Kembali
16
1
2017 Warta Perpustakaan Pusat UNDIP Vol 10 · 2 ISSN 0126-4559

SEJARAH SINGKAT KLASIFIKASI : Judul Asli: A Brief History of Classification / oleh Jean Weihs Diterjemahkan oleh Enny Anggraeny Pustakawan UPT Perpustakaan Undip

Universitas Diponegoro

Introduction

Alasan pertama mengapa diperlukan klasifikasi adalah bagaimana manusia akan menyimpan bahan pustaka dan menemukan kembali sesuai yang diinginkan. Proses ditemukannya skema pengklasifikasian bahan pustaka tidak lepas dari sejarah panjang ilmu pengetahuan. Banyaknya penemuan yang ditulis di tablet, buku dan bahan pustaka lainnya membuat manusia berfikir tentang bagaimana cara untuk mengorganisasikannya.

Discussion

B. Jaman Pra Sejarah Dalam beberapa ekspedisi arkeologi ditemukan adanya perpustakaan purba yang diperkirakan ada pada jaman Ebla, Namrud dan Pergamon. Para sejarawan memperkirakan bahwa kegiatan klasifikasi dan katalogisasi diketahui di kota Hattusa, kerajaan Hitties (1600-1200 SM). Dimana ditemukan bebrapa catatan kecil dibalik permukaan tablet yang menandakan sebagai identitas tablet tersebut. Dari sana nanti hingga abad 13 sebelum Masehi, kolofon berisi tentang informasi bagaimana meletakkan tablet agar tidak cepat rusak, atau mewarnai tablet sebagai salah satu upaya agar dapat terklasifikasi. Pada 685-627SM di Istana Ashurbanipal, Nineveh ditemukan sekitar 30.000 tablet yang diorganisasi di dalam perpustakaan. Mereka memotong tablet dalam bentuk oval, bundar, atau kotak serta dibuat dari kayu, batu atau tanah liat. Sebagai contoh tablet persegi digunakan untuk menyimpan informasi tentang transaksi keuangan, sementara tablet bundar untuk menyimpan informasi tentang pertanian. Sejarah perpustakaan tidak lengkap tanpa mengenal perpustakaan Alexandria yang diperkirakan ada pada 300SM. Perpustakaan Alexandia sudah memiliki koleksi buku, dan menggunakan alphabetical order untuk mengklasifikasikan dan menshelving koleksinya. Pustakawannya membuat 120.000 gulung katalog, dimana skemanya berdasarkan pembagian divisi ilmu menurut Aristoteles. Para sejarawan percaya bahwa kesusastraan di latin dimulai pada 240SM yang sebagian besar adalah adaptasi dari Yunani. Perpustakaan umum pertamakali di Roma dibangun oleh Gaius Asinius Pollio sekitar 39SM. C. Masa Kegelapan (Dark Ages) Pada abad ke-5M, Roma tengah dalam penjajahan, dimana kerajaan timur dan barat saling berebut kekuasaan. Konstantinopel dibakar, tidak terkecuali perpustakaan kerajaan. Era ini dikenal dengan masa kegelapan (Dark Ages), yaitu pada tahun 500-800M dimana buku-buku lama dihancurkan dan digantikan dengan yang baru oleh pihak gereja. Selanjutnya kerajaan Byzntium melanjutkan pembangunan perpustakaan hingga Konstantinopel jatuh ketangan Ottoman pada 1453. D. Klasifikasi Pada abad pertengahan Sebagian besar perpustakaan abad pertengahan ditemukan seiring dengan perkembangan keagamaan. Banyak materi diklasifikasikan berdasarkan subyek, ditulis dengan subdivisi pada bahasa kemudian diurutkan berdasatkan alphabet. Perpustakaan universitas pada abad pertengahan menggunakan skema klasifikasi khusus, dimana biasanya dengan membubuhkan simbol tertentu. Ditemukan sebuah perpustakaan yang mengunakan sistem klasifikasi Bizarre, yaitu menginventaris berdasarkan kata pertama yang terdapat pada halaman ke-dua sebuah buku. Pada katalog Perpustakaan Sorbonne di