi alternative bervariasi juga tepat guna.