tahun 1289, telah dibubuhkan judul alphabetis dibawah subyek sebuah buku. E. Klasifikasi pada masa Renaissance Masa Renaissance dimulai di Florence Italia pada abad ke-14, dan menyebar ke seluruh Eropa pada abad ke-15 hingga abad ke-16. Perpustakaan-perpustakaan pada abad ini dikelola secara pribadi, atau perorangan yang memperkerjakan bebrapa pustakawan. Sebagian koleksinya berkisar tentang Astrologi, Karya filusuf Yunani dan Romawi, Matematika, Mitologi, Retorika, Hukum, Ilmu Pengetahuan Alam dan karya Gereja. Kehadiran terbitan tercetak pada abad ke-15 berimbas pula pada koleksi perpustakaan. Banyak buku diterbitkan dengan harga yang terjangkau membuat perpustakaan harus mengoleksinya. Beberapa orang yang dikenal melakukan klasifikasi adalah Florian Trefler (1483- 1565), Conrad Gessner (1516-1565), Sir Francis Bacon (1561-1626) dan Gabriel Naude (1600-1653). Gessner menerbitkan Bibliotheca Universalis pada tahun 1545, yang berisi 10.000 judul yang diklasifikasi menjadi 21 sub divisi. Pada 1605 Bacon menerbitkan klasifikasi ilmu pengetahuan dengan membaginya menjadi pertanian, kimia, astronomi, kedokteran, perspektif, ilmu alam dan ilmu terapan. Klasifikasi ini diberi nana The Advancement of Learning , yang memengaruhi sistem klasifikasi dari Thomas Jefferson dan Melvil Dewey di kemudian hari. Bacon juga membagi jenis buku dalam tiga kategori: Sejarah (mewakili memori), Puisi (mewakili imajinasi), dan Filsafat (mewakili alasan). Naude, seorang ahli fisika dari Perancis dikenal sebagai seorang pustakawan, dengan menyampaikan teori penting tentang organisasi modern perpustakaan. Bukunya Advis Pour Dresser une Bibliotheque (Advice on Establishing a Library), ditulis pada tahun 1643 diwaktu ia menjabat sebagai pustakawan di Bibliotheque Mazarin Paris. Dalam buku ini dikenalkan batang tubuh ilmu pengetahuan di dunia: Sejarah, Kemanusiaan, Peradilan, Matematika, Kedokteran, Filsafat dan Theologi, dengan diikuti pembagian per subdivisi. Sir Robert Bruce Cotton (1571-1631) mengenalkan Cottonian Library di Westminster London, yang merupakan bagian dari British Library, dan metode ini masih digunakan pada koleksi khusus Cotton, dengan notasi Cotton Vitellius A.xv . Catatan sejarah klasifikasi juga ditemukan di Mughal India, dimana Raja Akbar (1542 – 1605) sangat perhatian pada klasifikasi buku-buku di perpustakaannya. Akbar membagi kolesi dalam tigan kelompok besar, yaitu: 1. Puisi, Pengobatan, Astrologi dan Musik 2. Filsafat, Sufisme, Astronomi dan Geometeri 3. Tafsir Al Qur’an, Teologi Umum dan Hukum Klasifikasi ini mirip dengan klasifikasi yang digunakan oleh sebagian besar perpustakaan muslim di era tersebut. F. Era Modern Klasifikasi pada abad ke-17 membedakan koleksi dalam beberapa kategori, yaitu Astrologi, Karya Klasik, Hukum dan Skrip atau Skenario. Kemudian karya-karya Arsitektur, Seni, Biografi, Pedagangan, Ekonomi, Industri, Bahasa, Peta, matematika, Kedokteran, Filsafat, Ilmu Alam, dan naskah kontemporer dan eksplorasi menjadi koleksi perpustakaan, sehingga pustakawan mulai membutuhkan adanya skema klasifikasi. Beberapa perpustakaan mengelola koleksi dengan mengalfabetkannya sesuai klas atau nama pengarang. Pengelolaan ini dapat ditemukan di Perpustakaan Harvard (1790), Perpustakaan Baltimore (1809), dan Bowdoin College Library (1821). Pada abad ini, Ismael Boulliau membuat sistem klasifikasi untuk Paris Bookseller, dan diterbitkan pada tahun 1810 dengan judul Manual du Libraire et de L’amateur de Livers , dan kemudian Jacues-Charles Brunet memodifikasinya menjadi Boulliau’s System. Dalam sistem ini ada lima klas utama: Sejarah, Pengadilan, Kesusatraan, Ilmu Alam dan kesenian, serta Theologi. Benjamin Peirce (1809- 1880), seorang ahli matematika dan pustakawan pada sekolah Harvard, adalah salah satu orang pertama yang menggunakan sistem ini, dan masih digunakan hingga sekarang di Bibliotheque Nationale dan beberapa perpustakaan di Prancis serta hasil adaptasinya masih digunakan oleh British Library hingga sekarang. Andreas August Ernst Schleiermacher (1787-1858), seorang pustakawan di Perpustakaan Pengadilan di Darmstadt, telah mendesain secara detail sistem klasifikasi pada bad 19. Skema klasifikasi tersebut dibagi menjadi 25 klas, sesuai dengan jumlah alfabet Jerman, dengaan 3.000 subdivisi dan relative index . Pada era ini banyak nama-nama pustakawan yang membuat sistem klasifikasi di bebrapa tempat. Seperti James Duff Brown (1862-1914), Stephen Buttrick Noyes (1833-1885), serta Jacob Szhwarts (1846-1926). Jacob Szhwarts adalah pustakawan dari Apprentices Library of the General Society of Mechanics and Tradesmen of the City of New York, adalah salah satu pesaing Melvil Dewey. Pada tahun 1971 Szwarts memperkenalkan skema klasifikasi yang mengadaptasi dari berbagai metode yang dibuat oleh para pustakawan. Pada 1878 ia menerbitkan A Mnemonic System of Classification , yang terdiri dari 25 klas alfabetis, masing-masing klas dibagi menjadi 9 subdivisi, dan masing-masing subdivisi dibagi lagi berdasarkan 25 klas (dengan menghapus huruf ‘J’). Pada 1888, Szhwarts mengubah sistem ini menjadi 27 klas. Pada tahun 1894 Isaac Fletcher (1844-1917) menerbitkan Library Classification, yang berisi mengadopsi 13 klas utama dengan menggunakan huruf A- H, J-L, dan R. Kemudian dibagi lagi dengan subdivisi angka. Sebagai contoh untuk klasifikasi E100-1 dalah buku unutk Perjalanan (E) di Inggris Raya (100) dan merupakan satu subyek (1). Skema ini sangat lentur untuk diterapakan di perpustakaan dan direkomendasikan oleh pustakawan Inggris sebagai salah satu alternatif dari sistem dari Melvil Dewey dan Charles Cutter dari Amerika, dan populer disebut “Fixed Location”. G. Dewey Decimal Classification Melvil Dewey (1851-1931) bukanlah orang pertama yang menginginkan suatu sistem klasifikasi yang efektif. Pada abad ke-19, klasifikasi adalah hal yang penting bagi pustakawan untuk menggantikan sistem lama berupa buku catatan posisi buku didalam rak. Berbagai skema ditawarkan dan banyak orang mencoba mempraktekkannya pada koleksi di perpustakaan mereka. Tidak ada sistem yang seragam yang dipergunakan oleh perpustakaan-perpustakaan untuk mengklasifikasikan koleksi buku-bukunya. Masing-masing perpustakaan memiliki dan mengembangkan sistemnya sendiri-sendiri. Bahkan ada perpustakaan yang mengelompokkan buku-buku berdasarkan ukurannya, tidak peduli temanya. Dewey menerapkan sebuah sistem desimal pada struktur ilmu pengetahuan yang diperkenalkan pertama kali oleh Sir Francis Bacon yang kemudian dikolaborasikan dengan William Torrey Harris (1835- 1909). Harris mengelompokkan buku tidak berdasarkan bentuk atau judul buku, namun berdasarkan ilmu pengetahuan yang terkandung didalam buku tersebut. Dalam mengklasifikasikannya Harris menggunakan struktur Bacon Tripartite Theory of Knowledge . Sistem Dewey menggabungkan dua buah sistem yaitu pengklasifikasian berdasarkan topik dan penomoran dengan desimal. Penomoran desimal digunakan agar buku dapat diletakaan urut sesuai dengan subyeknya, namun juga dapat ditemukan dengan cepat dan mudah. Penomoran Dewey tidak secara langsung merujuk pada lokasi buku. Nomor hanya memberitahu letak relatif suatu buku di antara buku-buku yang lain. Untuk menemukan sebuah buku, dibutuhkan informasi tambahan, misalnya denah rak yang menginformasikan di mana buku-buku dengan nomor-nomor tertentu ditaruh. Kelebihan dari sistem Dewey ini adalah bila ada tambahan buku, pustakawan tinggal menggeser buku dan mengurutkan sesuai nomor desimal yang tertera di buku. Pada waktu DDC diluncurkan pertama kali, usia Dewey masih 21 tahun dan bekerja sebagai asisten dosen pada Amherst College. Dewey lulus dari Amherst College pada tahun 1874 dan kemudian diberi tugas sebagai manager di perpustakaan serta harus me-reklasifikasi koleksi di perpustakaan tersebut. DDC diterbitkan secara anonim oleh Amherst College pada tahun 1976 dengan judul A Classification and Subject Index for Catalouging and Arranging the Books and Pamphlets of a Library dan di tahun yang sama Dewey juga membikin hak cipta atas “ Decimal Classification”. H. Universal Decimal Classification Universal Decilam Classification biasa disebut UDC adalah klasifikasi yang menggabungkan antara klasifikasi subyek dan klasifikasi berdasarkan angka. UDC banyak digunakan di Eropa, semntara di Amerika digunakan utamanya di perpustakaan khusus sains dan teknologi. Ada dua perpustakaan di Amerika Serikat yang menggunakan UDC yaitu The Engineering Society Library in New York City dan The Library of a Firm in Toronto dimana merupakan cabang yang pusatnya ada di Eropa. Kantor cabang ini menggunakan UDC karena seluruh bahan pustaka yang ada di perpustakaan menggunakan satu katalog terpusat. UDC adalah ekspansi yang rumit dari DDC yang di buat oleh Paul Otlet (1868- 1944) dan Henri La Fontaine (1854-1943 dua orang pengacara dari beligia pada tahun 1885. UDC dipresentasikan pada International Conference of Librarians yang pertama diselenggarakan di Brussels Belgia pada tahun 1895. Dasarnya adalah DDC edisi ke-5 atas seijin Dewey dan dengan subdivisi yang sangat banyak. UDC menggunakan symbol diantara angka arab untuk mewakili notasi yang panjang dan lebih akurat dibanding DDC dan lebih spesifik. Dalam UDC iini daftar subdivisi sains dan teknologi lebih diutamakan daripada seni dan ilmu sosial. Edisi lengkap dalam bahasa Perancis pertama kali terbit sekitar tahun 1904-1907 dengan judul Manuel du Repertoire Bibliographique Universal . Edisi berbahasa Inggris adalah terbitan edisi ke-4 dari edisi internasional, sementara ada beberapa terbitan yang berbahasa asing baik dalam bentuk sederhana, lengkap, maupun ringkasan. Perkembangan terus dilakukan dari edisi standar pertama tersebut diatas hingga pada tahun 1985 edisi standard pertama terbit. Edisi ke-2 terbit pada tahun 1993 dan terbitan ke-3 terbit pada tahun 2005-2006. Terbitan terakhir ini terdiri dari dua folume yang terdiri dari sekitar 66.700 entri. Kini UDC telah dilengkapi dalam bentuk digital yang bernama MRF ( Master Reference File) dan UDC Online for general use . Sejak tahun 1927, UDC dikelola oleh Institut International de Bibliograhie yang kini bernama International Federation for Information and Documentation. Pada tahun 1992 penerbit edisi Jerman, Inggris, Prancis, Jepang dan Spanyol membuat konsorsium UDC tersendiri, yang bertujuan untuk membuat master file dalam bentuk database internasional. UDC selalu direvisi oleh para ahli internasional, dipublikasikan dalam berbagai bahasa oleh Internationa Organization for Standarization, dimana merekomendasikan untuk mengadopsi standarnya sesuai dengan ISO. I. Expansive Classification Charles Ammi Cutter (1837 – 1903) mulai bekerja di Athenaeum Library di Boston pada tahun 1868, dengan menggunakan Fixed Location untuk shelving buku. Hingga tahun 1879 ketika Cutter memperkenalkan Boston Athenaeum Classification yang diterbitkan pertama di Library Journal. Klasifikasi ini dapat mengelola koleksi sebanyak 100.000 judul dan menggabungkan antara notasi angka dan notasi alfabet. Skema ini tidak dapat langsung diterima, sehingga pada tahun 1880 Cutter merevisi Boston Athenaeum Clasification ini menjadi Expansive Classification. Skema ini digunakan di Gary Library di Lexiton, Massacussets dengan menggunakan notasi alfabet. Expansive Classification terdiri dari tujuh bagian dengan peningkatan level yang lebih spesifik. Level pertama dimaksudkan untuk digunakan oleh perpustakaan yang paling kecil koleksinya dan perpustakaan terbesar menggunakan level tujuh. Notaasi alfabet digunakan hingga empat huruf di tiap kelasnya, sehingga dapat dimungkinkan memiliki 367.280 subyek. Cutter menerbitkan susunan ini pertama kali untuk expansi ke-enam, pada tahun 1896 hingga 1911 namun Cutter wafat sebelum menyelesaikannya. Hingga kini belum ada catatan pasti, berapa perpustakaan yang telah menggunakan sistem ini. Robert L. Mowery pada 1976 menyatakan bahwa ada 67 perpustakaan yang menggunakannya, sementara R. Conrad Winke pada tahun 2004 melaporkan ada 57 yang menggunakan. Winke menyatakan empat perpustakaan masih menggunakan klasifikasi ini (Charleston Library Society di Carolina; Holyke Public Library di Holyke, Massachusetts; Illionis State Historical Library di Springfield; dan Forbes Library di Northampton, Massachusetts sebagai penghargaan dimana koleksi buku mereka di klasifikasi oleh Charles A. Cutter, yang bekerja sebagai pustakawan di Forbes pada tahun 1894 – 1903). Meskipun mengadaptasi dari komparasi beberapa pustakawan, hingga kini Expansive Classification secara umum dikenal sebagai skema klasifikasi Amerika. J. Library of Congress Classification Walau Expansive Classification gagal menjadi salah satu skema standar bagi perpustakaan, namun pengaruhnya besar terhadap Library of Congress Classification (LCC), dimana model Expansive Classification digunakan sebagai dasar skema LCC. Pasca kebakaran Library of Congress yang terjadi karena perang pada tahun 1812, Thomas Jefferson menjual perpustakaannya kepada Congress. Sebelumnya, Jefferson mengklasifikasi koleksinya dengan skema pembagian ilmu berdasarkan Sir Francis Bacon. Jefferson membaginya menjadi 44 divisi. Klasifikasi Jefferson ini merupakan skema klasifikasi fixed-location , yang menyebabkan koleksi Library of Congress telah diklasifikasi hingga 100 tahun kedepan. Pada akhir abad 19, pustakawan pada Library of Congress menemukan bahwa sistem klasifikasi yang digunakan selama ini menimbulkan keputusasaan dimasa yang akan datang. Melvil Dewey menawarkan untuk me-reorganisasi perpustakaan ini, dengan menggabungkan perpustakaan Library Congres dengan perpustakaan lain dan memperluas perpustakaan tersebut. Staf LC kemudian berdiskusi dengan Dewey serta mempelajari Dewey Decimal Classification sebagai rencana untuk membuat perubahan secara besar klasifikasi di perpustakaan terasebut. Pada akhirnya mereka mendapati bahwa DDC tidak sesuai untuk LC karena koleksinya sangat besar dimana DDC tidak dapat seluruh buku di LC. Library of Congress kemudian kembali pada Expansive Classification, dengan menggunakan prinsip-prinsipnya namun membangun skema klasifikasi sendiri. Hasil skemanya di kelola Herbert Putnam (1861 – 1955) pada tahun 1897. Hubungan antara topik di LCC ditunjukkan bukan oleh nomor yang digunakan untuknya, tetapi dengan Indentasi subtopik di bawah topik yang lebih besar bahwa mereka adalah bagian dari topik tersebut. Library of Congress Classification schedule diterbitkan perlembar. Skema pertama diterbitkan pada tahun 1901 meliputi kelas E – F, kemudian skema kedua dipublikasikan pada tahun 1904 termasuk kelas Z sebagai skema utamanya. Pada Juni 1904 kelas D, Q, R, S, T dan U selesai dikerjakan dan pada tahun 1948 semua kelas dapat diselesaikan kecuali kelas K. K. Tedium Reclassification Skema klasifikasi terbaru diterbitkan oleh LC diperuntukkan menjawab permasalahan bagi koleksi yang harus di reklasifikasi. Permasalahan ini mulai muncul pada abad ke-20 dimana perguruan tinggi yang memiliki perpustakaan tumbuh dengan pesat dengan keinginan organisasi dan pengelolaan yang baik. Banyak kejadian perpustakaan direlokasi dan reklasifikasi dengan skema yang baru. Hal ini menyebabkan biaya yang timbul karena perpustakkan harus mengadakan kartu katalog baru yang dijual oleh LC. Jika ingin lebih berhemat, klasifikasi dapat dialihkan ke klasifikasi LCC, karena tiap kartu disediakan nomor LCC. Namun nomor pada klasifikasi Dewey tidak termasuk didalamnya. Pelaksanaan reklasifikasi pernah dilaksanakan di tiga perpustakaan, yaitu di The University of Toronto Library yang terbakar pada tahun 1890 dan kemudian membangun kembali koleksinya. Ketua pustakawan pada masa 1892-1923, Hugh Hornby Langton, mendesain sebuah sistem klasifikasi yang belum pernah dipakai di manapun. Pada tahun 1950 perpustakaan membukukan skema langton ini dan kemudian di adaptasi oleh LCC. Satu dekade kemudian, Ontario Institute of Education Library berkeinginan untuk mengubah klasifikasi dari LCC menjadi DDC. Hal tersebut disebabkan perpustakaan sekolah Ontario mengunakan klasifikasi DDC, sehingga pengguna perpustakaan kadangkala kebingungan antara perpustakaan sekolah Ontario yang menggunakan DDC dengan perpustakaan Ontario Institute of Education yang menggunakan LCC. Pustakawan mengampil sebuah buku, mencabut kartunya dan menghapus di data base, kemudian buku di klasifikasi sesuai dengan DDC, diganti label dan kelengkapan lainnya, dimasukkan di dalam database baru dan terakhir dikembalikan lagi ke rak buku. Peristiwa ketiga adalah ketika pada tahun 1970 dimana perpustakaan daerah di Toronto meminta semua perpustakaan sekolah di Toronto untuk di reklasifikasi. Kebijakan tersebut mengingat karena DDC dapat digunakan pada media yang bervariasi, baik dalam bentuk material maupun non material.